21 November 2019

Liburan di Garut: Debur Samudra, Mosaik Sejarah, dan Kepungan Pergunungan

Salah satu pantai di Garut selatan (Foto: Dok. Pribadi)
Ujung selatan Kabupaten Garut berbatasan dengan Samudra Hindia. Berbeda dengan pantai di Pangandaran yang telah ramai dikunjungi wisatawan, pantai di Garut cenderung lebih sepi. Meski demikian, pesona pantai selatan yang berombak besar dan penuh dengan batu cadas menyajikan pemandangan yang luar biasa.

Tak hanya itu, pantai di Garut pun menyisakan jejak sejarah, salah satunya adalah keberadaan Dermaga Santolo. Dalam pelbagai catatan sejarah, dermaga ini dibangun pada zaman kolonial, yakni dari tahun 1910 sampai 1913. Fungsinya adalah sebagai jalur pembantu pengangkutan distribusi rempah dari Priangan Timur.

Sementara jika dikaitkan dengan masa kerajaan, terdapat pula Cagar Alam Leuweung Sancang yang dikenal secara lisan sebagai tempat ngahiang atau menghilangnya Prabu Siliwangi, Raja Sunda. Tempat ini juga berada di pesisir Garut selatan.

Persis di pinggir ruas jalan yang membelah kawasan ini, terdapat dua patung harimau putih sebagai tanda bahwa konon dulu ketika Prabu Siliwangi menghilang, para pengawalnya berubah menjadi si raja hutan. Selain itu ada juga pohon kaboa yang sangat besar, konon di tempat itulah sang raja terakhir kali berada.


Pohon Kaboa di Leuweung Sancang (Foto: Dok. Pribadi)


Salah satu patung harimau putih di sekitar Leuweung Sancang (Foto: Dok. Pribadi)

Ya, Garut memang kaya akan jejak sejarah. Jika bergeser mendekati pusat kota, ada Stasiun Cibatu yang dulu pernah disinggahi oleh sejumlah tokoh terkenal seperti Charlie Chaplin dan Pablo Neruda. Stasiun ini menjadi persinggahan sebelum mereka menikmati pelbagai tempat wisata di Garut yang cuacanya cukup sejuk.

Tak jauh dari Stasiun Cibatu, tepatnya di Kecamatan Pangatikan, terdapat Masjid Cipari yang dibangun dengan gaya art deco oleh para aktivis Sarekat Islam. Masjid ini sekilas mirip gereja, dan di sejumlah pojok menaranya ada beberapa lubang bekas peluru saat masjid ini diserang oleh pasukan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo pada tahun 1952.

Sebagai catatan, dulu pemimpin pesantren tempat masjid ini berada adalah kawan Kartosoewirjo yang bernama K.H. Yusuf Tauziri. Setelah cukup lama berkawan, mereka akhirnya bersimpang jalan karena sang kiai tidak setuju dengan konsep Negara Islam yang diperjuangkan oleh Kartosoewirjo.

Tinggalan sejarah di Garut tak hanya itu. Di Kecamatan Leles, kita bisa mengunjungi Candi Cangkuang yang berada dekat Situ Cangkuang. Candi tersebut ditengarai tinggalan zaman Hindu pada abad ke-8. Yang unik, dekat candi tersebut terdapat sebuah kampung adat yang bernama Kampung Pulo, yang justru didirikan oleh salah seorang pemimpin pasukan Kerajaan Mataram Islam, yakni Embah Dalem Arief Muhammad. Makam beliau bersebelahan dengan candi tersebut.

Untuk mencapai Candi Cangkuang dan Kampung Pulo, kita harus menyeberangi situ menggunakan rakit panjang yang di tengahnya dilengkapi dengan semacam gubuk kecil. Saat menyeberang dengan rakit tersebut, pemandangannya luar biasa sebab kita bisa melihat pergunungan yang membiru di kejauhan.



Candi Cangkuang di Kecamatan Leles (Foto: Dok. Pribadi)


Situ Cangkuang di Kecamatan Leles (Foto: Dok. Pribadi)

Di pusat kota Garut, tepatnya di sekitar alun-alun, ada pula tinggalan sejarah zaman kolonial yakni pendopo, babancong, dan kompleks permakaman para leluhur Garut di belakang masjid agung.

Babancong adalah semacam paseban yang letaknya persis di sisi selatan alun-alun. Di sinilah dulu Presiden Sukarno pernah berpidato untuk meyakinkan rakyat Garut bahwa Negara Pasundan yang diproklamasikan oleh Soeria Kartalegawa adalah negara boneka bentukan Belanda. Uniknya, di kompleks permakaman belakang masjid agung justru terdapat makam Raden Moesa yang merupakan leluhur dari Soeria Kartalegawa.

Tak cukup itu, di daerah Cimareme juga terdapat makam Haji Hasan Arif yang dulu melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda sehingga tewas dibunuh. Kejadian ini kemudian dikenal sebagai Peristiwa Cimareme atau Sarekat Islam Afdelling B.

Sementara di daerah Bayongbong terdapat Kabuyutan Ciburuy tempat ditemukannya sejumlah naskah Sunda Kuna. Situs ini posisinya di ketinggian, dekat salah satu pintu masuk para pendaki yang hendak naik ke puncak Gunung Cikuray. 


OYO 1370 Sudirman Guesthouse Garut (Foto: OYO)

OYO 705 Pucak Darajat Garut (Foto: OYO)



Mozaik sejarah yang bertebaran di sekujur kota Garut dihiasi dengan pemandangan alam yang memesona. Jajaran pergunungan memang mengepung Garut, maka tak heran jika kota ini terasa sejuk. Selain Gunung Cikuray, ada pula Gunung Guntur, Gunung Talaga Bodas, Gunung Cakrabuana, Gunung Papandayan, dan masih banyak lagi.

Saya tak pernah bosan berlibur di Garut. Apalagi terdapat sejumlah hotel dan penginapan milik jaringan OYO Hotels Indonesia yang harganya terjangkau dan menyediakan beragam promo menarik.

Jika menghendaki buah tangan untuk diberikan kepada kerabat dan sahabat, di Garut juga tersedia ragam oleh-oleh kuliner seperti dodol, burayot, coklat, opak, dan lain sebagainya.

Bukan berandai-andai, tapi bisa saja saya mendapatkan voucher dari OYO Hotels Indonesia sebesar 70%. Jika hal itu terjadi, karena saya berminat pada sejarah, maka saya akan kembali ke Garut untuk mengunjungi beberapa makam tokoh Garut di antaranya makam Raden Moesa di belakang Masjid Agung dan makam Bupati Garut pertama di Cipeujeuh yang bernama RAA. Adiwijaya. 

Bagi saya, Garut adalah paduan yang sempurna antara keindahan pantai, pergunungan, mozaik sejarah, dan kuliner yang lezat. Ke kota tersebut, saya selalu ingin kembali. (irf)







No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai