30 November 2019

NIAC Mitra, Klub Surabaya Penakluk Arsenal



Sempat mengalahkan Arsenal dan menjuarai Galatama sebanyak 3 kali, NIAC Mitra akhirnya bubar pada 24 September 1990.

Hari itu adalah pertandingan terakhir Arsenal dalam lawatannya di Indonesia. Sebelumnya, klub asal London Utara tersebut telah menghadapi PSMS Medan dan PSSI Selection. Keduanya dibantai dengan skor yang telak. 16 Juni 1983, giliran NIAC Mitra menjajal kekuatannya.

Disaksikan sekitar 30.000 penonton yang memadati Gelora 10 November, di terik siang yang menyengat, pertandingan dimulai pukul dua. NIAC Mitra yang diperkuat sejumlah bintang nasional dan dua orang pemain asing asal Singapura, yaitu Fandi Ahmad dan David Lee, di luar dugaan mampu menggilas Arsenal dengan skor 2-0. Gol kemenangan mereka dicetak oleh Fandi Ahmad (menit 37) dan Djoko Malis (menit 85).

“Saya sebenarnya hampir mencetak dua gol, tapi yang satu kena tiang. Gol bermula ketika Fandi Ahmad memberikan umpan terobosan kepada saya. Dan saat itu saya langsung berhadapan satu lawan satu dengan kiper. Mendapatkan kesempatan bagus, akhirnya saya lepaskan sepakan ke pojok gawang dan gol pun tercipta,” kenang 
Djoko.

Arsenal diperkuat sejumlah pemain terbaiknya, seperti David O’Leary, Pat Jennings, Kenny Sansom, Brian Talbot, Alan Sunderland, dan Graham Rix. Karena kelelahan pasca melewati musim kompetisi yang panjang dan suhu cukup panas, mereka akhirnya tak berkutik di hadapan pasukan M.Basri, pelatih NIAC Mitra.

“Kami kalah 0-2 di pertandingan terakhir dan saat itu kami sedikit kelelahan setelah menjalani musim yang panjang. Mungkin di sana juga terlalu banyak sinar matahari,” ujar 
Terry Neill, pelatih Arsenal saat itu.

Namun kemenangan adalah kemenangan. Sejumlah permakluman tak melunturkan rasa bangga arek-arek Suroboyo. Kemenangan atas Meriam London itu akan selalu mereka kenang.

Kesebelasan Para Karyawan

Sebelum menjadi Niac Mitra, klub ini awalnya bernama Mentos Surabaya, sebuah perkumpulan sepakbola para karyawan yang bekerja di perusahaan milik Agustinus Wenas. Selanjutnya kesebelasan ini ditingkatkan ke jenjang yang lebih profesional karena mengikuti liga internal Persebaya, namanya diganti menjadi PS. Mitra.

Dalam sebuah laga uji coba melawan Warna Agung, mereka berhasil menahan klub kuat di masanya itu dengan skor 1-1. Hasil tersebut membuat Wenas sebagai pemilik klub menjadi semakin serius. Maka pada 14 Agustus 1978, PS. Mitra berganti nama menjadi NIAC Mitra dan bersiap menyongsong edisi pertama kompetisi Galatama.

NIAC singkatan dari New International Amusement Center. Banyak media menulis bahwa nama tersebut adalah bioskop milik Wenas. Namun Devana Bramantya Saksono dan Edy Budi Santoso dalam “Niac Mitra Surabaya: Potret Pasang Surut Kesebelasan Sepak Bola Tahun 1979-1990” (Verleden: Jurnal Kesejarahan, Vol. 3, No. 2, Juni 2015), menulis bahwa nama itu adalah sebuah perusahaan rumah judi atau kasino terbesar di Surabaya pada tahun 1974-1979, berdasarkan wawancara mereka dengan Rudi Wiliam Keltjes, mantan pemain NIAC Mitra.

Diperkuat sejumlah pemain bintang seperti Djoko Malis, Rudy William Keltjes, Syamsul Arifin, serta dua pemain asal Singapura, NIAC Mitra sempat merajai kompetisi Galatama. Setelah Warna Agung menjadi juara pada edisi perdana kompetisi tersebut, dua musim berikutnya klub asal Surabaya itu tak terbendung. Mereka menyabet gelar juara berturut-turut.

Pada musim 
1980/1982, NIAC Mitra bahkan menjadi klub yang teramat subur dengan total melesakkan 102 gol (3 gol di antaranya bunuh diri). Mereka berkali-kali menang sangat telak atas lawan-lawannya. Pada 24 Februari 1980, NIAC Mitra membantai Tidar Sakti 12-0. Setahun berikutnya, tepatnya pada 7 November 1981, mereka kembali membenamkan Tidar Sakti dengan skor 11-0. Lalu pada 13 Januari 1982, giliran Cahaya Kita yang dihujani 14 gol tanpa balas.

Penyerang mereka, Syamsul Arifin, mencetak 30 gol sepanjang musim. 7 gol di antaranya ia lesakkan dalam satu pertandingan saat melawan Tidar Sakti pada 24 Februari 1980. Sebuah capaian yang sulit tertandingi sampai saat ini.

“Mr. Wenas, jangan bubarkan Niac Mitra…”

Pasca-menjuarai Galatama musim 1982/1983, PSSI mengeluarkan peraturan yang melarang setiap klub peserta memakai jasa pemain asing. Kebijakan itu terpaksa membuat Fandi Ahmad dan David Lee meninggalkan Surabaya. Sementara pemain bintang lokal seperti Djoko Malis, Rudy William Keltjes, dan Yudi Suryata pindah ke Yanita Utama Bogor, klub yang baru berganti nama.

Skuad NIAC Mitra menjadi compang-camping. Mereka hanya diperkuat anak-anak muda dan beberapa pemain senior yang tersisa. Perpaduan dua generasi ini terlambat kompak dan panas, sehingga mereka mulai terseok-seok.

Sejumlah kekalahan mulai mereka telan. Saking payahnya, mereka hanya mampu mencetak tiga gol ke gawang Cahaya Kita, kontestan terlemah langganan lumbung gol. Itu pun mereka raih dengan susah payah.

Kondisi ini membuat penonton enggan hadir di Stadion 10 November tempat NIAC Mitra menjamu lawan-lawannya.

“Kalau boleh saya katakan, para pemain senior masih belum percaya seratus persen pada yang muda-muda. Padahal ini harus mereka berikan,” keluh pelatih M. Barsi seperti dikutip Suryo Wahono dalam 
Tabloid Bola, edisi No. 3, 11 Februari 1984.

Ia menyesalkan terlambatnya NIAC Mitra melakuan regenerasi. Saat pemain-pemain senior mulai digerogoti usia, dan sebagian malah pindah klub, para pemain muda justru baru bermunculan. Hal ini membuat jarak antara keduanya terlalu jauh, yang berimbas pada kurang komunikasi di lapangan saat bermain.

Yang tua gairah bermainnya menyusut, sementara yang muda masih tampil kurang percaya diri. Mereka kerap bertubrukan antar kawan setim, bahkan lebih parah lagi mereka tak jarang saling bentak di lapangan.

Celah ini dimanfaatkan oleh lawan-lawannya untuk mendongkel NIAC Mitra, si penguasa dua musim untuk lengser dari posisinya. Maka empat tahun berikutnya NIAC Mitra puasa gelar. Empat musim dikuasai Yanita Utama dan Krama Yudha Tiga Berlian yang masing-masing berbagi dua kali gelar juara.

NIAC Mitra berhasil menjadi juara lagi pada musim 1987/1988. Namun prestasi ini rupanya gelar perpisahan, sebab dua tahun kemudian mereka bubar. Agustinus Wenas, pemilik NIAC Mitra kecewa dengan peraturan baru PSSI yang melebur beberapa divisi menjadi satu. Selain itu, ia juga merasa sudah lelah dengan sepakbola.

Klub yang pernah menaklukkan Arsenal ini resmi bubar pada 24 September 1990. Mereka menggelar pertandingan perpisahan, pamit kepada pendukung setianya. Pada 1 Oktober 1990, bertempat di Gelora 10 November, pertandingan perpisahan itu mempertemukan NIAC Mitra melawan Johor Malaysia. NIAC Mitra kalah 1-5.

Sebanyak 15 ribu penonton hadir di stadion, mengucapkan salam perpisahan kepada klub kebanggaannya. Tribun dipenuhi spanduk. Ragam tulisan terbentang, di antaranya:

“Mr. Wenas, jangan bubarkan Persatuan Sepakbola Niac Mitra Surabaya”

“Arek-arek Suroboyo gak ikhlas nek Niac Mitra bubar”

“Hallo… Jawa Pos…! Hanya kau tumpuan harapan arek-arek Suroboyo untuk menyelamatkan favoritku, Niac Mitra Surabaya”

“Niac Mitra bubar. Sebab, liga plinplan”

Haru dan kesedihan semakin berkuasa saat Suwasis Hadi, salah seorang pendukung NIAC Mitra, mengirimkan karangan bunga dukacita. Pemain, ofisial, dan pemilik klub yang menyaksikan dari bench tak sanggup menahan air mata.

“Kawan-kawan, atas nama seluruh pemain, kami mohon maaf bila selama ini ada tingkah laku kami yang kurang menyenangkan hati. Selama ini kami belum dapat memberikan yang terbaik buat pendukung NIAC. Kami tak lupa mengucapkan terima kasih atas dukungan dan fanatisme kalian. Dengan dukungan luar biasa itulah, NIAC Mitra menjadi besar,” ujar 
Hanafing, pemain asal Makassar.

NIAC Mitra diteruskan oleh klub baru yang bernama Mitra Surabaya yang didania bos Jawa Pos, Dahlan Iskan. Dalam perjalanannya, Mitra Surabaya berganti kepemilikan dan nama, serta pindah markas ke Kalimantan. Kiwari kita mengenalnya sebagai Mitra Kukar. (irf)



Ket:

-Tayang pertama kali di tirto.id pada 28 April 2018

Haruskah Menangisi Kematian Danarto?



Arief Budiman pernah mengatakan cerpen-cerpen Danarto seakan lahir dari situasi "kesurupan".

Seorang lelaki tua tengah menyeberang di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan. Sebuah motor yang dikendarai seseorang melaju di jalur yang digunakan lelaki tua itu. Waktu berhenti di tempat yang sama. Saat amat tepat mempertemukan keduanya. Kecelakaan terjadi. Pak tua terkapar. Kepalanya terluka parah.

“Darurat. Mas Danarto ditabrak di Ciputat. Keadaannya kritis. Kini dirawat [di] RS depan UIN. Tak ada identitas. Polisi menghubungi salah satu orang yang ada dalam hp Mas Danarto yaitu Agus Sarjono. Agus Sarjono kini di Bandung. Adakah yang bisa bantu hub[ungi] keluarga Danarto? Keadaannya kritis. Ditunggu polisi. Elza.”

Kabar itu ditulis sebagai status di laman Facebook akun 
Handry Tm. Ya, Danarto, pelukis dan cerpenis yang tinggal sendirian itu kemarin tertabrak motor. Kritis. Tadi malam, pukul 20.54 WIB, ia meninggal dunia di RS Fatmawati, Jakarta.

Danarto dilahirkan di Sragen, Jawa Tengah, pada 27 Juni 1940. Ia mengenyam pendidikan di Akademi Seri Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Selepas berpisah dengan istrinya, Danarto tinggal sendirian di sebuah rumah kontrakan di Pamulang, Tangerang Selatan. Ia hidup dari menjual lukisan dan tulisan.

Sepanjang hayatnya, Danarto menulis sejumlah cerpen, naskah teater, esai, dan novel. Karya-karyanya, terutama cerpen, dinilai banyak pihak sebagai suatu bentuk baru dalam kesusastraan Indonesia.

Sejumlah buku kumpulan cerpennya, seperti Godlob, Adam Ma’rifat, Berhala, Gergasi, dan lain-lain, mendapat apresiasi dari masyarakat karena menghadirkan bentuk baru dalam penceritaan.

Menurut 
Sapardi Djoko Damono, Danarto mulai dikenal sebagai penulis cerpen sekitar akhir tahun 1960-an akhir ketika majalah Horison belum lama terbit. Karya-karya awal Danarto yang dimuat di Horison, menurut Sapardi, menunjukkan suatu ciri penulisan cerpen yang belum pernah ada sebelumnya dalam khazanah sastra Indonesia.

Cerpen Danarto mengejutkan banyak orang. Sapardi menambahkan bahwa hal tersebut terjadi karena si pengarang tidak peduli lagi pada karakteristik, plot, dan latar. Ceritanya mengalir begitu saja. Menggelinding.

“Strukturnya jadi sangat unik. saya tidak mengatakan longgar. Yang menjadikan cerita pendek Danarto berharga bukan ceritanya seperti apa, atau tokohnya seperti apa, tapi suasana yang dibangun oleh cerita pendek itu belum pernah ada di dalam cerita pendek Indonesia sebelumnya,” ujar Sapardi.

Keterkejutan masyarakat terhadap cerpen-cerpen Danarto, bahkan ada yang menyebut Danarto seolah menulis dalam keadaan kesurupan. Arif Budiman dalam Horison edisi April 1969 mengungkapkan hal tersebut.

“Saya merasa bahwa cerita-cerita pendek Danarto seakan-akan lahir dalam suatu keadaan ‘trance’. Jadi, bukan karena suatu proses kesadaran yang penuh, di mana si pengarang menguasai benar dirinya dan tahu ke mana dia akan pergi. Memang, cerita itu memberikan banyak hal baru dibandingkan cerita-cerita lain yang pernah ada di Indonesia,” ujarnya.

Sementara Abdul Hadi MW dalam Horison edisi Mei-Juni 1973, menyebut Danarto berhasil menemukan bahasa baru bagi pengungkapan alam pikiran dan perasaannya yang mistis, berkenaan dengan penjelajahan jiwa manusia yang ingin berontak terhadap sistem nilai yang ada, dan masuk pada nilai baru yang ditemuinya.

“Pelukisannya tentang pengalaman batin sangat filmis, dahsyat, dan mendirikan bulu roma, lengkap dengan kegalauan dan surealistis,” tulisnya.

Danarto sendiri (pada pertemuan kecil yang informal, 19 Januari 1973, di Ruang Kuliah Umum LPKJ Taman Ismail Marzuki) seperti terdapat dalam Rumah Sastra Indonesia (2002) karya Harry Aveling, menyatakan bahwa panteisme merupakan titik tolak kreatifitasnya.

Menurutnya, kita semua akan menjadi Tuhan, dan itu wajar sebagai perkembangan evolusi. Ia juga mempertanyakan apa itu baik dan buruk.

“Bukankah kita tak tahu apakah kebenaran dan keburukan itu?” ujarnya.

Harry menambahkan bahwa dalam kegelisahannya itu, Danarto mengakui keberadaannya dalam dua penegasan prinsip: Manusia mencapai Tuhan dan ketidakmungkinan manusia mencapai Tuhan.

Medio 1988, sejumlah cerpen Danarto sempat menjadi bahan diskusi atau mungkin sawala, atau “sambung rasa” kata salah satu penulisnya di koran Wawasan antara Sawali Tuhusetya dengan Rosa Widyawan.

Mula-mula 
Sawali Tuhusetya menulis artikel bertajuk “Menguak Absurditas Cerpen Danarto” yang dimuat di edisi 26 Juni 1988. Tiga bulan kemudian, artikel tersebut mendapat tanggapan dari Rosa Widyawan yang menulis “Tentang Cerpen Danarto: Absurditas Macam Apa?” yang dimuat di edisi 4 September 1988. Kemudian Sawali Tuhusetya membalasnya dengan artikel “Menemukan Kristal Hakikat Danarto”.

Menurut Sawali Tuhusetya, Danarto adalah penulis yang dilandasi alam pikiran moral panteistis yang meyakini bahwa segala-galanya merupakan penjelmaan Tuhan.

Ia menambahkan bahwa Danarto telah menjadi begitu yakin bahwa tokoh-tokoh ciptaannya mampu menerobos dimensi ruang dan waktu yang pada akhirnya menemukan klimaks konfliknya di tengah-tengah pertarungan kehidupan maya di alam fana.

“[…] dengan ucapan: “Melihat wajah Tuhan” seperti kata Rintrik. “Aku bukan hidup dan bukan mati. Akulah kekekalan”, seperti teriakan Abimanyu ketika maut menyongsongnya, ataupun “O, Pohon Hayatku”, desah perempuan bunting dengan nikmat setelah babaran,” tulis Sawali.

Rayani Sriwidodo, penulis buku Kereta pun Terus Berlalu, Percakapan Hawa dan Maria, Balada Satu Kuntum, dan lain-lain, seperti dikutip Sawali, menyatakan bahwa ada dua aspek yang menunjukkan corak baru dalam cerpen Danarto: (1) Aspek penyajian yang memasukkan unsur puisi, musik, dan seni luki, sehingga cerpen-cerpennya tampak efek puitis, musikal, dan artistik dekoratif, (2) Aspek muatan adanya tendensi moral patenistis yang meyakini ajaran bahwa segala-galanya merupakan penjelmaan Tuhan.

Sawali menambahkan bahwa tokoh dalam cerpen Danarto adalah tokoh imajiner yang sanggup menerobos benturan dimensi ruang dan waktu.

“Manusia super yang mampu bertahan dalam situasi dan kondisi apa pun,” terangnya.

Pengalaman spiritual Danarto dalam lakon hayatnya yang berliku-liku, terlukis di sekujur kisah yang ia tuliskan. Ada kerinduan kepada Tuhan yang bertalu-talu. Selasa siang, lelaki tua yang hidup sendirian dalam kondisi ekonomi semenjana itu terkapar di jalan.

Sebelum hari berganti esok, Danarto kembali kepada zat yang ia rindukan itu.

“Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tidak terbatas. Luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir,” tulis Danarto dalam cerpen “Jantung Hati“ yang terdapat dalam buku Kacapiring (2008). (irf)



Ket:

-Tayang pertama kali di tirto.id pada 11 April 2018
-Foto: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

28 November 2019

Kamsia, Om Ben



Oleh: Petrik Matanasi
Sumber Tulisan: geotimes.co.id 
“Ngeee!!! Ngeee!!! Ngeee!!!”
Saya belum lama kembali dari ziarah panjang saya di Sulawesi Selatan ketika sahabat saya, Muhammad Iqbal, kasih alamat email Benedict O’Gorman Anderson alias Om Ben. Anak sejarah mana yang tak tahu orang macam Om Ben? Saya bahkan belajar riset dan menulis sejarah dari buku Om Ben—sebelum saya kenal dan berkawan.
Waktu itu, saya baru saja diputusin pacar saya. Tanpa lama-lama, itu email saya hubungi. Tentu saja saya perkenalkan diri dan mulai ngalor-ngidul soal sejarah. Tak sampai 24 jam, Om Ben balas itu email. Saya seperti ketiban pulung. Seorang profesor sejarah menghubungi sejarawan kacangan macam saya, itu keajaiban dan anugerah besar dalam hidup saya. Balasan email itu panjang dan lebar soal sejarah, tapi dalam bahasa yang kocak. Saya pun jadi lupa “kejahatan” mantan yang mutusin saya itu. He he he he… Bukannya saya harus bersedih?!
Obrolan berkembang. Awalnya tentang Letkol Untung, si komandan G 30 S, lalu melebar ke mana-mana.  Soal kakek buyut asal Bagelen saya yang jadi KNIL, soal ronggeng, soal orang Bagelen dan Banyumas yang doyan berkelahi. Beberapa bulan kemudian, Om Ben ajak saya jalan-jalan ke Jawa Timur. Sebagai pengangguran, saya ikut saja. Tentu akan banyak pencerahan lagi.
Desember 2010 Om Ben datang. Saya bersama Edu Manik, Merry Filliana, Hendrik Manik, Hilman, Iqbal, dan supir kami yang selalu menemani kami keliling Jawa Timur, Pak Gito. Seminggu lebih kami lintasi Jember, Bondowoso, Situbondo, Tuban, Madiun, Ponorogo, Pacitan, Semarang, lalu berpisah dengan Pak Gito di Semarang dan kami ke Jakarta. Ada acara bedah buku di mana Om Ben terlibat di dalamnya. Semua gratis. Saya hanya perlu duduk manis. Tentu saja ngobrol ngalor-ngidul soal sejarah.
Dalam trip perdana bersama Om Ben ini, Om Ben ajak kami ke sebuah tempat ziarah di Situbondo, sekarang orang menyebutnya Penggepeng. Namun 90 tahun sebelumnya orang menyebutnya Bukit Ulama. Kami mewawancarai Bapak Tua juru kunci makam keramat itu. Om Ben mendengarkannya saja di sana.
Pulang dari sana Om Ben diskusi dengan kami soal keterangan Bapak Tua itu. Dua tahun setelahnya kami ke situ lagi dan Bapak Tua itu beri keterangan berbeda lagi. Tanpa sadar Om Ben mengingatkan kami pentingnya kritis terhadap narasumber karena lupa adalah penyakit manusia. Saya percaya, sebagai sejarawan Om Ben berhati-hati mencerna informasi. Om Ben pernah menulis soal Bukit Ulama itu dalam jurnal Indonesia Cornell University edisi April 2011.

Awal-awal kontak dengan Om Ben, saya yang seharusnya patah hati, kerjaan saya hanya merampungkan naskah 100 halaman soal sejarah militer Indonesia—yang bahannya saya kumpulkan sejak awal kuliah sampai selesai skripsi kedua saya. Kira-kira tujuh tahun. Sebelum Om Ben datang, saya sudah kasih ke penerbit di Yogyakarta. Tapi saya berikan satu buat Om Ben ketika kami bertemu pertama kali. Saya tidak sangka kalau itu naskah dicoret-coret.
Om Ben juga bikin koreksian belasan halaman. Mencerahkan sekali buat saya. Walau buku Sejarah Tentara itu telanjur terbit juga pertengahan 2011. Om Ben bilang, “itu buku jelek” dan tak mau beli. Saya maklum, karena yang saya dengar Om Ben dianggap profesor killer oleh mahasiswa-mahasiswanya.
Bagi saya, Om Ben tidak pelit ilmu. Dia suka berbagi bacaan ke kami. Pustawan Cornell berdarah Kalimantan, yang juga tetangga yang tak ubahnya keluarga bernama Ben Abel, barangkali sering direpotkan cari-cari koleksi Om Ben yang sudah bertumpuk. Dari Om Ben dan Iqbal saya pun belakangan kenal Ben Abel. Om Ben pernah bantu riset saya. Iseng-iseng, saya tunjukan ketikan saya tentang Thomas Najoan si Raja Pelarian di Boven Digoel sana kepada Om Ben. Om Ben tampak tertarik. Dia lalu suruh saya menghubungi Rudolf Mrazek—yang namanya juga wangi di kalangan Indonesianis dan karyanya begitu pentng dalam historiografi Indonesia.

Perintah mahaguru saya ikuti. Rupanya, soal rasa berbagi, Rudolf sama saja dengan Om Ben, tidak pelit buat saya. Dengan cepat Rudolf balas email saya. Ini anugerah lagi. Rudolf juga tertarik. Bahkan dia memberi petunjuk apa yang harus saya baca dan Rudolf bahkan menemui saya di Arsip Nasional Jakarta beberapa bulan setelah email pertama saya. Saya bahkan ngintilin beliau saat wawancara dengan seorang ibu yang masa kecilnya di Boven Digoel. Rudolf bahkan memperbolehkan saya bertanya juga.

Baik Rudolf dan Om Ben, mereka suka bertanya dan mengamati apa yang bagi orang Indonesia remeh-temeh. Orang jenius selalu memikirkan apa yang tak dipikirkan orang lain. Rudolf memberi kepercayaan saya untuk bikin transkrip wawancara, saya tak tolak itu. Dengan senang hati karena terkait dengan Digoel. Naskah Thomas Najoan pun rampung. Rudolf bahkan rela kasih kata pengantar. Om Ben senang. Apalagi setelah buku itu jadi.

Itulah satu-satunya buku saya yang dipuji Om Ben. Sebetulnya saya heran, kenapa sejarawan kelas dunia macam Rudolf dan Om Ben tak pelit ilmu dan terbuka? Padahal saya banyak temui akademisi di Indonesia begitu angkuh dengan gelarnya.
Om Ben sangat mempengaruhi saya dalam mengajar di kelas sebagai guru sejarah selama empat tahun terakhir. Pesannya yang masih saya teladani: “Ajarkan sejarah dengan tawa!” Itu relevan buat saya karena sejarah sudah jadi pelajaran tak menyenangkan di Indonesia. Tugas guru sejarah adalah mendekatkan siswa pada sejarah karena sejarah dekat dengan hidup kita semua, bahkan sejarah adalah kita!
Om Ben suka sekali dengan cerita hebat murid-murid saya—yang jago lukis; juara lomba cerdas-cermat sejarah; juara menulis dan lainnya. Om Ben ingin sekali bertemu mereka, sayang tak pernah terwujud.
Om Ben suka anak-anak, yang disebutnya: tuyul-tuyul. Saya pernah cerita soal murid saya yang terbawa arus di Pagaralam. Om Ben hampir menangis dan bilang, “Ini tidak adil! Kenapa harus anak-anak?” Om Ben memang humanis! Om Ben pernah cerita soal gerakan anti bullying yang dilakukannya bersama beberapa kawannya ketika di Eton College—sekolah menengah bergengsi di Inggris di mana Pangeran William adalah alumninya juga. Om Ben bilang ke juniornya: “Kami tak akan memukul kalian, tapi nantinya kalian jangan memukul junior kalian.”
Sudah banyak yang menulis tentangnya dua hari terakhir, setelah kematiannya yang tiba-tiba, dinihari 13 Desember 2015 lalu. Saya dan istri saya, Dewi Yulia Sari, terkejut. Pada 9 Desember, bersama istri saya, saya kunjungi Om Ben di rumah Edu Manik. Saya melihat Om Ben makin kurus, meski tetap bersemangat waktu tunjukkan kaos bertulis Ngeee!!!!
Menurut istri saya, kondisi Om Ben sudah menurun. Tak seperti Februari 2015 waktu pertama istri saya ketemu Om Ben. Pada Kamis, 10 Desember, saya datang ke kuliahnya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Depok. Setelah itu kami sempat makan malam bersama di Mang Engking. Ternyata itu “Perjamuan Terakhir” bersama Om Ben buat saya.
Slamat Djalan, Om Ben. Damailah slalu di sana… Salam anget dari kitorang semua… Kamsia… []

27 November 2019

Peristiwa Cimareme: Perlawanan Haji Hasan Berakhir di Ujung Bedil



Peristiwa Cimareme tak hanya soal perlawanan kandas petani bernama Haji Hasan, tapi dikaitkan dengan Sarekat Islam.

Darah para petani di Cimareme pernah tumpah. Cimareme adalah salah satu kampung di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut yang menjadi saksi perlawanan petani terhadap pemerintah kolonial memberlakukan pembelian padi ketika krisis pangan menerjang pada 1910-an di Hindia Belanda.

Kegagalan panen dan efek Perang Dunia I membuat bahan pangan berkurang dan harga-harga bahan pokok melambung tinggi.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh Sarekat Islam (SI) untuk menuntut pemerintah agar perkebunan-perkebunan tebu dikurangi dan lahannya ditanami padi. Setelah melakukan penelitian, pemerintah menolak tuntutan tersebut.

 Dalam Munculnya Elite Modern Indonesia (2009) karya Robert van Niel, diterangkan bahwa penolakan tersebut terjadi karena pemerintah menilai pemakaian tanah perkebunan tebu untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan secepat mungkin tidak praktis.

Solusi yang diambil oleh pemerintah adalah dengan memberlakukannya pembelian padi dari petani, yang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan pangan terutama di luar Jawa. Setiap petani yang memiliki sawah seluas satu bau wajib menjual satu pikul padi.

Di daerah Garut, peraturannya agak berbeda. Setiap petani yang memiliki sawah seluas 5 bau atau lebih, wajib menjual padinya kepada pemerintah sebanyak 4 pikul dari setiap bau. Jika kurang dari 5 bau maka mengikuti peraturan secara umum. Dan jika kurang dari setengah bau, maka petani bebas dari kewajiban tersebut.

Harga padi yang ditetapkan oleh pemerintah adalah 4,5 gulden/pikul. Harga ini di bawah rata-rata harga padi yang berlaku di pasar.

Haji Hasan, seorang tokoh di Cimareme, Garut, yang mempunyai 10 bau lahan sawah keberatan atas peraturan tersebut. Penolakan Haji Hasan, menurut van Niel, karena penjualan beras kepada pemerintah akan mengurangi kebutuhan pangan keluarganya.

“Tak dapat disangsikan bahwa pembelian beras oleh pemerintah menimbulkan semacam asal-usul kegaduhan, khususnya karena hasil beras seluruhnya erat berhubungan dengan adat kebiasaan dan kepercayaan rakyat,” tulis van Niel.

Pemerintah mula-mula mengutus Wedana Leles beserta Lurah Cikendal untuk membayar uang muka atas pembelian padi dari Haji Hasan sebanyak 40 pikul. Namun, Haji Hasan menolaknya. Ia hanya bersedia menjual padinya sebanyak 10 pikul.

Penolakan tersebut membuat Wedana Leles bertindak kasar. Ia mengancam akan mendatangkan pejabat pemerintah dan polisi untuk menyita sawah Haji Hasan. Sebaliknya, Haji Hasan yang juga marah, mengirimkan surat kepada Asisten Residen agar pemerintah mempertimbangkan kembali kebijakannya. Ia meminta agar peraturan penjualan padi di Garut disamakan dengan daerah-daerah lainnya, yakni satu bau sebanyak satu pikul.

Permohonan Haji Hasan ditolak oleh asisten residen. Hal ini membuatnya bersikap lebih keras. Ia bersama keluarganya mempersiapkan perlawanan jika pemerintah secara paksa mengambil padinya.

“Haji Hasan mengumpulkan keluarganya, mulai membeli kain putih (yang dipakai dalam perang) dan mengumpulkan senjata,” tulis van Niel.

Anhar Gonggong dan kawan-kawan dalam Sejarah Daerah Jawa Barat (1977) mencatat, sikap Haji Hasan yang bersiap untuk “perang sabil” ini membuat pemerintah murka. Pada 1919, asisten residen segera memerintahkan Bupati Garut, R.A.A. Suria Kartalegawa, untuk mengirim pasukan Marsose ke kediaman Haji Hasan.

Karena sikap Haji Hasan tak kunjung melunak, pasukan Marsose akhirnya melepaskan tembakan. Mula-mula tembakan diarahkan melalui atap rumah. Rentetan tembakan selanjutnya diarahkan langsung ke rumahnya yang mengakibatkan Haji Hasan beserta sejumlah keluarganya tewas.

“Tetapi Haji Hasan tidak mau tunduk, karena itu pasukan pengepung melepaskan tembakan yang mengakibatkan tujuh orang tewas termasuk Haji Hasan dan sembilan belas orang luka-luka,” tulis Anhar Gonggong dan kawan-kawan.

Mereka menambahkan, keluarga Haji Hasan yang masih hidup ditangkap dan dijatuhi hukuman. Haji Gojali menantu Haji Hasan dijatuhi hukuman lima belas tahun. Enam orang anak Haji Hasan masing-masing dijatuhi hukuman lima tahun, dan keenam cucunya masing-masing dijatuhi hukuman dua tahun.

Peristiwa berdarah ini menjadi inspirasi bagi Muhamad Sanusi untuk menulis karya sastra dalam bentuk wawacan (seni tradisi lisan berbentuk puisi) pada 1920 berjudul “Genjlong Garut”. Isi wawacan ini menceritakan peristiwa perlawanan Haji Hasan terhadap kebijakan penjualan padi yang ditetapkan pemerintah.

“Oleh karena isinya dianggap membahayakan, pemerintah Belanda lalu memenjarakan pengarangnya. Muhamad Sanusi adalah salah seorang pejuang kemerdekaan yang pernah dibuang ke Digul,” tulis Yus Rusyana dan kawan-kawan dalam Ensiklopedi Susastra Sunda (1987).

Persitiwa ini juga telah memantik seorang sastrawan Lekra, Sugiarti Siswadi, yang menulis cerpen bertajuk “Sukaesih”, yang terdapat dalam Kumpulan Cerpen dan Puisi: Gelora Api 26 (2010).

Begini pembuka kisahnya:

“Darah siapakah yang menggenang merah

membasahi bumi Priangan?

Ah, itulah darah Haji Hasan,

dipotong seanak bininya

Konon, apakah Haji Hasan seorang perampok?

Ah, Haji Hasan mempertahankan sejengkal tanah

beberapa pikul padi dan bakul beras…”

Sukaesih dalam cerpen tersebut menurut Fairuzul Mumtaz dalam tesisnya yang bertajuk “Membongkar Kubur Sugiarti Siswadi” adalah seorang perempuan yang menyaksikan kejadian tersebut.

“Seorang perempuan yang menyaksikan peristiwa tersebut merasa tergugah dan memilih jalan masuk dalam organisasi-organisasi kiri serta terlibat dalam pemberontakan 12 November 1926,” tulisnya.




Sarekat Islam Terlibat?

Pemerintah kolonial menuduh Sarekat Islam berada di balik Peristiwa Cimareme. Kecurigaan ini dilatari oleh peristiwa sebelumnya di Toli-Toli, Sulawesi Tengah, saat seorang Kontrolir Belanda, De Kat Angelino, dibunuh saat ia mengunjungi pusat kerusuhan akibat kerja rodi.

Sebulan sebelum pembunuhan itu terjadi, Abdul Muis sebagai tokoh Sarekat Islam melakukan perjalanan keliling di Sulawesi atas nama Central Sarekat Islam yang mengundang banyak simpati rakyat.

“Sarekat Islam kembali dipersalahkan sepenuhnya atas insiden ini. Peristiwa ini diikuti dengan tuduhan terhadap Muis bahwa kunjungannya telah menghasut terjadinya pembunuhan,” tulis Ruth T. McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia (2010)

Maka, ketika Peristiwa Cimareme pecah, Sarekat Islam lagi-lagi menjadi tertuduh. Apalagi sebelumnya telah ada penolakan terhadap tuntutan Sarekat Islam untuk mengganti sebagian lahan tebu demi penanaman padi.

McVey menambahkan, saat dilakukan penyelidikan pemerintah kolonial menemukan bukti adanya organisasi rahasia di tubuh Sarekat Islam yang didirikan dengan tujuan menumbangkan pemerintah.

Kelompok ini dikenal sebagai Sarekat Islam kedua atau dalam bahasa Belanda disebut Afdeling B yang memulai gerakannya pada 1917 dan dipimpin oleh Haji Ismael. Ia menggalakkan perlawanan dengan cara menjual jimat yang dikatakannya menjamin pemakainya kebal terhadap segala perlakuan jahat.

Gerakan ini kemudian mendapatkan momentumnya dalam perlawanan Haji Hasan yang menentang kebijakan penjualan beras. McVey menilai gerakan Afdeling B yang terkonsentrasi di Priangan berada di luar Central Sarekat Islam. Namun, apakah para pemimpin Central Sarekat Islam terlibat atau sebaliknya tidak diketahui secara jelas.

Keterangan serupa disampaikan Robert van Niel dalam Munculnya Elite Modern Indonesia (2009) secara hati-hati.

“[…] sebab-musabab dan tujuan-tujuan yang terdapat di belakang [Peristiwa Cimareme] mendatangkan pelbagai tafsiran. Selama tiga hari sejak Haji Hasan mula-mula menolak menyerahkan beras dengan waktu insiden penembakan itu terjadi, Sarekat Islam, atau sekurang-kurangnya anggota tertentu Sarekat Islam, tampaknya terlibat dalam komplotan yang menyeleweng,” tulisnya.

Namun yang pasti, Sosrokardono, sekretaris Afdeling B, ditangkap dan disusul dengan diadilinya Tjokroaminoto. Sementara beberapa anggota organisasi sosialis Belanda, Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang menurut McVey akhirnya terseret dalam peristiwa tersebut, khususnya tokoh PKI macam Alimin dan Musso, tidak setuju dengan gerakan yang dilakukan kelompok Afdeling B.

“Untuk sementara waktu kami berharap tidak membuat penilain lebih jauh mengenai perkumpulan Haji Ismael dan melanjutkan gerakan dengan lebih percaya pada pekerjaan orang-orang seperti Semaun dan Darsono,” tulis ISDV seperti dikutip McVey. (irf)



Ket:

- Tayang Pertama kali di tirto.id pada 5 Mei 2019
- Foto: Dokumentasi pribadi

Mengurai Purbasangka terhadap Etnis Tionghoa lewat Catatan Personal



Sejumlah catatan personal membuka katup prasangka antaretnis dan antaragama yang terkumpul dalam buku Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia.

Masa kecil Aan Anshori dipenuhi purbasangka terhadap orang-orang Tionghoa. Kenangan pertamanya tentang orang Tionghoa adalah sosok perempuan tua yang biasa dipanggil Cik Nik. Dan memori itu dipenuhi kesan negatif. Cik Nik memiliki sebuah lapak sembako di pasar Mojoagung, Jombang, tempat ibu Aan berjualan.

“Secara personal, kala itu, Cik Nik merupakan gambaran tepat bagaimana sosok Tionghoa dijejalkan ke memori saya: pelit, tidak ramah, cuek, bicaranya straight-forward, hidupnya hanya untuk urusan harta. Beberapa Tionghoa yang saya temui saat kecil kebanyakan seperti itu. Saya tidak suka dengan mereka dan mulai meng-gebyah uyah semua Tionghoa,” kenangnya.

Pikiran masa kecil Aan yang lahir dan dibesarkan di desa Kauman, Jombang, melantur ke mana-mana. Ia sempat kasihan kepada Cik Nik, yang dalam pikirannya adalah calon penghuni neraka.

“Bersenang-senanglah di dunia. Kalian akan teronggok di dasar neraka karena tidak memilih Islam,” gumam batinnya saat itu.

Kenakalan masa bocahnya pun diwarnai pelbagai peristiwa yang didorong kebencian terhadap orang Tionghoa. Apabila Ramadan tiba, selepas santap sahur dan salat Subuh, ia dan kawan-kawannya kerap membuat kegaduhan di depan toko-toko milik orang Tionghoa. Gerbang toko mereka dipukul-pukul sambil berteriak menantang, bel elektriknya dirusak, dan kadang mencoreti dinding toko.

Sekali waktu, Aan dan kawan-kawan merencanakan kejahatan khas anak kecil, yakni mencuri. Jika anak-anak biasanya nyolong mangga atau buah-buahan lain milik tetangga yang masih menggantung di pohon, maka mereka mencuri di toko milik Tionghoa. Dengan adrenalin yang menjompak, Aan berhasil mencuri sepasang kaos kaki dari Toko SK, sebuah toko milik Tionghoa yang ramai dipadati calon pembeli.

Mereka juga kerap menyerang anak-anak Tionghoa, baik secara verbal maupun fisik. Panggilan “Cina gosong” dan “Cina gak sunat” biasanya menjadi bahan provokasi yang mereka lontarkan. Jika anak-anak Tionghoa tersinggung dan menantang, maka tawuran pun tak terelakkan. Aan mengaku, banyak sekali anak Tionghoa yang pernah dipukuli kepalanya serta dimintai uang dengan cara memaksa oleh dirinya dan kawan-kawan.

“Sepanjang yang saya bisa ingat, saya merasa puas ketika bisa membikin mereka sengsara. Saya merasa kami berbeda dengan mereka dan tidak ada alasan untuk berbuat baik terhadap mereka. Untuk apa berbuat kebaikan pada orang yang secara terang berbeda, baik fisik bahkan agama? Bagi saya, mereka terlihat aneh dengan kulit putih dan mata sipitnya,” kenang Aan.

Seiring waktu, purbasangka itu mulai luntur. Saat duduk di masa akhir SMP, ia mulai membaca kiprah Gus Dur yang rajin menyuarakan hak-hak minoritas, termasuk warga Tionghoa. Sosok dan pemikiran Gus Dur membuat satu titik balik dalam diri pegiat jaringan GUSDURian ini.

Pengalaman tersebut ia tulis dalam buku bertajuk Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia (2018). Bersama 72 penulis lain dari pelbagai latar belakang, yang juga menceritakan pengalaman masing-masing tentang persinggungan antara kaum mayoritas dan minoritas, khususnya Tionghoa dan bukan Tionghoa, Aan hendak merajut kebersamaan dan toleransi yang selama ini koyak, lewat kenangan-kenangan personal.

“Refleksi pengalaman pribadi para penulis dalam bertetangga, berhubungan dengan teman, bahkan orang lain terutama antara etnis Tionghoa dan bukan etnis Tionghoa merupakan nilai yang berharga,” tulis editor dalam pengantar buku ini.



Jejak Kelam Masa Lalu

Di Indonesia, kebencian terhadap etnis Tionghoa, saking sudah terlalu lama berlangsung, seringkali tumbuh tanpa disadari dan tanpa alasan. Persis seperti yang dikisahkan Aan. Perbedaan fisik dan agama kemudian menjadi motor penggerak dan pembenaran atas kebencian tersebut.

Sejarah mencatat, setelah hidup sukses sebagai pedagang di Nusantara, orang-orang Tionghoa yang datang dari daratan Cina lalu beranak-pinak dan enggan kembali ke negeri asal. Hubungan kaum Tionghoa dengan penduduk pribumi mulai renggang saat Belanda memanfaatkan mereka sebagai tukang pungut pajak.

Seperti ditulis Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara Sejarah Indonesia (2008), orang-orang Tionghoa yang hidup sebagai petani dijadikan pemungut tol di jalan raya dan perente di desa-desa Jawa. Di sisi lain, imbuhnya, masyarakat Jawa lebih suka diperintah raja mereka sendiri daripada oleh Belanda, apalagi saat orang-orang Tionghoa dibebaskan untuk memungut pajak.

“Segelintir etnis Tionghoa selama ratusan tahun dijadikan alat oleh Belanda untuk menjadi mesin penghasil uang yang sangat efektif tapi kotor dan sangat merusak, yang dampaknya menimbulkan kebencian dan sentimen rasial sebagian rakyat Indonesia,” tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik (2003).

Kebencian macam itu kerap memicu pembantaian dan persekusi terhadap orang-orang Tionghoa, sehingga lini kala sejarah Nusantara dipenuhi banjir darah etnis ini. Politik segregasi yang dilakukan Belanda juga semakin memperuncing perbedaan dan kerap menimbulkan ketegangan.

Pelbagai 
peristiwa politik pada masa pemerintah Orde Lama dan Orde baru pun beberapa kali menyeret orang-orang Tionghoa sebagai korban, dan terus berlanjut hingga era reformasi. Kemudian generasi kiwari menerima kebencian ini sebagai warisan yang seolah-olah tidak bisa diurai. Perasaan berbeda dan stereotip berlebihan ikut menyuburkannya sehingga mewujud menjadi sumbu yang mudah dibakar.

“Ini tidak lepas dari sejarah panjang politik identitas yang diberlakukan VOC untuk menjaga agar kaum Jawa dan keturunan Cina tidak bersatu dan tidak menyaingi perdagangan VOC, serta kemudian dilanjutkan oleh Orde Baru yang melakukan banyak pembatasan terhadap warga keturunan Cina. Selama masa Orde Baru, pelbagai stigma dan purbasangka akan warga keturunan Cina berkembang,” tulis Anita A. Wahid dalam pengantar Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia.



Menyemai Damai Lewat Perjumpaan

Pada Mei 2018, seperti dituturkan Aan, Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Jombang dan GUSDURian Jombang menggagas pertemuan antara SD Kristen Petra—yang mayoritas siswanya dari etnis Tionghoa—dengan Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah.

Aan berkisah, mula-mula rombongan SDK Petra hendak datang ke MI Islamiyah dengan menggunakan bus mewah, tapi ia larang karena khawatir akan membuat anak-anak MI Islamiyah kaget dan minder. Setelah sempat terjadi perdebatan, akhirnya mereka datang dengan menggunakan kereta odong-odong.

“Saat mereka [rombongan SDK Petra] datang, terjadi awkward moment. Kedua gerombolan anak-anak dari sekolah berbeda itu terlihat canggung. Namun tak lama kemudian suasana menjadi cair, saat saya lemparkan sebuah bola ke halaman sekolah. Mereka spontan main bersama,” ucapnya saat acara bedah buku Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia (2018) di Gereja Kristen Indonesia Maulana Yusuf, Bandung (3/12/2018).

Menurut Aan, perjumpaan lintas etnis dan agama sangat penting dilakukan, apalagi sejak usia dini. Prasangka dan kebencian, imbuhnya, seringkali terjadi karena ketidaktahuan.

Dalam buku setebal 436 halaman yang dibedah pun, sejumlah kisah perjumpaan para penulis memberikan jalan untuk saling mengenal dengan baik, sehingga kebencian tak beralasan dapat diganti dengan kemesraan penuh persahabatan.

Dalam tulisan berjudul “Bersekolah di Negeri hingga Lewatkan Malam Ramadan di Masjid Luar Batang”, Freddy Mutiara—keturunan Tionghoa yang menjadi dosen di Universitas Surabaya—mengisahkan riwayat perjumpaannya dengan orang-orang bukan Tionghoa dan beda agama yang diliputi kemesraan kemanusiaan.

“Pengalaman-pengalaman ini berkontribusi besar terhadap perspektif saya dalam memandang keberagaman […] Tentu banyak pengalaman interaksi lintas suku dan agama lain yang belum terceritakan oleh saya sebagai seorang Tionghoa. Semoga sekelumit pengalaman personal ini mengokohkan ke-Indonesiaan dan persaudaraan sebangsa kita semua,” tulisnya.

Kisah-kisah personal 73 penulis tentang interaksinya dengan orang-orang Tionghoa dan bukan Tionghoa menjadi sebuah ikhtiar untuk menjembatani jarak yang terus-menerus diperlebar oleh persoalan politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain.

Pengalaman mereka barangkali adalah pengalaman kita juga—yang harus diceritakan untuk membuka katup-katup prasangka dan menerima perbedaan sebagai kekuatan. (irf)


Ket:

-Tayang pertama kali di tirto.id pada 6 Desember 2018

-Foto: tropenmusem

26 November 2019

J.S. Badudu: Sejarah Hidup Sang Perawat Bahasa Indonesia



J.S. Badudu tak pernah menjelma jadi semacam polisi bahasa. Ia sadar, bahasa mula-mula hadir dan hidup dalam keseharian.

Jika kamu merasa agak pening setelah bangun dari tidur yang tidak nyenyak, atau pening karena mabuk, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyediakan kata untuk mengungkapkannya, yaitu “pengar”.

Apabila kamu sering menggunakan kalimat “tidak bergeming” untuk menunjukkan sesuatu yang tidak bergerak, maka sebaiknya periksa lagi, sebab “bergeming” sudah berarti “tidak bergerak sedikit juga” alias “diam saja”.

Bahasa Indonesia hidup dalam keseharian kita. Terhampar dari komunikasi ke komunikasi. Sesekali dalam bentuk senandika. Lisan maupun tulisan. Namun, jika sedang santai, baiknya kita sesekali menengok kamus, untuk memeriksa ulang kata demi kata yang sering kita gunakan. Sering kali, dalam pemeriksaan ulang itu, kita akan menemukan kata-kata yang jarang digunakan dalam keseharian.

Membicarakan bahasa Indonesia modern tentu tidak dapat dipisahkan dengan Jusuf Sjarif Badudu (selanjutnya ditulis J.S. Badudu). Ia adalah seorang linguis atau ahli ilmu bahasa yang telah melahirkan sejumlah karya, juga sempat lama hadir di TVRI, warsa 1970-an dan 1980-an, dalam siaran “Pembinaan Bahasa Indonesia”.

J.S. Badudu lahir di Gorontalo, 19 Maret 1926. Selama hayatnya, ia mengajar puluhan tahun di Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), keduanya di Bandung. Ia juga merupakan orang pertama yang meraih gelar guru besar dari Fakultas Sastra Unpad.

Dulu, perjalanan dari Bandung ke Jakarta tentu saja tidak semudah seperti sekarang. Jalan tol belum ada, perjalanan mesti ditempuh lewat Puncak dan memakan waktu yang jauh lebih lama.

Menurut Ananda Badudu, cucu J.S. Badudu, yang dihubungi Tirto pada Selasa (5/3/2019)—berdasarkan penuturan dari keluarganya—perjalanan dari Bandung ke Jakarta dan sebaliknya yang menguras tenaga adalah salah satu pertimbangan yang diambil J.S. Badudu untuk berhenti membawakan acara “Pembinaan Bahasa Indonesia” di TVRI.

Informasi ini sempat juga disampaikan Dharmayanti Francisca Badudu, putri sulung J.S. Badudu. Saat itu (9/8/2017) 
Tirto menulis sebuah artikel tentang sejumlah talkshow yang berhenti tiba-tiba, dan salah satunya menyinggung J.S. Badudu yang diberhentikan dari acara yang diampunya, karena mengkritik penggunaan akhiran “-keun” yang sering dipakai Presiden Soeharto.

Dharmayanti Francisca Badudu meluruskan informasi tersebut. Menurutnya, anggapan keliru tersebut telah muncul sejak ayahnya masih ada. Kerap diberitakan sejumlah media, informasinya terus menyebar, sampai akhirnya seolah-olah menjadi kebenaran.

Keliru di sini maksudnya bukan hanya mengkritik Soeharto, melainkan juga kepada siapapun yang menggunakan kesalahan berbahasa tersebut.

“Beliau berhenti sebenarnya tidak ada teguran, tidak ada sanggahan mengenai apa yang disampaikan di televisi, tetapi beliau berhenti memang karena keputusan sendiri atas kesibukan-kesibukan di Universitas Padjadjaran sebagai Dekan. Kelelahan karena bolak balik Bandung-Jakarta. Setiap pekan,” katanya.


Berbagi Ilmu Lewat Buku

Muchtaruddin Ibrahim dan kawan-kawan dalam Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan IV (1999) mencatat, J.S. Badudu menyelesaikan pendidikan di Sekolah Guru Rakyat di Luwuk, Sulawesi Tengah pada 1941. Lima tahun kemudian, ia pindah ke Ampana, masih di provinsi yang sama, untuk mengajar di sebuah sekolah dasar.

Tidak terlalu lama mengajar di Ampana, ia melanjutkan sekolah ke Normaalschool di Tentena, Kabupaten Poso, dan lulus pada 1949. Dua tahun kemudian sekolah lagi di Kweekschool di Tomohon, tapi tidak diselesaikan karena merasa kekurangan fasilitas.

Ia berniat bekerja dan melanjutkan sekolah ke Jawa. Setelah melalui perjalanan panjang, ia akhirnya sampai ke Jawa dan diterima sebagai guru di SMP II Bandung. Pada 1963 ia menyelesaikan kuliah di Unpad Jurusan Bahasa Indonesia. Selanjutnya menjadi dosen di almamaternya dan mulai menerbitkan buku.

Semangatnya untuk belajar tak kunjung padam. J.S. Badudu terus kuliah dan meraih gelar doktor pada 1975 dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia dengan judul disertasi “Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo”.

Selain mengajar dan mengampu program bahasa Indonesia di TVRI, di tengah kesibukannya J.S. Badudu juga menulis puluhan buku tentang bahasa Indonesia. Bahkan saat usianya sudah semakin senja.

Dalam pengantar pada Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia (2003)—yang dipublikasikan pada perayaan ulang tahunnya yang ke-77—ia menyampaikan penyusunan kamus tersebut memakan waktu lama, yaitu sekitar tujuh tahun karena pelbagai keterbatasan.

“Itu sebabnya, bila ada waktu senggang, saya lanjutkan pekerjaan saya [dan] saya [berhasil] menyelesaikannya,” tulisnya.

Menurutnya, kamus tersebut disusun karena ia tahu bahwa banyak pengguna bahasa Indonesia yang merasa kesulitan saat menemukan kata-kata serapan dari bahasa asing.

Bahasa Indonesia, terutama yang digunakan dalam tulisan selain non-fiksi, kerap dianggap kering. Dituding tak bercitarasa sehingga membosankan. Padahal, tudingan tersebut tergantung dari si pengguna, baik dalam hal perbendaharaan kata maupun penguasaan daya ungkap.

J.S. Badudu sempat menulis Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia yang mula-mula terbit pada 1984. Sejumlah ungkapan untuk menggantikan sebuah kata dapat diambil sebagai contoh.

Untuk menyampaikan pekerjaan yang tak berfaedah, kita bisa memakai ungkapan seperti berikut: “Memberi nasihat kepadanya seperti menyurat di atas air saja, tak akan dihiraukannya.”

Hendak menyebut para pelajar yang terdidik dengan baik, kita bisa menggunakan ungkapan: “Anak-anak guru itu semuanya masak ajar, tak pernah menyusahkan orangtuanya.”

Apabila mendapati seorang bijak bestari, banyak pengetahuannya, dan biasanya tempat orang meminta nasihat, kita bisa menyanjungnya dengan ungkapan: “Orangtua itu lautan budi tepian akal.”

Namun, ungkapan tentu hanya sebuah khazanah dalam berbahasa yang tak wajib digunakan. Tak sedikit orang yang menulis dengan lugas, padat, dan cergas, tapi tulisannya tetap basah dan enak dibaca. Dalam berbahasa, khususnya bahasa tulis, pembiasaan dan latihan adalah ujung tombak agar mampu meraih dua maksud sekaligus, yakni menyampaikan pesan dan pesan tiba tidak dengan buruk rupa.

Lalu ada pula peribahasa. Inilah sesuatu yang kata J.S. Badudu “tidak mudah dalam bahasa Indonesia”. Banyak orang yang tidak tahu apa artinya dari peribahasa tertentu. Selain itu, peribahasa pun tidak terlalu kerap muncul dalam lalu lintas komunikasi.

Untuk menjelaskan pelbagai peribahasa dan mengenalkan ulang peribahasa—yang boleh jadi kian terlupakan—J.S. Badudu menyusun Kamus Peribahasa: Arti dan Kiasan Peribahasa, Pepatah dan Ungkapan yang terbit pada 2008.

Puluhan karya lainnya telaten menghamparkan soal-soal kebahasaan. Ia sungguh-sungguh menjadikan bahasa Indonesia menjadi tak sekadar hidup dalam keseharian, 
tapi mengikatnya dalam buhulan karya yang bisa kita tengok manasuka.

Kenangan Seorang Cucu

Sekali waktu, saat Ananda Badudu berada di rumah kakeknya di Bandung, sang kakek tengah menulis menggunakan mesin tik. Sementara komputer yang tak jauh darinya digunakan sang cucu untuk bergembira dengan gim.

Di ruang kerjanya terdapat banyak sekali buku, tapi ia tak pernah mewajibkan seorang pun dalam keluarganya, termasuk cucunya, untuk membaca buku tertentu. Namun, sikapnya itu justru membuat Ananda tertarik pada sejumlah buku, salah satunya adalah buku yang ditulis sang kakek sendiri tentang beberapa resensi terhadap pelbagai karya sastra.

Ananda mendapati pembahasan roman Atheis karya Achdiat Kartamihardja yang pertama kali terbit pada 1949. Ia tertarik dan mencari roman tersebut yang menurutnya memang bagus.

Pada dua alinea pertama tulisan ini saya menyinggung soal kata “pengar” dan “bergeming”, itu adalah contoh yang diceritakan Ananda sebagai pengalamannya dalam mengakrabi kamus bahasa Indonesia.

Menurut Ananda, kakeknya yang seorang pakar bahasa banyak memengaruhinya dalam berbahasa, termasuk dalam menulis sejumlah lirik lagu. Ia mencoba lebih telaten dalam menyusun diksi.

Seperti sikapnya yang tak pernah menentukan bacaan tertentu untuk keluarganya, begitu pula dalam penggunaan bahasa sehari-hari. J.S. Badudu tak pernah menjelma jadi semacam polisi bahasa. Ia justru sadar bahwa bahasa mula-mula hadir dan hidup dalam keseharian. Para penyusun kamus seperti dirinya mengumpulkan pelbagai kata dari yang hadir dan hidup itu.

Pada 12 Maret 2016, tepat hari ini tiga tahun lalu, Ananda dan seluruh keluarga besarnya mesti berpisah dengan sang kakek untuk selamanya. J.S. Badudu meninggal dunia di Rumah Sakit Hasan Sadikin dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. (irf)


Ket: Tayang pertama kali di tirto.id pada 12 Maret 2019

Foto: kapanlagi.com

25 November 2019

Asahan Alhamdulillah Aidit: Yang Tersisa dan Terasing



"Betapa jemu dan jenuhnya hidup ini. Sejarah sudah tidak bisa dibetulkan dari belakang," tulis Asahan Alham.

Abdullah Aidit menikah dua kali. Dari pernikahannya dengan Mailan, istrinya yang pertama, ia mempunyai empat orang anak: Achmad Aidit (Dipa Nusantara Aidit), Basri Aidit, Ibrahim Aidit, dan Murad Aidit. Sementara dari pernikahannya yang kedua, yakni dengan Marisah, ia dikaruniai dua orang anak, yaitu Sobron Aidit dan Asahan Aidit.

Sampai tahun 1992, tiga orang anaknya yang pertama telah meninggal dunia. Ibrahim Aidit meninggal saat usianya belum genap sehari. Abdullah sendiri meninggal pada 1968. Saat menikah dengan Marisah, perempuan itu membawa dua orang anak yaitu Rosiah dan Muhammad Thaib. Maka dalam memoarnya, Sobron Aidit menyebut mereka sebagai tujuh bersaudara.

“Kini kami yang dulu bertujuh saudara, tinggal tiga lagi. Saya di tengah. Abang saya Murad di Depok, dan adik saya Asahan Alham di Hoofddorp, Holland,” tulisnya dalam salah satu ceritanya yang dihimpun dalam buku bertajuk Potret Diri dan Keluarga (2015).

Tulisan itu dibuat Sobron pada Desember 2002. Lima tahun kemudian, tepatnya pada Februari 2007, ia meninggal dunia. Sementara kakaknya, Murad Aidit menyusul setahun kemudian. Kini anak Abdullah Aidit tinggal menyisakan si bungsu, Asahan Aidit atau Asahan Alham.

Asahan mengganti nama belakangnya saat ia mengajukan kewarganegaraan di Belanda pada 1984. Alham adalah singkatan dari Alhamdulillah. Warsa 2006, nama itu dipakai juga untuk judul roman memoarnya, yakni Alhamdulillah.

Ia lahir di Tangjungpandan, Belitung, pada Desember 1938. Setelah menyelesaikan SMA, ia mendaftar di Jurusan Sastra Rusia, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tahun 1961, Asahan mendapat beasiswa dari Universitas Persahabatan Patrice Lumumba di Moskow.

Gelar Magister Humaniora ia raih pada 1966. Artinya, saat terjadi peristiwa G30S yang menewaskan kakak sulungnya, juga kemudian menyeret beberapa kakaknya yang lain ke dalam tahanan Orde Baru, Asahan tengah tinggal di Moskow. Ia tentu saja tak memilih pulang ke Indonesia, sebab bahayanya amat nyata.

Mulai dari sinilah kehidupannya terombang-ambing di beberapa negara. Kehidupan yang memaksa, bukan kehendaknya, yang kemudian membuatnya “balas dendam” untuk membuat kehidupan sendiri, baik di dunia nyata maupun lewat sejumlah cerita.

“Setiap kehidupan manusia adalah juga sebuah film dengan dua macam skenario: oleh dirinya sendiri atau oleh orang lain. Dua pertiga dari hidup saya telah dengan skenario orang lain […] Saya ingin menyelesaikan adegan dua pertiga dengan skenario orang lain ini dengan skenario saya sendiri dalam usia yang mendekati setengah abad dengan petualangan baru atas ongkos sendiri dan bukan oleh pemerintah atau partai politik,” tulisnya dalam Alhamdulillah seperti dikutip Henri Chambert-Loir dalam “Ideologi sebagai Penyakit Turunan: Dunia Asahan Alham” (Sastra dan Sejarah Indonesia: Tiga Belas Karangan, 2018).

Seperti para eksil lainnya, Asahan menulis sejumlah buku. Mula-mula ia menulis dua kumpulan puisi, Perjalanan dan Rumah Baru (1993) serta 23 Sajak Menangisi Viet Tri (1998). Memasuki tahun 2000-an, empat bukunya terbit: Perang dan Kembang (2001), Cinta, Perang dan Ilusi: Antara Moskow dan Hanoi (2006), Alhamdulillah (2006), dan Azalea: Hidup mengejar Ijazah (2009).

Para korban 1965 yang hidupnya diobrak-abrik Orde Baru tentu tak hendak melupakan pengalamannya begitu saja. Di dalam negeri, orang-orang yang di-Buru-kan menulis memoar. Pramoedya Ananta Toer yang menulis dua jilid Nyanyi Sunyi Seorang Bisu dan Hersri Setiawan dengan Memoar Pulau Buru dapat disebut sebagai contoh.

Di luar negeri, mereka yang tak bisa pulang juga menulis. Bahkan dalam catatan Loir, autobigrafi yang ditulis para eksil lebih banyak dari yang ditulis para tapol. Jumlahnya mencapai 42 buah. Sobron Aidit misalnya, kakak Asahan ini menulis sejumlah buku seperti Surat kepada Tuhan, Cerita dari Tanah Pengasingan, Razia Agustus, dan lain-lain.

Jika Pramoedya Ananta Toer dan Hersri Setiawan dalam buku yang disebutkan di atas menulis secara gamblang pengalamannya, Sobron dan terutama Asahan kerap agak menyembunyikannya dalam balutan fiksi, atau Sobron menyebutnya sebagai “seni estetika”.

Dalam Potret Diri dan Keluarga (2015) yang dalam sampulnya tertulis sebagai “kumpulan cerpen”, Sobron menyebut 85 persen tulisannya adalah kenyataan sesungguhnya, sementara sisanya adalah tambahan keindahan seni yang tidak bertentangan dengan kejadian yang sesungguhnya.

Dalam hal ini, meski Sobron hendak mengukir tulisannya dengan apa yang ia sebut sebagai “seni estetika”, tapi nampaknya ia kesulitan untuk berkelit dari kenyataan yang sesungguhnya. Dan ia memang mengakuinya.

“Barangkali inilah salah satu kelemahan tulisan saya, yaitu saya selalu menuliskan apa yang saya alami, apa yang saya lihat, dan apa yang saya rasakan. Dari semua tulisan saya yang ada hingga kini, tak lebih dari 5 persen yang bisa saya tuliskan secara fantastis. Kebanyakan dan mayoritasnya adalah kebenaran yang terjadi pada diri saya dan keluarga,” ungkapnya dalam pengantar Potret Diri dan Keluarga (2015).

Sementara Asahan dengan terang dan jelas menyatakan bahwa autobiografi memang tak ada dan tidak akan pernah bersih dari fiksi dan fantasi. Menurutnya, semua autobiografi paling hanya memuat 70 persen kisah yang berdasarkan fakta, selebihnya kembang susastra yang melekat dan tak bisa dipisahkan.

Prinsip Asahan inilah yang kemudian digeledah oleh Henri Chambert-Loir dalam “Ideologi sebagai Penyakit Turunan: Dunia Asahan Alham”. Di luar dua kumpulan sajaknya, Loir menyelisik empat tulisan Asahan yang masing-masing dilabeli sebagai “roman”, “memoar”, “roman memoar”, dan “cerpen memoar”.

“Kita bisa langsung menduga bahwa roman memoar dan cerpen memoar adalah genre paduan yang dapat didefinisikan sebagai teks sastra (roman dan cerpen) yang diilhami kehidupan pengarangnya, atau sebagai memoar bercampur fiksi, tergantung apakah kita ingin menekankan unsur fiksional atau unsur otentik di dalamnya,” tulis Loir.

Klayaban di Uni Soviet, Vietnam, dan Belanda

Setelah lulus dari Universitas Persahabatan Patrice Lumumba di Moskow, Asahan pindah ke Vietnam yang kala itu tengah dilanda perang. Menurut Loir, keputusan itu diambil karena disuruh oleh Delegasi Comite Central PKI yang dibentuk di Beijing, yang bertindak atas nama Partai dan memiliki wewenang atas semua anggota partai yang berada di luar negeri.

“Di sana, bersama beberapa puluh kawan, dia mengikuti latihan militer dan ideologi selama beberapa tahun, di bawah perintah bersama Partai Komunis setempat dan Delegasi. Jauh di kemudian hari, pada tahun 1974, barulah dia ditempatkan di universitas,” tulisnya.

Sementara menurut Harsutejo, penyunting Cinta, Perang dan Ilusi: Antara Moskow-Hanoi (2006), seperti ia tulis dalam pengantar buku tersebut, alasan Asahan pindah ke Vietnam berbeda dengan kawan-kawannya yang mendapat tugas Partai. Asahan diperkirakan jenuh dengan situasi yang dihadapinya di Uni Soviet. Namun, ketika sampai di Vietnam, semuanya sama saja, para pemuda itu disebut sebagai “belajar revolusi”.

“Ketika kereta api yang membawanya memasuki perbatasan Vietnam dan Tiongkok, mereka sudah diperkenalkan dengan pemboman pesawat-pesawat Amerika Serikat. Sampai bertahun-tahun kemudian, dia dan kelompoknya mengalami perang besar yang dahsyat itu, baik dari pinggir maupun dari tengah-tengahnya,” terang Harsutejo.

Sebelum Perang Vietnam berakhir pada 1975, Asahan sempat menulis disertasi tentang perbandingan antara peribahasa Indonesia dan Vietnam. Lalu setelah itu, meski perang telah selesai, ia tak dapat segera meninggalkan Vietnam.

Penderitaan masih datang bertalu-talu. Lapar dan kemiskinan mengancam. Perang juga telah menghancurkan “sekolah revolusi”-nya.

“Sekolah revolusi saya telah hancur berantakan dirobohkan oleh guru-gurunya sendiri, lalu mereka pada lari lintang-pukang mencari rezekinya sendiri-sendiri. Setiap orang hanya memikirkan nasibnya sendiri dan mencari jalannya sendiri,” ungkapnya.

Pemerintah setempat mengancam Asahan karena ingin meninggalkan Vietnam. Ia dan keluarganya diasingkan ke tempat yang sangat jauh dari Hanoi. Demi meninggalkan Vietnam, di tempat pengasingan ia melakukan protes dengan cara berbaring di tengah jalan raya yang ramai selama lebih dari dua belas jam.

Perjuangannya tak sia-sia. Di pengujung 1983, ia akhirnya mendapatkan kembali paspornya yang sebelumnya dinyatakan hilang. Sejak Oktober 1983 Asahan tinggal di Belanda.

Kehidupan Asahan di luar negeri, setidaknya saat ia tinggal di Vietnam yang digambarkan lewat Cinta, Perang dan Ilusi: Antara Moskow-Hanoi (2006), menurut Harsutejo merupakan salah satu contoh tentang beratnya menjalani hidup sebagai kaum eksil.

Ia menekankan hal tersebut karena banyak korban tragedi 1965 di Indonesia yang beranggapan bahwa kawan-kawannya yang bermukim di luar negeri hidupnya tenteram dan damai.

“[Mereka menganggap kawan-kawannya yang tinggal di luar negeri] telah menikmati ‘sorga negeri sosialis’, dilanjutkan dengan ‘sorga negeri kapitalis’ tanpa dipikirkan tentang pelbagai gejolak, tekanan, pertentangan tajam, keadaan dan hari depan tidak pasti, iklim dingin menggigit bersama kesepian, rindu sanak saudara, dan tanah air yang mereka alami,” tulisnya.

Namun, “pembelaan” Harsutejo itu tidak serta merta menjadikan Asahan sama dengan para eksil yang lain. Dalam catatan Loir, beberapa hal mendasar, dilihat dari sejumlah karyanya, Asahan tidak menulis untuk memulihkan identitas Indonesianya sehingga dapat pulang dan diakui sebagai warga negara Indonesia lagi.

“Tidak ada tuntutan identitas, tidak ada kebutuhan akan pengakuan. Dia tidak menulis supaya diakui dan diterima oleh khalayak mana pun,” ungkapnya.

Menurut Loir, Alhamdulillah (2006) merupakan tulisan Asahan yang paling cermat merumuskan konsepsi tentang dirinya dalam sejumlah tulisan yang ia buat. Dalam roman memoar itu, alih-alih mengharapkan pengakuan khalayak, Asahan lebih menengok ke dalam dirinya.

“Saya ingin melihat diri saya di dalam apa yang saya pikirkan, saya fantasikan, saya abadikan dan karenanya saya menulis yang barangkali tidak cepat saya temukan dalam satu kali tulis, mungkin harus berkali-kali saya lakukan atau mungkin seumur hidup hingga saya menemukannya atau tidak pernah menemukannya,” tulisnya dalam Alhamdulillah seperti dikutip Loir.

Ihwal karya-karyanya—terutama sajak—A. Kohar Ibrahim, kawan Asahan, pernah mengungkapkan kepada Fairuzul Mumtaz dalam buku yang judulnya seperti buku motivasi, yakni 50 Kisah Sukses & Inspiratif Diaspora Indonesia Lintas Negara, Lintas Bidang (2014).

Menurut Ibrahim, dari sekian banyak penyair Indonesia di luar negeri, karya Asahan ia anggap sebagai yang paling kuat.

“Baik dalam keharmonisan pengungkapan isi maupun dukungan bentuknya. Kekuatannya terutama dalam menyatakan perasaan dan pikirannya yang lugu, bening dan cerah. Meskipun, mungkin saja, kecerahannya itu bagi sementara pembacanya dirasakan terlampau sekali. Hingga bukan lagi kesejuk-hangatan yang dirasakan, melainkan kegerah-panasan. Hingga menggelisahkan,” ungkapnya.

Asahan menikah dengan Sen, perempuan Vietnam, anaknya yang bernama Tri meninggal secara misterius di pantai Inggris, di Dover.

“Ada dua pendapat bahwa Tri bunuh diri atau dibunuh entah oleh siapa,” tulis Sobron Aidit dalam Catatan Spiritual di Balik Sosok Sobron Aidit (2005)

Meski Loir, lewat pembacaan karya-karya Asahan, lebih melihatnya sebagai eksil yang lebih menempuh perjalanan ke dalam diri, tapi penyair Mawie Anata Jonie seperti dikutip Fairuzul Mumtaz sempat menulis sajak “Kepada Penyair Heri Latief dan Asahan Aidit”, yang isinya menyiratkan kerinduan kepada tanah air.

“…Puisi adalah rumahku, senjata dan harta yang kita punya

Tempat aku berteduh, hatiku menembus batas benua dan negeri

Bilakah perahu yang kita tumpangi hari ini sempat merapat di dermaga

Kita tidak tahu, mungkin saja kita sudah tidak bisa bicara lagi”

Ya, mungkin saja, dan memang sangat manusiawi jika Asahan juga merindukan kampung halamannya. Namun yang pasti, lewat Azalea: Hidup mengejar Ijazah (2009) yang menurut Loir dalam “Ideologi sebagai Penyakit Turunan: Dunia Asahan Alham” merupakan autobiografi paling introspektif di seluruh jenisnya di Indonesia, Asahan menulis:

“[…] Betapa jemu dan jenuhnya hidup ini. Sejarah sudah tidak bisa dibetulkan dari belakang.”
(irf)




Ket:

-Tayang pertama kali di tirto.id pada 19 Februari 2019

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai