01 June 2019

Kilas Balik Mula Berkendara Motor ke Jawa



Jawa adalah nama bagi banyak hal, di antaranya pulau, bahasa, dan etnik. Tajuk catatan ini merujuk kepada dua hal terakhir. Artinya, saya melakukan perjalanan ke sejumlah wilayah yang masyarakatnya mayoritas berbahasa dan beretnik Jawa. Lebih terang lagi, saya meninggalkan Jawa Barat menuju Jawa Tengah.
Perjalanan pertama dilakukan pada 2015. Bersama empat orang kawan, dua hari setelah lebaran. Saya tak ingat bagaimana awalnya usul perjalanan ini muncul. Bagi saya, ada keinginan mendesak untuk melakukan perjalanan melampaui jarak yang biasa ditempuh hampir tiap bulan ke sejumlah daerah di Priangan.
Mula-mula kami menuju Sumedang. Berhenti sejenak di Cimalaka, sekadar jajan tahu. Lanjut ke Majalengka, udara menyengat ketika berhenti melihat sebuah rumah tua sebelum singgah ke Taman Dirgantara. Menjelang sore, mampir ke Museum Linggarjati, Kuningan. Sjahrir terpacak dalam pelbagai benda dan ruang.
Petang dijemput malam, Cirebon menjelang. Sekujur kota telah dilumuri cahaya lampu. Perbatasan provinsi semakin dekat. Saat tiba di patung Diponegoro, Brebes, seorang kawan melonjak girang.
“Kita telah di Jawa Tengah!” ujarnya.
Siga nu kakara waé (Seperti yang baru pertama kali saja [datang ke Jawa Tengah]),” timpal kawan yang lain sinis.
Kami istirahat di teras sebuah mini market. Saya membuka pembicaraan dengan seorang kasir: perempuan, orang Cirebon. Ia setiap hari pergi-pulang melintasi batas provinsi. Batas yang telah membuat girang seorang kawan. Batas itu pula yang menguarkan kesinisan dari kawan yang lain.
Bermalam di Brebes, Laut Jawa terasa begitu dekat. Esoknya, ketika hendak meninggalkan kota itu, sebuah patung telur asin menyambut. Saat itu buku puisi Pendidikan Jasmani dan Kesunyian belum terbit. Sekarang, satu puisi mewakilinya:
Di pantura.
Air mata dan samudera
mesra berkawin.
Berbulan madu di cakrawala.
Menjadi sebutir telur asin.”
Pada sebuah jalan yang tengah diperbaiki, debu menebal. Di situ kami rehat, menyantap es dawet ayu dan pecel kangkung. Tepat di pinggir jalan, pada sebuah warung tenda, saat truk-truk besar hilir mudik. Kepala saya dipenuhi kekhawatiran akan mobil-mobil besar itu. Sementara seekor ular berenang di sungai tepi warung.
Masih di pinggir ruas jalan yang sama, sejumlah pengrajin tambang kapal tengah bekerja. Mereka memintal kain bekas.
“Kainnya dari pabrik tekstil di Bandung,” ujar seorang pengrajin.
Seorang kawan cermat mencatat obrolan dengan beberapa pengrajin. Kelak, catatannya tertinggal di pesawat pada sebuah perjalanan yang lain, dan ia tentu saja menyesalinya.
Kira-kira pukul setengah dua belas siang, kami tiba di sebuah pemandian air panas. Tentu bukan untuk mandi, sebab cuaca terik. Kami hanya duduk-duduk. Kolam pemandian tampak butek, sementara lagu dangdut mendayu dari sebuah warung, tempat para pemuda dan bapak-bapak menikmati bir.
Di Bumiayu, dalam riuh pasar dan terminal, samar-samar saya mendengar sopir bus bercakap-cakap dalam bahasa Sunda. Baterai peranti elektronik mulai melemah. Kami mengisinya di sebuah warung nasi. Sore sebelum Asar, perjalanan dilanjutkan.
Kami menuju Majenang lewat Salem. Melewati Sungai Cipamali di batas Kecamatan Bantarkawung. Dulu, sungai itu adalah batas kekuasaan Kerajaan Galuh di timur.  Jalan mulus kian menanjak, dan hutan menyambut. Sebuah kedai jauh dari permukiman, tempat kami rehat menikmati kopi saset.
“Saya orang Jawa, tapi gak bisa ngomong Jawa,” kata ibu penjual kopi dalam bahasa Sunda.
Beberapa orang remaja berkumpul dekat warung. Semuanya laki-laki, barangkali tengah mencari penghiburan.
Selepas Isya kami tiba di alun-alun Majenang, dipenuhi anak-anak yang bersukaria dengan rupa-rupa benda menyala yang diterbangkan, pedagang kaki lima, dan para pasangan muda. Penginapan kami tak jauh dari alun-alun, cukup bersih tapi gerah.
Hari ketiga menuju Cilacap. Singgah di stasiun, lalu ke Benteng Pendem, peninggalan Belanda. Sambil melihat orang lalu-lalang, kami bersantap pecel entah, sejumlah sayuran disiram saus kacang. Terdapat jaat alias kecipir, hal yang tak pernah kami temukan dalam lotek di Jawa Barat.
Sembari istirahat, seorang kawan menekuri gim pada ponselnya. Seolah gim itu hanya bisa dimainkan saat ia berada di Cilacap. Ia tampak telah bosan dengan perjalanan ini. Kegirangannya hanya bertahan sampai Brebes. Setelah itu kegembiraannya terus menurun. Wajahnya telah kehilangan antusiasme.
Mengendarai motor ratusan kilometer memang melelahkan, apalagi hampir sepanjang jalan hanya menyajikan pemandangan yang sangat biasa. Memang bukan lanskap elok yang kami cari, tapi perjalanan itu sendiri yang dinikmati. Dan kawan itu gagal memilahnya.
Ketika pengunjung lain asyik mengayuh perahu angsa, kami berangkat ke Pangandaran. Menginap di sebuah rumah milik ibu tua, dekat mini market. Para wisatawan menyewa mobil kayuh yang dipenuhi lampu hias.
Sebelum pulang ke Bandung, mampir dulu ke Citumang. Wisata air, menyusuri sungai jernih ratusan meter. Pada sebuah jeram, seorang kawan minum air sungai, sementara saya kencing, paduan yang sempurna.
Sepanjang menyusuri aliran sungai, saya selalu cemas. Takut tiba-tiba seekor buaya melahap kaki, apalagi di lintasan terakhir saat kedalaman sungai lima belas meter. Sesuatu yang rasa-rasanya tak mungkin terjadi.
Wisata air Citumang dikelola dengan cukup baik. Warga lewat karang taruna khidmat kepada para pengunjung. Tak tampak pengelolaan gaya preman yang kerap menaikkan harga dan berebut.
Karena berada di sungai selama empat jam dan dihajar angin sepanjang jalan, saya diserang demam dan akhirnya tumbang. Di dekat alun-alun Cikatomas saya terkapar di teras sebuah mini market.
Di Tasikmalaya saya makin menggigil. Akhirnya perjalanan pulang ke Bandung kembali harus jeda, sebab saya kian payah. Saya terlelap dalam kantong tidur. Bulir-bulir keringat sebesar jagung membasahi tubuh. Esoknya pulih. Kami bergerak menuju Garut.
Kawan yang telah habis kegembiraannya tak lagi bisa menginap. Sekitar pukul delapan malam, ia ditemani seorang kawan yang lain mendahului kami pulang ke Bandung. Sementara saya dan dua kawan yang tersisa menginap di Cipanas.
Hari kelima saya pulang lewat Ciparay, mendengarkan khotbah Jumat di depan sebuah mini market. Ketika tiba di Jalan Solontongan, Buahbatu, saya ingin melakukan perjalanan lagi. (irf)

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…