29 December 2019

Jurutulis Malingping: Kisah si Gila Hormat dan Penjahat Kelamin



"Geus loba kabéjakeun rampus ka bikang. Teu kaop aya randa hérang-hérang, kudu waé dihakan, malah aya hiwir-hiwir béja leutik, pajar kungsi ngongkon nanaon, nitah ngawin awéwé nu geus reuneuh ku manéhna. Turug-turug parawan pisan nu diheureuyanana téh…”

28 December 2019

Pulang: Tidak Semua Pemuda Jadi Pahlawan


"Tujuh tahun lamanya saya pergi meninggalkan kampung lantaran perang yang meminta. Ketika damai yang diharapkan datang dan saya pulang dengan pengharapan dapat mengerjakan sawah kembali, hati seluruh desa telah berubah dan saya tidak menemukan damai dalam hati sendiri. Alangkah aneh untuk mengetahui kenyataan bahwa ada sesuatu yang lebih menenteramkan hati di dalam peperangan daripada kini."

27 December 2019

Burj Khalifa dan Obsesi Manusia pada Bangunan Tinggi


Burj Khalifa dibangun dengan ambisi serba superlatif. Ia mengingatkan kisah dalam Alkitab tentang Menara Babel.

Pada 4 Januari 2010, tepat hari ini 9 tahun lalu, di tengah keterpurukan bisnis properti Dubai, Burj Khalifa diresmikan. Menara tertinggi di dunia ini semula bernama Burj Dubai. Namun, untuk menghormati Presiden Uni Emirat Arab Syekh Khalifa bin Zayid al-Nahyan, namanya diganti menjadi Burj Khalifa.

Desainnya merupakan abstraksi dari bunga Hymenocallis, salah satu jenis bunga bakung atau Amaryllidaceae. Menaranya meruncing ke atas, kelopaknya mengupas beberapa bagian, dan akhirnya benang sari baja tunggal menjulang.

Burj Khalifa juga dirancang dengan pengaruh Timur Tengah, menggambarkan pola-pola dan arsitektur tradisional, seperti kisi-kisi jendela mashrabiya yang menyaring sinar matahari gurun.

Ketinggian bangunan yang dikerjakan selama 6 tahun ini lebih dari 828 meter dan memiliki lebih dari 160 lantai. Burj Khalifa dirancang oleh Chicago Skidmore, Owings & Merrill LLP (SOM) dan Adrian Smith FAIA serta Royal Institute of British Architects (RIBA).


Kemegahan Superlatif

Saking tingginya, Burj Khalifa mempunyai tiga waktu buka puasa. Pertama, waktu buka puasa normal sesuai dengan yang berlaku di Dubai, yakni dari lantai dasar sampai lantai 80. Kedua, dari lantai 81 hingga lantai 150, dengan penambahan waktu 2 menit. Dan ketiga dari lantai 151 ke atas, penambahan waktunya tiga menit dari waktu buka puasa normal.

Ini karena setiap ketinggian bertambah 100 meter, waktu magrib juga bertambah 1 menit. Dalam posisi yang semakin tinggi, ufuk terlihat semakin rendah.

Selain memiliki tiga waktu buka puasa yang berbeda, Burj Khalifa menjadi bangunan serba “paling” di dunia: bangunan tertinggi, struktur berdiri bebas tertinggi, lantai yang ditempati tertinggi, dek observasi luar ruang tertinggi, dan lift dengan jarak perjalanan terpanjang.

Pada 5 Oktober 2013, 
New York Times memuat pengalaman Lauren Arnold dan Mike Arnold, pemukim yang tinggal di Burj Khalifa sejak 2011, saat mereka naik ke lantai 123.

“Seolah-olah kami adalah benda tanpa bobot yang mudah diangkat ke udara. Telinga kami menyesuaikan beberapa kali saat melaju dengan kecepatan hampir 60 kaki per detik,” tulis mereka.

Dari lantai 123, saat hari begitu cerah, lewat panel kaca raksasa pemandangan yang terhampar mencapai pantai Iran, Selat Hormuz, dan pergunungan berbatu Oman. Pada sisi lain, terlihat juga Teluk Persia.

Menurut mereka, sangat sulit bagi banyak pengunjung untuk memahami Dubai. Seseorang mesti melihat masa kini dan melampauinya untuk menghargai seperti apa masa depannya.

“Orang perlu memahami dampak nyata dari kota ini untuk mendefinisikan kembali citra diri pribadi dan kolektif orang Emirat, orang Arab, dan penduduk internasional,” imbuhnya.

Burj Khalifa yang menampilkan kemegahan yang serba superlatif seolah-olah menjadi tonggak masa depan dan masa lalu sekaligus. Ia juga memegang sejumlah rekor yang belum mampu dilampaui bangunan apapun di dunia. Karena itu, menjadi tantangan bagi siapa saja di masa depan untuk melampaui capaiannya.

Keangkuhan Menara Babel

Jika ditarik ke masa lalu, Burj Khalifa mengingatkan kembali pada cerita tentang obsesi manusia terhadap ketinggian. Salah satunya adalah kisah dalam Alkitab tentang Menara Babel.

Peter Atkinson dalam Encyclopedia of The Bible (2011) menyebutkan, kisah menara Babel terdapat dalam Kitab Kejadian tentang orang-orang yang memutuskan untuk membangun sebuah menara yang tinggi sampai ke langit sebagai simbol kekuatan dan kebanggaan.

“Tetapi Allah mengacaubalaukan bahasa mereka sehingga orang-orang tidak dapat lagi mengerti apa yang mereka katakan satu sama lain. Mereka tercerai-berai dalam kebingungan dan hidup di bagian-bagian berbeda dari dunia ini dengan bahasa yang berbeda-beda pula,” imbuhnya.

Kisah ini disebut-sebut sebagai penjelasan tentang asal mula perbedaan bahasa manusia di dunia. Bahkan sekarang, tambah Atkinson, perbedaan bahasa adalah rintangan terbesar bagi orang-orang untuk saling memahami dan hidup bersama dalam damai.

“Dulu semua orang bersatu dan berbahasa yang sama, sekarang tidak. Orang-orang membangun sebuah kota dalam menara, lalu Yahwe (Tuhan) menghukum mereka,” terang Dianne Bergant dan Robert J. Karis dalam Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (2002).

Dalam sebuah pameran di British Museum bertajuk “Babylon: Myth and Reality” yang berlangsung pada November 2008-Maret 2009, Menara Babel dihadirkan dalam pelbagai bentuk 
karya seni.

“[Pameran] Babylon menunjukkan bagaimana kekuatan abadi reputasi kota [Babilonia] dengan semua kekayaannya telah mengilhami karya seni dan imajinasi yang hebat,” tulis 
siaran pers pameran tersebut.

Jonathan Jones menulis di 
Guardian bahwa pameran itu menghadirkan Babilonia dalam benaknya sebagai tempat untuk menginspirasi mimpi, kota yang menakutkan sekaligus memesona.

Tentang Menara Babel yang hadir dalam sejumlah karya seni pada pameran tersebut, ia menyebutnya sebagai “menarik untuk melukiskan kisah terhebat yang pernah diceritakan tentang sebuah bangunan”.

Mengutip dari Alkitab, ia menerangkan, keturunan Nuh yang selamat setelah banjir besar memutuskan untuk membangun sebuah kota dan menara yang sangat tinggi, yang puncaknya mencapai “surga”.

Tuhan tidak senang, imbuhnya, karena jika orang dapat melakukan itu, “tidak ada yang dapat ditahan dari mereka”. Tuhan kemudian menghantam keangkuhan mereka, menceraiberaikan dan mengacaukan bahasa mereka.

“Kisah Menara Babel bersemayam di hati tentang bagaimana kita membayangkan arsitektur. Mitos ini melayang di tiap bangunan tinggi. Di balik semua kritik terhadap gedung pencakar langit, mengintai momok Babel, memukul keangkuhannya,” tulis Jones.

Kita belum tahu, apakah momok Babel juga akan memukul keangkuhan Burj Khalifa. (irf)




Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 4 Januari 2019

- Foto: otis.com

25 December 2019

A.S. Dharta dalam Kecamuk Revolusi, Asmara, dan Kemesuman Borjuis


A.S. Dharta adalah sastrawan romantis yang memilih jalur kiri. Pramoedya Ananta Toer menganggap Dharta sebagai guru politiknya.

Kepergian A.S. Dharta pada 7 Februari 2007, tepat hari ini 12 tahun silam, diikuti kisruh obituari tentang dirinya. Harian Pikiran Rakyat menjadi medan laga. Sepuluh hari setelah hayatnya tumpas, tulisan Ajip Rosidi muncul.

Menurut Ajip, tulisannya semula berjudul “A.S. Dharta 1923-2007”, tapi diubah redaksi Pikiran Rakyat menjadi “Akhir Hidup Pengarang Lekra”. Tulisannya dingin dan cenderung sinis. Ia secara terbuka menyatakan tidak hormat terhadap A.S. Dharta setelah kasus perselingkuhan yang membuat penyair asal Cibeber, Cianjur tersebut dipecat dari Konstituante dan Lekra.

Rasa tidak hormat itu, menurutnya, terutama dilandasi karena A.S. Dharta menyesali perbuatannya dan meminta ampun kepada partai agar ia diterima kembali menjadi kader.

“Saya sendiri sejak itu tidak bisa menaruh respek kepada Dharta,” tulisnya.

Tak hanya itu, Ajip pun mengisahkan sebuah fragmen saat dirinya bertemu dengan A.S. Dharta di Bandung pada akhir November 1965 atau sebulan setelah peristiwa G30S.

Ia dalam perjalanan pulang dari percetakan Ganaco di Jalan Gereja (sekarang Jalan Peristis Kemerdekaan), sementara A.S. Dharta selesai melapor dari kantor polisi di ujung utara Jalan Braga. Dalam pertemuan itu, imbuh Ajip, A.S. Dharta meminta uang kepadanya, tapi ia tolak.

“Dharta memang cenderung suka meminta uang kalau bertemu walaupun sebenarnya kami tidak begitu akrab,” terangnya.

Pada dua alinea terakhir, Ajip lagi-lagi menunjukkan ketidaksukaannya. Sebulan sebelum A.S. Dharta meninggal, anak penyair itu menelepon Ajip mengabarkan jika bapaknya yang tengah sakit keras ingin dijenguk olehnya. Namun, sampai ajal menjemput, keinginan tersebut tak dipenuhinya.

“[…] tapi dia (A.S. Dharta) sendiri sudah mulai pikun. Cibeber letaknya di luar jalur perjalanan saya sehingga kecil kemungkinan saya dapat memenuhinya. Saya tidak berani berjanji,” begitu alasannya.

Lalu ia pungkasi tulisannya dengan pertanyaan skeptis yang menghubungkan pilihan politik A.S. Dharta dengan alam setelah kematian. Ia menulis, “Tapi mungkin sebagai komunis dia tidak percaya akan adanya alam di balik kematian, sehingga dapatkah saya mengucapkan selamat jalan kepadanya?”

3 Maret 2007, di surat kabar yang sama, Martin Aleida—mantan wartawan Harian Rakjat—menanggapi tulisan itu. Ia menyayangkan Ajip Rosidi yang mengiringi kematian A.S. Dharta dengan tulisan yang menurutnya penuh caci maki.

“Tanpa diperiksa dengan seksama, sehina macam apakah Dharta sehingga dalam kematiannya ini sang istri, anak, dan cucu-cucunya yang belum kering airmata dukanya harus menanggung malu lewat kata-kata yang diumbar oleh budayawan kaliber internasional asal Jawa Barat itu?” tulis Martin.

Tujuh hari kemudian, giliran tulisan Budi Setiyono—editor buku kumpulan esai sastra A.S. Dharta yang bertajuk Kepada Seniman Universal (2010)—hadir ke hadapan pembaca Pikiran Rakyat.

Ia menitikberatkan kiprah A.S. Dharta sebagai sastrawan Sunda. Rachmatullah Ading Affandie—wartawan dan sastrawan Sunda—seperti dikutip Setiyono, menyebut A.S. Dharta sebagai salah satu sosok yang ikut mengembangkan bahasa dan sastra Sunda setelah perang. Ia disejajarkan dengan Achdiat Kartamihardja, Utuy Tatang Sontani, Rusman Sutiasumarga, Rustandi, dan Ajip Rosidi.

“Semestinya pembicaraan tentang karya dan sosok sastrawan Sunda inilah yang kita harapkan dari Ajip Rosidi, dalam pembicaraan soal ‘Akhir Hidup Pengarang Lekra’, sehingga akan lebih memperkaya bahasa dan kesusastraan Sunda,” tulisnya.

Dua “serangan” itu membuat Ajip Rosidi akhirnya menulis ulang. 7 April 2007 tulisannya muncul lagi di Pikiran Rakyat. Setelah menerima surat dari A. Makmur K., kerabat A.S. Dharta, yang mengabarkan bahwa saudaranya itu adalah orang beriman, Ajip kali ini mengakui kesilapannya dan menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga mendiang atas tulisan obituarinya yang pertama, yang memojokkan A.S. Dharta.

Meski demikian, pada permulaan tulisannya Ajip tetap menyodorkan satu pembelaan. Menurutnya, mengenang hidup orang yang telah meninggal tergantung kepada hubungan yang dikenang dengan yang mengenang.

“Setiap orang niscaya punya kenangan atau anggapan yang berlainan tentang seseorang,” imbuhnya.

Si Banyak Alias Didikan Digulis

A.S. Dharta lahir pada 7 Maret 1924. Nama kecilnya adalah Endang Rodji. Pada perjalanannya, nama itu bersulih menjadi Adi Sidharta, kemudian A.S. Dharta. Sebagai seorang penyair dan penulis, ia juga mempunyai sejumlah nama pena, yakni Klara Akustia, Kelana Asmara, Jogaswara, Barmara Putra, dan lain-lain.

Salah satu nama itu, yakni Kelana Asmara, menurut Ajip menunjukkan bahwa A.S. Dharta pada dasarnya adalah orang yang romantis. Nama tersebut sempat digunakan saat ia menulis sajak di majalah Gelombang Zaman yang berkantor di Garut, pimpinan Achdiat K. Mihardja dan Tatang Sastrawiria.

“Kita tahulah kira-kira orangnya bagaimana kalau menggunakan nama seperti itu. Entah Kelana yang mencari asmara, entah Asmara yang berkelana,” tulisnya.

Asrul Sani mengatakan, Klara Akustia diambil dari nama Hongaria. Namun, menurut Ajip pendapat itu keliru, sebab Klara adalah nama panggilan bagi istrinya yang melarikan diri bersama serdadu KNIL ke negeri Belanda. Sementara Akustia, tambahnya, adalah “Akus(e)tia” meski sang istri telah mengkhianatinya.

Keterangan Ajip tersebut agak berlainan dengan yang ditulis Budi Setiyono. Nama asli Klara adalah Aini, pelabuhan hati A.S. Dharta saat cinta remaja mulai mekar. Aini tak disebutkan sebagai istrinya. Dan saat api revolusi berkobar, Aini dikawin paksa oleh tentara Belanda. Artinya, Klara tidak berkhianat tapi karena terpaksa.

Dan nama Jogaswara—entah sesuai dengan alasan A.S. Dharta atau sebaliknya—Ajip melekatkannya dengan nama tokoh dalam kisah Mantri Jero karangan R. Memed Sastrahadiprawira. Ia menebak A.S. Dharta mengagumi Jogaswara yang merupakan ksatria muda yang jujur dan berpegang teguh pada kebenaran.

Menurut Asep Sambodja dalam Asep Sambodja Menulis tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-pengarang Lekra (2011), nama Jogaswara digunakan A.S. Dharta saat ia menulis esai yang penuh elan bertajuk “Angkatan 45 Sudah Mampus” di Spektra edisi Th. 1, No. 15, 27 Oktober 1949.

Budi Setiyono yang menjadi 
anak angkat keluarga A.S. Dharta menulis, pada usia enam tahun penyair ini ditinggal wafat oleh ibunya yang bernama Fatimah. Lalu Moh. Usman, ayahnya, menyusul kemudian. Kepergian kedua orang tuanya benar-benar memukulnya.

“Saya seolah terlempar ke neraka,” ujar A.S Dharta kepada Budi Setiyono.

Lebih lanjut ia mengabarkan, jiwa A.S. Dharta bergejolak ketika diangkat anak oleh Okayaman, seorang tokoh pergerakan yang dibuang ke Boven Digul. Ia juga sempat dididik Douwes Dekker saat sekolah di Nationaal Handele Lallegiun (NHL).

Pada masa revolusi, imbuh Setiyono, A.S. Dharta bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang beralamat di Menteng 31. Ia turut bertempur dalam pelbagai palagan. Ia juga aktif dalam sejumlah organisasi dengan memimpin Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, Serikat Buruh Batik, dan Serikat Buruh Pelabuhan.

Dalam beberapa esainya yang kemudian dihimpun menjadi buku Kepada Seniman Universal (2010), A.S. Dharta rajin menyeru para sastrawan untuk turut lebur dalam revolusi dan ikut mewarnai arah kehidupan masyarakat. Kata-katanya bergemuruh atau, meminjam ungkapan Wiji Thukul, “berkeringat dan berdesakan mencari jalan”.

Menurutnya, lewat kata-kata, sastrawan wajib berontak terhadap segala yang tak lurus dan menentang segala yang tak adil. Dalam esai bertajuk “Sastrawan di Tengah Api Revolusi” yang memakai nama Purwa Atmadja - Barisan Rakyat, ia menulis:

“[…] dalam detik-detik keadilan seakan sayup-redup membayang dihadang gelombang napas akhir imperealisme… dan kekuatan proletar mendidih-menyusun dalam kanal persatuan kekuatan raksasa, sastrawan turun dari ke-akua-annya, cair membanjir dalam kesadaran murba, serta bergumul memeras air mata jiwa di gelanggang kodratnya.”

“Sastrawan menegakkan tenaga raksasa di hati massa, menempa keyakinan granit di kalbu patriot, memelopori massa ke arah cita yang tinggi murni: bandar humanisme damai bahagia,” imbuhnya.

Maka saat peristiwa Madiun 1948 meletus, A.S. Dharta kecewa terhadap Angkatan 45 yang menurutnya tidak ikut menjadi bagian dalam gelombang sejarah itu. Lewat esai “Angkatan 45 Sudah Mampus”, ia menganggap angkatan itu telah usai dan akan segera berganti oleh angkatan baru yang lebih sempurna dan lebih kuat.

Saat Mochtar Lubis menulis artikel dalam Siasat edisi 4 Desember 1949 yang bertajuk “Hidup, Mati?” ia menanggapinya dalam Spektra edisi Th. 1 No. 27, 27 Februari 1950. Ia menerangkan beberapa poin tentang angkatan 45. Menurutnya angkatan tersebut bukanlah sebuah ideologi, melainkan mata rantai yang menyambungkan angkatan lama dan angkatan baru.

Kritik ia paparkan terhadap angkatan tersebut yang menurutnya terlampau terlena dengan cinta abstrak. Pergerakannya semu dan hanya akan mengklaim apa yang diperjuangkan oleh rakyat dan pemuda progresif.

“Dalam tubuh Angkatan 45 merajalela anasir kelas pertengahan. Mereka senang semboyan-semboyan hampa, asal menggetarkan rasa. Mereka senang dan dengan penuh elan berjuang di tengah massa, selama kelihatan tenaga massa dapat menyelamatkan kepentingan mereka,” tulisnya.

Kenyataan itu membuat A.S. Dharta mengajukan hal baru: “dari agitasi ke organisasi, dari elan keinginan ke energi pelaksanaan”.

Dan enam belas hari sebelum tulisannya itu terbit, dengan memakai nama pena Jogaswara, ia terlebih dahulu menulis sebuah sajak yang ditujukan kepada Chairil Anwar, sosok yang menjadi simbol Angkatan 45:

“Dan engkau mengamuk/berani menghantam, gempur segala/asal ngamuk, asal pukul/pukul! pukul! pukul!/jangan tanya karena apa, untuk apa…

Ach, Chairil!/Mengamuk semata untuk ngamuk/sama dengan mereka peminum candu: Nol Besar!”

Guru Pram yang Terjerat Kemesuman Borjuis

Sekali waktu di bulan Agustus 2001, seperti dituturkan Koesalah Soebagyo Toer dalam Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali (2006), Pramoedya Ananta Toer dan sejumlah kawannya menghadiri undangan Ajip Rosidi di rumahnya di kawasan Rawa Bambu, Pasar Minggu. Acara itu dimaksudkan untuk menyambut kedatangan kawan mereka, yakni Sobron Aidit.

Selesai makan, mereka berbincang. Saat asyik mengisap rokok, Pram tiba-tiba dikejutkan oleh perkataan tuan rumah.

“Pram, aku kecewa sekali. Dalam buku Nyanyi Sunyi itu kau kagumi A.S. Dharta,” ucap Ajip.

“Kemudian aku kecewa sekali!” jawab Pram spontan.

“Semua guru saya mengecewakan saya: A.S. Dharta, H.B. Jassin, Pak Said!” imbuhnya.

“Kalau aku, dari semula nggak bisa menghargai Dharta,” ucap Ajip sambil tertawa.

“Ya, Dharta itu yang narik-narik saya ke politik. Waktu itu saya kan nggak tahu apa-apa. Dia itu yang ngajak-ngajak,” sahut Pram.

Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu Jilid 1 (2000), Pram memang menceritakan A.S. Dharta kepada anaknya, Titiek, dalam sebuah surat. Setelah menikah dengan Maemunah Thamrin, pengantin baru itu tak diperbolehkan keluar rumah selama dua minggu. Sementara ia tak punya uang.

“Dan bagiku sendiri merupakan hari-hari yang sangat berat. Padaku sama sekali tidak ada uang. Dan aku malu setengah mati menumpang seperti itu. Dalam waktu semacam itu A.S. Dharta datang menyerahkan buku Mother Gorki,” tulisnya.

“Kau tak ada keberatan toh, menerjemahkan ini?” ucap A.S. Dharta kepadanya.
Pram pun menyanggupinya dan akhirnya mempunyai uang. Setelah pindah ke sebuah rumah petak yang butut, yang terletak pada tanah yang miring di dekat sawah, kawan-kawannya menjadi sering berkunjung, terutama A.S. Dharta.

Episode hidup ini Pram ceritakan juga dalam “Sunyisenyap di Siang Hidup”, sebuah cerita cukup panjang yang dihimpun dalam Menggelinding 1 (2004).

Pram menambahkan, A.S. Dharta banyak membicarakan sejumlah soal yang sebelumnya tak terpikirkan olehnya, sehingga ia mempunyai pandangan baru dalam bidang seni dan sastra.

“Dia yang menerangkan: tidak ada sesuatu bisa terlepas dari persoalan politik. Dengan kata-katanya yang bersemangat disertai hujan tampias dari mulutnya aku dengarkan dia dengan cermat. Aku tak tahu sesuatu tentang politik sebagaimana aku sangka semula,” terangnya.

Entah bagaimana mula kekecewaannya kepada A.S. Dharta, gurunya itu, yang jelas sang guru pernah terpeleset dalam kasus perselingkuhan yang akhirnya membuat ia dipecat dari Konstituante dan Lembaga Kebudayaan Rakyat, di mana ia sebagai pendiri sekaligus sekjen. Dalam autokritiknya, A.S. Dharta menyebut kasus itu dengan istilah “kemesuman borjuis”.

Selain dirinya, kasus serupa juga menjerat S. Sudjojono, pelukis yang juga anggota Konstituante. Berbeda dengan dirinya yang meminta kembali ke partai, S. Sudjojono dalam autobiografinya, Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya (2017), justru memilih keluar dari partai.

“Cinta saya pada Rose (kekasihnya) tidak bisa diputuskan, sebab saya tidak mau jadi orang munafik dan terus-terusan berzinah […] Saya minta keluar, dan mereka boleh mengumumkan: Saya dipecat. Itu terjadi tahun 1958, saya keluar dari partai, dari parlemen, dan dari Lekra. Karier saya sebagai politikus berakhir, saya komplet sepenuhnya bisa melukis,” tulisnya.

Saat gempa politik 1965 berguncang, A.S. Dharta ditahan di penjara Kebonwaru, Bandung dan baru dibebaskan pada 1978. Orde Baru membatasi aktivitasnya. Dalam hari-hari penuh pengawasan dan stigma, ia menyusun kamus Sunda-Inggris di kampung halamannya di Cibeber, Cianjur, yang sayangnya tak sempat diselesaikan sampai ia pergi untuk selama-lamanya.

Rosihan Anwar, wartawan yang mengaku tidak mengenal A.S. Dharta secara pribadi, menulis dalam Sejarah Kecil Indonesia Jilid 3 (2009), “The time of great passion is over, zaman bergairah dan bersyahwat besar sudah lewat. Selamat jalan, penyair!” (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 7 Februari 2019

- Foto: sejarahsosial.org

23 December 2019

Keluarga Cemara dan Novel Arswendo tentang Kebobrokan Keluarga


Selain Keluarga Cemara, Arswendo menulis cerita tentang keluarga dengan plot, situasi, dan konflik yang berbeda-beda.

Film Keluarga Cemara tayang mulai 3 Januari 2019. Kisah yang diangkat dari buku karangan Arswendo Atmowiloto (selanjutnya di tulis Arswendo) ini mula-mula terbit pada 1981. Pertengahan 1990-an sampai medio 2000-an, cerita ini pernah hadir dalam bentuk sinetron. Belakangan, sebuah stasiun televisi nasional kembali menayangkannya.

Kehidupan Abah dan keluarganya di pelosok Sukabumi banyak menginspirasi pemirsa. Kejujuran, kerja keras, dan keceriaan seakan-akan jadi penawar kesusahan mereka dalam menjalani hidup yang pas-pasan.

Tak heran jika lagu tema, baik sinetron maupun filmnya, menyebut keluarga sebagai harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling bermakna, dan mutiara tiada tara.

Kisah Keluarga Cemara barangkali mewakili definisi keluarga seperti yang pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Menggelinding 1 (2004): “Lembaga yang menjadi pangkal. Mula kehidupan manusia. Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan istri mendapat atau tidak mendapat kebahagiaan”.

Di luar kekurangan harta benda, kehidupan Keluarga Cemara banyak disebut sebagai contoh keluarga Indonesia yang ideal. Namun, tentu saja dalam kehidupan nyata, tak semua keluarga tumbuh seperti Keluarga Cemara.

Tak Cuma soal Keluarga Harmonis

Sebagai salah satu pengarang produktif, Arswendo sejatinya tak hanya menulis tentang keluarga utuh dan harmonis. Ia juga berkisah tentang pola kehidupan keluarga yang berbeda, dengan tantangan yang beragam.

Dua Ibu misalnya. Buku yang pertama kali terbit pada 1980 ini menceritakan tentang pasangan suami istri yang menampung anak-anak dari keluarga lain. Sang istri oleh anak-anak asuhnya dipanggil “Ibu”.

Ibu membesarkan dan merawat anak-anak. Namun, saat mereka dewasa, tak jarang ada yang diambil oleh orang tua kandungnya, atau diambil sebagai istri orang. Bahkan Ibu sempat dituduh tidak mau melepaskan seorang anak, saat orang tua kandungnya datang untuk mengambilnya.

Adam, anak itu, memilih tetap tinggal bersama Ibu. “Saya akan buktikan bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan Ibu. Sampai Ibu mati, saya akan tetap bersama Ibu. Kalau tak ada orang lain, saya yang akan menguburkan Ibu,” kata Adam.

Hal serupa diucapkan juga oleh Mamid, anak asuhnya yang lain, “Kalau mungkin aku ingin kawin dengan Ibu. Padanya aku tak pernah sangsi bahwa aku mencintainya, dan padanya aku tak pernah sangsi bahwa ia mencintaiku.”

Meski kisah ini menghamparkan kasih sayang antara Ibu dan anak-anaknya, ada kenyataan lain yang tak bisa ditutupi. Anak-anak yang ditelantarkan orang tua kandungnya, juga ibu yang harus rela kehilangan anak-anak asuhnya satu persatu. Kasih sayang tumbuh justru di tengah renggangnya ikatan keluarga sebagai lembaga resmi.

Sementara dalam Projo dan Brojo yang mula-mula terbit pada 1994, Arswendo menulis kehidupan keluarga dengan begitu rumit. Projo hidup dalam penjara karena terjerat kasus hukum. Sementara Brojo menuju belangsak karena kehilangan pekerjaan.

Meski bukan saudara kandung, wajah mereka mirip. Sangat mirip. Atas peran seorang kepercayaan Projo, Brojo mau berganti peran dengan Projo karena sejumlah uang. Brojo tinggal di penjara, dan Projo bebas di luar.

Masalah timbul karena mereka berdua harus berhadapan dengan orang-orang yang selama ini dekat dengan orang yang mereka gantikan. Brojo menghadapi kekasih gelap Projo, dan Projo menghadapi istri Brojo.

Di luar penjara, Projo mendapati Lil, istrinya, ternyata berselingkuh dengan orang kepercayaannya yang menolong dia untuk bertukar peran dengan Brojo.

Kejadian perselingkuhan ini, juga karena ia tinggal bersama Wisuni, istri Brojo—Wisuni tahu Brojo berganti peran dengan Projo—membuatnya perlahan mulai merasakan kedamaian, dan bisa menerima apa yang terjadi selama ini dalam hidupnya. Projo pun kembali ke penjara.

Rumitnya kehidupan keluarga juga hadir dalam 3 Cinta 1 Pria (2008). Kali ini Arswendo menghadirkan seorang lelaki yang dicintai oleh tiga orang perempuan beda generasi. Bong namanya. Mula-mula ia jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Keka.

Namun, Bong tak kunjung menikahinya. Keka kemudian menikah dengan laki-laki lain dan mempunyai anak perempuan bernama Keka atau Keka Kecil.

Keka Kecil ternyata jatuh hati juga kepada Bong. Dan lagi-lagi Keka Kecil pun menikah dengan laki-laki lain serta mempunyai anak perempuan bernama Keka Siang.

Keka Siang sebagai generasi ketiga juga jatuh cinta kepada Bong. Sehingga ada tiga Keka dalam hidup Bong yang semuanya mencintainya.



Tak Selamanya "Baik-Baik Saja"

Kisah-kisah keluarga yang ditulis Arswendo di luar Keluarga Cemara memperlihatkan kenyataan atau kemungkinan lain yang terjadi dalam kehidupan. Keluarga dalam ikatan resmi tak selamanya kokoh dan tampil manis. Ada hubungan dan ikatan lain yang mampu menguarkan kasih sayang.

Kasih sayang dari ibu angkat dalam Dua Ibu bisa jadi masih dianggap wajar. Namun, dalam Projo & Brojo, kasih sayang dan kesadaran hidup justru datang dari hubungan yang awalnya direkayasa.

Sementara dalam 3 Cinta 1 Pria, kasih sayang yang tampil justru dalam hubungan-hubungan normal, tapi dilatari riwayat yang di luar kebiasaan. Kisah ini jauh meninggalkan segala hal normatif seperti yang tersaji dalam Keluarga Cemara.

Kisah-kisah keluarga yang tumbuh di luar pandangan normatif ala Arswendo bukan untuk menggugat lembaga pernikahan. Namun, mereka hadir sebagai pandangan alternatif tentang kehidupan keluarga yang tidak selamanya “baik-baik saja”.

Lagi pula, pembaca pun tentu tahu belaka bahwa Keluarga Cemara hanyalah sebuah contoh manis. Di luar itu, kisah keluarga adalah sejumlah bianglala, peristiwa beraneka rasa, yang mau tak mau—seperti ditulis Arswendo—mesti dihadapi. (irf)




Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 4 Januari 2019

- Foto: 

22 December 2019

Idrus: dari Berak ke Kangkung ke Jalan Lain ke Australia


Si pandai kata.
Cari jalan berbeda
menuju Roma.

“Aku ini pengagum Idrus. Di Bukitduri tulisan Idrus aku pelajari: kata demi kata!” ujar Pramoedya Ananta Toer.

Pengarang itu dijebloskan Belanda ke penjara Bukitduri pada tahun 1947, dan baru keluar dua tahun kemudian. Setelah bebas, ia sempat berkunjung ke Balai Pustaka dan memperkenalkan dirinya kepada empat orang, salah satunya Idrus.

Saat bersalaman dengan Idrus, meluncurlah sederet kalimat lancang yang kelak terkenang terus oleh Pram, “O, ini yang namanya Pramoedya? Pram, kau itu bukan nulis, tapi berak!”

Koesalah Soebagyo Toer dalam Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali (2006) menerangkan bahwa Pram memang terkenang terus dengan kata-kata Idrus itu. Dengan wajah menunjukkan kesakitan, Pram berkata kepada adiknya, “Idrus, itu! Orang Balai Pustaka! Orang yang aku kagumi! Memang orang-orang itu cuma mau ngecilin aku,” ujar Pram (hlm. 136-137).

Sekali waktu, seperti diceritakan Ajip Rosidi dalam Hidup Tanpa Ijazah (2008), Idrus diundang untuk berceramah di Taman Ismail Marzuki. Dan lagi-lagi, dalam ceramahnya Idrus mengejek Pram yang menangis ketika ayahnya meninggal dalam roman Bukan Pasar Malam (1950).

Menanggapi ejekan Idrus, Bung Tomo yang juga hadir dalam ceramah itu mengatakan, “Saudara Idrus orang Minang karena itu tidak akan merasakan bagaimana hubungan anak dengan ayah seperti kami orang Jawa, karena orang Minang sejak kecil hanya tahu ibu saja!” (hlm. 579).

Abdullah Idrus dilahirkan di Padang, pada 21 September 1921. Ia memiliki seorang adik bernama Enar Abdullah. Abdullah dan Enar kecil mengenyam pendidikan dasar di HIS (Hollandsch Inlandsche School) Kayutanam. Kedua orangtua mereka meninggal dunia saat Abdullah masih kecil. Walhasil, Abdullah dan Enar diasuh oleh keluarga bibi dari ibunya. Mereka menyekolahkan Idrus hingga tingkat menengah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang.

Begitu lulus dari MULO, Idrus pergi ke Jakarta, melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah atas di AMS (Algemeene Middelbare School) pada 1943. Selepas dari AMS, Idrus masuk ke Rechthoogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum, tapi tidak selesai. Selama sekolah di Jakarta, ia tinggal di rumah pamannya.

Idrus banyak menulis cerpen sejak duduk di bangku sekolah menengah. Ia juga kerap membaca roman para pengarang Eropa yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah.

Setelah berhenti sekolah, ia bekerja di Balai Pustaka. Di perusahaan penerbitan itu ia bisa mengakses berbagai bacaan sastra dan punya kesempatan untuk bergaul dan bertukar pikiran dengan para penulis serta pemerhati sastra, seperti Sutan Takdir Alisjahbana, H.B. Jassin, Anas Makruf, Kusuma Sutan Pamuncak, dan Nur Sutan Iskandar.

Pada zaman pendudukan Jepang, Idrus sempat pindah kerja ke Pusat Oesaha Sandiwara Djepang (POSD) karena gaji yang didapatnya dari Balai Pustaka terlampau kecil. Namun, setelah Jepang hengkang dan revolusi mengganas, ketimbang nganggur ia kembali ke Balai Pustaka. Hingga tibalah agresi militer pertama Belanda. Karena Balai Pustaka diserbu, para pegawai dan pengarang pun menganggur, termasuk Idrus.

Pengarang yang dikagumi Pram ini sempat menghebohkan lapangan sastra dan situasi revolusi dengan menulis Surabaya (1946). Alih-alih memuja dan mengaminkan kepahlawanan pertempuran Surabaya, Idrus malah menelanjangi kecamuk perang yang menghamparkan kebrengsekan dan jingoisme, seperti para pemuda yang menemukan Tuhan baru berupa bom, mitraliur, dan mortir. Mereka doyan menembakkan senapan ke udara dalam mabuk kemenangan.

Penghidupan Baru

“Orangnya agak pendek, dengan rambut kejur. Cakap berbicara seperti umumnya orang Minang,” tulis Ajip Rosidi menggambarkan Idrus.

Saat menjadi redaktur majalah Kisah pada tahun 1950-an, Idrus tinggal di sebuah gang di daerah Kebonkosong, tak jauh dari Jalan Paseban. Ia dikenal sebagai pelopor Angkatan ’45 di bidang prosa seperti Chairil Anwar di bidang puisi.

Selain Surabaya (1946), karya-karyanya yang lain seperti Aki (1944) dan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948) cukup populer. Ia kerap tampil dalam ceramah-ceramah tentang sastra. Ajip pertama kali melihat Idrus ketika menghadiri salah satu ceramahnya yang diselenggarakan di Jalan Merdeka Selatan.

Sebagai seorang peminat sastra, Ajip sempat membaca dengan teliti kupasan Idrus tentang cerita pendek terjemahan yang dimuat di majalah Kisah. Kiranya karya Idrus, termasuk tulisan-tulisan lepasnya, memang mengundang banyak orang untuk menelitinya lebih jauh.

Sejumlah karya, ceramah, dan bekerja sebagai redaktur malajah Kisah bersama H.B. Jassin dan M. Balfas, membuat posisi Idrus di lapangan sastra Indonesia begitu mapan. Namun, semua itu ternyata tak membuatnya tenang, ia malah pergi meninggalkan Indonesia.

“Hidup sebagai sastrawan di Indonesia tidak menjanjikan apa-apa,” ujar Idrus kepada Ajip Rosidi dan SM Ardan saat mereka berkunjung ke rumahnya.

Seperti dikutip Ajip, Idrus menambahkan bahwa ia hendak mencari uang dulu. Jika sudah kaya barulah ia akan kembali menulis karya sastra. Awal tahun 1960-an, Idrus hijrah ke Malaysia dan bekerja selama enam bulan di sebuah stasiun radio.

Dalam mini biografi yang terlampir di buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma terbitan tahun 2010, selain kondisi keuangan, alasan Idrus pindah ke Malaysia adalah karena situasi politik di Indonesia tengah memanas. Kubu kiri dominan dan dekat dengan kekuasaan.

Di lapangan kebudayaan, Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) tampil garang dan mengibarkan sikap permusuhan terhadap orang-orang yang dianggap lawan politik, termasuk Idrus yang dicap sebagai pengarang kontra-revolusioner.

Para Pengarang Kurang Uang

Salah satu alasan Idrus meninggalkan tanah air dan mengadu nasib di Malaysia pada awal 1960an adalah anggapan pribadinya bahwa sastrawan atau pengarang di Indonesia adalah profesi suram, alias kurang menghasilkan duit dan minim penghargaan. Benarkah demikian?

Pramoedya Ananta Toer sempat menulis dalam majalah Star Weekly, edisi 12 Januari 1957 yang bertajuk “Keadaan Sosial Para Pengarang Indonesia”. Menurut Pram, pada umumnya keadaan sosial para pengarang Indonesia belum memuaskan.

Meski minat baca meningkat dibandingkan dengan masa penjajahan, tapi daya beli masyarakat terhadap buku masih rendah. Kondisi ini membuat para penerbit lebih suka mencetak buku-buku pelajaran yang permintaannya jauh lebih tinggi dibanding buku bacaan umum.

Selain itu, Pram juga menuduh bahwa buku-buku kesusastraan tidak laku karena terdesak buku-buku cabul dan penuh sensasi. Meski harganya relatif lebih mahal dari buku bacaan lain, buku-buku ini laku keras sehingga menjadi perhatian para penerbit.

Buku-buku tersebut bukannya tanpa risiko. Polisi sering mengadakan operasi untuk menyita bacaan-bacaan cabul dan penuh sensasi itu. Namun para penerbit tak gentar, mereka tetap ulet memasarkannya.

“Mereka ini menginsafi, bahwa sitaan polisi bukanlah suatu tindakan yang prinsipil, tetapi hanya insidental semata,” tambah Pram.

Hal terakhir yang menurut Pram menekan mendesak kondisi para pengarang Indonesia adalah karena penghargaan tidak sebanding dengan penghasilan. Seperti di negara-negara lain, penghargaan terhadap pengarang di Indonesia cukup baik. Namun jika dilihat penghasilannya, karya-karyanya tidak bisa menghidupi diri dan keluarganya secara layak.

Menurut Pram, rata-rata buku sastra baru terjual tandas dalam waktu yang panjang, yaitu 5 tahun. Sementara jika menulis di sejumlah media, honor yang tidak besar mesti dipotong pajak dan tak mungkin dimuat dalam setiap nomor. Apalagi beberapa media hanya terbit sebulan sekali.

Kondisi ini, tambah Pram, akan membuat seorang penulis cerpen yang 10 karyanya dimuat tiap bulan pun, honornya hanya akan cukup untuk sekadar makan.

“Sedang kenyataan membuktikan, bahwa untuk memelihara tenaga menulis ini bukan hanya makan minum saja dibutuhkan, tetapi juga perjalanan-perjalanan tamasya, studi yang membutuhkan banyak buku (sedang buku begitu mahal harganya), dan peralatan teknis seperti kertas, karbon, mesin tulis yang tidak sedikit memakan biaya,” tulisnya.

Para Pengarang Kurang Uang

Selesai kerja di Malaysia, Idrus pindah ke Australia dan mengajar di Monash University. Warsa 1974, tepatnya bulan Maret, dalam sebuah lawatan ke Australia, Ajip Rosidi sempat diundang oleh Idrus untuk singgah ke rumahnya.

Kepada pengarang asal Jatiwangi itu Idrus dengan bangga bercerita bahwa ia berhasil menyelundupkan ikan asin dan bibit kangkung. Pihak bea cukai Australia yang terkenal amat ketat berhasil ia kelabui. Bibit kangkung itu ia tanam di pekarangan rumahnya dan tumbuh dengan baik. Saat Ajip mengunjunginya, ikan asin dan kangkung itulah yang disuguhkan kepada Ajip.

“Dengan bangga pula dia mempersilakan aku makan ikan asin dan tumis kangkung yang dia selundupkan dengan lihai itu. Tetapi di Jakarta aku hampir setiap hari makan ikan asin dan tumis kangkung!” gerutu Ajip.

Baik saat di Malaysia maupun waktu di Australia, Idrus menulis lagi beberapa karya sastra, di antaranya Dengan Mata Terbuka (1961) dan Hati Nurani Manusia (1963). Namun, hingga ia meninggal pada 18 Mei 1979, tepat hari ini 39 tahun lalu, mutu karya-karyanya tidak ada yang melampaui era sebelumnya. (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 18 Mei 2018

- Foto: Wikipedia

19 December 2019

Ahmadiyah: Kontroversi Imam Mahdi dan Korban Persekusi



Kaum Ahmadi

Menjadi pengungsi

di tanah sendiri.

Di Qadian, di sebuah desa kecil di distrik Gurdaspur, Punjab, India, Mirza Ghulam Ahmad lahir pada tanggal 13 Februari 1835.

Nama “Qadian”, yang terletak sekitar 100 km di sebelah timur laut kota Lahore, berasal dari leluhur Ghulam Ahmad bernama Mirza Hadi Beg yang diangkat menjadi qadhi (hakim) oleh pemerintahan pusat Delhi. Karena kedudukan Beg sebagai qadhi, disebutlah tempat itu “Islampur Qadhi”. Pada perjalanannya, kata “Islampur” hilang dan hanya menyisakan “Qadhi”. Logat masyarakat setempat menyebut Qadhi dengan Qadi atau Qadian.

Asep Burhanudin—mantan Wakil Ketua II Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia, dalam Ghulam Ahmad, Jihad Tanpa Kekerasan (2005), menerangkan bahwa Ghulam Ahmad tidak mendapatkan pendidikan formal semasa hidupnya. Pada usia 6-7 tahun, ia dididik di rumah. Ayahnya memanggil seorang guru yang bernama Fazal Ilahi untuk mengajarkan Al Quran dan kitab-kitab bahasa Parsi.

Setelah itu ia belajar pada Fazal Ahmad yang mengajarkan kitab-kitab nahwu-sharaf, lalu pada Gul Ali Syah yang mengajarinya kitab-kitab nahwu dan manthiq. Kendati tak mendapat pelajaran di luar itu, Ghulam Ahmad gemar membaca dan mempelajari berbagai buku di perpustakaan ayahnya. Dari ayahnya pula ia belajar ilmu pengobatan.

“Sedangkan ilmu ketabiban ia dapatkan dari ayahnya sendiri yang saat itu dikenal sebagai seorang tabib yang sangat mahir dan pandai,” tulis Asep (hlm. 34).

Pada usia 29 tahun, Ghulam Ahmad bekerja sebagai pegawai negeri pada pemerintahan Inggris di kantor Bupai Sialkot. Empat tahun kemudian sang ayah memintanya pulang kampung ke Qadian untuk bertani. Menurut catatan Asep Burhanudin, Ghulam Ahmad merasa tidak cocok jadi petani. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari Al Quran dan menyepi.

“Tahun 1875, Ghulam Ahmad mengadakan mujahadah atau menjalani disiplin asketis dengan melakukan puasa selama 6 bulan berturut-turut,” tambah Asep (hlm. 34).

Dalam Satu Dekade Rumpun Terasing: Narasi Identitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (2016), Nurhikmah menuturkan bahwa pada 1876 Ghulam Ahmad mengaku mendapat ilham persis ketika ayahnya sakit keras. Waktu itu usia Ghulam Ahmad 40 tahun.

“Persumpahan demi langit yang merupakan sumber takdir, dan demi peristiwa yang akan terjadi setelah tenggelamnya matahari pada hari ini,” demikian ilham tersebut berawal.

Tak lama setelah menerima ilham, ayahnya meninggal tepat sesudah magrib. Kepergian sang ayah membuatnya sedih dan gelisah. Nurhikmah menambahkan, kesedihan Ghulam Ahmad kemudian terobati oleh datangnya ilham kedua.

“Dari ilham ini hati saya menjadi teguh, bagai luka parah yang tiba-tiba menjadi sembuh dan pulih karena suatu obat…,” ujar Ghulam Ahmad.

Kabar tentang penerimaan ilham itu kemudian menyebar di kalangan umat Islam dan mendorong sebagian dari mereka meminta Ghulam agar jadi pemimpin mereka. Mulanya Ghulam Ahmad menolak permintaaan itu, dengan alasan karena ia belum menerima mandat dari Allah. Baru pada 23 Maret 1889, tepat hari ini 129 tahun lalu, ia membaiat 40 orang di Ludhiana, India.

Hal yang paling menggemparkan adalah saat Ghulam Ahmad mengaku sebagai Imam Mahdi dan Almasih yang kehadirannya telah dijanjikan Tuhan. Menurutnya, Nabi Isa tidak akan turun ke dunia karena telah wafat. Ghulam Ahmad pun mengatakan bahwa Isa dimakamkan di Kashmir.

Selain itu, oleh para pengikutnya Ghulam Ahmad diusung sebagai Khalifah pertama Ahmadiyah.

Dalam Gerakan Ahmadiyah di Indonesia (2005) karya Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain, komunitas Ahmadiyah percaya bahwa Nabi Isa tidak wafat di kayu salib. Setelah bangkit, Isa hijrah ke Kashmir untuk mengabarkan Injil. Di tempat inilah, menurut jemaat Ahmadiyah, Nabi Isa meninggal dalam usia lebih dari 120 tahun dan dimakamkan di Srinagar.

“Pendakwaan mengenai dirinya mulai diumumkan melalui selebaran dan dinyatakan secara eksplisit melalui karya-karyanya, yaitu Fateh Islam, Tauzih Maram, dan Izalah Auham yang terbit pada 1890-1891,” tulis Nurhikmah (hlm. 31).

Pengakuan Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi inilah yang kemudian menjadi doktrin bagi Jamaah Ahmadiyah, sekaligus membedakan Ahmadiyah dari ajaran Islam arus utama yang mengakui bahwa Isa belum wafat dan akan turun nanti pada hari yang dijanjikan.

Pada perkembangannya Ahmadiyah terbagi dua, yaitu aliran 
Qadian yang menganggap Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi, dan aliran Lahore yang menganggap Ghulam Ahmad sebagai mujaddid (pembaharu). Namun Ahmadiyah di Indonesia kadung dianggap sebagai jemaah di luar Islam yang sesat dan menyesatkan sehingga perbedaan dua aliran tersebut kerap diabaikan. (Fatwa MUI dalam Musyawarah Nasional II tanggal 11-17 Rajab 1400 H/26 Mei-1 Juni 1980 M, di Jakarta).


Ahmadiyah Masuk Nusantara

Atas anjuran dua ulama besar dari Minangkabau Zainuddin Labai El Yunusyiyah dan Syekh Ibrahim Musa Parabek, Abu Bakar Ayyub dan Ahmad Nuruddin, dua anak muda dari Perguruan Tinggi Sumatra Thawalib, pergi menuntut ilmu ke India pada 1922.

Mereka menuju kota Lucknow, India, dan bertemu dengan ulama bernama Abdul Bari Al-Anshari. Di sana mereka juga berjumla dengan Zaini Dahlan yang menyusul dari Padang Panjang. Dari kota itu mereka kemudian lanjut ke Lahore dan berkenalan dengan ajaran Ahmadiyah aliran Lahore.

Perjalanan ketiga orang itu dilanjutkan ke Qadian. Setelah bertemu Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, putra Mirza Ghulam Ahmad, mereka pun masuk Madrasah Ahmadiyah, kemudian Jamiah Ahmadiyah, dan akhirnya menjadi Jemaat Ahmadiyah.

Pada 1924, mahasiswa Indonesia yang tinggal di Qadian meningkat berkat informasi dari ketiga anak muda yang belajar di kota tersebut. Pada tahun itu, sebanyak 19 orang mahasiswa asal Indonesia meminta Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad sebagai Khalifah ke-2 untuk berkunjung ke Indonesia.

Sang Khalifah ke-2 pun mengutus Maulana Rahmat Ali ke Indonesia menyebarkan ajaran Ahmadiyah, khususnya di Sumatra dan Jawa. Pada 1925, Maulana Rahmat Ali berlayar ke Indonesia melalui Penang, Medan, dan Sabang. Menurut Nurhikmah, Maulana Rahmat Ali mendapat kesulitan di Sabang dan sempat ditahan selama 15 hari oleh polisi kolonial. Kapal yang ia tumpangi akhirnya mendarat di Tapaktuan, kota kecil di pesisir barat Aceh pada 2 Oktober 1925.

“Ketika Maulana Rahmat Ali tiba di pantai Tapaktuan, beliau disambut ratusan penduduk yang menunggu kedatangan utusan Imam Mahdi. Selaku juru bahasa Arab adalah pemuda Abdul Wahid. Walaupun Rahmat Ali belum menguasai bahasa dan adat istiadat setempat, namun berkat sifat ramah-tamah, mudah bergaul dengan setiap orang, di samping berilmu, pandai bersenda gurau, sifat pemberani, beliau mudah diterima orang,” tulis laman 
ahmadiyah.id.

Namun menurut menurut catatan Nurhikmah dalam Satu Dekade Rumpun Terasing: Narasi Identitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (2016), hanya itu baru permulaan saja. Sebab, setelah tahu bahwa yang pokok ajaran Maulana Rahmat Ali bertentangan dengan Islam, mayoritas masyarakat Muslim Tapaktuan menolaknya. Dari Tapaktuan, ajaran Ahmadiyah menyebar ke berbagai daerah di Nusantara sampai hari ini.


Persekusi Terhadap Jemaah Ahmadiyah

Karena ajarannya dianggap bertentangan dengan Islam, Jemaah Ahmadiyah di Indonesia yang notabene minoritas kerap dipersekusi. Misalnya seperti yang terjadi di Cikeusik, pandeglang, Banten pada 6 Februari 2016. Dilansir dari tempo.co, Persekusi tersebut menewaskan tiga penganut Ahmadiyah dan melukai lima lainnya.

Persekusi juga di Bayan, Lombok Timur, pada 1999. Masjid milik Jemaah Ahmadiyah dibakar warga dan mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Pada 2006 di Ketapang, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Jemaah Ahmadiyah menjadi korban perusakan dan pembakaran rumah. 
Mereka pun diusir dari tempat tinggalnya.

Pada 23 Mei 2016, masjid Ahmadiyah di Desa Purworejo, Kendal, dirusak warga. 
Masjid yang masih dalam tahap pembangunan ini dindingnya dijebol sehingga barang-barang di dalamnya berserakan. Waktu itu, warga mengecam Ahmadiyah sebagai sekte sesat menolak pembangunan masjid tersebut.

Menyikapi beberapa kasus persekusi terhadap Jemaah Ahmadiyah, pada 2008 pemerintah mengeluarkan 
Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri yang salah satu isinya melarang Jemaah Ahmadiyah menyebarkan penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam.

Dalam pembuka buku Satu Dekade Rumpun Terasing: Narasi Identitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (2016), Syahidin, Jemaah Ahmadiyah asal Lombok menulis:

“Kami hanya ingin hidup tenang dengan kebebasan yang sama seperti diberikan kepada warga negara lainnya. Kami memiliki keinginan untuk bisa menghuni tempat yang nyaman dan hidup tenang. Lebih-lebih kami ini semua tidak ada yang pendatang, semuanya warga Lombok, orang Sasak semua. Kami pengungsi paling lama di Indonesia dan di Lombok, pengungsi di tanah sendiri.” (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 23 Maret 2018

- Foto: Wikipedia

17 December 2019

Preangerstelsel: Kala Kopi Menjadi Sumber Bencana



Saat penanaman kopi di dataran tinggi Priangan membuahkan hasil yang baik, VOC segera memberlakukan Preangerstelsel atau Sistem Priangan dan menjadi pemasok kopi terbesar di dunia.

Sejarah kopi di Nusantara bermula saat Jenderal Adrian van Ommen membawa bibit kopi pada 1696 dari Malabar, pantai barat daya India. Gubernur Jenderal VOC Joan (Johan) van Hoorn kemudian bereksperimen menanamnya di pedesaan dekat Batavia yang sekarang bernama Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Van Hoorn barangkali tak pernah menyangka jika percobaannya yang sekadar kesenangan, akan menjadi sumber bencana bagi penduduk Jawa, khususnya Priangan, lewat revolusi ekonomi dan sosial yang sangat mencekik.

Tahun 1707, Van Hoorn membagikan bibit kopi kepada para kepala daerah pribumi di sepanjang pantai Batavia sampai Cirebon. Ternyata di dataran rendah percobaan itu tidak terlalu berkembang.

Penanaman lalu dialihkan ke dataran yang lebih tinggi, yakni ke perbukitan di Karawang. Setelah itu, mulai menyebar ke daerah yang lebih tinggi lainnya di daerah Priangan, dan hasilnya jauh lebih baik.

Bupati Cianjur, Arya Wiratana, mulai menyetor untuk pertama kalinya hampir lima puluh kilogram atau sekitar seratus pon kopi ke gudang VOC pada 1711. Ia memperoleh harga sebesar 50 gulden per pikul, dengan catatan bahwa saat itu 1 pikul sama dengan 125 pon.

“[Harga yang] cukup lumayan, meskipun sangat sedikit dibanding dengan harga yang tercatat di pasar Belanda,” tulis Jan Breman dalam Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa (2014).

Penanaman kopi di Priangan yang menunjukkan hasil cukup memuaskan, membuat VOC keranjingan. Mulai tahun 1720, mereka memberlakukan Preangerstelsel atau Sistem Priangan yang mewajibkan para petani di Priangan untuk menanam kopi lewat paksaan para elite daerah.

Selain VOC, keuntungan hanya diperoleh oleh para menak atau bangsawan, dan para santana atau golongan pertengahan antara bangsawan dan rakyat biasa. Mereka memobilisasi rakyat dengan harga murah, namun kerja sangat keras.

Saking menguntungkannya, saat meninggal pada 1726, bupati Cianjur masih berhak mendapatkan 26.000 ringgit gulden dan bunga atas jumlah tersebut. Sementara menak lain di Kampung Baru memiliki tagihan sebesar 32.000 ringgit gulden kepada VOC, dan mempunyai sejumlah tanah dan bangunan.

Enam tahun setelah diberlakukannya Sistem Priangan, VOC menjadi produsen kopi terpenting. Mereka menguasai setengah sampai tiga perempat perdagangan kopi di dunia, dan setengahnya dihasilkan dari Priangan barat, yakni Kabupaten Cianjur.

Keuntungan besar ini membuat VOC semakin gila. Mereka lagi-lagi memberlakukan kebijakan yang semakin mencekik para petani. Secara sewenang-wenang mereka menurunkan harga produk mentah kopi di Batavia dari 50 menjadi 12 gulden per pikul.

Mereka juga mulai memperkenalkan sistem pikul dan harga yang licik dengan membedakan antara pikul gunung dengan pikul Batavia. Untuk per pikul gunung beratnya 102 kg, sementara pikul Batavia seberat 56 kg.

“Para produsen dipaksa menyerahkan jumlah kopi yang ditentukan dalam ukuran pikul gunung tapi menerima pembayaran dalam jumlah pikul Batavia yang sama. Perbedaan berat dijelaskan sebagai biaya pengeringan selama transportasi dari daerah-daerah pergunungan ke gudang-gudang Batavia,” tulis Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia (2008).

Sistem monopoli yang diberlakukan dipertajam dengan dijadikannya Priangan sebagai daerah tertutup bagi orang asing, terutama warga Tionghoa. Mereka mengerahkan pasukan patroli hutan untuk mencegah para penyelundup. Para pelanggar ditangkap dan dikirim ke markas penahanan.


Perlawanan Petani Priangan

Kerja berat yang hanya menguntungkan VOC dan para elite daerah membuat para petani Priangan membenci pohon kopi. Bagi mereka, budidaya tanaman kopi hanya menambah beban tanpa penghasilan tambahan. Mereka bekerja untuk sesuatu yang bukan kepentingan mereka.

Hal ini membuat para petani melakukan sejumlah perlawanan. Mula-mula mereka melarikan diri dari daerahnya agar terbebas dari beban kerja yang ditimpakan, meskipun langkah tersebut sangat berat karena para bupati memperluas daerah wajib penanaman dan mengerahkan rakyat untuk bekerja.

Selain itu, perlawanan lainnya adalah lewat kerja serampangan yang mengakibatkan rusaknya pohon kopi dan buah kopi yang banyak tercecer.

Menurut catatan Breman, pengrusakan tersebut dilakukan para petani dengan cara menggunakan cangkul begitu dekat dengan pohon kopi. Padahal, menurut aturan yang disampaikan para mandor, petani seharusnya menghindarkan cangkul dari batang pohon dan di sekeliling batang pohon dalam jarak sekaki. Ketika begitu dekat dengan batang pohon, tanah mestinya dicukil bukan dicangkul.

Hal lainnya adalah memetik dan mengangkut buahnya dengan asal-asalan. Akibatnya, baik di kebun maupun di jalan terdapat sejumlah ceceran buah kopi yang di antaranya yang masih muda, dan terdapat pula buah kopi yang kering menggantung karena dipetik dengan serampangan.

“Keengganan mereka bekerjasama menjadi begitu kuat sehingga selama beberapa tahun Kompeni bahkan tidak bisa memperoleh jumlah terbatas yang dituntutnya. Para petani mengabaikan kebun kopi mereka,” tulis Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia (2008).

Satu kasus bahkan mencuat saat kondisi semakin gawat: bupati Cianjur tewas dibunuh. Ia menjadi satu-satunya menak di Priangan yang dibunuh bawahannya saat diberlakukannya Preangerstelsel. Breman mencatat beberapa versi tentang peristiwa ini. Pertama, bupati dibunuh oleh seorang pria yang cemburu, dan versi kedua ia dibunuh oleh bawahannya yang terlilit hutang.

“Besarnya kejadian itu tidak banyak diketahui karena laporan tentang hal itu tidak lengkap,” tulisnya.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan bagi VOC bukan kasus pembunuhan tersebut, melainkan perlawanan tidak langsung yang dilakukan oleh para petani yang muak dengan sistem penanaman kopi.

Perlawanan jenis ini, imbuh Breman, cukup mengejutkan karena sebelumnya pelbagai laporan kolonial menggambarkan orang Jawa khususnya Priangan, adalah masyarakat yang patuh dan mau menyesuaikan diri dengan sejumlah aturan serta perubahan ritme kehidupan.

Namun, ada yang luput dari laporan-laporan tersebut, yakni tentang perlawanan terselubung nan alot dari penduduk terhadap sistem produksi yang tidak ada kepentingannya bagi mereka.

Saat VOC bangkrut di pengujung abad ke-18, pemerintah kolonial melanjutkannya dengan memberlakukan cultuurstelsel atau sistem tanam paksa mulai tahun 1830 dengan perluasan komoditas.

Dan penderitaan rakyat Priangan terus berlanjut sampai diberlakukannya undang-undang agraria pada 1870, yang membuka pintu bagi pihak swasta untuk mengelola perkebunan bekas lahan tanam paksa.

Di titik ini jelaskah bahwa kopi dalam rentang waktu yang panjang pernah menjadi sumber bencana bagi rakyat. Ia tak semanis narasi kiwari yang telah menjelma dalam pelbagai lini, terutama gaya hidup perkotaan dalam kantong-kantong kaum urban.

Dalam kumpulan prosa bertajuk Filosofi Kopi (2006), Dewi Lestari sempat menulis, “Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.”

“Sisi pahit” itu barangkali secara bebas dapat kita lekatkan pada sejarah penghisapan, tentang rakyat yang tak berdaya menghadapi penindasan demi kopi yang menggiurkan. (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 9 Juli 2019

14 December 2019

Semen Padang FC, Kabau Sirah yang Tanduknya Tengah Patah



Klub yang didirikan pada 30 November 1980 ini sempat diperhitungkan oleh banyak klub lain. Namun penampilan buruk membawa mereka terdegradasi dari liga 1 di akhir tahun 2017.

Sepakbola melahirkan kekecewaan. Setelah wasit yang memimpin partai Persib vs Perseru meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir, pendukung Persib meradang. Minggu, 12 November 2017, partai pamungkas bagi kedua tim di Liga 1 itu dimenangkan Perseru dengan skor 0-2.

Bobotoh menyalakan suar dan bom asap, lalu melemparkannya ke tengah lapangan. Sebagian melompati pagar pembatas tribun dan merangsek hendak mendekati pemain. Sambil menangis, mereka berlari ke tengah lapangan. Namun, aparat keamanan segera 
menghalaunya.

Sepakbola adalah jambangan kesedihan. Saat Persib dikalahkan Perseru, di waktu yang sama di Bumi Minangkabau, para pendukung dan pemain Semen Padang nelangsa. Meski berhasil menekuk PS TNI 2-0, tapi hasil tersebut tak membatalkan mereka degradasi, terlempar ke liga kasta dua.

“Saya tak menyangka berakhir seperti ini. Sudah lima musim saya bersama Semen Padang dan tak pernah berpikir tim ini akan degradasi,” ujar 
Novan Setya Sasongko, bek yang sudah lima musim membela Kabau Sirah.

Semen Padang berada di posisi ke-16 klaseman akhir Liga 1 musim 2017. Beda dua poin dengan peringkat Perseru yang bercokol persis di atasnya. Kemenangan yang mereka raih dari PS TNI dengan kerja keras, menjadi tak berarti apa-apa.

“Anda bisa lihat, betapa kerasnya perjuangan kami hingga memastikan kemenangan. Namun, itulah sepakbola, kadang harus kecewa dengan hal-hal lain di luar kuasa kita,” ungkap pelatih Semen Padang, 
Syafrianto Rusli.

Mulanya, banyak yang tidak menyangka Semen Padang akan bernasib buruk di akhir musim. Beberapa bulan sebelumnya, tim Kabau Sirah berhasil duduk di peringkat empat Piala Presiden 2017. Namun di tengah musim tanda-tanda kemerosostan prestasi Semen Padang mulai terlihat.

Marcel Sacramento, salah satu pemain andalannya mendapat hukuman dilarang tampil membela Semen Padang dalam enam pertandingan. Marcel dijatuhi hukuman setelah ia melakukan protes keras kepada wasit Prasetyo Hadi dalam laga melawan Bhayangkara FC pada 20 Mei 2017.

“(Kondisinya) memang berat. Semua berawal dari hukuman akumulai Marcel. Dia dihukum enam kali pertandingan. Sejak itu kami sudah menunjukkan grafik menurun. Karena daya gedor berkurang. Itulah yang selama ini kami rasakan,” ujar caretaker pelatih Semen Padang 
Delvi Adri.

Selain hukuman larangan bertanding yang menimpa Marcel, menurut Delvi, cedera yang mendera sejumlah pemain andalan juga menjadi penyebab menurunnya penampilan Semen Padang. Salah satu pilar utamanya, Ko Jae-Sung, sering absen karena cedera.

“Itu yang membuat kami jarang tampil full team,” tambahnya.

Kegagalan Semen Padang bertahan di kasta pertama liga Indonesia bukanlah yang pertama. Pada tahun 2007, tim kebanggaan warga Padang dan Sumatra Barat itu pernah mengalami hal serupa. Karena mengakhiri musim 2007 di posisi 16 Wilayah Barat, mereka tidak bisa bergabung di Liga Super Indonesia (LSI) yang menjadi kasta tertinggi liga Indonesia.

Waktu itu Semen Padang butuh dua musim untuk akhirnya bisa bergabung dengan LSI setelah ditangani Arcan Iurie, pelatih asal Moldova.

“Di Bawah pimpinan Arcan Iurie, Semen Padang FC berhasil meraih promosi pada musim 2009/2010 setelah merebut tempat ketiga setelah berhasil mengalahkan klub asal Papua, Persiram Raja Ampat,” tulis 
Mohammad Arya.


Kiprah Klub Perusahaan Semen Tertua di Indonesia

Semen Padang FC didirikan pada 30 November 1980. Klub ini didanai oleh pabrik semen tertua di Indonesia yang semula bernama NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij yang berdiri pada 18 Maret 1910.

Pada tahun yang sama dengan pendiriannya, Semen Padang langsung ikut kompetisi Divisi 1 Galatama. Dua tahun kemudian naik ke Divisi Utama Galatama. Sepanjang 15 tahun Galatama digelar, Semen Padang tak sekalipun mencicipi gelar juara.

Namun mereka sempat sekali meraih juara 
Piala Galatama pada tahun 1992 yang sebelumnya bernama Piala Liga. Gol tunggal yang menjadi kemenangan Semen Padang dicetak oleh Delvi Adri pada menit ke-53. Gol tersebut merobek jala Arema Malang pada 21 Juli 1992 di Stadion Gelora 10 November, Surabaya. Keberhasilan itu membaut Semen Padang mewakili Indonesia pada gelaran Piala Winners Asia 1993.

Lima tahun sebelum menjuarai Piala Galatama, Semen Padang berduka. Suhaimi Irwan, manajer tim, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di gerbang Bandara Sukarno-Hatta, Cengkareng, pada 31 Januari 1987. Kecelakaan tersebut terjadi saat rombongan Seman Padang akan pulang kampung setelah mengikuti turnamen segitiga HUT PD Pasar Jaya di Stadion Utama Senayan, Jakarta.

Untuk menghormati dan mengenang manajernya, Semen Padang menggelar 
Piala Kenangan Suhaimi Irwan yang diikuti oleh tiga klub, yaitu Semen Padang, Krama Yudha, dan Pelita Jaya. Turnamen yang digelar pada 20-22 Maret 1987 itu dimenangkan oleh Pelita Jaya.

Memasuki musim keduanya di LSI, yaitu tahun 2010/2011, Semen Padang tampil cukup impresif. Mereka berhasil finish di posisi ke-4 dengan raihan nilai total 48, memenangi 12 laga dari 28 pertandingan. Sejak musim inilah keberadaan Semen Padang mulai diperhitungkan oleh banyak tim lain.

Hal ini memang tidak salah, sebab pada tahun 2012 Semen Padang kembali membuktikan ketangguhannya dengan berhasil menembus partai puncak Piala Indonesia. Sebagai tim yang berasal dari kasta tertinggi, Semen Padang langsung tampil di putaran ketiga.

Di turnamen yang digelar home and away ini mula-mula mereka menghajar Pro Duta FC 2-0 dan 3-0. Di perempat final Semen Padang melumat PSMS Medan 2-0 dan 1-1. Sementara di semifinal giliran Persebaya Surabaya yang mereka kandaskan dengan skor total 5-2. Dalam posisi tertinggal karena di leg pertama mereka kalah 2-0, tapi pada pertandingan kedua mereka membalasnya secara meyakinkan 3-0. Langkah Kabau Sirah yang trengginas akhirnya dihentikan oleh Persibo Bojonegoro di partai final dengan skor 1-0.

Saat PSSI terpecah dan ada dua kompetisi yang berjalan berbarengan, yaitu Liga Super Indonesia (LSI) dan Liga Prima Indonesia (LPI), Semen Padang memilih bergabung dengan LPI yang diikuti oleh 12 peserta. Di liga tersebut ketangguhan Semen Padang tak tertahan, di akhir kompetisi mereka memuncaki klaseman dan keluar sebagai juara.

Kekalahan Semen Padang dari Persibo Bojonegoro di final Piala Indonesia 2012, dapat mereka balas di pertandingan Community Shield 2013. Partai yang mempertemukan Juara Liga Prima 2012 melawan Juara Piala Indonesia 2012 itu dimenangkan Semen Padang dengan skor 4-1.

Di tahun yang sama, Semen Padang tampil cukup meyakinkan di AFC Cup. Diperkuat oleh Edward Junior Wilson, penyerang tajam asal Liberia, mereka menjuarai grup dengan menyisihkan para pesaingnya: Kitchee FC (Hongkong), Churchill Brothers (India), dan Warriors FC (Singapura). Di babak selanjutnya, Semen Padang mengalahkan HNB Da Nang, wakil dari Vietnam. Sayang, di babak perempat final mereka dihentikan oleh wakil dari India, East Bengal.

Tahun 2015, tanda-tanda kemunduran Semen Padang belum tampak. Mereka masih terus menebar ancaman. Di Piala Jenderal Sudirman, meski di fase grup finish di urutan ke-3, tapi mereka berhasil lolos ke babak berikutnya sampai tembus ke final. Namun di final Semen Padang dibekuk Mitra Kukar 1-2.

Petaka yang menimpa Semen Padang bahkan belum terlihat di awal tahun 2017, karena mereka masih tampil tajam dengan menjadi juara ke-4 di Piala Presiden. Memasuki pertengahan musim, kegelisahan mulai menyergap. Dan puncaknya pada 12 November 2017, saat mereka resmi terlempar ke kasta dua. Kesedihan datang merundung.

“Kami gak bisa berkata lagi, kami memang kecewa sempat syok, gak nyangka bisa separah begini. Karena awalnya target juara, tapi jangankan juara, untuk bertahan aja kami gak bisa,” ujar 
Nurman Anwar Bay, Ketua The Kmers, salah satu kelompok suporter Semen Padang FC. (irf)


Ket: 

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 7 April 2018
- Foto: wikipedia

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai