12 May 2019

Komunis Pertama (2 Habis) - T. Iskandar A.S.

Lukisan karya Hendra Gunawan

Mulai hari itu suasana rumah sudah tidak enak lagi. Kepingin sekali aku cepat-cepat kembali ke Jakarta, selesai segala soal. Dengan paman aku bicara seperlunya saja. Sering kulihat ia termenung berpikir-pikir. Besoknya aku menjemput ibuku ke kampung. Pada mukanya aku melihat kecerahan dan kegembiraan. Sungguh mati aku tidak ingin mengganggu kegembiran yang dalam umurnya setua itu jarang diperolehnya.

Tapi andaikata ia tahu, barangkali dari paman, bahwa aku seorang komunis, alangkah kejamnya aku menyiksanya. Oleh karena itu, selalu aku mengelak diri dari pembicaraan tentang komunis. Untuk menyenangkan hati ibu, aku rajin sekali sembahyang, walau siapa pun dalam keluargaku tahu bahwa sembahyang selalu kuingkari sejakku kecil. Ibuku gembira sekali jadinya. Sebaliknya, paman Hasan cuma senyum-senyum sumbing. Benar-benar kepulanganku sekali ini sangat menyiksa.

Itulah makan malamku yang terakhir bersama paman Hasan. Kugenggam segenggam besar nasi putih dan kuletakkan di piring kosong. Ke atasnya kutuangkan kuah yang bermanik-manik karena lemak. Kujangkau sepotong paha ayam goreng, kugigit sedikit, kemudian kuletakkan dipiring. Aku mulai menyuap. Tapi sangkut. Segera kudorong dengan teh. Demikianlah, kusuap dan kudorong nasi itu dengan teh berkali-kali, sampai nasi dipiring terhabiskanku.

Ketika aku memasukkan tanganku ke basuhan, kediaman yang kaku dari tadi, tiba-tiba dipecahkan oleh suara paman Hasan yang parau dan dingin.

“Sedikit sekali kau makan.”

“Sudah kenyang.”

“Dengan nasi yang sesedikit itu?”

“Sudah kenyang.”

Sambil terus mengunyah, dikerlingnya piringku:

“Habiskan ayam itu.”

Kuangkat paha ayam goreng itu, kugigit sekali, kemudian kuletakkan kembali di piring.

“Tak ada selera,” kataku sambil menghembuskan napas.

“Karena hendak kembali ke Jakarta besok pagi?”

Pertanyaan itu tidak segera kujawab, karena aku sendiri tidak tahu mengapa aku gundah dan seleraku hilang.

“Barangkali juga,” kataku sekedar tidak diam saja.

Percakapan putus di situ. Paman terus mengunyah, lahap sekali. Memang ia tukang makan nomor satu. Ketika ia menjangkau ayam goreng yang terakhir dari yang tadinya menggunung di piring, ia mengiringinya dengan komentar:

“Hidup untuk makan.”

Aku hendak mengomentarinya, tapi tak jadi. Ada sebenarnya yang hendak kukatakan padanya, tapi aku masih takut. Dia membasuh tangannya, menglapnya kemudian, mengambil sebatang cerutu Havana, lalu menghembus-hembuskannya.

“Ada yang hendak saya katakan pada paman,” kataku tiba-tiba.

“Katakanlah,” jawabnya singkat.

Tapi aku diam dan ia pun tidak menantinya tampaknya.

“Apakah paman marah sama saya?”

“Apa hakku?”

“Saya menganggap paman sebagai pengganti ayah saya sendiri.”

Ada tersentuh hatinya oleh kalimatku itu.

“Saya berterimakasih pada paman. Paman telah mendorong saya maju. Tanpa paman saya telah menjadi seorang yang tak ada harga. Pengecut, rendah diri, tak berpengharapan.”

Dia macam tidak mendengarkan, tapi aku tahu pasti ia mendengarkan.

“Paman tahu, begitu ayah meninggal, Mak mendapat gangguan darah tinggi. Sejak waktu itu demi tak terganggunya sekolah saya, saya dititipkan pada kak Minah, kakak suami kak Ratna almarhum. Di sana saya tak mendapat perhatian sepenuhnya, saya dianggap anak tiri di antara anak-anaknya. Saya makan makin jelek dan paling sedikit, tapi saya harus mengerjakan pekerjaan sehari-hari yang paling banyak. Hidup saya tertekan karena pembedaan-pembedaan ini. Masih paman ingat ketika saya melarikan diri dan tidak bersedia kembali lagi pada kak Minah?”

Paman masih diam, cerutunya berasap terus.

“Setelah itu, setelah paman pindah ke kota, saya tinggal bersama paman. Keadaan saya lebih baik, tetapi saya masih belum dapat melepaskan diri dari anggapan bhwa saya menumpang hidup pada orang lain, pada seseorang yang bukan ayah ibu saya sendiri. Saya hidup dari kasihan orang lain, walaupun orang itu seorang paman atau abang.”

Aku menatap paman ingin melihat reaksinya, tapi ia masih dalam sikap seakan-akan acuh tak acuh.

“Paman masih mau mendengarkan?”

“Teruskan.”

“Setelah itu saya tinggal bersama paman Ali. Masih tetap saja tidak bisa melepaskan diri dari masa lalu yang tertekan yang betul-betul memukul jiwa muda saya yang rapuh. Saya tidak lama tinggal bersama beliau, saya kembali pada paman lagi, yang saya anggap serasi. Tapi pemberontakan Darul Islam telah mengusir guru-guru sekolah keluar daerah, sekolah saya terbengkalai. Saya pindah ke Jakarta dan menetap bersama abang Ali yang baru saja kawin dengan kak Ati, oleh karena itu saya mematuhi apa saja yang dikatakannya.”

Aku menghela napas berat dan merasa sedih sendiri.

“Kemudian?” paman Hasan untuk pertama kali menyela.

“Paman tahu sendiri bukan? Saya mulai diperkudanya, saya dianggap babu dan jongosnya sekaligus. Abang Ali, demi cintanya, diam saja. Saya sangat tertekan. Penindasan jiwa dulu ditindih pula dengan penindasan jiwa baru. Masa remaja saya tidak saya kecap sebaik-baiknya. Kegembiraan muda saya lenyap dan saya tenggelam dalam kesedihan, kegelapan, hina diri, tanpa harga diri.”

Kuangkat mukaku dan kupandang paman Hasan, kurasakan pandang kasih sayangnya yang pernah selalu kuterima. Aku mencoba manahan air mataku.

“Hal ini berakhir ketika abang Ali dan istrinya pindah kemari. Saya pun pindah ke Medan. Di sanalah saya mulai kenal dengan komunisme, dengan PKI. Saya menumpang di rumah seorang kader atas PKI. Suatu kali dia bertanya kepada saya, mengapa saya selalu murung, penyendiri dan pemalu.

“Anak muda harus banyak bergembira,” katanya.

“Belum pernah saya menerima perhatian sedemikian baik di luar keluarga saya. Saya tak bisa berbohong, bahkan tak ada seorang anggota keluarga kita yang bisa memahami saya seperti dia. Paman sendiri tidak sebegitu memahami saya seperti dia.”

Kulihat paman mengangguk.

“Sejak itu saya sering diajaknya menghadiri pertemuan-pertemuan, melihatnya berpidato di depan massa banyak, tidak seperti seorang bapak menggurui anak buahnya, tapi seperti seorang sahabat karib yang lebih berpengetahuan. Saya melihat bagaimana dia dikritik anak buahnya dan kemudian mengeritik dirinya sendiri atas kesalahan-kesalahannya. Bukan hanya itu, ia malah memperbaikinya segera sesudah hari itu. Saya melihat bagaimana mereka menghentikan merokok karena mau membantu keluarga temannya yang dipenjara karena kaum tani yang dirampas tanahnya.”

Paman mematikan cerutunya, kemudian menukarnya dengan batang yang lain.

“Suatu kali, karena saya manaruh perhatian pada soal-soal kesenian, mereka mengajak saya turut dalam sebuah pementasan drama. Mereka minta saya memerankan seorang tokoh. Pada sutradaranya saya katakan bahwa saya seorang penggugup dan melihat orang ramai seperti melihat hantu. Saya menduga mereka mentertawakan saya, tapi dugaan itu meleset.”

“Apa jawab mereka? ‘Bung tidak boleh menyerah pada kelemahan-kelemahan bung, tapi bung harus melawannya, harus!”

“Kemudian ia, sang sutradara itu, mulai bercerita bagaimana ia dulu sebagai anak tani miskin diejek-ejek oleh anak-anak borjuasi kota. Dia selalu disoraki dengan ‘kampungan’, pada mulanya ia merasa kecut juga, tetapi kemudian mulai melawannya. Pertama-tama ia harus melawannya melalui dalam diri sendirinya dulu. Kemudian dengan bantuan teman-teman, ia telah berhasil keluar dari kegelapan yang tak berpengharapan itu.”

“Bung lihat, saya penggembira sekali sekarang, walau pakaian saya tambalan dan sering-sering harus tidak makan,” katanya.

Aku menghela napas, seakan-akan telah melepaskan beban yang teramat berat.

“Sejak itu saya tanpa terasa diseret mereka untuk mempunyai sikap, mempunyai kepribadian, mempunyai pengharapan dan menganggap diri juga menusia berharga yang berhak hidup dan berhak mempunyai hari depan. Paman lihat, saya sekarang penggembira dan lincah, seakan-akan saya dilahirkan sebagai seorang penggembira, seorang yang lincah.”

Aku menghabiskan ceritaku disitu. Suasana menjadi hening. Paman tertunduk sebagai arca. Tiba-tiba sesuatu perasaam ganjil menyerangku dan tiba-tiba dengan meminta perhatian berkata:

“Apakah salah saya, paman, jika saya menaruh simpati pada orang-orang komunis dan menaruh simpati pada Karl Marx? Salahkah saya, paman, jika terlebih-lebih lagi saya menjadi seorang Marxis sejati, menjadi komunis yang setia?”

Paman tidak mengangkat kepalanya. Hening, hening sekali, sedang aku menanti sebuah jawaban, atau sebuah ucapan darinya lama sekali. Ketika ucapan itu:

“Kau tidak salah. Kamilah yang salah, karena kami tidak memahami penderitaanmu. Terlebih-lebih karena tidak memahami perkembangan yang terus berjalan tanpa stop. Kamilah yang salah, yang tertambat pada masa lampau yang kuno.”

Dia berdiri dari korsi. Tanpa disengaja, tangannya mampir ke sudut mata kanannya, kutaksir ia meraba air matanya.

“Seperti kuharapkan kau sudah berubah, Ismet. Kau sekarang gunung karang. Kau akan menjadi besar, karena kau menaruh pengharapan untuk menjadi orang besar, terlebih-lebih karena kau berkeinginan menjadi orang besar. Aku gembira sekali.”

Paman hendak beranjak, tapi tak jadi:

“Dan jika kau benar komunis, jadilah komunis yang sadar, tidak ikut-ikutan, Ismet.”

Ingin aku mengucapkan, “Ya, paman,” tapi tak jadi karena ia telah lenyap dalam kamarnya.

***

Pagi besoknya, ibuku cuma melepaskanku di depan pintu rumah. Kulihat ia semakin tua, tapi matanya tidak semenderita dulu. Betapa kasihnya aku padanya, betapa inginnya aku menunjukkan kasihku itu, tapi betapa tak sanggupnya aku. Semoga ia dapat merasakannya.

“Mak, saya minta diri.”

Perempuan tua ini masih keras seperti dulu, tak kulihat keharuan perpisahan. Tapi tangannya yang kusalam dan matanya yang kutatap, kurasakan betapa beratnya ia melepaskanku.

“Senang-senangkanlah hati Mak, jangan dibawa bersusah,” kataku lagi.

“Kaupun demikian. Senang-senangkanlah hatimu, maafkan aku jika aku kurang sempat memperhatikanmu.”

“Ah.”

“Jangan bantah,” sanggah ibu sambil menutup mulutku. Semua telah kudengar tadi malam dalam percakapanmu dengan pamanmu. Ada kudengar kalian menyebut-nyebut ‘kominis’, apakah benar kau sudah jadi kominis, Ismet?”

Ibu memandangku, aku memandang paman yang juga memandangku berisyarat. Berat aku bersuara, lama aku terkaku-kaku. Akhirnya aku cuma menggeleng.

“Kau bohongi aku, nak,” keluhnya kecewa.

“Tapi itu kutahu karena kasihmu padaku.”

Ibu memandangku dalam, pandang yang tidak kumengerti, dan alangkah tersiksanya aku oleh ketidakmengertianku itu.

“Telah kutimbang, telah kupikir-pikir tadi malam semalam suntuk. ‘Anakku seorang kominis’. Aku menangis, kemudian menimbang-nimbang. Menangis lagi dan meninmbang-nimbang lagi. Ketika fajar barulah pikiranku terbuka, barulah aku bisa mengambil suatu keputusan. Kuserahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Adil. Kuserahkan segalanya kepada Tuhan. Tuhan-lah yang berhak mengadilimu, bukan aku, sekalipun aku ibumu.”

Tak kutahu perasaan apa yang bergalau dalam dadaku. Entah gembira, entah sedih, entah terharu, sehingga aku teroaku saja pada tanah yang kupijak, sedang sebenarnya ada sesuatu yang hendak kulakukan. Akhirnya aku dan ibu cuma berpandang-pandangan.

“Mak…” itu saja yang keluar dari mulutku.

“Pergilah, nak.”

Dipandanginya aku seperti untuk penghabisan kalinya. Cepat kubalikkan basanku, tiba-tiba terhenti oleh suara ibu yang berkata:

“Kominis pun kau, Ismet, jangan tinggalkan sembahyangmu.”

Tak kujawab, tapi kuanggukkan kepala lambat-lambat, kemudian segera meninggalkan mereka tanpa menoleh sekalipun.

“Kuatkan hatimu, Ismet,” kataku pada diri sendiri. [ ]

Komunis Pertama (1) - T. Iskandar A.S.

Lukisan karya Hendra Gunawan

Hari masih pagi, jam sepuluh pagi, ketika aku sampai. Seperti dulu-dulunya, angin bertiup santar dari sawah yang terhampar di punggung rumah. Rumah itu seperti dulu-dulunya juga, doyong ke depan, karena setiap hari ditiup angin. Lain dari dulu, rumah itu semakin lapuk juga, seperti juga penghuni-penghuninya, ibuku. Kudorong daun pintu yang itu-itu juga, tetapi seperti dulu-dulu juga, kosong melompong jika hari masih pagi begini.

Menjelang lohor, baru ibuku pulang dari sawah. Kurus, tua, dan menderita batin. Sebelumnya telah kubayangkan bahwa ia akan menunjukkan kegembiraannya. Tidak kuharap ciuman atau pelukan, karena itu bukanlah suatu kebiasaan perempuan tua keras ini, tetapi barangkali sebuah kata “oh” atau senyuman yang sejuk. Tapi yang kuharap itu pun tidak kutemui.

“Kapan kau datang,” katanya, tidak mengandung suatu keharuan perjumpaan. Kusalam tangannya yang berkerut sambil menatap matanya yang tua dan menderita. Di tangan dan di mata itulah kurasakan getaran hangat kasih sayang seorang ibu. Kasih sayang yang tak dinampakkan, tapi toh terasa. Betapa tuanya ia sudah. Betapa kasihku padanya dan itu juga tidak ingin kunampakkan, tetapi kuharap ia merasakannya.

“Tadi pagi.”

“Dengan apa?”

“Plane… kapal terbang.”

“Kupikir kau sudah tidak akan pulang lagi. Pamanmu bilang bulan Januari yang lalu.”

“Tak jadi.”

Sepi. Sepi yang menekan perasaan. Seperti dulu-dulunya kami sama-sama pendiam. Hampir-hampir tak pernah berseloro. Layakkah ibu dan anak yang lima tahun tak berjumpa lebih banyak diam daripada bicara? Ada soal jika kubuka akan menimbulkan banyak pembicaraan, tapi justru itu yang tidak kumaui. Sangat memalukan untuk diperkatakan, dan oleh karena itu akan sangat mendera ibu nanti.

“Abangmu bagaimana. Baik-baik saja?”

Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong menyambar dadaku. Ini yang tidak kumaui, justru ini yang datang. Lama aku terbimbang-bimbang, tak tahu jawaban apa yang harus kuberikan.

“Ya, baik-baik saja,” jawabku akhirnya, enteng, sangat hati-hati. Kuusahakan agar jawabanku, walau tidak mungkin sebagai air dingin, setidak-tidaknya janganlah seperti bensin.

“Memalukan!” tiba-tiba ia meledak.

“Setiap orang di sini, di mana saja, di jalan-jalan, di pasar-pasar, di tempat-tempat penguburan dan perhelatan, selalu bertanya pura-pura tidak tahu: ‘Cutnyak, ke mana Ampon Ali?’ Kau tahu apa jawabku? Terus terang saja: ‘Dia sudah hambus bersama uang lima juta yang dicurinya dari bang!’”

Suara itu lantang, bisa didengar dari jarak seratus meter. Suara itu tiba-tiba halus dan merendah, tapi penuh kegemasan, barangkali juga kepiluan.

“Setelah itu anjing kurap itu pun pergi. Dan yang menanggung malu? Aku! Ibunya, dan pamanmu!”

Dia berhenti, kupikir akan lama, tetapi:

“Belum keturunanku menanggung aib sebesar ini,” lambat dan gemas. Tiba-tiba agak keras dan dengan kegeraman:

“Keluargaku bukanlah keturunan kepengan! Tetapi keluarga yang dihormati turun-temurun, tempat orang bertanya dan mencontoh…Sekarang? Hancur berantakan. Hancur!”

“Bajingan!!” satu-satunya kata yang keluar dari mulutku.

“Kalaulah rasa-rasanya ia bisa kutelan, akan kutelan kembali!”

Ibu terdiam sekarang. Kulihat matanya yang tua itu mengandung hiba. Dia membalik untuk mengelakkan pandangku. Kemudian pelan-pelan menuju ke tengga, duduk berjuntai di sana.

Abang Ali memang selalu merepotkan orangtuaku, terutama ibu. Bakatnya yang aneh memang sudah ditunjukkannya sejak kecil, Mencuri uang ayah, ibu, dan kakak-kakakku, untuk kemudian tak muncul-muncul sampai uang itu ludas. Jika kembali selalu ia didera dengan rotan belah empat, atau dimasukkan ke kakus dan kandang ayam, tapi tak pernah jera.

Masih untung otaknya cerdas, sehingga setelah tamat SMA disekolahkan di fakultas hukum di Yogya. Tapi di sana apa yang diperbuatnya? Kawin dengan seorang gadis beragama Katolik. Ini hampir-hampir membuat ibu gila. Orangtua alim, tapi anaknya kawin dengan gadis Katolik. Tapi belakangan ini pun dimaafkan ibu, terlebih setelah mereka pulang dan menetap bersama ibu.

Tetapi belum setahun suasana agak tenang, tiba-tiba ia lari dengan membawa serta uang lima juta yang digelapkan dari bank di mana ia bekerja. Ini sama dengan menempelkan kulit babi di muka Muslim yang fanatik, bagi ibuku.

Kuperhatikan ibu masih berjuntai di tangga. Sembunyi-sembunyi, ia mengambil ujung kainnya dan digosokkannya ke matanya: ia menangis. Belum pernah kulihat perempuan tua yang keras ini menangis. Selalu saja ia menyembunyikan kesedihan hatinya, apalagi untuk menceritakan kesedihan itu pada orang. Jika ia menangis, selalu saja berusaha untuk tidak diketahui orang.

Sesuatu yang ganjil mengganjal kerongkonganku, mendesak-desak dan macam hendak meledakkan dadaku, tapi itu kutahan sekuat tenaga. Tak mau aku secengeng itu di depan ibu. Hendak kupeluk ia, tapi aku malu pada diri sendiri, seorang laki-laki dewasa selemah itu. Kulihat kemudian ia pelan-pelan turun dan pergi entah ke mana.

Tiba-tiba ia naik lagi, membawa seberkas kayu api. Tanpa bicara sepatah pun, ia menjerang air. Diambilnya beras, ditanaknya. Dipanasinya ikan dan sayur. Setelah itu pergi ke lemari, kemudian melemparkan sehelai sarung ke pundakku. Aku bersalin. Kemudian ia turun lagi, mengambil air sembahyang, naik lagi, lalu mulai sembahyang.

Aku berdiri di bendul pintu, ketika setelah selesai sembahyang tiba-tiba ibu berkata:

“Kau tidak sembahyang?”

Dulu-dulu, aku diam saja jika ia bertanya tentang sembahyang, dan ia tahu betul diamku berarti “tidak”. Itu dulu. Tapi sekarang aku tidak hendak menyakiti hatinya. Kehendaknya itu kulakukan, setidak-tidaknya selama aku berada bersamanya.

“Saya tidak dapat bermalam di sini, Mak,” kataku sorenya.

“Ada tugas di kota. Kak Raniah dan juga terutama saya sudah barang tentu, meminta Mak datang ke kota dan berada di sana selama saya di sini,”

Kunantikan jawabannya, yang baru datang lama.

“Pekerjaan sawahku belum selesai dan rambutan di kebun sedang ranum-ranum. Penjaga kebun kita si Amat baru kembali dari rumah orang tuanya besok. Dia juga pencuri, tapi lebih jujur sedikit dari orang-orang seluruh kampung ini. Datanglah besok sore, menjemputku.”
***
Sepanjang perjalanan kembali ke kota, percakapan dengan ibu saya yang menguasai pikiran dan perasaan. Terjadi pertentangan dalam diriku, yang sedikit banyak telah menyeretku dalam kebimbangan. Tak dapat kubayangkan, apa yang akan terjadi, andai kata ibuku tahu apa dan bagaimana sesungguhnya aku. Terlalu ngeri bahkan untuk membayangkannya.

Lampu-lampu sudah menyala di tiang-tiang dan di rumah-rumah ketika aku sampai di kota. Ada sesekali menyerempet kenangan-kenangan manis masa kecilku di kota kelahiran ini, tapi itu segera lenyap dalam masalah yang sedang bertarung dalam diriku. Ketika aku memasuki halaman rumah, setengah lusin kemenakan menyongsongku dan memperebutkan oleh-oleh yang kubawa dari kampung.

“Ayah telah datang,” kata seseorang yang tertua memberitakan.

Aku segera menuju ke runag tengah. Di sana kutemui paman Hasan, rambutnya sudah mulai memutih. Kusalam ia dengan hormat. Kupandang ia seperti memandang ayahku sendiri. Terlalu banyak kebaikan yang telah dilimpahkannya kepadaku dan saudara-saudaraku yang lain.

Pertama-tama yang diberikannya ialah dorongan untuk maju, kepercayaan kepada diri sendiri yang pernah tidak kupunyai lagi. Ini semua ditanamkannya padaku tanpa bosan-bosannya. Tak usah kusebut bantuan-bantuan kebendaan yang diberikannya tanpa reserve, tanpa mengharap balas, kecuali harapan agar dengannya aku dan saudara-saudaraku memperoleh kemajuan.

“Kami pikir sudah tidak jadi pulang kali ini,” katanya.

“Anak-anak setiap hari bertanya kapan kau datang.”

“Rencana semula gagal. Ini pun tertahan di Medan hampir sebulan, sukar sekali dapat tiket.”

Setelah makan malam, sekali ini aku lancar sekali berbicara dengannya. Tentang pekerjaanku, studiku, organisasi, tentang situasi politik nasional dan internasional. Dia berbicara tentang kemajuan-kemajuan yang telah dicapai PKI dewasa ini. Dia mengagumi kegigihan PKI dalam menentang “Peraturan 26 Mei” dengan segala resiko-resikonya.

Dikaguminya juga kelihaian pemimpin-pemimpin dan kader-kadernya dalam bekerjasama dengan Presiden Sukarno dan dalam memimpin perkembangan, tuntutan Kabinet poros Nasakom, tentang perselisihan PKUS dan PKT, dan berbagai soal lainnya.

Sebagai bekas pemimpin partai terlarang di daerahku, soska, dalam beberapa bagian ia menganalisa semua itu dengan tepat. Bagian-bagian yang salah dan kurang tepat, aku dengan hati-hati sekali membantahnya. Kadang-kadang dibantahnya kembali pendapatku itu dan mengemukakan pula analisanya yang lain.

Jika tidak hati-hati bisa saja kita terjebak dan diseretnya kita dalam perangkap pendapatnya. Tetapi analisanya itu pun kubantah pula, menjelaskan lebih dalam lagi, kadang-kadang mendetil disertai contoh-contoh yang kugali dari pengalamanku sendiri.

Demikianlah seterusnya, sampai demi mempertahankan pendapatku, aku telah menceritakan apa yang seharusnya tidak dibolehkan bagi kalangan luar. Aku sadar, ketika dengan bijaknya ia berkata:

“Rupa-rupanya pengetahuanmu tentang PKI dalam sekali…”

Aku terjebak sudah. Tabir yang selama ini kupasang sudah kebobolan. Jika aku tidak hati-hati, bisa aku telanjang bulat dibuatnya. Tapai apakah masih perlu aku main gelap terhadap paman Hasan, satu-satunya anggota keluargaku yang paling memahamiku?

“Itu karena kau banyak bergaul dengan orang-orang PKI,” kataku masih mau menaburkan tabir asap. Dia malah tersenyum bijak.

“Aku banyak menerima pengaduan dari orang-orang yang datang dari Jakarta. ‘Kemenakan saudara telah jadi komunis’, kata mereka kepadaku. Aku benci pada pengadu-pengadu, oleh karena itu kepada salah seorang di antaranya aku berkata: ‘Setiap orang mempunyai perkembangannya sendiri-sendiri, sesuai dengan latar belakang sosial dan lingkungannya’. Sejak itu orang itu tidak pernah datang mengadu lagi padaku. Tapi sebaliknya ia mulai menyebarkan fitnah bahwa aku juga sudah jadi komunis.”

Aku tertawa.

“Bukankah itu lucu? Setiap orang yang menggunakan otak, sedikit-sedikitnya setiap orang yang menggunakan lebih banyak rasio, mereka tuduhkan komunis. Betul-betul bodoh. Atau malah aku yang bodoh? Oleh orang-orang Masyumi aku dituduh komunis dan oleh orang komunis aku dituduh Marxis munafik…”

Aku ketawa lagi dan ia pun turut ketawa. Kemudian ia diam dan aku pun turut diam. Tiba-tiba ia berkata, sangat sungguh-sungguh nampaknya.

“Sebenarnya aku sangat setuju pada komunisme. Segala-galanya. Sayangnya mereka sama sekali tidak mengenal moral, tidak mengenal kemanusiaan. Ini yang menahanku untuk jadi komunis.”

Dia diam lagi. Dan diam-diam ia memperlihatkan aku. Tiba-tiba ia berkata, tiba-tiba sekali.

“Apakah kau anggota PKI? Seorang komunis?”

Sudah kuduga sebelumnya, bahwa ia akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Dan aku pun sudah bertekad tidak boleh tidak, suatu kali aku akan menjawab dengan “ya”. Tapi aku masih diam. Melihatku diam, dia berkata lambat-lambat:

“Waktu sahabat-sahabat karibmu orang-orang komunis, tapi karena watakmu teguh, aku percaya kau tidak akan menjadi seorang komunis. Bukankah demikian?”

“Ya, paman,” kataku lambat-lambat dan tenang.

“Memang kau bukan tampang seorang komunis.”

Dia merasa bangga sekali dengan “penemuan”-nya itu.

“Ya, paman. Saya seorang komunis. Anggota Partai Komunis Indonesia.”

Paman Hasan mengangkat mukanya, memandangku seperti sebuah arca yang mencengangi masa kini. Tiba-tiba ia ketawa terbahak-bahak, tawa yang sumbang, maka itu aku tidak membalsa tawanya itu.

“Bukankah itu lucu? Seorang yang bukan komunis mengaku diri komunis sekedar untuk melucu. Sama lucunya seperti aku yang bukan komunis dituduh mati-matian komunis oleh orang-orang goblok itu.”

Dia ketawa terus, tawa sumbangnya, yang tiba-tiba terhenti karena aku memandanginya seperti anak kecil masa kini mencengangi arca.

“Saya bersungguh-sungguh, paman. Saya seorang komunis dan saya sudah mengangkat sumpah untuk mencintainya dan membelanya dengan napas dan darah.”

Hening. Hening sekali. Lambat-lambat ia bangun dan korsinya, mendekatiku seperti seorang penuntut umum. Air mukanya kaku dan aku belum pernah melihatnya sejelek itu.

“Katakan! Katakan bahwa kau bukan seorang komunis,” katanya lambat-lambat menahan kegeramannya. Aku benar-benar salah duga tentang kepahamannya terhadapku.

“Ya, paman. Saya seorang komunis.”

“Katakan, bahwa kau bukan seorang komunis.”

“Benar, paman. Saya salah seorang anggota Partai Komunis Indonesia yang jutaan.”

Tiba-tiba ia menumbuk meja dan ini telah membuat seluruh isi rumah mencengangi kami, tapi segera menyingkir dipandangi paman.

“Katakan. Ismet. Aku tak mau tahu apakah kau komunis atau bukan, tapi yang aku mau kau membantahnya. Sebuah bantahan yang kuinginkan. Hanya bantahan!”

“Saya seorang komunis, paman. Kalaupun saya membantahnya, paman tidak akan percya,” jawabku lambat-lambat.

“Aku sudah menduga bahwa kau pasti seorang komunis. Tidak bisa lain. Tapi biarkanlah aku menduga terus tanpa aku menemui buktinya dan terlebih-lebih tanoa aku mendengar pengakuan dari mulutmu sendiri. Itu sudah cukup bagiku untuk mengaburkan kenyataan yang sangat mengerikan ini. Cobalah kau bayangkan, di tengah-tengah keluarga kita yang dikenal pembela-pembela Islam, sebagai keluarga beragama, terdapat seorang komunis. Dan justru kau, harapan keluarga satu-satunya, yang melopori, yang menjadi komunis yang pertama dalam keluarga.”

Dahinya berkeringat.

“Seorang komunis. Mengerikan!” sambungnya lambat-lambat sekali.

Belum pernah aku melihatnya sepengecut ini, dia yang kukagumi. Di matanya terkaca kengerian yang amat sangat.

“Andaikan Mak-mu mengetahui hal ini, kalau tidak mati seketika itu pula, ia akan gila. Betul-betul gila! Abangmu kawin sama Katolik saja sudah membikinnya lebih dari setengah gila. Kau lihat sendiri, dia cuma tinggal tulang belulang. Kasihanilah ia, Ismet,” paman mengucapkan kata-kata ini dengan nada sedih dan putus asa.

Dalam hati kecilku timbul sesal. Hanya sebuah bantahan, apa salahnya? Sebuah bantahan sudah cukup membikin senang pamanku. Tapi alangkah susahnya bagiku mengucapkan bantahan itu, terlebih-lebih terhadap paman seorang yang kusangka paling memahamiku.

Terhadap paman aku tidak bisa berbohong. Dan ibuku bagaimana? Paman benar, sedikitnya ibu akan gila jika mengetahui secara pasti bahwa aku seorang komunis. Alangkah bimbangnya aku, dan alangkah inginnya aku melarikan diri dari masalah yang paling ruwet ini.

“Bukan kebiasaan turunan kita, paman, untuk menelan air ludah yang sudah diludahkan,” aku berkata tanpa sedar dan ini membuat paman meninggalkanku.

(BERSAMBUNG)

07 May 2019

Paman Martil (4 Habis) - Pramoedya Ananta Toer



Sepanjang jalan Paman Martil tak bicara. Dengan sendirinya saja kaki mereka melangkah ke pondoknya kembali. Beberapa menit lagi berjalan, dan mereka akan sampai.

Kedua bocah itu melihat darah mencoklati kemeja dekil Paman Martil pada bahu sebelah kiri.

“Paman terluka.”

“Hmm.”

“Kita ini kalah apa menang, Paman?”

“Menang.”

“Mengapa kita lari?”

“Karena ada yang lebih penting dari perang.”

“Apa itu, Paman?”

“Hmm.”

Mereka berjalan beberapa menit lagi, kemudian sampai di rumah. Semua tetangga ternyata keluar belaka dari rumah masing-masing. Ketiga-tiga orang prajurit penggempur itu dengan diam-diam tanpa membalas pandang mereka masuk ke dalam rumah.

Paman Martil tanpa menengok memasuki dapurnya, membongkar salah satu bagian dari dindingnya. Ditariknya dari situ selembar bendera merah palu arit, diciuminya. Kemudian dimasukkannya kembali ke tempat persembunyiannya. Dengan mata melotot ia pukul-pukul kepalanya dengan tangannya yang kanan.

“Mengapa kita lari?” ia berbisik pada dirinya sendiri.

“Mengapa? Tidak, kita tidak lari. Kita menang.”

Tiba-tiba ia menyedari bahwa kedua orang bocah itu telah ada di hadapannya. Dan berbisik ia pada mereka:

“Kita menang, anak-anak, anak-anak proletar! Kita menang.”

“Tapi kita lari,” salah seorang bocah itu menengahi.

“Kita menang, karena kita sudah berhasil melawan, sudah melawan, sudah menembak mereka.”

“Tapi kita lari,” bocah itu mendesak lagi.

“Aku sudah bilang, bukan menang berkelahi yang penting.”

Dan waktu bocah-bocah itu tidak menyelanya lagi, Paman Martil meneruskan setengah mendongeng:

“Kalau aku tak lupa bawa bendera itu—ah, kalau saja aku tak lupa—bendera kita akan berkibar sepanjang malam, sepanjang hari, untuk selama-lamanya. Mestinya hari ini sudah dikabarkan di seluruh dunia: kaum Komunis Indonesia tancapkan palu arit di atas kator tilpun Batavia.

Mestinya mereka sudah tahu, kaum Komunis mulai bangkit, lakukan perlawanan senjata… Kaum Komunis di seluruh tanah jajahan mestinya akan juga bangkit… kekuatan imperialis-kapitalis internasional akan terpecah-pecah dalam ratusan, ribuan front. Perang setempat-setempat akan terjadi di mana-mana. Dunia dengan keras akan menju sosialisme. tapi bender itu—bendera itu!

“Mengapa kita kembali lagi kemari, Paman?”

“Aku bilang, ada yang lebih penting dari perang.”

“Tapi kita sudah menang perang. Mereka banyak mati. Kita mestinya sudah punyai kantor tilpun itu.”

“Aku bilang ada yang lebih penting: menang yang lebih baik, tidak untuk satu-dua jam, tapi untuk selama-lamanya. Kalian mengerti tidak?” belum sampai ia habis bicara, badannya mulai menggigil-gigil.

Segelumbang demam telah menyerang tubuhnya. Sekujur tubuhnya dirasai kini panas membakar. Matanya berkunang-kunang. Terhuyung-huyung ia menuju ke bale. Kedua bocah itu mencoba mencuci luka dan melepas kemejanya.

“Mereka banyak mati, Paman kita cuma luka,” salah seorang di antara mereka berbisik setengah berdoa.

“Jangan kelihatan orang darah itu.”

“Orang-orang sudah lihat tadi, Paman.”

“Sayang, jaga pintu, jangan sampai ada yang masuk.”

Seorang di antara dua bocah itu pergi berjaga di depan pintu sambil bersiul-siul.

“Aku ingin baca koran.”

Tiba-tiba bocah jaga berhenti bersiul. Dengan mata liar ia kembali den berbisik pelan:

“Ada serdadu-serdadu menuju kemari, Paman.”

“Sini semua!” perintah Paman.

Waktu kepala bocah itu telah mendekat, diusap-usapnya kepala mereka dan berbisik laksana mengucapkan mantra:

“Kalian anak-anak miskin, anak-anak Proletar, setialah pada asalmu. Sekarang, sekarang, pergilah kalian, dari pintu belakang sana, lari, lari, jangan kembai lagi. Selamat jalan, nak, anak-anak Proletar. Jangan lupa baca koran. Lari, lari cepat!”

Langkah sepatu serdadu-serdadu itu terdengar mendekat.

“Mana rumah binatang Komunis itu?!” seseorang berteriak parau.

Tak ada yang menjawab.

Anak-anak itu lari dengan berat hati.

Petak para tetangga terdengar mulai digeledah. Sepatu berat terdengar menedangi kaleng dan peti-peti kayu.

Lambat-lambat Paman Martil menggerakkan tangan-tangannya. Dikeluarkannya Vickers dari kantongnya. Senjata itu basah. Tangannya terluka dan bersama dengan Vicker-nya jatuh ke ambin. Ia menyesal anak-anak itu sudah tak ada untuk disuruhnya mengambil minyak tanah.

Tiba-tiba kekuatan telah mendorongnya melompat turun dari ambil. Ia ambil minyak tanah dan disiramkannya pada dinding, dan kemudian dinding itu dibakarnya. Digenggamnya cepat-cepat senjatanya. Diambilnya bendera merah berpalu arit dari persembunyiannya, diselendangkannya pada dadanya.

“Paman Martil! Rumahmu terbakar!” ia dengar tetangga sebelah berteriak.

Paman Martil lari keluar dapur, melaui kamar mandi kolektif, melompati got-got kakus, dan sampai di bawah pohon durian. Beberapa butir peluru mendesing di samping kupingnya. 

Waktu ia sampai di balik batang durian, ia menginsafi bahwa sebuah sudut peluru telah mengurungnya. Ia tak dapat keluar dari sudut itu. Hanya batang durian itu saja tinggal jadi pelindungnya. Petaknya telah terbakar. Api cepat menjalar ke samping menyampingnya.

“Martil! Menyerah lu!” seseorang berseru.

Ia tahu benar, itulah suara bini tetangga sebelah sana yang telah menjadi pincang untuk selama-lamanya. Ia tunjukkan Vickers-nya pada bini Sarekat Hijau itu sambil mendoa: 

“moga-miga pelurunya sudah kering.”

Tetangga itu sedang berdiri bertunjangan tongkat di samping rumah petaknya yang sedang menyala.

“Menyerah lu!”

“Mana ada Komunis menyerah?!”

Seorang serdadu menembaki dari samping-menyamping.

“Komunis sudah kalah. Lu tahu sendiri.”

“Kita cuma latihan perang semalam.”

“Bajingan! Tembak!”

Berondongan peluru berhamburan. Juga Paman Martil menembak, tapi Vickers itu untuk selama-lamanya takkan berbunyi dalam tangannya. Ia menekan dan menekan pelatuk senjatanya.

“Dengar kalian coro dan babi Belanda! Tak ada cara Komunis menyerah!”

“Keparat!”

“Kalau semalam kantor tilpun bisa kami gasak, lusa Nederland sendiri tahu? Lusanya—seluruh imperialisme dunia. Otak kambing!”

Sebutir peluru menggores pipinya. Ia meliuk. Vickers-nya jatuh tanpa daya. Tembakan makin gencar, tapi ia tak mendengar sesuatu apa pun. Tubuhnya makin banyak ditembusi peluru, tapi sedikit pun ia tiada merasa lagi.

Waktu sebuah durian jatuh di dekat kepalanya, ia pun tiada berbuat sesuatu apa pun. Di sebelah sana menggeletak Vickers-nya yang basah dalamnya. Di bawah tubuhnya menongol tangkai martilnya. Tapi seluruh tubuhnya berselimutkan bendera merah palu arit, dan darahnya sendiri.

Jam sembilan lebih lima menit, pagi tanggal 13 November 1926, orang pertama yang merebut kantor tilpun Kota selama 4 jam dalam sejarah penjajahan Belanda di Indonesia itu, gugur sebagai kader Komunis.

Untuk waktu lebih dua bulan di daerah Kota setelah itu terdengar nyanyian rakyat yang mengenangkan Paman Martil:

Dirampasnya kantor tilpun Kota Betawi

Bendera mau dipasang tertinggal di dapur

Kompeni ditembaki pada mati

Residen didrel lari bercirit kapur

Malam habis Paman turun sebrangi kali

Kompeni menguber pelor Paman habis basah

Ke dapur lagi Paman larikan diri

Ambil bendera teriak: “pantang menyerah”

Paman Martil itu dia namanya

Bertahan sampai napas penghabisan

Di bawah pohon durian dia binasa

Bendera dan badan menutup badan.

Pada tanggal 5 Januari 1927 keluar maklumat pemerintah Hindia: PKI dan organisasi massanya dinyatakan terlarang. Nyanyian itu padam waktu ternyata penyanyinya juga ditangkap dan dibuang.

5 Januari 1927 sudah lewat, namun tiada seorang pun tahu siapa sesungguhnya Paman Martil.

Dan tak ada yang tahu siapa dia, terkecuali bahwa dia adalah putra Rakyat yang setia. (Tamat)

(Ditulis berdasarkan berita-berita dari “Sin Po” 1926-27, dan beberapa interviu, tanpa mengurangi jasa pimpinan penyerbuan, yang terdiri dari Idris, Rais, dan Nur).

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai