29 January 2020

Bukan Cuma Bambu Runcing: Narasi Bopeng di Tiap Tikungan Revolusi



Sebagaimana novel Surabaya karya Idrus yang "memberaki" gambaran heroik revolusi, sejumlah cerpen Pramoedya Ananta Toer juga menghamparkan kisah yang kurang lebih sama.

Istilah “Angkatan 45” mula-mula dicetuskan oleh Rosihan Anwar dalam tulisannya di majalah Siasat edisi 9 Januari 1949. Angkatan ini, oleh sebagian kalangan, kerap diejek sebagai generasi pembuat kisah-kisah bambu runcing alias cerita perang kepahlawanan, oleh karena itu Idrus—penulis novel Surabaya dan kumpulan cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma—menolak penamaan “Angkatan 45”.

Padahal seperti ditulis H.B. Jassin dalam pengantar Percikan Revolusi (1950) karya Pramoedya Ananta Toer, lapangan perhatian Angkatan 45 “seluas penghidupan, dan dari pusat soal-soal mereka melihat dunia sekelilingnya. Dalam kempaan suasana keadaan mereka menemukan dirinya dan belajar melihat sampai ke inti segala, dikuliti dari kepalsuan dan ketidakperluan”.

Angkatan ini tak selamanya memproduksi narasi kepahlawanan yang tanpa cela. Revolusi memang bukan ladang kebajikan yang menerakan lukisan hitam putih. Idrus lewat novel Surabaya memberi contoh yang brilian tentang bagaimana amuk revolusi tak lebih dari sekadar mabuk merayakan peralihan zaman.

Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram) yang amat takzim kepada prosa-prosa Idrus, juga membeberkan hal serupa dalam karya-karyanya, baik novel maupun kumpulan cerpen, seperti misalnya dalam Percikan Revolusi + Subuh.

“Angkatan revolusi melihat segala dari pusat derita, mereka tidak hanya mengenal dan mengetahui, tapi juga mengalami dan merasai pada badan dan jiwa. Tidak ada jarak antara obyek dan subyek,” imbuh Jassin.

Tahun 1945, seperti para pemuda yang lain, Pram keranjingan militer. Ia masuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai Prajurit II dan ditempatkan di Cikampek pada kesatuan Banteng Teruna. Sampai 1946 ia berada di sana dan terlibat dalam pelbagai pertempuran dengan tentara Inggris. Karir militernya sampai perwira pers dengan pangkat letnan II.


Menurut Andries “Hans” Teeuw—pakar sastra dan budaya Indonesia asal Belanda—Pram tak betah di militer dan memilih berhenti dari dinas ketentaraan. Pram merasa kecewa yang pangkalnya adalah “karena tidak tahan melihat pertentangan-pertentangan di dalam tentara dan korupsi yang merajalela”.

Alasan keluarnya Pram jelas tak menggambarkan kehidupan tentara pejuang yang ideal. Dalam pusarannya, seperti yang Pram rasakan, revolusi kemerdekaan memang menghadirkan narasi bopeng dalam tiap tikungannya.

Salah satu cerpen Pram yang terasa amat menggambarkan pengalamannya selama menjadi tentara adalah “Dendam”. Sebuah laporan dari seorang tentara yang awalnya merasa bangga dapat berseragam militer di zaman mabuk revolusi, namun kemudian perasaannya merasa lemah melihat pembantaian dengan mata kepalanya sendiri.

“Karena itu aku pun pergi ke stasiun. Mengapa ‘kan tidak? Selalu dan selalu manusia suka memperlihatkan kelebihannya. Apalagi kalau kenyataan yang telanjang itu diberi fantasi sedikit: aku pemuda revolusioner,” tulisnya.

Lihat, kebanggaan itu begitu mudah dipanggul hanya dengan kata-kata “pemuda revolusioner”. Namun dalam kebanggaannya, tokoh aku yang menjadi narator dan mengisahkan pengalamannya senantiasa diliputi pertanyaan, kesinisan, sekaligus ketakutan atas situasi yang berlaku saat itu.

“Mengapa bersorak? Aku tak tahu. Hanya kurasai kemabokan yang membenam, menarik dan mendesak-desak. Orang lain pun demikian pula halnya. Semua bersorak. Semua mabok. Bersorak untuk bersorak. Bersorak untuk mabok-memabokkan,” ungkapnya melihat rakyat mengiringi para tentara yang hendak berangkat ke medan laga.


Sedetik kemudian pertanyaan-pertanyaan itu berubah menjadi iba dan kesinisan. Menurutnya, para prajurit yang dengan rela menyabung nyawa di garis depan itu, kelak jika mereka pulang dengan kekalahan dan luka atau invalid di sekujur tubuhnya, orang-orang akan dengan mudah menyebutnya sebagai “prajurit peuyeum” alias serdadu lembek.

Jika datangnya dalam keadaan mati, dibawa di atas usungan serta tubuhnya mulai membusuk, orang-orang juga akan gampang mengatakan “pahlawan bangsa” dengan memberikan sedikit penghormatan.

Di titik ini, revolusi bukan sekadar menelanjangi para pejuang yang mabuk menelan situasi baru yang bebas dan berlaku ugal-ugalan seperti dalam Surabaya-nya Idrus, tapi juga sikap culas masyarakat yang menjadi penonton atas persabungan di garis depan.

Yang paling menggiriskan dari laporan prajurit ini adalah tentang pembantaian terhadap seorang haji, mata-mata yang membikin pasukan republik celaka: tak kurang 11 orang meregang nyawa.

Saat ia tertangkap, pelbagai pukulan, tendangan, dan rupa-rupa senjata tajam menghujaninya, namun rupanya ia mempunyai ilmu kebal. Pasukan yang kalap lalu menyeretnya dengan mobil dan tubuh mata-mata itu terpontal-pontal di aspal dan bebatuan. Namun lagi-lagi ia tidak terluka.

Seorang serdadu yang membawa pedang samurai kecil kemudian berteriak “kembali jadi tanah!” Setelah itu pedangnya mampu membobol pertahanan si mata-mata: perutnya terburai.

Ia kemudian ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Dan malam hari anjing-anjing menggonggong mengerubuti bangkai mata-mata itu. Si prajurit tak kuasa menyaksikan peristiwa mengerikan, ia pun buru-buru masuk ke tangsi.

Belum sempat ia tidur, lonceng tangsi berbunyi: perintah berangkat ke garis depan. Si prajurit menggigil.

“Sekali ini pergi jualah aku—pergi untuk dibunuh, pergi untuk membunuh. Badanku bergemam sebentar. Seperempat jam kemudian barisan berangkat. Dan pembunuhan berjalan terus,” pungkasnya.


Cerita Bermula dari Lapar

Sekali waktu di pengujung masa revolusi, dalam sebuah pencarian lemari buku, seorang lelaki diikuti seorang perempuan. Sudah lima toko ia datangi, tapi harganya tak ada yang cocok alias kemahalan.

“Tuan perlu lemari?” tanya perempuan yang terus mengikutinya.

“Betul, nyonya,” jawabnya.

“Saya bisa menunjukkan pada tuan, lemari yang bagus dan murah,” timpalnya.

Lalu perempuan itu pergi menyusuri jalan dan gang demi gang, sementara si lelaki mengikutinya. Muara perjalanan adalah sebuah rumah besar kuno yang sudah terlalu usang, buruk, lebih buruk dari kandang delman.

Perempuan itu lalu menunjukkan sebuah lemari kayu setinggi satu setengah meter dan lebar hampir tiga meter. Ukirannya burung merak dan bunga-bunga aneka macam.

“Alangkah bagus,” gumam si lelaki.

Menurut nyonya yang menawarkannya, lemari itu adalah peninggalan suaminya untuk menyimpan buku dan barang-barang kuno. Pada masa pendudukan Inggris, lemari itu turut dibawa mengungsi ke Padalarang, Plered, dan Purwakarta.

Saat perempuan itu mengatakan harga yang ia tawarkan, tangan si lalaki terlepas dari pintu lemari. Dari dalam lemari, seekor kucing tanpa kepala dan sudah dikuliti, lepas dan jatuh ke lantai.

“Tuan, anak-anak itu harus kuat dan mereka membutuhkan daging, anak-anak harus kuat tubuhnya,” ucap si nyonya.

Si tamu hanya mengiyakan, sementara lalat mulai mengerubungi bangkai kucing itu. Seorang anak si perempuan yang masih bayi menangis, lalu yang lain menangis juga, maka ramailah rumah itu oleh tangis anak-anak. Calon pembeli mengeluarkan uang untuk membeli lemari dan diberikan kepada salah satu anak yang menangis itu, lalu ia pergi.


Perang hanya menyisakan kalaparan. Lemari yang tersisa dari deru pertempuran, yang dijadikan tempat penyimpanan bangkai kucing, akhirnya tak dapat lagi menyembunyikan daging bangakai kucing, kebutuhan anak-anaknya yang kelaparan.

Lewat cerpen yang bertajuk “Lemari Antik” itu Pram kembali menyajikan sebuah kisah tentang revolusi yang bukan hamparan kepahlawanan. Perang usai, para pengkhinat dan pahlawan mati, yang tersisa hanya rakyat yang kelaparan, yang jarang terhidu narasi sejarah selain penggambaran antrean beras di sejumlah kliping surat kabar dan film.

Cerpen “Masa”, sebagaimana “Lemari Antik” yang terhimpun dalam Percikan Revolusi (1951), juga menggugat revolusi: bocah dua belas tahun keluar masuk penjara, tanpa pendidikan, tanpa bapak, perutnya kosong!

Mula-mula bocah itu bersama kawannya membawa sebuah becak yang dipenuhi lawon di Pasar Baru, Jakarta. Apa sebab? Baju mereka sendiri compang-camping, sementara terdapat bergulung-gulung kain yang tak mereka miliki.

Kesempatan kedua terjadi di Harmoni. Sebuah tas di atas mobil terbuka ia sambar, sial isinya hanya surat-surat. Ia buang tas itu dan seorang bocah lain yang bernama Maliki tengah mandi, maka ia dicokok tanpa tahu perkara. Tak lama kemudian ia pun kena tangkap dan dijebloskan bersama para pesakitan dengan rupa-rupa latar belakang.

“Dan mereka juakah yang nanti turut bertanggungjawab pada negaranya,” gumam seseorang yang lebih dewasa saat mendengarkan cerita dari mulut bocah itu.

Beberapa cerpen ini, membuat Pram sebagaimana Idrus yang melumuri taman bunga pertempuran Surabaya dengan 
kotoran sapi, juga tak silau dengan mabuk revolusi. Ia bahkan terus menggugat perang lewat sejumlah cerpen lain tentang para kombatan yang invalid harapannya, justru setelah kemerdekaan berada di genggaman. (irf)


Tayang pertama kali di Tirto.id pada 11 Agustus 2019

28 January 2020

Mohamad Koerdi dalam Pasang Surut Gelombang Jurnalistik



Dokumentasi berupa buku dan koran peninggalan Mohamad Koerdi kurang terawat.

Ricky Syafrullah, keponakan Mohamad Koerdi, memberitahu Rahim bahwa ia akan pindah rumah ke Kebon Kopi, Cimahi. Rahim diminta melihat dan memeriksa buku-buku peninggalan Koerdi. Tanpa pikir panjang, berangkatlah ia ke rumahnya Ricky yang waktu itu beralamat di Jalan Kartabrata No. 14.

“Tanda-tanda hendak pindah rumah sudah terlihat. Garasi berantakan oleh barang-barang kecil yang tidak terpakai, sisa membereskan barang yang akan diangkut,” ujar Rahim.

Ponakan Koerdi kemudian menyerahkan beberapa dus berisi buku-buku dan koran lama. Kebanyakan buku berbahasa Belanda. Karena terburu-buru sebab hari sudah menjelang Magrib, buku dan koran yang dipilih hanya yang dianggap perlu saja. Itu pun pemilihannya hanya didasarkan pada minat dan ketertarikan.

“Kalau ingat sekarang, menyesal, kenapa dulu tidak diambil sampai yang berbentuk lembaran-lembarannya juga,” kenang Rahim.

Setelah memilih dan memilah dengan cepat, hanya dua dus yang akhirnya ia ambil. Dua hari dus-dus itu hanya disimpan begitu saja di lantai dua rumahnya. Hari ketiga barulah tumpukan buku dan koran tersebut dibersihkan dari debu-debu yang menempel. Setelah bersih, lalu disimpan ditata di rak.

Kisah tersebut adalah pengalaman Rahim Asyik yang ia tuliskan di pengantar buku Bangkarak Jurnalistik: Lalakon Hiji Jurnalis (2017) karya Sjarif Amin.

Mohamad Koerdi atau Sjarif Amin adalah salah satu tokoh pers nasional yang lahir di Ciamis pada 10 September 1907. Ia mulai aktif di dunia jurnalistik pada tahun 1929 sebagai wartawan surat kabar berbahasa Sunda, Sipatahoenan. Tahun 1930-an awal, selain aktif di Sipatahoenan, ia juga menjadi penanggung jawab redaktur mingguan Bidjaksana.


Dalam memoar Hidup Tanpa Ijazah (2008), Ajip Rosidi mencatat sebelum dipegang Koerdi, Bidjaksana kerap berganti-ganti alamat dan pimpinan.

“Agaknya didirikan oleh O.K. Jaman tetapi kemudian berpindah-pindah tangan, pernah banyak memuat tulisan-tulisan yang condong ke kiri tetapi kemudian ditangani oleh Moh. Koerdie karena agaknya dibeli oleh Pagoejoeban Pasoendan, tapi hanya sampai dengan Desember 1934 karena Pagoejoeban Pasoendan hendak memusatkan perhatian kepada sk. Sipatahoenan,” tulisnya.

Ketika Jepang masuk dan media-media diberangus, Koerdi ikut jadi redaktur koran Tjahaya, alat propaganda pemerintahan Jepang untuk wilayah Bandung. Setelah kemerdekaan, Koerdi mendirikan Soeara Merdeka.

Andi Suwirta dalam Dari Bandung ke Tasikmalaya: Suratkabar “Soaera Merdeka” pada Masa Revolusi Indonesia, 1945-1947 (Jurnal Sejarah Vol. 13 No. 13, Tahun 2007) menjelaskan bahwa media ini terbit dari reruntuhan koran Tjahaya pasca-Jepang hengkang. Soera Merdeka terbit setiap hari dengan 4 halaman dan beralamat di Groot Postweg-Oost No. 54-56 (sekarang Jalan Asia Afrika) Bandung.

November 1945, Bandung diterjang banjir besar akibat sungai Ci Kapundung meluap. Selain itu, gejolak revolusi pun semakin memanas, dan puncaknya adalah ketika Inggris mengeluarkan ultimatum agar Kota Bandung segera dikosongkan. Ultimatum ini berujung dengan peristiwa bumihangus kota yang dilakukan para pejuang pada 24 Maret 1946, dan dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api. Kondisi ini memaksa Soeara Merdeka mengungsi ke Tasikmalaya di Jalan Galunggung No. 46.

Sikap Soeara Merdeka dalam pusaran revolusi dan masa transisi bangsa—seperti dikutip Andi Suwirta, adalah sepakat dengan usaha-usaha diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan tajuk koran tersebut, “Kewajiban Kita”, yang bertitimangsa 18 September 1945:

“[…] Dan lapang perdjoeangan kita sekarang seperti beroelang-oelang ditegaskan oleh Pemimpin kita, ialah djalan diplomasi melaloei pertjatoeran internasional. Dengan tenang dan tenteram, dengan damai kita mempertahankan kemerdekaan kita.

Dengan kepertjajaan jang tegoeh, dengan tekad jang boelat ingin tetap merdeka. Dengan tertib dan saksama kita mengikoeti segala keadaan dan kedjadian, mengikoeti dan melakoekan perintah Pemimpin kita […]”

Dalam wawancara dengan Atje Bastaman—mantan wartawan Soeara Merdeka, pada 16 Oktober 1995 di Bandung, Andi mendapat informasi bahwa koran tersebut termasuk pers yang berpengaruh pada zamannya, dengan oplah sekitar 5.000-7.500 eksemplar. Soeara Merdeka menjangkau kota-kota penting di Jawa Barat, dan bahkan sampai juga ke Cilacap dan Purwokerto di Jawa Tengah.

Andi menambahkan, selama di Soeara Merdeka itu Koerdi duduk sebagai Pemimpin Redaksi dan tentunya memegang peranan penting dalam menentukan warna pemberitaan dan corak pandangan media tersebut. Sebagai orang Sunda, Koerdi sangat memahami perasaan, kemauan, dan harapan khalayak pembacanya yang mayoritas orang Sunda.


Meski mendukung upaya diplomasi pemerintah, dan tetap menyikapi isu-isu yang dipenuhi pro-kontra—Perjanjian Linggarjati misalnya, dengan artikulasi yang khas, tapi bukan berarti koran tersebut kehilangan daya kritisnya.

“Terhadap Sutan Sjahrir, Perdana Menteri RI, Soera Merdeka sering menyebutnya dengan “Juragan”, sebuah istilah dengan konotasi feodal, merasa benar, dan pintar sendiri,” tulis Andi.

Soeara Merdeka menganggap Sutan Sjahrir sebagai juru diplomasi yang sering tidak mau menerangkan secara rinci dan jelas kepada masyarakat ihwal kebijakan politik diplomasinya yang kerap mengundang kontroversi.

“Bahkan akhirnya menimbulkan sikap oposisi dan antipati padanya,” tambah Andi berdasar pada dua tulisan bertajuk “Rapat Raksasa” dan “Satoe Tahoen” dalam Soeara Merdeka edisi 18 dan 26 November 1946.

Merawat Dokumentasi Koerdi

Mohamad Koerdi meninggal pada 1991 saat berusia 84 tahun. Sepanjang hayatnya ia menulis beberapa karya fiksi: Manéhna, Babu Kajajadén, Nyi Haji Saonah, Kembang Patapan, Rajapati, dll. Sedangkan karya non fiksinya yaitu: Perjoangan Paguyuban Pasundan 1914-1942, Di Lembur Kuring, Keur Kuring di Bandung, dan Saumur Jagong.

Di luar karya-karyanya yang berbentuk buku, tulisan-tulisan Koerdi relatif tak ada yang tahu dan tak terawat. Ponakannya yang akan pindah rumah pun tergesa membereskan barang peninggalan Koerdi dan menyerahkannya kepada orang lain.

Rahim Asyik, orang yang menjadi Pemred Pikiran Rakyat, tergesa pula ketika memilih dan memilah kumpulan dokumentasi Koerdi dan ia sempat menyesali tak mengambil lembaran-lembaran yang tececer.

Koerdi paling dikenal sebagai penggawa Sipatahoenan. Ia hadir hampir di sepanjang perjalanan media berbahasa Sunda paling laku tersebut. Ia adalah salah satu saksi kejayaaan dan keruntuhan Sipatahoenan.

Saat membereskan koran peninggalan Koerdi, sambil sesekali membaca isinya, Rahim Asyik bergumam, ”Ternyata dulu itu…”. Menurut Rahim, sempat ada yang mengatakan bahwa zaman dulu selalu aktual, hal ini terbukti ketika ia membaca kabar-kabar di koran tersebut.

“Terbukti ternyata dalam koran lama ada hal-hal yang baru saya ketahui,” ujarnya.
Dari beberapa dokumentasi yang berhasil diselamatkan, Rahim Asyik kemudian menghimpun sebagian kecil tulisan Koerdi yang pada tahun 2017 diterbitkan oleh Pustaka Jaya.

Salah satu tulisan Koerdi yang dihimpun di buku tersebut berjudul “Kiamat Sugro”. Tulisan aslinya yang terbit pada 2 Mei 1965 dan 9 Mei 1965 bertajuk “Pangalaman di Sipatahoenan”. Tulisan tersebut berisi jawaban-jawaban Koerdi atas wawancara tertulis dengan Lembaga Pers dan Pendapat Umum Cabang Yogyakarta, seputar pengamalannya di dunia jurnalistik.

Koerdi berkisah tentang pengalamannya selama memimpin Sipatahoenan dan kondisi media secara umum di masa sebelum perang. Menurutnya, dulu para jurnalis biasanya mendirikan media dengan modal dengkul, atau disokong dana dari kawan-kawannya sendiri yang sama garis perjuangannya.

“Kalau kebetulan ada bangsa sendiri yang punya duit [pemodal], biasanya tidak tertarik bisnis media karena kerap tidak menguntungkan, malah sebaliknya,” tulis Koerdi.

Ia menambahkan bahwa hal ini juga sebetulnya sejalan dengan keinginan para jurnalis muda yang idealis, mereka biasanya tidak mau mendirikan media dengan sokongan pemodal sebagai majikan, karena membuat gerak mereka tidak leluasa.

Dalam kariernya sebagai jurnalis, Koerdi sempat dituntut secara hukum karena tulisan-tulisannya. Namun menurut pengakuannya, kasus-kasus hukum yang menjerat dirinya tersebut biasanya tidak diperpanjang karena “geen term voor verdure vervolging” atau kurang bukti untuk melanjutkan tuntutan.

Selain tulisannya, ada juga tulisan-tulisan lain yang berasal dari daerah (kontributor) yang pernah dikenakan perkara persdelict (delik pers) dan klachtdelict (delik aduan).

Seingat dia, ada empat perkara, yaitu: (1) Tulisan Sasmitaatmaja mengenai ancaman bahaya kelaparan di daerah Jampang, Kabupaten Sukabumi. (2) Tulisan Tatang Surjadi tentang kelakuan administratur berkebangsaan Jerman di Banten selatan. (3) Tulisan tentang kesewenang-wenangan administratur Belanda di perkebunan Pasirloji, Ciamis utara. Koerdi lupa penulisnya. (4) Tulisan mengenai kelakuan seorang Bupati di Jawa Timur yang merugikan perjuangan kemerdekaan. Ini pun ia lupa nama penulisnya.

Total pertanyaan dalam wawancara tertulis tersebut ada 58. Koerdi menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan semangat ingin menyumbang bahan sejarah dunia pers nasional.

“[Permintaan wawancara itu] akhirnya disanggupi juga. Saya berpikir semoga suatu saat ada gunanya. Ditambah ingin meyumbang bahan sejarah [pers], meski hanya sedikit,” tulis Koerdi (Bangkarak Jurnalistik: 2017. Hlm. 135)

Untuk menggambarkan “sedikit” ia memakai frasa “sabeunyeureun sasieureun” (hanya sebutir padi). (irf)


Ket:

- Tayang pertama kali di Tirto.id pada 17 Maret 2018

22 January 2020

Pidi Baiq, Panasdalam, dan Robohnya Multiply Kami

Kira-kira sebelum kawan saya, si Marjo, melanjutkan kuliah ke UI di pengujung 2008, saya masih hafal beberapa lagu Pandal. Puluhan lagunya masih tersimpan di komputer Dell yang  kini baterainya sudah rusak. Lagu-lagu itu menemani saya kira-kira sejak 2003, saat masih kuliah di Ciwaruga dan nganggur di Sarijadi. 

Lagu "Mutiara Bangga" yang kini sering ditulis "Erwin", "Budak Baheula", dan tentu saja "Jatinangor" adalah tiga nomor yang paling sering diputar. Saya mendengarkan Pandal sebelum tahu mereka sering mengacungkan jari kelingking. Juga sebelum tahu jika Alga ternyata salah satu vokalisnya.    

Dulu, Pidi tak dipanggil "Ayah", tapi--setidaknya oleh saya sama si Ardi anak Teknik Energi Polban--dipanggilnya "Pak Haji" karena konon ia telah pergi ke Makkah. Lalu tiba-tiba ternyata Pak Haji punya akun Multiply yang kini telah gulung tikar.

Ketika tulisan-tulisannya di Multiply diterbitkan oleh Mizan dengan tajuk Drunken Monster, saya mulai percaya bahwa tidak semua yang dibukukan akan membawa kebaikan. Kisah-kisah dalam Drunken Monster menjadi garing dari aslinya. Penyuntingan rupanya telah menyunat cita rasa.

Masih banyak yang ingin saya tuliskan, tapi sekarang harus membersihkan dulu debu-debu naskah punya kawan-kawan. Dan Bandung masih dikuasai cuaca mendung, saya ingin makan sayur sop...

18 January 2020

Tan Deseng: Tionghoa yang Menjadi Maestro Musik Sunda



Deseng yang memperkenalkan “ketuk tilu” melalui beberapa rekaman yang digarap bersama pemusik-pemusik rakyat dari Karawang.

Saat berusia 16 tahun, Tan Deseng menuruti keinginan ayahnya pergi ke Palembang untuk berdagang. Di perantauan itulah pertama kali ia mendengarkan lagu-lagu Sunda lewat Radio Republik Indonesia. Dan seketika ia menitikkan air mata.

“Saya menangis mendengar musik dan lagu itu. Saya terus bertanya-tanya mengapa saya menangis? Dan saya mendapat jawaban pasti dalam diri saya, bahwa memang betul saya orang Sunda,” katanya, dikutip dari laman 
jabarprov.go.id.

Tan Deseng semula ditulis Tan De Seng, kemudian setelah masuk Islam menjadi Mohamad Deseng. Ia dilahirkan pada 22 Agustus 1942 di daerah Pasar Baru, Bandung, tepatnya di Jalan Tamim. Deseng lahir dari keluarga peminat seni sebagai anak kelima dari delapan bersaudara. Kedua orang tuanya adalah Tan Tjing Hong dan Yo Wan Kie.

Tan Tjing Hong berprofesi sebagai pengusaha sekaligus sinshe dan seniman yang bisa melukis serta memainkan berbagai instrumen musik. Dari delapan anaknya, Tan Deseng dan Tan De Tjeng (kakaknya) mewarisi minat dan keterampilan seni dari ayahnya. Meski demikian, saat lulus dari SMP Tsing Hoa di Jalan Cihampelas, Bandung, ayahnya menghendaki dia menjadi pedagang saat Deseng.

Menurut Drs. Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa (2008), umur lima tahun Deseng sudah mahir memainkan harmonika dan meniup seruling dengan notasi yang diajarkan kakaknya, Tan De Tjeng.

“Ia kemudian mempelajari seluk-beluk berbagai jenis kesenian Sunda, selain belajar memainkan waditra (instrumen) musik Sunda. Melalui Adjat Sudradjat atau dikenal juga sebagai Mang Atun, ia belajar memainkan kecapi,” tulisnya. (hlm. 348).

Setyautama menambahkan, dalam usia muda Deseng sudah mampu memainkan lagu-lagu klasik Sunda, salah satunya lagu "Budak Ceurik" ("Anak Menangis"). Untuk meningkatkan kemampuan bermain kecapi dan suling, Deseng berguru kepada para suhu kecapi seperti Ebar Sobari, Mang Ono, Sutarya dan dalang Abah Sunarya.

Hasil berguru itulah yang membuatnya semakin mahir, dan berhasil membawanya malang-melintang di berbagai kota di Jawa Barat. Ia juga aktif di berbagai grup musik, dari Haming Youth, Young Brothers, Palamar, hingga Marya Musika. Untuk kecapi ia pernah mendirikan grup Bhakti Siliwangi.

Selain itu, Deseng juga pernah bermain bersama Hj. Titin Fatimah, pesinden kondang lagu-lagu Sunda dari Jakarta (1980), lalu Euis Komariah, Tati Saleh, dan sebagainya, selain juga tampil dalam berbagai ilustrasi dan meng-aransemen musik untuk film-film yang digarap Tati Saleh, seperti Si kabayan, Dukun Beranak, Misteri Jaipong, dan Mat peci.


Menjelajahi Musik

Kemampuan Deseng tidak terbatas pada alat musik tradisional. Dia juga piawai bermain gitar dalam berbagai aliran musik. Dari 1950-an sampai 1960-an, ia sempat menjadi pemain gitar di berbagai band di Bandung, sehingga sempat dijuluki ‘Setan Melodi’.

Dalam Ensiklopedi Musik, Volume 1 (1992) disebutkan meski "ketuk tilu" sebagai dasar jaipong pertama kali dimainkan oleh Topeng Ali di Karawang, namun Deseng yang memperkenalkannya melalui beberapa rekaman yang digarap bersama pemusik-pemusik rakyat dari Karawang.

Bersama dua temannya ia mendirikan studio rekaman. Studio ini menghasilkan ribuan rekaman master kaset berisi berbagai jenis kesenian tradisional Sunda. Di penghujung 2002, bersama Liang Tze Hai dan Ny. Lim Cay Hin, ia mendirikan Padepokan Pasundan Asih. Mereka menggarap macam-macam tari, musik, grup vokal, bahkan teater. Ada jaipong, ketuk tilu, Sunda India, kliningan Sunda, rampak sekar, gendak pencak, dan lain sebagainya.

“Pokoknya semua serba Sunda. Deseng disebut-sebut lebih Sunda daripada orang Sunda sendiri,” tambah Setyautama.

Pada 2007, bersama empat tokoh musik yang lain, Tan Deseng menerima Piala Metronome sebagai pengembang musik tradisi Sunda pada ajang penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia.

“Yang dilihat adalah lamanya pengabdian diri dan kontribusi yang diberikan, tanpa melihat bentuk, seberapa luas dampak positifnya. Usia tidak menjadi penghalang,” ujar 
James F. Sundah, salah seorang pengurus PAPPRI (Persatuan Artis, Penyanyi, dan Pemusik Indonesia).


Belum Layak Jadi Maestro

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mempunyai program bertajuk Belajar Bersama Maestro yang telah diluncurkan sejak Juni 2015, yang salah satu bintang tamunya adalah Tan Deseng. Dalam program tersebut, Deseng mengajarkan anak-anak muda dari berbagai daerah di Indonesia terkait musik modern dan tradisional.

Ketika diwawancara oleh penyelenggara program tersebut, Deseng menyatakan amat bersyukur dilahirkan di tempat yang mempunyai budaya yang indah dan tinggi, satu tempat yang menurutnya sangat luar biasa. Ia berkisah tentang kepekaannya terhadap musik. Sejak kecil, kira-kira berusia tiga atau empat tahun, ia sudah menerima banyak suara, dari musik sampai azan.

"Saya sangat sensitif terhadap seni musik. Sejak kecil, sejak berusia 3-4 tahun. Saat mendengarkan musik-musik tertentu, seperti azan subuh, waktu kecil saya bisa mengeluarkan air mata. saya gak bisa membedakan azan untuk sembahyang atau musik," kenangnya.

Kecintaannya terhadap seni, utamanya seni musik ia rawat dari kecil sampai hari ini ketika usianya sudah tidak lagi muda. Ketika pemerintah mengadakan program ini, tentu saja ia menyambut baik.

“Seberapa derajat tingginya bangsa bisa terlihat dari karya seninya. Karya nenek moyang kita memiliki scale yang patut dibanggakan. Kedua, kita memiliki titilaras yang mandiri dan cukup kaya. Kita memiliki 4 sebenarnya, tapi yang terkenal 3, yaitu pelog, sorog, salendro,” ujarnya.

Terkait program tersebut yang mendapuknya sebagai maestro, Deseng meresponnya dengan rendah hati.

“Merupakan suatu kehormatan bagi saya, walaupun sebetulnya saya belum layak jadi maestro. Saya sekadar tahu sedikit, dan saya merasa malu karena sebetulnya saya belum pernah memberi apa-apa kepada bangsa dan negara. Tiba-tiba saya dijuluki seorang maestro,” ujarnya.


Orang Sunda Pituin

Tahun 1964 Tan De Seng menikah dengan Tan Li Joe dan dikaruniai seorang putra. Pernikahan itu bubar pada 1976. Ia lalu menikah lagi dengan Nia Kurniasih pada 1977. Dari pernikahannya yang kedua ia mempunyai dua orang putri. Dari anak perempuannya, ia mempunyai tiga cucu.

Pada 2008, Deseng menikah lagi dengan Wulan. Anak-anak Deseng—Fitri dan Tantri, juga terjun ke dunia seni budaya. Fitri piawai bermain instrumen musik Sunda dan Tantri pelantun lagu-lagu Cianjuran.

Meski darah Tionghoa mengalir deras di tubuhnya, namun Deseng selalu menyebut dirinya sebagai orang Sunda pituin atau orang Sunda Asli.

“Walau bagaimanapun saya adalah orang Sunda, dan saya merasa orang Sunda pituin. Saya lahir di Bandung. Makan minum dan bekerja di Bandung. Musik yang saya dengarkan setiap hari dari masa kecil adalah musik Sunda. Kebudayaan tempat saya hidup adalah Sunda, hanya kebetulan saya lahir dari bapak yang Cina, tetapi bapak saya juga Sunda banget,” ujarnya. (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di Tirto.id pada 16 Februari 2018

14 January 2020

Soeria Kartalegawa, Menak Sunda di Pusaran Masa Peralihan


Kisah tentang Raden Adipati Aria Moehammad Moesa Soeria Kartalegawa, mantan Bupati Garut (1929-1944) yang memproklamasikan Negara Pasundan. Ia sebagaimana beberapa orang leluhurnya, dikenal sebagai oportunis politik yang hidup di bawah lindungan ketiak Belanda. 

Pada 4 Mei 1947, bertempat di alun-alun Bandung, mantan Bupati Garut (1929-1944) Raden Adipati Aria Moehammad Moesa Soeria Kartalegawa (selanjutnya ditulis Kartalegawa) memproklamasikan berdirinya Negara Pasundan. Ia didukung beberapa birokrat dan petinggi militer Belanda.

Keputusannya itu didorong salah satunya oleh sentimen kedaerahan atas dipilihnya gubernur Jawa Barat yang bukan orang Sunda secara berturut-turut, yakni Sutardjo Kertohadikusumo (Jawa) dan Datuk Djamin Sutan Maharaja (Minangkabau).

“Sampai-sampai Kartelagawa mempertanyakan apakah tidak ada satu pun orang Sunda yang pintar di Jawa Barat. Mengapa mesti orang Jawa?” tulis Agus Mulyana dalam Negara Pasundan 1947-1950: Gejolak Menak Sunda Menuju Integrasi Nasional (2018).

Sebelum proklamasi pendirian Negara Pasunda, Kartalegawa dan para koleganya terlebih dulu mendirikan Partai Rakyat Pasundan (PRP) pada November 1946. Kartalegawa tidak terpilih sebagai ketua partai, sebab di mata para petinggi Belanda yang menyokong gerakan tersebut, Kartalegawa adalah seorang pejabat yang tidak bisa dipercaya.

Hubertus Johannes Van Mook (Pemimpin NICA) dalam Menuju Negara Kesatuan: Negara Pasundan (1992) yang disusun oleh Helius Sjamsuddin dkk, menyebut Kartalegawa sebagai de corrupte figuur alias sosok yang korup.

Van Mook sebenarnya mempunyai gagasan untuk memecah posisi Republik dengan mendirikan negara-negara boneka yang bersatu di bawah sistem federal. Namun proklamasi Negara Pasundan yang dilakukan Kartalegawa dianggap terlalu buru-buru, sebab pihak Belanda masih ragu-ragu apakah ia bisa menjadi “wayang” yang andal atau sebaliknya.

Atas tindakannya tersebut, seperti dikutip Susanto Zuhdi dalam “Antara Sewaka dan Soeria Kartalegawa: Dinamika Politik Pemerintahan di Jawa Barat Pada Masa Revolusi Indonesia” (2017), Van Mook pun marah:

“Kamu bertindak seperti Hitler. Kamu telah membuat hal itu sangat menyulitkan saya berkenaan dengan Republik. Proklamasimu tidak mempunyai persiapan. Tanpa pembuktian bahwa orang Sunda mendukung PRP, kamu berbuat tidak baik dengan proklamasi itu. Kamu adalah lawan Republik dan telah membuat hal-hal sulit bagi kami.”

Negara Pasundan bikinan Kartalegawa memang minim dukungan. Sejumlah aristokrat Sunda menolak tegas negara tersebut. Wiranatakusumh V alias Dalem Haji yang mempunyai pamor besar di kalangan orang Sunda, menyebutkan bahwa Negara Pasundan yang diproklamasikan Kartalegawa tidak mempunyai dasar sejarah seperti perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Bahkan seperti dikutip Agus Mulyana, atas nama keluarga Wiranatakusumah, sebanyak 12 orang yang saat itu menduduki jabatan penting, mengirimkan surat kepada Presiden Sukarno di Yogyakarta yang menyatakan bahwa keluarga tersebut menolak dengan keras Negara Pasundan, dan setia berdiri di bawah Pemerintahan Republik Indonesia.

Hal inilah yang kemudian membuat Sukarno tidak khawatir saat Wiranatakusumah V menjadi Wali Negara Pasundan jilid II yang didirikan berdasarkan Konferensi Jawa Barat. Justru yang ketir-ketir orang-orang Belanda sebab negara boneka mereka dipimpin oleh orang-orang yang pro-Republik.

“Orang Pasundan hanya mengenal satu negara yaitu Negara Republik Indonesia,” ucap R, Enoch, mantan pengurus Paguyuban Pasundan menanggapi kelakuan Kartalegawa.

Tokoh PSII Aruji Kartawinata menyakatan pendirian Negara Pasundan yang dilakukan Kartalegawa adalah nafsu setan belaka jika dilihat dari sudut keagamaan, sebab menurutnya Kartalegawa bertujuan untuk menegakkan kembali “Kedaulatan Orange” di Hindia Belanda.

Reaksi yang sama disampaikan juga oleh para tokoh Sunda yang lain seperti Ir. Djuanda, Otto Subrata, dan lain-lain. Bagi mereka, tindakan Kartalegawa tak lebih dari manuver seorang oportunis politik.

Sejumlah ejekan kemudian dilontarkan untuk mengutuk sikap Kartalegawa tersebut, seperti “NICA-Legawa”, “wayang yang dimainkan oleh Van Mook”, dan sebagainya.

Bahkan keluarganya sendiri pun menolak negara tersebut. Juhana Kartalegawa, anaknya yang tinggal di Tasikmalaya heran dengan sikap ayahnya yang berpihak kepada NICA, padahal sejak zaman kolonial ayahnya kerap berselisih paham dengan para pembesar Belanda.

Ibunya tak kalah berang. Sebagaimana dikutip oleh Helius Sjamsuddin dan kawan-kawan dalam Menuju Negara Kesatuan: Negara Pasundan (1992), ia pun melontarkan unek-unek dan kemarahannya:

“Uca (nama panggilan Soeria Kartalegawa), Ibu tidak mengerti kau berbuat yang bukan-bukan. Tak ingatkah kau kepada Ibu dan saudara-saudaramu sehingga kau memisahkan diri dari keluarga, Ibu dan saudara-saudaramu bahkan Mang Abas (bekas bupati Cianjur dan tinggal di Tasikmalaya) tidak menyetujui kau mendirikan Negara Pasundan.”


Hancur Lebur di Muka Umum

Selain penolakan dari keluarga dan sejumlah tokoh Sunda, mayoritas rakyat Pasundan pun tidak sejalan dengan Kartalegawa. Surat Kabar De Niewsgier seperti dikutip Agus Mulyana dalam Negara Pasundan 1947-1950: Gejolak Menak Sunda Menuju Integrasi Nasional (2018), melaporkan jalannya Proklamasi Negara Pasundan di Alun-alun Bandung.

Menurutnya suasana sepi. Masyarakat enggan menyambut. Proklamasi yang rencananya akan dilakukan pada pukul 08.00, terpaksa diundur karena kurangnya perhatian masyarakat. Pada pukul 08.30 yang hadir baru 1.500 orang yang dikerahkan dari daerah Kiaracondong dan Ujungberung. Banyak yang hadir adalah militer Belanda yang kemudian pergi meninggalkan lokasi.

“Saya meninggalkan lapangan itu, dan berjalan-jalan di tepi alun-alun, saya lihat banyak orang Sunda dengan tenang dekat tukang gunting rambut dekat pohon beringin, pada saat yang bersejarah bagi Pasundan itu,” tulis De Niewsgier.

Mereka seperti tak terganggu atau tak peduli sama sekali atas Proklamasi Negara Pasundan. Padahal saat itu sejumlah pengeras suara banyak ditaruh di sekitar alun-alun termasuk di beberapa restoran. Namun, rakyat tak peduli. Bahkan para pengguna jalan tak ada yang berhenti untuk sekadar menengok peristiwa tersebut.

Kejadian serupa terulang di Jakarta. Sepekan setelah proklamasi, Negara Pasundan mengadakan rapat umum yang bertempat di kebun binatang Cikini. Pramoedya Ananta Toer merekam peristiwa itu dengan cukup kocak dalam artikel bertajuk “Kalau Mang Karta di Jakarta” yang terdapat dalam buku Menggelinding 1 (2004).

Kedatangan Kartalegawa diiringi sejumlah propaganda heboh yang disebar di seluruh Jakarta. Namun, propaganda tersebut tak sehebat rapat umumnya yang berjalan mengecewakan.

“Yang hadir sebagian besar orang-orang perempuan udik yang didatangkan dari pinggiran kota Jakarta. Mereka lebih suka melihat binatang-binatang daripada pidato Mang Karta. Apalagi tempat hadirin yang disediakan di situ sangat becek,” tulis Pram.

Rakyat yang hadir kecewa. Mereka yang awalnya diiming-imingi akan ada pembagian beras justru dibagi semboyan dan bendera putih hijau (bendera Negara Pasundan) dan bendera merah putih biru milik Belanda. Tak hanya itu, mereka juga diberi teks proklamasi Negara Pasundan.

“Buset dah, katanya suruh lihat kebun binatang. Di sini membawa bendera. Mana bisa, Kranji bukan daerah Pasundan disuruh mengikuti Kartalegawa,” ucap seorang pemuda dari Kranji sebagaimana dikutip oleh Pram.

Kartalegawa dan orang-orang yang mendukung Negara Pasundan bahkan tak diacuhkan sama sekali oleh rakyat Bogor saat mereka melakukan kudeta di wilayah tersebut. Dengan dibantu seorang petinggi militer Belanda yaitu Kolonel Thompson, mereka menduduki sejumlah kantor pemerintahan dan berusaha menculik Residen Bogor, Mr. Supangkat.

“Kantor-kantor yang diduduki adalah kantor kabupaten, bank rakyat, kantor pos, kantor pembagian makanan, Kantor Sarekat Luas, Gaspi, Pajajaran, dan Stasiun Bogor. Kantor-kantor tersebut dikunci sehingga para pegawai tidak bisa masuk,” tulis Agus Mulyana.

Thompson menawarkan kepada Residen Bogor agar para pegawai kembali bekerja dengan syarat kantor-kantor tersebut diawasi oleh militer Belanda. Mr. Supangkat menolak, dan para pegawai pun enggan kembali bekerja sebelum tempat kerjanya dikembalikan kepada Republik.

Kondisi itu membuat Bogor sepi dan masyarakat setempat tidak suka dengan kudeta yang dilakukan Negara Pasundan dengan bantuan Thompson.

“Bahkan terdapat beberapa tukang andong menolak mengangkut orang Belanda atau penumpang yang menjadi anggota Partai Rakyat Pasunda,” imbuh Agus Mulyana.


Menak yang Kesiangan

Kartalegawa lahir di Garut pada 26 Oktober 1897. Ia menempuh pendidikannya ELS, HBS, dan Bestuur School. Pekerjaannya mula-mula menjadi kandidat amtenar Kabupaten Cianjur, Ajudan Jaksa, Asisten Residen Garut, Asisten Wedana Langkaplancar dan Ciamis, Asisten Wedana Kls. I Sukabumi, Asisten Wedana Soreang Bandung, Wedana Patih dan Wedana Bandung, dan Bupati Garut.

Sebagai seorang yang kenyang di dunia pangreh praja dan menak keturunan Kepala Penghulu Limbangan yang terkenal, yakni Haji Moehamad Moesa, Kartalegawa tak menghendaki revolusi yang akan mencerabut hak-hak istimewanya sebagai seorang menak.

Seperti terjadi di banyak tempat, misalnya dalam kisah yang diwedarkan R. Moech. A. Affandie dalam Bandung Baheula (1969) tentang seorang Patih yang semena-mena meminta harta benda kepada rakyat, para menak memang kerap menghamba kepada Belanda dan menindas kepada rakyatnya. Inilah alasan lain yang membuat Kartalegawa mendirikan Negara Pasundan. Ia menghendaki kembali ke zaman normal saat posisi menak begitu kuat.

Padahal revolusi telah banyak memakan tumbal. Rakyat yang selama masa penjajahan ditindas kaum priyayi, menak, bangsawan, dan sebagainya, melakukan pembalasan lewat sejumlah aksi kekerasan yang kemudian terkenal dengan revolusi sosial. Amir Hamzah contohnya, penyair yang sekaligus pengeran Kesultanan Langkat tersebut menjadi korban dalam revolusi sosial di Sumatra Timur.

Saat rakyat sudah muak dengan feodalisme dan melakukan sejumlah pembunuhan terhadap para bangsawan, Kartalegawa bangun kesiangan. Ia masih percaya diri dengan posisinya sebagai menak yang merasa dihormati rakyat dan dilayani sebagaimana zaman kolonial.

Padahal Jawa Barat yang tidak mempunyai penguasa bangsawan otonom yang kuat seperti misalnya di Yogyakarta dan di sejumlah wilayah di Sumatra, Belanda hanya memanfaatkan para oportunis politik seperti dirinya yang tak dihormati sama sekali oleh rakyat.


Rekam Jejak Para Pendahulu

Jika merunut ke belakang, sikapnya ini memang sejalan dengan para pendahulunya. Ayahnya, R.A.A. Soeria Kartalegawa adalah bupati yang membenci kaum pergerakan dan terlibat dalam penumpasan peristiwa Sarekat Islam Afdeling B di Cimareme, Garut.

Ia juga yang menyeret Muhammad Sanusi, seorang pengarang dan wartawan yang menulis tembang dangding dengan judul “Garoet Gendjong (Garut gempar)” yang isinya mengkritik keserakahannya sebagai Bupati Garut. Sanusi dipenjara dan dibuang ke Digul.

Leluhur mereka, yakni Moehammad Moesa yang penah menjadi Kepala Penghulu Limbangan, juga terkenal dekat dengan orang Belanda, yaitu Karel Frederik Holle yang sempat bekerja untuk pemerintah kolonial sebagai Penasihat Urusan Pribumi.

Jasa Moesa dan K.F. Holle amat besar bagi perkembangan kesusastraan Sunda. Holle mendorong Moesa dan anak-anaknya untuk menulis pelbagai karya sastra dan non-sastra dalam bahasa Sunda. Namun, sebagian kalangan menganggap Moesa seorang oportunis yang menghendaki semua keturunannya menjadi pejabat.

“Moesa dianggap oportunis dan ambisius. Fakta menunjukkan bahwa ia begitu sering tunduk kepada Belanda dan itu dilihat sebagai suatu aib. Beredar rumor bahwa pemerintah kolonial telah memberi ganjaran atas pelayannya yang setia dalam banyak hal, antara lain, sampai tujuh keturunannya kemudian menjadi bupati,” tulis M.A. Salmoen dalam buku Raden Hadji Muhammad Musa.

Sikap oportunis Moesa bahkan abadi dalam sebuah lagu anak-anak Sunda yang biasa dibawakan saat bermain yang bertajuk “Ayang-ayang Gung”. Lirik lagu ini sebetulnya adalah serangan Moesa terhadap Tanu, kompetitor salah seorang anaknya dalam perebutan posisi jabatan.

Dalam Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 (2013), Mikihiro Moriyama menyebutkan bahwa dalam lagu tersebut Moesa menyerang Tanu dengan mempertanyakan kemampuannya dan mengejek kelicikannya. Namun, karena ternyata dirinya yang terbukti oportunis, maka serangan itu berbalik kepada dirinya alias senjata makan tuan.

“Kebanyakan orang tidak lagi tahu nama Musa, tetapi segelintir orang tua Sunda bercerita kepada penulis bahwa sebetulnya lagu itu tentang Musa sendiri, yang menjadi teman Belanda, seorang lelaki pembohong dan lirik,” imbuh Moriyama.

Dalam lingkungan orang-orang seperti inilah Kartalegawa sang proklamator Negara Pasundan lahir dan tumbuh. Di satu sisi, ia dan para leluhurnya bisa saja disebut sebagai para menak yang lihai berpolitik. Namun, di hadapan amuk revolusi, ia tak berkutik. (irf)





Ket:

- Tayang pertama kali di Tirto.id pada 30 Oktober 2019

07 January 2020

Para Perempuan dalam Hidup dan Puisi Chairil Anwar


Bagi Chairil, kelimpahan materi saat bocah, kisah cinta, dan hayat: semuanya lekas pudar.

Pada diri Chairil Anwar ada sepenggal kalimat yang melekat: “lekas jadi pudar”. Sewaktu kecil, dia dibesarkan dengan kelimpahan harta. Bocah ini tak pernah kekurangan makanan dan mainan. Seekor ayam goreng sanggup ia gado sendirian. Mainan terbaik ia dapatkan.

“Lihatlah cinta jingga luntur/Dan aku yang pilih/tinjauan mengabur, daun-daun sekitar gugur/rumah tersembunyi dalam cemara rindang tinggi/pada jendela kaca tiada bayang datang mengambang/gundu, gasing, kuda-kudaan, kapal-kapalan di zaman kanak.”

Sajak itu ia tulis pada 1948 tanpa judul. Meski kemudian, dalam buku Aku Ini Binatang Jalang (2002), sajak itu diberi tajuk “Selama Bulan Menyinari Dadanya”. Pada bait berikutnya, ada kalimat:

“…Kalau datang nanti topan ajaib/menggulingkan gundu, memutarkan gasing, memacu kuda-kudaan, menghembuskan kapal-kapalan…”

Menurut Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar (2016), sajak itu adalah gambaran kebahagiaan masa bocah, kelapangan bermain, yang kemudian disadari oleh Chairil akan lekas sirna dilumat “topan ajaib” kehidupan. Ya, kebahagiaan dan keleluasaan yang cepat berlalu.

Dalam urusan asmara, setali tiga uang, Chairil jago memikat dan mudah dipikat perempuan. Gelombang cinta dan berahi mengalir deras, dan pada akhirnya tak dapat ia genggam. Sejumlah nama perempuan ia tulis dalam sajak-sajaknya: Karinah Moordjono, Ida Nasution, Sri Ajati, Gadis Rasjid, Sumirat, Dien Tamaela, Tuti, Ina Mia. Ada pula yang sekadar inisial: H, K, dan Nyonya N.

Dalam pandangan Sjamsulridwan, kawannya sewaktu kecil, Chairil adalah bocah yang cepat matang. Kisah-kisah cabul dalam buku-buku yang didapat dari penyewaan dan film-film yang ditonton di bioskop membuat hasrat Chairil dan kawan-kawannya menggelegak.

“Tetapi pada Chairil penyaluran ini agak kasar kelihatannya,” ujar Sjamsulridwan seperti dikutip Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar (2016).

Terkenang Karinah

Meski nama perempuan pertama yang ditulis dalam sajaknya adalah Ida Nasoetion, tapi sesungguhnya yang mula-mula hadir dalam hidupnya adalah Karinah Moordjono. Gadis itu ia kenal saat masih tinggal di Medan. Karinah anak seorang dokter.

Dan Chairil, dengan daya pikat yang dimilikinya, yang kerap melahirkan rasa iri kawan-kawannya karena selalu mampu mendapatkan perhatian gadis tercantik di kelas dan kampung lain, terpikat pada Karinah. Sekali waktu ia teringat pada gadis itu, lalu menulis sajak berjudul “Kenangan”.

“…Halus rapuh ini jalinan kenang/Hancur hilang belum dipegang…”

Chairil menulisnya pada 19 April 1943, saat usianya menginjak 21 tahun dan sudah tak lagi tinggal di Medan. Tak lagi berdekat-dekatan dengan Karinah.

“Ini mungkin cinta yang terlambat untuk sebuah cinta monyet, tapi terlalu lekas untuk sebuah hubungan yang serius. Tapi dari sajaknya kita bisa melihat betapa seriusnya Chairil menjalin hubungan,” tulis Hasan Aspahani.

Cinta awal itu bagi Chairil membangkitkan kenangan, meski “halus rapuh” dan akhirnya “hancur hilang”. Kegagalan hubungan dengan Karinah di usianya yang masih belia, entah berlangsung lama atau sebaliknya, kiranya tetap menyisakan sesal. Sajak itu dipungkas dengan kalimat:

“Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia”

Ida, Aku Mau Bebas dari Segala

Ida Nasoetion adalah mahasiswi sastra Universitas Indonesia. H.B. Jassin dan Sutan Takdir Alisjahbana memujinya sebagai penulis esai dan kritik sastra yang gemilang. Ia pernah bekerja di kantor bahasa bentukan Jepang. Di tempat itu para sastrawan berkumpul, termasuk Chairil. Dan mudah ditebak, ia jauh hati pada Ida. Kegembiraan menyelimutinya. Harapan berpendaran, ia riang bagai bocah. Februari 1943, ia menulis sajak “Ajakan”:

“Ida/Menembus sudah caya/Udara tebal kabut/Kaca hitam lumut/Pecah pencar sekarang…”

Jika hidup Chairil umpama kabut tebal dan hitam lumut, maka kehadiran Ida membuatnya hilang berganti cahaya yang memecah dan memencar. Masa remaja seolah kembali datang.

“…Mari ria lagi/Tujuh belas tahun kembali/Bersepada sama gandengan/Kita jalani ini jalan…”

Namun, rupanya ajakan Chairil hanya berhenti sebagai ajakan. Sebab Ida tak menyambutnya. Kepada H.B. Jassin ia pernah berkata, “Chairil itu memang binatang jalang yang sesungguhnya. Namun, apa yang bisa diharapkan dari manusia yang tidak keruan itu?”

Meski ucapan Ida tak disampaikan oleh H.B. Jassin kepada Chairil, tapi kiranya penyair itu merasakan juga sikap Ida. 7 Juni 1943, Chairil menulis “Bercerai”. Dua kali ia menulis kalimat: “Kita musti bercerai…”

Sebulan setelah menulis sajak tersebut, Chairil menulis 
pidato untuk dibacakan di depan Angkatan Baru Pusat kebudayaan, sebuah lembaga kebudayaan yang dibentuk Sukarno pada zaman Jepang. Sekujur naskah dipenuhi nama Ida. Rupanya ia belum ikhlas betul melepaskan perempuan itu. Penulisannya pun tak lazim seperti teks pidato. Untuk hal ini, berikut alasan Chairil:

“Sengaja tidak kuberi bentuk pidato pada pembicaraan ini, karena pidato melepas-renggangkan dari pembicara rasanya. Jadi kucari bentuk lain. Ada teringat akan menerang-jelaskan saja, sambil menganjurkan, sekali-sekali menyatakan pengharapan,” ujar Chairil.

Setelah pembuka, Chairil mengawali bagian pertama pidatonya dengan kalimat, “Ida! Idaku-sayang.” Bagian berikutnya nama itu muncul lagi, “Ida! Rangkaian jiwa, lihat!” lalu dilanjutkan dengan, “Ida! Ida! Ida!” Alinea terakhir pidato dipungkas dengan kalimat pertama, “Sayangku mesra.”

Ida benar-benar telah menawannya. Tak tergapai, tapi begitu kuat membelenggu. Hingga pada 14 Juli 1943, Chairil menulis sajak “Merdeka”:

“Aku mau bebas dari segala/Merdeka/Juga dari Ida…”

Sumpah dan cinta pada Ida yang semula ia percayai, hingga menjadi sumsum dan darah, serta seharian dikunyah-dimamah, pada akhirnya tak membebaskannya.

Kesudahan hidup Ida Nasoetion tragis. Ia hilang saat melakukan perjalanan ke Bogor pada tahun 1948. Koran De Locomotief dan Het Dagblad melaporkan peristiwa itu.

“Seorang esais Indonesia berumur 26 tahun, Ida Nasoetion hilang. Selama delapan hari penyelidikan tetap sejauh ini tanpa hasil. Mereka (Ida dan kawan-kawannya) berangkat pada tanggal 23 Maret di pagi hari dengan kereta api ke Buitenzorg, di mana mereka menghabiskan hari di sekitar Masing, Tjiawi,” tulis De Locomotief.

Mari Kita Lepas, Kita Lepas Jiwa Mencari

“Chairil Anwar itu adalah hippie pertama di Indonesia,” ujar Gadis Rasjid.

Perempuan ini adalah wartawan surat kabat Pedoman dan majalah mingguan Siasat. Ia sempat meliput operasi militer penumpasan PKI Madiun 1948. Gadis Rasjid juga pernah secara mendalam mewawancarai Sutan Takdir Alisjahbana. 10 wawancara yang dilakukan Gadis Rasjid dengan tokoh kebudayaan tersebut diterbitkan menjadi buku bertajuk Di Tengah-tengah Perjuangan Kebudayaan Indonesia (1949).

Menurut Ajip Rosidi dalam Mengenang Hidup Orang Lain (2010)Gadis Rasjid adalah seorang pekerja yang ulet. Apa pun yang dipercayakan kepadanya, pasti akan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

“Pada dasarnya dia memang wartawan yang mulai menceburkan dirinya pada awal revolusi kemerdekaan, sehingga mempunyai sikap bebas yang mungkin dianggap kurang cocok oleh sebagian manusia Indonesia sekarang yang pernah mendapat indoktrinasi yang feodalistis,” tambah Ajip.

Gadis Rasjid adalah salah seorang perempuan yang namanya diabadikan oleh Chairil dalam sebuah sajak berjudul “Buat Gadis Rasjid” yang ia tulis tahun 1948. Sajak ini sengaja dipesan Gadis karena mereka memang dekat.

Menurut pandangan Gadis, dalam Chairil Anwar (2016), penyair ini adalah orang yang begitu hidup dan seolah-olah mau merangkul semua kehidupan. Ia juga mengenang Chairil sebagai orang yang senang pada perempuan. “Semua teman wanitanya selalu diperhatikannya,” ujarnya.

Amatan Chairil terhadap Gadis Rasjid yang ia tuangkan dalam sajaknya, menurut Ajip Rosidi, sesuai dengan kepribadian wartawan tersebut. Sikap bebas yang kurang cocok dengan sebagian orang, tetap ia pertahankan.

“Namun sikap itu tetap dipertahankannya karena sebagai bangsa muda yang sudah ‘bisa bilang aku’ tak ada pilihan lain baginya selain ‘Terbang/mengenali gurun/sonder ketemu, sonder mendarat/--the only possible non-stop flight’ dan ‘Tidak mendapat’,” tambah Ajip.

Gadis Rasjid wafat pada 28 April 1988. Ia meninggal karena terluka saat hendak meresmikan pemugaran rumah pengasingan Sutan Sjahrir di Bandaneira.

Menanti Sri yang Selalu Sangsi

Sri Ajati kuliah di jurusan bahasa Belanda, Universitas Indonesia, dari tahun 1940 sampai 1942. Saat Jepang masuk, sekolah dan kampus ditutup. Anak-anak muda kemudian sering berkumpul di gedung Pusat Kebudayaan, termasuk Sri Ajati dan Chairil.

Tahun 1946, bersama suaminya Sri Ajati pindah ke Serang, Banten. Di sanalah ia kedatangan salah seorang anak angkat Bung Sjahrir, dan mengabarkan bahwa Chairil telah membuat sajak untuk dirinya.

Sajak pertama bertitimangsa Maret 1943, berjudul “Hampa”. Di bawah judul tertulis, “untuk Sri yang selalu sangsi”.

“…Sepi memagut/Tak kuasa-berani/melepas diri/Segala menanti/Menanti-menanti/Sepi.”

Sajak kedua berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil”. Di bawah judulnya lagi-lagi tertulis, “buat Sri Ajati”.

“…Tiada lagi/Aku sendiri/Berjalan/menyisir semenanjung/masih pengap harap/sekali tiba di ujung/dan sekalian selamat jalan/ dari pantai keempat/sedu penghabisan bisa terdekap.”

Sri kaget, karena ia benar-benar baru mengetahui kalau Chairil membuat sajak untuknya. Setelah pindah lagi ke Jakarta, ia melihat lagi sajak tersebut di surat kabar Pedoman yang dipimpin oleh Rosihan Anwar.

“Saya tidak tahu. Saya baca di Pedoman, di situ saya baca bahwa Chairil itu cinta sama saya, tapi dia tak pernah mengatakan bahwa dia cinta sama saya,” ujarnya saat diwawancara oleh Alwi Shahab.

Sementara Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar (2016) menulis kalau pertemuan Sri Ajati dengan Chairil adalah di sebuah studio radio di Universitas Indonesia. Selain Chairil, Sri Ajati juga mengenal Rosihan Anwar, Usmar Ismail, Gadis Rasjid, H.B. Jassin, dan lain-lain.

Menurut H.B. Jassin, seperti dikutip Hasan Aspahani, Sri Ajati adalah perempuan dengan tubuh tinggi semampai, kulitnya hitam manis, rambutnya berombak, kerling matanya sejuk dan dalam.

“Kiranya, pada tahun 40-an, tak ada pemuda yang sehat jiwa raganya yang tidak jatuh hati pada Sri Ajati,” tambah H.B. Jassin.

Menilik tampilan Sri Ajati seperti yang dituturkan H.B. Jassin, tak heran jika Chairil menyukainya. Namun yang mengherankan, berdasarkan pengakuan Sri Ajati, Chairil tak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung.

Apakah kalimat “Sri yang selalu sangsi” adalah keraguan Chairil sendiri untuk mengungkapkan perasaannya?

Sri Ajati meninggal pada 30 Desember 2009.


Tuti, Bahaya yang Lekas Jadi Pudar

Dalam beberapa catatan tentang Chairil, tak diketahui pasti siapa sebetulnya Tuti. Nama yang hampir mendekati Tuti hanya Titi, seperti yang disampaikan Sri Ajati dalam wawancaranya dengan Alwi Shahab.

Dalam Derai-derai Cemara (1999), yang diterbitkan oleh majalah Horison, Asrul Sani menyebutkan bahwa Chairil kerap pergi ke pesta, bergaul dengan anak-anak Indo dan nongkrong di tempat-tempat para pelajar sekolah Belanda biasa berkumpul, salah satunya Toko Artic yang menjual es krim di Jalan Kramat Raya.

Entah siapa Tuti, yang jelas hasrat Chairil tumbuh juga di toko itu. Tahun 1947, ia menulis “Tuti Artic”. Es, susu, coca cola hadir dalam sajaknya. Lebih dari itu, ia tak segan mengutarakan gairahnya:

“Kau pintar benar bercium/ada goresan tinggal terasa/--ketika kita bersepeda/kuantar kau pulang--/Panas darahmu/sungguh lekas kau jadi dara/Mimpi tua bangka/ke langit/lagi menjulang…”

Aroma kisah cinta atau berahi selewatan terasa benar di pengujung baitnya. Chairil seperti tak hendak mengenang dan berlama-lama dengan kisah itu:

“Aku juga seperti kau/semua lekas berlalu/Aku dan Tuti + Greet + Amoi…/hati terlantar/Cinta adalah bahaya/yang lekas jadi pudar.”


Adakah Kau Selalu Mesra dan Aku Bagimu Indah?

Sumirat atau biasa dipanggil Mirat belajar melukis kepada S. Sudjojono dan Affandi. Sekali waktu ia dan keluarganya vakansi ke pantai di Cilingcing. Di sana, ia melihat Chairil. Pemuda itu tengah duduk bersandar di sebatang pohon sambil membaca buku tebal.

“Mula-mula tiada menjadi perhatianku, tapi beberapa kali melewatinya, melihat dia tekun membaca tanpa peduli sekelilingnya, benar-benar membuatku heran. Aneh, pikirku, orang-orang bersenang-senang di sini, tapi dia lebih tenggelam dalam bukunya,” ujar Mirat kepada 
Purnawan Tjondronagoro.

Sikap Chairil yang tak peduli ternyata memikat hatinya. Dalam perjalanan pulang, ia memikirkan Chairil. Terutama membayangkan apa yang tengah bermain dalam angan pemuda itu. Saat ia melukis, wajah Chairil kembali muncul di benaknya.

Sekali waktu, tak lama setelah ia melihat Chairil di pantai, saudaranya datang memberi kabar bahwa pemuda yang menjerat hati Sumirat terkena masalah: dituduh mencuri! Karena ingat akan Sumirat, akhirnya Chairil ditebus oleh saudaranya itu. Si penyair terbebas dari hukuman.

Sementara Sutan Takdir Alisjahbana dalam Perjuangan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (1977) menulis bahwa ia tahu kasus tersebut dari ibunya Chairil.

“Chairil Anwar mencuri sebuah seperai yang terjemur di halaman rumah orang dan ketahuan oleh yang empunya, sehingga ia diadukan kepada polisi dan ditahan. Ibunya kehilangan akal dan minta bantuan kami,” tulisnya.

Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawannya kemudian patungan uang seharga seprai yang dicuri Chairil. Salah seorang dari mereka juga mendekati pegawai pengadilan dan mengatakan bahwa pesakitan itu adalah seorang penyair muda yang sangat berbakat dan penting kedudukannya dalam masyarakat. Usaha mereka berhasil, Chairil bebas.

Rupanya orang pegawai pengadilan itu adalah saudaranya Mirat. Dasar Chairil, setelah ditolong, ia jatuh hati pada Mirat. Gayung bersambut.

“Dan dibawanya tumpukan kertasnya yang berisi hasil karya sastranya. Kami berdiskusi, sulit untuk mengalahkan atau membelokkan kemauannya. Dia seorang yang terlampau yakin kepada dirinya sendiri, tegas dan berani. Kukagumi dirinya sepenuh hatiku,” ujar Mirat.

Karena pengangguran, kisah cinta mereka merepotkan keluarga Mirat. Chairil nekad dengan mengikuti kekasihnya itu sampai tinggal berhari-hari di rumah orangtuanya di Jawa Tengah. Orang rumah tidak menyukai Chairil, tapi mereka tak dapat mengusirnya, sehingga mereka meminta bantuan Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan untuk membujuk Chairil meninggalkan rumah dan menjauhi Mirat.

Seperti pada perempuan-perempuan yang lain, Mirat pun tak lepas dari sajak Chairil. Sajak pertama buat Mirat ditulis pada 18 Januari 1944: “Sajak Putih”, di bawahnya tertulis “buat tunanganku Mirat”.

“…Buat Miratku, Ratuku! Kubentuk dunia sendiri/dan kuberi jiwa/segala yang dikira orang mati/di alam ini!/Kucuplah aku terus/kucuplah/dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku.”

8 Januari 1946, Chairil menulis “Dengan Mirat”. Kiranya tahun tersebut keadaan sudah semakin sulit bagi hubungan Chairil dan Mirat. Terasa ada keraguan dari bait-bait yang ditulisnya:

“…Aku dan dia hanya menjengkau/rakit hitam […] Masih berdekapankah kami/atau mengikut juga bayangan itu?”

September 1946, Chairil menikah dengan Hapsah Wiriaredja dan punya anak, sementara Mirat telah dipersunting seorang dokter tentara. Namun, kenangan akan Mirat rupanya masih melekat dalam benak Chairil. Di tahun yang sama dengan kematiannya, Chairil masih mengingat Mirat, mengenang saat-saat mereka ketika masih dilumuri waktu luang untuk saling suka. Maka ia pun menulis “Mirat Muda, Chairil Muda”.

“Ketawa/diadukannya giginya pada mulut Chiaril;/dan bertanya:/Adakah, adakah kau selalu mesra/dan aku bagimu indah?”


Dien Tamaela Jauh di Pulau

“Beta Pattiradjawane/Yang dijaga datu-datu/Cuma satu…”

Kutipan itu adalah awal dari sajak “Cerita Buat Dien Tamaela” yang ditulis tahun 1946. Menurut Sjumandjaja dalam Aku (1987), Chairil mengenal Dien Tamaela di studio lukis Sudjojono. Perempuan itu adalah putri dari pasangan dokter Lodwijk Tamaela dan Mien Jacomina Pattiradjawane.

Ibu Dien Tamaela tak setuju Chairil mendekati anaknya. Perempuan pujaan Chairil pun tak berumur panjang, Dien Tamaela meninggal pada tahun 1948. Dua tahun sebelumnya, Chairil menulis “Cintaku Jauh di Pulau”. Barangkali mengenang hubungan mereka yang buru-buru selesai karena dirintangi restu orangtua:

“Amboi!/Jalan sudah bertahun kutempuh!/Perahu yang bersama/’kan merapuh!/Mengapa ajal memanggil dulu/Sebelum sempat/berpeluk dengan cintaku?!”

Gajah, Aku Rindu

Chairil menikah dengan Hapsah Wiriaredja pada September 1946. Dari pernikahan itu lahir Evawani. Menurut anaknya, sebelum menikah dengan Chairil, ibunya tengah didekati seorang dokter. Namun, si penyair gigih melumatkan hati Hapsah sampai akhirnya berhasil ia miliki.

“Chairil memanggil Mamah itu ‘Gajah’ karena memang tinggi-besar, gendut kayak saya sekarang ini, sementara Chairil kan kecil-kurus. Mungkin, kalau dia masih hidup, saya pun akan dipanggilnya Gajah,” ujar Evawani.

Meski hanya Hapsah yang memberinya seorang buah hati, tapi hampir tak ada sebiji pun sajak buat dirinya. Hasan Aspahani yang menulis biografi Chairil berhasil menemukan sebaris sajak buat Hapsah, ditulis tangan tanpa mesin tik dan memakai pensil, berjudul “Buat H”:

“Aku berada kembali di kamar/bersama buku/seperti sebelum bersamamu dulu.”

“Tidak terbit di mana-mana. Namun, sajaknya terdapat di dalam buku kerja Chairil […] Karya-karya yang belum selesai menjelang kematiannya,” ujar Hasan.

Ia menduga sajak tersebut adalah kerinduan yang mendalam terhadap sosok istrinya.

“Dia kangen sama istrinya di hari-hari terakhir jelang kematiannya. Dia kangen pada istri dan rumahnya dulu. Dan ‘Buat H’ menurut H.B. Jassin memang buat Hapsah,” tambahnya.

Damhuri Muhammad dalam pengantar Chairl Anwar (2016) menulis bahwa menjelang kematiannya, Chairil bersemangat untuk mengumpulkan dan menerbitkan sajak-sajaknya. Ia berniat menikahi Hapsah kembali dan membesarkan anaknya.

“Ia rindu ketan srikaya bikinan Hapsah. Royalti dari buku itu ia niatkan untuk menebus kembali perkawinannya yang berantakan. Namun, saat itu pula penyakit parah menyerangnya. Hanya dalam hitungan hari, meriang yang melanda, membuat sekujur tubuhnya hampir membeku. Muntah darah tak sudah-sudah, hingga pada 28 April 1949 ajal datang merenggutnya,” tulis Damhuri. (irf)




Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 6 Mei 2018

- Foto: detik.com

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai