05 May 2019

Paman Martil (3) - Pramoedya Ananta Toer



Subuh hari jam tiga itu “Mariana Proletar” datang, setelah membangunkannya dengan galah bambu panjang yang dicobloskan melalui lobang pintu.

“Tetanggamu sebelah sana itu sedang duduk mengintip di bawah pohon di depan gang sana.”

Paman Martil meluap mendengar berita itu.

“Hus, jangan pergunakan senjata api. Bagianmu cuma sekitar 100 pelor.”

“Dia akan intip kita.”

“Dia sedang intip kita.”

“Biar aku keluar dari pintu belakang. Biar aku kemplang otak-coronya itu.”

“Ya, kemplang dia, asal jangan sampai mati.”

Paman Martil melompat, meninggalkan rumah dari kamar belakang. “Mariana Proletar” menyanyi memanggil tetangga sebelah sana untuk mendekati pintu dan mengintip. Dan perhitungan itu memang tidak meleset. Sebentar kemudian terdengar batang bambu mendapat landasan batok kepala, dan satu sosok tubuh rubuh sambil melenguh. Barulah “Mariana Proletar” menengok ke belakang sambil tersenyum. Kemudian menghampiri pintu, dan bersama Paman Martil menyeret tubuhnya masuk ke dalam rumah.

“Begini tampangnya coro Belanda,” Paman Martil berbisik.

“Sayang sekali tampang sebagus ini.”

Setelah berunding didapatkan kata sepakat untuk mengantarkan orang pingsan itu ke depan pintu rumahnya sendiri, setelah mengalunginya dengan kardus yang telah ditulisi dengan “Nasib Sarekat Hijau, coro Belanda”. Tubuh itu mereka buat demikian rupa sehingga berdiri tegak bersandar pada pintunya sendiri sambil menghisap rokok kretek. Kalau nanti istrinya menjerit, itulah tanda pintu dibuka, dan tubuh yang belum tentu akan hidup itu akan menjatuhinya.

Kedua-duanya telah mandi keringat.

“Hari hampir siang.”

“Itulah hari kita.”

“Makin banyak orang kita tertangkap.”

“Kita sudah akan bergerak.”

“Kapan?”

“Hati-hati. Kita sudah kebocoran. Pos kita di Gambir telah digulung semuanya. Dua puluh satu orang ditangkap hari kemarin.”

“Misnan tertangkap?”

“Ya, sudah mati tadi sore.”

“Mati?”

“Siapapun akan mati diinjak-injak polisi satu seksi.”

“Kopral Masdi, bagaimana bantuannya?”

“Celaka, Til, seminggu yang lalu dia sudah dipindah ke Malang.”

“Iblis. Bagaimana pimpinan tertinggi kita?”

“Komando sudah diberikan. Jangan tidur malam-malam dalam seminggu ini, Til. Jangan sampai tertangkap. Kau tak usah pergi. Dia akan pingsan dalam seminggu ini, tetanggamu itu.”

“Paman ‘Mariana Proletar!’” salah seorang di antara kedua bocah itu menegur dengan suara masih mengantuk.

“Paman Proletar” melompat, keluar cepat-cepat dari pintu, kemudian menerobosi embun pagi.

Tak lebih dari 17 jam kemudian “Mariana Proletar” mengetuk pintu dan dengan mata terbelalak menyeret Paman Martil yang sedang melamun di atas ambinnya.

“Cepat, ayo.”

Paman Martil melompat, kemudian menyumbat mulut “Mariana Proletar” dan berbisik:

“Ada tiga orang Sarekat Hijau menjaga rumah tetangga sana. Coro itu sudah diangkut ke rumah sakit sepagi.”

“Goblok! Apa kau tak tahu empat rumah sudah terbakar di empat penjuru kota?”

“Ha?”

Cepat-cepat diambilnya Viskers itu dari atas penglari dan dan dimasukkan di dalam kantong celananya.

“Bagaimana anak-anak itu? tanya “Mariana Proletar”.

Tapi sebelum matanya sampai kepada kedua orang bocah itu, mereka telah bangun dan bersiap-siap.

“Barangkali kita takkan kembali kemari, mari berangkat.”

Mereka berangkat memasuki malam, memasuki awalnya hari esok.

“Apa? Anak-anak juga dibawa?”

“Mengapa? Mereka harus juga belajar membenci.”

“Begitu kecil.”

“Mereka telah menanggungkan apa yang kita selama ini tanggungkan.”

“He, anak-anak, kalian mau ikut ke mana?”

Tapi Paman Martil telah lari mendahului mereka.

Kebakaran di empat penjuru malam itu memucatkan langit. Orang-orang kampung keluar belaka dari rumahnya dan menuju tempat kebakaran. Jalan-jalan menjadi ramai. Lonceng pemadam kebakaran antara sebentar membikin udara menjadi kering.

Di satu dua tempat terdengar tembakan pestol.

Rombongan “Mariana Proletar” dan Paman Martil makin lama makin menjadi besar. Beberapa orang yang berjongkok di bawah-bawah pohon jalanan berdiri waktu ia lewat dengan selendang merah terkalung pada lehernya. Mereka mengikuti di belakangnya dengan diam-diam. Ternyata “Mariana Proletar” seorang pemimpin penyerangan di daerah Kota.

“Martilnya kau bawa?” ia tanya pada Paman Martil.

“Milikku cuma dua, kan? Kau tahu sendiri: impian hancurkan Belanda dan martil.”

“Sudah seribu kali aku dengar.”

“Untuk apa kau tanyakan?”

“Lebih baik kau ikut dengan rombongan lain. Kita harus bareng menyerang. Hancurkan kantor tilpun Kota.”

“Berapa orang bersama aku?”

“Empat puluh.”

“Mariana Proletar” memberikan kepada Paman Martil tiga buah mercun celurut. Kemudian berbisik:

“Kau bawa geretan?”

Paman Martil berdehem sebagai jawaban.

“Bakar semuanya kalau kau telah hancurkan pesawatnya. Nah, berangkatlah dulu.”

Bondongan orang menuju ke jurusan-jurusan kebakaran yang belum juga reda. Dan bondongan Paman Martil bergegas menuju ke arah kantor tilpun Kota. Dua bocah, yang tak ketahuan siapa rahim yang melahirkannya itu, menguntit di belakangnya.

Rombongan itu memasuki pekarangan kantor tilpun. Tidak dijaga. Seorang opas duduk menghadapi cangkir kopi pada meja jaga. Melihat orang banyak datang ia tertawa girang dan berseru:

“Wah di sini nggak ada kebakaran, Mang. Sana, sana,” ia menunjuk sekena-kenanya. Tapi waktu ia melihat wajah orang-orang yang mendatangi itu begitu bersungguh-sungguh ia terdiam.

Seseorang mengambil cangkir kopi dan melemparkannya pada mukanya.

“Tuan lu ada?” seseorang meraung.

Opas itu menggigil:

“Kagak ada,” jawabnya.

“Siapa yang ada?”

“Cuma tuan-tuan telefonis dan mandor kantor,” dengan suara terus menggigil.

“Ayo, maju di depan, antarkan kami padanya.”

Dengan kaki goyah opas itu berjalan di depan, menaiki jenjang dan memasuki ruangan wisselbord. Paman Martil berteriak:

“Semua yang di sini berdiri!”

Melihat orang begitu banyak masuk dengan sikap mengancam, beberapa orang telefonis berdiri menggigil. Seorang pensiunan serdadu, berkumis bapang terpilin ke atas, memaki dari sebuah pojokan:

“Apa ini? Bandit-bandit? Ayo pergi, sebelum aku panggilkan polisi.”

“Anjing Belanda!” Paman Martil meraung.

“Lu mau apa?” sambil menghampiri mandor kantor di pojokannya.

Tapi sebentar kemudian Paman Martil meliuk dan menjelempah di lantai geladak loteng. Sebuah tinju telah mengemplangnya tanpa diduga-duga. Waktu ia bangun mandor itu telah menjelampah di geladak yang sama—kena keroyokan 40 orang.

“Babi Belanda!” Paman Martil memaki.

“Stop. Biarkan babi anjing itu. Dengan satu orang masih hidup udara toh takkan habis. Hancurkan semua pesawat!”

Dengan kursi, dengan segala benda yang bisa dipergunakan alat-alat kantor tilpun itu pun dirusakkan. kabel-kabel dibetot. Di sana-sini nampak percikan api listrik. Dan gedebak-gedebuk 40 orang di atas geladak loteng itu nampak begitu mawut di bawah listrik laksana kemidi putar.

“Ada polisi datang!!” si bocah berteriak.

Gedebak-gedebuk tiba-tiba berhenti. Mantor kantor yang tak dapat berdiri lagi karena patah sebelah kakinya itu melirik ke kiri dan ke kanan sambil mengerang. Semua orang menuju ke jendela, dan dengan mata curiga menembusi jarak di depan kantor yang remang-remang diterangi lampu jalanan.

Benar. Seorang polisi sedang lewat mengayuh sepedanya. Dengan sendirinya saja dari setiap jendela yang menghadap jalan dimuntahkan peluru. Waktu polisi itu meliuk kemudian jatuh dari sepedanya, semua orang sorak. Tapi polisi itu tidak mati. Ia merangkak-rangkak, terlindung oleh pepohonan dan kaki lima, kemudian hilang dari pemandangan.

Segera orang meninggalkan jendela waktu terdengar mandor itu mengejek keras di antara keluhannya:

“Kalian mau berontak rupanya. Perang macam apa begitu itu?”

Seseorang menginjakkan sandalnya pada mulut bekas serdadu itu, dan untuk waktu yang lama orang itu tak bersuara lagi.

“Pasang mercun!”

“Pasang bendera.”

Mercun pun dipasang, dan sebentar kemudian melesit ke udara meruntun-runtun.

“Mana benderanya?”

“Siapa bawa bendera kita?”

“Mardi. Dia ikut rombongan lain.”

Paman Martil terkejut. Ia ingat bendera belum dibawanya.

“Sialan. Kita menang, bendera tak naik.”

Sekarang mereka melepaskan lelah sambil menyanyi “Saya Mariana Proletar”. Mereka menari dan berjingkrak. Tuan-tuan telefonis duduk di pojokan mengawasi.

“Ada serdadu dataaang!” sekali lagi si bocah berteriak.

 Nyanyian berhenti. Jingkrak dan tari padam.

“Pecahkan kepala anjing-anjing Belanda itu kalau mereka melawan.”

Dari bawah terdengar peluit serdadu ditiup.

“Itu dia serdadu tangsi Kota. Ha, komendan Diemont sendiri yang datang. Biar kita hajar mereka. Jam kantor memukul lagi. Jam 02.30 tepat.”

“Mereka mulai mengepung,” seseorang memberitakan.

“Biar saja. Kita juga punya senjata api. Sama-sama punya. Biar saja.”

“Matikan listrik!” Paman Martil memberi perintah.

Dalam sekejap mata itu juga listrik padam.

“Dua puluh orang turun ke bawah. Bunuh semua yang mencoba masuk. Hemat-hemat dengan pelor kalian,” sekali lagi Paman Martil memberi perintah.

Dengan sendirinya separoh dari pasukan itu pun turun ke bawah.

“Siapa yang pakai pakaian putih-putih di depan Diemont itu? Ha? Residen Betawi sendiri? Terhormat betul kita nih!”

Residen J. Ch. de Bergh itu maju ke depan. Dengan kedua belah tangan dicorongkan ia berteriak-teriak parau:

“Turun! Turun semua kowe! Serahkan golok kowe orang!”

Paman Martil sengaja tertawa terbahak-bahak. Semua pun mengikuti tertawa terbahak-bahak.

“Ikut prentah tidak? Tidak ikut, serdadu tembak, ya? Turun lekas!”

“Tembak saja, tembak saja,” orang-orang berseru-seru.

Para serdadu dari tangsi Kota telah mulai mengepung dengan senapan tertuju ke kantor tilpun. Komandan Diemont terdengar memberikan perintah: “Vuuur!”

Senapan dari bawah berjederon, dan peluru berhamburan menghantami tembok kantor tilpun. Pasukan Paman Martil bersorak dan membalas tembakan itu dengan tembakan pestol, revolver, dan parabellum.

Dalam rembang caya lampu jalanan nampak beberapa orang serdadu sempoyongan, dan kepungan itu pun pecah berantakan. Berkali-kali peluit ditiup di bawah sana. Beberapa orang serdadu digotong, dan akhirnya semua serdadu ditarik ke gedung Chartered Bank, tepat di seberang kantor tilpun Kota.

“Mestinya bank itu juga kita serbu.”

Tembak-menembak telah berhenti. Tetapi dari suatu jarak—pastilah itu dari sekitar penjara Glodok—tembak-menembak terdengar riuh. Caya merah yang dipancarkan oleh api kebakaran telah lama padam.

Seorang kepala panas—nampaknya seorang agen polisi yang kepingin dapat bintang tanjung dari Belanda—seorang diri menyerbu ke halaman kantor tilpun.

“Babi itu minta dibikin tertib rupanya,” seseorang menggerutu.

Paman Martil mengeluarkan martil dari balik kemejanya. tapi martil itu kemudian dimasukkannya kembali.

“Biar dia sampai di depan pintu. Sediakan kursi. Jatuhi dia dengan kursi!”

Dan waktu polisi yang nampaknya tak tahan hidup tanpa bintang tanjung itu sampai di depan pintu kantor, sebuah kursi jati berat tepat mengenai bahunya, dan meliuk ia tak bangun lagi. Seseorang nampak keluar dari kantor dan menghantamkan batu pada kepalanya. Mungkin ia tidak akan bangun untuk selama-lamanya.

Satu jam telah lewat. Serdadu-serdadu di seberang sana, di gedung Chartered Bank, berkelap-kelip mengawasi kantor tilpun.

“Ayo maju!!” pasukan pendudukan kantor tilpun itu berseru-seru menantang.

Nampaknya serdadu-serdadu di sana itu tak tahan terkena provokasi, kemudian menyerbu kembali. Mereka mendekat dan kian mendekat. Waktu sudah dekat benar orang pun mulai menembak. Ternyata lebih separoh dari senjata pasukan pendudukan sudah kehabisan pelor. Mereka yang ada di bawah mulai menembaki para serdadu. Yang kehabisan pelor melempar-lemparkan barang apa saja. Beberapa orang serdadu menjelampah lagi, dan mereka mundur lagi.

Waktu sejam lagi keadaan tenang, langit telah mulai memucat. Paman Martil mulai menjadi bimbang, apa akan jadinya 3 jam kemudian kalau hari menjadi siang? Ia memerintahkan untuk siap-siap turun dari sebelah belakang melalui tali. Ia memberi perintah mencari tali di gudang. Dan tali untuk turun dari jendela belakang itu pun disediakan.

“Tantang lagi mereka,” Paman Martil memberi perintah.

“Serdadu apa itu!” seseorang memulai.

“Serdadu? Uh, beraninya cuma sama ayam orang kampung. Ayo maju!”

Terkena kembali oleh provokasi, serdadu-serdadu itu maju lagi. Tembakan yang menyambutnya semakin berkurang. Lebih banyak barang-barang yang beterbangan. Dan waktu barang-barang untuk dilemparkan habis, seseorang terdengar mengeluh:

“Tidak punya peluru lagi kita.”

“Lemparkan botol penghabisan.”

“Sudah habis.”

“Lemparkan mandor kantor tilpun itu.”

Dan mandor yang sudah tak bisa bicara itu pun diangkat beramai-ramai dengan aba-aba. Sebentar kemudian orang celaka itu telah melompati jendela loteng tanpa semaunya sendiri, melayang sebentar di udara, dan dan jatuh menindih kaki seorang serdsan.

“Turun cepat!”

Semua orang memerosotkan diri dengan tambang, lari berantakan menyeberangi kali yang dingin dan hitam. Juga dua bocah pengikut Paman Martil. Juga Paman Martil sendiri. Mereka lari dan lari. Mereka lari tak tahu ke mana harus pergi. Akhirnya pasukan itu bubar sendiri. Yang tertinggal adalah Paman Martil dan kedua orang bocahnya.  

(BERSAMBUNG)

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai