23 December 2019

Keluarga Cemara dan Novel Arswendo tentang Kebobrokan Keluarga


Selain Keluarga Cemara, Arswendo menulis cerita tentang keluarga dengan plot, situasi, dan konflik yang berbeda-beda.

Film Keluarga Cemara tayang mulai 3 Januari 2019. Kisah yang diangkat dari buku karangan Arswendo Atmowiloto (selanjutnya di tulis Arswendo) ini mula-mula terbit pada 1981. Pertengahan 1990-an sampai medio 2000-an, cerita ini pernah hadir dalam bentuk sinetron. Belakangan, sebuah stasiun televisi nasional kembali menayangkannya.

Kehidupan Abah dan keluarganya di pelosok Sukabumi banyak menginspirasi pemirsa. Kejujuran, kerja keras, dan keceriaan seakan-akan jadi penawar kesusahan mereka dalam menjalani hidup yang pas-pasan.

Tak heran jika lagu tema, baik sinetron maupun filmnya, menyebut keluarga sebagai harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling bermakna, dan mutiara tiada tara.

Kisah Keluarga Cemara barangkali mewakili definisi keluarga seperti yang pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Menggelinding 1 (2004): “Lembaga yang menjadi pangkal. Mula kehidupan manusia. Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan istri mendapat atau tidak mendapat kebahagiaan”.

Di luar kekurangan harta benda, kehidupan Keluarga Cemara banyak disebut sebagai contoh keluarga Indonesia yang ideal. Namun, tentu saja dalam kehidupan nyata, tak semua keluarga tumbuh seperti Keluarga Cemara.

Tak Cuma soal Keluarga Harmonis

Sebagai salah satu pengarang produktif, Arswendo sejatinya tak hanya menulis tentang keluarga utuh dan harmonis. Ia juga berkisah tentang pola kehidupan keluarga yang berbeda, dengan tantangan yang beragam.

Dua Ibu misalnya. Buku yang pertama kali terbit pada 1980 ini menceritakan tentang pasangan suami istri yang menampung anak-anak dari keluarga lain. Sang istri oleh anak-anak asuhnya dipanggil “Ibu”.

Ibu membesarkan dan merawat anak-anak. Namun, saat mereka dewasa, tak jarang ada yang diambil oleh orang tua kandungnya, atau diambil sebagai istri orang. Bahkan Ibu sempat dituduh tidak mau melepaskan seorang anak, saat orang tua kandungnya datang untuk mengambilnya.

Adam, anak itu, memilih tetap tinggal bersama Ibu. “Saya akan buktikan bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan Ibu. Sampai Ibu mati, saya akan tetap bersama Ibu. Kalau tak ada orang lain, saya yang akan menguburkan Ibu,” kata Adam.

Hal serupa diucapkan juga oleh Mamid, anak asuhnya yang lain, “Kalau mungkin aku ingin kawin dengan Ibu. Padanya aku tak pernah sangsi bahwa aku mencintainya, dan padanya aku tak pernah sangsi bahwa ia mencintaiku.”

Meski kisah ini menghamparkan kasih sayang antara Ibu dan anak-anaknya, ada kenyataan lain yang tak bisa ditutupi. Anak-anak yang ditelantarkan orang tua kandungnya, juga ibu yang harus rela kehilangan anak-anak asuhnya satu persatu. Kasih sayang tumbuh justru di tengah renggangnya ikatan keluarga sebagai lembaga resmi.

Sementara dalam Projo dan Brojo yang mula-mula terbit pada 1994, Arswendo menulis kehidupan keluarga dengan begitu rumit. Projo hidup dalam penjara karena terjerat kasus hukum. Sementara Brojo menuju belangsak karena kehilangan pekerjaan.

Meski bukan saudara kandung, wajah mereka mirip. Sangat mirip. Atas peran seorang kepercayaan Projo, Brojo mau berganti peran dengan Projo karena sejumlah uang. Brojo tinggal di penjara, dan Projo bebas di luar.

Masalah timbul karena mereka berdua harus berhadapan dengan orang-orang yang selama ini dekat dengan orang yang mereka gantikan. Brojo menghadapi kekasih gelap Projo, dan Projo menghadapi istri Brojo.

Di luar penjara, Projo mendapati Lil, istrinya, ternyata berselingkuh dengan orang kepercayaannya yang menolong dia untuk bertukar peran dengan Brojo.

Kejadian perselingkuhan ini, juga karena ia tinggal bersama Wisuni, istri Brojo—Wisuni tahu Brojo berganti peran dengan Projo—membuatnya perlahan mulai merasakan kedamaian, dan bisa menerima apa yang terjadi selama ini dalam hidupnya. Projo pun kembali ke penjara.

Rumitnya kehidupan keluarga juga hadir dalam 3 Cinta 1 Pria (2008). Kali ini Arswendo menghadirkan seorang lelaki yang dicintai oleh tiga orang perempuan beda generasi. Bong namanya. Mula-mula ia jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Keka.

Namun, Bong tak kunjung menikahinya. Keka kemudian menikah dengan laki-laki lain dan mempunyai anak perempuan bernama Keka atau Keka Kecil.

Keka Kecil ternyata jatuh hati juga kepada Bong. Dan lagi-lagi Keka Kecil pun menikah dengan laki-laki lain serta mempunyai anak perempuan bernama Keka Siang.

Keka Siang sebagai generasi ketiga juga jatuh cinta kepada Bong. Sehingga ada tiga Keka dalam hidup Bong yang semuanya mencintainya.



Tak Selamanya "Baik-Baik Saja"

Kisah-kisah keluarga yang ditulis Arswendo di luar Keluarga Cemara memperlihatkan kenyataan atau kemungkinan lain yang terjadi dalam kehidupan. Keluarga dalam ikatan resmi tak selamanya kokoh dan tampil manis. Ada hubungan dan ikatan lain yang mampu menguarkan kasih sayang.

Kasih sayang dari ibu angkat dalam Dua Ibu bisa jadi masih dianggap wajar. Namun, dalam Projo & Brojo, kasih sayang dan kesadaran hidup justru datang dari hubungan yang awalnya direkayasa.

Sementara dalam 3 Cinta 1 Pria, kasih sayang yang tampil justru dalam hubungan-hubungan normal, tapi dilatari riwayat yang di luar kebiasaan. Kisah ini jauh meninggalkan segala hal normatif seperti yang tersaji dalam Keluarga Cemara.

Kisah-kisah keluarga yang tumbuh di luar pandangan normatif ala Arswendo bukan untuk menggugat lembaga pernikahan. Namun, mereka hadir sebagai pandangan alternatif tentang kehidupan keluarga yang tidak selamanya “baik-baik saja”.

Lagi pula, pembaca pun tentu tahu belaka bahwa Keluarga Cemara hanyalah sebuah contoh manis. Di luar itu, kisah keluarga adalah sejumlah bianglala, peristiwa beraneka rasa, yang mau tak mau—seperti ditulis Arswendo—mesti dihadapi. (irf)




Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 4 Januari 2019

- Foto: 

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai