17 May 2020

Sejarah Hidup Chairil Anwar yang Indah dan Ambyar



Judul buku: Chairil Anwar
Penulis: Hasan Aspahani
Tahun terbit: 2017 (cetakan kedua)
Penerbit: Gagas Media

Chairil Anwar begitu populer di kalangan peminat sastra Indonesia. Bahkan awam pun setidaknya pernah mendengar namanya saat masih belajar di bangku sekolah dasar. Puisi “Aku” dan “Krawang-Bekasi” nyaris selalu menghiasai buku ajar anak-anak sekolah.

Kiwari, saat puisi hadir dalam pelbagai medium populer seperti film dan musik, Chairil Anwar ikut “terseret” ke permukaan. Seolah-olah ia bangkit dari TPU Karet Bivak dan nongkrong bersama sobat ambyar.

Jejak “kebangkitan” puisi bisa kita telusuri misalnya dari kemunculan film Ada Apa dengan Cinta (2002) yang hampir di sekujur kisahnya dibaluri oleh puisi-puisi Rangga. Tiga tahun kemudian, film Gie (2005) kembali menghadirkan potongan-potongan puisi yang sampai sekarang barangkali masih banyak yang mengingatnya.

Mundur beberapa tahun, tepatnya pada 1989, Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merilis album Hujan Bulan Juni yang merupakan musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono. Sampai kiwari, bahkan saat Ari Malibu telah wafat pada 14 Juni 2018, dan Sapardi mulai doyan tik-tok, lagu-lagu tersebut masih dan bahkan semakin banyak menghiasi kanal Youtube dalam pelbagai cover.

Bagaimana dengan puisi Chairil Anwar? Saya kira musikalisasinya tak ada yang populer. Bahkan hemat saya, Banda Neira pun gagal saat membawakan “Derai-derai Cemara”. Begitu pula puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Sia-sia”, dan “Aku” yang dibawakan oleh entah, saya kira—dalam medium musik itu—tak seliris musikalisasi puisi Sapardi.

Meski demikian, sekali lagi, siapa yang tak pernah mendengar nama Chairil Anwar yang tercecer dalam sobekan-sobekan buku, mural di perkampungan kota, kaos mahasiswa, dan lain-lain.       

Buku yang ditulis oleh Hasan Aspahani ini mencoba menghadirkan Chairil Anwar dengan “penuh seluruh”. Informasi tentang dirinya tak sekadar tulisan alakadarnya gaya buku pelajaran, atau esai tanggung Sapardi dalam epilog di buku Aku Ini Binatang Jalang.

“Buku paling lengkap dan paling indah tentang kisah hidup Chairil Anwar yang pernah ditulis,” ungkap M. Aan Mansyur dalam sampul depan buku ini.

Saya kira Aan tak berlebihan. Hasan Aspahani yang seorang penyair menuliskannya lewat sudut pandang penyair. Ia mengupas riwayat Chairil lewat potongan-potongan puisi yang berkorelasi dengan kehidupan si Binatang Jalang.

27 bab ditambah prolog dan epilog ditulis secara kronologis dan menghadirkan konteks dituliskannya puisi-puisi Chairil. Sebagai contoh adalah puisi “Tuti Artic” yang kerap dikutip di pelbagai kanal media sosial: “Aku juga seperti kau/semua lekas berlalu/Aku dan Tuti + Greet + Amoi…/hati terlantar/Cinta adalah bahaya/yang lekas jadi pudar.”

Menurut Asrul Sani yang dikutip Hasan Aspahani dari majalah Horison, Chairil memang kerap pergi ke pesta, bergaul dengan anak-anak Indo dan nongkrong di tempat-tempat para pelajar sekolah Belanda biasa berkumpul, salah satunya Toko Artic yang menjual es krim di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Contoh lain adalah tentang Mirat, kekasihnya, yang terdapat dalam puisi “Sajak Putih”, “Dengan Mirat” dan “Mirat Muda, Chairil Muda”. Alkisah, Sumirat atau Mirat vakansi bersama keluarganya ke pantai Cilincing, Jakarta Utara. Di sana, ia melihat pemuda yang tengah bersandar di sebatang pohon dan membaca buku tebal, itulah Chairil.

Singkat cerita, Mirat dan Chairil berpacaran. Namun, karena Chairil pengangguran, maka keluarga Mirat memulangkan gadis itu ke rumah orang tuanya di Jawa Tengah. Dasar Chairil, ia nekad menyusulnya dan berhari-hari tinggal di rumah orang tua Mirat. Ketika hubungan mereka semakin berat karena pelbagai rintangan, Chairil menulis “Dengan Mirat”. Rupanya bagi Chairil, Mirat terlampau istimewa. Maka meski Chairil telah menikah dengan Hapsah Wiriaredja pada September 1946, ia masih sempat mengenang Mirat:

“Ketawa/diadukannya giginya pada mulut Chairil/dan bertanya/Adakah, adakah kau selalu mesra/dan aku bagimu indah?”

Buku setebal 297 halaman ini juga tentu saja mengisahkan hubungan Chairil dengan kedua orang tuanya, terutama ibu. Pun terdapat kisah saat ia bersama Sutan Sjahrir di masa Revolusi, pergaulannya dengan para sastrawan, dan pernikahannya yang berantakan namun ia berniat untuk memperbaikinya.

Menurut Damhuri Muhammad, editor buku ini, menjelang kematiannya, Chairil bersemangat untuk mengumpulkan dan menerbitkan sajak-sajaknya. Ia berniat menikahi Hapsah kembali dan membesarkan anaknya. Konon, ia rindu ketan srikaya buatan Hapsan. Dan ada sebaris puisi untuk Hapsah yang tak pernah dipublikasikan di mana pun. Chairil menulisnya memakai pensil. Judulnya “Buat H”:

“Aku berada kembali di kamar/bersama buku/seperti sebelum bersamamu dulu.”

Sayang, keinginannya untuk membangun kembali rumah tangganya tak kesampaian. Chairil muntah darah tak sudah-sudah. Ia keburu meninggal setelah penyakit parah menyerangnya.

***

Oh ya, naskah biografi yang ditulis Hasan Asphani ini dikembangkan oleh Gina S. Noer dan Amelya Oktavia di bawah bendera PlotPoint Kreatif, sehingga terkesan filmis.

Konon, PlotPoint Kreatif lahir dari kegelisahan para pendirinya pada dunia konten di Indonesia, yang menurut mereka banyak cerita yang masih bisa terus dikembangkan. Mula-mula, pada 2010, mereka mengadakan pelatihan penulisan skenario. Lalu berkembang menjadi workshop penulisan kreatif pada medium lain. Kemudian pada 2013 menjadi penerbit buku. Dan sekarang menjadi pengembang naskah untuk buku. (irf)

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai