24 August 2020

Ajip Rosidi dan "Jalan Gedé"


Oléh: Dadan Sutisna

Para pujangga yang menggubah cerita pantun dapat berpikir futuristik. Setidaknya, sebagian kata-kata yang meréka ucapkan masih digunakan hingga berabad-abad kemudian. Meréka menyusun sebuah cerita dalam larik yang liris, tapi kuat dan bertenaga. Dalam Bébér Layar, Ajip Rosidi bahkan menyebut kekuatan rajah pantun tidak kalah oléh sajak-sajak Charil Anwar.

Pada cerita pantun ada ungkapan yang terus dipertahankan, ada pula yang menyesuaikan keadaan zaman. Dengan demikian, semestinya setiap génerasi dapat memahami isi cerita tanpa harus membuka kamus bahasa kuna. Beberapa kata yang diucapkan juru pantun di zaman sekarang, akan berbéda dengan seaabad lalu. Bahkan di zaman yang sama pun terdapat beberapa variasi, tergantung asal daérah sang juru pantun. Misalnya, dalam cerita "Munding Kawati" (berdasarkan transkripsi tahun 1970 oléh Ajip Rosidi), terdapat kata "lipen setip", "dikreul", "listring", "kulkas", dsb. Kata-kata ini mustahil muncul di abad sebelumnya, melainkan improvisasi sang juru pantun. Mémang, kita sulit mendapatkan cerita pantun yang benar-benar "asli" kecuali bisa beranjak ke masa lalu.

Ada banyak jenis sastra lisan yang berkembang di kalangan masyarakat Sunda. Akan tetapi, cerita pantun punya tempat tersendiri. Sang juru pantun semacam utusan untuk menyampaikan pesan dari masa lalu. Ia mampu menghafal sebuah cerita yang jika ditranskripsikan bisa mencapai ratusan halaman. "Sampaikan cerita ini ke masa depan, dan kau akan tahu bagaimana dan di zaman mana cerita ini berujung." Begitulah kira-kira ucapan pembuat cerita pantun yang ada di pikiran saya.

Sekarang kita hampir tahu jawabannya, di zaman mana cerita pantun itu berhenti. Sebagaimana ratusan kesenian Sunda lainnya, cerita pantun pun menuju kemusnahan, bahkan sebelum kita mengetahui semua jenis cerita beserta isinya. Jangan memahami isinya, kini banyak orang Sunda yang tidak mampu membédakan pantun dan "sisindiran"—menyamakan pantun Sunda dengan empat baris puisi Melayu lama yang memiliki sampiran dan isi.

Dengah hilangnya warisan budaya, atau pada kasus tertentu dibiarkan musnah, ada sedérét pengetahuan dari masa silam yang terputus dan lenyap. Inilah kritik yang sering dilontarkan oleh Ajip Rosidi kepada sebagian besar orang Sunda. Bahkan di usia 70, Ajip Rosidi menulis dengan "nada jéngkél". Ia bertanya pada dirinya sendiri, "Bagaimana hari depan kebudayaan Sunda menurut pendapatmu?" Lalu Ajip Rosidi menjawab, "Karena orang Sunda sendiri pada hari ini tidak peduli terhadap keberadaan budaya dan orang Sunda, maka tidak ada hari depan." (Hidup Tanpa Ijazah, halaman 1.204)

Saya menyebut "nada jéngkél" karena pada dasarnya Ajip Rosidi masih memikirkan hari depan kebudayaan Sunda sampai menjelang wafat. Ia masih membicarakan naskah-naskah kuna, cerita pantun, dan hal-hal lain yang menurutnya harus menjadi pijakan orang Sunda. Ia terus mengusahakan itu karena, "Sebagai seorang Islam, aku berpegang pada hadis bahwa ketika menghadapi kiamat sekalipun, kita harus menanamkan apa pun walau sebiji sawi." (Hidup Tanpa Ijazah, halaman 1.220)

***

Meskipun tanpa kepastian tahun, ada yang menduga bahwa cerita pantun lahir sebelum zaman Padjadjaran. Asumsi ini didasarkan pada nama-nama kerajaan selain Pajajaran yang muncul dalam cerita pantun. Istilah pantun juga termuat dalam naskah Siksa Kandang Karesian (1518): "Hayang nyaho di pantun ma: 'Langgalarang', 'Banyakcatra', 'Siliwangi', 'Haturwangi'; prepantun tanya" (jika kita ingin tahu tentang pantun, seperti 'Langgalarang', 'Banyakcatra', 'Siliwangi', 'Haturwangi', tanyalah jurupantun").

A. Teeuw menyebut adanya pertautan antara pantun dengan naskah Sunda Kuna. Sebab, "meskipun bahasa pantun sebagaimana yang dituliskan atau direkam pada abad kesembilan belas dan kedua puluh tidak dapat disebut bahasa Sunda Kuna, di dalamnya terkandung banyak kata dan ungkapan arkhaik." ("Tiga Pesona Sunda Kuna", hal. 11-13).

Agar lebih memahami kiprah Ajip Rosidi dalam penyelamatan cerita pantun, kita dapat menéngok penelitian-penelitian sebelumnya. Sejak akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, penelitian dan publikasi cerita pantun dilakukan atas inisiatif orang-orang Belanda, antara lain K.F Holle, J.J. Meijer, C.M. Pleyte, F.S Eringa, dan R.A Kern. Mémang ada beberapa tulisan péndék dalam bahasa Sunda yang mengguar cerita pantun, tetapi sebagian besar bersumber pada hasil kajian orang-orang Belanda tersebut. Adapun tulisan berbahasa Sunda yang cukup mendalam adalah "Tokoh Léngsér dina Carita Pantun" yang ditulis oléh Asmalasuta (Baranangsiang, 1964).

Tulisan Asmalasuta sangat penting untuk diperkenalkan kembali saat ini, karena di kalangan masyarakat Sunda tokoh Léngsér sudah bergésér menjadi semacam dagelan pada upacara pernikahan.

"Loetoeng Kasaroeng Een Mythologisch Verhaal Uit West-Java" (1949) karya F.S Eringa merupakan telaah paling kompréhénsif. Disertasi ini merangkum penelitian-penelitian sebelumnya, juga menyertakan senarai judul cerita pantun. Akan tetapi, hasil penelitian orang-orang Belanda ini menyisakan sedikitnya dua kekosongan. Pertama, meréka baru menelaah beberapa cerita pantun, terutama Lutung Kasarung, sehingga di Priangan tak ada cerita yang lebih terkenal daripada Lutung Kasarung. Tak héran jika cerita ini telah diadaptasi ke dalam berbagai bentuk sejak zaman kolonial: sandiwara, film, gending karesmén, dsb. Kedua, hanya satu-dua cerita saja yang ditranskripsi secara verbatim. Agak sulit untuk meneliti judul-judul lainnya karena keterbatasan sumber.

Ajip Rosidi mengisi dua kekosongan tersebut. Mula-mula, dalam sebuah éséy berbahasa Sunda yang ditulis tahun 1962 (selanjutnya dimuat dalam "Ngalanglang Kasusastraan Sunda"), Ajip menelaah carita pantun Lutung Kasarung. Tahun 1967 ia mengusulkan agar cerita pantun segera diselamatan. Ternyata ia sendiri yang melakukannya dengan mendirikan Proyék Penelitian Pantun & Foklor Sunda (PPP&FS) tahun 1969.

Ajip mulai merekam dan mentranskripsikan cerita pantun, dibantu oléh beberapa rékannya antara lain Mang Olla, Sajudi, Rachmat M. Sas. Karana, dan Iskandarwassid. Pada tulisan "Pangalaman Kuring Ngarekam Pantun" di majalah Manglé tanggal 13 Maret 1980, Ajip menyebut telah merekam 30 judul cerita pantun. Dua puluh telah ditranskripsi, 16 sudah dipublikasikan—ini sumber yang bagi léksikografi, dan sisanya masih dalam bentuk rekaman. Oléh karena itu, masih ada 14 judul yang belum diketahui khalayak. "Nasibnya" akan saya ceritakan di akhir tulisan ini. 

***

Ajip Rosidi memetik kata "Rancagé" dari cerita pantun yang kemudian dijadikan nama hadiah sastra serta yayasan yang didirikannya. Ajip berpendapat bahwa kata "Rancagé" sudah jarang digunakan. Itu benar, ketika saya mencoba menelusuri kata tersebut dari abad ke-19 hingga tahun 1955 menggunakan basis data korpus, nyaris tidak ditemukan kecuali dalam kutipan pantun dan syair Sunda (sawér).

Kata "rancagé" terdapat pada rajah Lutung Kasarung. Berikut beberapa baris kutipannya:

"diteundeun di jalan gedé,

dibuka ku nu ngaliwat,

ku nu weruh di semuna,

ku nu terang di jaksana,

ku nu rancagé di haté."

 

(disimpan di jalan besar,

dibuka oléh yang léwat,

oléh yang paham perangainya,

oléh yang tahu pertimbangan,

oléh yang kréatif hatinya.)

Ungkapan tersebut penuh siloka (énigma) yang konon merupakan sesuatu yang sakral. Seperti halnya dangding-dangding Haji Hasan Mustappa, sebagian menganggap cerita pantun punya nilai yang luhung sehingga tidak boléh ditafsirkan oléh sembarang orang. Ajip mendobrak hal-hal demikian. Misalnya, ia mengkritik Utuy T. Sontani yang menyebut pantun sebagai "kebudayaan atas", dan ungkapan "jalan gedé" di atas hanya bisa dipahami oléh raja-raja serta kaom féodal (tulisan Utuy dimuat pada Zaman Baru, édisi Novémber 1964).

Dalam "Ngalanglang Kasusastraan Sunda", Ajip Rosidi menafsirkan "jalan gedé" sebagai berikut:

"Hartina éta wijining pantun téh diajangkeun pikeun saha baé, henteu pilih ménak-kuringna, sing sakur anu kataji bari jeung enyana, tanwandé bisana muka bisana neuleuman jeung ngahartikeun. Mémang, ari urangna ngan ukur rék ngaliwat saliwatan mah, nya lapur, da tangtu moal kaburu niténan anu aya di sapanjang jalan anu kasorang, atuh moal nepi ka 'weruh di semuna, terang di jaksana', komo lamun bari jeung henteu rancagé di haté mah. Mubadir!"

(Arti keutuhan pantun itu diperuntukkan bagi siapa saja, tidak memilih ménak-abdi, siapa pun yang tertarik serta sungguh-sungguh, tentu dapat membuka, dapat menyelami dan mengartikan. Mémang, jika kita sekadar mau léwat selintas, pasti luput, sebab tentu tidak sempat meneliti keadaan di sepanjang jalan yang dilalui, sehingga tidak sampai ke "weruh di semuna, terang di jaksana", lebih-lebih jika tidak "rancagé di haté". Mubadir!)

Tahun 2002 bersama Kang Hawé, saya pun sempat menerka-nerka maksud sang juru pantun. Lalu tiba-tiba kami memikirkan bahwa "jalan gedé" itu adalah jagat maya, cyberspace, dunia Internét. Banyak pengetahuan yang disimpan di sana, lalu siapa pun bisa mengkajinya. Sekalipun bukan orang Sunda, asalkan memenuhi "persyaratan" dari sang juru pantun, tentu mampu memahaminya.

Begitulah, Ajip Rosidi kemudian menyimpan dokuméntasi pantun itu di "jalan gedé", lalu ia mengerjakan hal lainnya.

Tiga dasawarsa kemudian, di majalah Cupumanik édisi Maret 2007, Ajip menulis bahwa setelah F.S. Eringa (Belanda), yang meneliti pantun adalah Andrew Weintraub (Amérika). Jakob Sumadjo juga termasuk orang yang tekun meneliti struktur pantun dalam pandangan budaya yang lebih luas. Akan tetapi, belum ada sarjana Sunda yang menulis tésis atau disertasi tentang pantun atau lakon pantun. Padahal, kita jangan percaya begitu saja pada hasil penelitian bangsa asing tentang warisan karuhun Sunda. Meréka tidak akan sampai pada "enas-enasna" (inti sarinya).

***

Beberapa bulan sebelum wafat, Kang Ajip beberapa kali menanyakan apa yang ia sempat simpan di "jalan gedé". Saya bilang tidak begitu tahu, kecuali judul-judul yang telah dipublikasikan, sebab ketika Kang Ajip merekam cerita pantun, saya belum lahir. Dengan nada sedih Kang Ajip berkisah tentang 14 cerita pantun yang belum ketahuan rimbanya.

Empat judul yang sudah ditranskripsi, ia percayakan kepada sebuah percetakan untuk diperbanyak. Kang Ajip bahkan membeli mesin sténsil untuk mempercepat pengerjaan. Namun, manuskrip pantun itu lenyap beserta mesinnya. Harapan satu-satunya adalah rekaman 30 judul cerita pantun yang simpan di perpustakaan Belanda. Nasibnya nyaris sama, yang tersisa hanya dua judul. "Aya nu maok!" katanya.

Saya malah memikirkan hal lain. Kelak rekaman tersebut menjadi barang asing nan jauh di sana. Sebagaimana beberapa arsip penting lainnya yang tersimpan KITLV, Perpustakaan Universitas Leiden, Michigan, Cornell, Monash, Library of Congress, University Microfilm Internasional, dsb.

Namun, bagaimanapun akhir dari perjalanan pantun itu, Ajip Rosidi telah "menanam sebiji sawi". [ ]


No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…