22 January 2020

Pidi Baiq, Panasdalam, dan Robohnya Multiply Kami

Kira-kira sebelum kawan saya, si Marjo, melanjutkan kuliah ke UI di pengujung 2008, saya masih hafal beberapa lagu Pandal. Puluhan lagunya masih tersimpan di komputer Dell yang  kini baterainya sudah rusak. Lagu-lagu itu menemani saya kira-kira sejak 2003, saat masih kuliah di Ciwaruga dan nganggur di Sarijadi. 

Lagu "Mutiara Bangga" yang kini sering ditulis "Erwin", "Budak Baheula", dan tentu saja "Jatinangor" adalah tiga nomor yang paling sering diputar. Saya mendengarkan Pandal sebelum tahu mereka sering mengacungkan jari kelingking. Juga sebelum tahu jika Alga ternyata salah satu vokalisnya.    

Dulu, Pidi tak dipanggil "Ayah", tapi--setidaknya oleh saya sama si Ardi anak Teknik Energi Polban--dipanggilnya "Pak Haji" karena konon ia telah pergi ke Makkah. Lalu tiba-tiba ternyata Pak Haji punya akun Multiply yang kini telah gulung tikar.

Ketika tulisan-tulisannya di Multiply diterbitkan oleh Mizan dengan tajuk Drunken Monster, saya mulai percaya bahwa tidak semua yang dibukukan akan membawa kebaikan. Kisah-kisah dalam Drunken Monster menjadi garing dari aslinya. Penyuntingan rupanya telah menyunat cita rasa.

Masih banyak yang ingin saya tuliskan, tapi sekarang harus membersihkan dulu debu-debu naskah punya kawan-kawan. Dan Bandung masih dikuasai cuaca mendung, saya ingin makan sayur sop...

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai