21 May 2020

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai


Setiap tahun saya mudik ke Jampangkulon. Kalau kawan begitu asing dengan nama tempat itu, baiklah saya terangkan sedikit. Kota kelahiran ini adalah sebuah kota kecamatan yang bisa ditempuh dari Kota Sukabumi dengan durasi kira-kira tiga jam perjalanan mobil. Kalau memakai sepeda motor dan mengendarainya terburu-buru seperti orang hendak buang hajat, kawan bisa memangkas waktu yang diperlukan menjadi lebih singkat.

Meski suasananya perdesaan, namun Jampangkulon tak terlalu elok seperti gambaran desa yang kerap ditayangkan di FTV. Tak ada sungai besar dengan air jernih dan batu-batu besar yang menghiasi. Jika Jaka Tarub tersesat di kampung saya, dan ia iseng hendak mencuri selendang gadis desa yang tengah mandi di sungai, niscaya dia tak akan menemukannya. Air yang menghidupi sawah hanya mengandalkan tadah hujan, tak ada sistem irigasi yang bisa diandalkan.

Sampai tahun 2013, dari Jakarta saya selalu memakai jalur Bogor, Ciawi, Cigombong, Cicurug, Parungkuda, Cibadak, Ciaat, dan Sukabumi saat hendak pulang kampung. Nama-nama itu adalah neraka kemacetan. Pasar tumpah benar-benar tumpah di badan jalan yang volume kendaraannya tinggi. 

Dari Terminal Lembursitu di Kota Sukabumi, kendaraan umum yang tersedia hanya mini bus dan elf. Saya biasanya memilih elf, karena sedikit lebih bisa diandalkan. Jalanan sepanjang hampir 100 km berkelok-kelok dan penuh lubang, yang tak biasa pasti akan memerlukan kantong kresek untuk membuang isi perut.

Bagi saya, mudik adalah soal emosi yang dari tahun ke tahun kian pudar seiring berjalannya waktu. Dulu sewaktu SMA dan kuliah, mudik adalah jadwal bertemu lagi dengan kawan-kawan sepermainan. Memasuki usia kerja, kawan-kawan mulai sibuk dengan kehidupannya masing-masing, dan mudik seperti menjerumuskan diri pada jurang kesepian.

Bagaimana dengan seremonial hari raya? Biasa saja. Takbiran, ngadulag (memukul bedug bertalu-talu dengan irama tertentu), dan perang petasan tak lagi berkesan bagi sebagian orang dewasa. Esoknya, saat satu persatu mengunjungi rumah tetangga untuk bersalaman, saya seolah menyaksikan pergiliran generasi: si anu telah wafat, si anu sudah tiada, bocah ini telah menikah, bocah itu sudah punya anak.

Keriuhan lebaran hanya bertahan sampai azan Zuhur. Bakda Lohor, orang-orang kembali ke rumahnya masing-masing, menanggalkan baju baru, tidur, dan agak canggung sebab azan Magrib di permulaan Syawal bukan pertanda kegembiraan berbuka puasa.

Jika para tetangga berziarah pada pagi hari selepas salat Idulfitri atau bakda Asar pada hari lebaran, maka saya biasanya keesokan harinya ketika pekuburan sudah tidak terlalu ramai. Dari tahun ke tahun makam yang harus diziarahi semakin banyak. Mula-mula hanya kakek, nenek, dan beberapa bibi. Kemudian bertambah paman. Lalu ibu, terus bapak. Dan nanti pada akhirnya saya sendiri akan menyusul.

***

Mulai tahun 2014, ketika saya kembali ke Bandung, rute mudik pun tentu berubah. Kali ini, setiap tahun, lewat jalur Cimahi, Padalarang, Raja Mandala, Cianjur, dan Sukabumi. Dan mulai tahun itu juga sudah tak menggunakan angkutan umum, melainkan memakai Honda Beat.

Sejak 2015, keberadaan saya di kampung saat mudik semakin singkat. Paling lama H+2 sudah kembali ke Bandung. Kalau kedua orang tua masih ada, mungkin mereka akan kecewa.

Kenapa buru-buru kembali ke Bandung? Saya bersama beberapa kawan di Komunitas Aleut selalu momotoran ke Jawa. Saya tak perlu disuguhi peta Pulau Jawa yang sudah diedit dengan memisahkan Jawa Barat dari Pulau Jawa. Tidak perlu. Sebab Jawa memiliki ragam makna, atau setidaknya dua: pulau dan etnik. “Momotoran ke Jawa” bisa diartikan “bepergian ke tempat-tempat yang mayoritas dihuni oleh etnik Jawa.”

Tahun 2015 hanya sampai Tegal. Setahun berikutnya sampai Cilacap. 2017 entah kenapa tidak ada perjalanan. Lalu 2018 sampai Bantul. Dan 2019 menembus Pacitan. Covid-19 membuat 2020 hampir semuanya berantakan.

Perjalanan menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer itu selalu membuat hati saya rawan. Menyaksikan bagaimana orang-orang kembali ke kampung halamannya setelah ratusan hari bertarung di kota-kota besar. Bahkan kerap saya menemukan bahwa para pemudik itu tidak semuanya merantau ke kota-kota besar. Tempat yang menjadi perantauan mereka adakalanya sama atau lebih kecil dibanding kampung halaman mereka.

Apakah motif ekonomi mampu menjelaskan semua perjalanan mertua saya yang merantau dari Wonogiri di ujung Jawa Tengah ke Rantauprapat—kota kecil di Sumatra Utara? Ia berpayah-payah menempuh perjalanan berhari-hari menggunakan bus hanya untuk menjadi pedagang keliling di tempat yang sangat jauh dari puaknya.    

Atau sekali waktu saat beristirahat di sebuah warung kopi di Parakan,  saya mendapati satu keluarga yang mudik dari Pekalongan menuju kampung halaman mereka di Temanggung. Apakah kedua kota itu memancarkan kontras? Saya kira tidak. Hemat saya, di tengah PR besar soal ketimpangan pembangunan yang menjadi biang kerok urbanisasi, dalam laku merantau dan mudik terdapat beberapa kisah yang melampaui narasi besar itu.

***

Setelah melewati tahun-tahun kehilangan: kawan sepermainan, orang tua, dan emosi terhadap kampung halaman yang kian pudar, bagi saya mudik tak lagi soal nostalgia, tapi bergeser menjadi tentang mengunjungi tempat-tempat baru. Namun itu tidak pernah final, sebab kenangan terhadap tempat lahir juga sesekali masih muncul. Sebuah tarik-menarik yang terus berlangsung. Salah satu hal yang tak kunjung selesai.

Kondisi ini dengan amat presisi pernah diungkapkan Che Guevara dalam film The Motorcycle Diaries: “Ibu tercinta, ada yang hilang saat kita melintasi batas. Setiap peristiwa seperti terbagi jadi dua kisah melankolis. Untuk sesuatu yang tertinggal dan di sisi lain untuk antusiasme karena memasuki daerah baru.” [irf]

17 May 2020

Sejarah Hidup Chairil Anwar yang Indah dan Ambyar



Judul buku: Chairil Anwar
Penulis: Hasan Aspahani
Tahun terbit: 2017 (cetakan kedua)
Penerbit: Gagas Media

Chairil Anwar begitu populer di kalangan peminat sastra Indonesia. Bahkan awam pun setidaknya pernah mendengar namanya saat masih belajar di bangku sekolah dasar. Puisi “Aku” dan “Krawang-Bekasi” nyaris selalu menghiasai buku ajar anak-anak sekolah.

Kiwari, saat puisi hadir dalam pelbagai medium populer seperti film dan musik, Chairil Anwar ikut “terseret” ke permukaan. Seolah-olah ia bangkit dari TPU Karet Bivak dan nongkrong bersama sobat ambyar.

Jejak “kebangkitan” puisi bisa kita telusuri misalnya dari kemunculan film Ada Apa dengan Cinta (2002) yang hampir di sekujur kisahnya dibaluri oleh puisi-puisi Rangga. Tiga tahun kemudian, film Gie (2005) kembali menghadirkan potongan-potongan puisi yang sampai sekarang barangkali masih banyak yang mengingatnya.

Mundur beberapa tahun, tepatnya pada 1989, Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merilis album Hujan Bulan Juni yang merupakan musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono. Sampai kiwari, bahkan saat Ari Malibu telah wafat pada 14 Juni 2018, dan Sapardi mulai doyan tik-tok, lagu-lagu tersebut masih dan bahkan semakin banyak menghiasi kanal Youtube dalam pelbagai cover.

Bagaimana dengan puisi Chairil Anwar? Saya kira musikalisasinya tak ada yang populer. Bahkan hemat saya, Banda Neira pun gagal saat membawakan “Derai-derai Cemara”. Begitu pula puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Sia-sia”, dan “Aku” yang dibawakan oleh entah, saya kira—dalam medium musik itu—tak seliris musikalisasi puisi Sapardi.

Meski demikian, sekali lagi, siapa yang tak pernah mendengar nama Chairil Anwar yang tercecer dalam sobekan-sobekan buku, mural di perkampungan kota, kaos mahasiswa, dan lain-lain.       

Buku yang ditulis oleh Hasan Aspahani ini mencoba menghadirkan Chairil Anwar dengan “penuh seluruh”. Informasi tentang dirinya tak sekadar tulisan alakadarnya gaya buku pelajaran, atau esai tanggung Sapardi dalam epilog di buku Aku Ini Binatang Jalang.

“Buku paling lengkap dan paling indah tentang kisah hidup Chairil Anwar yang pernah ditulis,” ungkap M. Aan Mansyur dalam sampul depan buku ini.

Saya kira Aan tak berlebihan. Hasan Aspahani yang seorang penyair menuliskannya lewat sudut pandang penyair. Ia mengupas riwayat Chairil lewat potongan-potongan puisi yang berkorelasi dengan kehidupan si Binatang Jalang.

27 bab ditambah prolog dan epilog ditulis secara kronologis dan menghadirkan konteks dituliskannya puisi-puisi Chairil. Sebagai contoh adalah puisi “Tuti Artic” yang kerap dikutip di pelbagai kanal media sosial: “Aku juga seperti kau/semua lekas berlalu/Aku dan Tuti + Greet + Amoi…/hati terlantar/Cinta adalah bahaya/yang lekas jadi pudar.”

Menurut Asrul Sani yang dikutip Hasan Aspahani dari majalah Horison, Chairil memang kerap pergi ke pesta, bergaul dengan anak-anak Indo dan nongkrong di tempat-tempat para pelajar sekolah Belanda biasa berkumpul, salah satunya Toko Artic yang menjual es krim di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Contoh lain adalah tentang Mirat, kekasihnya, yang terdapat dalam puisi “Sajak Putih”, “Dengan Mirat” dan “Mirat Muda, Chairil Muda”. Alkisah, Sumirat atau Mirat vakansi bersama keluarganya ke pantai Cilincing, Jakarta Utara. Di sana, ia melihat pemuda yang tengah bersandar di sebatang pohon dan membaca buku tebal, itulah Chairil.

Singkat cerita, Mirat dan Chairil berpacaran. Namun, karena Chairil pengangguran, maka keluarga Mirat memulangkan gadis itu ke rumah orang tuanya di Jawa Tengah. Dasar Chairil, ia nekad menyusulnya dan berhari-hari tinggal di rumah orang tua Mirat. Ketika hubungan mereka semakin berat karena pelbagai rintangan, Chairil menulis “Dengan Mirat”. Rupanya bagi Chairil, Mirat terlampau istimewa. Maka meski Chairil telah menikah dengan Hapsah Wiriaredja pada September 1946, ia masih sempat mengenang Mirat:

“Ketawa/diadukannya giginya pada mulut Chairil/dan bertanya/Adakah, adakah kau selalu mesra/dan aku bagimu indah?”

Buku setebal 297 halaman ini juga tentu saja mengisahkan hubungan Chairil dengan kedua orang tuanya, terutama ibu. Pun terdapat kisah saat ia bersama Sutan Sjahrir di masa Revolusi, pergaulannya dengan para sastrawan, dan pernikahannya yang berantakan namun ia berniat untuk memperbaikinya.

Menurut Damhuri Muhammad, editor buku ini, menjelang kematiannya, Chairil bersemangat untuk mengumpulkan dan menerbitkan sajak-sajaknya. Ia berniat menikahi Hapsah kembali dan membesarkan anaknya. Konon, ia rindu ketan srikaya buatan Hapsan. Dan ada sebaris puisi untuk Hapsah yang tak pernah dipublikasikan di mana pun. Chairil menulisnya memakai pensil. Judulnya “Buat H”:

“Aku berada kembali di kamar/bersama buku/seperti sebelum bersamamu dulu.”

Sayang, keinginannya untuk membangun kembali rumah tangganya tak kesampaian. Chairil muntah darah tak sudah-sudah. Ia keburu meninggal setelah penyakit parah menyerangnya.

***

Oh ya, naskah biografi yang ditulis Hasan Asphani ini dikembangkan oleh Gina S. Noer dan Amelya Oktavia di bawah bendera PlotPoint Kreatif, sehingga terkesan filmis.

Konon, PlotPoint Kreatif lahir dari kegelisahan para pendirinya pada dunia konten di Indonesia, yang menurut mereka banyak cerita yang masih bisa terus dikembangkan. Mula-mula, pada 2010, mereka mengadakan pelatihan penulisan skenario. Lalu berkembang menjadi workshop penulisan kreatif pada medium lain. Kemudian pada 2013 menjadi penerbit buku. Dan sekarang menjadi pengembang naskah untuk buku. (irf)

09 March 2020

Majalah Tarbawi, Sebelum Hoaks dan Kebencian Merajalela



Setelah media-media Islam rontok, ujaran kebencian berkedok agama via daring berseliweran di tengah masyarakat.

Muslim Cyber Army dan jaringan-jaringan lain yang menyebar hoaks, fitnah, dan kebencian via saluran daring merupakan narasi yang menghangat akhir-akhir ini.

Polarisasi politik yang tajam pasca-Pemilu Presiden tahun 2014, terus terjadi sampai hari ini. Kubu-kubu yang berseberangan terus-menerus melancarkan serangan. Teks bertendensi kebencian diproduksi, disebarkan, dan membikin kegaduhan di tengah masyarakat.

Kecepatan adalah watak saluran daring. Celah ini bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, baik yang menebar informasi destruktif, maupun sebaiknya. Mundur sedikit ke belakang, ketika akses internet masih terbatas, penyebaran informasi yang berbentuk teks dikuasai media cetak.

Di medium cetak pun kabar baik dan busuk lumrah terjadi, hanya saja kecepatan penyebarannya jauh tertinggal jika dibandingkan dengan internet. Dalam konteks perang kebencian belakangan ini, media cetak lebih lambat penyebarannya.

Bacaan yang diproduksi oleh Muslim dan ditujukan untuk penganut agama mayoritas di negeri ini—sebagai mangsa terbesar dari warta busuk menor provokasi, pernah diwarnai oleh berbagai tabloid dan majalah Islam multi corak dan tendensi. Ada yang menyajikan sastra, liputan konflik, kajian wacana politik, isu-isu keluarga, menyemai ruhani, dll.

Mayoritas media-media tersebut telah rontok. Salah satunya adalah majalah Tarbawi yang mempunyai misi “Menuju Kesalehan Pribadi dan Umat”.

Majalah yang lahir pada 1999 dan berhenti terbit tahun 2014 tersebut—jika melihat isi warta hoaks yang membanjir belakangan ini --, adalah contoh media yang mencoba meredam ketergesa-gesan umat dalam menyikapi berbagai hal yang beredar dalam keseharian. Tarbawi menawarkan jeda, spasi perenungan, dan menggeledah ruhani.

Sedari judul, Tarbawi telah menawarkan perspektif lain. “Di Balik Kebiasaan Kita Memilih Kata”, demikian judul edisi 287. Dirosat atau kajian utama di nomor ini—dengan menyertakan referensi dari khazanah Islam, membahas hal-ihwal kata yang menjadi ujung tombak dalam keseharian.

Setelah mengutip sebuah perkataan Umar bin Abdul Aziz (cicit Umar bin Khatab/khalifah kedua dalam sejarah kepemimpinan Islam) tentang kata, Tarbawi kemudian mengurainya dalam tulisan yang cukup panjang.

Bagi Tarbawi, persoalan memilih kata adalah hal penting yang harus disampaikan kepada masyarakat. Alih-alih mengupas rupa-rupa peristiwa aktual dan segera memberitakannya, Tarbawi justru terlebih dulu membekali pembacanya dengan perangkat kesadaran tentang kata.

“Setiap kita berurusan dengan kata-kata dalam berbeda kesempatan. Bahkan sebagai seorang Muslim, setiap hari ibadah kita berkaitan erat dengan pengucapan kata. Memilih kata adalah soal seni, rasa, dan sastra,” tulis Tarbawi.

Tarbawi menambahkan bahwa masing-masing kita mempunyai keleluasaan memilih kata, baik dalam berbicara maupun dalam menulis. Pilihan tersebut bukan sekadar sesuatu yang biasa, sebab ia membawa pesan-pesan di baliknya. Kebiasaan kita memilih kata adalah hal-hal yang melatarinya. Mengutip dari seorang bijak, Tarbawi menulis bahwa seseorang diukur dengan dua anggota tubuhnya yang kecil, yaitu hati dan lidahnya.

“Semoga keimanan kita lebih terjaga dengan pilihan kata, dan kita bisa lebih mendalami sebuah persoalan sebelum mengambil sikap untuk bicara. Karena setiap kata ada pertanggungjawabannya,” terang Tarbawi.

Contoh lain tentang ikhtiar Tarbawi dalam mencoba meredam sikap masyarakat yang berlebihan dan tidak moderat, adalah edisi 225 yang kajian utamanya bertajuk “Mungkin, Kini Kita Tengah Mencintai Apa yang Dulu Kita Benci”.

Dalam edisi ini, Tarbawi mengkaji soal sikap personal dan masyarakat yang kerap membenci atau tidak menyukai sesuatu dan seseorang secara berlebihan. Padahal, menurut majalah ini, selalu ada perubahan dalam diri kita seiring perubahan-perubahan yang dibawa oleh waktu yang terus berjalan.

Bukan hanya fisik dan usia, tambah Tarbawi, tapi kadang selera, pandangan, pikiran dan perasaan kita, juga ikut berubah. Suasana jiwa, yang diwakili oleh benci dan cinta kita pada seseorang atau sesuatu, pun kadang bergeser.

“Benci yang berlebihan akan menimbulkan gelap mata. Sedangkan cinta yang berlebihan akan menimbulkan kekecewaan. Karena itu jika membenci seseorang atau sesuatu, jangan sampai rasa benci itu mengusai hidup kita,” tulis Tarbawi.

Dari awal terbit sampai meranggas dan mati di edisi 315, majalah ini selalu menakar setiap judul dan isi dengan pendekatan yang mencoba menggedor-gedor kesadaran. Beberapa contoh judul berikut adalah bagian kecil dari riwayat tiga ratus edisi lebih yang telah dilahirkan Tarbawi:

“Sediakan Selalu Ruang untuk Dibenci” (edisi 206), “Seringkali Kita Meminta Melalui Ibadah yang Tergesa-gesa” (edisi 217), “Mari Sejenak Bicara tentang Rasa Sepi Seorang Ibu” (edisi 219), “Merasakan Jejak Diri di Rumah Kita yang Dulu” (edisi 258), dll.



Kabar dari Belakang Layar

Tarbawi yang hidup dalam situasi transisi antara dunia cetak dan daring, terlihat gagap menghadapi perubahan tersebut. Media sosial yang mereka miliki untuk memublikasikan majalah hanya Facebook dan Twitter, sementara laman web-nya sudah lama tidak bisa dibuka. Sekarang hanya menyisakan beberapa arsip di laman blogspot yang tidak diketahui siapa pembuatnya.

Pendiri majalah ini adalah Ahmad Zairofi, M. Lili Nur Aulia, dan Arwim Al Ibrahimi. Ketika dihubungi oleh Tirto (5/3/2018) via salah satu media sosial, M. Lili Nur Aulia tidak bersedia memberikan nomor kontaknya dan hanya menjawab, “[Sudah] lama sekali tidak berinteraksi dengan pertanyaan seperti ini. Afwan (maaf) ya belum bisa jawab.”

Sebelum Tarbawi lumat pada 2014, Ahmad Zairofi (pendiri merangkap pemimpin redaksi) pernah menjelaskan dapur di balik pembuatan majalah tersebut kepada Edi Santoso—yang kemudian sempat bergabung sebagai Redaktur Pelaksana Tarbawi.

Dalam Kemanusiaan dalam Media: Telaah atas Gaya Jurnalisme Majalah Tarbawi dan Tempo (Jurnal Komunika, Vol. 4 No. 1, Januari-Juni 2010), Edi Santoso menulis bahwa Tarbawi berideologi jurnalisme nurani.

“Secara implisit, Majalah Tarbawi mengaku ‘berideologi’ jurnalisme nurani. Setidaknya, lewat iklan dan merchandiser-nya, majalah ini hampir selalu menyertakan slogan jurnalisme nurani. Bahkan beberapa kali mereka secara khusus menggelar pelatihan jurnalistik bertajuk ‘7 Ideologi Tulisan Mazhab Jurnalisme Nurani’,” tulisnya.

Menurut Ahmad Zairofi, jurnalisme nurani adalah praktik jurnalisme berdasarkan fitrah Islami. Fitrah bermakna universal karena pada dasarnya manusia memiliki fitrah (kecenderungan) yang sama.

“Jadi meskipun Tarbawi mengusung nilai-nilai Islam, pemberitaannya tetap relevan untuk dibaca kalangan dengan agama apa pun. Pada simpul fitrah inilah, Tarbawi bermaksud membangun kebersamaan umat lintas ras dan budaya. Titik temu jurnalisme nurani Tarbawi dengan jurnalisme lainnya ada pada prinsip tanggung jawab dan kejujuran,” tambahnya.

Menurut Edi, dalam menyeleksi dan memilih isu, Tarbawi tentu mengikuti kaidah nilai jurnalistik, yakni menakar sisi kebaruan informasi (novelty), kedekatan dengan pembaca (proximity), pengaruhnya pada pembaca (consequence), konflik, dan sentuhan nilai kemanusiaan (human interest).

Edi menambahkan, bahwa pertimbangan nilai berita itu lebih pada sisi pelatuk berita (news peg) untuk melakukan kontemplasi.

Tarbawi lebih menekankan sisi kontemplasi sebuah peristiwa,” terangnya.

Sebelum bergabung dengan Tarbawi, Edi Santoso menelaah bahwa menurutnya majalah tersebut hampir selalu memberikan penekanan pada solusi dari setiap peristiwa yang diangkat.

“Solusi yang ditawarkan Tarbawi cenderung bersifat personal. Tarbawi melihat akar dari segala persoalan sebetulnya ada pada diri manusia (antroposentris) sehingga perubahan lingkungan akan berawal dari perubahan pribadi” tulis Edi.

Hal ini dibenarkan oleh Ahmad Zairofi yang mengakui bahwa memang Tarbawi lebih fokus pada sisi personal. Ia menambahkan, langkah tersebut adalah pendekatan kultural dengan mengajak pembaca untuk berkontemplasi, merenung, dan membangkitkan kesadaran.

Ahmad Zairofi juga menegaskan bahwa faktor lain di luar manusia, misalnya sistem, memang memberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia, namun semuanya berawal dari manusia.

“Kesadaran personal merupakan kekuatan utama sebelum kekuatan kolektif. Daya tahan personal merupakan daya tahan utama sebelum daya tahan kolektif. Dan kecakapan personal secara mental merupakan modal menuju kecakapan sistem,” terangnya.



Menghilang dan Dirindukan

Kesibukan meringkus kontemplasi. Sejak Tarbawi berhenti terbit, ketiga pendirinya tercatat aktif di partai politik, yaitu PKS. Ahmad Zairofi sibuk sebagai anggota DPRD DKI Jakarta. M. Lili Nur Aulia menjabat sebagai Ketua Kaderisasai Kader DPW PKS Banten. Dan Arwim Al Ibrahimi menjabat sebagai Ketua Dewan Syariah Daerah PKS Padang.

Meski Tarbawi memang lahir dari rahim gerakan Tarbiyah, dan para pendirinya kemudian bertungkus lumus di partai tersebut, akan tetapi para pembacanya merasa menyayangkan ketika akhirnya majalah ini berhenti terbit.

Respons masyarakat terhadap Tarbawi sedari awal memang cukup baik. Mula-mula terbit sekitar 2000 eksemplar. Setahun kemudian sudah menerbitkan lebih dari 20.000 eksemplar, padahal pada waktu itu majalah ini hanya terbit bulanan.

Di beberapa laman pribadi pembaca Tarbawi, seperti yang ditulis oleh 
Triyanto Mekel, ia menyayangkan majalah ini berhenti terbit. Menurutnya, umat masih membutuhkan pemaknaan hidup yang dihadirkan oleh majalah tersebut.

“Majalah Tarbawi sudah lama tak hadir menyapa. Rindu kesejukannya,” tulisnya.

Sementara pembaca lain, 
Husni Mubarok, yang mengaku sudah mengenal Tarbawi sejak kelas 5 Sekolah Dasar, tak bisa melupakan “gaya bahasanya yang mengalir ringan dan tiada beban.”

“Hilangnya Tarbawi jelas kabar buruk. Cukup menyesakkan dada walau saya tidak rutin membelinya,” tulis 
Yusuf Maulana.

Menurutnya, situasi politik yang banyak menyita perdebatan adalah momentum yang tepat untuk membaca kembali materi di Tarbawi. Ia berharap media—yang katanya “penyejuk hati” ini hadir kembali.

Sejauh ini, belum ditemukan arsip bahwa Tarbawi berhenti terbit disertai pamit kepada para pembacanya. Majalah itu hilang begitu saja. Pelanggan tiba-tiba tak menemukan lagi edisi terbaru. Padahal Tarbawi sempat punya slogan yang berbunyi, “Kita hidup di kepadatan interaksi, tapi sulit untuk belajar memahami.”

Nomor 315 adalah edisi pamungkasnya. Sejak itu, sebuah media cetak Islam telah lampus. Internet berkembang, yang lain ikut bertumbangan. Kini, yang ada hanya teks-teks kebencian berkedok islam yang berseliweran menghiasi semesta informasi para pembaca. (irf)

Tayang pertama kali di Tirto.id pada 7 Maret 2018

04 March 2020

Bahasa Daerah Kian Tersingkir oleh Bahasa Indonesia, Kok Bisa?


  
Bahasa daerah semakin dianggap kalah bergengsi dibanding bahasa Indonesia. Ironi tersendiri di tengah kampanye gencar bahasa nasional.

Setiap lebaran tiba, rumah saya yang terletak di salah satu kecamatan di ujung selatan Jawa Barat selalu dipenuhi para kemenakan. Sebagian telah duduk di sekolah menengah pertama, sebagian lagi masih di sekolah dasar. Mereka berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, baik dengan orang tua maupun dengan sesama saudara sepupu.

Orang tua mereka hampir seratus persen penutur bahasa Sunda. Namun tak seorang pun dari para kemenakan itu yang fasih berbahasa Sunda. Sebagai paman, mereka memanggil saya “om”, alih-alih “mang”.

Bagaimana dengan para tetangga? Setali tiga uang.

Dulu, saat saya seusia mereka, kondisinya terbalik. Jika saya dan teman-teman ada yang berbicara bahasa Indonesia di luar jam pelajaran sekolah, pasti diolok-olok. Dianggap meniru gaya orang kota.

Di rumah, bahasa yang orang tua kami gunakan untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya adalah bahasa Sunda. Ada proses pewarisan bahasa daerah, bahasa ibu, atau bahasa sékésélér, yang kiwari mulai ditinggalkan para pasangan muda saat berkomunikasi dengan anak-anak mereka.

Kondisi serupa terjadi juga di Kabupaten Flores Timur. Beberapa kawan yang berasal dari Larantuka dan Solor menceritakan tentang proses komunikasi dengan anak-anak mereka yang mayoritas menggunakan bahasa Indonesia, alih-alih menggunakan bahasa Lamaholot.

Proses pewarisan terputus. Anak-anak hanya memungut bahasa daerah dari lingkungan di luar rumah. Kemahiran berbahasa daerah semakin merosot.

Jika membaca catatan Ajip Rosidi, orang yang telaten dalam menjaga dan mengembangkan bahasa Sunda, dalam Kudu Dimimitian di Imah (2014), rupanya fenomena ini bukan hal baru.

Sekali waktu ia memenuhi undangan acara syukuran kawannya di Jakarta yang ia sebut “Ki Silah”, yang ia kenal sejak 1956 saat diadakan Kongres Pemuda Sunda. Adik kawannya itu bertahun-tahun menulis situasi politik dan sosial di majalah Manglé yang berbahasa Sunda. Sebagaimana pengakuan kawannya, kakak-beradik itu dibesarkan di lingkungan Paguyuban Pasundan.

Namun Ajip merasa heran saat acara syukuran itu memutar video yang berisi riwayat hidup singkat “Ki Silah” yang dibuat oleh anak kawannya tersebut. Dalam video muncul nama Ramadhan K.H. Sastrawan asal Cianjur itu tidak ditulis “Ramadhan Karta Hadimadja”, melainkan “Kiai Haji Ramadhan”.

Kemudian saat anak pertama kawannya itu berpidato menghaturkan terima kasih kepada ayahnya, ia menggunakan bahasa Inggris. Juga kedua adiknya yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa Inggris.

Di titik itu Ajip bertanya-tanya. Kenapa kawannya yang lahir dan hidup dalam lingkungan pergerakan Sunda, juga pernah ditahan selama hampir empat tahun gara-gara terlibat dalam gerakan kesundaan yang berseberangan dengan pemerintah, tidak menanamkan kesundaan, terutama dalam bahasa, kepada anak-anaknya.

Sebagian kawannya yang lain mengatakan kepadanya bahwa hal itu terjadi karena mereka lama hidup di luar negeri saat “Ki Silah” menjadi diplomat. Namun alasan itu buru-buru Ajip bantah, sebab kawannya yang lain yang juga lama bertugas sebagai diplomat, malah anak-anaknya lahir di Perancis, semuanya mampu berbahasa Sunda.


Ketakutan dan Tidak Mangkus

“Apakah Ki Silah menjadi jera menggeluti kesundaan setelah dipenjara selama hampir empat tahun? Kemudian menyingkirkan segala rupa yang berbau Sunda?” tanya Ajip.

Pertanyaan itu bisa jadi jawabannya “ya”, sebagai cara bertahan hidup “Ki Silah” atas masa lalunya yang berseberangan dengan pemerintah, yang kemudian ia bisa berkiprah di Kementerian Luar Negeri. Dalam konteks yang agak berbeda, orang-orang Minangkabau merevolusi tipe nama mereka setelah kegagalan PRRI. Namun intinya sama: ada kompromi yang mengorbankan akar tradisi.

Kita tahu, alasan ketakutan seperti contoh di atas tak dapat dilekatkan ke dalam konteks kiwari dalam penolakan menggunakan bahasa daerah. Perkara lain yang paling memungkinkan dijadikan alasan oleh para orang tua adalah soal keefektifan.

Anak-anak menghabiskan sebagian hidup di sekolah dan lingkungan pergaulan mereka. Bahasa pengantar di sekolah adalah bahasa Indonesia. Sementara di lingkungan pergaulan—khususnya dalam kasus bahasa Sunda—meski para orang tua mereka penutur bahasa Sunda, proses pewarisannya terputus, sehingga mereka lagi-lagi menggunakan bahasa Indonesia.

“Tidak mangkus,” ujar seorang kawan asal Bandung, beristri orang Bandung, dan tinggal di Jakarta, soal tak digunakannya bahasa Sunda dalam berkomunikasi dengan anaknya.

Alasan tersebut masuk akal. Sah-sah saja jika ia menghindari kerepotan mengajarkan bahasa Sunda, di tengah keseharian yang hampir sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia.

Lagi pula, jika mengacu pada hasil penelitian Jérôme Samuel dalam Kasus Ajaib Bahasa Indonesia? Pemodernan Kosakata dan Politik Peristilahan (2008), bahasa daerah memang kalah bersaing dengan bahasa Indonesia. Fungsinya juga semakin terbatas, terutama dalam tulisan.

Pada masa kolonial bahasa daerah hadir dalam pelbagai bidang seperti kesusastraan daerah, terjemahan kesusastraan dari bahasa Melayu dan bahasa Barat, pengajaran (ilmu hitung, sejarah, ilmu bumi, ilmu pendidikan), ilmiah populer (kesehatan), atau teknik (listrik, mekanik).

Namun sejak 1945 penggunaannya semakin terbatas. Pers yang mempertahankan penggunaan bahasa daerah hampir semuanya sekarat. Lagu-lagu pop daerah lebih lebih dekat ke ragam lisan daripada tulisan.

Sejumlah sensus menyiratkan bahwa sejak awal kemerdekaan, bahasa Indonesia berkembang tanpa menyebabkan kemunduran bahasa-bahasa daerah. Sehingga kedwibahasaan seolah-olah menjadi norma dalam kemampuan berbahasa di Indonesia.

“Akan tetapi, pernyataan tentang bahasa-bahasa daerah ini banyak berlandas pada gambaran resmi sesaat yang ketepatannya sulit diukur, sementara pengamatan di lapangan menunjukkan kenyataan yang berbeda […] Terjadi kemunduran bahasa-bahasa daerah, baik di wilayah-wilayah tepian ataupun yang lebih dekat pusat,” tulis Samuel.

Jika ditimbang dari sudut tersebut, soal penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa ibu dalam percakapan di keluarga, pada akhirnya tergantung kepada sesuatu yang lebih bersifat emosional, yaitu perasaan terhubung dengan sékésélér atau leluhur.

Contoh untuk kondisi ini telah disinggung sebelumnya, tentang keluarga diplomat asal Sunda yang bertugas di Perancis dan tetap menggunakan bahasa Sunda di rumah. Tak ada pertimbangan keefektifan, juga tak ditakar oleh mangkus tidaknya bahasa tersebut.

“Anaknya yang paling besar berkata kepada saya, bahwa sebetulnya bahasa utama mereka adalah bahasa Perancis (sebab lahir, tumbuh, dan sekolah di Paris), tapi karena [orang tua dan saudara-saudaranya] di rumah menggunakan bahasa Sunda, ia pun mampu menggunakan bahasa tersebut,” imbuh Ajip.


Gengsi dan Kekenesan

Dalam masyarakat dwibahasa, fungsi bahasa galibnya memang berbeda-beda. Dan seperti dituturkan sebelumnya, di Indonesia bahasa daerah memiliki fungsi yang lebih rendah daripada bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Hal ini kemudian melahirkan prestise berbahasa yang berbeda-beda.

“Lazimnya, orang merasa berprestise tinggi jika dia dapat berbahasa Inggris dengan baik, yakni bahasa yang memiliki fakta keinternasionalan. Sebaliknya, orang merasa berprestise rendah jika hanya dapat berbahasa daerah,” tulis R. Kunjana Rahardi dalam Dimensi-dimensi Kebahasaan: Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini (2006).

Ia menambahkan, kenyataan berbahasa seperti itu bukan hanya di Indonesia, tapi juga terjadi di negara-negara Eropa terhadap bahasa patois atau variasi lokal suatu bahasa yang bersifat nonstandar. Menurutnya, bahasa ini tidak terpelihara, tidak terkultivasi, dan tidak dikembangkan secara baik, serta hanya dipakai masyarakat kelompok bawah.

“Bahkan, secara ironis, mereka menyebut sebagai bahasanya orang-orang dari dunia keempat,” imbuhnya.

Penjelasannya tentang tingkatan gengsi bahasa, jika ditarik ke dalam kondisi penggunaan bahasa daerah hari ini di Indonesia, bisa jadi menjadi salah satu alasan para orang tua dalam menggunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan anak-anak mereka, alih-alih menggunakan bahasa daerah.

Jika tak sepenuhnya, leksikon-leksikon tertentu dalam bahasa yang lebih bergengsi mereka pungut dan dicampuradukkan dengan bahasa yang mereka pakai sehari-hari.

Rahardi menyebut laku ini sebagai “menyombongkan diri”. Sementara Alif Danya Munsyi dalam Bahasa Menunjukkan Bangsa (2005) menyebutnya sebagai “kekenesan berbahasa”.

Sekali waktu di bulan Oktober 2003, sebelum meninggalkan sebuah hotel di Yogyakarta, Danya Munsyi diminta untuk menuliskan kesan-kesan terhadap hotel tersebut. Saat hendak menulis, ia melihat tulisan Syamsul Maarif (saat itu menteri) yang sehari sebelumnya menginap di hotel yang sama.

Like other guests, I feel good stay in Santika. Manajement tahu bagaimana memperlakukan tamu secara profesional,” tulis Maarif yang dipanggil “encik” oleh Danya Munsyi.

Demi melihat tulisan itu, ia kemudian mengeluarkan unek-uneknya tentang penyakit “nginggris” yang merasuki orang Indonesia, khususnya kalangan terpelajar, yang menurutnya semestinya lebih mengerti konteks sejarah yang mengiringi lahir dan tumbuhnya bahasa Indonesia.

“Bahasa Indonesia menjadi tidak karuan karena pemakainya, terutama kalangan terpelajar, dalam bercakap maupun menulis, tampak seperti kesurupan, jor-joran, menghias bahasa Indonesia dengan kata-kata, istilah-istilah, bahkan kalimat-kalimat tertentu bahasa Inggris. Tidak jelas apa maunya, apakah supaya kelihatan pintar, kelihatan cendekia, ataukah sekadar menunjukkan bakat genit dan kebolehan bersolek?” tegasnya.

Kekenesan ini, yakni mencampuradukkan dua bahasa yang memiliki gengsi berbeda, bisa juga terjadi dalam percampuran antara bahasa daerah dengan bahasa Indonesia.

Dari sisi sosiolinguistik dan sosiokultural, menurut Kunjana Rahardi, kenyataan sintesis kebahasaan tersebut seolah-olah tidak tersanggahkan. Namun dalam kerangka pembinaan dan pembakuan bahasa, kenyataan kebahasaan ini merupakan spesimen pelanggaran yang perlu diperbaiki.

Dalam semangat pemeliharaan dan pemajuan bahasa daerah, pelbagai kenyataan ini tentu mustahak menjadi catatan yang mesti diperhatikan. Memang bukan hal mudah untuk memperbaikinya, namun setiap orang yang masih peduli setidaknya bisa mempertimbangkan usul Ajip Rosidi: bahasa daerah bisa dimulai di rumah sehingga tak memotong proses pewarisannya.
(irf)



Tayang pertama kali di Tirto.id pada 18 Juli 2019

Foto: radarpena.id

26 February 2020

Jalan Braga di Antara Dulu dan Kini


Jalan Braga merupakan jalan paling ikonik di Kota Bandung.

Braga, ruas jalan paling ikonik di Kota Bandung ini punya ikatan kuat dengan kopi. Bisa dibilang, Braga lahir karena kopi.

Semua bermula dari Andries de Wilde, seorang juragan perkebunan yang mempunyai gudang kopi di daerah yang sekarang menjadi kompleks Balai Kota Bandung. Untuk menghubungkan gudang kopi dengan De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos sebagai jalur utama di Pulau Jawa, sebuah jalan setapak dipakai. Biasanya, para pelintas maupun pedagang yang lewat sini menaiki pedati. Sebelum bernama Jalan Braga, orang-orang menyebutnya sebagai Jalan Pedati atau Karrenweg.

Pedati hanya menjadi masa lalu. Petang itu, Sabtu (12/1/2019), kendaraan bermotor berkuasa di atas jalan yang dilapisi batuan andesit ini. Gas buangnya mengambang di udara, hinggap mana suka, juga terhisap orang-orang yang tengah mengantri di depan sebuah kedai kopi.

Toko Kopi Djawa nama kedai kopi itu. Sebelumnya bernama Toko Buku Djawa, tapi di mula 2015, riwayat toko buku berusia puluhan tahun itu berakhir. Mengikuti jejak toko buku lain di Jalan Braga yang lebih dulu pamitan. Kini, di ruas jalan sepanjang kira-kira 600 meter itu, toko buku yang tersisa hanya Nusa Cendana.

“Musuh terbesar kami adalah pembajakan,” ujar Sigit, pemilik toko buku tersebut.

Jualan utama Nusa Cendana adalah buku-buku kedokteran dan bahasa Jerman. Surat kabar, tabloid, dan majalah, yang sebelumnya selalu dipajang menggantung di balik kaca besar yang menghadap jalan, kini tak ada. Pergeseran pembaca dari cetak ke daring menjadi alasannya.

Menurut Sigit, Nusa Cendana masih mampu bertahan karena kerap menjual buku-bukunya dalam jumlah besar ke sejumlah lembaga pendidikan dan perpustakaan di beberapa kota di Jawa Barat.

“Meski tak seramai dulu, tapi masih lumayan,” imbuhnya.

Penjualan langsung di toko, terang Sigit, tak banyak. Ia sadar, kini Jalan Braga beranjak menjadi kawasan yang dikuasai oleh niaga kuliner. Restoran, toko roti, kedai kopi, mini market, kafe, dan beer house, lebih ramai dikunjungi pembeli ketimbang toko busana, cenderamata, juga toko buku.

Tempo dulu, salah satu tengara ruas jalan ini adalah toko buku van Dorp, letaknya tak jauh dari lintasan jalan kereta api yang memotong Jalan Braga. Warsa 1940, van Dorp sempat menjual buku bertajuk Indische Tuinbloemen.

Ridwan Hutagalung dan Taufanny Nugraha mencatat dalam Braga Jantung Parijs van Java (2008), Indische Tuinbloemen merupakan buku botani seri album lukisan bunga yang ditulis oleh botanikus Kebun Raya Bogor, M.L.A. Bruggeman. Sementara lukisan-lukisan bunga di dalamnya dikerjakan oleh Ojong Soerjadi.

Indische Tuinbloemen memuat 107 kolom kosong yang bisa dilengkapi dengan kartu lukisan bunga. Setiap membeli satu kartu, maka pembeli berhak mendapat bibit bunga sesuai dengan gambar di kartu yang ia beli.

“Barang siapa yang hendak melengkapi koleksi lukisan bunga album tersebut, tentunya harus siap pula menjadi seorang penama bunga […] Dengan begitu, van Dorp secara tidak langsung telah menggiring warga Bandung untuk keranjingan menanam bunga,” tulisnya.

Setelah Belanda hengkang dari tanah air, van Dop gulung tikar. Dari tahun ke tahun, gedung yang dulu mereka tempati berganti-ganti fungsi, dari tempat hiburan malam sampai toko alat tulis kantor. Kini, gedung tersebut sering dijadikan tempat pameran buku. Sehari-hari nampak tak ada kegiatan.

Di belakang Jalan Braga, ada Kampung Affandie. Kampung ini berada di pinggiran sungai Ci Kapundung. Tak beda dengan perkampungan lain di perkotaan, Kampung Affandie terdiri dari gang-gang kecil tempat para bocah bermain. Sejumlah gerobak penjual makanan nampak terparkir manasuka.

Pagi, siang, sore, warga kampung tersebut sering tengah duduk di beranda rumah mereka yang sempit sambil ngobrol dan mencari kutu. Orang-orang yang lewat mengucapkan “punten (permisi)” sebagai adab.

Dari Jalan Braga, kampung ini jelas tak terlihat, sebab letaknya di bawah dan tertutup jajaran pertokoan dan hotel. Baru-baru tersiar kabar, sejumlah rumah di Kampung Affandie dirobohkan untuk pembangunan hotel.

“Iya, sebagian udah hancur. Katanya sih buat hotel. Mereka (pengembang) juga mau nutup Gang Affandie, tapi ditolak warga,” ujar penjual rokok bernama Ugi.

Menurut Hendrik F. Wieland dalam Braga: Revitalisation in an Urban Development (1997) seperti dikutip Ridwan Hutagalung dan Taufanny Nugraha, pada awal pembangunan Jalan Braga medio 1826, sudah ada kampung bernama Babakan Soeniaradja.

Ugi mengontrak kamar bersama empat orang kawannya sesama penjual rokok dan kopi keliling. Harga sewa kamar per bulan 500 ribu, jadi mereka masing-masing membayar 100 ribu.

Menurut Ugi, penghasilannya per hari rata-rata 50 ribu, belum dipotong makan dan rokok. Sebulan sekali pulang ke Singajaya, membawa uang sekitar satu juta. Anaknya dua, tinggal bersama istrinya di kampung halaman.

“Harus hemat, kalo gak gitu sedikit sekali yang bisa dibawa pulang,” imbuhnya.

Tukang parkir, pegawai toko, pegawai kebersihan kota, dan penjual lukisan, adalah sejumlah orang yang kerap membeli dagangannya. Jika melintas di Jalan Braga, penjual seperti Ugi akan tampak tengah jongkok di trototar menunggu para pembeli.

“Kopi hiji (satu), kang,” ujar saya saat pertama kali membuka percakapan dengannya yang tengah jongkok dekat lapak penjual lukisan.

Hampir sebelas belas tahun Ahmad, 62 tahun, berjualan lukisan di trotoar jalan Braga. Ia sebelumnya berkeliling dari satu hotel ke hotel yang lain di seantero Bandung. Lukisan yang ia jual berasal dari Jelekong, sebuah desa di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Seperti Ugi, ia juga tinggal di Kampung Affandie. Namun, bukan sebagai pendatang dari luar kota.

Satu lukisan kecil ia tawarkan 75 ribu rupiah, dan 150 ribu jika ditambah bingkai. Itu hanya penawaran awal. Kesepakan dengan para pembeli tentu di bawah harga tersebut. Sehari paling banyak ia menjual empat lukisan.

Ahmad tak sendirian. Sepanjang Jalan Braga, penjual lukisan para seniman Jelekong cukup banyak, termasuk yang berjualan di dalam toko. Lukisan-lukisan yang dipajang di dinding-dinding toko yang tutup, yang umumnya lukisan pemandangan perdesaan, buah-buahan, binatang, dan Braga tempo dulu, sering dijadikan latar belakang para penjerat foto diri.

Tina, Erna, dan Arini, baru selesai berburu foto. Tiga perempuan muda ini tengah duduk di depan sebuah mini market sambil menikmati ragam camilan. Ketiganya telah menyelesaikan kuliah dan bekerja di tempat berbeda-beda.

Mereka mulanya akan berburu foto di daerah Bandung utara. Hendak menjerat rutinitas alam dari Gunung Putri, Lembang: matahari terbit. Namun, karena bangunnya kesiangan, akhirnya mereka menuju Braga.

Selain gemar mengambil gambar bertema cerita persona, mereka juga menyukai bangunan-bangunan tua yang melimpah di sepanjang Jalan Braga.

“[Bangunan tua] harus dijaga ya, karena kan bersejarah,” ujar Erna.

Kawasan Jalan Braga memang dipenuhi bangunan tua, salah satunya Gedung Merdeka yang dulu bernama Societeit Corcordia. Gedung ini adalah tempat berkumpul para juragan perkebunan dan orang orang-orang Eropa elite lainnya untuk bersosialisasi dan berpesta.

Gedung ini dilengkapi sebuah bioskop yang terpisah dari bangunan utama yang bernama Corcordia Bioscoop. Bangunannya menyerupai kaleng biskuit. Kini, gedung bioskop tersebut bernama De Majestic.

Selain itu, ada juga bangunan Rathkamp, Au Bon Marche, DENIS, Sumber Hidangan, Blok het Snoephuis, Gerzon’s Modemagazijnen, Hellerman, De Concurrent, Gedung Gas, Maison Bogerijen (Braga Permai), Toko Es Krim Baltic dan lain-lain.

“Tepat di pojok melingkar simpang Jalan Braga dan Jalan Naripan berdiri sebuah bangunan yang digunakan oleh Maison Vogelpol. Kemudian sempat ditempati Toko Chotimall & Co. Bangunan ini lebih terkenal saat digunakan sebagai Restoran Es Krim Baltic,” tulis Ridwan Hutagalung dan Taufanny Nugraha dalam Braga Jantung Parijs van Java (2008).

Di pinggir trotoar depan Toko Es Krim Baltic itulah, malam itu, saya berbincang dengan Budiman, 40 tahun, seorang penarik becak. Ia berasal dari Majalaya, sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung. Becak yang ia pakai bukan miliknya, melainkan kepunyaan seorang bos yang tinggal di daerah Tegallega. Setiap hari ia wajib setor 10 ribu. Sedari pagi, ia berangkat dari Tegallega menuju Pasar Baru. Menjelang sore, saat aktivitas pasar mulai sepi, ia mangkal di Jalan Braga. Begitu setiap hari.

Istri dan ketiga anaknya tinggal di Majalaya. Anak yang paling besar telah duduk di bangku SMA, anak kedua SMP, dan yang bungsu baru SD. Istrinya buka warung kecil-kecilan, sekadar berjualan makanan yang biasa dibeli anak-anak.

Pendapatan Budiman per hari sekitar 50 ribu. Hari itu, pukul 19.30, ia baru memperoleh penghasilan 35 ribu. Rencananya malam itu mau mangkal sampai pukul 23.00.

“Sering juga sih mangkal sampai pagi,” ujarnya.

Seminggu dua kali Budiman pulang ke Majalaya. Selama bekerja, ia tidur di bedeng milik bosnya, atau jika mangkal sampai pagi ia bisa terlelap di becaknya. Budiman mengaku, meski bekerja begitu keras mendera fisik, tapi kesehatannya relatif terjaga.

“Penyakit tukang becak mah cuma dua, masuk angin dan perut perih karena kebanyakan diganjal kopi,” katanya.

“Gak makan, kang?”

“Makan, tapi telat, sayang duitnya,” pungkas Budiman.

Pukul 20.00 lewat saya pamit. Hujan mulai mengguyur Braga. Budiman beringsut masuk ke becaknya. (irf)



Tayang pertama kali di Tirto.id pada 16 Januari 2019

Foto: Beritagar

25 February 2020

MRT Ratangga dan Sejarah Obsesi Pejabat terhadap Dunia Wayang



Sejak zaman Orde Baru, pemerintah sering menamai benda-benda publik berteknologi tinggi dengan nama dari dunia wayang, termasuk kini pada MRT Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan nama rangkaian kereta MRT atau Mass Rapid Transit alias Moda Raya Terpadu pada Senin (10/12/2018) di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Nama yang diambil untuk rangkaian kereta tersebut adalah Ratangga.

“Namaku diambil dari puisi di kitab Arjuna Wijaya dan Kitab Sutasoma yang dikarang oleh Mpu Tantular. Dalam bahasa Jawa Kuno, Ratangga artinya kereta perang. Kereta perang identik dengan kekuatan dan pejuang. Dalam menjalankan tugasku, aku akan selalu tangguh dan kuat mengangkut para pejuang Jakarta yang sedang berikhtiar untuk kehidupan yang lebih baik”, demikian keterangan yang tertulis pada spanduk berdiri yang dipampangkan dalam acara itu.

Dalam Kamus Indonesia Jawa (2015) yang disusun Sutrisno Sastro Utomo, Ratangga diartikan sebagai berikut: “Roda: cakra, catra, glindhingan, jantra, ratangga, rodha (tentang kereta, sepeda, motor, mobil), sengkalang (lingkar roda)”

Jika nama rangkaian keretanya Ratangga, maka nama bor yang bergerak horizontal untuk membuat jalan MRT adalah Antareja. Nama itu diberikan Presiden Jokowi tiga tahun lalu saat meresmikan pengeboran pertama jalur bawah tanah itu pada Senin (21/9/2015).

“Yang jago ambles bumi ya Antareja itu,” kata 
Jokowi saat menjawab pertanyaan wartawan, seperti dikutip Detik.

Nama Ratangga dan Antareja berasal dari khazanah wayang. Dan ini bukan sesuatu yang baru dalam penamaan benda-benda teknologi tinggi di Indonesia, khususnya benda yang dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat dan sebagai simbol kebanggaan, baik buatan asing maupun karya sendiri.


Sejak Zaman Sukarno

Dalam dunia militer nasional, para pengampu alutsista pun kerap menamai persenjataan mereka dengan nama-nama yang berasal dari dunia pewayangan. Antasena, misalnya, dijadikan nama tank boat pertama di Indonesia yang pada Juli 2018 masih berbentuk purwarupa.

Nama tokoh pewayangan yang sangat legendaris dalam dunia militer kita adalah Dewa Ruci. Kapal untuk pelatihan para taruna atau kadet Akademi Angkatan Laut ini juga sering mengarungi samudra dalam tugas-tugas kenegaraan.

Selain itu, nama sejumlah kapal selam Angkatan Laut pun masih ada hubungannya dengan dunia pewayangan, yakni nama-nama senjata para protagonis dalam kisah Mahabharata. KRI (Kapal Republik Indonesia) Nagapasa, Nanggala, Cakra, dan Ardadedali yang menjadi nama kapal selam itu adalah senjata milik Indrajit, Baladewa, Kresna, dan Arjuna.


Tradisi penamaan ini bahkan telah berlangsung sejak zaman Orde Lama dan Orde Baru. Pasukan pengawal presiden zaman Sukarno dinamakan Cakrabirawa yang merupakan senjata pamungkas Kresna. Setelah rezim berganti, nama Cakra disandang pasukan Kostrad.

Tahun 1995, yang disebut-sebut sebagai tahun keberhasilan dirgantara nasional, Soeharto menamai empat pesawat N250 buatan IPTN masing-masing dengan nama Gatotkaca, Krincing Wesi, Koconegoro, dan Putut Guritno.

Sedyatmo, penemu teknik konstruksi cakar ayam, juga sempat menamai jembatan yang ia imajinasikan akan menghubungkan pulau Sumatra, Jawa, dan Bali dengan nama “Jembatan Ontoseno (Antasena)”, meskipun sampai sekarang belum juga terwujud.

“Sebagai seorang penggemar wayang, Sedyatmo mengambil nama ini dari tokoh pewayangan. Ontoseno (Antasena) atau Anantasena adalah nama salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam naskah Mahabharata karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa,” tulis Ahmad Effendi dan Hermawan Aksan dalam Prof. Dr. Ir. Sedyatmo: Intuisi Mencetus Daya Cipta (2009).


Mengagungkan yang Langka

Nama-nama tokoh pewayangan dalam benda berteknologi tinggi dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umum tak bisa dilepaskan dari dominasi etnis Jawa dalam jajaran pengambil keputusan.

Daftar nama yang lahir dari budaya Jawa yang telah disebutkan dalam artikel ini masih bisa diperpanjang. Misalnya Bhayangkara. Nama pasukan elite Kerajaan Majapahit ini dilekatkan dengan korps kepolisian.

Sementara jika dilihat dari aspek estetika dan spirit, pemilihan tokoh pewayangan Jawa ini bisa dibandingkan misalnya dengan wayang Sunda, yang lahir dari akar yang sama.

Wayang Sunda yang biasa disebut wayang golek, seperti dicatat Sarah Anais Andrieu dalam Raga Kayu, Jiwa Manusia: Wayang Golek Sunda (2017), kerap dinilai secara negatif dibandingkan dengan wayang kulit sebagai “kakaknya” yang menurut dia lebih mempunyai prestise.

“Dianggap kurang artistik, sekadar hiburan biasa, remeh, terlalu populer, wayang [golek] ini sering dianggap mengalami kemunduran. Para dalang lazim dituduh merusak bentuk wayang, bahkan hingga saat ini,” imbuhnya.

Andrieu menambahkan pula bahwa James R. Brandon dalam Theatre in Southeast Asia (1967) juga mencatat kecenderungan ini, yakni wayang golek hanya dihargai sebagai hiburan daripada nilai spiritual.

“Menurut sejarah, dahulu wayang golek Sunda memiliki status yang setara dengan wayang kulit Jawa. Kini, tingkat artistik pertunjukan-pertunjukannya telah merosot dan prestise wayang pun ikut jatuh bersamanya,” imbuh Brandon seperti dikutip Andrieu.
Wayang, dalam hal ini wayang dari tradisi Jawa yang dianggap lebih adiluhung seperti dicatat Sarah Anais Andrieu, memang menjadi satu budaya yang “dijaga” agar tak kehilangan wibawanya.

Ini dicatat Nunus Supardi dalam Bianglala Budaya: Rekam Jejak 95 Tahun Kongres Kebudayaan 1918-2013 (2016). Pada pengantar dalam Kongres Pewayangan 2005 yang terbuhul di buku tersebut, disebutkan bahwa wayang sebagai produk budaya tengah mengalami ancaman dari produk budaya lain seperti film dan TV karena perubahan cara pandang dan cara pikir masyarakat.

“Wayang merupakan harta kultural yang tidak hanya bersifat konkret tetapi lebih bersifat simbolik. Pengembangan wayang menjadi sesuatu yang naturalis-realis-konkret justru akan menghilangkan ciri khas wayang itu sendiri,” tulis pengantar tersebut.

Sifat simbolik wayang, tambah pengantar itu, yang tak hanya hadir sebatas tontotan, melainkan juga sebagai tuntunan dan tatanan, adalah hal yang penting sehingga mesti dipertahankan. Tujuan utamanya adalah agar tak terjadi pengikisan pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap wayang.

“Dengan cara demikian, salah satu fungsi wayang sebagai media syiar, karena di dalamnya bermuatan tuntunan, akan semakin diminati oleh masyarakat modern sehingga dapat membawa masyarakat menuju suatu tatanan sosial budaya yang berkepribadian luhur,” imbuhnya.

Makna wayang yang begitu adiluhung itu akhirnya tentu saja menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk melekatkan nama-nama tokohnya, juga senjata para protagonis dalam benda-benda “langka” seperti pesawat, kereta, kapal selam, dan lain-lain. Ya, bukankah capaian teknologi tinggi masih merupakan barang langka di negeri ini?

Perlakuan terhadap benda-benda “langka” ini mengingatkan saya pada paparan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya 1: Batas-batas Pembaratan (2018) saat ia menjelaskan salah satu barang yang langka di Jawa, yakni bijih besi.

Menurut Lombard, mengutip dari para ahli prasejarah dan etnolog, meski besi telah lama dikenal di Nusantara, tapi keberadaannya amat sedikit dan bukan di Jawa, melainkan di bagian utara Filipina, bagian tenggara Kalimantan, bagian tengah Sulawesi, daerah pedalaman Sumatra, dan Sumbawa.

Sepanjang masa prakolonial, di Jawa bahkan tidak ada bijih besi. Kalau pun ada karena aktivitas perdagangan, ketersediaannya amat sedikit. Hak mengerjakan besi juga dianggap melekat pada sekelompok perajin pemegang hak istimewa yang dianggap memiliki kekuatan gaib, yakni pandai besi.

“Di mana pun di Nusantara, pandai besi sedikit banyak dipandang sebagai empu yang memiliki kekuatan magis, tetapi dapat dibayangkan bahwa di Jawa, konteks ritual dan magisnya lebih terasa karena kelangkaan logam itu,” tulisnya.

Oleh karena itu, sambungnya, meski produk senjata dari Jawa seperti keris merupakan sebuah rekayasa teknik dan keterampilan yang luar biasa, tapi ukurannya sangat kecil jika dibandingkan dengan pedang bangsa Frank, dan tidak mungkin diproduksi dalam jumlah besar.

“Sungguhpun terletak di antara India dan Cina, di mana kita tahu, teknik pengolahan logam telah dapat berkembang sejak sangat dini dan secara besar-besaran untuk ukuran zamannya, Nusantara secara tragis tetap tersisih dari pemilikan peralatan besi yang begitu diperlukan untuk menebas dan memerangi hutan,” imbuh Lombard.

Jika dulu perlakuan terhadap benda yang terbuat dari bijih besi begitu diagungkan di Jawa karena kelangkaannya, maka kiwari penamaan benda berteknologi tinggi dengan nama-nama dari dunia wayang menandakan satu hal: bangsa ini tengah mengulang sejarahnya sendiri.

Apabila masa lalu menyuratkan bahwa peralatan besi diperlukan untuk “menerabas dan memerangi hutan”, maka barangkali kedua kata kerja itu kini bisa dilekatkan kembali untuk “menerabas dan memerangi” tantangan zaman.
(irf)


Tayang pertama kali di Tirto.id pada 12 Desember 2018

Foto: Grid.ID

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai