30 January 2018

Dari Ciletuh ke Ujunggenteng ke Jalan Lain ke Citambur



“Goblog anjing!”

Kalau ada yang berminat mengumpulkan dan menghitungnya, saya kira dua kata di atas akan keluar sebagai modus atau frekuensi terbanyak dalam kumpulan data makian, malam itu, di Solontongan yang penuh dengan serapah saat Persib bertanding melawan PSM dalam lanjutan Piala Presiden 2018. Perlengkapan sudah oke. Sambil menunggu kawan yang motornya dihunjam entah di daerah Cicaheum, kami menyaksikan permainan Persib yang semenjana, seperti biasa.

Malam bergerak menuju dingin. Kira-kira pukul sembilan, rombongan mulai berjalan menuju Jalan Cijagra, seorang kawan tak punya bensin. Beberapa motor punya beberapa kemungkinan: tak hafal jalan, melamun, atau remnya kurang baik, sehingga mereka terus melaju menuju komplek Batununggal, padahal seharusnya putar balik di Jalan Waas. Sepanjang Jalan Sukarno-Hatta begitu saja, tak ada yang istimewa. Di Cimahi seorang kawan sudah menunggu, menunggangi motor kuning, beliau dokter. Dan perjalanan dilanjutkan.

Padalarang, Rajamandala, lancar saja. Citatah diteror mobil-mobil raksasa. Motor bergerak di seselanya, menyelinap di tengah horor jalanan. Memasuki Cipatat kecepatan mulai meninggi. Tiba di Ciranjang saya teringat bubur ayam “geksor”, alias begitu gek duduk langsung ngagolosor semangkuk bubur. Ya, itu betul-betul ada di Ciranjang. Nikmat betul kiranya kalau menyantap semangkuk bubur ayam di tengah dingin hembusan angin yang menghajar sepanjang perjalanan. Namun keinginan itu segera lupa, karena lihatlah kami terus melaju ke arah Cianjur kota.

Dekat monumen kitri, ada persimpangan jalan baru, itulah dia lingkar luar Cianjur yang kalau siang berfungsi untuk menghindari kemacetan kota. Kami menempuh jalan itu. Tak ada penerangan jalan selain lampu kendaraan dan beberapa kerlip lampu rumah yang masih jarang. Hamparan sawah berkuasa, padahal sedang gelap. Saya tahu karena pernah melintas jalan itu ketika siang.

Di ujung jalan kami berbelok ke kiri, menuju persimpangan Pasir Hayam. Dekat sentiong ada jalur kereta api yang kami potong dengan santai karena ular besi tak sedang melintas. Warungkondang dihajar kecepatan tinggi. Beberapa saat sebelum keluar Cianjur ada persimpangan menuju Gunung Padang, kami hanya menunjuknya. Setelah tikungan Gekbrong yang dihiasi batu baterai raksasa nan legendaris, persis sebelum Sukaraja, kami berhenti di sebuah warung berjaringan gurita: numpang pipis dan hal-hal lain yang ada dalam sebuah istirahat.

“Di Sukaraja kita mulai cari penginapan.” Oke. Sampai mulut Jalan Ahmad Yani di pusat Kota Sukabumi, penginapan belum dapat. Lanjut mencari ke Degung, Cipelang, Bhayangkara, dan Otista, tapi penginapan belum ada yang cocok untuk menampung belasan orang kecapean dan kedinginan. Hujan turun mengundang gigil. Menjelang pukul tiga pagi kami memutuskan untuk bermalam di musala sebuah SPBU di Jalan R.H. Didi Sukardi, tak jauh dari SMAN 1 Sukabumi, sekolah aduhai tiada banding.

Kadang-kadang azan adalah alarm terbaik. Dan begitulah, kami terbangun karena beberapa orang harus salat Subuh. Ngantuk masih berkuasa, tapi apa boleh bikin, perjalanan masih panjang. Hujan kembali membasuh bumi. Sebelum meninggalkan Kota Sukabumi, rehat dulu di warung gorengan untuk sekadar sarapan. Langit gelap, di kejauhan kabut menyelimuti perbukitan entah. Saya menghabiskan satu mie rebus, lima gorengan, segelas kopi jagung, dan berbatang-batang rokok.

Dari Jalan Pelabuan II sampai Cikembar, kondisi jalan mengecewakan, bopeng di hampir sekujurnya. Kemacetan memperlambat arus lalu lintas di sebuah ruas jalan depan pabrik, sebelum simpang Batalton Infanteri 310 Kidang Kancana. Warungkiara dan setelahnya cukup lancar. Kami lalu berbelok ke kiri, melintas jembatan Bagbagan dan rehat sebelum Simpenan. Dua orang kawan yang menunggangi satu motor masih di belakang, mereka berangkat pagi hari dari Bandung. Sementara dua orang lagi yang salah satunya tuna helm telah bergabung sejak malam.

Sebelum belok Bagbagan ada yang mencoba membawa kabur mahasiswi UPI ke arah Cisolok dengan seolah-olah lupa. Untung ada sweeper pilih tanding yang berhasil mengejar. Percobaan penculikan gagal.  

Pantai Loji tak jauh lagi, dan tujuan kami ke situ, tapi kiranya harus jalan-jalan dulu ke perkebunan teh yang mantap, rupanya kami salah jalan dan harus putar balik. Tumpahan tanah merah cukup bikin khawatir, sebab saya pernah terjatuh di ruas jalan Pangalengan bersama vokalis The Clown akibat tumpahan tanah merah. Akhirnya sampai juga di pantai Loji, kami berhenti dekat kelenteng yang mempunyai ratusan anak tangga, membayangkannya saja saya sudah letih. Sebagian kawan menapaki jenjang itu, saya memilih duduk di warung sambil memandang hamparan air laut yang coklat seperti bajigur.

“Nyasar ka Cikidang.” Begitulah informasi dari seorang kawan yang berangkat pagi-pagi dari Bandung. Saya tertegun. Membayangkan alangkah indahnya menyusuri perkebunan kelapa sawit. Berdua saja tak ada yang lain.

Tawar-menawar ikan sebentar, memasaknya lama, sampai kami tertidur. Terbangun lagi ikan sudah matang. Tanpa cuci muka dan cuci yang lain-lain saya langsung santap siang. Sambal cobek dan sambal kecap memeriahkan suhu pantai yang panas. Rasa pedas menempel di bibir, keringat membasahi muka membuat saya seolah-olah habis wudu tanpa handuk.

“Yuk yuk yuuuk…” adalah bunyi merdu sebagai tanda untuk segera melanjutkan perjalanan. Jalan baru terhampar di depan, menghubungkan Loji dengan Ciletuh. Pemandangannya seperti di lukisan-lukisan Jelekong atau gambar kalender bank swasta. Berkelak-kelok, turun-naik, aduhai sekali, tahu-tahu bensin habis. Di sebuah tanjakan amat curam, motor seorang kawan mogok naik. Terpaksa yang diboncengnya pindah motor untuk kemudian pindah lagi ke tempat semula yang dalam bahasa Sunda bermakna dipulung deui.

Hujan amat labil, pasang surut seperti laut. Beberapa kawan mengeluhkan aktivitas buka pasang jas hujan. Setelah tangki bensin kembali penuh, kami semakin dekat ke Ciletuh. Di Puncak Darma tukang parkir seperti penjual papan dada di pagi hari UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri—saya pernah gagal). Ramai belaka, seolah-olah lahan parkir itu milik mereka, dan pemandangan yang menghampar di bawahnya adalah warisan nenek moyang yang tak terbantahkan, bikin malas betul.

Lalu turunan curam dan berhenti di sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir deras jutaan kubik Ovaltine, sebagian menganggapnya Milo. Di kejauhan nampak curug Cimarinjung. Motor-motor besar melintas. Motor-motor kecil melintas. Manusia berbeda sejak dari motor. Satu dua gambar dijerat, kemudian menuju Panenjoan yang berangin kencang, bergemuruh, bikin susah menyulut rokok. Teluk Ciletuh dan perkampungan di sana, jauh di bawah kami yang memandangnya dari sebidang tanah dekat tukang kopi. Ada penggembala domba, dombanya masih pakai kalung yang berbunyi “klotok..klotok..”

Hari semakin sore, langit muram seperti wajah karyawan menunggu gajian. “Kita menuju simpang Waluran.” Itu saya yang ngomong ke rombongan. Oke. Motor melaju kencang. Pada sebuah pertigaan kami belok ke kanan, ternyata itu menuju ke Ciracap bukan Waluran. Gehu pedas dan ayam goreng tepung membantu menambal energi sambil bertanya arah menuju Ujunggenteng. “23 kilo lagi,” kata penjual gehu. Saya memberi isyarat ke kawan-kawan dengan mengacungkan dua jari lalu tiga jari. Mereka menyangkanya Ujunggenteng tinggal 2 sampai 3 kilometer lagi. Dan itu salah belaka.

Di pertigaan Garasi rombongan belok kanan, melewati simpang Minajaya, jembatan Cikarang, simpang Jaringao, perkebunan Asaba Land, dan markas Satuan Radar 216 TNI AU di Cibalimbing. Aroma gula kelapa menguar di tengah hujan deras. Petugas berseragam gading menghentikan laju, meminta biaya masuk pantai Ujunggenteng, 8.000 rupiah per motor. Ketika kami menyiapkan uang, sebuah mobil berplat B coba dihentikan petugas, namun hanya membunyikan klakson dan pergi tanpa meninggalkan uang sepeser pun.

Deru ombak mulai terdengar, bersahutan dengan gemuruh angin. Ujunggenteng mirip kota mati. Jalanan berlubang, berkubang. Seorang lelaki menawarkan penginapan dari pinggir jalan. Kami terus berjalan ke arah Cibuaya. Sebelum belokan ke Pangumbahan, sebuah motor mendekat: seorang bapak dan anak.

“Cari penginapan ya?” ujarnya. Informasi Cibuaya menghambur, tentang maling motor, begal, perkelahian, dan kematian. Sebelumnya seorang kawan merekomendasikan sebuah penginapan, namun kemudian kami abaikan karena mengantisipasi kengerian. Setelah tawar-menawar harga, kami dibawa ke sebuah rumah bilik tanpa penerangan.

“Sebentar ya, saya urus dulu listriknya,” kata lelaki itu. Siang mulai dijemput malam, hujan turun, angin semakin kencang, listrik mati. Dari teras bilik saya melihat alam tengah mengamuk.

“Keueung kieu nyak,” ujar seorang kawan. Mukanya gelap seperti malam. Beberapa orang bergantian mandi, sebagian lagi berkumpul di teras. Kopi dan gorengan datang, lebur dalam tawa kekuda-kudaan.

Duapuluh satu tahun yang lalu Ujunggenteng tak semenyeramkan ini. Medio 1997, saya bertiga dengan kawan main ke Ujunggenteng pakai sepeda. Waktu itu masih sekolah di Madrasah Tsanawiyah. Dari Jampangkulon berangkat sekitar pukul 05.17 wib. Akbar di depan, saya di tengah, Abu tercecer di belakang: dalam remang pagi ia seperti siluman trenggiling yang kedinginan.

“Tong gancang teuing euy, tiris,” teriaknya. Tiba di Ujunggenteng kami sarapan bala-bala di sebuah warung, yang sekarang warungnya mungkin sudah tidak ada. Pukul 12.17 wib kami kembali ke Jampangkulon, kali ini giliran saya yang tertinggal. Saya tak kuat mengayuh menaklukkan tanjakan. Tapi itu dulu, sekarang yang lemah di tanjakan beda lagi, ada dua orang. Tak perlulah saya sebutkan namanya di sini. Tapi kalau penasaran silakan tanya saja ke Pak Alexxx dan Gistha.

Lupakan dulu masa lalu, karena lihatlah, sekarang malam sudah mulai larut, diintai para penjaga motor yang katanya akan membantu keamanan, atau barangkali sebaliknya. Saya pindah ke dalam, rebahan berbantal tas milik Kang Novan yang basah. Ya, bagaimana tidak, tas dimasukkan ke dalam kantong sampah, tapi tidak diikat, jadilah ia semacam penampungan air hujan yang paripurna.

Tengah malam ada sedikit keributan, listrik korslet, beberapa charger hp dan kamera lumpuh. Esoknya berebut antrian kamar mandi. Dingin memang, tapi badan sudah pada bau ajag, jadi apa boleh bikin. Habis mandi saya pergi ke warung mencari rokok dan bensin. Dapat setengah Garfit yang sudah lama, batangnya dilumuri noda menguning yang kalau badan tidak sedang dalam kondisi prima akan menyebabkan batuk kering tak sudah-sudah.

Motor mulai dipanaskan, hujan mulai turun lagi. Terberkatilah mereka yang punya boncengan. Bagi yang sendirian, nasib adalah kesunyian masing-masing. Rombongan melaju ke arah Surade, mengisi tangki bensin di Pasiripis, dan berbelok ke kanan di Cibarehong. Lalu melewati jembatan Cikaso dan menghajar jalanan Tegalbuleud yang mulus sebelah. Sesekali aroma gula kelapa datang lagi. Kiri kanan jalan dihiasi kebun karet dan padi huma yang sudah menguning.

Sebelum masuk Agrabinta terdengar suara radio. Di tengah hujan, Waas FM mengudara: menerima telpon, membacakan WA, dan memutar lagu. Radionya di Batununggal, penelponnya di Tegalbuleud dan Jampangkulon, lalu kirim-kirim untuk alumni SMA 1 Rantauprapat. Bebas. Yang penting tidak mengantuk di jalan.

Agrabinta si jalan tiada ujung. Perkebunan karet dan sengon berkejaran di sisi jalan. Saya dan beberapa kawan sempat tekor. Jalanan mulus meliuk-liuk. Ini kali kedua melintasi perkebunan Agrabinta: yang pertama dalam siang terik menyengat ubun-ubun, kali ini dalam gigil tak berkesudahan. Di warung yang sama sepeti tahun lalu kami berhenti. Makan siang istimewa dengan rebung dan jengkol. Aip membayar utang, Akay merindukan pemilik kamera moriless, dan Enji mengingat-ngingat sebuah nama tempat di grup WA.

Habis Agrabinta masuk Sindangbarang, berbelok ke kiri ke arah Tanggeung dan Sukanagara. Sesekali melewati tebing yang dirimbuni pepohonan tua. Bibi Lung sempat berhenti di tenda penjual durian. Saya sudah menaruh harapan, tapi harus mengemasinya lagi. Rombongan berhenti di jembatan Cisawer yang di bawahnya terdapat batu-batu bolong bentukan alam.

Memasuki Tanggeung saya teringat Rosidi, anggota SARBUPRI (Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia) tahanan politik Orba yang ikut mengerjakan pembuatan ruas jalan Tanggeung-Pagelaran. Beliau kini sudah meninggal, meninggalkan banyak istri, anak, cucu, dan cicit yang akur. Persaudaraan yang selalu diusahakan oleh Rosidi semasa hidupnya. Membaca kisah Rosidi alias “Arjuna dari Cikawung” membikin hati rawan sekaligus hangat.

Kemudian masuk Koleberes dan Pasirkuda. Beberapa kawan kembali membeli bensin. Kabut sudah nampak di kejauhan. Memasuki Pagelaran dingin semakin menusuk. Saya melihat tiga curug, dua besar dan satu kecil. Curug Citambur semakin jelas, membelah tebing hijau tua yang terlihat seperti monster. Rombongan berhenti berjajar di pinggir jalan dekat warung bertuliskan iklan XL, hendak mengambil gambar. Tiba-tiba tumila bergerak gesit ke depan, menjerat gambar, dan tak menyadari bahwa posisinya merusak frame kamera rombongan, seolah-olah ia berminat untuk dilempari botol Kratingdaeng berisi bom Molotov.

Dari Pegelaran bergerak terus ke arah Sinumbra. Di ujung jalan beton dihadang tanjakan curam berlumpur, beruntung sudah dilumuri sekam. Kami berhenti sebentar dekat musala untuk sekadar menghabiskan batang terakhir sebelum dihajar hawa dingin perkebunan teh. Suhu turun. Kabut menebal. Sebenar tebal. Jarak pandang kurang dari lima meter. Kami mengatur posisi terkait dengan penerangan jalan. Sorot lampu terlihat jelas menembak kabut yang berkuasa.

Kabut. Angin. Dingin. Gelap. Tangan kebas. Tanpa rokok. Saya khawatir ada kawan yang tumbang.

Kabut.

Kabut.

Kabut.

Dalam remang bedeng Sinumbra mulai terlihat. Saya merindukan cuanki, tapi rombongan tidak berhenti. Di simpang Sinumbra-Rancabali rombongan terbagi dua, saya masuk kelompok pertama di depan. Di dekat pemadian air panas kelompok pertama berhenti hendak menunggu kelompok kedua. Namun yang ditunggu tak kunjung datang. Saya beli Super setengah, Rp 12.000. Kalau di Jalan Kliningan tinggal tambah lagi Rp 2.000 sudah dapat Siganture sebungkus. Tapi biarlah, demi kehangatan. Tiba-tiba Rizka menerima telpon, ada kabar kalau Agus kedinginan dan rombongan berhenti di warung.

“Siapa yang nelpon, Riz?”

“Delvi”

Saya tertegun sebentar. Delvi kan di Pontianak. Tapi buru-buru sadar kalau di grup WA ternyata tersiar kabar cukup genting. Nurul kemudian menelpon Tegar, dan dinyatakan kondisi aman terkendali. Kami berjalan lagi menuju Ciwidey. Kabut mulai tak terlihat.

Di pemberhentian terakhir dekat SPBU, Ervan pusing dan tak bisa ditanya. Roman mukanya seperti tak dikasih uang jajan selama dua minggu. Rambut acak-acakan. Sampai kelompok kedua datang dan tertawa kekuda-kudaan, Ervan masih diam membisu.

“Mau langsung diantar pulang ke rumah, Van?” tanya Mang Hevi.

“Enggak Mang, ke kedai aja,” jawabnya.

Oke. Berangkat lagi.

Soreang menjelang. Ketika melewati Gedung Sabilulungan, Aip menunjuk gedung tersebut lalu mengangkat jempol. Artinya kira-kira, “Dadang Naser mantap!”

Di dekat SMAN 1 Margahayu berhenti lagi, menghubungi Upi untuk memastikan kunci kedai. Upi sedang di Cikutra dan akan segera meluncur ke kedai. Syuram, Minggu malam di Cikutra. Apakah beliau sedang nongkrong di permakaman? Entahlah.

Kopo lancar lalu masuk Sukarno-Hatta. Di sini Nurul dan Ana belok ke kiri, pulang ke Cimahi. Ya, Ana pulang bareng dengan Nurul, bukan Gistha, bukan Akay, bukan Agus, bukan Tegar, bukan pula Hamdan yang sedang rajin-rajinnya berburu kucing.

Setiap kali pulang ngaleut alam ke daerah selatan, dan pulangnya sudah sampai di Sukarno-Hatta, semua yang bawa motor seperti yang sakit perut hendak lodom. Semuanya tancap gas, tak terkecuali saya. Leuwipanjang, Moch. Toha, Cijagra, masuklah ke Jalan Buahbatu. Kliningan, Karawitan, dan Solontongan.

Ketika kawan-kawan pulang satu-persatu dan membuat kedai semakin sepi, saya melihat bayang wajah muram. Ada kesedihan. Ada kesunyian. Seperti kaum Nuh yang tak diajak naik ke kapal, hanya meninggalkan dia dan sepi.

Siang ini Bibi Lung datang membawa batagor. Chacha turut serta, berkisah kesan-kesannya selama dibonceng Gistha. Tak usahlah saya ceritakan ulang di sini, nanti saja di grup WA. Sebelum mandi saya teringat lagi makian di Jum’at malam yang penuh serapah itu, ketika Persib akhirnya ditekuk PSM dan tak lolos ke babak berikutnya:

“Goblog anjing!” [irf]

22 January 2018

Umur Pendek Persatuan Perjuangan, Oposisi Pertama di Indonesia


Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, di tengah gejolak revolusi yang mendidih, Republik Indonesia pimpinan Sukarno-Hatta yang masih sangat muda memilih jalan diplomasi dalam menghadapi Belanda. Bekas penjajah itu ingin kembali berkuasa di negeri koloni kesayangannya.

“Dalam sidang pelantikan KNIP (Komite nasional Indonesia Pusat) tanggal 29 Agustus 1945, Bung Karno selaku presiden telah menggariskan bahwa jalan yang ditempuh untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mencari pengakuan internasional bagi Republik Indonesia ialah jalan diplomasi,” tulis Achmad Januar Amroni mengutip Dokumenta Historica (1953) karya Osman Rabily dalam Jurnal Avatara (Vol. 2, No. 3, Oktober 2014).

Garis diplomasi ini kemudian diwujudkan lewat berbagai kebijakan Kabinet Sjahrir I yang terbentuk pada 14 November 1945. Selain melakukan beberapa pertemuan dengan pihak Belanda dan Sekutu untuk berunding, kabinet ini juga menyusun program kerja yang isinya sebagai berikut:

Pertama, menyempurnakan susunan pemerintahan daerah berdasarkan kedaulatan rakyat. Kedua, mencapai koordinasi segala tenaga rakyat di dalam usaha untuk membangun negara republik Indonesia dan pembangunan masyarakat yang didasarkan atas keadilan dan kemanusiaan. Ketiga, mengusahakan perbaikan kesejahteraan ekonomi rakyat, antara lain dengan distribusi bahan makanan. Dan keempat, mengusahakan dipercepatnya pemecahan yang memuaskan atas persoalan pengedaran mata uang nasional (Dokumenta Historica, hlm. 104).

Langkah yang diambil pemerintah tersebut, oleh sebagian kalangan, terutama kaum revolusioner, dianggap terlampau lembek kepada Belanda. Pemerintah juga dianggap tidak serius dalam upaya menegakkan kedaulatan Republik Indonesia.
Tan Malaka dan Soedirman Menggagas Oposisi
Merespon hal ini, Tan Malaka—sosok yang amat berpengaruh di kalangan kaum revolusioner—kemudian menjawabnya dengan membentuk kelompok oposisi. Pada 3 sampai 5 Januari 1946, di Gedung Serba Guna Purwokerto, diadakan kongres pertama para pejuang revolusioner yang dihadiri 132 organisasi sipil, partai, laskar, dan ketentaraan.

Partai Komunis Indonesia, Serikat Buruh Indonesia, Partai Masyumi, Partai Buruh Indonesia, Partai Revolusioner Indonesia, Pemuda Sosialis Indonesia, Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia, Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia, Hizbullah, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Angkatan Muda Republik Indonesia, Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi, dan organisasi lainnya turut hadir pada kongres pertama tersebut. Tampil sebagai pembicara utama adalah Tan Malaka dan Jenderal Soedirman.

“Lebih baik diatom sama sekali daripada tak merdeka 100%,” ujar Soedirman dalam pidatonya seperti dikutip Roeslan Abdulgani dari Kedaulatan Rakjat (6/1/1946) di buku Soedirman-Tan Malaka dan Persatuan Perjuangan (2004).

Pada pertemuan pertama ini, Tan Malaka menjelaskan tentang rencana pembentukan Volksfront (Front Rakyat) dan Minimum Program. Keduanya diperlukan agar tujuan rakyat Indonesia tercapai dalam melawan Belanda dan sekutunya, yang pada akhirnya nanti akan mengakui kemerdekaan Indonesia 100%. 

Pada kongres kedua yang berlangsung 15-16 Januari 1946 di bekas gedung Balai Agung Solo, perhatian rakyat semakin besar. Seperti dikutip Abdul Rohman dari artikel Kedaulatan Rakjat (16/1/1946) “Persatoean Perdjoeangan Rakjat Lahir” dalam Jurnal Avatara (Vol. 5, No. 3, Oktober 2017), hal ini dibuktikan dengan kedatangan utusan-utusan berbagai organisasi yang berjumlah kurang lebih 500 orang, mewakili 141 organisasi.       

Volksfront kemudian dibentuk secara resmi dengan nama Persatuan Perjuangan pada hari akhir kongres 16 Januari 1946, tepat hari ini 72 tahun lampau. Dari pertemuan kedua ini pula para peserta kongres memutuskan dan menyepakati tujuh butir Minimum Program Persatuan Perjuangan yang terdiri dari: 

1.) Berunding atas pengakuan kemerdekaan 100%. 2.) Pemerintahan rakyat (dalam arti kesesuaian haluan pemerintah dengan kemauan rakyat). 3.) Tentara rakyat (dalam arti kesesuaian haluan tentara dengan kemauan rakyat). 4.) Melucuti tentara Jepang. 5.) Mengurus tawanan bangsa Eropa. 6.) Menyita dan memanfaatkan pertanian musuh. 7.) Menyita dan memanfaatkan perindustrian musuh (pabrik, bengkel, tambang, dan lain-lain).


Sebagai oposisi, Persatuan Perjuangan memutuskan untuk berunding dengan pemerintah pusat di bawah pimpinan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Tujuh butir Minimum Program tersebut didesakkan kepada pemerintah agar segera direalisasikan. 

Dalam perundingan itu, seperti dilaporkan harian Penghela Rakjat (30/1/1946) dalam artikel “Persatoean Perdjoeangan Mengirimkan Delegasi Kepada Pemerintah Repoeblik Indonesia”, Persatuan Perjuangan diwakili anggota yang berasal dari Organisasi Pemberontakan Rakyat Indonesia, Partai Buruh Indonesia, Masyumi, Pesindo, Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia, dan Perwari.

Minimum Program yang diajukan Persatuan Perjuangan ditolak pemerintah karena dianggap terlalu radikal. Reaksi beberapa tokoh Persatuan Perjuangan atas penolakan tersebut juga tidak digubris pemerintah.   

Pada 17 Februari 1946, di usia setengah tahun Republik Indonesia, Persatuan Perjuangan melakukan aksi massa dengan gelombang demonstrasi di mana-mana. Semua organisasi yang tergabung di dalamnya diimbau untuk melakukan aksi massa dengan lima poin tuntutan. Seperti diungkap Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 1 (2008), lima tuntutan tersebut adalah:

1.)    Isi Minimum Program Persatuan Perjuangan. 2.) Penarikan tentara Inggris-NICA dari Indonesia. 3.) Lenyapnya pengadilan dan polisi internasional dari Indonesia. 4.) Kembalinya pemuda dan gadis-gadis yang ditawan Inggris-NICA. 5.) Membatalkan perundingan dengan Kerr-van Mook sebelum syarat atas pengakuan Indonesia merdeka ditepati.

Poeze menambahkan pada Jilid 3 buku tersebut, dua bulan sebelum demonstrasi pecah atau empat bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan, Tan Malaka sudah menyimpulkan bahwa Sukarno-Hatta tidak mengejawantahkan cita-cita rakyat dan pemuda. Selain itu, ia juga berpendapat, tenaga revolusioner telah dirobek-robek ke dalam berbagai organisasi dan salah paham, kecurigaan, kesimpang-siuran telah sangat merugikan Republik.     

Maklumat politik sengit yang dikeluarkan Persatuan Perjuangan itu membuat situasi politik semakin memanas. Banyak rakyat melihat bahwa argumentasi yang disajikan organisasi oposisi tersebut sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Hal ini juga sekaligus membuat rakyat sangsi atas sikap pemerintah dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Mereka merasa hanya Persatuan Perjuangan yang konsisten dengan landasan gerak Indonesia merdeka 100%. Pemerintah dinilai terlalu penakut sehingga mau mengalah kepada Belanda,” tulis M. Yuanda Zara dalam Peristiwa 3 Juli 1946: Menguak Kudeta Pertama dalam Sejarah Indonesia (2008).

Yuanda Zara menambahkan, di sisi lain, publikasi tersebut malah berakibat buruk bagi Persatuan Perjuangan. Muncul kabar bahwa Tan Malaka dan Persatuan Perjuangan cuma bisa mengkritik pemerintah. Seandainya diberi kekuasaan, mereka belum tentu bisa mengatasi situasi pelik yang tengah dialami bangsa Indonesia.
Dilemahkan Pemerintah, Lalu Bubar
Politik diplomasi yang dijalankan Kabinet Sjahrir terus berlangsung meski Persatuan Perjuangan dan kaum oposan lainnya terus menyerang. Sjahrir tidak ambil pusing, sebab ia merasa Sukarno-Hatta ada di belakangnya. “Dia tidak pikirin orang-orang yang mencacinya. Dia enggak marah. Katanya, itu hak orang,” kata Siti Zoebaedah Osman, sekretaris pribadi Sjahrir, dalam Sjahrir, Peran Besar Bung Kecil (2010).

Namun perlawanan Persatuan Perjuangan semakin sengit, hingga menyebabkan Sjahrir mengambil kebijakan untuk melemahkan kekuatan oposisi. Seperti diungkap Soebadio Sastrosatomo dalam Perjuangan Revolusi (1987), pada 13 Maret 1946, Sjahrir menyampaikan perintah lisan ke Yogyakarta untuk menangkap beberapa tokoh Persatuan Perjuangan.

Dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid II (1946) (1999) yang disusun Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil, dijelaskan bahwa salah satu motif penangkapan para tokoh Persatuan Perjuangan adalah karena organisasi oposisi ini melarang tiap anggotanya untuk duduk dalam kabinet koalisi Sjahrir. Hal ini dianggap oleh pemerintah sebagai tindakan yang merusak (saboteren).

“Oleh sebab oposisi yang tidak loyal terus dilakukan Persatuan Perjuangan, maka langkahnya diawasi, sebab ada kekuasaan lain di luar kekuasaan pemerintah. Hal ini tidak boleh dibiarkan, karena dalam phase yang seperti sekarang ini, hal itu berbahaya. Selain daripada itu ada beberapa kenyataan yang Persatuan Perjuangan mengadakan gerakan untuk merubuhkan Pemerintahan Pusat dengan jalan di luar undang-undang,” ujar Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifuddin memberikan penjelasan terkait dengan penangkapan beberapa tokoh Persatuan Perjuangan, seperti dikutip Kronik Revolusi (hlm. 174).

Penangkapan tokoh-tokoh penting tersebut memang terbukti melemahkan Persatuan Perjuangan. Pada 4 Juni 1946 di Yogyakarta, dalam sebuah rapat alot yang dipimpin S. Mangoensarkoro, sebagian besar anggota menginginkan agar Persatuan Perjuangan dibubarkan. Kelompok oposisi pertama di Indonesia ini akhirnya tamat dalam usia yang belum genap enam bulan.

“Maka dalam rapat yang dihadiri anggota-anggota Persatuan Perjuangan kecuali Perwari dan PKI, memutuskan sejak tanggal 4 Juni 1946 Persatuan Perjuangan dibubarkan dan memerintahkan untuk sesegera mungkin menerbitkan buku peringatan Persatuan Perjuangan yang memuat sejarah perjuangan organisasi,” tulis Abdul Rohman mengutip harian Soeara Rakjat (6/6/1946). (tirto.id - irf/ivn)   

Hentakan Revolusi dalam Lagu-lagu Cornel Simanjuntak


“Bagaimana keadaanmu, Cornel?”

“Baik saja.”

“Semangatmu masih kuat?”

“Berjuang terus, Bung,” sahut Cornel.

Percakapan pendek itu terjadi via saluran telepon antara Rosihan Anwar dan Cornel Simanjuntak di tengah kecamuk Revolusi Indonesia. Cornel yang terkenal sebagai seorang komponis ikut berjuang bersama laskar rakyat di front Senen dan Tanah Tinggi melawan NICA. Pada 10 Desember 1945, ia dibawa ke Centraal Burgerlijke Ziekenhuis (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) karena terluka. Dalam sebuah pertempuran bokongnya kena tembak.

Cornel Simanjuntak lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada 1921. Ia lahir dari keluarga Katolik yang taat. Ayahnya, Tolpus Simanjuntak, berperawakan tinggi besar, keras, dan kuat watak serta pribadinya. Sebelum Revolusi pecah dan ikut bertempur di beberapa palagan, kedua orangtua Cornel mengharapkan ia menjadi seorang guru. 

Dalam Cornel Simanjutak: Komponis, Penyanyi, Pejuang (1987), Binsar Sitompul berkisah bahwa pada 1939 ia bertemu Cornel di pelabuhan Belawan, Medan. Ketika itu, mereka hendak berlayar ke Tanjung Priok, Jakarta. Mereka baru lulus dari Hollandsche Inlandsche School (sekolah dasar) di Medan dan hendak melanjutkan pendidikan ke Hollandsche Indische Kweekschool (sekolah guru) Xaverius College Muntilan, Jawa Tengah, yang dipimpin pastor-pastor Jesuit.

“Cornel yang memelihara kumis tipis kelihatan lebih tampan. Kulitnya agak kehitaman dan rambutnya sedikit berombak. Sorot matanya tajam memancarkan wibawa, namun tidak kelihatan sikap merasa dirinya penting. Sebagai teman ia orang yang menyenangkan, bahkan mengasyikkan,” tulis Binsar.

Di sekolah barunya di Muntilan, Cornel biasa dipanggil Siman. Ia aktif dalam berbagai kegiatan seperti pertandingan sepakbola, kasti, berenang. Kalau ia ikut serta, hampir pasti menjadi pimpinan rombongan. Hal itu kemudian membuatnya menjadi populer dan disegani.

Di Xaverius College, Cornel juga mengasah bakat seninya di bidang musik. Terlebih sekolah ini mempunyai kegiatan bermusik yang serius. Berbagai alat musik yang biasa dipergunakan untuk orkes simfoni seperti biola, biola alto, cello, kontrabas, suling, hobo, clarinet, fagot, trompet, corno, trombone, tuba, dan perkusi semuanya tersedia lengkap. Selain alat-alat musik tersebut, para siswa tidak menemukan lagi instrumen lain seperti gitar dan ukulele. Binsar menambahkan, setiap hari para siswa hanya memainkan musik klasik. Tak ada kesempatan untuk mendengarkan musik keroncong, Hawaiian, jazz, dan musik lainnya.

Di lingkungan sekolah seperti itulah bakat dan minat Cornel Simanjuntak terus dipupuk. Lagu "Ave Maria" ciptaan Franz Schubert adalah salah satu lagu kesayangannya. Setiap ia memegang biola, lagu itulah yang selalu dikumandangkan. Suaranya merdu dan permainannya menawan. Gesekan biolanya kerap terdengar oleh kawan-kawannya dari kejauhan. 

Dalam pengamatan Binsar, buku-buku catatannya penuh dengan garis-garis not balok. Berisi percobaan harmoni atau upaya membuat lagu. Franz Schubert dengan beratus-ratus lagunya merupakan salah satu komponis yang sangat dikagumi Cornel. Di dalam salah satu buku catatan, ia menulis: “Schubert, Oh meester, help mij!” (Schubert, mahaguru, tolonglah saya!) 

Minat Cornel terhadap musik tidak membuatnya lupa untuk menjadi guru. Ia mengikuti semua mata pelajaran dengan baik. Hanya saja, Cornel kerap mengeluh karena tidak menyukai ilmu pasti dan aljabar. Kalau hari dan jam mata pelajaran berhitung tiba, ia tampak menghadapi masalah yang berat.
Dicurigai sebagai Kolaborator Jepang
Pada zaman pendudukan Jepang, Cornel hijrah ke Jakarta dan aktif di Keimin Bunka Shidosho, kantor kebudayaan yang menjadi pengarah para seniman. Beberapa lagu propaganda ia ciptakan. Misalnya "Bikin Kapal", "Menanam Kapas", "Bekerja", dan "Menabung". Lagu-lagu itu lincah dan segar, menganjurkan dan mendorong bangsa Indonesia untuk membantu Jepang memenangkan perang melawan Sekutu.

Hal ini tentu saja mengundang kecaman dari para aktivis anti-Jepang. Namun Cornel membela diri. Menurutnya, kerja di lembaga bikinan Jepang itu bukan untuk mendukung Jepang, melainkan untuk mendidik rakyat.

“Ini bukan lagi khianat. Tetapi saya telah meniadakan diri saya sendiri. Jangan lihat keindahannya, melainkan hasilnya sebagai sesuatu yang berfaedah: mendidik rakyat untuk mengenal tangga nada yang lebih kompleks,” ujarnya seperti dikutip Goenawan Mohamad dalam Lirik, Laut, Lupa: Asrul Sani dan Lain-lain, Circa 1950 (1997).

Ihwal kiprah Cornel di Keimin Bunka Shidosho juga merisaukan Binsar Sitompul. Ia sempat berpikir bahwa Cornel telah menjadi antek Jepang, menyerahkan dirinya untuk diperalat sebagai mesin seni kaum Negeri Matahari Terbit. Binsar semakin galau, sebab sepanjang mengenal Cornel, ia yakin bahwa kawannya itu tidak mungkin menjadi kolaborator Jepang dan menjual dirinya untuk kepentingan penguasa dan penindas.

Sejak itu, Binsar semakin rajin mengikuti siaran radio dari Jakarta. Kemudian ia mendengar lagu "Kupinta Lagi" ciptaan Cornel. Dan mulai saat itu Binsar yakin bahwa Cornel tidaklah bermaksud untuk menjadi kolaborator Jepang, tapi hanya memanfaatkan kesempatan untuk tetap bisa mencipta.

“Lagunya betul-betul membangkitkan semangat. Sekalipun tidak dinyatakan melalui kata-kata, namun terasa jelas mengungkapkan semangat penuh harapan terhadap hari depan yang cerah, didasarkan atas iman yang teguh. Lagu semacam ini tidaklah mungkin merupakan hasil ciptaan dari jiwa yang tertekan. Semenjak itu saya mulai paham: Cornel membuat lagu-lagu propaganda Jepang hanyalah untuk menjaga, agar kesempatan mencipta tetap terbuka,” tulisnya.

Sementara Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa tahun 1960-an dari Jurusan Sejarah UI, punya impresi tersendiri kepada lagu-lagu Cornel. "Seolah-olah idealisme pemuda," tulis Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan: Kisah Pemberontakan Madiun September 1948 (1997), "akan mati, padahal hari sudah jam empat. Alangkah sayang karena ‘kemerdekaan’ akan segera datang. Juga dalam salah satu lagu Cornel Simanjuntak, tipe seniman pemuda revolusioner, suasana ini terbayang—Kupinta Lagi. Seolah-olah Cornel meratap… ’Balikkan kembali imanku yang sudah hilang. Datanglah cahaya di hati…’ dan seterusnya.”
Musik dan Perang
Kecintaan Cornel kepada musik terus menggelegak ketika revolusi pecah. Ia menghentak-hentak lewat "Maju Tak gentar", "Sorak-sorak Bergembira", "Teguh Kukuh Berlapis Baja", dan sebagainya. 

Suka Hardjana, penulis dan kritikus musik, dalam film dokumenter Cornel Simanjuntak produksi PT. Pembangunan Jaya dan Miles Film mengatakan bahwa Cornel punya posisi yang unik dalam jajaran pencipta lagu Indonesia. Dalam masa berkarya yang cukup pendek, sekitar tiga-lima tahun, Cornel berhasil menciptakan lagu-lagu yang sangat sederhana dalam bentuk mars yang mudah diingat oleh anak-anak sampai orangtua. 
Dalam film yang sama, Hersri Setiawan berkisah tentang kritik Cornel terhadap cara menyanyikan lagu Indonesia Raya yang menurutnya tidak kompak.

“Jadi dia pikir ini mesti ada yang salah. Pertama karena orang Indonesia baru kenal lima nada, dan ini harus menjadi tujuh nada. Nah, dengan lagu-lagu Cornel yang mars tadi, orang sampai ke puncak-puncak gunung belajar tujuh nada. Antara syair dan melodi itu tidak satu, Cornel membuat ini menjadi satu,” ujar Hersri.

Sementara dalam sebuah catatan yang bertajuk "Cornel Simandjuntak Cahaya, Datanglah!" yang disiarkan indoprogress.com pada 6 Juni 2014, Hersri bercerita ihwal kegeraman Cornel terhadap “orang musik” yang ia anggap belum berhasil keluar dari-bayang-bayang komponis asing.

“Bagaimana kita tidak berontak?! Orang musik hanya memilih gampangnya saja, bakmi tiga sen, pengganti teks bei mir bist du schon. Melodi tetap seperti Schalger import yang telah menjadi sangat populer. Tugas kita tugas pengarang. Menciptakan yang baru. Kita bukan ekspeditur,” ujar Cornel seperti dikutip Hersri.

Kemudian ia melanjutkan pernyataan itu dengan uraian cita-cita yang ada dalam angannya, “Ya, tidak lama lagi bangsa Indonesia tentu akan mempunyai pencipta-pencipta yang asli, bukan pencipta-pencipta yang menyebut dirinya pencipta karena ia pandai meniru beberapa motif lagu yang telah usang dan menurut perasaannya tak dikenal lagi.”

Hersri juga mengutip Nikolai Varfolomeyev—seorang musikus pelarian Rusia dan mantan pemain cello orkes Philharmonic Tsar, “Kalau kita mendalami hasil karyanya yang ternyata punya daya penggerak dan patriotik, hal mana sangat berjasa kepada perjuangan bangsanya sewaktu revolusi Indonesia berlangsung, maka adalah patut kita menghormatinya lebih daripada seorang komponis saja. Cornel salah seorang di antara beberapa pahlawan lainnya jang menjadi korban langsung dari pada revolusi yang lalu,” ujarnya.

Ya, Cornel Simanjuntak, komponis muda berbakat itu memang terjun di kancah revolusi dan menjelempah di pusarannya sebagai korban. Namun demikian, itu adalah jalan kebebasan yang ia pilih. Perasaan bebas yang ia rasakan dikatakannya dapat menghidupi jiwa, dan ia tidak ingin kebebasan itu hilang.

“Kalau kemerdekaan kita diambil orang, ia pun (kebebasan) akan turut hilang. Sekarang ada pertempuran untuk kebebasan ini. Saya tersangkut di dalamnya. Dan untuk itu, maka kita harus maju tak gentar untuk menghadapi semua tantangan dan percobaan itu,” ujarnya kepada Asrul Sani seperti dikutip Diah Sri Mulyantinah dalam Keluarga (Oktober 1977 No. X, Th. 24).

Dalam Napak Tilas ke Belanda: 60 Tahun Perjalanan Wartawan KMB 1949 (2010), Rosihan Anwar menyatakan, pada pertengahan Januari 1946 Cornel Simanjuntak mengungsi ke Yogyakarta. Ia kemudian tinggal di Jalan Sumbing No. 5 bersama keluarga Usmar Ismail dan Ida Sanawi. Kesehatannya mulai menurun karena dihajar TBC dan dirawat di sanatorium di Pakem. 

“Waktu dia meninggal dunia, saya kebetulan ada di Yogya. Di tepi liang kuburnya, sebagai salam perpisahan dengan Cornel Simanjuntak, saya deklamasikan sajak pujangga kemerdekaan Filipina, Jose Rizal, yang saya terjemahkan di zaman Jepang: Adios Patria Adorada. Selamat tinggal Tanah Airku,” tulis Rosihan. (tirto.id - irf/ivn)

10 January 2018

Edhi Sunarso, Pematung Kepercayaan Bung Karno


Warsa 1959, di teras belakang istana negara. Sebelum mandi, seperti biasa Bung Karno bercengkerama dengan para pemikir, teknokrat, seniman, dll. Percakapan yang akrab mengalir penuh kehangatan. Hari itu, Edhi Sunarso, juara dua sayembara patung sedunia di London, ikut hadir. Bung Karno mendekati Edhi dan mengutarakan keinginannya untuk membuat Patung Selamat Datang dalam rangka menyambut kontingen Asian Games 1962 di Jakarta.     

“Dhi, aku mau membuat patung tingginya sembilan meter, bahannya perunggu. Tunjukkan bahwa bangsa Indonesia bangsa yang besar, bangsa yang ramah. Aku beri tugas kau buat patung itu,” ujar Bung Karno.

“Saya belum pernah, Pak. Membuat patung sepuluh senti pun dari perunggu belum pernah. Paling-paling saya buat patung sebesar orang, itu pun masih belum sempurna, Pak,” jawab Edhi tak bisa menyembunyikan rasa kaget.

“Kau punya rasa bangga berbangsa bernegara, gak? Punya nation’s pride, gak? Kau pasti punya! Cuma kau takut mengatakan. Aku tahu, kau sejak umur mudamu masuk penjara keluar penjara, iya kan? Kau berani membunuh Belanda, kau pun harus berani (membuat patung)!” kata Bung Karno meyakinkan.

Sebelum menjadi seniman patung, Edhi Sunarso ikut mengangkat senjata di kancah revolusi. Ia lahir pada 2 Juli 1932 di Salatiga. Pada usia 14, ia punya anak buah 17 orang dewasa. Dalam sebuah dokugrafis bertajuk Begini Lho, Ed! besutan Lasja F. Susatyo dan Alit Ambara, Edhi berkisah tentang masa-masa bergerilya di daerah Jawa Barat. Ia dan pasukannya menyamar dengan membentuk sebuah kelompok doger yang berkeliling dari satu kota ke kota lain.

Mulanya Edhi menjadi kurir penghubung antar pejuang kemerdekaan, lalu menjadi komandan sabotase yang membakar pabrik-pabrik milik Belanda di daerah Pamanukan, Pegaden Baru, Subang, Kalijati, Sagalaherang, dan Purwakarta. Dalam sebuah operasi penyamaran, Edhi dan pasukannya disergap tentara Belanda. Sebagian berhasil melarikan diri, sementara ia beserta tujuh orang anak buahnya tertangkap.

Setelah puas dihajar, mereka lalu digiring ke Subang dan ditempatkan di penjara berukuran 2x2,5 meter berisi 24 orang. Mereka tidur berdiri. Setelah itu dibawa ke Kalijati, markas para eksekutor yang kejam. Edhi dan pasukannya distrum dan ditonjok sampai giginya semuanya rontok. Selanjutnya ditahan di Bandung bersama 2.400 orang tahanan lain.


Di Bandung, ia diajari bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Indonesia, berhitung, dan menulis oleh para tahanan politik. Dalam suasana yang cukup lapang itu Edhi menyalurkan minatnya pada menggambar.

Setelah dibebaskan, ia bertemu Hendra Gunawan. Dianthus Louis Pattiasina dalam Kajian Estetika dan Realisme Sosialis Tiga Patung Monumen Era Soekarno di Jakarta yang disiarkan di Jurnal Ilmiah Widya Vol. 2 No. 1, Maret-April 2014, menulis bahwa karir Edhi Sunarso di bidang seni dimulai dengan melukis di Sanggar Pelukis Rakyat yang didirikan Hendra Gunawan di Yogyakarta.

“Perjalanan berkarya para seniman Pelukis Rakyat pada awalnya hanya menggeluti seni lukis, lalu mengalami perkembangan dengan membuat karya-karya tiga dimensi sebagai upaya mencari bentuk lain dalam proses penciptaannya. Patung-patung ciptaan Edhi Sunarso yang paling menonjol pada saat itu. Karya fenomenal ciptaannya adalah The Unknown Political Prisoner tahun 1952, meraih penghargaan public ballot di London,” sambungnya.

Selain itu, Edhi menuturkan bahwa ia bertemu dengan anak-anak ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta yang baru dibuka Januari 1950. Ia merasa senang melihat para mahasiswa itu menggambar. Edhi pun ikut menggambar. 

Pada suatu hari, ia ditawari untuk menjadi siswa pendengar/toehoorder (ikut kuliah tapi tak dapat teori) oleh direktur ASRI pertama, R.J. Katamsi Martorahardjo. Setelah menunggu tiga hari, ia mendapat panggilan dan dinyatakan diterima sebagai siswa pendengar.

“Setelah aku diterima sebagai siswa pendengar, seakan-akan gak pernah ada malam. Karena siang malam aku gunakan untuk belajar dan bekerja,” ujarnya.

Setelah memenangkan sayembara patung dunia di London, dari tahun 1955 hingga 1957 Edhi mendapat beasiswa dari UNESCO belajar di Visva Bharaty Universitydi Santiniketan, India. Di sana ia memperoleh Gold Medal dari pemerintah India, sebuah penghargaan kesenian yang diberikan India kepada orang asing.

Atas ketekunan dan beberapa prestasinya itulah kemudian Bung Karno mempercayakan pembuatan Patung Selamat Datang—patung perunggu pertama buatan Indonesia—kepadanya. Patung yang awalnya dibuat sembilan meter itu pada akhirnya harus dibuat ulang dengan ukuran enam meter, disesuaikan dengan ukuran Hotel Indonesia.

Karena tak bisa dikecilkan, akhirnya Edhi membuat ulang dari awal. Bekerja siang malam, dan tentu saja ada tambahan dana untuk pembuatan patung tersebut.

“Betul-betul ya, jadi ya. Awas kalau gak jadi, kau tak gantung!” kata Bung Karno kepada Edhi. 

Setelah Patung Selamat Datang selesai, Bung karno mengirim para seniman ke Jepang, Meksiko, Prancis, Belanda, dll, untuk belajar diorama. Sementara Edhi tidak diberangkatkan ke luar negeri karena mendapat tugas baru untuk membuat Patung Pembebasan Irian Barat.

“Beliau memperagakan si rantai-rantai tak patahkan, duaarr.. teriak.. teriak..,” ujar Edhi mengisahkan cara Bung Karno memperagakan ekspresi patung yang ia maksud.
Melesat, Tersendat, Terjerat
Monumen terakhir—karena angin politik buru-buru menumpas kekuasannya—yang ditugaskan Bung Karno kepada Edhi Sunarso adalah Patung Dirgantara atau sekarang lebih dikenal sebagai Patung Pancoran. Dulu di dekat monumen itu ada markas Besar TNI Angkatan Udara.  

“Dhi, aku ingin menghargai pahlawan penerbang Indonesia. Kalau Amerika, Soviet, itu bangga dengan industri pesawatnya, bangga dengan kebesaran membuat pesawat, Indonesia ga ada. Siapa yang bikin pesawat Indonesia? Ga ada. Apa? (yang ada) Keberanian penerbangan. Jiwa penerbangannya, keberaniannya, patriotismenya. Nganggo pesawat rongsokan aja masih bisa untuk ngebom. Kau ingat Ambarawa?” ujar Bung Karno kepada Edhi.

Dibantu Keluarga Arca Yogyakarta pimpinannya sendiri, Edhi mulai membuat Patung Dirgantara. Pada awal pembuatannya, di ujung tangan kanan patung yang mengarah ke atas terdapat pesawat. Namun kemudian tidak dipasang atas saran Edhi kepada Bung Karno.  

“Dulu ada pesawatnya. Modelnya ada pesawatnya. Waktu saya buat, saya bilang gini, ‘pesawatnya ga usah dipasang aja pak.’ “

“Kenapa?”

“Seperti mainan. Lucu. Seperti orang dewasa mainan kapal, pesawat-pesawat.”

“Wah, bener kowe, bener kowe,” timpal Bung Karno.

Ketika patung dan landasannya sudah jadi, gempa politik 1965 keburu datang. Bung Karno berada di ujung kejayaannya. Gelombang menerpa, patung tersebut diisukan sebagai patung cukil, karena bentuk penyangga patung yang menyerupai alat penggeret pohon karet agar getahnya keluar.

Pidato pertanggungjawaban presiden ditolak MPRS, puncak pemimpin republik berganti. Dalam kondisi sakit, Bung Karno memanggil Edhi hendak menanyakan Patung Dirgantara. Edhi kemudian melapor bahwa patung tersebut sudah jadi, namun belum bisa dipasang karena kehabisan dana, bahkan rumahnya sendiri disegel karena terlilit utang. Bung Karno kemudian menjual salah satu mobilnya agar Edhi bisa memasang patung tersebut.

Dua minggu kemudian, Edhi menerima uang dari orang kepercayaan Bung Karno. Ia lalu membawa Patung Dirgantara ke Pancoran dan mulai memasangnya. Kira-kira baru selesai 30 persen, Bung Karno datang ke lokasi. Orang-orang ramai mengerubungi. Lalu untuk kedua kalinya Bung Karno datang lagi, dan orang yang datang lebih ramai lagi.  

“Aku minggu depan datang, balik lagi. (Harus) sudah selesai ya!” ujar Bung Karno.

Minggu depannya, ketika Edhi Sunarso tengah berada di puncak Patung Dirgantara untuk pengerjaan akhir, rupanya betul Bung Karno datang lagi: melintas di bawah patung, sudah terbujur kaku dalam iring-iringan pengantar jenazah. 
Edhi segera turun, mengejar iring-iringan dan ikut ke Blitar. Ia masih sempat menyaksikan jenazah Bung Karno diturunkan ke liang lahat.

“Bung Karno, terimakasih atas pemberian Bung kepada kami. Semangat-semangat, keberanian seperti ini, luar biasa, luar biasa, luar biasa,” ujar Edhi sambil menerawang.

Senin, 4 Januari 2016, tepat hari ini dua tahun silam, Edhi Sunarso wafat di Yogyakarta. Menurut salah seorang anaknya, sebelum meninggal Edhi mengeluh sesak napas. Dan kini, Patung Dirgantara, salah satu mahakaryanya, seolah sesak napas terjerat jalan layang dan keruwetan tata kota. Ia tak lagi terlihat sempurna seperti pada awalnya, yang melesat dari bawah menuju angkasa. (tirto.id - irf/ivn) 

03 January 2018

Ibu, Tamparlah Mulut Anak-anakmu


Ibu, engkau duduk di hadapanku.
Ibu jadilah hakim yang syadid, yang besi, bagi anak-anakmu.
Jika kutulis ini sebagai buku netral, pengadilan akan empuk. Setiap kata dari beribu bahasa bisa dipakai untuk mementaskan kepalsuan. Seratus ahli penyusun kalimat bisa memproduksi puluhan atau ratusan ribu rangkaian kata yang bebas dari kenyataan dan dari diri penyusunnya sendiri.Kebebasan itu bisa sekadar berupa keterlepasan kicauan intelektual dari dunia empiris, tapi bisa juga merupakan kesenjangan antara semangat ilmu—yang di antara keduanya membentang kemunafikan, inkonsistensi atau bentuk-bentuk kelamisan lainnya.
Syair tidak bertanya kepada penyairnya.
Ilmu tidak menguak ilmiawannya.
Pembicaraan tidak menuntut pembicaranya.
Tulisan tidak meminta bukti hidup penulisnya.
Ide tidak kembali kepada para pelontarnya.
Ibu yang duduk di hadapanku, ini adalah kritik anak-anakmu sendiri.
Allah melaknat orang yang mencari ilmu untuk ilmu. Al-‘ilmu lil-‘ilmi.
Ilmu menjadi batu, dan para pencari ilmu menyembah bau-batu, berhala-berhala yang membeku di perpustakaan dan pusat-pusat dokumentasi serta informasi.
Betapa penting dokumentasi, tetapi ilmu tidak dipersembahkan kepada museum apapun, melainkan kepada apa yang bisa dikerjakan hari ini oleh para penulis di lapangan, bukan di kahyangan.
Ibu, tamparlah mulut anak-anakmu.
Orang yang bertahun-tahun mempelajari mana yang benar dan mana yang salah dalam kehidupan, tidak dijamin memiliki kebenaran mental untuk mengemukakan sesuatu hal itu benar dan sesuatu hal itu salah. Tinggi dan luasnya Ilmu pengetahuan seorang cendekiawan tidak menjanjikan jaminan moral. Artinya, dari kenyataan itu tercermin ketidaktahuan kemanusiaan.
Di dalam diri seseorang tidak terdapat keterkaitan positif antara pengetahuan, ilmu, mentalitas dan moralitas.
Emha Ainun Nadjib

01 January 2018

Demi Sinematek Misbach Yusa Biran Menumpang Hidup pada Nani Wijaya


“Buku ini saya persembahkan kepada istri saya Nani Widjaja yang berkorban habis-habisan menunjang kegila-gilaan saya,” tulis Misbach Yusa Biran di lembar persembahan buku Teknik Menulis Skenario Film Cerita.

Salah satu “kegilaan” Misbach adalah menolak menerima pekerjaan menulis skenario dan menyutradarai film demi membangun Sinematek Indonesia (lembaga arsip film pertama di Asia Timur).

“Akibatnya untuk kehidupan rumah tangganya, Misbach mempercayakan seluruhnya kepada istrinya, Nani Wijaya yang pemain film. Misbach sendiri mengatakan bahwa dia hidup menumpang (in de kost) kepada istrinya yang ketika tidak bisa main film, terpaksa berjualan sirop,” ujar Ajip Rosidi dalam Misbach dan Sinematek.

Misbach lahir di Rangkasbitung, Banten, Pada 11 September 1933. Ayahnya bernama Ayun Sabiran, orang Minangkabau yang aktif dalam pergerakan kemerdekaan sehingga ditangkap pemerintah Hindia Belanda dan dibuang ke Digul Hulu. Di pembuangan, ayahnya bertemu Yumenah (ibu Misbach) yang ikut dengan Salihun, ayah Yumenah—orang pergerakan dari Banten.

Salihun membawa istri dan enam orang anaknya ke Digul Hulu. Ayun Sabiran dan anak-anak Salihun menyukai kesenian, salah satunya main biola. Yumenah dan beberapa saudaranya sering meminjam biola Ayun Sabiran. Selain kedekatan karena punya hobi yang sama, juga karena paham keagamaan Ayun Sabiran yang dekat dengan Muhammadiyah dianggap cocok oleh Salihun, maka Yumenah dinikahkan dengan orang buangan dari Minangkabau tersebut. 

“Mereka dibebaskan dan kembali ke Rangkasbitung ketika Misbach baru tiga bulan dalam kandungannya. Maka sebenarnya meskipun Misbach dilahirkan di Rangkasbitung, ia sebenarnya ‘made in’ Digul Hulu,” tulis Ajip Rosidi dalam H. Misbach Yusa Biran (1933-2012).

Ajip menambahkan, konon waktu kecil ia dipanggil Yusuf oleh kawan-kawannya di Rangkasbitung. Maka ‘Yusa Biran’ itu adalah gabungan dari ‘Yusuf Sabiran’. Sabiran tentu saja nama ayahnya. Ketika beranjak dewasa dan mulai mengumumkan tulisan-tulisannya dalam majalah, Misbach menggunakan nama M. Bach.—yang dalam perkiraan Ajip supaya dekat dengan nama komponis terkenal Sebastian Bach.

Misbach sekolah di Taman Madya pimpinan Said Reksohadiprodjo. Alumni sekolah ini banyak yang menjadi pengarang, pelukis, dan seniman lainnya. Ia sendiri memilih film sebagai bidang yang digelutinya dengan penuh cinta. Misbach menulis skenario, menjadi sutradara, dan bertungkus lumus mengarsipkan jejak serak film Indonesia.

Sinematek Indonesia berdiri pada 1975. Lembaga pengarsipan film itu digagas oleh Misbach dan dilaksanakan ketika Asrul Sani menjadi Rektor LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta)—sekarang IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Karena tidak ada anggaran, Misbach menyatakan bersedia memimpin lembaga tersebut untuk sementara, tanpa gaji ataupun honorarium.

Misbach sadar ia hanya pengarang cerita, drama, penulis skenario, sutradara film dan lain-lain, bukan seorang ahli di bidang dokumentasi. Jika suatu saat ada orang yang ahli di bidang ini, ia akan menyerahkan kedudukannya kepada orang tersebut. Karena keterbatasan ini pula, bidang pengarsipan yang digarapnya pun dibatasi hanya pada film (Sinematek). Pengarsipan seni pertunjukan yang lain ditangguhkan.

Sebagai salah satu kawan dekatnya, Ajip menyebut Misbach orang yang keras kepala. Karena menganggap Sinematek penting, Misbach dengan sungguh-sungguh menanggung segala risikonya bekerja dan membangun Sinematek Indonesia. 

“Untuk itu (Sinematek) dia terpaksa menolak pesanan pembuatan skenario, bahkan menolak tawaran untuk menjadi sutradara. Padahal dari menulis skenario dan menyutradarai filmlah Misbach selama itu hidup,” sambung Ajip.

Misbach dan koleganya di Sinematek bukannya tanpa harap dan ikhtiar. Mereka sadar lembaga tersebut kekurangan dana dan nyaris hanya dikerjakan dengan con amore. Ketika Harmoko—sahabat karibnya sesama “seniman Senen”—memimpin Departemen Penerangan, ia sempat berharap bahwa Sinematek akan mendapat status yang jelas di lingkungan departemen tersebut dan mendapat anggaran tetap. Namun, nyatanya, tidak. 

Di Sinematek, Misbach menyusun dokumentasi film Indonesia sejak awal, termasuk menemukan dan menyimpan film-film lama sejak awal sejarah perfilman Indonesia tahun 1920-an. Kerja ini, di tengah kesadaran masyarakat yang umumnya tidak menganggap penting dokumentasi, tentu saja menempuh jalan terjal. Bahkan Tio Tek Djien—salah seorang tokoh perfilman sebelum perang, menasihati Misbach agar tidak meneruskan kerja dokumentasi tersebut yang menurut pendapatnya tidak akan dihargai orang.

Meski mengakui kebenaran nasihat Tio Tek Djien, Misbach terus bekerja untuk membangun Sinematek sehingga lembaga tersebut dikenal dan diakui keberadaannya oleh kalangan sinematek internasional.

Selama hayat dikandung badan, Misbach melahirkan beberapa karya dan berhasil meraih penghargaan. Naskah dramanya yang terkenal berjudul Bung Besar (1957). Sementara kumpulan cerpennya mengenai dunia film dibukukan dengan judul …Oh, Film. Buku ini mengalami cetak ulang yang tak sedikit. 

Pada 1967, ia terpilih sebagai sutradara terbaik untuk filmnya Di Balik Tjahaja Gemerlapan dan penulis terbaik untuk Menyusuri DJedjak Berdarah. Warsa 1973-1995, ia mengajar di LPKJ/IKJ untuk mata kuliah penulisan skenario. Sejak 1974, ia mengajar Sejarah Film dan Penulisan Skenario Film di berbagai kursus dan lokakarya.
Mendokumentasikan Seniman Senen
Selain mendokumentasikan tetek bengek tentang film Indonesia di Sinematek, Misbach juga pernah mencoba merekam kehidupan sehari-hari para seniman yang dalam beberapa periode kesohor dengan sebutan seniman Senen. Dalam catatan Misbach yang bertajuk Keajaiban di Pasar Senen, kelompok seniman yang dikenal kere ini ternyata dipenuhi oleh para pengangguran yang pura-pura menjadi seniman.

“Mereka adalah orang yang mengaku diri seniman untuk menutupi ke-gelandangan-nya, penganggur-penganggur malas yang di atas kedekilannya memasang etiket mentereng: seniman,” tulis S.M. Ardan dalam pengantar di buku tersebut.
Namun, justru dari para seniman sejenis itulah kemudian lahir keajaiban dalam arti keanehan, menakjubkan, dan sekaligus menggelikan yang diangkat oleh Misbach. 
Sekali waktu Misbach mendapati Asmar—seniman entah, sebab belum menghasilkan karya seni apa-apa. Namun, Misbach menyebutnya sebagai “satu-satunya seniman di wilayah Pasar Senen yang paling seniman tulen: 100%, 24 karat”, tengah termenung sambil memerhatikan lalu lalang orang.

Asmar hidup melarat, tak peduli baju dan kebersihan. Ia juga tak mau bekerja apa-apa, kecuali berpikir untuk seni. Tidak mau cari uang, karena katanya ia benci uang. Sekali waktu, bung melarat ini rupanya tengah berpikir tentang firasat dan keajaiban.

“Firasat…?” Tanya Misbach

“Ya, firasat yang ajaib! Firasat begini sudah seringkali datang padaku, dan selalu hasilnya cocok,” jawab Asmar.


“Firasat yang ajaib itu menunjukkan bahwa aku akan dapat uang lebih dari seratus perak malam ini. Entah dari siapa…” sambungnya.

Mereka kemudian terlibat pembicaraan terkait apa yang Asmar sebut sebagai keajaiban dan firasat. Penjelasan Asmar berputar-putar, sementara tangannya gemetar waktu memasukkan rokok ke mulutnya. Sebuah kondisi yang amat jelas bahwa dia mulai kelaparan. Kebetulan waktu itu ada uang lima rupiah di kantong Misbach yang segera ia berikan kepadanya.

Sambil mengembangkan senyum, senyum yang penuh kegaiban tulis Misbach, Asmar menerima uang itu dan berkata, “Nah, kau percaya tidak? keajaiban toh datang, meskipun baru sebagian. Percaya tidak?”

Selain kisah di atas, masih ada beberapa fragmen lain yang merangkum keanehan para seniman Senen dan menggambarkan situasi kehidupan seniman dan kesenian di Jakarta pada era 50-an, seperti misalnya kehidupan sandiwara yang kembang-kempis.

Apalagi situasi susah itu ditambah ruwet dengan kehadiran para petualang yang mencari untung dari kesenian dengan dalih untuk bantuan bencana alam atau usaha-usaha sosial lainnya. Meski demikian, dari sekian banyak seniman gadungan dan kehidupannya yang jungkir balik, Senen tetap bisa melahirkan beberapa seniman betulan.

“Di balik kekacaubalauan itu lahirlah seniman-seniman (tulen) yang kemudian ‘jadi orang’: Sukarno M. Noor, Wahyu Sihombing, Drs. Sumandjaja, Menzano, Sukanto S.A, dan lain-lain. Ya—di Senen itulah seniman-seniman (yang tulen dan yang pura-pura) mengadakan rendesvouz setiap waktu. Di samping omongan acak-acakan, tidak jarang terjadi pembicaraan berarti, yaitu bila sehabis menonton pertunjukan sandiwara atau film,” tulis S.M. Ardan.

Dalam memoarnya yang berjudul Kenang-kenangan Orang Bandel, Misbach Yusa Biran menyebut dirinya sebagai orang idealis yang ngotot bekerja untuk mewujudkan suatu ide, meski hal tersebut tidak mendapat perhatian dari masyarakat sehingga hidupnya sendiri kapiran.

Pada 11 April 2012, “orang bandel” yang telah mengurus Sinematek lebih dari 30 tahun itu tutup usia di Tangerang, Banten. Usianya pungkas, namun kerja-kerja dokumentasinya masih belum selesai: menagih para penerusnya untuk melanjutkan amal panjang itu. (tirto.id - irf/msh)

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai