14 November 2019

Menonton Morrissey di Chicago



Oleh: Taufiqurrahman

Orang seperti saya sebenarnya tidak punya cukup alasan untuk menjadi fans Morrissey atau menyukai musik dari band dia yang terkenal di tahun 1980-an, The Smiths. Laki-laki berumur di atas tiga puluh tahun, berkeluarga dengan anak perempuan kecil yang cantik serta memiliki karier yang lumayan baik. Pendek kata saya tidak lagi memiliki banyak pertanyaan-pertanyaan eksistensialis yang masih membuat jiwa tidak tenang.

Namun begitulah kenyataannya, saya masih dengan rajin mendengarkan ratapan Morrissey tentang hidup sendiri tanpa cinta, tentang rasa tidak diinginkan, kesendirian, alienasi, atau bahwa esensi dari hidup adalah penderitaan yang tidak akan pernah berakhir. Lagu yang paling saya sukai dari The Smiths adalah “Heaven Knows I’m Miserable Now” dari album perdana mereka di mana Morrissey berbagi penderitaan dan kemarahan dengan pendengar:

“/I was looking for a job, and then I found a job // and heaven knows I’m miserable now // In my life why do I smile at people who I’d much rather kick in the eye/”

Lagu yang paling saya sukai dari album solo karir Morrissey adalah “I Have Forgiven Jesus”, dari album solo yang menurut saya adalah terbaik, yakni You Are The Quarry. Ini adalah sebuah lagu tentang kemarahan kepada Tuhan karena sudah memberikan cinta kepada dia, namun tidak pernah bisa memakainya untuk mencintai orang lain:

“/I have forgiven Jesus for all of the love he placed in me // When there’s no one I can turn to with this love/”

Di album terakhir Morrissey, Years of Refusals, Morrissey yang juga semakin tua malah menjadi semakin getir. Di lagu “I’m OK by Myself” dengan getir ia membalikkan badan dari dunia atau siapapun yang hendak memberi cinta dan perhatian:

“/I found that I am Ok by myself // and I don’t need you // or your benevolence to make sense // I don’t need you // or your homespun philosophy/”  

Sangat marah. Kalau di masa lalu ketika masih bersama The Smiths kemarahan Morrissey ditujukan kepada berhala-berhala kemapanan seperti monarki Inggris dan Ratu Elizabeth melalui lagu “The Queen is Dead”, atau ditujukan kepada pemakan daging di lagu “Meat is Murder”, atau marah kepada eksekutif industri rekaman di lagu “Frankly, Mr. Shankly”, kini kemarahan Morrissey menjadi semakin personal bahkan cenderung menjadi semakin eksistensialis, sebuah permasalahan yang seharusnya sudah selesai ketika seorang laki-laki sudah memasuki usia yang cukup dewasa atau cukup senja malah.

Namun entah kenapa saya masih terpesona dengan Morrissey kini, ketika saya juga sudah cukup dewasa dan ketika Morrissey juga sudah pantas menjadi kakek dari anak perempuan saya, dan tidak cukup lagi punya banyak alasan untuk marah kepada dunia atau kepada siapapun.

Atau mungkin karena saya berhutang kepada Morrissey yang memperkenalkan saya kepada karya-karya Oscar Wilde, atau membuat saya mencari dan menggali makna dari puisi-puisi John Keats atau William Butler Yeats. Tiga pujangga besar Inggris tersebut dikutip Morrissey di lagu The Smiths yang paling indah menurut saya, yaitu “Cemetery Gates” dari album The Queen Is Dead”.

Atau mungkin karena petikan gitar Johnny Marr yang begitu bening dan sejuk di hampir semua album The Smiths bersama Morrissey (kecuali “How Soon Is Now” di mana Marr bermain dengan efek tremolo yang sangat terkenal itu). Tidak juga, album-album solo Morrissey penuh dengan suara gitar yang gahar dan hampir menjadi punk.

Atau mungkin karena Morrissey sendiri yang masih seperti misteri. Tidak jelas betul orientasi seksualnya, sampai-sampai muncul dugaan bahwa dia gay. Bisa juga karena legenda yang dibangun selama hampir seperempat abad tentang pertunjukan-pertunjukan hidup The Smiths yang dipenuhi penggemar fanatik laki-laki maupun perempuan yang suka melempar bunga ke panggung, menerjang petugas keamanan panggung hanya untuk bisa mencium atau memeluk Moz, nama panggilan kesayangan Morrissey.

Apapun itu, saya sudah berinvestasi lumayan serius untuk The Smiths. Saya bukan penggemar fanatik yang perlu menata rambut atau berpakaian ala Morrissey, atau memasang tato “Meat Is Murder”. Namun saya cukup serius suka dengan The Smiths dengan tidak pernah menghapus lagu-lagu The Smiths dari ipod saya dan memiliki album The Queen Is Dead dalam bentuk piringan hitam.

Saya juga perlu membuat janji dengan diri sendiri bahwa suatu saat saya harus bisa menyaksikan pertunjukkan musik Morrissey (menyaksikan The Smiths mungkin agak susah karena Johnny Marr dan Morrissey nampaknya susah untuk akur, jadi konser reuni pasti susah terwujud).

Saat itu datang juga. Sekitar bulan Januari saya mendapat email dari Ticketmaster, perusahaan pengelola pertunjukan musik dan penjual tiket yang mengabarkan bahwa Morrissey akan menggelar tur Amerika Serikat dalam rangka mendukung penjualan album terbarunya Years of The Refusal.

Saya lihat Chicago menjadi bagian dari kota tujuan tur itu. Tanpa berpikir panjang, hari itu juga saya memesan tiket pertunjukan seharga 37 dollar—namun dengan biaya lain yang tidak jelas—membengkak menjadi 60 dollar. Ticketmaster, kali ini saya masih sabar memaafkanmu.

Tiga minggu kemudian saya sudah mendapat tiket elektroniknya. Jadi saya sudah membeli tiket itu tiga bulan sebelum pertunjukannya sendiri digelar. Begitu berdedikasinya saya kepada Morrissey. Tidak juga, saya hanya takut kalau saya pesan tiket belakangan harganya menjadi semakin mahal dan risiko tidak kebagian tiket menjadi semakin besar.

Dan memang benar, ketika hari pertunjukan datang, jam 7 malam ketika saya sampai ke Aragon ballroom di kawasan komunitas Asia Tenggara di kota Chicago, antrian di pintu masuk sudah sangat panjang. Dan hanya butuh waktu setengah jam untuk Aragon ballroom menjadi penuh oleh orang-orang setengah baya—ini pasti fans asli Morrissey dari tahun 1980-an yang kini sudah hidup mapan dan cukup punya uang untuk membeli re-issue semua album The Smiths.

Dan sebagian lagi penuh oleh anak-anak muda trendi dan hip yang saya yakin lebih suka membeli kopi album Years of The Refusal dalam bentuk piringa hitam dibanding CD. Ini adalah anak-anak muda yang saya yakin bahagia dan sehat secara mental, namun butuh untuk menyukai Morrissey untuk mendapat stempel pengakuan bahwa mereka adalah pecinta musik yang serius dan atau suka membaca buku.

Saya datang sendiri malam itu, karena saya juga yakin bahwa mungkin tidak ada satupun orang dari kampus saya yang peduli untuk datang—saya tidak bisa berharap banyak dari anak-anak muda kampus saya yang lebih suka mendengarkan Disturbed, Slipknot, dan Daughtry, bukan merendahkan cuma beda selera saja.

Jam 9 malam, Morrissey membuka pertunjukan dengan mengagetkan kami. Memakai jas tuxedo dan dasi kupu-kupu. Agak mengejutkan untuk orang yang pernah mengutuk monarki Inggris dan hendak membawa Margaret Thatcher ke pisau pancung gilotin. Tidak apa-apa, kami semua langsung memaafkan dia ketika lagu pertama yang dinyanyikan adalah “This Charming Man”.”

Dan dengan lagu ini saya juga akhirnya bisa menemukan kenapa saya suka dengan Morrissey. Kharisma, gaya, dan kecerdasan yang susah dicari bandingannya. Gayanya masih sama, meliuk-liuk kemayu, menarik kabel mikrofon dan memutar-mutarnya seperti lasso, dan kadang menyanyi dengan suara falsetto dan mendayu-dayu.

Aragon ballroom diam seketika ketika Morrissey memperkenalkan anggota band satu per satu dan diakhiri dengan kata-kata nyinyir: “Dan terakhir saya sendiri, tidak memiliki identitas,” semua orang di arena pertunjukan saling memandang kanan kiri tanda saling mengerti, sebelum tertawa dan bertepuk tangan sekencang-kencangnya, dan itulah yang terjadi sepanjang malam di hari Sabtu kemarin di Aragon ballroom. []


Foto: rollingstone.com

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai