12 May 2019

Komunis Pertama (1) - T. Iskandar A.S.

Lukisan karya Hendra Gunawan

Hari masih pagi, jam sepuluh pagi, ketika aku sampai. Seperti dulu-dulunya, angin bertiup santar dari sawah yang terhampar di punggung rumah. Rumah itu seperti dulu-dulunya juga, doyong ke depan, karena setiap hari ditiup angin. Lain dari dulu, rumah itu semakin lapuk juga, seperti juga penghuni-penghuninya, ibuku. Kudorong daun pintu yang itu-itu juga, tetapi seperti dulu-dulu juga, kosong melompong jika hari masih pagi begini.

Menjelang lohor, baru ibuku pulang dari sawah. Kurus, tua, dan menderita batin. Sebelumnya telah kubayangkan bahwa ia akan menunjukkan kegembiraannya. Tidak kuharap ciuman atau pelukan, karena itu bukanlah suatu kebiasaan perempuan tua keras ini, tetapi barangkali sebuah kata “oh” atau senyuman yang sejuk. Tapi yang kuharap itu pun tidak kutemui.

“Kapan kau datang,” katanya, tidak mengandung suatu keharuan perjumpaan. Kusalam tangannya yang berkerut sambil menatap matanya yang tua dan menderita. Di tangan dan di mata itulah kurasakan getaran hangat kasih sayang seorang ibu. Kasih sayang yang tak dinampakkan, tapi toh terasa. Betapa tuanya ia sudah. Betapa kasihku padanya dan itu juga tidak ingin kunampakkan, tetapi kuharap ia merasakannya.

“Tadi pagi.”

“Dengan apa?”

“Plane… kapal terbang.”

“Kupikir kau sudah tidak akan pulang lagi. Pamanmu bilang bulan Januari yang lalu.”

“Tak jadi.”

Sepi. Sepi yang menekan perasaan. Seperti dulu-dulunya kami sama-sama pendiam. Hampir-hampir tak pernah berseloro. Layakkah ibu dan anak yang lima tahun tak berjumpa lebih banyak diam daripada bicara? Ada soal jika kubuka akan menimbulkan banyak pembicaraan, tapi justru itu yang tidak kumaui. Sangat memalukan untuk diperkatakan, dan oleh karena itu akan sangat mendera ibu nanti.

“Abangmu bagaimana. Baik-baik saja?”

Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong menyambar dadaku. Ini yang tidak kumaui, justru ini yang datang. Lama aku terbimbang-bimbang, tak tahu jawaban apa yang harus kuberikan.

“Ya, baik-baik saja,” jawabku akhirnya, enteng, sangat hati-hati. Kuusahakan agar jawabanku, walau tidak mungkin sebagai air dingin, setidak-tidaknya janganlah seperti bensin.

“Memalukan!” tiba-tiba ia meledak.

“Setiap orang di sini, di mana saja, di jalan-jalan, di pasar-pasar, di tempat-tempat penguburan dan perhelatan, selalu bertanya pura-pura tidak tahu: ‘Cutnyak, ke mana Ampon Ali?’ Kau tahu apa jawabku? Terus terang saja: ‘Dia sudah hambus bersama uang lima juta yang dicurinya dari bang!’”

Suara itu lantang, bisa didengar dari jarak seratus meter. Suara itu tiba-tiba halus dan merendah, tapi penuh kegemasan, barangkali juga kepiluan.

“Setelah itu anjing kurap itu pun pergi. Dan yang menanggung malu? Aku! Ibunya, dan pamanmu!”

Dia berhenti, kupikir akan lama, tetapi:

“Belum keturunanku menanggung aib sebesar ini,” lambat dan gemas. Tiba-tiba agak keras dan dengan kegeraman:

“Keluargaku bukanlah keturunan kepengan! Tetapi keluarga yang dihormati turun-temurun, tempat orang bertanya dan mencontoh…Sekarang? Hancur berantakan. Hancur!”

“Bajingan!!” satu-satunya kata yang keluar dari mulutku.

“Kalaulah rasa-rasanya ia bisa kutelan, akan kutelan kembali!”

Ibu terdiam sekarang. Kulihat matanya yang tua itu mengandung hiba. Dia membalik untuk mengelakkan pandangku. Kemudian pelan-pelan menuju ke tengga, duduk berjuntai di sana.

Abang Ali memang selalu merepotkan orangtuaku, terutama ibu. Bakatnya yang aneh memang sudah ditunjukkannya sejak kecil, Mencuri uang ayah, ibu, dan kakak-kakakku, untuk kemudian tak muncul-muncul sampai uang itu ludas. Jika kembali selalu ia didera dengan rotan belah empat, atau dimasukkan ke kakus dan kandang ayam, tapi tak pernah jera.

Masih untung otaknya cerdas, sehingga setelah tamat SMA disekolahkan di fakultas hukum di Yogya. Tapi di sana apa yang diperbuatnya? Kawin dengan seorang gadis beragama Katolik. Ini hampir-hampir membuat ibu gila. Orangtua alim, tapi anaknya kawin dengan gadis Katolik. Tapi belakangan ini pun dimaafkan ibu, terlebih setelah mereka pulang dan menetap bersama ibu.

Tetapi belum setahun suasana agak tenang, tiba-tiba ia lari dengan membawa serta uang lima juta yang digelapkan dari bank di mana ia bekerja. Ini sama dengan menempelkan kulit babi di muka Muslim yang fanatik, bagi ibuku.

Kuperhatikan ibu masih berjuntai di tangga. Sembunyi-sembunyi, ia mengambil ujung kainnya dan digosokkannya ke matanya: ia menangis. Belum pernah kulihat perempuan tua yang keras ini menangis. Selalu saja ia menyembunyikan kesedihan hatinya, apalagi untuk menceritakan kesedihan itu pada orang. Jika ia menangis, selalu saja berusaha untuk tidak diketahui orang.

Sesuatu yang ganjil mengganjal kerongkonganku, mendesak-desak dan macam hendak meledakkan dadaku, tapi itu kutahan sekuat tenaga. Tak mau aku secengeng itu di depan ibu. Hendak kupeluk ia, tapi aku malu pada diri sendiri, seorang laki-laki dewasa selemah itu. Kulihat kemudian ia pelan-pelan turun dan pergi entah ke mana.

Tiba-tiba ia naik lagi, membawa seberkas kayu api. Tanpa bicara sepatah pun, ia menjerang air. Diambilnya beras, ditanaknya. Dipanasinya ikan dan sayur. Setelah itu pergi ke lemari, kemudian melemparkan sehelai sarung ke pundakku. Aku bersalin. Kemudian ia turun lagi, mengambil air sembahyang, naik lagi, lalu mulai sembahyang.

Aku berdiri di bendul pintu, ketika setelah selesai sembahyang tiba-tiba ibu berkata:

“Kau tidak sembahyang?”

Dulu-dulu, aku diam saja jika ia bertanya tentang sembahyang, dan ia tahu betul diamku berarti “tidak”. Itu dulu. Tapi sekarang aku tidak hendak menyakiti hatinya. Kehendaknya itu kulakukan, setidak-tidaknya selama aku berada bersamanya.

“Saya tidak dapat bermalam di sini, Mak,” kataku sorenya.

“Ada tugas di kota. Kak Raniah dan juga terutama saya sudah barang tentu, meminta Mak datang ke kota dan berada di sana selama saya di sini,”

Kunantikan jawabannya, yang baru datang lama.

“Pekerjaan sawahku belum selesai dan rambutan di kebun sedang ranum-ranum. Penjaga kebun kita si Amat baru kembali dari rumah orang tuanya besok. Dia juga pencuri, tapi lebih jujur sedikit dari orang-orang seluruh kampung ini. Datanglah besok sore, menjemputku.”
***
Sepanjang perjalanan kembali ke kota, percakapan dengan ibu saya yang menguasai pikiran dan perasaan. Terjadi pertentangan dalam diriku, yang sedikit banyak telah menyeretku dalam kebimbangan. Tak dapat kubayangkan, apa yang akan terjadi, andai kata ibuku tahu apa dan bagaimana sesungguhnya aku. Terlalu ngeri bahkan untuk membayangkannya.

Lampu-lampu sudah menyala di tiang-tiang dan di rumah-rumah ketika aku sampai di kota. Ada sesekali menyerempet kenangan-kenangan manis masa kecilku di kota kelahiran ini, tapi itu segera lenyap dalam masalah yang sedang bertarung dalam diriku. Ketika aku memasuki halaman rumah, setengah lusin kemenakan menyongsongku dan memperebutkan oleh-oleh yang kubawa dari kampung.

“Ayah telah datang,” kata seseorang yang tertua memberitakan.

Aku segera menuju ke runag tengah. Di sana kutemui paman Hasan, rambutnya sudah mulai memutih. Kusalam ia dengan hormat. Kupandang ia seperti memandang ayahku sendiri. Terlalu banyak kebaikan yang telah dilimpahkannya kepadaku dan saudara-saudaraku yang lain.

Pertama-tama yang diberikannya ialah dorongan untuk maju, kepercayaan kepada diri sendiri yang pernah tidak kupunyai lagi. Ini semua ditanamkannya padaku tanpa bosan-bosannya. Tak usah kusebut bantuan-bantuan kebendaan yang diberikannya tanpa reserve, tanpa mengharap balas, kecuali harapan agar dengannya aku dan saudara-saudaraku memperoleh kemajuan.

“Kami pikir sudah tidak jadi pulang kali ini,” katanya.

“Anak-anak setiap hari bertanya kapan kau datang.”

“Rencana semula gagal. Ini pun tertahan di Medan hampir sebulan, sukar sekali dapat tiket.”

Setelah makan malam, sekali ini aku lancar sekali berbicara dengannya. Tentang pekerjaanku, studiku, organisasi, tentang situasi politik nasional dan internasional. Dia berbicara tentang kemajuan-kemajuan yang telah dicapai PKI dewasa ini. Dia mengagumi kegigihan PKI dalam menentang “Peraturan 26 Mei” dengan segala resiko-resikonya.

Dikaguminya juga kelihaian pemimpin-pemimpin dan kader-kadernya dalam bekerjasama dengan Presiden Sukarno dan dalam memimpin perkembangan, tuntutan Kabinet poros Nasakom, tentang perselisihan PKUS dan PKT, dan berbagai soal lainnya.

Sebagai bekas pemimpin partai terlarang di daerahku, soska, dalam beberapa bagian ia menganalisa semua itu dengan tepat. Bagian-bagian yang salah dan kurang tepat, aku dengan hati-hati sekali membantahnya. Kadang-kadang dibantahnya kembali pendapatku itu dan mengemukakan pula analisanya yang lain.

Jika tidak hati-hati bisa saja kita terjebak dan diseretnya kita dalam perangkap pendapatnya. Tetapi analisanya itu pun kubantah pula, menjelaskan lebih dalam lagi, kadang-kadang mendetil disertai contoh-contoh yang kugali dari pengalamanku sendiri.

Demikianlah seterusnya, sampai demi mempertahankan pendapatku, aku telah menceritakan apa yang seharusnya tidak dibolehkan bagi kalangan luar. Aku sadar, ketika dengan bijaknya ia berkata:

“Rupa-rupanya pengetahuanmu tentang PKI dalam sekali…”

Aku terjebak sudah. Tabir yang selama ini kupasang sudah kebobolan. Jika aku tidak hati-hati, bisa aku telanjang bulat dibuatnya. Tapai apakah masih perlu aku main gelap terhadap paman Hasan, satu-satunya anggota keluargaku yang paling memahamiku?

“Itu karena kau banyak bergaul dengan orang-orang PKI,” kataku masih mau menaburkan tabir asap. Dia malah tersenyum bijak.

“Aku banyak menerima pengaduan dari orang-orang yang datang dari Jakarta. ‘Kemenakan saudara telah jadi komunis’, kata mereka kepadaku. Aku benci pada pengadu-pengadu, oleh karena itu kepada salah seorang di antaranya aku berkata: ‘Setiap orang mempunyai perkembangannya sendiri-sendiri, sesuai dengan latar belakang sosial dan lingkungannya’. Sejak itu orang itu tidak pernah datang mengadu lagi padaku. Tapi sebaliknya ia mulai menyebarkan fitnah bahwa aku juga sudah jadi komunis.”

Aku tertawa.

“Bukankah itu lucu? Setiap orang yang menggunakan otak, sedikit-sedikitnya setiap orang yang menggunakan lebih banyak rasio, mereka tuduhkan komunis. Betul-betul bodoh. Atau malah aku yang bodoh? Oleh orang-orang Masyumi aku dituduh komunis dan oleh orang komunis aku dituduh Marxis munafik…”

Aku ketawa lagi dan ia pun turut ketawa. Kemudian ia diam dan aku pun turut diam. Tiba-tiba ia berkata, sangat sungguh-sungguh nampaknya.

“Sebenarnya aku sangat setuju pada komunisme. Segala-galanya. Sayangnya mereka sama sekali tidak mengenal moral, tidak mengenal kemanusiaan. Ini yang menahanku untuk jadi komunis.”

Dia diam lagi. Dan diam-diam ia memperlihatkan aku. Tiba-tiba ia berkata, tiba-tiba sekali.

“Apakah kau anggota PKI? Seorang komunis?”

Sudah kuduga sebelumnya, bahwa ia akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Dan aku pun sudah bertekad tidak boleh tidak, suatu kali aku akan menjawab dengan “ya”. Tapi aku masih diam. Melihatku diam, dia berkata lambat-lambat:

“Waktu sahabat-sahabat karibmu orang-orang komunis, tapi karena watakmu teguh, aku percaya kau tidak akan menjadi seorang komunis. Bukankah demikian?”

“Ya, paman,” kataku lambat-lambat dan tenang.

“Memang kau bukan tampang seorang komunis.”

Dia merasa bangga sekali dengan “penemuan”-nya itu.

“Ya, paman. Saya seorang komunis. Anggota Partai Komunis Indonesia.”

Paman Hasan mengangkat mukanya, memandangku seperti sebuah arca yang mencengangi masa kini. Tiba-tiba ia ketawa terbahak-bahak, tawa yang sumbang, maka itu aku tidak membalsa tawanya itu.

“Bukankah itu lucu? Seorang yang bukan komunis mengaku diri komunis sekedar untuk melucu. Sama lucunya seperti aku yang bukan komunis dituduh mati-matian komunis oleh orang-orang goblok itu.”

Dia ketawa terus, tawa sumbangnya, yang tiba-tiba terhenti karena aku memandanginya seperti anak kecil masa kini mencengangi arca.

“Saya bersungguh-sungguh, paman. Saya seorang komunis dan saya sudah mengangkat sumpah untuk mencintainya dan membelanya dengan napas dan darah.”

Hening. Hening sekali. Lambat-lambat ia bangun dan korsinya, mendekatiku seperti seorang penuntut umum. Air mukanya kaku dan aku belum pernah melihatnya sejelek itu.

“Katakan! Katakan bahwa kau bukan seorang komunis,” katanya lambat-lambat menahan kegeramannya. Aku benar-benar salah duga tentang kepahamannya terhadapku.

“Ya, paman. Saya seorang komunis.”

“Katakan, bahwa kau bukan seorang komunis.”

“Benar, paman. Saya salah seorang anggota Partai Komunis Indonesia yang jutaan.”

Tiba-tiba ia menumbuk meja dan ini telah membuat seluruh isi rumah mencengangi kami, tapi segera menyingkir dipandangi paman.

“Katakan. Ismet. Aku tak mau tahu apakah kau komunis atau bukan, tapi yang aku mau kau membantahnya. Sebuah bantahan yang kuinginkan. Hanya bantahan!”

“Saya seorang komunis, paman. Kalaupun saya membantahnya, paman tidak akan percya,” jawabku lambat-lambat.

“Aku sudah menduga bahwa kau pasti seorang komunis. Tidak bisa lain. Tapi biarkanlah aku menduga terus tanpa aku menemui buktinya dan terlebih-lebih tanoa aku mendengar pengakuan dari mulutmu sendiri. Itu sudah cukup bagiku untuk mengaburkan kenyataan yang sangat mengerikan ini. Cobalah kau bayangkan, di tengah-tengah keluarga kita yang dikenal pembela-pembela Islam, sebagai keluarga beragama, terdapat seorang komunis. Dan justru kau, harapan keluarga satu-satunya, yang melopori, yang menjadi komunis yang pertama dalam keluarga.”

Dahinya berkeringat.

“Seorang komunis. Mengerikan!” sambungnya lambat-lambat sekali.

Belum pernah aku melihatnya sepengecut ini, dia yang kukagumi. Di matanya terkaca kengerian yang amat sangat.

“Andaikan Mak-mu mengetahui hal ini, kalau tidak mati seketika itu pula, ia akan gila. Betul-betul gila! Abangmu kawin sama Katolik saja sudah membikinnya lebih dari setengah gila. Kau lihat sendiri, dia cuma tinggal tulang belulang. Kasihanilah ia, Ismet,” paman mengucapkan kata-kata ini dengan nada sedih dan putus asa.

Dalam hati kecilku timbul sesal. Hanya sebuah bantahan, apa salahnya? Sebuah bantahan sudah cukup membikin senang pamanku. Tapi alangkah susahnya bagiku mengucapkan bantahan itu, terlebih-lebih terhadap paman seorang yang kusangka paling memahamiku.

Terhadap paman aku tidak bisa berbohong. Dan ibuku bagaimana? Paman benar, sedikitnya ibu akan gila jika mengetahui secara pasti bahwa aku seorang komunis. Alangkah bimbangnya aku, dan alangkah inginnya aku melarikan diri dari masalah yang paling ruwet ini.

“Bukan kebiasaan turunan kita, paman, untuk menelan air ludah yang sudah diludahkan,” aku berkata tanpa sedar dan ini membuat paman meninggalkanku.

(BERSAMBUNG)

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai