16 September 2018

Paman Martil (2) - Pramoedya Ananta Toer



Melihat tiga orang yang kuat-cukup makan itu sekaligus Paman Martil menyesali dirinya, karena tidak bersiap-siap dengan pertahanan. Padanya hanya ada sebuah martil.

“He, mengapa diam saja? Kecut?” dan belum sampai ia menghabiskan kata-katanya, dua kali ayunan cambuk karet telah menghamtam  mukanya.

Ia rasai darah asinnya mengalimantang menepi lidahnya. Ia rasai dunia berputar penuh bintik-bintik putih, hijau, putih, ungu yang cemerlang. Dan sebelum ia dapat melihat dengan jelas, tendangan-tendangan sepatu berat telah menghunjam kaki dan punggungnya. Ia rasai segala perasaan yang tidak menyenangkan. Nafasnya terasa macet di dalam kerongkongan, dan kerongkongan itu panas terbakar. Kuning-kuning pancawarna itu kini beterbangan dengan cepat dan berkeliling.

Sarekat Hijau ini sedang mencoba merenggutkan belenggu imperialis dari tanganku,” pikirnya.

Ia rebah di tanah. Pukulan-pukulan itu dirasainya sakit lagi. Dan matanya sudah tidak berguna, tak bisa melihat lagi. Namun dalam rejangan itu ia masih mendengar sayup-sayup:

“Kapok tidak lu jadi komunis? Kapok tidak?”

Ia menelani ludahnya yang asin.

Ia bangun waktu matahari telah tenggelam, tapi ia tak dapat melihat sesuatu pun. Lampu itu tidak menyala, minyak tak ada. Waktu tangannya mulai meraba-raba, ia dapat meraba dua kepala bocah itu merungkupinya. Dan mereka sudah tertidur, tanpa makan sejak pagi.

Waktu ia mendahak dengan keras ia dengar dari depan rumahnya suara tawa, kemudian menyusul komentar:

“Satu-satu,Til!”

Segera ia dapat mengingat suara tetangga di ujung sana yang telah ia martil kakinya.
Anak-anak yang tertidur berbantalkan tubuhnya pada terbangun. Dengan tangannya yang kasar ia usap-usap kepala mereka.

“Mari naik ke ambin, Paman, kami tak kuat mengangkat.”

Paman Martil berdiri, tetapi segera rubuh kembali. Kini ia rasai seluruh anggotanya berdenyut dan menolak disuruh bergerak. Ia tertawa mengejek tubuhnya yang kalah kena pukulan itu:

“Uh-uh, mestinya kau membantu aku, daging, tulang, syaraf. Dalam keadaan begini aku butuh bantuanmu…”

“Kami mencoba membantu, Paman, tapi tak bisa.”

“Uh-uh,” Paman Martil mencoba sekali lagi berdiri. Ia berdiri terhuyung-huyung, kemudian rebah di ambin.

Anak-anak itu menolong menaikkan kakinya ke atas.

“Uh-uh. Tidurlah lagi. Hari ini kita tidak makan,” dan itu bukanlah kata-katanya yang pertama kali.

“Orang situ tadi datang mengambil semua perkakas.”

“Biarlah, memang kepunyaannya.”

“Yang punya rumah datang, bilang, kita harus pergi dari sini.”

“Biarlah, memang dia punya rumah.”

“Paman tak bisa betulkan sepatu lagi sekarang. Kita takkan punya rumah lagi sekarang, Paman.”

“Jangan pikir itu. Apa Paman selalu bilang, belajar baca-tulis yang benar. Sudah bisa belum?”

“Sudah, Paman.”

“Kuncilah pintu depan itu.”

“Mengapa mereka siksa Paman? Apa salah Paman?”

“Salahku? Brrr,” ia tidak meneruskan hanya berkamit-kamit tak nyata kemudian terdiam. Tapi tiba-tiba suaranya meledak-ledak: “Dengar. Selama anjing-anjing Belanda itu masih dilahirkan Tuhan di atas bumi kita, kini kita tidak akan pernah aman. Kita tidak akan pernah aman!” Napasnya terengah-engah.

Ia terdiam lagi waktu telapak tangannya yang kasar itu meraba dada si bocah, dan menangkap detakan jantung bocah itu yang kejar-mengejar.

“Anjing Belanda.”

“Ya. Anjing Belanda. Cepat-cepatlah pandai, bukan pandai dari Belanda, jadilah pandai, belajarlah dari bumi ini dari orang-orang yang mencintai kita, dari orang-orang yang melawan anjing-anjing Belanda. Uh-uh, tak tahu aku apa mesti bilang.”

Dalam waktu sebulan berjalan itu hampir saban hari pemilik rumah datang untuk mengusirnya. Paling akhir Paman Martil mengeluarkan martilnya dan mengayun-ngayunkannya di mata pemilik rumah. Mengancam:

“Bilanglah sekali lagi! Anjing Belanda keparat. Ayoh bilang, biar kau rasai martil ini menggiling bola matamu yang mata duitan itu!”

Ia lihat pemilik rumah itu menggigil.

“Siapa suruh kau datang kemari buat usir aku?”

Dengan tangan menggigil ia menuding ke arah ujung petak sana.

“Keparat. Orang-orang seperti kau ini bikin dunia jadi neraka saja. Pergi!”

Begitulah dari tukang sepatu Paman Martil merosok menjadi bukan tukang sepatu. Sekarang, sebagai orang rumahan ini terancam menjadi orang gelandangan pula. Kalau di dunia ini tak ada dua orang bocah yang tak ketahuan rahim yang melahirkannya, ia bisa menguli, tinggal di rumah majikan, mendapat makan di sana. Tapi bocah tanpa rahim ini ikut menjadi beban tambahan. Kadang-kadang ia mengutuk rahim yang berkepentingan.

Ia tahu anak-anak itu sekarang mencari makan untuknya. Ia tahu betul anak-anak itu hanya hanya dengan jalan meminta-minta dapat memberinya makan. Ia malu menelan nasi yang dibawa mereka pulang dan disodorkan kepadanya. Tapi dalam sebulan ini kesehatannya belum pulih sama sekali.

Kemudian “Mariana Proletar” datang pada suatu malam sunyi. Anak-anak sudah tidur nyenyak pada waktu itu, dan sekeliling rumah tiada bunyi. Tempat “Mariana Proletar” telah diisi oleh orang lain limabelas hari yang lalu.

“Jadi,” bisik “Mariana Proletar”, “kita jadi berontak.”

Ia mengeluarkan sepucuk Vickers yang telah berisi peluru dengan tidak kurang dari 100 peluru cadangan.

“Nah, ini buat kau. Hati-hati, tunggu kalau isyarat sudah diberikan.”

“Apa isyaratnya?”

“Kalau di empat tempat, empat penjuru, malah hari, ada rumah terbakar, itulah tandanya. Aku akan datang membawa kau.”

Tanpa menunggu jawaban, “Mariana Proletar” melompat pergi ke dalam kegelapan.

Paman Martil terlongok-longok dengan Vickers pada tangannya. Waktu ia menyadari, bahwa di tangannya ada senjata api yang berbahaya segera ia berdiri dan menyembunyikannya di atas kayu penglari. Dan sekarang ia merasa begitu berkecil hati, senjata yang sudah lama diimpikannya itu—ia tak mengerti menggunakannya.

Tak pernah seperti sekarang ini ia merasa begitu tergantung pada “Mariana Proletar”. Tak pernah ia merindukannya seperti sekarang ini.

“Mariana Proletar!” “Mariana Proletar!”

Dan waktu mentari pagi telah memulai dinas hariannya, dan anak-anak telah bangun, ia masih juga timbul tenggelam antara dua perasaan: girang karena telah memiliki impiannya, dan kecil hati karena tidak bisa menggunakannya. Sebentar kemudian timbul geram lama, dendan terhadap mereka yang tekah buang dan bunuhi pemimpin-pemimpinnya. Dahulu aku hanya dengan martil, sekarang dengan senjata api. Aku akan belah jantung mereka dengan peluru! Jangan permainkan kami.

Waktu anak-anak hendak pergi mencari makan untuk hari itu ia kembali menegur:

“Kalian sudah belajar baca-tulis?”

Bocah-bocah itu menghampirinya, dan dengan manja duduk di tanah pada kakinya.
Sebenarnya Paman Martil tak perlu menanyakan lagi. Mereka telah dapat baca-tulis—bocah-bocah di bawah sepuluh tahun itu.

Tapi hari ini semangat Paman begitu tingginya.

“Apa klas kalian?” ia menguji bocah itu.

“Proletar.”

“Betul.”

“Mengapa kita sengsara?”

“Karena diperas Belanda melalui anjing-anjingnya.”

“Tepat.”

“Berani kalian melawan Belanda dan anjing-anjingnya?”

Kedua anak itu terdiam mengawasinya. Dan Paman Martil berbisik hati-hati, seperti mendongengi mereka bagaimana seorang jembel tiba-tiba bisa berubah menjadi pangeran:
“Berani. Bilang: berani! Dengar—hanya dengan melawan, Belanda dan anjing-anjingnya bisa dikalahkan. Hanya dengan melawan, jembel-jembel itu bisa jadi pangeran. Hanya dengan melawan, orang bisa jadi komunis!”

Tiba-tiba ia terdiam, mengawasi kedua bocah yang tak ketahuan rahim siapa yang melahirkannya itu.

“Mengapa kalian terdiam? Ulangi—ha-nya-de-ngan-me-la-wan.”

“Hanya dengan melawan—“

“—kita menang.”

“—kita menang.”

“Bagus. Itu cukup buat hari ini.”

“Tapi dulu kita kalah,” seorang di antaranya memprotes.

Paman Martil tertawa terbahak.

“Kita kalah, katanya,” serunya kemudian. “Kita kalah, kalah melawan Sarekat Hijau. Kalah! Adakah kita lantas jadi Sarekat Hijau karena kalah?” Paman Martil menggeleng-geleng. 

“Tidak. Ibarat kita ini baru lahir, masih bayi, mereka—Belanda dan anjing-anjingnya itu—sudah dewasa, sudah lebih dulu lahir. Tentu saja kita mula-mula kalah, kalah, kalah terus, kalah lagi. Kalau tidak kuat kita tentu sudah lebur. Tapi kita berdiri lagi, melawan lagi, melawan lagi, melawan lagi. Akhirnya mereka menjadi lemah karena kita melawan terus, tapi kita menjadi kuat karena melawan terus. Dengan melawan… dengan melawan…” 

Paman Martil terdiam. Dengan pandang kosong ia mengawasi lobang pintu.

Ya, ia terkenang pada Karta. Dia sudah coba membuat lagu itu: Dengan melawan, dengan melawan. Ah, tukang kaleng itu. Belum lagi dua baris lagunya selesai, sebutir peluru telah menembusi pinggangnya dan menerobosi jantungnya. Setengah tahun yang lalu, waktu dia membuka pidato propaganda di stasiun Senen, di bawah gerbong. Tukang kaleng itu yang telah mendidiknya, menggemblengnya, mengajarinya, dan menjadikannya kader komunis.

Dan ia mau gembleng dua bocah itu untuk setia pada klasnya, untuk mengenal musuh-musuhnya, untuk mencintai lawan-lawan musuhnya.

(BERSAMBUNG)

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai