31 October 2019

Surat-Surat Pram dari Pulau Buru: Kerinduan Bapak pada Anaknya


"Surat ini takkan mungkin bisa dikirimkan. Takkan mungkin sampai ke tanganmu. Lihat, dia tetap kutulis."

17 Agustus 1969, kapal ADRI (Angkatan Darat Republik Indonesia) XV yang sudah butut mengangkut lebih dari delapan ratus orang tahanan politik yang ditangkap setelah peristiwa berdarah 1965.

Mula-mula kapal meninggalkan pelabuhan Sodong, Nusa Kambangan. Lalu pelabuhan Wijayapura, Cilacap, juga ditinggalkan. Kapal itu hendak menuju Pulau Buru di Maluku, kamp konsentrasi ala Orde Baru yang memakan banyak korban.

Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram), salah seorang di antara ratusan manusia malang itu mengisahkan perjalanannya lewat surat yang ia tujukan kepada anak sulungnya. Risalah yang tak terkirimkan itu ia tulis setelah tahun 1973, saat pemerintah Orde Baru—karena tekanan dunia internasional—mengizinkan Pram untuk kembali menulis.

“Surat ini takkan mungkin bisa dikirimkan. Takkan mungkin sampai ke tanganmu. Lihat, dia tetap kutulis, untukmu—kau, yang sedang berbahagia dalam suasana pengantin baru,” tulis Pram sebagai pembuka suratnya.


Tetap Menulis dalam Penderitaan

Dalam cengkeraman militer, alih-alih berkirim surat, hari-hari di Pulau Buru adalah kerja paksa dan kematian. Para tahanan politik yang kekurangan makanan, terkuras tenaganya, kehabisan kesabaran, dan detik demi detik bernapas dalam angkara para penyandang bedil, satu persatu menemui ajal.

Malaikat pencabut nyawa mengambil jiwa-jiwa itu dengan pelbagai cara. Pertama, lewat penyakit yang merajalela: TBC, hepatitis, batu ginjal, malaria, jantung, tifus, abses hati, kanker prostat, kanker paru-paru, dan lain-lain. Selanjutnya senarai kematian terjadi karena bunuh diri, tenggelam, diseruduk sapi, tersambar petir, tertimpa pohon, ditombak penduduk setempat, dan dibunuh tentara.

Di tengah situasi seperti itulah Pram menulis surat. Seperti ia utarakan dalam dua jilid Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, sebagai penulis ia tak hanya mendapat dukungan dunia internasional, kawan-kawannya pun sesama tahanan politik banyak membantunya agar ia bisa menulis lagi.

Selain menghasilkan sejumlah buku sebagai tanggung jawabnya, ia pun merawat hubungan personal dengan anak-anaknya lewat surat-surat yang tak terkirimkan. Satu fragmen mengharukan ia tulis untuk anaknya yang pengantin baru itu.

Dalam suratnya Pram mengenang peristiwa saat ia masih ditahan di RTC (Rumah Tahanan Chusus) Salemba, Jakarta. Anak sulungnya datang bersama calon suami dan penghulu, mereka hendak menikah. Kepada calon suami anaknya Pram berkata:

“Anak ini anakku yang pertama, anak yang aku sayangi. Dahulu neneknya berharap ia jadi dokter, ternyata ia akan menjabat jadi istrimu. Jadi, setelah nanti kalian menikah, jangan sekali-kali anakku dilarang atau dihalangi kalau dia mau meneruskan pelajarannya. Kedua, tidak aku izinkan anakku dipukul atau disakiti. Ketiga, anak ini kau pinta padaku untuk diperistri secara baik-baik, kalau karena sesuatu hal kau tidak menyukainya lagi, kembalikan pula dia secara baik-baik padaku.”

Setelah mereka menikah, pengantin baru itu berpisah dengannya. Pram tak lagi mampu mengingat titimangsa pernikahan anaknya, juga sejumlah hal tentang suami anaknya: nama, pekerjaan, dan pendidikan. Kepada anaknya ia berpesan, apa yang telah dipilihnya itu pula tanggung jawabnya.

“Dan sejak itu kau tak pernah datang menjenguk aku lagi […] Beberapa kali kau masih melihat ke belakang sebelum pintu raksasa itu mengantarkan kau lepas ke jalan raya. Orang yang setelah pernikahan itu menjadi suamimu beberapa kali masih membungkuk memberi hormat. Dan waktu pintu raksasa itu kembali tertutup habislah sudah basa-basi itu. Kau memasuki bulan madu. Aku juga pergi. Ke pembuangan,” tulisnya.

Selain kisah sentimental ihwal perpisahan dengan anaknya, surat tersebut juga menceritakan pelbagai peristiwa sebelum dan selama perjalanannya dalam kapal busuk yang terengah-engah membelah lautan. Pram mengabarkan bagaimana ia dan kawan-kawannya dihinakan oleh manusia lain yang sebangsa dan setanah air.

Sebelum kapal merapat di pelabuhan Sodong, para tahanan politik dijemur di tanah lapang dengan kondisi kelaparan dan hantaman yang kerap dari tentara. Para pemegang bedil tak mengizinkan mereka untuk bertukar pakaian meskipun ukurannya tak sesuai dengan badan masing-masing.

Saat sebagian dihajar tentara, sebagian lagi tak mampu menahan lapar hingga memakan apapun yang ada didekatnya: daun beluntas yang berdebu, tikus kakus yang gemuk, bonggol batang pepaya dan pisang, juga menelan cicak hidup-hidup.

“Kelaparan itu sudah sampai pada titik tinggi kegarangannya […] Keberanian menantang kelaparan adalah kepahlawanan tersendiri,” tulisnya.

Kapal ADRI XV yang busuk akhirnya datang. Kecoa berkuasa. Kakus ditimbuni kotoran manusia. Sama betul dengan penjara Karang Tengah, Nusa Kambangan, saat mereka ditahan sementara sebelum diangkut ke Pulau Buru: kotoran manusia juga yang mereka temui.

Pram dan para tahanan dari Jakarta segera membersihkan kakus keparat itu. Namun, karena semua lubang pembuangan tersumbat, gunungan tahi menjelma menjadi rawa. Saat kapal dihantam gelombang, rawa busuk itu membanjiri ruangan yang ditempati Pram dan kawan-kawannya. Bau menyengat berkuasa, sementara kapal berjalan tertatih-tatih.

“Kapal kami terus terengah-engah, berderak-derak, tigaribu limaratus ton bobot mati. Meluncur cepat, secepat bersepeda santai keliling kota. Kadang mogok, berhenti, jadi permainan ombak di tengah laut—kapal kami, kapal negara kepulauan terbesar di atas muka bumi! […] Entah sudah berapa kali kapal kami dilewati kapal-kapal lain. Mungkin dari kejauhan jadi tontonan yang mengibakan, penderita kusta di tengah-tengah lalu lintas kehidupan yang sehat dan cerah,” ungkapnya.

Biar busuk begitu, kusta di tengah samudera, tapi kapal ADRI XV tak kunjung tenggelam. Sebagian tahanan politik berdoa agar kapal tersebut dihantam angin, terjungkir, dan karam. Mereka berharap mati dimangsa karnivora laut. Doa-doa membubung kepada entah, nyatanya kematian tak segera datang.

Pada punggung para tahanan tergendong sebuah kantong, yang kata Pram tak lepas seumur hidup karena penuh dengan lambang-lambang pengalaman indrawi dan batin.
Pengalaman-pengalaman itu, imbuhnya, akan terus berbicara dengan bahasanya sendiri, sama halnya dengan kisah yang ditulis para pengarang yang menuturkan para penyintas lain. Di antaranya kisah Rumah Mati di Siberia karya Dostoyevsky, Boven Digoel karangan Dr. Schoonheyt, Arthur Koestler dalam Gerhana Tengah HariLaporan dari Tiang Gantungan karya Julius Fuchik, dan lain-lain.

Kantong-kantong yang tergendong itu di antaranya disesaki oleh pengalaman saat yang nampak dalam pandangan mereka di kapal tersebut hanyalah maut, tak ada yang lain: laut, kapal busuk, peluru, bayonet, perintah, pestol, bedil, dan pisau komando.

Sepuluh hari mereka terapung di lautan maha luas, sebelum akhirnya berlabuh di Namlea, sebuah tempat yang kata Pram “pelabuhan alami di teluk dihiasi rumah-rumah kecil seperti kardus”. Saat turun, para tahanan disambut tentara dari Divisi Pattimura yang siap dengan senapan dan tinju.

Surat yang tak terkirimkan ini ia pungkasi dengan menyapa lagi anak sulungnya: “Nah, pengantin baru, anakku, kau boleh ucapkan padaku 'selamat untukmu, papa, tapol RI yang memasuki masa pembuangan', sebagai balasan atas hadian kawin semacam ini. Selamat untukmu, anakku, selamat untuk suamimu, yang aku tak ingat namanya.”


Surat untuk Titiek, Yudi, Yana, Rita, dan Nen

4 Maret 1972, Pram menerima surat dari Titiek, anaknya yang keempat. Isinya menceritakan tentang kemajuannya di bangku sekolah. Titiek juga bertanya keadaan ayahnya di pembuangan. Apakah ayahnya bisa mencukupi pakaian dan makanan atau sebaliknya. Juga kerinduan bertalu-talu seorang anak kepada ayahnya yang telah lama berpisah.

“Setiap Titiek hendak tidur, Titiek selalu melihat foto ayahanda dan Titiek suka mengeluarkan air mata […] Setiap hari Titiek selalu menunggu ayahanda di depan rumah. Setiap orang lewat Titiek perhatikan, kalau-kalau saja ayahanda datang,” tulisnya.

Enam tahun kemudian, Pram membalas surat dari Titiek bertitimangsa Maret 1978. Tentu hanya surat balasan, karena tak mungkin terkirimkan. Ia menanggapi soal kemajuan pendidikan anaknya. Juga berkisah tentang pertemuannya dengan Maemunah Thamrin, istrinya.

Kisah suka dan duka saat pertemuan, pernikahan, dan mula-mula menjalani kehidupan rumah tangga dengan istrinya pun ia ceritakan. Dalam surat panjang itu Pram tak lupa menguatkan hati anaknya, juga dirinya.

“Kau tak perlu menangisi hilangnya ayahmu. Jangan sentimental terhadap kenyataan. Bahwa kau tahu ayahmu mencintaimu itu pun sudah cukup. Bahwa aku tahu kau mencintai ayahmu, itu lebih dari cukup,” tulisnya.

Dalam jilid kedua Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, terbuhul beberapa surat lain yang Pram tujukan kepada anak-anaknya, yakni Yudi (10 Oktober 1977), Yana (tanpa titimangsa), Titiek (23 Agustus 1977), Rita (tanpa titimangsa), dan Nen (tanpa titimangsa).

Kepada Yudi ia bertanya soal perkembangan pelajaran ilmu buminya di sekolah. Pram lalu bercerita tentang pengalamannya saat mengunjungi India, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Burma.

Surat kepada Yudi ia tulis dalam keadaan disentri. Kepada anaknya, Pram menyampaikan bahwa selama sakit ia dirawat oleh kawan-kawannya.

“Sekarang telah mulai sembuh dan pendarahan telah berhenti. Teman-teman Papa menyediakan 4 butir telur setiap makan dengan bubur Manado […] Obat yang diberikan teman Papa untuk diminum adalah Diarex, Tetra, dan Vit,” tulisnya.

Sementara dalam surat kepada Yana yang berminat kepada musik, Pram berkisah tentang kawan-kawannya yang mempunyai beberapa alat musik. Ia juga bercerita tentang pengalamannya menyaksikan sebuah proyek yang dibangun oleh para pemuda di Jerman dan di kota Bratsk, Siberia.

Surat kepada Yana ia akhiri dengan sebuah pesan tentang pentingnya menilai pengalaman. Menurutnya, pengalaman yang tak dinilai hanyalah sesobek kertas dari buku hidup yang tak punya makna.

“Setiap pengalaman tak lain daripada fondasi kehidupan. Maka belajarlah kau menilai pengalamanmu sendri,” pungkasnya.

Saat Titiek berulangtahun yang ke-21 pada 7 Juli, meski terlambat Pram menulis surat untuknya sebagai hadiah. Ia bercerita rupa-rupa pengalaman hidupnya. Dalam surat itu Pram menegaskan bahwa segala yang datang pada kehidupan manusia adalah hasil usaha manusia sendiri.

Seperti kepada anak-anaknya yang lain, surat-surat Pram yang ditulis untuk Rita dan Nen pun dipenuhi pelbagai pengalaman, baik ketika masih menjadi manusia merdeka, maupun saat ia telah menjadi tahanan politik Orde Baru.

Hampir semua surat itu ia akhiri dengan kata “peluk cium” untuk mewakili kerinduan pada anak anaknya. Orde Baru menahannya selama 14 tahun. Salemba, Nusakambangan, Pulau Buru, dan Banyumanik adalah tempat-tempat yang ia habiskan dalam keadaan sebagai tahanan. Dan Pulau Buru adalah yang terlama, yakni dari Agustus 1969 sampai November 1979.

Desember 1979, saat ia akhirnya dibebaskan, keluarganya menjemput Pram di 
Salemba. Ia hanya mengenali istrinya. Anak-anaknya, yang berbaris menyambutnya tak ia kenali.

Setelah beberapa saat, Pram tersentak. Ia baru sadar, para remaja yang dari tadi berdiri di hadapan dan memanggil-manggilnya “Papi” dan “Ayahanda”, yang ia tatap dengan bengong, adalah anak-anaknya. Ia pun lantas memeluk mereka. (irf)



Ket: 

-Tayang pertama kali di tirto.id pada 28 Januari 2019

Membaca 'Atheis', Menelusuri Ruang Pengalaman Para Tokohnya



Tahun ini roman Atheis karya Achdiat Kartamihardja berusia 70 tahun. Tirto menelusuri sejumlah tempat di Kota Bandung yang dijadikan latar cerita.

Achdiat Kartamihardja memungkasi roman Atheis dengan darah dan iman yang tersisa. Hasan, tokoh utamanya, pemuda puritan dan peragu yang telah bersalin keyakinan, barangkali masih mempunyai ampas akidah pada Tuhan-nya.

“Hasan jatuh tersungkur. Darah menyebrot dari pahanya. Ia jatuh pingsan. Peluru senapan menembus daging pahanya sebelah kiri. Darah mengalir dari lukanya, meleleh di atas betisnya. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal, bermandi darah. Kemudian dengan bibir melepas kata ‘Allahu Akbar’, tak bergerak lagi…”

Kisah tragis Hasan dalam pencarian jati diri tersebut tahun ini memasuki usia ke-70 sejak mula-mula terbit pada 1949. Roman Atheis menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan sastra Indonesia modern.

“Penyelaman ke dalam jiwa tokoh-tokoh, pemilihan kejadian-kejadian di dalam plot-plot, pembayangan tema, dan lain-lain unsur yang menjadikan Atheis suatu well-made novel,” ungkap Subagio Sastrowardoyo dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983).

Pada 1974 Atheis sempat diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sumandjaja. Seperti romannya, filmnya juga menimbulkan kontroversi, bahkan saat masih dalam proses perencanaan. Hal ini, menurut J.B. Kristanto dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005 (2005), membuat ulama sohor, Hamka, turun tangan menjadi supervisornya.

Meski film ini kurang berhasil secara komersial, tapi mampu meraih Plakat Djamaluddin Malik pada Festival Film Indonesia 1975 untuk film adaptasi novel terbaik.

Roman Atheis dibangun lewat cerita berbingkai. Kisah ini disampaikan kepada pembaca lewat tokoh “saya” yang berjumpa dengan Hasan yang memberikan sebuah naskah kepadanya, berupa pengalaman hidup Hasan sendiri. Tokoh “saya” kemudian bertindak sebagai juru kisah.

Andries “Hans” Teeuw, pakar sastra dan budaya Indonesia asal Belanda, seperti dikutip Sastrowardoyo menyusun roman Atheis lewat sebuah rumusan (C [B (A) B] C). A merupakan pokok kisah, B hubungan Hasan dengan tokoh “saya”, dan C adalah cerita kematian Hasan berdasarkan laporan orang lain.

Bangunan cerita ini membuat cerita dalam roman Atheis berlapis. Pembaca mesti tajam tiliknya dengan peralihan antarbagian ini untuk menghindari kebingungan dalam mengikuti alur cerita.

Salah satu unsur lain yang menarik dalam roman ini ialah latar tempat, dan yang paling banyak dipakai adalah Bandung. Di kota inilah Hasan bergulat dengan pelbagai pemikiran baru, tarik-menarik dengan pemikiran lamanya yang kolot.

Tempat-tempat ini juga dianggap penting oleh tokoh “saya” ketika ia menerima naskah kisah ini dari Hasan. Ia hendak memastikan cerita yang dituturkan oleh kawannya tersebut.

“Saya akan mengunjungi tempat-tempat, ke mana ia pernah pergi, dan meminta keterangan yang cukup kepada orang-orang yang pada masa itu pernah bergaul atau berhubungan dengan Hasan,” ungkapnya.

Jika tokoh “saya” mengunjungi tempat-tempat itu untuk mengonfirmasi cerita, maka kiwari penelusuran tempat dan lanskap kota yang tercantum dalam Atheis barangkali bisa menjadi cara alternatif dalam mengingat ulang dan mengenalkan kembali kisah ini kepada para pembaca lama. Kepada pembaca terkini, ini adalah cara baru untuk memperkenalkan roman itu.


Tempat Tinggal dan Watak

 Secara garis besar sekujur latar roman didominasi wilayah Bandung selatan, yang dulu menjadi permukiman pribumi. Sementara Bandung bagian utara adalah wilayah permukiman orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. Batas kedua wilayah ini adalah rel kereta api.

Meskipun Atheis tidak mengisahkan pertentangan antara Belanda dan Jepang dengan rakyat Indonesia yang tertindas, karakter-karakter di dalamnya tetap dikisahkan berada di bawah tekanan penjajahan.

“Dengan menyadari suasana zaman yang melingkungi hidup tokoh-tokoh roman ini, maka menjadi jelas mengapa alam pikiran tokoh-tokoh Atheis dipenuhi masalah-masalah politik,” terang Subagio Sastrowardoyo.

Di luar soal politik, imbuh Sastrowardoyo, pemilihan tempat tinggal tokoh-tokoh utama juga merupakan perwujudan kepribadian mereka.

Selama di Bandung, Hasan tinggal di rumah bibinya di Jalan Sasakgantung. Jalan ini berupa jalan kecil dengan kualitas tidak terlalu bagus yang melewati sejumlah perkampungan.

Pada 1940-an Jalan Sasakgantung bukan daerah para menak yang mapan secara ekonomi, garis keturunan, dan pendidikan. Jalan itu dihuni para pegawai rendahan seperti Hasan, juga para pedagang kecil. Di lingkungan perkampungan seperti inilah Hasan tinggal, lingkungan yang menuntut warganya bersikap tertib.

Sementara Kartini tinggal di Jalan Lengkong Besar, sebuah ruas jalan yang banyak dihuni para menak. Ia sempat menjadi istri seorang rentenir tua keturunan Arab karena dipaksa kawin oleh orang tuanya. Tempat tinggal dan lingkungannya ini membuat Kartini tak canggung dalam pergaulan kehidupan kota.

Dan Rusli, kawan masa kecil Hasan yang bertemu lagi di Bandung, tinggal di Jalan Kebon Manggu. Sebuah jalan kecil di pinggir Jalan Kalipah Apo yang digambarkan dalam roman tersebut dipenuhi rumah pelacuran. Lingkungan tempat tinggalnya ini menunjukkan bahwa Rusli suka menentang ukuran moral yang umum.

“Dengan memaklumi daerah tempat tinggal tokoh masing-masing itu kita dapat menerima dengan lebih wajar, misalnya kekikukan Hasan dalam menghadapi tokoh-tokoh lain,” imbuh Sastrowardoyo.


Sungai, Bioskop, dan Taman

 Selain Jalan Sasakgantung, Jalan Lengkong Besar, dan Jalan Kebon Manggu, tempat lain yang dapat ditelusuri adalah Sungai Ci Kapundung yang membelah Kota Bandung. Di sungai ini Hasan mandi sebanyak empat puluh kali selama satu malam, dari bakda isya sampai menjelang subuh.

“Tiap kalinya aku mencemplungkan diri ke dalam air, menyelam ke dalam, dan sesudah itu lekas ke luar dari dalam air, lalu duduk di pinggir kali, membiarkan tubuh menjadi kering lagi dengan tidak boleh mempergunakan handuk. Kalau sudah kering mesti lekas mencemplungkan diri lagi ke dalam air. Begitulah seterusnya sampai empat puluh kali,” terang Hasan menjelaskan ritualnya dalam mempelajari tarekat yang ia dan orang tuanya anut.

Ci Kapundung sekarang, terutama yang jauh dari hulu, seperti sungai-sungai lainnya di perkotaan, tentu sudah tak layak untuk dijadikan tempat mandi. Limbah industri dan rumah tangga telah mencemarinya. Termasuk di bagian sungai yang melintasi Jalan Sasakgantung tempat Hasan tinggal.

Ketika Hasan mulai dekat dengan Kartini—sebelum akhirnya mereka menikah—mereka sempat menonton film di bioskop sekitar Jalan Suniaraja. Bioskop ini, jika melihat catatan Sjarif Amin dalam memoar bertajuk Keur Kuring di Bandung (1983), diperkirakan bioskop Empress yang semula bernama Apollo seperti terdapat dalam roman Rasia Bandoeng (1918) karangan Chabanneau.

Setelah mereka keluar dari bioskop dan sampai di Parapatan Kompa—simpang antara Jalan Suniaraja dan Jalan Pangeran Sumedang atau sekarang bernama Jalan Oto Iskandar Di Nata—mereka berjalan menuju sebuah taman yang sekarang bernama Taman Dewi Sartika di depan Kantor Wali Kota Bandung.

“Jadi kami tidak berbelok ke Jalan Pasar Baru dan Alun-alun, melainkan mengambil jalan terus, melalui Jalan Suniaraja, Jalan Landraad, dan Pieterspark,” tulis Hasan.

Pada zaman Belanda tempat mengadili pribumi untuk kasus pidana dan perdata dinamakan Landraad. Di Jalan Landraad di Kota Bandung memang terdapat sebuah gedung pengadilan yang salah satunya pernah dipakai untuk mengadili Sukarno dan kawan-kawannya sesama pengurus Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1930. Gedung ini sekarang bernama Gedung Indonesia Menggugat, dan Jalan Landraad telah bersalin nama menjadi Jalan Perintis Kemerdekaan.

Sementara Pieterspark merupakan taman pertama di Kota Bandung. Keberadaan taman ini tentu saja di sebelah utara rel kereta api, karena di sisi inilah orang-orang Belanda dan Eropa lainnya tinggal.

Seperti disebutkan sebelumya, tempat tinggal tokoh-tokoh utama dalam roman Atheis berada di sisi selatan rel kereta api, tapi mereka sesekali main ke utara untuk sekadar bertamasya seperti yang dilakukan Hasan dan Kartini.

Selain mereka, ada juga sejumlah pekerja seks komersial atau Achdiat menyebutnya 'lonte' yang menyelinap ke Pieterspark dan dikejar-kejar para agen polisi kolonial.

“Lonte! Lonte! Masih berani juga kamu menyelundup!” teriak seorang agen polisi sambil mengejar buruannya saat Hasan dan Kartini duduk di sebuah bangku di taman tersebut.


Ruas Jalan Hasan

 Hasan bekerja di Jawatan Air Kotapraja. Alamat kantornya tidak disebutkan, tapi yang jelas di wilayah utara Bandung. Hal ini diketahui saat Hasan menerangkan bahwa pada Sabtu, saat kantor-kantor pemerintah hanya bekerja sampai pukul satu siang, ia meluncur melintasi Jalan Merdeka Lio yang mulut jalannya terletak di sisi Jalan Wastukancana.

“Melancar sepedaku di atas Jalan Merdeka Lio. Aku tak usah banyak mendayung, karena jalannya mudun,” ucapnya.

Ia terus meluncur ke bawah, ke arah selatan. Saat hendak sampai ke Jalan Braga yang sangat ramai oleh pelbagai kendaraan, ia menghindarinya.

“Aku tidak suka kepada keriuhan dan keramaian seperti itu. Oleh karena itu aku tidak mengambil Jalan Braga, melainkan membelok ke kanan, ke Jalan Landraad, terus ke Alun-alun lewat [Jalan] Banceuy,” ungkapnya.

Tempat tinggal Hasan di Jalan Sasakgantung membuat ia kerap melalui jalan-jalan kecil, juga gang, saat hendak menuju ke rumah Rusli di Jalan Kebon Manggu. Dua jalan kecil ini memang agak lurus, tapi terpotong oleh ruas-ruas jalan besar seperti Jalan Balonggede, Jalan Dewi Sartika, dan Jalan Oto Iskandar Di Nata.

Jadi, selain karena Hasan kurang menyukai keriuhan, keberadaan jalan-jalan kecil ini pun membuatnya kerap mengambil jalan pintas. Seperti misalnya saat ia hendak “mengislamkan” Rusli dan Kartini pada awal-awal mereka bertemu.

“Sepedaku melancar didorong oleh keyakinan suci. Tidak mengambil jalan kemarin, melainkan mengambil jalan terobosan, yaitu Gang Awiwulung. Seakan-akan suatu lambang bagiku sebagai seorang mistikus untuk mengambil jalan yang singkat. Bukankah mistik itu jalan yang sesingkat-singkatnya untuk bersatu dengan Tuhan? Begitulah kata guru,” katanya.


Penginapan di Sekitar Stasiun Bandung

 Setelah melewati masa-masa manis, kehidupan rumah tangga Kartini dan Hasan kerap diwarnai pertengkaran. Suatu hari, setelah bertengkar hebat, Kartini pergi meninggalkan rumah.

Mula-mula ia hendak pergi ke Padalarang, ke rumah sepupunya dari garis mendiang ayahnya, tapi ia urungkan karena merasa malu. Ia juga berpikir untuk pergi ke rumah kawannya, namun ini pun ia batalkan karena merasa tak enak.

Ia hanya berjalan tak tentu tujuan, dan akhirnya bertemu dengan Anwar, kawannya, juga kawan Hasan dan Rusli. Setelah singgah di sebuah restoran, Kartini diantar Anwar pergi ke stasiun: rupanya ia berubah pikiran, hendak ke Padalarang. Namun, karena telah sore, Anwar membujuknya untuk bermalam dulu di sebuah penginapan di dekat stasiun.

“Demikianlah layaknya Kartini, ketika Anwar setengah membujuk setengah mendesak mengusulkan, supaya malam itu ia menginap saja di sebuah penginapan dekat stasiun, agar besok paginya bisa terus berangkat dengan kereta api yang paling pagi ke Padalarang,” tulis Achdiat.

Dalam kondisi kejiwaan goncang karena pertengkaran, Kartini akhirnya menurut. Di penginapan tersebut Anwar ternyata hendak memperkosanya. Saat duduk berdua di sebuah kamar, berahinya menjompak.

“Maka ditariknya tangan Kartini, lalu pinggangnya dipeluknya lagi. Tapi licin seperti belut Kartini bisa melepaskan dirinya serta melompat keluar dari sudut yang sempit itu. Dengan cepat seperti tukang copet, tangannya yang kiri menjewang tas pakaiannya dari lantai, lalu lari keluar, meninggalkan Anwar dalam kamar yang tidak berani terus mengejar keluar kamar,” imbuh Achdiat.

Penginapan ini pula yang sempat disinggahi Hasan saat ia tiba dari kampungnya di Garut ketika ayahnya telah meninggal, saat ia telah berkali-kali bertengkar dengan Kartini, dan waktu kondisi fisiknya semakin lemah karena tekanan batin.

Lewat buku tamu, Hasan mengetahui bahwa Kartini dan Anwar pernah singgah di penginapan ini. Hal ini tentu membuatnya emosi, rasa cemburu dan sebal membakar jiwanya. Dengan kemarahan meluap-luap, meski badannya ringkih, Hasan berlari tak tentu tujuan meninggalkan penginapan.

“Hasan lari terus. Lari terkapah-kapah. Napasnya mengap-mengap […] Sinere tiba-tiba berbunyi. Tanda bahaya udara. Hasan agak mengeram larinya. Tapi ia lari terus.”

Saat berlari kesetanan itulah Hasan ditembak aparat keamanan Jepang. Dan sebelum tak bergerak lagi ia sempat berucap “Allahu Akbar”.


Wisata dan Kanon Sastra

 Tempat-tempat lain dalam roman Atheis masih banyak, seperti kantor, warung kopi, restoran, toko, dan lain-lain, yang semuanya menjadi ruang pengalaman bagi para tokoh dalam kisah ini.

Dalam konteks wisata kota, semua lokasi yang menjadi ruang pergulatan antara Hasan dan kawan-kawannya sangat mungkin untuk disusun menjadi sebuah rute perjalanan “sastrawi”. Hal ini bisa menjadi wisata alternatif, juga lebih mendekatkan antara pembaca dengan bahan bacaannya dalam konteks hubungan antara cerita dan ruang penceritaan.

Pada 2017 sebuah komunitas pegiat sejarah Kota Bandung, Komunitas Aleut, sempat melakukan perjalanan berdasarkan roman ini. Tapi, karena pelbagai keterbatasan, titik-titik yang dilaluinya tidak terlalu lengkap. Dan kemarin, Minggu (23/6/2019), mereka mengulang perjalanan yang sama.

Saya mengikuti dua perjalanan tersebut. Jumlah peserta yang turut serta, baik pada 2017 maupun 2019, tidak terlalu banyak. Sebagai sebuah karya sastra klasik yang ditulis pada akhir 1940-an, Atheis jelas berjarak dengan generasi kiwari. Sehingga barangkali mereka tidak terlalu tahu dan hirau dengan karya ini.

Atau mungkin saja generasi sekarang juga tak hendak mengelap-ngelap kanon sastra klasik yang bagi mereka tak ada hubungannya secara langsung dengan kehidupan mereka. Bisa jadi mereka punya kanon sastra sendiri yang lebih mewakili zaman dan pengalamannya. Persis seperti pemahaman yang berjarak antara Hasan dan ayahnya.
(irf)


Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 25 Juni 2019
- Foto: Pinterest

30 October 2019

"Yang Tak Terpadamkan": Kumpulan Cerpen PKI Sebelum Malam Jahanam



Sejumlah penulis membuat cerpen yang terbuhul dalam Yang Tak Terpadamkan (1965) untuk menyambut ulang tahun PKI yang ke-45.


Lima bulan sebelum malam berdarah yang menutup riwayat Partai Komunis Indonesia, delapan penulis menerbitkan kumpulan cerpen bertajuk Yang Tak Terpadamkan dalam rangka menyambut ulang tahun ke-45 partai.

Cerpen pertama berjudul Paman Martil, ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Tujuh cerpen lain masing-masing ditulis oleh A. Kohar Ibrahim (Guruh), T. Iskandar AS (Komunis Pertama), Mara LP (Catatan Seorang Prajurit), Bambang Sukowati Dewantoro (Peristiwa 19 Desember 48), Sugiarti (Anak Desa), Hidayat Sastra Mulyana IW (Dia Seorang Lelaki), dan Zubir AA (Terkepung).

Lewat Paman Martil, Pram mengenang pemberontakan PKI 1926 dan hari-hari penuh ketegangan karena berseteru dengan Sarekat Hijau yang disponsori Belanda.

Orang-orang memanggilnya Paman Martil. Nama lahirnya tak diketahui. Martil menjadi perkakas andalan dalam pekerjaannya membetulkan sepatu rusak. Ia hidup bersama dua orang bocah yang tak jelas siapa orangtuanya.

Paman Martil dan kedua bocah tinggal di sebuah petak sewaan milik seorang janda. Si janda sendiri ditinggal mati oleh seorang singkek yang menikahinya selama 40 tahun.

Para pemuda penasaran dan menanyakan namanya. Dari sana mengalirlah kisah-kisah sedap.

Paman Martil mengaku ingin jadi tukang sepatu sejak dulu. Keterangannya cukup pragmatis. Menurutnya, ketika ia masih bocah, jarang ada orang yang mengenakan sepatu. Wedana saja cuma memakai selop. Sepatu kedudukannya hampir sama dengan payung mas sebagai lambang kekuasaan. Namun lebih dari itu, sepatu bersinonim dengan uang.

“Ada payung mas, ada kekuasaan. Ada sepatu, ada uang. Aku tidak butuh kekuasaan, aku butuh uang untuk makan. Jadi kupilih sepatu sajalah, jadi aku belajar bikin sepatu. Bercita-cita jadi tukang sepatu. Nyatanya 20 tahun jadi tukang sepatu, cuma martil saja yang aku punya. Barangkali dengan martil itu juga aku mati,” ungkapnya.

Kawan sekaligus tetangga Paman Martil bernama Mirjan, yang lebih suka menyebut dirinya "Mariana Proletar". Dibandingkan dengan Paman Martil yang meledak-ledak, Mariana Proletar lebih hati-hati menyikapi ketegangan dengan kaum anti-komunis yang didukung pemerintah kolonial Belanda.

Pada suatu malam, seseorang bersepatu serdadu menendang pintu petak Paman Martil hingga bolong. Sebelum kaki itu ditarik si empunya, martil mendarat di kaki sang 'serdadu' yang langsung meraung kesakitan. Tapi rupanya kaki itu bukan milik serdadu alih-alih seorang tetangga yang tergabung dalam Sarekat Hijau.

Keesokan harinya, istri Mariana Proletar menyampaikan pesan sang suami agar Paman Martil segera pindah. Paman Martil malah naik pitam.

“Pindah? Seluruh Sarekat Hijau boleh dituang kemari. Paling-paling aku mampus! Pemimpin-pemimpin kita sudah ajarkan: kita harus berjuang. Kita harus binasakan kapitalisme-imprealisme dan anjing-anjingnya. Kalau kita kalah, kita cuma kehilangan belenggu kita. Tak bakal rugi apa-apa!” ujarnya geram.

Tak lama setelah ia kembali dari kakus, tiga orang Sarekat Hijau telah datang menunggunya. Paman Martil babak belur dihajar. Martilnya tak ampuh untuk menangkis serangan.

Kira-kira sebulan kemudian, Mariana Proletar datang ke petak Paman Martil dan menyerahkan sepucuk senapan Vickers.

“Jadi,” bisik Mariana Proleter. “Kita jadi berontak.”

“Kalau di empat tempat, empat penjuru, malah hari, ada rumah terbakar, itulah tandanya. Aku akan datang membawa kau,” imbuh Mariana Proletar.


Malam yang dijanjikan pun tiba. Rumah-rumah terbakar. Paman Martil dan empat puluh orang sipil bersenjata menyerang kantor telepon. Dua bocah yang tinggal bersamanya turut serta. Empat jam kantor itu mereka kuasai sebelum akhirnya dikuasai serdadu kolonial.

Paman Martil berhasil lolos. Tapi tak lama kemudian, serdadu-serdadu itu mendatangi rumahnya. Dua bocah selamat, sementara Paman Martil kian terdesak. Senapan Vickersnya sudah tak berfungsi. Ia sempat lari melalui kamar mandi, tapi akhirnya terkurung di bawah sebatang pohon durian.

Pelor serdadu berhamburan menghancurkan dadanya. Paman Martil menjelempah. ia tak bergerak lagi.

“Waktu sebuah durian jatuh di dekat kepalanya ia pun tiada berbuat sesuatu apa pun. Di sebelah sana menggeletak Vickersnya yang basah dalamnya. Di bawah tubuhnya menongol tangkai martilnya. Tapi seluruh tubuhnya berselimutkan bendera merah palu-arit, dan darahnya sendiri,” tulis Pram.

Di bawah cerpennya, Pram menulis catatan: “Ditulis berdasarkan berita-berita dari Sin Po 1926-27, dan beberapa individu, tanpa mengurangi jasa pimpinan penyerbuan, yang terdiri dari Idris, Rais, dan Nur.”


Sarekat Hijau Menyerang Kaum Pergerakan

Ada pemandangan agresivitas Sarekat Hijau terhadap kaum komunis dan pemberontakan yang gagal. Latar peristiwa yang ditulis Pram pada cerpen tersebut merupakan satu babak dalam riwayat pergerakan nasional.

Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008), pemerintah kolonial melakukan represi besar-besaran terhadap kaum pergerakan pada 1924. Mereka mendukung kelompok-kelompok masyarakat yang bukan saja menyerang PKI, tapi juga Sarekat Islam. Kelompok inilah yang bernama Sarekat Hijau. Mereka sangat kuat di daerah Priangan.

“Kelompok-kelompok tersebut merupakan gerombolan-gerombolan penjahat, para anggota polisi, dan para kiai yang mendapat dukungan pemerintah Belanda dan pejabat-pejabat priayi. Pada awal tahun 1925, sekitar 20.000 orang anggotanya menyerang rapat-rapat PKI dan SI serta mengancam para anggota mereka. Pengawasan pemerintah semakin diperketat, dan pimpinan PKI yang tersisa sering ditahan,” tulisnya.

Keterangan lain disampaikan oleh Ruth T. McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia (2010). Menurut McVey, karena pada paruh kedua tahun 1924 komunisme berkembang pesat di daerah Priangan, khususnya di Sumedang, pemerintah kolonial mendukung pembentukan "paguyuban tolong-menolong" yang berhaluan anti-komunis.

Paguyuban yang hadir di setiap desa ini didukung oleh Bupati Sumedang dan pejabat lainnya. McVey menambahkan, paguyuban ini telah menjalar ke sejumlah daerah lain di Pulau Jawa sejak awal 1925, misalnya di Bogor, Cirebon, Kediri, Ngawi, Madiun, dan Jepara.

“Perkumpulan Tolong-Menolong, Kaum Pamitran di Priangan, Sarekat Hitam dan Sarekat Kematren Cirebon, dan Anti-Komunisme di Bogor—mereka dikenal luas dengan nama Kelompok Sumedang, Sarekat Hijau,” terangnya.

Massa paguyuban yang menurut Ricklefs secara keseluruhan berjumlah sekitar 20.000 orang ini kerap mengacaukan pertemuan PKI dan Sarekat Rakyat (SR), mengganggu sekolah-sekolah SR, menghajar pengikut komunis, menghancurkan harta benda milik orang komunis, dan mengusir pengikut PKI dari desa mereka.

Berbeda dengan Ricklefs, McVey tak memperkirakan jumlah massa yang menurutnya “masih misteri”. Namun yang pasti, ia mencatat jumlahnya cukup besar di Priangan. Sejumlah surat kabat memang pernah mengabarkan insiden penyerangan oleh ratusan anggota Sarekat Hijau.

Situasi saat itu kacau. Bentrok, sebagaimana dikisahkan Pram dalam cerita Paman Martil memang kerap terjadi. Masih dalam buku yang sama, Ruth T. McVey menyebutkan PKI membentuk sistem penjagaan lingkungan terutama karena para pemimpin mereka menjadi target penyerangan.

Sistem ini mereka buat karena birokrasi dan penegak hukum sudah tak bisa diandalkan. Polisi bahkan menjadi aparat pengawas aktivitas komunis yang dibantu oleh kelompok-kelompok anti-komunis.

Penangkapan dan penyerangan terhadap para pemimpin PKI ini disinggung juga dalam lakon Paman Martil. Koran-koran yang dibaca Paman Martil mengabarkan tentang salah seorang pemimpin PKI yang baru pulang dari Singapura dan ditangkap di daerah Meester Cornelis, lalu dijebloskan ke penjara di Pekalongan.

Kabar susulan datang dari Mariana Proletar. Menurutnya, pemimpin yang ditangkap itu telah dibunuh oleh PID (Politieke Inlichtingen Dienst) alias Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda wilayah Semarang dengan cara dihancurkan kemaluannya dengan martil.

“Satu demi satu pimpinan kita ditangkap, dibunuh. Di desa-desa kawan-kawan kisa disiksa, dianiaya, dirampok, digantung, ditembak…,” ujar Paman Martil kepada dua bocah yang tinggal bersamanya dan ia didik untuk jadi kader komunis.


Eksekusi Para Pemberontak

Kisah tentang gagalnya pemberontakan PKI pada 1926 yang ditulis Pram lewat cerita Paman Martil, Mariana Proletar, dan kawan-kawannya, ditulis juga oleh A. Kohar Ibrahim dalam Guruh.

Jika Paman Martil menuturkan latar pemberontakan dan situasi di sekitar kejadian itu, maka Guruh langsung ke jantung peristiwa.

Kisah dimulai dengan kemunculan senandika Soleh, seorang yang ditahan Belanda setelah pemberontakan dipadamkan. Ia gelisah, menebak-nebak waktu, kapan kiranya eksekusi akan mengakhiri hayatnya. Ia lalu mengenang malam 12 November, saat aksi dijalankan.

“Kawan-kawan, bertindaklah dengan serentak. Pimpin regu masing-masing dengan baik. Kita dan semua Rakyat yang kita pimpin harus yakin akan kemenangan—kemenangan buat hari depan kita—Rakyat yang tertindas. Kemenangan kaum yang lapar. Batavia adalah pusat kekuasaan kolonial, oleh sebab itu kita mendapat tugas besar untuk menumbangkan dan merebut kekuasaan dari tangan Belanda,” tutur seorang pimpinannya pada malam itu.

Pasukan bergerak menuju kantor telepon dan menguasainya. Setelah itu mereka berencana menuju penjara Glodok. Namun, sebelum sampai ke sana, mereka keburu terkepung dan dicokok aparat kolonial.

Kini Soleh dan kawan-kawannya mendekam di penjara: menunggu maut menjemput. Saat ia duduk terpejam, aparat kepolisian menyeret tahanan baru dan menjebloskannya ke sel Soleh.

“Akan kalian rasakan pada gilirannya nanti!” ujar polisi.

Manusia-manusia kalah itu terkejut saat terdengar letusan senapan. Selang beberapa saat letusan terdengar lagi. Kawan-kawannya telah dieksekusi. Polisi datang dan memanggil Soleh. Kini saatnya ia dimangsa peluru.

Sebelum benar-benar menjauhi sel, Soleh dan kawannya terlibat percakapan: saling menguatkan, saling mengingatkan bahwa kemenangan suatu saat akan memihak kepada mereka.

“Sudah, sudah, jangan banyak cakap, anjing merah!” gertak polisi yang membawanya.

Di lapangan tempat eksekusi, Soleh menolak matanya ditutup. Ia tatap algojo yang akan menghabisi jiwanya. Setelah peluru pertama mengoyak dadanya, ia berteriak:

“Tembaklah! Tembaklah sampai peluru kalian habis untuk mengoyakkan tubuhku! Tapi komunisme tidak bisa kalian koyakkan dan kalian bunuh…!”

Rentetan peluru berikutnya menghancurkan tulang rusuk dan memecahkan jantungnya. Soleh tak berkutik lagi. Kisah pun usai.

Pemberontakan PKI di Jawa yang terjadi pada 12 November 1926 memang mudah dipatahkan. Pasukan Belanda kembali merebut Batavia sehari setelah kejadian. Sementara pemberontakan di Banten dan Priangan dipadamkan pada Desember. Tak hanya di Jawa, pemberontakan pun terjadi di Sumatra. Meski lebih sengit, tapi para pemberontak Sumatra juga cepat dibabat Belanda.

“Setelah pemberontakan di Jawa benar-benar ditumpas, meletus pemberontakan di Sumatra pada tanggal 1 Januari 1927. Pertempuran di sini lebih berat, tetapi pemberontakan itu dapat dipadamkan pada tanggal 4 Januari. Seorang Eropa lainnya terbunuh oleh kaum pemberontak,” tulis M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008).

Pemberontakan pertama PKI di Nusantara itu kiranya amat menarik perhatian dua penulis di atas, yakni Pramoedya Ananta Toer dan A. Kohar Ibrahim. Atau karena memang Yang Tak Terpadamkan diterbitkan untuk menyambut ulang tahun PKI ke-45, jadi peristiwa itu sengaja diangkat untuk mengobarkan semangat heroisme, menyanjung partai lewat narasi kepahlawanan kader zaman baheula.


Pergulatan dalam Keluarga

Agak berbeda dengan narasi Pramoedya Ananta Toer dan A. Kohar Ibrahim—meski tetap memuja-muja PKI—T. Iskandar A.S. lewat Komunis Pertama menceritakan pergolakan di dalam keluarga Islam yang taat yang salah seorang anaknya masuk PKI.

Kisah ini sedikit mirip dengan satu fragmen Atheis (1949) karya Achdiat K. Mihardja, ketika Hasan bersilang pendapat dan bertengkar dengan bapaknya.

Ismet, nama sang tokoh, telah menjadi anggota PKI ketika pulang kampung untuk menengok ibu dan pamannya. Mula-mula percakapan Ismet dan pamannya baik-baik saja. Namun, saat ia mengaku bahwa telah menjadi seorang komunis dan anggota PKI, nada bicara sang paman langsung meninggi.

“Bukan kebiasaan turunan kita, paman, untuk menelan air ludah yang sudah diludahkan,” ucap Ismet di pengujung percakapannya.

Esoknya, Ismet menjelaskan panjang lebar alasan dan motivasinya masuk PKI. Ia yang masih kecil saat ditinggal mati ayahnya, berpindah dari satu rumah saudara ke rumah saudara lainnya: dititipkan, kurang perhatian, dan kurang kasih sayang. Setelah dewasa dan merantau, Ismet berkenalan dengan orang-orang komunis yang ternyata memberikan hampir semua yang tak ia terima sejak kecil.

Kisah panjang yang Ismet tuturkan rupanya mengharu-biru pamannya, hingga orang tua itu luluh, tak lagi keras terhadap seorang komunis yang ada di hadapannya.

“Kau tak salah. Kamilah yang salah, karena kami tidak memahami penderitaanmu. Terlebih-lebih karena tidak memahami perkembangan yang terus berjalan tanpa stop. Kamilah yang salah, yang terlambat pada masa lampau yang kuno,” ucap pamannya.

Hari berikutnya Ismet pamit kepada ibu, paman, dan keluarganya yang lain. Sang bunda meminta maaf kepada Ismet karena kurang memerhatikannya.

“Telah kutimbang, telah kupikir-pikir tadi malam semalam suntuk. ‘Anakku seorang kominis’. Aku menangis, kemudian menimbang-nimbang. Menangis lagi dan menimbang-nimbang lagi. Ketika fajar barulah pikiranku terbuka, barulah aku bisa mengambil suatu keputusan. Kuserahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Adil. Kuserahkan segalanya kepada Tuhan. Tuhanlah yang berhak mengadilimu, bukan aku, sekalipun aku ibumu,” ucap ibunya.

Ismet lalu pergi melangkah meninggalkan keluarganya. Tiba-tiba terdengar lagi suara ibunya: “Kominis pun kau, Ismet, jangan tinggalkan sembahyangmu.”

Cuplikan tiga cerpen pertama dalam Yang Tak Terpadamkan (1965), beberapa bulan sebelum PKI digulung militer dan sipil bersenjata, masih menunjukkan semangat yang menyala-nyala. Kisah pemberontakan dan 'penaklukan' hati orangtua disusun sedemikian rupa.

Keberlimpahan penulis dalam organ-organ kebudayaannya, membuat PKI tak kesulitan menyusun buku kumpulan cerpen untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-45. Dan itulah perayaannya yang terakhir. (irf) 


Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 23 Februari 2019
- Sumber ilustrasi: prhasa.tumblr.com

21 October 2019

Sejarah Kecil di Cibatu: Dari Charlie Chaplin hingga Pablo Neruda


Sehari setelah menjalani debat pertama Pilpres 2019, Jokowi langsung berangkat ke Bandung dan dilanjutkan ke Cibatu menggunakan kereta api. Salah satu agenda kerjanya adalah meninjau panel reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut.

“Usai peninjauan, presiden beserta rombongan akan terlebih dahulu melaksanakan salat Jumat di Masjid Besar Cibatu,” ujar Bey Machmudin, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden.

Tempo dulu, Stasiun Cibatu merupakan pusat bengkel lokomotif uap atau depo yang mempekerjakan sekitar 700 orang. Namun, pada 1980-an depo itu ditutup karena lokomotif uap dinilai telah ketinggalan zaman dan merugikan secara ekonomi.

Cibatu juga sempat menjadi tempat persimpangan jalur kereta api yang sekarang sudah tidak aktif, yakni menuju Garut yang berakhir di Cikajang—daerah dengan letak stasiun kereta api tertinggi di Indonesia, yakni 1.246 mdpl.



Charlie Chaplin dan Pablo Neruda

Dalam lintasan riwayatnya, Cibatu diliputi beberapa kisah tentang manusia, dari pesohor dunia, tokoh cerita sastra, sampai orang setengah gila.

Cibatu yang secara administratif masuk ke dalam Kabupaten Garut ikut terpapar oleh julukan yang sempat disandang Garut sebagai “Swiss van Java”. Julukan ini, menurut S.R. Slamet dalam “Puncak Alpen Swiss van Java” yang dimuat di Pikiran Rakyat edisi 2 Oktober 2017, tak bisa dilepaskan dari pesan Thilly Weissenborn.

Perempuan ini, imbuh Slamet, adalah fotografer pengelola studio foto Lux yang berlokasi di lantai atas NV Garoetsche Apotheek en Handelsonderneming di Societeitstraat. Ia banyak memotret bentang alam Garut hingga terkenal ke dunia internasional.

Keindahan alam Garut yang disebut-sebut mirip dengan pergunungan di Swiss akhirnya mengundang banyak wisatawan. Slamet dalam artikelnya menyebut sejumlah orang, di antaranya D. Fock yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1921-1926), George Clemenceu yang menjabat Perdana Menteri Prancis (1906-1909), novelis dan penyair Belanda bernama Louis Couperus, artis film Kanada Mary Pickford, Pangeran Leopold III (Belgia), Putri Astrid (Swedia), artis Jerman akhir 1920-an yakni Renate Muller dan hans Albers, serta Charlie Chaplin.

“Begitulah keindahan alam panorama Garut membuatnya dikenal sebagai daerah kunjungan wisata terkenal di tanah air di tahun 1920-an, sehingga novelis S. Ahmad Abdullah Assegaf mengabadikan keindahan alam dan keramahan penduduknya dalam novel Fatat Garoet (1928),” imbuhnya.


Ihwal julukan Garut ini ditulis juga oleh Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe (2015). Menurutnya, keindahan Garut yang terletak tengah pergunungan indah selalu diiklankan sebagai Swiss-nya Jawa.

“Seabad yang lalu pariwisata sudah merupakan sektor ekonomi yang penting di Garut […] Di kota kecil yang mudah diakses melalui kereta api ini terdapat hotel, antara lain Hotel Papandayan yang dikelola oleh A. Hacks,” imbuhnya.

Charlie Chaplin, seperti ditulis Pungkit Wijata dalam “Ngamplang dalam Kenangan Pablo Neruda” yang tayang di Pikiran Rakyat edisi 16 Juni 2014, saat menjejakkan kaki di Stasiun Cibatu disambut warga dengan antusias. Ia yang berangkat dari Bandung dan disambut oleh ratusan orang termasuk santri, pelajar, dan ibu-ibu.

Sementara sesuai judul artikelnya yang menyebut Pablo Neruda, penyair kenamaan Chili itu sempat menjadi diplomat pada 1930 yang ditugaskan negaranya di Asia, yakni menjadi konsul di Batavia yang merupakan bagian Kerajaan Belanda. Selain Batavia, imbuh Wijaya yang mengutip dari La Soledad Luminosa, Pablo Neruda’s: Memoirs, Confiseo Que He Vivido (1974), Pablo Neruda juga sempat menyambangi Rangon, Kolombo, dan Singapura.

Di Batavia, Pablo Neruda menikahi Maria Antonieta Agenaar, perempuan kelahiran Yogyakarta blasteran Belanda-Melayu. Menurut Wijaya, berdasarkan sebuah foto yang ditemukan Ian Campbell—peneliti dan ahli sastra Spanyol (Amerika Latin) asal Australia—mereka pernah menjalani bulan madu di Ngamplang, Garut.

“Sebuah foto menunjukkan Neruda bersama istrinya dari Belanda yang berpostur tinggi di Ngamplang, dekat kota Garut, Jawa Barat, ketika merayakan bulan madu pada bulan Desember 1930,” tulisnya seperti dikutip Wijaya.

Dan kehadiran mereka di Ngamplang, juga melalui Cibatu yang saat itu seperti dikutip Wijaya dari buku Haryoto Kunto, setiap hari dipenuhi pelbagai mobil milik sejumlah hotel untuk melayani para wisatawan.

“Kunto menjelaskan sekitaran 1935-1940, setiap hari di stasiun Kereta Api Cibatu, diparkir selusin taksi dan limousine milik hotel-hotel di Garut: Hotel Papandayan, Villa Dolce, Hotel Belvedere, Hotel Van Hengel, Hotel Bagendit, Villa Pautine, dan Hotel Grand Ngamplang,” tulisnya.

Saksi Kegelisahan Hasan

Achdiat Karta Mihardja, sastrawan kelahiran Cibatu yang menulis novel Atheis (1949), juga menjadikan Cibatu sebagai salah satu latar dalam ceritanya. Hasan, tokoh utama dalam kisahnya, lahir dan tinggal di Penyeredan, Wanareja, Garut.

Setelah menyelesaikan HIS di Tasikmalaya, Hasan melanjutkan ke MULO di Bandung dan akhirnya bekerja di Jawatan Air Kotapraja Bandung. Setiap kali pergi-pulang ke dan dari Bandung, ia menggunakan moda kereta api dengan naik di Stasiun Cibatu. Termasuk saat mengajak kedua kawannya, Rusli dan Anwar, main ke rumahnya di Penyeredan.

Stasiun Cibatu, juga perjalanan selama di kereta api menuju Bandung, menjadi saksi saat Hasan gelisah dan murung setelah bertengkar hebat dengan ayahnya soal keyakinan. Pergaulannya di Bandung dengan Rusli, Anwar, juga Kartini, telah membuat Hasan berpisah jalan keyakinan dengan kedua orang tuanya.


Di benaknya masih teringat saat ibunya menangis setelah ia bertengkar hebat dengan ayahnya. Air mata orang tua itu berlinang dan menetes membasahi mukenanya, tembus membasahi lutut saat melaksanakan salat magrib. Ia juga teringat ayahnya yang memegang kepalanya sambil berbisik, terputus-putus, dan gemetar membaca ayat suci Alquran.

Ayahnya berkata, jika Hasan memang telah punya jalan sendiri dan berkeras dengan pilhannya, mereka tak bisa lagi melarangnya. Jalan berlainanlah yang pada akhirnya akan ditempuh. Namun, sebagai orangtua mereka tetap mendoakan Hasan agar bertemu dengan keselamatan lahir batin, dunia akhirat.

“Kereta api merayap-rayap menaiki punggung gunung Nagreg. Merayap-rayap seperti seekor lipan menaiki tebing. Lokomotifnya berat menghela hapas. Rel mengkilap dalam tikungan […] Lambat-lambat tiang tilpon tepi jalan lalu, malas-malas agaknya berjalan, karena teriknya matahari. Lesu, seperti turut lesu dengan aku,” tulis Achdiat Karta Mihardja melukiskan kegundahan Hasan dalam perjalanannya.



Madroi “Kuncen” Stasiun Cibatu

Jika Achdiat Karta Mihardja berkisah tentang tokoh utama dalam karyanya, Haryoto Kunto yang menulis sejumlah buku sejarah populer tentang Bandung, mengenang Cibatu salah satunya lewat sosok Madroi: orang setengah gila.

“Tahun 1934, di Stasiun Cibatu bawahan Kabupaten Garut, orang menjumpai Madroi seorang gelandangan yang berperilaku edan eling,” tulisnya.

Madroi, imbuh Kunto, jika sedang waras menyapu bersih sampah di dalam dan lingkungan stasiun, juga menyiram bunga-bunga yang tumbuh di sela-sela rel kereta api. Namun jika sedang “kambuh”, ia kerap berlari-lari mengejar kereta api dan mengalih-ngalihkan wijzel rel kereta.



Namun, meski perilakunya demikian, Madroi disayangi warga Cibatu, termasuk ayah Kunto yang saat itu menjabat sebagai Kepala Stasiun Cibatu. Setiap kali mendekati lebaran, ayahnya selalu membelikan baju, peci, dan selop untuk Madroi.

Lalu menjelang malam takbiran, warga yang biasanya mengadakan pawai mengajak Madroi turut serta. Sambil membawa pelbagai makanan, Madroi diarak sambil digotong memakai tandu setelah dimandikan dan didandani mirip penganten sunat.

“Ba’da Asar, prosesi pawai makanan mulai diatur di pelataran luar Stasiun Cibatu. Selain barisan usungan makanan, di deretan depan ikut mengawal, Mantri Polisi yang menunggang kuda beserta anak buahnya. Lalu sebuah joli dengan kursi berhias rumbai-rumbai kertas berwarna, yang dipikul empat orang kuli, nyaman diduduki oleh ‘pangeran’ Madroi,” tulisnya.

Pawai dipungkasi azan magrib yang menandai waktu buka puasa, sekaligus tanda itulah azan terakhir di bulan Ramadan. Warga kemudian bersantap menghabiskan makanan sampai tandas, menunaikan salat, dan takbiran.

“Madroi yang lemas pulas tertidur, sambil mendengkur keras, gara-gara kekenyangan menyantap nasi tumpeng dengan lauk-puak kepala ikan pais si Nyonya. Bahkan, seuntai ledakan mercon di halaman stasiun, sama sekali tak mengusik Madroi dari peraduannya,” imbuh Kunto. (irf)


Ket: Tayang pertama kali di Tirto.id tanggal 19 Januari 2019

20 October 2019

Larantuka dan Ketakutan Naik Pesawat



Ketika saya menulis di Bandung, dan seperti biasa tengah jengkel dengan keberadaan kutu bangsat alias kutu busuk alias tumila, ponsel berdering.

“Lu mau gak jalan ke Larantuka?” tanya editor.

“Ngapain?”

“Ngeliput teater.”

“Kok gw?”

“Faisal sama Joan sakit,” jawabnya.

Maka, 4 Juli 2019 pagi saya telah duduk di DAMRI Pasar Minggu-Soekarno Hatta. Hari masih gelap, belum genap pukul 05.00.

“Dari Jakarta gak banyak, hanya beberapa media,” kata Aura — panitia yang mengurus awak media — sehari sebelumnya.

Saya menuju El Tari dengan Batik Air. Setahun sebelumnya, kira-kira dua minggu sepulang outing dari Bali, sebuah pesawat jatuh di perairan Karawang. Sejak kejadian nahas itu, bagi saya naik pesawat tak ubahnya teror berkepanjangan.

Saat tiba di El Tari, Kupang, ketegangan sedikit mengendur. Namun teror belum selesai, masih ada 45 menit di udara yang mesti dilalui. Dan ketika Wings Air akhirnya siap berangkat, saya kembali dilanda stres. Pesawat berbadan kecil itu membuat ketegangan menjadi berlipat.

Kira-kira pukul 15.20, pesawat tiba di Gewayantana, Larantuka. Perasaan saya lega belaka, setidaknya dalam tiga hari ke depan. Aura telah menunggu di muka bandara.

Di Gewayantana pula akhirnya saya tahu, ternyata hanya tiga media yang datang dari Jakarta: Kompas, The Jakarta Post, dan media tempat saya bekerja.

***




Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur itu adalah kota yang kering. Matahari menyengat sepanjang hari. Kota ini juga adalah pusat wisata ziarah Katolik. Setiap tahun digelar perayaan Paskah bernama Semana Santha. Patung Maria atau warga tempatan menyebutnya Tuan Ma, menghiasi sejumlah pojok kota. Dulu, sebuah Kerajaan Katolik berdiri di sini.

Perairan sempit yang diapit Pulau Flores dan Adonara, namun mampu menjadi jalur lalu-lintas kapal besar, menjadi pemandangan sehari-hari. Tak ada ombak, tak ada gelombang, tapi arus bawahnya kencang.

Saya bersama dua awak media lain tinggal di penginapan yang letaknya tak jauh dari Taman Felix Fernandes, tempat patung ikonik Tuan Ma tengah menggendong Yesus. Di seberang patung tersebut terdapat kapel tua yang telah dicat ulang. Sekilas bangunannya mirip masjid.

Penginapan ini milik orang Jawa. Beberapa burung dan ayam dipelihara. Jika pagi dan petang tiba, pelayan penginapan akan menawarkan minuman dan kudapan.
Tanggal 4,5, dan 6, setiap sore sampai malam, kami bertiga melihat latihan teater yang tempat pementasannya persis di bibir pantai Taman Felix Fernandes.

Pantai di sana tak menyebabkan kulit menjadi lengket. Dan jika petang telah dijemput malam, dingin menyerang. Angin lembah bertiup dari Ile Mandiri, gunung keramat yang konon tak sembarang orang boleh menaikinya.

Mayoritas penduduk Larantuka tentu Katolik. Namun, ada juga perkampungan Muslim yang berada dekat pelabuhan. Polanya memang seperti itu. Perkampungan Muslim yang banyak dihuni pendatang, rata-rata tinggal di daerah pesisir.

***




Saya pertama kali mendengar kata “Larantuka” dari Boomerang. Band asal Surabaya itu menyanyikan ulang lagu Band SAS berjudul “Larantuka”. Begini sepenggal liriknya:

“Di ujung timur Flores
Ada bencana gempa
Tanah retak
Bumi bergoncang kencang
Larantuka
(O-o-o-oh)
Larantuka”

Barangkali karena peristiwanya telah lama berlalu dan generasi telah berganti, orang-orang banyak yang tidak tahu musibah gempa itu.

Selain udara lautnya tak bikin lengket, hal lain yang menarik dari Larantuka adalah moke: minuman khas Flores yang terbuat dari siwalan (lontar) atau enau. Di tempat lain, minuman ini disebut sopi. Moke yang rasanya keras menyengat adalah simbol adat, persaudaraan, dan pergaulan bagi masyarakat Flores.

Maka beberapa jam sebelum pertunjukan teater digelar pada tanggal 7, sejumlah orang tua menggelar doa di sekitar panggung sembari memegang sebotol moke. Setelah doa selesai, mereka bergantian menghirup minuman itu dengan menggunakan semacam batok kelapa kecil.

“Pak, boleh coba lagi?” tanya kawan dari The Jakarta Post.

Setelah dikasih, ia menyodorkannya kepada saya.

“Cobain mas, enak ke badan, anget,” ucapnya.

Malam sebelumnya, Geri, salah seorang pelayan di penginapan, menawari kami moke. Katanya ia bisa membelinya ke warga sebanyak satu jeriken. Gila! Sebanyak itu pasti bikin orang tumbang!

Jentaka menimpa kawan dari Kompas. Setelah pertunjukan selesai, dan moke di tangan para tetua masih ada, ia ditantang oleh vokalis Melancholic Bitch — dramaturg pementasan — untuk menghirup moke sekali teguk.

“Lebih mantap [jika sekali hirup],” ucap si vokalis.

Malang, kawan dari Kompas justru tersedak! Minuman menyengat itu membuatnya tersiksa. Sampai pagi, matanya masih merah.

***




Tanggal 7 sore kami akhirnya menuju kembali ke Gewayantana. Kawan dari Kompas belum selesai ditimpa sial. Kali ini kopernya yang berisi pakaian kena charge oleh maskapai sebesar 600 ribu rupiah. Beruntung, dekat bandara kecil semenjana itu terdapat ATM BRI hingga ia dapat membayarnya.

Namun, kali ini tampaknya segala kesialan itu tak dapat mengalahkan kecemasan saya. Teror di udara telah menunggu di muka. Tujuh jam ketegangan sudah menanti. Dan saat pesawat Wings Air siap meninggalkan Gewayantana, ketegangan itu kian bertambah.

Ketika sampai di El Tari untuk transit, pikiran saya telah di Jakarta. Tepatnya ingin segera mendarat di Soekarno-Hatta. Seperti tertera dalam tiket, penerbangan selanjutnya adalah langsung menuju Cengkareng. Namun apa yang terjadi? Pesawat ternyata transit lagi di Djuanda, Surabaya. Artinya, pikiran buruk saya belum akan berakhir.

Jika orang-orang berharap duduk dekat jendela agar bisa melihat pemandangan dari ketinggian dan menjerat beberapa gambar, maka saya sebaliknya. Ketinggian adalah neraka. Sangat mengerikan.

Ketegangan akhirnya berakhir saat pesawat mendarat di Cengkareng pukul 20.45. Ingin rasanya saya bersujud syukur seperti beberapa pemain bola setelah mencetak gol. Namun saya sadar, saya bukan Prabowo dan tim suksesnya dalam pemilu.

Hari-hari ini sejumlah kawan redaksi memenuhi pelbagai undangan di luar kota, di antaranya Solo dan Yogyakarta. Mereka berangkat memakai pesawat. Seandainya saya yang diundang, saya akan memilih naik kereta api. Solo dan Yogyakarta tak sejauh Larantuka, bukan? [irf]

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai