31 October 2019

Surat-Surat Pram dari Pulau Buru: Kerinduan Bapak pada Anaknya


"Surat ini takkan mungkin bisa dikirimkan. Takkan mungkin sampai ke tanganmu. Lihat, dia tetap kutulis."

17 Agustus 1969, kapal ADRI (Angkatan Darat Republik Indonesia) XV yang sudah butut mengangkut lebih dari delapan ratus orang tahanan politik yang ditangkap setelah peristiwa berdarah 1965.

Mula-mula kapal meninggalkan pelabuhan Sodong, Nusa Kambangan. Lalu pelabuhan Wijayapura, Cilacap, juga ditinggalkan. Kapal itu hendak menuju Pulau Buru di Maluku, kamp konsentrasi ala Orde Baru yang memakan banyak korban.

Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram), salah seorang di antara ratusan manusia malang itu mengisahkan perjalanannya lewat surat yang ia tujukan kepada anak sulungnya. Risalah yang tak terkirimkan itu ia tulis setelah tahun 1973, saat pemerintah Orde Baru—karena tekanan dunia internasional—mengizinkan Pram untuk kembali menulis.

“Surat ini takkan mungkin bisa dikirimkan. Takkan mungkin sampai ke tanganmu. Lihat, dia tetap kutulis, untukmu—kau, yang sedang berbahagia dalam suasana pengantin baru,” tulis Pram sebagai pembuka suratnya.


Tetap Menulis dalam Penderitaan

Dalam cengkeraman militer, alih-alih berkirim surat, hari-hari di Pulau Buru adalah kerja paksa dan kematian. Para tahanan politik yang kekurangan makanan, terkuras tenaganya, kehabisan kesabaran, dan detik demi detik bernapas dalam angkara para penyandang bedil, satu persatu menemui ajal.

Malaikat pencabut nyawa mengambil jiwa-jiwa itu dengan pelbagai cara. Pertama, lewat penyakit yang merajalela: TBC, hepatitis, batu ginjal, malaria, jantung, tifus, abses hati, kanker prostat, kanker paru-paru, dan lain-lain. Selanjutnya senarai kematian terjadi karena bunuh diri, tenggelam, diseruduk sapi, tersambar petir, tertimpa pohon, ditombak penduduk setempat, dan dibunuh tentara.

Di tengah situasi seperti itulah Pram menulis surat. Seperti ia utarakan dalam dua jilid Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, sebagai penulis ia tak hanya mendapat dukungan dunia internasional, kawan-kawannya pun sesama tahanan politik banyak membantunya agar ia bisa menulis lagi.

Selain menghasilkan sejumlah buku sebagai tanggung jawabnya, ia pun merawat hubungan personal dengan anak-anaknya lewat surat-surat yang tak terkirimkan. Satu fragmen mengharukan ia tulis untuk anaknya yang pengantin baru itu.

Dalam suratnya Pram mengenang peristiwa saat ia masih ditahan di RTC (Rumah Tahanan Chusus) Salemba, Jakarta. Anak sulungnya datang bersama calon suami dan penghulu, mereka hendak menikah. Kepada calon suami anaknya Pram berkata:

“Anak ini anakku yang pertama, anak yang aku sayangi. Dahulu neneknya berharap ia jadi dokter, ternyata ia akan menjabat jadi istrimu. Jadi, setelah nanti kalian menikah, jangan sekali-kali anakku dilarang atau dihalangi kalau dia mau meneruskan pelajarannya. Kedua, tidak aku izinkan anakku dipukul atau disakiti. Ketiga, anak ini kau pinta padaku untuk diperistri secara baik-baik, kalau karena sesuatu hal kau tidak menyukainya lagi, kembalikan pula dia secara baik-baik padaku.”

Setelah mereka menikah, pengantin baru itu berpisah dengannya. Pram tak lagi mampu mengingat titimangsa pernikahan anaknya, juga sejumlah hal tentang suami anaknya: nama, pekerjaan, dan pendidikan. Kepada anaknya ia berpesan, apa yang telah dipilihnya itu pula tanggung jawabnya.

“Dan sejak itu kau tak pernah datang menjenguk aku lagi […] Beberapa kali kau masih melihat ke belakang sebelum pintu raksasa itu mengantarkan kau lepas ke jalan raya. Orang yang setelah pernikahan itu menjadi suamimu beberapa kali masih membungkuk memberi hormat. Dan waktu pintu raksasa itu kembali tertutup habislah sudah basa-basi itu. Kau memasuki bulan madu. Aku juga pergi. Ke pembuangan,” tulisnya.

Selain kisah sentimental ihwal perpisahan dengan anaknya, surat tersebut juga menceritakan pelbagai peristiwa sebelum dan selama perjalanannya dalam kapal busuk yang terengah-engah membelah lautan. Pram mengabarkan bagaimana ia dan kawan-kawannya dihinakan oleh manusia lain yang sebangsa dan setanah air.

Sebelum kapal merapat di pelabuhan Sodong, para tahanan politik dijemur di tanah lapang dengan kondisi kelaparan dan hantaman yang kerap dari tentara. Para pemegang bedil tak mengizinkan mereka untuk bertukar pakaian meskipun ukurannya tak sesuai dengan badan masing-masing.

Saat sebagian dihajar tentara, sebagian lagi tak mampu menahan lapar hingga memakan apapun yang ada didekatnya: daun beluntas yang berdebu, tikus kakus yang gemuk, bonggol batang pepaya dan pisang, juga menelan cicak hidup-hidup.

“Kelaparan itu sudah sampai pada titik tinggi kegarangannya […] Keberanian menantang kelaparan adalah kepahlawanan tersendiri,” tulisnya.

Kapal ADRI XV yang busuk akhirnya datang. Kecoa berkuasa. Kakus ditimbuni kotoran manusia. Sama betul dengan penjara Karang Tengah, Nusa Kambangan, saat mereka ditahan sementara sebelum diangkut ke Pulau Buru: kotoran manusia juga yang mereka temui.

Pram dan para tahanan dari Jakarta segera membersihkan kakus keparat itu. Namun, karena semua lubang pembuangan tersumbat, gunungan tahi menjelma menjadi rawa. Saat kapal dihantam gelombang, rawa busuk itu membanjiri ruangan yang ditempati Pram dan kawan-kawannya. Bau menyengat berkuasa, sementara kapal berjalan tertatih-tatih.

“Kapal kami terus terengah-engah, berderak-derak, tigaribu limaratus ton bobot mati. Meluncur cepat, secepat bersepeda santai keliling kota. Kadang mogok, berhenti, jadi permainan ombak di tengah laut—kapal kami, kapal negara kepulauan terbesar di atas muka bumi! […] Entah sudah berapa kali kapal kami dilewati kapal-kapal lain. Mungkin dari kejauhan jadi tontonan yang mengibakan, penderita kusta di tengah-tengah lalu lintas kehidupan yang sehat dan cerah,” ungkapnya.

Biar busuk begitu, kusta di tengah samudera, tapi kapal ADRI XV tak kunjung tenggelam. Sebagian tahanan politik berdoa agar kapal tersebut dihantam angin, terjungkir, dan karam. Mereka berharap mati dimangsa karnivora laut. Doa-doa membubung kepada entah, nyatanya kematian tak segera datang.

Pada punggung para tahanan tergendong sebuah kantong, yang kata Pram tak lepas seumur hidup karena penuh dengan lambang-lambang pengalaman indrawi dan batin.
Pengalaman-pengalaman itu, imbuhnya, akan terus berbicara dengan bahasanya sendiri, sama halnya dengan kisah yang ditulis para pengarang yang menuturkan para penyintas lain. Di antaranya kisah Rumah Mati di Siberia karya Dostoyevsky, Boven Digoel karangan Dr. Schoonheyt, Arthur Koestler dalam Gerhana Tengah HariLaporan dari Tiang Gantungan karya Julius Fuchik, dan lain-lain.

Kantong-kantong yang tergendong itu di antaranya disesaki oleh pengalaman saat yang nampak dalam pandangan mereka di kapal tersebut hanyalah maut, tak ada yang lain: laut, kapal busuk, peluru, bayonet, perintah, pestol, bedil, dan pisau komando.

Sepuluh hari mereka terapung di lautan maha luas, sebelum akhirnya berlabuh di Namlea, sebuah tempat yang kata Pram “pelabuhan alami di teluk dihiasi rumah-rumah kecil seperti kardus”. Saat turun, para tahanan disambut tentara dari Divisi Pattimura yang siap dengan senapan dan tinju.

Surat yang tak terkirimkan ini ia pungkasi dengan menyapa lagi anak sulungnya: “Nah, pengantin baru, anakku, kau boleh ucapkan padaku 'selamat untukmu, papa, tapol RI yang memasuki masa pembuangan', sebagai balasan atas hadian kawin semacam ini. Selamat untukmu, anakku, selamat untuk suamimu, yang aku tak ingat namanya.”


Surat untuk Titiek, Yudi, Yana, Rita, dan Nen

4 Maret 1972, Pram menerima surat dari Titiek, anaknya yang keempat. Isinya menceritakan tentang kemajuannya di bangku sekolah. Titiek juga bertanya keadaan ayahnya di pembuangan. Apakah ayahnya bisa mencukupi pakaian dan makanan atau sebaliknya. Juga kerinduan bertalu-talu seorang anak kepada ayahnya yang telah lama berpisah.

“Setiap Titiek hendak tidur, Titiek selalu melihat foto ayahanda dan Titiek suka mengeluarkan air mata […] Setiap hari Titiek selalu menunggu ayahanda di depan rumah. Setiap orang lewat Titiek perhatikan, kalau-kalau saja ayahanda datang,” tulisnya.

Enam tahun kemudian, Pram membalas surat dari Titiek bertitimangsa Maret 1978. Tentu hanya surat balasan, karena tak mungkin terkirimkan. Ia menanggapi soal kemajuan pendidikan anaknya. Juga berkisah tentang pertemuannya dengan Maemunah Thamrin, istrinya.

Kisah suka dan duka saat pertemuan, pernikahan, dan mula-mula menjalani kehidupan rumah tangga dengan istrinya pun ia ceritakan. Dalam surat panjang itu Pram tak lupa menguatkan hati anaknya, juga dirinya.

“Kau tak perlu menangisi hilangnya ayahmu. Jangan sentimental terhadap kenyataan. Bahwa kau tahu ayahmu mencintaimu itu pun sudah cukup. Bahwa aku tahu kau mencintai ayahmu, itu lebih dari cukup,” tulisnya.

Dalam jilid kedua Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, terbuhul beberapa surat lain yang Pram tujukan kepada anak-anaknya, yakni Yudi (10 Oktober 1977), Yana (tanpa titimangsa), Titiek (23 Agustus 1977), Rita (tanpa titimangsa), dan Nen (tanpa titimangsa).

Kepada Yudi ia bertanya soal perkembangan pelajaran ilmu buminya di sekolah. Pram lalu bercerita tentang pengalamannya saat mengunjungi India, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Burma.

Surat kepada Yudi ia tulis dalam keadaan disentri. Kepada anaknya, Pram menyampaikan bahwa selama sakit ia dirawat oleh kawan-kawannya.

“Sekarang telah mulai sembuh dan pendarahan telah berhenti. Teman-teman Papa menyediakan 4 butir telur setiap makan dengan bubur Manado […] Obat yang diberikan teman Papa untuk diminum adalah Diarex, Tetra, dan Vit,” tulisnya.

Sementara dalam surat kepada Yana yang berminat kepada musik, Pram berkisah tentang kawan-kawannya yang mempunyai beberapa alat musik. Ia juga bercerita tentang pengalamannya menyaksikan sebuah proyek yang dibangun oleh para pemuda di Jerman dan di kota Bratsk, Siberia.

Surat kepada Yana ia akhiri dengan sebuah pesan tentang pentingnya menilai pengalaman. Menurutnya, pengalaman yang tak dinilai hanyalah sesobek kertas dari buku hidup yang tak punya makna.

“Setiap pengalaman tak lain daripada fondasi kehidupan. Maka belajarlah kau menilai pengalamanmu sendri,” pungkasnya.

Saat Titiek berulangtahun yang ke-21 pada 7 Juli, meski terlambat Pram menulis surat untuknya sebagai hadiah. Ia bercerita rupa-rupa pengalaman hidupnya. Dalam surat itu Pram menegaskan bahwa segala yang datang pada kehidupan manusia adalah hasil usaha manusia sendiri.

Seperti kepada anak-anaknya yang lain, surat-surat Pram yang ditulis untuk Rita dan Nen pun dipenuhi pelbagai pengalaman, baik ketika masih menjadi manusia merdeka, maupun saat ia telah menjadi tahanan politik Orde Baru.

Hampir semua surat itu ia akhiri dengan kata “peluk cium” untuk mewakili kerinduan pada anak anaknya. Orde Baru menahannya selama 14 tahun. Salemba, Nusakambangan, Pulau Buru, dan Banyumanik adalah tempat-tempat yang ia habiskan dalam keadaan sebagai tahanan. Dan Pulau Buru adalah yang terlama, yakni dari Agustus 1969 sampai November 1979.

Desember 1979, saat ia akhirnya dibebaskan, keluarganya menjemput Pram di 
Salemba. Ia hanya mengenali istrinya. Anak-anaknya, yang berbaris menyambutnya tak ia kenali.

Setelah beberapa saat, Pram tersentak. Ia baru sadar, para remaja yang dari tadi berdiri di hadapan dan memanggil-manggilnya “Papi” dan “Ayahanda”, yang ia tatap dengan bengong, adalah anak-anaknya. Ia pun lantas memeluk mereka. (irf)



Ket: 

-Tayang pertama kali di tirto.id pada 28 Januari 2019

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai