02 December 2019

Tugiyo, Sekali Berarti Sudah itu Mati



Setelah tidak memperkuat PSIS Semarang, karier sepakbola Tugiyo meredup. Ia hanya bermain di tim-tim semenjana sampai akhirnya gantung sepatu.

Stadion Klabat 9 April 1999. Di Manado, di utara Sulawesi itu, final liga Indonesia digelar. Para pengampu sepakbola nasional mengambil jalan tengah: final tetap digelar di tengah kondisi keamanan yang masih rentan. Pasca-kerusuhan Mei 1998, situasi belum terlalu kondusif.

Liga Indonesia musim 1997/1998 terhenti di tengah jalan. Sementara musim 1998/1999 hampir gagal karena kesulitan mendapatkan sponsor. Di tengah situasi seperti itu, Azwar Anas, Ketua Umum PSSI mengundurkan diri setelah dicecar publik sepakbola nasional, akibat skandal gol bunuh diri Mursyid Effendi di laga melawan Thailand pada gelaran Piala Tiger 1998.

“Azwar Anas jadi bulan-bulanan di Tanah Air. Ia dicap kurang tegas memimpin PSSI, sehingga kasus-kasus memalukan bermunculan,” tulis 
Ario Yosia.

Posisinya kemudian digantikan oleh Agum Gumelar. Meski keraguan membayangi banyak pihak, terutama para peserta liga, tapi Agum tetap mengambil keputusan: liga harus jalan.

“Timnas yang tangguh hanya lahir dari kompetisi yang tangguh. Jadi, bagaimana pun caranya kompetisi harus jalan,” 
ujarnya.

Setelah mengarungi ratusan pertandingan, kompetisi akhirnya sampai di partai puncak yang mempertemukan Persebaya Surabaya melawan PSIS Semarang. Sepanjang babak 10 besar dan semifinal, Jakarta didera berbagai kerusuhan, termasuk tewasnya 9 pendukung PSIS akibat terlindas kereta api di 
Lenteng Agung.

Hal ini membuat Mayjen Polisi Noegroho Djajoesman yang waktu itu menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, menolak memberikan izin penyelenggaraan laga final yang semula akan digelar di Stadion Utama Senayan, Jakarta.

Agum Gumelar cepat menghubungi Erenst Mangindaan yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Sulawei Utara. Keputusan keluar, laga final digelar di Stadion Klabat, Manado. Dalam ketergesaan, semua perangkat pertandingan: pemain dan ofisial Persebaya serta PSIS diangkut ke Manado menggunakan pesawat Hercules.


Menit 89 untuk Laskar Mahesa Jenar

Dihadiri puluhan ribu penonton, laga final berlangsung alot. Persebaya diunggulkan karena diperkuat sederet pemain yang berhasil membawa tim Bajul Ijo menjuarai kompetisi musim 1996/1997, seperti Aji Santoso, Yusuf Ekodono, Uston Nawawi, hingga Reinal Pieters.

Sebelum partai final, mereka hanya sekali kalah dari 12 pertandingan dan dua kali mengalahkan PSIS, lawan yang akan mereka hadapi. Namun dalam posisi underdog, PSIS Semarang yang berjuluk Laskar Mahesa Jenar justru bisa tampil lepas. Agung Setyabudi, Ali Sunan, dan I Komang Putra—mantan para pemain Arseto Solo yang bubar, begitu lugas menahan gempuran para punggawa Persebaya.

Di menit-menit akhir, tim Bajul Ijo yang terus mendominasi pertandingan akhirnya kecolongan oleh gol pemain gempal asal Purwodadi: Tugiyo!

“Saat konsentrasi mereka (Persebaya) dalam bertahan mulai menurun, Agung Setyabudi mengirimkan umpan silang dari sisi kanan lini serang PSIS. Seperti mencium bau darah segar, Tugiyo berlari kencang untuk menyambut umpan tersebut. Dengan tenang, penyerang asal Purwodadi itu pun kemudian berhasil memperdaya Hendro Kartiko, penjaga gawang Persebaya: pada menit ke-89 PSIS berhasil mengubah kedudukan menjadi 1-0,” tulis 
Renalto Setiawan.

Sampai peluit tanda pertandingan berakhir ditiup sang pengadil pertandingan, Persebaya tak mampu menyamakan kedudukan. PSIS Semarang keluar sebagai juara pada kompetisi “darurat” itu. Tugiyo dielu-elukan. Postur tubuhnya yang pendek dan gempal, kecepatan berlari, serta penguasaan bolanya yang mumpuni membuat ia kemudian dijuluki “Maradona dari Purwodadi”.

Menanggapi julukan yang masyarakat sematkan pada dirinya, Tugiyo menjawabnya dengan rendah hati, “Ya, itu bisa-bisanya orang-orang saja, mas. Saya sih iya, iya, saja. Dulu saya memang biasa begitu. Bawa bola saja terus sambil lari, terus tendang,” ucapnya.

Rombongan yang telah pertandingan lalu dibawa lagi ke Jawa dengan menggunakan pesawat Hercules. Pesawat mula-mula berhenti di Surabaya, lalu Semarang, dan kembali ke Jakarta.

Saat tiba di Bandara Ahmad Yani, Semarang, pemain dan ofisial PSIS disambut meriah oleh warga. Mereka lalu diarak keliling kota beserta piala yang baru saja mereka raih.



Bakat Sepakbola Si Penggembala Kambing

Tugiyo lahir di Purwodadi pada 13 April 1977. Ia tumbuh di keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang penarik becak, sementara ibunya buruh tani. Sedari kecil Tugiyo sudah menyukai sepakbola. Di sesela tugasnya menggembala kambing di tegalan dekat lapang sepakbola kampungnya, Tugiyo kerap menyempatkan ikut bermain bola.

Mula-mula Tugiyo bergabung dengan Akademi Persipur Purwodadi pada tahun 1994. Karena bakat dan ketekunannya berlatih, setahun berikutnya ia berhasil masuk Diklat Salatiga. Dulu Diklat Salatiga belum menetapkan standar minimum tinggi pemain 170 cm, sehingga ia yang waktu itu tingginya hanya 163 cm tidak terganjal peraturan.

Dari Diklat Salatiga, Tugiyo lalu ditarik Diklat Ragunan di Jakarta pada tahun 1994 dan sempat membela Timnas PSSI U-16 yang bertanding di Iran. karier profesionalnya di tim senior dimulai dengan memperkuat PSB Bogor selama dua musim dari 1997-1999. Setelah itu ia berlabuh di PSIS Semarang, dan di situlah ia mencapai puncak keemasannya.

“Dia bukan pemain yang dikenal berwajah ganteng. Tugiyo jauh dari kata itu. Banyak yang bilang dia lebih pas jika menjadi pelawak. Perawakannya yang kecil dan gempal atau bantet membuatnya sering disepelekan lantaran posturnya yang tidak ideal sebagai pesepakbola,” tulis 
Sirajudin Hasbi.

Namun demikian, Tugiyo amat dicintai publik sepakbola Jawa Tengah. Tahun 2010, saat diadakan pertandingan hiburan di tengah perhelatan Piala Walikota Salatiga, Tugiyo turut serta. Saat namanya disebut akan masuk di babak kedua, sorak sorai penonton membahana.

“Ada nama tenar lain yang hadir, tetapi hanya Tugiyo yang bisa menghipnotis penonton untuk dengan sendirinya memberi tepuk tangan,” tambahnya.

Sampai sekarang sosok sederhana itu masih menjadi inspirasi. Meski hanya sekali membawa PSIS menjadi juara liga Indonesia, tapi namanya tetap dikenang. Ya, pasca-kegemilangan pada tahun 1999, setahun berikutnya nasib Laskar Mahesa Jenar amat tragis, mereka degradasi setelah finish di urutan ke-13 Wilayah Timur.

Tugiyo memperkuat PSIS sampai tahun 2003. Badai cedera kemudian menyerang. Cedera lututnya kerap kambuh. Dalam perjalanan kariernya yang perlahan redup, Tugiyo masih menggeluti sepakbola sebagai pekerjaan yang dicintainya. Setelah berpisah dengan PSIS, ia sempat memperkuat Persipur Purwodadi, Persik Kendal, Persip Pekalongan, dan Persiku Kuningan.

Sekali waktu saat ia sudah berumur 30 tahun, PSIS mengadakan seleksi pemain. Tugiyo mengadu peruntungan dengan mengikuti seleksi. Namun sayang ia tidak terpilih. Pengurus PSIS menganggapnya sudah tidak fit dan terlalu tua.

“Saya hanya rindu kembali berkaus PSIS. Lagi pula keluarga saya tinggal di Semarang dan anak-anak saya masih kecil. Tapi bila memang tidak dimaui, saya pasrah saja. Mungkin saya memang sudah dianggap tua,” ujar 
Tugiyo.

Ia sudah membawa PSIS juara, tetapi tim itu juga yang menolaknya untuk kembali. Badai cedera kerap merundung, dan kariernya pun meredup. Maradona dari Purwodadi itu seolah mampus dikoyak sepenggal puisi Chairil Anwar: sekali berarti sudah itu mati. (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 15 April 2018
- Foto: Wikipedia & Twitter

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai