31 October 2018

Haji Empan



Dalam waktu beberapa minggu, kabar duka datang berturut-turut dari kampung. Belum lama Gajih, kawan saya sejak SD pergi selama-lamanya, kini giliran Haji Empan yang meninggal. Paman berkabar lewat WA.

Haji Empan masih saudara. Saudara jauh barangkali. Istrinya adalah sepupu mama. Para orangtua mungkin saja merasa sebagai saudara dekat, tapi bagi saya sebagai generasi yang lebih muda, hal-hal seperti itu terasa kurang sebagai sebuah pengalaman. Saya mengingat Haji Empan justru lewat mesin fotocopy.

Dulu, setahu saya, Haji Empan adalah orang pertama di kampung yang mempunyai mesin pengganda itu. Sedari SD, bapak yang seorang guru sering menyuruh saya memfotocopy pelbagai teks yang terkait dengan pekerjaannya.

Jarak rumah dengan warung fotocopy Haji Empan kira-kira satu kilometer. Saya mencapainya dengan berjalan kaki. Pernah juga memakai sepeda saat sepeda tua warisan kakak pertama diperbaiki dengan jok yang tetap dibiarkan terbuka tanpa alas busa, hanya per besi yang kerap mengganggu bokong.

Karena satu-satunya, maka di tempat forocopy itu kerap bertemu dengan guru-guru yang hendak memperbanyak teks-teks entah. Sebagai bocah, saya cukup tersiksa dengan tipe warung Haji Empan, sebab tak satu pun menjual makanan ataupun minuman. Ya, selain jasa fotocopy, warung tersebut hanya menjual alat tulis kantor dan beberapa perlengkapan otomotif.

Kalau sedang mengantri, saya duduk pada sebuah bangku di depan warung yang menghadap jalan, dan di baliknya tampak bukit. Orang-orang menyebutnya Pasir (bukit) Pogor. Di sesela gangguan suara motor dan mobil yang melintas, saya selalu membayangkan rumah Mang Sanud yang berada di bukit itu.

Mang Sanud adalah kawan sejalan Mang Supri yang kedua merupakan petugas kebersihan alias pengangkut sampah legendaris di kampung saya. Mang Sanud perawakannya bongkok, sedangkan Mang Supri tegap. Keduanya perokok. Hanya saja rokok Mang Supri agak menyeramkan, sebab beraroma kemenyan.

Saat saya membayangkan rumah Mang Sanud yang berada di Pasir Pogor dan antrian telah habis, Haji Empan selalu membuyarkan lamunan.

“Cép, badé motokopi naon?” ujarnya.    

Saya pun terperanjat.

Selain mesin fotocopy, tersedia juga mesin laminating tempat orang-orang melapisi KTP, Ijazah, NEM, dan lain-lain dengan plastik yang direkatkan secara kencang. Bapak pun melakukan hal yang sama.

Kini Haji Empan telah tiada. Juga Mang Sanud dan Mang Supri. Yang masih tersisa hanya kenangan. (irf)      

17 October 2018

Gajih Telah Pergi



Sekolah kami berhadap-hadapan. Saya di SDN Jampangkulon 2, dia di SDN Jampangkulon 4. Kedua sekolah ini pernah terlibat pertikaian gara-gara sepakbola di halaman kedua bangunan sekolah yang memanjang. Genteng banyak yang pecah dihajar bola. 

Guru menghukum kami dengan mewajibkan mengganti genteng yang pecah itu dari rumah. Maka pagi-pagi sejumlah anak SD seperti tukang bangunan karena masing-masing menjingjing genteng.

Salah seorang “musuh” saya yang sekolah di SDN Jampangkulon 4 adalah Dudi yang biasa saya panggil dengan sebutan “Gajih” karena badannya gempal. Gajih adalah lemak sapi yang kerap dijadikan campuran nasi goreng. Sementara dia memanggil saya “Areng” yang artinya arang karena kulit saya hitam dan badan kering meranggas.

Saya tidak tahu, entah mulai kapan kami jadi akrab. Waktu terjadi “perang” bola pun sebenarnya kami sudah berkawan. Agak aneh sebetulnya, sebab kami tidak pernah satu sekolah, dari SD sampai SMA, bahkan pilihan sekolah agama pada sore hari pun tidak pernah sama.

Kiranya kami berkawan dari saling ejek, saling mengolok-olok. Tapi kalau ketemu, sejak kecil, kami akrab, bercanda saling tukar tawa. Dia hampir seumur hidup tinggal di kampung, orangtuanya salah satu orang berada di desa kami. Setelah dewasa ia menikah dengan seorang kawan saya waktu kelas 6 SD. Mereka berumahtangga dengan disangoni sejumlah toko untuk membiayai hidup.

Saya mulai kelas 1 SMA merantau dan sampai sekarang tak tinggal lagi di kampung. Setiap kali pulang dan melewati rumahnya, lalu kebetulan dia tengah duduk di pinggir jalan, saya selalu berteriak, “Gajih!”

Dalam kendaraan yang terus melaju, terdengar samar ia menjawab, “Heh siah Areng!”

Setahu saya, kata “Gajih” memang hanya dilontarkan oleh saya, begitu juga sebaliknya, kata “Areng” yang ditujukan kepada saya hanya dia seorang yang melontarkannya.

Belakangan, saya dengar dia bergiat di komunitas motor trail di kampung. Kerap menyambangi hutan, pantai, perdesaan, dan tempat-tempat antah berantah lainnya. Selain itu, ia juga aktif di organisasi Pemuda Anshor yang dimotori oleh anak bungsu ajengan yang ditinggal di Kecamatan Cimanggu.

Beberapa tahun ke belakang ia dan istrinya menunaikan ibadah haji. Sepulang dari tanah haram, kawan-kawan yang lain memanggilnya Haji Dudi. Sementara saya tak mengubah panggilan: tetap “Gajih”. Itulah panggilan yang murni, saya kira. Tak ada embel-embel haji di depannya, bahkan nama aslinya pun jarang saya sebut. Ia bagaimana pun adalah kawan saya sejak kecil, dan panggilan-panggilan “aneh” hanya akan membuat kami berjarak.

Selasa, 16 Oktober 2018, Abu, kawan saya sebangku selama sembilan tahun memberi kabar: Haji Dudi meninggal dunia diserang stroke.

“Peuting jam 11 di RS Jampangkulon,” katanya.

Sesaat saya terdiam, mengenang lagi waktu yang tercecer di belakang. Selamat jalan Gajih. (irf)

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai