13 October 2020

Hamsad Rangkuti Telah Pergi, Meninggalkan Cerpen Hasil Lamunannya


“Saya pengelamun yang parah,” ujar Hamsad Rangkuti.

Pengarang kelahiran Titikuning, Sumatera Utara, 7 Mei 1943 itu kerap membiarkan pikirannya pergi ke mana ia suka. Dalam pengantar di salah satu buku kumpulan cerpennya, ia mengatakan cerpen-cerpennya seringkali hanya dipicu oleh hal-hal kecil seperti mendengarkan perkataan seseorang atau sekilas melihat sesuatu, lalu ia kembangkan dengan daya imajinasinya.

Cerpen pertamanya yang berjudul Sebuah Nyanyian di Rambung Tua (1959) ia tulis ketika menyendiri di hutan rambung dekat kampungnya. Saat itu ia menyaksikan seorang buruh penyadap getah yang bekerja dari satu pohon ke pohon yang lain.

“Pada detik itulah terbayang olehnya latar keluarga di buruh berikut hidup yang mereka lalui. Tragedi dan peliknya hidup orang miskin itulah yang kemudian menjiwai karya-karya Hamsad, yang pada sisi lain menunjukkan keberpihakannya atas nasib orang-orang kecil,” tulis Ni Made Purnamasari dalam sebuah tulisan yang ia sampaikan pada diskusi di Biennale Sastra Salihara 2017.

Dalam sebuah resensi buku karya Hamsad Rangkuti yang berjudul Bibir dalam Pispot (2003), Yanusa Nugroho menulis dalam Tempo bahwa karya pengarang ini nikmat dibaca karena diangkat dari persoalan keseharian dan konon diilhami dari berita-berita di koran.

“Sebagaimana ciri khas cerpen sastra, selalu saja kisah yang disajikan Hamsad membuka horizon baru. Ada tema tentang kerinduan, keteduhan, kepolosan, kejujuran, dan berbagai percikan nafsu manusiawi yang tak bisa disingkirkan begitu saja. Cerpen Hamsad adalah sebuah cermin besar yang menangkap nadi kehidupan manusia yang bernama Indonesia,” tulisnya.

Dalam kondisi lain, melamun atau berpikir ketika menciptakan sebuah karya sempat membuatnya celaka. Kepada Harian Pos Kota ia sempat berkisah tentang kepalanya yang melepuh karena tersiram air panas. Malam hari saat ia pulang, istrinya memanaskan air untuk ia mandi. Karena pikirannya tidak fokus, air panas itu lupa ia campur dengan air dingin.

“Saat itu abang lagi mikirin bagian akhir dari cerpen yang lagi abang tulis. Eh, lupa mencampur air panas di ember dengan di kulah. Langsung siram saja ke kepala. Bayangkan rasanya!” katanya.

Pada Minggu, 26 Agustus 2018, Hamsad Rangkuti meninggal dunia setelah bertahun-tahun berjuang melawan berbagai penyakit yang menyerang dirinya. Pada laman Facebook-nya, Martin Aleida, salah seorang kawan Hamsad menulis:

“Kuantar kau dengan Al-Fatihah yang kau sebut sebagai ayat pamungkas untuk memulai cerita yang bohong tapi enak dan menggetarkan. Doa dan airmataku untuk perpisahan yang tak bisa dilerai ini. Banyaklah berkelakar di sana karena dia membahagiakan,” tulisnya.

Apa yang dimaksud oleh Martin Aleida dengan “cerita yang bohong tapi enak dan menggetarkan”?

Masih dalam artikel yang sama, Ni Made Purnamasari menyebutkan bahwa kerja kepengarangan agaknya menggelisahkan batin Hamsad Rangkuti. Ia mencontohkan kondisi itu dengan sebuah cuplikan dari cerpen Antena yang Hamsad tulis pada tahun 2000.

“Orang itu mengaku seorang pengarang yang selama hidupnya telah menciptakan kebohongan-kebohongan. Imajinasi adalah kebohongan untuk diri sendiri, katanya mengucapkan makna yang tak kumengerti. Begitu imajinasi dituturkan ataupun didengar atau dibaca orang lain, kita telah menciptakan kebohongan-kebohongan kepada orang lain,” tulisnya.

Lebih lanjut Hamsad menulis cerita pendek, novel, puisi, dan karangan fiksi lainnya adalah kebohongan yang nikmat yang dengan cerdik berlindung di balik kata imajinasi. Kebohongan itu dengan jelas ditujukan kepada dirinya karena pada kalimat berikutnya ia menulis:

“Padahal sesungguhnya tidak ada Sukri membawa pisau belati. Tidak ada wanita muda yang menanggalkan satu per satu pakaiannya dan berkata, ‘maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?’ Bohong semua itu,” tambahnya.

Sukri Membawa Pisau Belati dan Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? adalah sejumlah cerpen yang ditulisnya. Di titik ini, pernyataan Martin Aleida di laman media sosialnya kiranya bisa kita takar bahwa ia tengah melepas seorang kawannya yang pandai "berbohong" lewat cerita-cerita yang memikat dan menggetarkan.

Meski cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti bergaya realis, tapi menurut Ni Made Purnamasari, pengarang ini tetap meyakini bahwa hasil sastrawi adalah buah murni imajinasi yang membedakannya dengan karya jurnalisme dan potret deskripsi permukaan lainnya.

“Pandangan ini sempat disikapi kritis oleh Taufik Ismail, bahwa salah satu tugas mengarang ialah justru meluruskan kebohongan-kebohongan, entah dengan laku maupun karyanya,” tulisnya.

Berbeda dengan pandangan Taufik Ismail, Hamsad Rangkuti malah mempertanyakan ulang realita. Kenyataan dalam pandangan si pengelamun akut itu menurut Ni Made Purnamasari, barangkali tidak selalu berupa sesuatu yang kita temukan dan saksikan, lebih jauh kenyataan dapat disilangkan, dipadu-baurkan, atau bahkan ditiadakan dengan bentuk realitas baru yang dia bayangkan.

“Dia menggoda kita agar jadi penonton yang terpesona oleh peristiwa yang direkanya,” kata
 Sapardi Djoko Damono.

Bangkit dan Tumbang di Rumah

"Kemiskinan adalah bencana. Ia bukan sekadar persoalan memenuhi kebutuhan pangan, tetapi meniadakan harapan dan cita-cita manusia. Maka, amarah dan dendam kerap muncul ketika orang berjalan terbongkok-bongkok dan ringsek memikul beban kemiskinan," tulis Maruli Tobing membuka artikelnya yang bertajuk “Hamsad, dari Lorong Pasar di Kisaran” (Kompas, Minggu, 21 Oktober 2007).

Dalam artikel tersebut Hamsad Rangkuti dikisahkan putus sekolah pada kelas I SMA di Tangjungbalai karena ketiadaan biaya. Ia akhirnya terpaksa menemani ayahnya yang bekerja sebagai penjaga malam dan pemikul air di Kisaran. Sementara ibunya berjualan buah-buahan pada malam hari.

Maruli Tobing menjelaskan bahwa ketika Hamsad Rangkuti lahir di zaman yang memang tengah bergolak karena perang kemerdekaan, tapi hal itu bukan faktor utama. Menurutnya, terkait atau tidak dengan perang, keluarga Hamsad rangkuti adalah rakyat kecil dalam arti sesungguhnya.

“[Mereka] tidak mempunyai rumah tempat berteduh, kecuali menumpang di rumah saudara secara berpindah-pindah,” tulisnya.

Kondisi “rumah” seperti ini kemudian secara tidak langsung mendorong Hamsad Rangkuti untuk memutuskan merantau ke Jakarta. Ia hendak bangkit dari keadaan yang rudin di “rumah”-nya. Perkenalannya dengan Jakarta mula-mula dialaminya saat ia bekerja sebagai pegawai negeri di Inspektorat Kehakiman Kodam II/Bukit Barisan dan dilibatkan dalam Kongres Karyawan Pengarang Indonesia pada 1964.

Saat pindah ke Jakarta, ia mula-mula ditampung oleh Zulharman, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan dipekerjakan di Persatuan Film Nasional Indonesia (PERFINI). Namun, karena di rumah Zulharman ia merasa tidak mengerjakan apa-apa, akhirnya Hamsad pindah ke Balai Budaya dan tiap malam tidur di atas ubin dengan hanya beralaskan selembar koran.

Hal ini serupa dengan yang dilakukan oleh pelukis Nashar yang bertahun-tahun tinggal di Balai Budaya.

“Pada waktu itu kreatif kepengarangannya mulai menyimpang. Di Balai Budaya ia merasa menjadi manusia liar bagaikan kuda lepas. Teman-temannya mengajak Hamsad mengenal kehidupan di gubuk-gubuk kere di sepanjang Kali Malang dan menyusuri rel di gubuk-gubuk pelacuran Planet Senen,” tulis Pamusuk Eneste dalam Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang II (1984).

Warsa 1969 ia bergabung dengan majalah sastra Horison. Awalnya ia bekerja sebagai pencatat naskah, lalu menjadi korektor, dan mulai 1986 ia menjadi Pemimpin Redaksi dan baru 16 tahun kemudian posisinya digantikan orang lain.

“Tidak terbayangkan dahulu bahwa saya akan diterima bekerja di majalah sastra Horison,” ujarnya seperti dikutip Maruli Tobing.

Keputusannya untuk pindah ke Jakarta, meski pada mulanya morat-marit, tapi perlahan membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Ia beberapa kali mendapat penghargaan sastra atas karya-karyanya, salah satunya memenangkan Khatulistiwa Literary Award untuk kumpulan cerpen Bibir dalam Pispot. Ia juga sempat melakukan perjalanan ke Inggris selama satu bulan yang disponsori oleh British Council dan mendapatkan uang sebanyak Rp70 juta.

Kehidupan Hamsad Rangkuti mulai berderak-derak saat Pemerintah Kota Depok membangun tempat pembuangan sampah sementara di dekat rumahnya pada 2009. Gunungan sampah tersebut menyebabkan rumah tempatnya memanen imajinasi menjadi kacau. Di rumahnya ia tumbang.

“Rumah yang menjadi sumber inspirasi dan tempat ia menulis tak lagi terasa hangat. Sampah yang menumpuk, belatung, kecoa, tikus, dan bau busuk menerbangkan bau hingga ke rumahnya. Lingkungan yang tidak sehat menyebabkan keluarga tersebut dijangkiti penyakit,” tulis 
Liputan 6
.

Hamsad Rangkuti pun kemudian terserang penyakit dan kondisinya dari tahun ke tahun semakin parah. Sementara biaya pengobatan kian mencekik. Di beberapa laman media sosial, kondisi kesehatan dan ekonomi Hamsad kerap dikabarkan oleh kawan-kawannya; mereka berinisiatif mengumpulkan dana untuk membantu biaya pengobatan sastrawan tersebut.

Setelah bertahun-tahun berjuang, ajal akhirnya tak dapat ditangguhkan lagi. Hari ini Minggu, 26 Agustus 2018, tepat satu tahun silam, Hamsad Rangkuti pergi untuk selama-lamanya.

Dalam cerpen Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?, ia menulis adegan tentang seorang perempuan yang hendak melompat ke laut dan berkata:

"Semua yang ada padaku, yang berasal darinya, akan kubuang ke laut. Sengaja hari ini kupakai semua yang pernah dia berikan kepadaku untuk kubuka dan kubuang satu persatu ke laut. Tak satu pun benda-benda itu kuizinkan melekat di tubuhku saat aku telah menjadi mayat di dasar laut. Biarkan aku tanpa bekas sedikitpun darinya. Inilah saat yang tepat membuang segalanya ke laut, dari atas kapal yang pernah membuat sejarah pertemuan kami”. (irf)


Ket: Tayang pertama kali di Tirto.id pada 26 Agustus 2019

04 October 2020

Langgar Tinggi Pekojan: Berawal dari Pendatang Moor dan Arab

Langgar Tinggi terletak di daerah Pekojan, Jakarta Barat. Arti kata “langgar” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring yang dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud, adalah “masjid kecil tempat mengaji atau bersalat, tetapi tidak digunakan untuk salat Jumat”.

Belakangan, orang-orang menyebutnya Masjid Langgar Tinggi. Artinya ada penumpukan makna sekaligus kontradiktif, sebab kata “masjid” menurut KBBI berarti “rumah atau bangunan tempat ibadah orang Islam: setiap Jumat dilakukan salat bersama”.

Di luar hal tersebut, Langgar Tinggi merupakan salah satu bangunan ibadah yang usianya tua di wilayah Jakarta, dan sampai saat ini masih berfungsi dengan baik.

Pekojan, kampung tempat langgar ini berada, berasal dari kata “Koja” atau menurut catatan Jacques Dumarcay dan Henri Chambert-Loir dalam “Langgar Tinggi di Kampung Pekojan, Jakarta” yang terbuhul dalam Sastra dan Sejarah Indonesia: Tiga Belas Karangan (2018) berasal dari kata “Khoja”, yaitu Muslimin asal India, terutama orang Bangli atau Bengali.

Sementara menurut Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun (2012), Koja adalah orang-orang Moor, yakni orang Muslim India Barat yang kebanyakan berasal dari pelabuhan Surat yang ramai di Gujarat, tempat Belanda memiliki sebuah pos di sana.

Pada awalnya, orang-orang inilah yang menetap di Pekojan untuk berdagang. Namun, saat India ditaklukkan oleh Inggris, perdagangan mereka berkurang dan komunitasnya semakin mengecil. Mereka yang masih tersisa memutuskan berjualan sutra di Pasar baru, salah satu pusat komersial di dekat Weltevreden atau sekarang dikenal sebagai daerah Gambir dan sekitarnya.

Pekojan kemudian dihuni oleh orang Arab dari Hadramaut atau Yaman yang datang sekitar awal abad ke-19. Blackburn menambahkan, meskipun pada mulanya orang Arab yang tinggal di Batavia hanya sekitar beberapa ratus orang, tapi kehadiran mereka sangat terasa.

“[…] terdapat sejumlah syekh dan sayid di kalangan mereka, karena itulah orang Indonesia sangat menghargai mereka sebagai pemuka agama di Batavia,” tulisnya.


Wakaf Saudagar Arab asal Palembang

Langgar Tinggi terletak di terletak di sebelah selatan Jalan Pekojan, yaitu antara Jalan Pekojan dan Kali Angke, membujur barat-timur, sejajar dengan jalan dan kali. Menurut Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi (2004), pendirinya adalah seorang kapiten Arab bernama Syaikh Said Naum.

Said Naum, imbuh Shahab, juga mempunyai armada kapal dan mewakafkan sebidang tanah yang luas untuk dijadikan pekuburan umum di Tanah Abang. Lahan pekuburan tersebut kemudian dijadikan rumah susun oleh Gubernur Jakarta, Ali Sadikin.

Keterangan berbeda disampaikan oleh Jacques Dumarcay dan Henri Chambert-Loir. Berdasarkan wawancaranya dengan Abdurrahman al-Jufri—pengurus masjid An-Nawir, yakni masjid besar Jalan Pekojan--Said Naum hanya mengelola harta seorang ahli waris dari sebuah keluarga Arab kaya dari Pelembang, yaitu Syarifah Mas’ad Babrik Ba’alwi.

Syarifah ini yang mewakafkan dua bidang tanahnya di Batavia. Pertama di Tanah Abang yang dijadikan pekuburan Muslim, dan yang kedua di Pekojan yang kemudian di atasnya dibangun Langgar Tinggi.

“Makam nyonya yang murah hati tersebut kini kiranya terletak di luar masjid An-Nawir, berupa makam bercungkup yang baru-baru ini dipugar dan yang nisannya berupa batu asli yang tidak tertulis,” terang mereka.

Keberadaan orang-orang Arab asal Hadramaut yang menggantikan orang-orang Moor di Pekojan, sering menggunakan Langgar Tinggi untuk sekadar berkumpul dan melaksanakan salat. Langgar ini sebagaimana namanya, lantai atasnya dijadikan tempat salat, sementara lantai bawah ditempati sejumlah keluarga untuk tinggal dan berdagang.

“Terdapat di situ sebuah masjid Arab yang cukup luas, yang diurus oleh seorang ulama bangsa mereka yang juga berlaku sebagai guru agama. Sebuah ruang di tingkat bawah khusus digunakan untuk itu. Bangunan itu dinamakan langgar dan berupa wakaf dengan modal yang cukup besar,” tulis L.W.C. van den Berg berjudul Le Hadramout et les colonies arabes de l’Archipel Indien seperti dikutip Jacques Dumarcay dan Henri Chambert-Loir.

Ia juga menambahkan, langgar tersebut tidak dipakai untuk salat Jumat, sehingga orang-orang Arab melaksanakan salat Jumat di masjid besar pribumi yang letaknya tidak jauh dari Langgar Tinggi yang dinamakan Zawiah.

Pada papan yang terpasang di atas sebuah pintu langgar, tertulis titimangsa pendiriannya, yakni pada tahun 1249 H/1829 M. Namun, padanan tahun masehi itu keliru, mestinya tahun 1833.

Titimangsa lain terdapat pada prasasti yang terukir di bagian atas mimbar yang terbuat dari kayu yang indah yang terukir dengan halus dan tertutup cat lak Palembang.

Prasasti berbahasa Arab pada minbar tersebut berisi permohonan rahmat kepada Allah atas Syeikh Sa’id bin Salim Na’um, yang pernah menghadiahkan mimbarnya pada bulan Rajab 1275 H/Februari 1859 M.


Gaya Arsitektur dan Keriaan di Langgar Tinggi

Langgar Tinggi di Pekojan dibangun dengan gaya arsitektur campuran, di antaranya unsur gaya Eropa, Tiongkok, Jawa, dan India. Menurut catatan Jacques Dumarcay dan Henri Chambert-Loir, gaya Eropa meliputi pilar batu, anjung masuk, dan kasau tengah pada kuda-kuda kerangka atap.

Sementara penyangga luar untuk menyandarkan rangka balok-balok luar menyerap unsur Tiongkok. Dan balok-nalok rangka payung di sudut-sudut, juga usuk penerus di sisi barat menggunakan unsur Jawa.

“Pendampingan beberapa unsur Eropa dan Tionghoa di atas dasar Jawa asli yang telah menyerapkan sebuah unsur India merupakan tanda khas arsitektur Jawa pada abad ke-19. Campuran gaya serupa, meskipun lain peran masing-masing unsurnya, ditemukan baik di Jakarta maupun di Cirebon dan Pasuruan,” tulis mereka.

Kali Angke tempo dulu seperti ditulis Windoro Adi dalam Kompas edisi 31 Mei 2007, merupakan jalur pengangkutan barang niaga dan hasil bumi dari Tangerang dengan menyusuri Sungai Cisadane menuju pusat kota lama. Barang-barang tersebut di antaranya bahan bangunan, kain, rempah-rempah, duren, nangka, dan kelapa.

“Sebelum masuk kota, perahu dan rakit-rakit itu biasanya sandar di belakang langgar,” tulis Adi.

Berdasarkan wawancaranya dengan Ahmad Assegaff, warga Pekojan keturunan Arab, dulu Langgar Tinggi semarak dengan pelbagai keriaan. Setidaknya ada empat pesta tahunan yang diselenggarakan di sana, yakni khitanan bagi anak yatim piatu, mauludan (kelahiran nabi Muhaammad), mikrajan (isra mi’raj), dan khatam Alquran.

Saat pesta khitanan tiba, warga sekitar Pekojan, yakni dari etnik Jawa, Bali, dan Tionghoa, baik Muslim maupun non-Muslim, urunan mengumpulkan bantuan untuk ikut membiayai acara tersebut.

Sementara ketika mauludan dan mikrajan digelar, pelbagai hiasan dan makanan disajikan untuk memeriahkannya. Panggung yang didirikan di depan langgar dihias dengan janur, bunga kertas, dan lampion.

“Lampu lampionnya minyak kelapa bercampur minyak tanah. Kaum lelakinya memakai sarung madraz—sarung kotak-kotak warna coklat cerah—berkopiah, dan baju koko putih. Alas kakinya terompah,” kenang Assegaff sebagaimana dikutip Windoro Adi.

Sejumlah makanan yang dihidangkan antara lain nasi ulam, tempe goreng, emping, sayur semur dengan ikan bandeng pesmol, dan bandeng acar kuning.

Dan pada keriaan khatam Alquran, hidangan yang disajikan berupa bubur gandum surba bumbu gulai dengan tebaran daging kambing, kurma, rambutan, nangka, duren, dan mangga.

Pesta khatam Alquran di Langgar Tinggi merupakan pembacaan Alquran oleh anak-anak yang biasanya berlangsung selama dua jam. Setelah itu dilaksanakan salat Isya, lalu salawatan, kasidahan, dan pelbagai rangkaian acara lainnya. (irf)


Ket: Tayang pertama kali di Tirto.id pada 13 Mei 2019

01 October 2020

Zaman Kacau Balau: Kala Kaum Kiri Menunggangi Gerakan DI/TII


Setelah perang kemerdekaan berakhir, sejumlah laskar dilebur ke dalam tentara Republik. Sebagai anggota laskar Hizbullah, pagi itu Amid, Kiram, dan Jun bergerak menuju Kebumen, bergabung dengan pasukan Hizbullah dari beberapa daerah lain. Kabar beredar, mereka akan diangkut ke Purworejo untuk dilantik sebagai tentara Republik.

Mereka menunggu di tepi rel kereta api. Pukul sembilan pagi sebuah lokomotif beserta rangkaiannya bergerak mendekati Stasiun Kebumen. Pasukan bersiap. Dalam benak mereka, selangkah lagi akan sah sebagai tentara Republik muda usia yang berhak mendapat pangkat dan gaji.

Saat kereta api benar-benar telah begitu dekat, berondongan peluru merajalela dari dalam gerbong. Amid, Kiram, dan Jun sigap menjatuhkan diri ke dalam parit. Sebagian laskar Hizbullah berhasil menyelamatkan diri, tapi tak sedikit yang bertumbangan dihajar timah panas.

Tiga sekawan dan pasukan yang selamat kemudian melakukan serangan balik. Tembak-menembak bersahutan, sebelum sebuah granat meluncur deras masuk ke dalam gerbong lewat celah jendela dan menghancurkannya. Setelah berlangsung selama dua jam, pertempuran berakhir. Para penyerang tumpas.

Sebagian pasukan Hizbullah yang selamat menuduh pasukan Republik telah berkhianat. Kereta yang rencananya akan mengangkut mereka ke Purworejo justru menjadi ular besi pencabut nyawa. Sebagian lagi tak menganggap tentara Republik sekotor itu, mereka justru menuding orang-orang komunis sisa-sisa peristiwa Madiun 1948 di balik penyerangan tersebut. Kekecewaan ini membuat sebagian laskar Hizbullah akhirnya bergabung dengan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo.

Pertempuran ini terdapat dalam karya sastra karangan Ahmad Tohari bertajuk Lingkar Tanah Lingkar Air (2015). Kisah di Kebumen ini hanya salah satu dari beberapa fragmen tentang narasi permusuhan antara Hizbullah dan golongan komunis setelah pengakuan kedaulatan.

Ahmad Tohari juga menceritakan permusuhan ini ketika pemberontakan DI/TI—yang pasukan intinya berasal dari Hizbullah—telah eksis sampai menjelang keruntuhannya lewat operasi Pagar Betis.

Lewat karya fiksi, ia seolah-olah hendak membuat terang wilayah yang kerap dianggap abu-abu tentang infiltrasi dan penghancuran nama DI/TII oleh kelompok kiri. Saat aksi-aksi garong, penganiayaan, dan pembunuhan terhadap rakyat sipil yang dilakukan kelompok bersenjata menghebat, Ahmad Tohari menyebut kelompok kiri kerap memakai nama DI/TII untuk melakukan aksinya.

“Yang lebih menyulitkan kami, orang-orang Gerakan Siluman (komunis) ibarat tombak bermata dua. Ke arah kami, mereka membuka garis permusuhan, sementara ke arah lain mereka menggunakan nama kami untuk melakukan perampokan-perampokan terhadap orang-orang dusun,” ujar Amid.

Selain itu ia juga menceritakan milisi yang dilatih tentara Republik yang mula-mula bernama Pemuda Desa (PD), kemudian berganti nama menjadi Organisasi Keamanan Desa (OKD), lalu menjadi Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR), yang dikerahkan untuk membantu TNI memburu anggota DI/TII, juga mayoritas berasal dari kelompok kiri.

Situasi ini—saat kekuatan DI/TII kian melemah—membuat Amid, Kiram, dan Jun enggan menyerahkan diri kepada TNI karena mereka yakin sebelum sampai ke pos militer, mereka akan dihabisi para milisi yang telah disusupi orang-orang komunis.

“Sebelum orang seperti kita sampai ke kampung, kita sudah habis di tangan OPR. Organisasi Perlawanan Rakyat itu banyak disusupi orang-orang Gerakan Siluman yang komunis. Jadi percuma bila kita berniat turun gunung. Bagiku, daripada mati justru karena menyerahkan diri, lebih baik mati bertempur,” ungkap Kiram yang karakternya paling keras di antara ketiganya.

Kisah tentang milisi desa yang memburu anggota DI/TII yang dihuni orang-orang komunis terdapat juga dalam cerpen berbahasa Sunda karya Ahamd Bakri yang berjudul Dokumén yang dihimpun dalam kumpulan Dukun Lepus (2002).

Jika Ahmad Tohari yang kelahiran Banyumas dan kisahnya berlatar di Jawa Tengah, maka Ahmad Bakri kelahiran Ciamis dan latar ceritanya terjadi di Jawa Barat. Kedua provinsi ini adalah pusat gerakan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo dan Amir Fatah.

Dalam Dokumén dikisahkan, sekali waktu seluruh warga Kampung Karangsari dikumpulkan oleh OKD—yang ditulis Ahmad Bakri “rata-rata bareureum (rata-rata merah/komunis)—di balai desa.

Seluruh warga kampung itu dikumpulkan, selain karena OKD menemukan sebuah dokumen tertulis yang dicurigai berisi daftar warga yang memberikan sumbangan untuk DI/TII, juga karena kampung tersebut dianggap sebagai daerah santri yang banyak bergabung dengan gerakan Kartosoewirjo.

Dokumén diakhiri dengan pemukulan anggota OKD oleh seorang perangkat desa yang kesal karena sikapnya jemawa dalam memperlakukan warga kampung.

Peta Kekuatan Politik

Dalam beberapa penelusuran para penyintas pemberontakan DI/TII di Kabupaten Bandung, kepada Tirto mereka semua mengatakan bahwa gerombolan yang sering menyatroni kampung adalah orang-orang DI/TII, bukan komunis.

Barangkali memang benar orang-orang Kartosoewirjo yang melakukannya, atau orang-orang komunis yang mengatasnamakan DI/TII seperti dalam cerita Ahmad Tohari. Namun yang jelas setelah Kartosoewirjo tertangkap pada 1962 dan aksi gerombolan berangsur berkurang dan hilang, mereka tak menyimpan ingatan tentang gangguan keamanan yang dilakukan orang-orang komunis.

Paling banter, seperti dikatakan salah satu narasumber, menyebutnya dengan kalimat, “Sangat jarang, tidak terlalu menyeramkan seperti zaman DI/TII.”

Namun, saya percaya para penulis cerita seperti Ahmad Tohari (kelahiran 1948) dan Ahmad Bakri (kelahiran 1917), tidak menulis ceritanya dari ruang hampa atau tanpa rujukan. Mereka pasti terlebih dahulu melakukan riset pustaka atau mungkin menuliskan pengalamannya sendiri saat masa-masa konflik itu berlangsung.

Jika melihat hasil Pemilu 1955, tahun saat pemberontakan DI/TII di Jawa Barat berada dalam kekuatan puncaknya, raihan suara yang merepresentasikan kedua pihak yakni Masyumi dan PKI cukup berimbang di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Di Jawa Barat, Masyumi meraih 13 kursi dan PKI 5 kursi. Sementara di Jawa Tengah, PKI meraih 15 kursi, dan Masyumi hanya 6 kursi. Jika raihan suara di kedua provinsi itu dijumlahkan, maka Masyumi meraih 19 kursi dan PKI 20 kursi.

Hasil Pemilu 1955 di kedua provinsi itu setidaknya memberikan gambaran tentang bagaimana dua ideologi tersebut mewarnai pilihan masyarakat, dan memetakan kekuatan dua kubu dalam konteks pemberontakan DI/TII.


Konflik Sejak Zaman Revolusi

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, sejumlah catatan sejarah juga menerakan jejak tentang konflik golongan Islam dan kiri, terutama yang melibatkan Kartosoewirjo dan para kombatan yang kelak menjadi pasukan DI/TII.

Sebuah insiden di sekitar Perjanjian Linggarjadi dicatat Holk H. Dengel dalam Darul Islam dan Kartosuwirjo: “Angan-angan yang Gagal” (1995). Menurutnya, pada Maret 1947 saat Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) melakukan sidang untuk membahas Perjanjian Linggarjati di Malang, Kartosoewijo beserta laskarnya bergerak dari Jawa Barat menuju Malang. Mereka dengan tegas dan tanpa kompromi menolak perjanjian tersebut.

Langkah ini ia lakukan untuk mencegah laskar sayap kiri yang setuju terhadap perjanjian itu melakukan teror terhadap para politikus yang menolak Perjanjian Linggarjati.

“Ketika anggota-anggota Pesindo dalam sidang KNIP mencoba untuk menakuti wakil-wakil rakyat yang menolak persetujuan Linggardjati, dan ketika pertentangan tersebut semakin meruncing, Kartosuwirjo menyuruh menempatkan sebuah senapan mesin di atas sebuah rumah yang terletak di seberang gedung tempat KNIP bersidang,” tulis Dengel.

Sutomo (Bung Tomo) yang namanya populer dalam pertempuran Surabaya meminta Kartosoewirjo menahan diri. Namun, Kartosoewirjo yang kelak menjadi imam NII itu hanya menatapnya tanpa berbicara sepatah kata pun.

Kartosoewirjo baru melunak setelah Bung Tomo mengatakan tentang kemungkinan Belanda melakukan serangan terhadap sidang tersebut.

Dengel menambahkan, dalam dokumentasi yang disusun Majelis Penerangan Negara Islam, terdapat catatan bahwa perjuangan politik umat Islam pada 1947 benar-benar ditekan kekuatan militer yang hampir seluruhnya berada di tangan kelompok sayap kiri, yaitu PKI dan kaum sosialisme.

Pertentangan semakin meruncing ketika Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin membentuk Inspektorat Perdjuangan sebagai badan yang mewadahi laskar-laskar perjuangan rakyat.

R. Oni—yang kelak menjadi Ketua Majelis Pertahanan NII—sebagai ketua laskar Sabilillah daerah Priangan menolak badan tersebut. Menurutnya, badan itu mempunyai tujuan untuk membuat umat Islam menjadi sosialis. Dalam dokumen tersebut, imbuh Dengel, tampak pula ketakutan laskar-laskar Islam terhadap integrasi ke dalam tubuh TNI.

“Menurut tulisan DI itu, sejak Amir Sjarifuddin menjadi Menteri Pertahanan, semua perwira tentara Republik adalah anggota sayap kiri, dan dengan demikian, kemungkinan Sabilillah dan Hizbullah diterima untuk masuk TNI sangat tipis karena kurangnya pendidikan para laskar tersebut,” tulisnya.

Laskar-laskar Islam juga khawatirkan TNI hanya akan mengambil senjatanya, dan kemudian mereka segera dipulangkan ke tempatnya masing-masing.

Kekhawatiran laskar-laskar Islam terhadap keberadaan kelompok kiri dalam tubuh TNI secara tersirat juga dicatat Cornelis van Dijk dalam Darul Islam Sebuah Pemberontakan (1995). Menurutnya, meski tidak mungkin merinci semua konflik bersenjata antarlaskar maupun merinci semua satuan gerilya dalam pusaran tersebut, yang jelas pada waktu itu banyak satuan gerilya liar terutama yang jumlahnya kecil dan perlengkapan senjatanya terbatas yang diserap oleh tentara Republik.

Artinya, tidak menutup kemungkinan banyak satuan-satuan gerilya kelompok kiri yang bergabung dengan TNI dan hal tersebut yang dihindari oleh laskar Islam seperti Hizabullah dan Sabilillah.

Kemarahan laskar-laskar Islam di Jawa Barat kepada Amir Sjarifuddin memuncak setelah Perjanjian Renville yang mengharuskan TNI untuk mengosongkan wilayah Jawa Barat berdasarkan garis van Mook.

Menurut Dengel berdasarkan dokumen Majelis Penerangan Negara Islam, mereka mengungkapkan kemarahannya dengan kalimat “Amir Sjarifuddin la’natoellah” karena dianggap telah berkhianat dengan menjual Jawa Barat kepada Belanda.

Saat Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah, Kartosoewirjo beserta laskar-laskar Islam terutama Hizbullah dan Sabilillah justru memilih bertahan di Jawa Barat. Kartosoewijo merasakan simpati yang besar dari para ulama dan rakyat Priangan terhadap kekuatannya ketika terjadi pertempuran antara pasukannya melawan Belanda di Gunung Cupu.

Selain meminta perlindungan, para ulama dan rakyat Priangan pun tahu bahwa dirinya adalah satu-satunya politikus yang tidak hijrah ke Jawa Tengah dan selalu menolak setiap perundingan yang dilakukan antara Republik dengan Belanda.

“Banyak pemimpin-pemimpin umat Islam [di Priangan] kini berbondong-bondong ke tempat-tempat yang dipertahankan Kartosuwirjo dan TII di lereng Gunung Cupu untuk mencari perlindungan dan pertolongan, karena mereka bukan saja dikejar oleh tentara Belanda melainkan juga oleh ‘komunis serta sosialis’,” tulis Dengel.

Catatan Dengel yang menyebutkan "komunis serta sosialis" yang mengejar para ulama dan rakyat Priangan kembali menguatkan situasi permusuhan antara kelompok Islam dan kiri.


Terlibat Aksi-Aksi Penggarongan

Dalam Lingkar Tanah Lingkar Air, Ahmad Tohari tidak sepenuhnya menolak anggapan bahwa aksi-aksi penggarongan terhadap warga sipil dilakukan pasukan DI/TII. Lewat percakapan tokoh-tokoh yang ia bangun, Ahmad Tohari mengakuinya.


Namun, ia juga tak sepenuhnya menerima dengan menyertakan narasi tentang kelompok kiri yang ikut melakukan penggarongan dengan mengatasnamakan DI/TII.

Sementara pada catatan sejarah yang ditulis Cornelis van Dijk dalam Darul Islam Sebuah Pemberontakan (1995), ia juga menulis bahwa memang aksi-aksi itu tak sepenuhnya dilakukan DI/TII meski tak menyebutnya sebagai kelakuan kelompok kiri. Van Dijk hanya menyebutnya “gerombolan garong”.

“Sebenarnya, beberapa di antaranya tidak lebih dari gerombolan garong yang melanjutkan operasinya dalam situasi revolusioner yang baru. Dalam pengertian kebiasaan Jawa lama adanya kelompok pemuda gelandangan yang bertualang di daerah pedalaman,” tulisnya.

Catatan lain disampaikan Holk H. Dengel. Kartosoewirjo menyebut permusuhan pertama antara DI/TII dengan tentara Republik terjadi pada Pertempuran Antralina di Ciawi, Tasikmalaya pada 25 Januari 1949.

DI/TII yang dengan cepat menghimpun kekuatan di Jawa Barat ketika Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah, menganggap semua pasukan yang masuk ke Jawa Barat adalah pasukan liar yang harus taat kepada gerakannya.

“Waktu mereka (ja’ni R.I. dlorurot dan komunis gadungan) itu masuk ke daerah de facto Madjlis Islam, maka dengan sombong dan tjongkaknja mereka mengindjak-ngindjak hak dan memperkosa keadilan ‘tuan-rumah’, sehingga terjadilah insiden pertama dengan menggunakan sendjata, jang terkenal dengan nama ‘Pertempuran Antralina’ dan terjadi pada tanggal 25.1.1949,” tulis Kartosoewirjo seperti dikutip Dengel.

Ia secara jelas menulis “komunis gadungan” terlibat dalam pertempuran tersebut. Artinya bisa jadi kelompok komunis memang banyak berkeliaran di Jawa Barat ketika pemberontakan DI/TII mulai menguat di Jawa Barat.

Di pengujung 1949 setelah Negara Islam Indonesia (NII) diproklamasikan, digelar Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada tanggal 20-25 Desember. Pada kongres tersebut dibahas pula soal gerakan DI/TII yang dipimpin Kartosoewirjo.

Seorang anggota kongres mengungkapkan, sengketa antara laskar Islam dengan TNI berakar pada peristiwa perlucutan senjata laskar Jawa Barat di awal perjuangan kemerdekaan.

“Pada saat itu perasaan umat Islam sangat terluka. Karena itu kerjasama dengan TNI tidak dapat dipertahankan lagi,” ucapnya.

Selain itu ia juga mengungkapkan bahwa Front Demokrasi Rakjat (FDR) yang ia sebut sebagai “kaum merah”, mencoba mematahkan tenaga umat Islam dengan mempergunakan TNI.

Uraian-uraian dalam sejumlah buku sejarah tentang Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, juga lewat beberapa teks sastra tentang gerakan tersebut, tak menutup kemungkinan bahwa memang kelompok kiri terlibat dalam memperkeruh suasana keamanan warga sipil.

Situasi ini dengan tepat diungkapkan Suhana—salah seorang penyintas pemberontakan DI/TII di Kabupaten Bandung yang saya wawancarai—dengan kata "pabaliut” yang berarti kacau balau.

Permusuhan tersebut berlanjut ketika situasi berbalik. Menurut Dengel, para mantan kombatan DI/TII ikut dilibatkan dalam penumpasan G30S tahun 1965.

"Sebagian besar anggota gerakan DI pada tahun 1963 oleh pemerintah diberikan amnesti dan setelah terjadi peristiwa G 30 S, banyak dari antara mereka ditarik sebagai penasihat oleh Kodam Siliwangi pada waktu menumpas Gerakan 30 September/PKI," tulisnya. (irf)


Ket: Tayang pertama kali di Tirto.id pada 19 Maret 2019 

23 September 2020

Mochtar Lubis: Pembangkang Dua Rezim yang Tak Gentar Berpolemik

Pertengahan 1950-an, Mochtar Lubis dipenjara. Pemimpin harian Indonesia Raya itu dituduh berkomplot dengan Zulkifli Lubis dalam ketegangan yang terjadi di Sumatera. Ia mendekam dalam tahanan Orde Lama selama sepuluh tahun. Pengalamannya itu ia tulis dalam Catatan Subversif (1980).

“Saya menitipkan catatan-catatan itu kepada kawan atau saudara. Setelah saya keluar dari penjara, catatan-catatan tersebut saya himpun kembali,” ucapnya dalam Mochtar Lubis Bicara Lurus: Menjawab Pertanyaan Wartawan (1995) yang disunting oleh Ramadhan K.H.

Kumpulan catatan harian ini bermula dari titimangsa 22 Desember 1956, dan berakhir pada 17 Mei 1966 saat tampuk kekuasaan beralih ke rezim Orde Baru. Sikapnya yang kritis pun mengakibatkan Indonesia Raya beberapa kali diberedel.

“Pembredelan [Indonesia Raya] karena keberaniannya membeberkan kasus pelecehan, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, penindasan di masyarakat, dan lain sebagainya,” tulis Mansyur Sema dalam Negara dan Korupsi: Pemikiran Mochtar Lubis atas Negara, Manusia Indonesia, dan Perilaku Politik (2008).

Tahun 1968, Orde baru mengizinkan surat kabar itu terbit kembali. Namun, hal itu tak membuat Lubis kendor dalam mengkritisi penguasa. Indonesia Raya gencar mengabarkan tentang korupsi di tubuh Pertamina hingga peristiwa Malari 1974.

Soeharto tak tinggal diam, ia segera menginstruksikan pemberedelan Indonesia Raya beserta sejumlah surat kabar lainnya seperti Harian Kami dan Abadi. Dan Lubis kembali ditahan selama dua setengah bulan.

Penahanan bermula pada 4 Februari 1975, saat ia baru selesai berolahraga tenis. Ketika tiba di rumah, sejumlah tamu telah hadir yang ternyata para aparat yang betugas untuk menahannya. Ia ditahan di sebuah bungalow. Menurutnya, penahanan itu lebih baik daripada zaman Orde Lama.

Selain karena waktunya lebih lama, juga karena pada era Orde Lama ia ditahan secara berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya dan benar-benar disekap dalam terali besi. Orde Lama juga sempat menahannya dalam penjara yang buruk, yakni di RTM (Rumah Tahanan Militer) Jalan Budi Utomo, Jakarta. Di situ ia dicampur dengan tahanan kriminal yang diperlakukan secara buruk.

Setelah Orde Baru membebaskannya, kepada Sinar Harapan ia menyampaikan bahwa dirinya akan tetap setia pada profesinya sebagai wartawan.

“Selain itu, saya juga merencanakan menulis beberapa buku yang kesemuanya menggambarkan Indonesia dalam tiga zaman. Masing-masing zaman kolonial Belanda, zaman Jepang, dan zaman kemerdekaan,” imbuhnya.

Seperti halnya Catatan Subversif (1980) yang lahir dari tahanan Orde Lama, Mochtar Lubis pun menuliskan pengalamannya saat ditahan Orde Baru dalam Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru (2008).

“Seorang pembangkang,” tulis David T. Hill menggambarkan sosok Mochtar Lubis yang bersikap anti-kompromi terhadap dua rezim dalam Jurnalisme dan Politik di Indonesia (2011).


Polemik “Manusia Indonesia”

Tahun 1977, di Taman Ismail Marzuki, Lubis menyampaikan pidato kebudayaan yang kemudian diterbitkan dengan tajuk Manusia Indonesia. Ia memaparkan enam sifat manusia Indonesia seperti yang distereotipkan banyak orang, yakni munafik, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, bersikap dan berperilaku feodal, percaya takhayul, artistik atau berbakat seni, dan lemah watak atau karakter.

Pidato kebudayaan ini memicu polemik dan gelombang pemberitaan. Tak seperti ceramah-ceramah umum tentang kebudayaan yang biasanya hanya diberitakan dalam kolom sastra atau budaya di halaman dalam, pidato kebudayaan Lubis ini justru banyak muncul di halaman utama surat kabar.

“Rangkuman rinci, dan polemik yang mengisi halaman-halaman bergengsi rubrik ‘feature’ dan ‘surat kepada redaksi’ selama berminggu-minggu,” tulis David T. Hill.

Tanggapan masyarakat mayoritas memuji keterusterangannya dan mengakuinya sebagai seorang yang terbiasa menyerang lembaga-lembaga dan ide-ide mapan. Namun, ada pula yang mengkritiknya dengan cara meralat asumsi-asumsi yang dipaparkan Mochtar Lubis, salah satunya Margono Djojohadikusumo.

Margono menilai Mochtar Lubis menggambarkan feodalisme dengan begitu ekstrem sehingga menjadi karikatur yang menggelikan. Ia juga menganggap bahwa feodalisme yang diuraikan Mochtar Lubis hanya feodalisme dari suku Jawa sehingga dapat menimbulkan prasangka bahwa Mochtar Lubis adalah manusia Indonesia yang anti-Jawa.

“Cara penulisannya menimbulkan efek yang tidak diharapkan (anti suku Jawa) […] saya sendiri merasa tersinggung, bahkan boleh dikatakan agak terluka,” tulisnya dalam Kompas edisi 13 Mei 1977.

Salah satu pendapat Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia yang ia bantah adalah sebagai berikut:

“Saudara-saudara kita dari Jawa tidak jemu-jemunya memakai ucapan: ‘Sepi ing pamrih rame ing gawe, amemayu ayuning bawana (bekerja keras tanpa mencari keuntungan untuk diri sendiri, manusia memajukan dunia)’. Seolah-olah pandangan hidup tidak terlihat dalam praktek, dan hanya buah bibir dan tidak ada kenyataannya.”

Margono membantah pendapat itu dengan contoh sepucuk surat yang ia terima dari cucunya, Prabowo Subianto, yang tengah bertugas di Timor Timur. Dalam surat tersebut sang cucu menyampaikan bahwa ia tak bisa merayakan Idul Fitri di tengah keluarga karena sedang di medan pertempuran, dan ia meminta maaf.

Dalam surat tersebut sang cucu menegaskan bahwa para prajurit Indonesia berjuang tanpa pamrih, dan yang diingat hanya sumpahnya sebagai prajurit dan ksatria.

“Apakah ‘tanpa pamrih’ yang ditulis dalam surat itu hanya buah bibir saja atau hiasan surat dari seorang cucu kepada kakeknya? Tidak adil kiranya kalau ada orang mengatakan ‘sepi ing pamrih rame ing gawe dan sebagainya’ hanya pepatah kosong belaka,” tulis Margono.

Hal lain yang mengusik Margono adalah pendapat Lubis tentang manusia Indonesia, terutama suku Jawa, yang tidak berani berterus terang. Margono mencuplik satu persitiwa dalam Kongres Kebudayaan tahun 1918 di kota Solo.

Saat itu, anggapan suka bohong yang melekat pada orang Jawa sempat juga menjadi pembicaraan. Hal tersebut menimbulkan reaksi, dan justru disampaikan bukan oleh orang Jawa melainkan oleh orang asing bernama Pastor van Lidt, seorang ahli bahasa dan filsafat Jawa, yang berkata:

“Orang Barat tidak dapat menyelami tabiat orang Jawa dalam pergaulan masyarakat. Bagi orang Barat anak-anak sampai dewasa dididik dan diberi anjuran ‘lieg niet’, artinya ‘jangan berbohong’. Tetapi anak Jawa sejak kecil diberi doktrin ‘grief niet’, yang artinya ‘jangan menyakiti hati orang’.”

Ungkapan van Lidt tersebut dijadikan argumen oleh Margono bahwa pendapat orang Jawa tidak suka berterus terang atau suka berbohong, tidak tepat. Orang Jawa justru mengedepankan sikap tidak menyakiti orang lain dalam mengungkapkan sesuatu.

Margono memberi contoh, jika ada orang yang bau badannya tak sedap, maka orang Jawa tak mengungkapkan, “Kamu jangan dekat-dekat saya, keringatmu bau”, melainkan dengan kata-kata, “Baiklah Saudara minum kencur atau bedak apu (kapur sirih) untuk menyegarkan badanmu”.

Sebagai seorang ningrat Jawa, Margono juga mengungkapkan hal-hal lain yang ia rasa tak tepat dalam menggambarkan manusia Indonesia, khususnya orang Jawa. Di pengujung tanggapannya ia menulis, “Mudah-mudahan sekadar dapat melunakkan gambaran yang begitu suram yang dicerminkan Mochtar Lubis.”

Dua pekan kemudian, Kompas memuat tanggapan Lubis atas tanggapan Margono terhadap Manusia Indonesia. Ia menyatakan bahwa dirinya merasa rawan atas kesan yang salah yang disampaikan oleh Margono.

“Pertama sekali kesannya seakan isi ceramah saya itu anti-Jawa. Dengan tercengang saya baca reaksi beliau yang demikian,” tulisnya.

Munurutnya, ciri manusia Indonesia kini yang ia tulis sama sekali jauh dari segala nilai-nilai ksatria aristokrasi Jawa seperti yang diwakili oleh Margono dan keluarganya. Ia bahkan menilai Margono termasuk jenis manusia yang sedang dalam proses “kepunahan” dan termasuk “kekecualian yang jarang dapat ditemukan kini”.

Lubis menambahkan, lukisan suram dalam tulisannya bukan berarti ia melihat hari depan manusia Indonesia dengan mata yang suram. Ia bahkan yakin bahwa hal-hal tersebut dapat diperbaiki.

“Dalam menanggapi ceramah saya, saya ingin mengundang kawan-kawan yang menanggapinya, agar jangan memakai ukuran dirinya sendiri, tetapi meletakkan persoalannya ke tingkat bangsa dan masyarakat kita,” imbuhnya.

Tanggapan-tanggapan lain yang bernada kritik terhadap ceramah tersebut terus bermunculan, salah satunya dari Sarlito Wirawan Sarwono, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Pidato kebudayaan Lubis tersebut menjadi salah satu ceramah yang banyak diperbincangkan.


Kasus Hadiah Ramon Magsaysay

Saat Yayasan Magsaysay Filipina memberikan hadiah kepada Pramoedya Ananta Toer pada 1995 untuk bidang jurnalistik, Lubis menolaknya. Ia menilai Pramoedya tidak layak mendapatkannya karena pernah melakukan penindasan terhadap seniman lain pada era Demokrasi Terpimpin.

Lubis yang sempat mendapatkan hadiah yang sama pada 1958 bahkan mengembalikan hadiahnya itu. Ia menganggap pemberian hadiah Magsaysay kepada Pramoedya tidak mencerminkan semangat Ramon Magsaysay, mantan presiden Filipina yang memperjuangkan cita-cita politik, ekonomi, dan sosial bagi rakyat Filipina, serta semangat kedemokrasiannya yang teguh.

“Kami menduga bahwa Yayasan Hadiah Magsaysay tidak sepenuhnya tahu tentang peran tidak terpuji Pramoedya pada masa paling gelap bagi kreativitas di zaman Demokrasi Terpimpin, ketika dia memimpin penindasan terhadap sesama seniman yang tidak sepaham dengan dia,” ungkapnya seperti dikutip Maman S. Mahayana dalam “Pramoedya Ananta Toer dan Hadiah Magsaysay”.

Pendapat Lubis diamini oleh para penolak lainnya seperti dimuat dalam Panji Masyarakat No. 836, 21 Agustus 1995, yang menyatakan bahwa Pramoedya berperan aktif dalam menyingkirkan lawan-lawannya terutama seniman di luar Lekra.

Mahayana menambahkan, penolakan Mochtar Lubis tersebut berdasar pada penilaiannya terhadap Pramoedya yang punya bakat anti-kemanusiaan dan anti-kebebasan kreativitas.

“Pelanggaran-pelanggaran terhadap hak-hak kretivitas orang lain, yang pernah dihantam Pramoedya habis-habisan itu seakan-akan dianggap tidak ada. Nah, itu yang kami perjuangkan dalam aksi protes ini, supaya generasi muda yang akan datang, mengerti bahwa antara sastrawan dan karya sastranya yang pernah dibuat di masa lalu itu, tidak bisa dipisah-pisahkan,” imbuhnya.

Menanggapi sejumlah penolakan tersebut, beberapa anak muda seperti Ariel Haryanto, Tommy F. Awuy, Isti Nugroho dan lain-lain mencoba melawannya. Menurut mereka, kekhawatiran ideologis yang berlebihan tidak mendewasakan dan menghambat lahirnya gagasan kritis yang mencerdaskan. Dan polemik terus bergulir.

2 Juli 2004, tepat hari ini lima belas tahun yang lalu, Mochtar Lubis meninggal dunia. Ia seperti kata David T. Hill adalah “seorang pembangkang”. Ya, pembangkang atas segala gagasan yang dinilainya bertentangan dengan kemanusiaan. (irf)


Tayang pertama kali di Tirto.id pada 2 Juli 2019

Sejarah Bedil Cikeruh Penumpas DI/TII: Bertahan hingga Zaman Kiwari

Pada pagi yang tidak terlalu awal di Cipacing, seorang penjual senapan tampak belum sepenuhnya ditinggalkan kantuk. Ia baru membuka tokonya.

“Di Cikeruh,” jawabnya saat saya bertanya di mana pusat pembuatan bedil angin.

“Dari sini lurus, nanti ketemu plang bertuliskan ‘Brimob’, nah dari situ belok kiri,” imbuhnya.

Cikeruh adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Jalan desa yang saya lalui tidak terlalu bagus. Bolong di sana-sini dan berdebu. Di pinggir jalan terdapat beberapa patung orang yang tengah memegang senapan, juga replika bedil berukuran kira-kira dua meter.

Saya menemui Idih Sunaedi (77), salah seorang pengrajin bedil angin dan ketua Koperasi Bina Karya—koperasi yang beranggotakan para pengrajin dan penjual senapan angin.


Menak Sumedang sebagai Sang Pemula

Menurut Idih, mula-mula warga Cikeruh adalah pembuat pedang samurai yang dipesan orang-orang Belanda pada akhir 1800-an. Untuk lebih meningkatkan keterampilan, konon para leluhurnya disekolahkan ke Belanda. Mulai 1923 mereka membuat pelbagai perkakas sederhana yang biasa digunakan dalam keseharian. Bahkan mereka pun membuat jarum dan masker anjing.

Baheula kolot-kolot bapa kapaké ku Belanda (Dulu para leluhur bapak dapat diandalkan [untuk membuat barang-barang itu] oleh Belanda),” ujarnya.

Selain menemui Idih, saya juga menemui pengrajin yang lain, yakni Ade Supriatna (67). Berdasarkan keterangannya, pembuatan bedil angin di Cikeruh mula-mula dirintis kakeknya yang bernama Raden Soemadimadja, keturunan menak Sumedang.

Karena tidak betah dengan kehidupan di lingkungan para priyayi, Soemadimadja berkelana dan menetap di Cikeruh. Ia awalnya hanya membuka bengkel besi. Namun saat itu di wilayah Jatinangor terdapat sejumlah perkebunan milik orang Belanda, atau Ade menyebutnya “kontrak”. Dari sinilah cerita bedil di Cikeruh bermula.


Para pemilik perkebunan rata-rata mempunyai senapan untuk berburu dan keperluan lainnya. Sekali waktu, senapan milik seorang juragan kebun rusak dan kakeknya diminta untuk memperbaiki.

Da panginten ari kedah ngoméan ka Belanda mah tebih, janten dongkap ka pun aki miwarang dilereskeun (Karena mungkin untuk memperbaiki [senapan] ke Belanda terlalu jauh, maka [pemilik senapan itu] datang ke kakek saya menyuruh untuk memperbaikinya),” ucap Ade.

Soemadimadja sebetulnya awam soal senapan, tapi ia tak bisa menolak permintaan sang juragan kebun. Secara autodidak, ia akhirnya dapat memperbaiki senapan. Sejak itu namanya mulai dikenal para juragan kebun di Jatinangor sebagai ahli memperbaiki senapan.

Seiring waktu, Soemadimadja pun akhirnya mampu membuat bedil. Seperti keterangan Idih yang menyebut leluhurnya pernah disekolahkan ke Belanda, konon Soemadimadja pun pernah dibawa ke Belanda untuk mendalami ilmu tentang pembuatan senapan.

Ade menambahkan, Lingkungan Industri Kecil (LIK) di Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, yang terkenal sebagai pembuat senjata tajam, masih ada hubungannya dengan Soemadimadja.

Hal itu terjadi karena dalam pengembaraannya meninggalkan lingkungan menak di Kabupaten Sumedang, Soemadimadja pernah juga tinggal di Sukabumi dan mungkin mempunyai seorang istri dari daerah tersebut. Ade mengatakan kakeknya mempunyai tiga orang istri, dan neneknya adalah istri yang terakhir.

Keterampilan Soemadimadja diturunkan kepada salah seorang anaknya, yaitu Pipik Soemadimadja, ayahnya Ade. Menurut Ade, ayahnya sempat bekerja di Perindustrian Angkatan Darat (Pindad) sehingga sekarang terdapat satu ruangan di Pindad yang bernama Pipik Soemadimadja sebagai bentuk penghargaan kepadanya. Ade pun menamai perusahaan dagangnya dengan nama “PD Pipik Putra”.

Bedil Dorlok untuk Menumpas DI/TII

Ketika pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo di Jawa Barat mulai mendekati masa akhir, para pengrajin di Cikeruh mendapat pesanan dari TNI untuk membuat bedil “dorlok” (didor kemudian dicolok). Dorlok artinya setelah ditembakkan, senapan mesti ditusuk untuk mengeluarkan selongsong, kemudian diisi peluru lagi.

Bedil dorlok diproduksi untuk mempersenjatai milisi bentukan TNI, yakni Organisasi Keamanan Desa (OKD), yang membantu TNI dalam menumpas DI/TII. Menurut Idih, pesanan bedil ini datang lewat sejumlah Komando Distrik Militer (Kodim) yang bermarkas di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Barat, yang hampir semuanya terpapar pemberontakan DI/TII.

Kusabab dorlok mah hiji-hiji, teras wéh ngadamel dorma, janten sakali némbak téh tiasa lima (Karena dorlok [sekali tembak] hanya satu peluru, maka dibuatlah [senapan] dorma (didor lima), jadi sekali tembak bisa [memuntahkan] lima [peluru]),” ujar Idih.

Baik Idih maupun Ade mengatakan, meski DI/TII tahu bahwa bedil yang dipakai para anggota OKD diproduksi di Cikeruh, kampung mereka tidak pernah sekali pun menjadi sasaran penyerangan para pemberontak tersebut.

Sigana sieuneun dibedil ogé ku urang dieu (Mungkin [DI/TII] takut ditembak juga sama orang sini),” imbuh Idih seraya tertawa.

Saat operasi Pagar Betis digelar, Idih sempat ikut operasi tersebut selama tiga hari di kaki Gunung Manglayang. Jika kawan-kawannya sesama warga sipil hanya bersenjatakan golok atau pedang, ia justru membawa bedil dorlok seperti para anggota OKD.


Tentara tak ada yang melarangnya, sebab mereka tahu Idih adalah salah seorang anak pengrajin senapan dari Cikeruh.

Sementara Ade yang saat itu masih kecil tidak pernah terlibat dalam operasi Pagar Betis. Namun ia masih ingat, kala itu permintaan bedil dorlok di Cikeruh cukup tinggi.


Nama Jawa untuk Anak Pertama

Setelah Kartosoewirjo ditangkap pada Juni 1962 dan pemberontakan DI/TII di Jawa Barat berhasil dipadamkan, TNI menghentikan permintaan bedil dorlok dan melarang para pengrajin Cikeruh untuk membuat senapan tersebut. Sejak itulah para pengrajin beralih ke senapan angin.

Berdasarkan lini kala, senapan angin di Cikeruh mula-mula dibuat dengan tenaga tembakan menggunakan per atau pegas. Setelah itu dengan pompa, dan yang terbaru dengan tenaga gas.

Peluru untuk semua bedil itu menggunakan mimis, berukuran kecil dan biasanya hanya digunakan untuk berburu binatang-binatang kecil. Namun, jika mengenai manusia apalagi dari jarak dekat, peluru tersebut bisa mengakibatkan luka yang serius.

Pembuatan bedil angin di Cikeruh sempat mengalami kelesuan yang parah. Hampir semua pengrajin berhenti memproduksi. Hal ini karena mereka terkena imbas operasi Sapu Jagad yang dilakukan pemerintah pada 1980-an.

Operasi ini sebetulnya hanya melarang pembuatan dan peredaran senjata api di masyarakat. Namun karena tampilan bedil angin yang menggunakan peluru mimis sama dengan senjata api lainnya, akhirnya mereka pun ikut kena larangan.

Saat krisis seperti itu, para pengrajin bedil angin banyak yang menjual barangnya dengan harga di bawah biaya produksi, tapi tetap saja yang terjual sangat minim. Dalam situasi seperti itu, Ade pergi ke Lampung untuk menjajakan bedil angin miliknya.

Wilayah di Sumatra itu ia pilih sebab berdasarkan catatannya, Lampung sudah lama menjadi pasar yang dapat diandalkan untuk menyerap bedil angin buatan Cikeruh.

Ia pergi membawa 20 bedil angin, dan sampai bekalnya menipis bahkan untuk ongkos pulang ke Sumedang pun tidak mencukupi, barang jualannya tidak laku. Namun, akhirnya Ade mendapat bantuan dari seorang pejabat kepolisian setempat.

Kisah bermula saat ia makan di sebuah warung nasi. Hampir semua orang membicarakan operasi Sapu Jagad. Dalam pembicaraan itu, seseorang menyebut satu nama yang merupakan penanggungjawab operasi tersebut di daerah Lampung, yaitu pejabat kepolisian bidang Pengawasan Senjata dan Bahan Peledak (Wasendak). Pejabat tersebut berasal dari Klaten, Jawa Tengah.

Ia kemudian nekat mendatangi Polres Metro, Lampung, dan kepada petugas piket ia mengatakan bahwa dirinya adalah saudara dari pejabat kepolisian bidang Wasendak.

Kawitna mah teu percateneun petugas pikét téh da dina KTP alamat bapa di Sumedang. Tapi ku bapa disaurkeun yén bapa téh wargi anjeunna ti pun biang (Awalnya petugas piket tidak percaya [kalau bapak saudara pejabat kepolisian itu] sebab alamat dalam KTP adalah Sumedang. Tapi sama bapak diberitahu bahwa bapak saudaranya dari pihak ibu),” ucapnya.

Setelah berhasil meyakinkan petugas piket, Ade akhirnya bertemu dengan kepala bidang Pengawasan Senjata dan Bahan Peledak yang namanya tak dapat ia ingat.

Ia mula-mula meminta maaf karena telah berbohong dengan mengaku sebagai saudara pejabat kepolisian tersebut. Selanjutnya Ade curhat mengenai kondisi penjualan bedil angin yang terkena imbas akibat diberlakukannya operasi Sapu Jagad. Ia juga menceritakan tentang dirinya yang telah kehabisan bekal dan tak punya ongkos untuk pulang ke kampung halaman.

Menerima penjelasan dan keluhan seperti itu, kepala bidang Wasendak Polres Metro, Lampung, terdiam. Ia berpikir sejenak.

“Sekali ini saya bantu, tapi jangan ke sini lagi. Nanti setelah laku, segera pulang ke Sumedang, ya,” ucapnya seperti dikutip Ade.

Atas bantuannya, sejumlah bedil angin itu akhirnya laku dijual ke beberapa koleganya sesama pejabat kepolisian dan pejabat daerah setempat. Ade tentu sangat berterimakasih kepadanya, sampai ia bernazar jika anak pertamanya lahir akan ia namai dengan nama Jawa.

Sebagai catatan, bagi mayoritas orang Sunda, sebutan Jawa selalu mengacu kepada etnis, bukan wilayah geografis. Sebagai contoh, jika orang Sunda hendak pergi ke Jawa Tengah atau Jawa Timur, mereka selalu berkata, “hendak pergi ke Jawa”.

Demikianlah, saat anak pertamanya lahir, Ade memberinya nama Sugeng Supriyanto. Nama yang sangat khas etnis Jawa.

Minangka ngahununkeun ka polisi nu orang Klatén éta. Budak bapa pituin Sunda, tapi namina Jawa pisan (Sebagai bentuk terimakasih kepada polisi yang orang Klaten itu. Anak bapak asli Sunda, tapi namanya sangat Jawa),” imbuhnya sambil tersenyum.

Dan benar saja, di depan rumahnya saya melihat sebuah papan nama bertuliskan “Sugeng S”.



Orang Tionghoa Mempersenjatai Diri

Setelah operasi Sapu Jagad periode itu berakhir, gairah penjualan bedil angin di Cikeruh kembali menggeliat. Dan puncaknya terjadi pada awal era Reformasi 1998.

Tah, taun éta ramé pisan. Béngkél unggal poé sibuk (Nah, tahun itu ramai sekali [yang memesan senapan angin]. Bengkel [pembuatan] setiap hari [menjadi] sibuk),” ucap Idih mengenang derasnya permintaan bedil angin pada awal era Reformasi.

Namun, ia tak menceritakan siapa sesungguhnya pasar terbesar pada tahun tersebut.

Keterangan serupa saya dapat dari Ade. Ia saat itu rajin ikut pameran industri di Jakarta, tepatnya di Balai Sidang Jakarta yang kini bernama Jakarta Convention Center, di bilangan Senayan.

Kawan-kawannya sesama pengrajin semula pesimis dengan keputusan Ade untuk mengikuti pameran tersebut. Di benak mereka, krisis ekonomi yang tengah menerjang jelang lengsernya penguasa Orde Baru itu membuat daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok rendah, apalagi terhadap senapan angin.

Tapi nyatanya keputusan Ade tidak keliru. Dalam pameran tersebut ia berkali-kali diserbu para pembeli keturunan Tionghoa—yang saat itu banyak yang menjadi sasaran amukan massa—untuk mempersenjatai diri.

Ketakutan yang mencekam, khususnya bagi warga keturunan Tionghoa, bagi Ade justru menjadi pintu rezeki. Bedil anginnya laris manis. Hasil penjualan itu bahkan membuatnya mampu mendirikan sebuah rumah yang kokoh di Cikeruh yang kini ia tempati.



Cipacing sebagai Etalase

Desa Cikeruh yang letaknya agak menjorok ke dalam dari jalan raya Cileunyi dan Jatinangor membuat para pengrajin mayoritas hanya sebagai pembuat bedil angin.

Sementara penjualan lebih banyak di Desa Cipacing yang letaknya lebih dekat ke jalan raya. Toko senapan angin berjajar di sepanjang jalan raya Cileunyi yang menuju ke arah Garut.

Di Desa Cipacing pun sebenarnya ada beberapa pengrajin, tapi jumlahnya lebih sedikit dan mereka hampir semuanya mula-mula belajar membuat bedil angin dari para pengrajin di Cikeruh.

Di sepanjang jalan desa yang rusak dan berdebu di Cikeruh pun sebetulnya ada beberapa toko kecil yang menjual senapan angin, tapi karena letaknya tidak strategis, jadi terlihat sepi dan agak kotor dihinggapi debu.

Situasi seperti ini pada akhirnya membuat Cipacing lebih dikenal luas oleh masyarakat. Dan Cikeruh, di mana sejarah bedil angin ini bermula, namanya seolah-olah kian tenggelam. (irf)



Tayang pertama kali di Tirto.id pada 25 Maret 2019

01 September 2020

Kang Ajip Sakolébatan…


Ku: Cecep Burdansyah

Keur kalangan sastra Sunda mah Kang Ajip téh kolot saréréa, nu teu weléh ngaping, ngajaring, nuyun, ngélingan, malah sakapeung nyentak sangkan nu ngarora éling. Kanyaah nu taya kendatna, lir cai hérang canémbrang nu salawasna ngocor.

Duh, karasa keueungna. Melang tur lewang jalan sorangeun. Moal kakuping deui sora nu sakapeung halon, sakapeung bedas. Moal katénjo deui ketakna nu teu weléh kaimpungan ku balaréa. Tempat urang ngumpul suka seuri ngalubarkeun kasono.

Nu kawilang unik tur menarik tina kahirupan Kang Ajip, dongéng patelakna jeung Goenawan Mohamad saparakanca, anu dugi ka Kang Ajip ngejat ka Jepang, ngadosénan di negeri Sakura.

"Akang dituduh mawaan urang Sunda ka Pustaka Jaya," saurna énténg.

Padahal sakaterang kuring, Pustaka Jaya jaman dicepeng ku Kang Ajip jadi penerbit anu komaraan dina dunya buku sastra. Penerjemahna gé teu saeutik urang Jawa saperti Sugiarta Sriwibawa, Hartojo Andangjaya. Malah Kang Ajip kaasup anu ngalahirkeun pangarang Titis Basino, naskah Pelabuhan Hati sasatna hasil timbangan Kang Ajip.

Dina sastra Sunda kungsi génjlong hadiah sastra "podol séro". Juri LBSS dikékéak ari hadiahna mah dicokot. Harita Kang Ajip ngomentaran énténg pisan.

"Goenawan Mohamad gé pernah narima hadiah tapi jurina dipoyok bébéakan. Ku Akang ditanya, 'Kenapa hadiahnya diambil?' Goenawan ngajawab, 'Habis butuh, sih."

Aya ogé dongéng Pa Popo Iskandar anu ku kuring teu sempet dikonfirmasi ka Kang Ajip, lantaran dicaram ku Pa Popo. Jaman jadi wartawan Manglé, kungsi ngawawancara Pa Popo sabudeureun kualitas sastra Sunda.

Harita kuring naros ka Pa Popo, naon saéna carpon “Di Cindulang Aya Kembang” karya Aam Amilia kénging hadiah Moh Ambri? Saur Kang Ajip, éta carpon saéna dicabut tina buku Sawidak Carita Pondok, jalaran ngepop. Eta carpon kénging hadiah Moh Ambri usulan Pa Popo anu keukeuh merjuangkeunana.

"Oh kitu?" Saur Pa Popo, lami anjeuna ngahuleng. Teras sasauran leuleuy pisan.

"Supados ayi uninga waé, saleresna anu keukeuh ngusulkeun carpon ‘Di Cindulang  Aya Kembang’ téh puguh Kang Ajip, akang anu teu satuju margi kalebetna carpon rumaja. Tapi ulah dimuat nya, ieu mah supados ayi uninga wé," saur Pa Popo.

Kuring rada protés. "Upami henteu diserat, atuh moal aya babandingan pamendak, pamendak Kang Ajip atuh bakal dianggap leres ku nu sanés."

"Ah Akang mah teu resep polémik. Sawios badé dianggap kitu gé," walerna.

Éta onjoyna Kang Ajip sareng nu séjén téh. Kaludeungna dina polémik. Padahal seratan kritik Popo Iskandar kana karya-karya sastra Sunda kawilang hadé ajénna tur weweg tatapakan sastrana. Lantaran henteu produktip siga Duduh Durahman sareng Ajip Rosidi, Popo Iskandar tara kasabit-sabit minangka kritikus sastra Sunda.

Ayeuna Kang Ajip tos teu aya di kieuna, komo Pa Popo mah tos lami pisan. Malah Kang Wahyu Wibisana gé batur hoghagna Kang Ajip, sami tos lami ngantunkeun. Nu karasa ku kuring, ieu tilu tokoh téh kualitas nulisna haradé, tapi tiluanana chemistry-na teu nyurup, alias remen gétréng.

Kang, asa moal haneuteun sastra Sunda teu aya Akang mah. Pasti Akang bendu tur ngawaler, "Ulah gumantung ka batur nyaah kana budaya mah. Kudu ludeung nyorangan."

Muhun, Kang, tapi asa moal katanagaan teu aya Akang mah. [ ]

Galakna Kang Ajip

 


Ku: Cecep Burdansyah

Kang Ajip mémang galak. Teu nginjeum ceuli teu nginjeum panon. Taun 2016 asana mah, déét kénéh. Aya nu seja ngawawancara Kang Ajip, hiji mojang ngora kénéh, jeung timna aya kana tiluan. Mun ku jaman ayeuna mah disebutna talkshow téa. Wawancara bari dirékam ku vidéo.

Saméméh ngawawancara Kang Ajip, Si Nénéng anu ngakuna utusan ti Kemendikbud téh ngawawancara heula kuring di kantor di Sékélimus, ngeunaan karya-karya Kang Ajip jeung sosokna.

Terus isukna ngawawancara Kang Ajip di perpustakaanana di Jalan Garut.

Geus timbul kamelang saenyana mah, ieu Si Nénéng paur diseukseukan ku Kang Ajip. Ari masalahna, Si Nénéng teu boga pisan bekel ngeunaan Kang Ajip, malah teu apaleun judul buku karya Kang Ajip. Lantaran kuring mah jalma teu tégaan, ah diladénan wé najan pertanyaanana matak pikaseurieun gé.

Isukna kuring ngahaja ka Jalan Garut nepungan Kang Ajip, panasaran duméh terus rasa bakal aya kajadian. Kasampak anjeuna tos calik di rohang biasa ngumpul. Anjeuna daréhdéh ngabagéakeun, da anjeuna sok bingaheun mun aya batur ngobrol téh.

"Rék aya nu ngawawancara Akang, duka saha ngan sigana proyék ti Kemendikbud, proyék biografi sastrawan. Saenyana mah Akang leuwih panuju ku Ahda Imran, tapi nyao saha nu meunang proyék ti Kemendikbudna," saurna.

Kuring ngahaminan bari nyebutkeun, muhun kamari gé ngawawancara abdi soal Akang, pok téh.

Teu lila kurunyung nu rék ngawawancara téh, Si Nénéng téa, jeung timna lalaki tiluan. Si Nénéng neda widi rék nyéting kaméra sapuratina kayaning lampu lihting. Kang Ajip ngahempékkeun. Malum wawancara keur vidéo, jadi butuh waktu rada lila. Salila nu rék ngawawancara nyéting, Kang Ajip anteng ngobrol jeung kuring, nyalsé pisan.

"Pak, sudah siap," ceuk Si Nénéng ngagentraan.

"Sok, rék nanya naon?" Saur Kang Ajip. Nu teu apal adat mah jawaban kitu matak nyorodcod tuur.

Caritana siap wawancara, calikna digenah-genah. Atuh nu midéo ngatur bloking sangkan sieup katingalina. Kuring nyisi sangkan teu karékam.

Kuring hemar-hemir lantaran geus apal kana bekel Si Nénéng jeung apal pisan kana adat Kang Ajip. Apan Budi Rahayu Tamsyah gé pundungna katutuluyan da diségag ku Kang Ajip jaman diskusi soal pantun di Paguyuban Pasundan taun 1990. Ti harita Budi Rahayu asana teu kungsi daék tepung deui jeung Kang Ajip.

"Pak, apa saja judul buku-buku yang Bapak tulis?" ceuk Si Nénéng.

Barang nguping patarosan kitu, Kang Ajip langsung tutunjuk bari nyarios bedas pisan.

"Pulang!" saurna.

Si Nénéng molohok mata simeuteun, kitu deui batur nu ngarékam vidéo. Kuring élékésékéng teu genah cicing.

"Kamu tidak tahu saya. Pulang! Buat apa wawancara!" saurna deui.

Si Nénéng masih can percaya kana situasi. Ngajengjen bari rarayna pias. Antukna Kang Ajip sasauran deui kalayan tandes, nitah kaluar ti perpustakaan.

Kaciri reuwas tur soak. Si Nénéng ngincid kaluar, atuh baturna sibuk mérésan deui alat-alat rékaman. kang Ajip terus gegelendeng awahing ku keuheul ka nu rék wawancara tapi teu nyaho nanaon pisan.

"Boro-boro maca buku Akang, judulna waé teu nyaho. Nanaonan kementerian ngutus nu kitu patut," saurna kalayan soanten teugeug.

Teu lila, ponsél Kang Ajip ngirining. Kabandungan, sigana Kang Ajip nuju sasauran perkara rékaman, ngan duka jeung saha. Ngan unina kieu, "Saya tahu, bagi kementerian kualitas tidak penting, yang penting asal ada dan anggaran keluar, tidak peduli dengan kualitas. Saya tidak butuh wawancara dengan kualitas pewawancara seperti itu," saurna.

Nu sasauran dina telepon ulet ngalobi Kang Ajip. Tapi batan léah, Kang Ajip malah tambih amarah. Anjeuna langsung mareuman teleponna. Kénging sababara menit ponsélna disada deui, tapi ku Kang Ajip diantep.

"Budak téh ngadu meureun ka kementerian, ti kementerian bieu nelepon Akang sangkan daék diwawancara jeung kudu ngamalum ka nu ngawawancara. Sangeunahna pisan. Maranéhna mah tara mikiran kumaha kualitasna, da nu dipikiran proyékna," saurna.

Kuring ukur ngabandungan, tur nyarita dina haté, deuh kajadian ogé anu disawang ti saméméhna téh. Kuring panuju kana sikepna anu tandes. Kudu kitu mémang ngadidik mah, sangkan nu dididikna mikir. Sanajan, dina haté, mangkarunyakeun ogé. [ ]