20 October 2019

Larantuka dan Ketakutan Naik Pesawat



Ketika saya menulis di Bandung, dan seperti biasa tengah jengkel dengan keberadaan kutu bangsat alias kutu busuk alias tumila, ponsel berdering.

“Lu mau gak jalan ke Larantuka?” tanya editor.

“Ngapain?”

“Ngeliput teater.”

“Kok gw?”

“Faisal sama Joan sakit,” jawabnya.

Maka, 4 Juli 2019 pagi saya telah duduk di DAMRI Pasar Minggu-Soekarno Hatta. Hari masih gelap, belum genap pukul 05.00.

“Dari Jakarta gak banyak, hanya beberapa media,” kata Aura — panitia yang mengurus awak media — sehari sebelumnya.

Saya menuju El Tari dengan Batik Air. Setahun sebelumnya, kira-kira dua minggu sepulang outing dari Bali, sebuah pesawat jatuh di perairan Karawang. Sejak kejadian nahas itu, bagi saya naik pesawat tak ubahnya teror berkepanjangan.

Saat tiba di El Tari, Kupang, ketegangan sedikit mengendur. Namun teror belum selesai, masih ada 45 menit di udara yang mesti dilalui. Dan ketika Wings Air akhirnya siap berangkat, saya kembali dilanda stres. Pesawat berbadan kecil itu membuat ketegangan menjadi berlipat.

Kira-kira pukul 15.20, pesawat tiba di Gewayantana, Larantuka. Perasaan saya lega belaka, setidaknya dalam tiga hari ke depan. Aura telah menunggu di muka bandara.

Di Gewayantana pula akhirnya saya tahu, ternyata hanya tiga media yang datang dari Jakarta: Kompas, The Jakarta Post, dan media tempat saya bekerja.

***




Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur itu adalah kota yang kering. Matahari menyengat sepanjang hari. Kota ini juga adalah pusat wisata ziarah Katolik. Setiap tahun digelar perayaan Paskah bernama Semana Santha. Patung Maria atau warga tempatan menyebutnya Tuan Ma, menghiasi sejumlah pojok kota. Dulu, sebuah Kerajaan Katolik berdiri di sini.

Perairan sempit yang diapit Pulau Flores dan Adonara, namun mampu menjadi jalur lalu-lintas kapal besar, menjadi pemandangan sehari-hari. Tak ada ombak, tak ada gelombang, tapi arus bawahnya kencang.

Saya bersama dua awak media lain tinggal di penginapan yang letaknya tak jauh dari Taman Felix Fernandes, tempat patung ikonik Tuan Ma tengah menggendong Yesus. Di seberang patung tersebut terdapat kapel tua yang telah dicat ulang. Sekilas bangunannya mirip masjid.

Penginapan ini milik orang Jawa. Beberapa burung dan ayam dipelihara. Jika pagi dan petang tiba, pelayan penginapan akan menawarkan minuman dan kudapan.
Tanggal 4,5, dan 6, setiap sore sampai malam, kami bertiga melihat latihan teater yang tempat pementasannya persis di bibir pantai Taman Felix Fernandes.

Pantai di sana tak menyebabkan kulit menjadi lengket. Dan jika petang telah dijemput malam, dingin menyerang. Angin lembah bertiup dari Ile Mandiri, gunung keramat yang konon tak sembarang orang boleh menaikinya.

Mayoritas penduduk Larantuka tentu Katolik. Namun, ada juga perkampungan Muslim yang berada dekat pelabuhan. Polanya memang seperti itu. Perkampungan Muslim yang banyak dihuni pendatang, rata-rata tinggal di daerah pesisir.

***




Saya pertama kali mendengar kata “Larantuka” dari Boomerang. Band asal Surabaya itu menyanyikan ulang lagu Band SAS berjudul “Larantuka”. Begini sepenggal liriknya:

“Di ujung timur Flores
Ada bencana gempa
Tanah retak
Bumi bergoncang kencang
Larantuka
(O-o-o-oh)
Larantuka”

Barangkali karena peristiwanya telah lama berlalu dan generasi telah berganti, orang-orang banyak yang tidak tahu musibah gempa itu.

Selain udara lautnya tak bikin lengket, hal lain yang menarik dari Larantuka adalah moke: minuman khas Flores yang terbuat dari siwalan (lontar) atau enau. Di tempat lain, minuman ini disebut sopi. Moke yang rasanya keras menyengat adalah simbol adat, persaudaraan, dan pergaulan bagi masyarakat Flores.

Maka beberapa jam sebelum pertunjukan teater digelar pada tanggal 7, sejumlah orang tua menggelar doa di sekitar panggung sembari memegang sebotol moke. Setelah doa selesai, mereka bergantian menghirup minuman itu dengan menggunakan semacam batok kelapa kecil.

“Pak, boleh coba lagi?” tanya kawan dari The Jakarta Post.

Setelah dikasih, ia menyodorkannya kepada saya.

“Cobain mas, enak ke badan, anget,” ucapnya.

Malam sebelumnya, Geri, salah seorang pelayan di penginapan, menawari kami moke. Katanya ia bisa membelinya ke warga sebanyak satu jeriken. Gila! Sebanyak itu pasti bikin orang tumbang!

Jentaka menimpa kawan dari Kompas. Setelah pertunjukan selesai, dan moke di tangan para tetua masih ada, ia ditantang oleh vokalis Melancholic Bitch — dramaturg pementasan — untuk menghirup moke sekali teguk.

“Lebih mantap [jika sekali hirup],” ucap si vokalis.

Malang, kawan dari Kompas justru tersedak! Minuman menyengat itu membuatnya tersiksa. Sampai pagi, matanya masih merah.

***




Tanggal 7 sore kami akhirnya menuju kembali ke Gewayantana. Kawan dari Kompas belum selesai ditimpa sial. Kali ini kopernya yang berisi pakaian kena charge oleh maskapai sebesar 600 ribu rupiah. Beruntung, dekat bandara kecil semenjana itu terdapat ATM BRI hingga ia dapat membayarnya.

Namun, kali ini tampaknya segala kesialan itu tak dapat mengalahkan kecemasan saya. Teror di udara telah menunggu di muka. Tujuh jam ketegangan sudah menanti. Dan saat pesawat Wings Air siap meninggalkan Gewayantana, ketegangan itu kian bertambah.

Ketika sampai di El Tari untuk transit, pikiran saya telah di Jakarta. Tepatnya ingin segera mendarat di Soekarno-Hatta. Seperti tertera dalam tiket, penerbangan selanjutnya adalah langsung menuju Cengkareng. Namun apa yang terjadi? Pesawat ternyata transit lagi di Djuanda, Surabaya. Artinya, pikiran buruk saya belum akan berakhir.

Jika orang-orang berharap duduk dekat jendela agar bisa melihat pemandangan dari ketinggian dan menjerat beberapa gambar, maka saya sebaliknya. Ketinggian adalah neraka. Sangat mengerikan.

Ketegangan akhirnya berakhir saat pesawat mendarat di Cengkareng pukul 20.45. Ingin rasanya saya bersujud syukur seperti beberapa pemain bola setelah mencetak gol. Namun saya sadar, saya bukan Prabowo dan tim suksesnya dalam pemilu.

Hari-hari ini sejumlah kawan redaksi memenuhi pelbagai undangan di luar kota, di antaranya Solo dan Yogyakarta. Mereka berangkat memakai pesawat. Seandainya saya yang diundang, saya akan memilih naik kereta api. Solo dan Yogyakarta tak sejauh Larantuka, bukan? [irf]

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai