07 November 2017

Saya Enggan Menulis Obituari

“Rima ini kurancang untuk menentang mitos
hegemoni rezim dewa logos.”

Di ruang depan rumah kontrakan saya, televisi masih menyalak untuk mengabarkan warta-warta buruk yang membosankan. Masyarakat di suatu kecamatan di daerah Jakarta Barat sedang cemas karena terancam digusur akibat putusan hukum mengatakan bahwa sertifikat tanah mereka tidak absah. Rakyat di Sidoarjo sudah setahun dilahap lumpur akibat pekerjaan buruk korporat yang hanya mencari untung tanpa mau memikirkan akibatnya pada lingkungan. Dan “kocokan arisan” jabatan menteri di kabinet baru saja menemukan pemenang-pemenang baru serta menyingkirkan para pecundang. Saya tak menonton kabar-kabar via televisi malam ini. Selain karena saya sibuk mengetik naskah ini, juga karena saya tak sedikit pun merasa perlu menyaksikan peristiwa-peristiwa yang hanya akan membuat saya semakin merasa nelangsa hidup di negeri yang orang-orangnya doyan korupsi. Saya sempat menguping warta olahraga, tapi saya kembali tak peduli karena yang saya dengar justru soal kekalahan tim nasional sepak bola Indonesia. Mungkin mereka hanya akan menang jika bertanding melawan kesebelasan hansip tukang intip janda kembang, itu juga kalau para pengurus organisasinya bisa membedakan mana tukang intip dan mana Manchester United.

Saya memang tak pernah berpikir tentang negara. Saya lahir di sebuah negara yang bahkan aturan-aturannya tidak pernah saya ikuti pembuatannya. Negara raib ketika tagihan listrik rumah saya tiba-tiba naik luar biasa padahal saya jarang menyalakan lampu-lampu dan memusuhi televisi. Saya tak bertemu dengan negara ketika, seperti yang sering dikatakan oleh para penerbit buku, harga kertas naik tajam, tata niaga perbukuan berantakan, dan biaya kirim barang via kantor pos ternyata sangatlah mahal. Tapi negara ujug-ujug muncul saat saya harus bikin KTP, bayar pajak, atau balapan dengan konvoi patroli polisi. Ternyata saya, juga Anda tentunya, selalu diintai oleh negara.

Negara ini, setahu saya, bukan keturuan bangsa Arya yang dalam runut silsilah versi Hitler adalah kaum terbaik sejagat raya. Masyarakat di Indonesia lebih mengenal nasi basi daripada Nazi fasis. Galibnya, di negeri ini tak mungkin ada orang berlagak mirip Goebbels yang membakar buku-buku di zaman logo swastika mengalahkan singa Britania. Tapi saya wajib untuk bertanya kenapa sebuah acara diskusi di toko buku saja sampai harus didemonstrasi oleh kelompok yang merasa paling tahu sejarah bangsa? Buat apa si Pam diciduk aparat hanya karena ikut diskusi soal gerakan kiri internasional? Kenapa seorang pemuda yang menulis novel sampai harus dianggap kafir oleh orang-orang yang seagama dengannya? Saya pikir cukuplah lagu-lagu pop patriotic-romantik yang bicara soal “zamrud Khatulistiwa nan elok dan sejahtera”. Biarkan aparat desa saja yang bilang soal “jalan kelurahan segera diaspal” padahal cuma akan ditempeli pasir dan koral. Saya tak merasa perlu ikut-ikutan hipokrit. Entah kalau Anda.

Negara ini kocak, para pemimpinnya sibuk bermimpi, masyarakatnya pura-pura baik, dan semuanya menjemukan. Lantas saya berusaha mencari jalan via hiburan di TV yang katanya bisa melupakan kebosanan kita hidup di Indonesia. Saya tonton Extravaganza dan saya mual: ada yang mencontek acting Jim Carey, ada yang tampak sangat senang menjadi artis, ada yang merampok gaya lelucon Srimulat, sisanya adalah barisan pelawak gagap. Saya pindah saluran, menonton talk show yang kabarnya sangatlah lucu. Ternyata garing. Pun ketika bolak-balik saya diajak kembali ke laptop.

Lalu malam ini saya menyelesaikan tahap akhir penulisan. Awalnya buku ini diniatkan untuk tidak seserius seperti bayangan banyak kawan. Saya menggarapnya hanya karena senang pada apa yang saya anggap punya nilai hiburan. Menulis, buat saya, juga relaksasi. Termasuk untuk lepas dari hal-hal yang saya tulis dalam empat paragraf di atas.

Tapi buku ini juga lahir dari provokasi. Saya adalah korban provokasi beberapa penerbit buku. Bukan kebetulan pula jika mereka adalah kawan-kawan saya sehingga dengan santainya menyuruh saya menulis soal sejarah dan perkembangan penerbitan di Jogja. Isinya diharapkan menjadi semacam gambaran tentang dinamika para penerbit Jogja yang keberadaan dan perbincangannya sudah muncul sejak awal kelahiran mereka. Percakapan dan diskusi-diskusi soal mereka sebelumnya memang banyak muncul dalam berita-berita di media massa, obrolan-obrolan sambil lalu, juga diskusi di berbagai milis perbukuan. Namun sampai kini belum ada buku utuh yang mengungkap ihwal mereka. Kawan-kawan saya yang energi kreatifnya berbanding lurus dengan libido terhadap bini-bini mereka itu merasa semua hal tersebut lebih baik dicatatkan dalam bentuk penulisan buku. Sejak awal saya sadar bahwa kesediaan saya menulis tentang penerbit Jogja berbanding lurus dengan kemungkinan sulitnya saya memposisikan “diri-sebagai-penulis” dan “diri-sebagai-subyek tulisan”. Semoga ketika akhirnya penulisan ini terselesaikan maka belitan tersebut bisa dilepaskan dan posisi saya cukup tampak jaraknya.

Semula agitasi mereka tidak lantas mendorong saya untuk segera menulis. Saya justru mengingat kembali apa yang saya dan kawan-kawan dekat dulu memulainya. Termasuk fase ketika sebuah obrolan ringan yang dilakukan di pinggir Selokan Mataram akhirnya meletupkan gagasan sok keren dalam ungkapan: “Bagaimana kalau kita mendirikan penerbitan?” Secara pribadi, saya selama tujuh tahun menggeluti pekerjaan buku namun tak pernah berpikir untuk mencatatkan pengalaman itu dalam semacam reportase, retrospeksi, kritik-diri, apologi pseudo-ilmiah, ataupun bela diri dan silat lidah. Saya merasa bekerja di dunia buku tidaklah berbeda dengan orang-orang yang berjibaku mencari nafkah dan kepuasan diri di bidang yang lain. Sudah lama saya menganggap bahwa tidak ada yang perlu ditulis-ulang atau dibicarakan tentang kerja penerbitan di Jogja. Kisah-kisah buruknya tercatat dalam memori media, para penulis yang kecewa, penerjemah yang dibayar tidak lumrah, petinggi wacana yang merasa dilangkahi, kaum akademisi yang ilmunya dicuri, juga orang-orang yang mencintai buku tapi menyayangkan kesompralan cara bekerja para penerbit Jogja. Semua itu sudah terekam sebagai kotoran kalkun bertumpuk duri, banyak orang yang sudah mencium baunya, lewat gosip maupun berita, dari kabar burung ataupun laporan cuaca, yang entah pada siapa harus dirunut kebenarannya.

Tak ada maksud saya untuk meluruskan apa yang mucul dalam warta di luar sama. Seperti ingatan saya pada seruputan kopi Mas Arif di rumah Pak Ong sambil menjentik abu sigaret dan berkata: “Ini bukan soal benar dan salah lho, Bung!” Saya menolak caranya mengadopsi gaya sapaan “Bung” ala Tan Malaka rembugan revolusi dengan Djamaludin Tamin, tapi saya bersepakat dengan Mas Arif soal tujuh kata di depan Bung. Pak Ong terkekeh sambil meneruskan kenangan romantiknya pada era pra-JUC. Saya menyabot rokok si pimpinan toko buku dan berpikir: apa yang mesti diluruskan ketika sejatinya kita hidp di kawasan negeri berpagar kapas yang patok-patoknya kebanyakan bengkok, melengkung, patah, dan rubuh. Masih pentingkah seseorang memberitahu yang “katanya benar” di tengah masyarakat yang menyaksikan “katanya salah” nyaris dalam setiap dengus napas berat dan lenguh mulut berbusa peluh? Jari telunjuk itu hanya empat senti dari jempol, dan kita lebih sering memanjakan telunjuk untuk mendakwa daripada mengizinkan ibu jari mengacung tanda apresiasi.

Saya sendiri merasa tidak perlu menambahi daftar teriak para pemberontak, rockstar yang lelah dengan lirik agitatif, seniman kritis yang berkarya secara estetik-argumentatif, juga berkisah soal penerbitan dengan gaya lelakon epos Perang Peloponesos dalam gambaran Thucydides. Cukup Kiansantang yang merasa diri jagoan kanuragan namun berkeringat sebanyak air di kolah mushola hanya untuk mencabut tongkat yang ditancapkan Syekh Ali di Mekkah. Hidup tak selalu harus dianggap sama definitifnya dengan bualan para aktivis bisnis multi-level. Jagat penerbitan di Jogja adalah ruang yang tak harus sama gelapnya dengan kamar cuci-cetak tukang foto keliling, atau sama remangnya dengan warung-warung nafsu di jalan raya sepanjang Indramayu. Mencoba menerangkan yang gelap atau menggelapkan yang terang adalah pekerjaan yang sama mudharatnya dengan guru SD yang menyuruh anak didiknya menghitung jumlah bintang di langit milik Tuhan. Kalau netra hanya sampai di horison, kita tak perlu pura-pura tahu letak ruang ganti tujuh bidadari yang berniat mandi di kali. Dan saya merindukan Bojing yang khatam bicara perihal “proposisi” dan “proporsi” dalam cara ungkap yang melebihi Gorrys Keraf menulis buku Komposisi.

Saya tak tertarik pada lampu pijar bikinan Thomas Alfa Edison yang sekarang faedahnya dirasakan umat sejagat, tapi saya lebih memilih untuk membaca kisah Benjamin Franklin yang hampir mati tersengat petir. Saya tidak menganggap piramida besar di Mesir sebagai karya agung peradaban pra-modern. Segitiga gunung gadungan itu adalah cemooh kaum budak yang ikhlas mengangkat batu-batu seukuran banteng karena mereka senang disuruh membangun kuburan Ramses sang proto-diktator. Saya tidak gumun dengan selebrasi kaum urban hari ini yang melahap buku layaknya gulali impor bernama Wrigley’s. Tapi saya selalu membungkuk seperti samurai ketika saya melihat ibu-ibu di lingkungan kantor penerbitan kawan saya sibuk mengangkat, melipat, dan menyusun kertas hasil cetakan sambil bercanda tentang harga beras yang katanya naik lebih gesit dibanding ongkos pasang togel langganan suami mereka. Kerja buku, setidaknya menurut saya, adalah kolektif bebas-kelas, komune non-dominasi, persekutuan diam-diam, dan ibadah kaum tabah. Demokrasi sudah lama diteorikan, kita tinggal mencari tahu rumusannya dalam diktat-diktat sekolahan atau sajak-sajak Wiji Thukul. Tapi kita bisa langsung merasakan nuansanya jika mau menyaksikan alur kerja buku, bukan dalam konteks produk melainkan pada etos pekerjaan. Mulai sekarang kita sepertinya tidak wajib untuk takjub ketika barang segi empat berbahan kertas atau biasa kita sebut buku itu bisa juga mampir ke tangan lentik Bunga Citra Lestari.

Saya sebenarnya sering malas berbincang dan menulis perihal jagat pustaka yang sering saya kira sangat tinggi dan luar biasa seram. Apalagi saya masih sangat menikmati dunia dalam madat keentengan yang terasa kontras dengan keseriusan lingkungan perbukuan. Wajar kiranya jika saya lebih suka masuk venue macam-macam gig, menyimak album terbaru Children of Bodom, atau silaturahmi ke rumah Pak Dukuh sebagai kedok bagi saya yang tak pernah ikut ronda. Ketika akhirnya saya memulis naskah buku ini, maka alasan saya (kalau memang setiap aktivitas harus punya alasan) adalah ketertarikan personal pada etos kerja para pekerja buku yang setia pada pilihannya. Bukan apa-apa, di luar sana para pemuda hedon lebih banyak dikusi soal Jack Daniels daripada Jacques Derrida. Leher saya pasti menengok ke samping jika di sebelah saya sekumpulan orang sedang bercakap tentang cara menyetrika baju paling mutakhir: lipat di bawah bantal, lalu tiduri sambil bermimpi menjadi model majalah Maxim. Saya menyukai yang sepele tapi gede.

Niat saya semakin kuat karena saya tahu bahwa sebagian besar dari para penerbit itu adalah kalangan muda dengan semangat ala Vasco da Gama yang terus saja mengangkat sauh dan mengarungi semua lautan di dunia. Saya selalu berminat pada orang-orang yang vitalitasnya melebihi takaran obat kuat. Saya juga tahu bahwa basis kemanusiaan mereka tak akan membuat mereka selalu sama hebatnya dengan ekspedisi barbarian bangsa Viking menuju Anglo. Saya sadar bahwa menulis tentang penerbitan Jogja tidak akan menghasilkan bacaan seperti tambo Perang Kartago yang khas para hero di zaman kuno. Kerja buku di Jogja juga ternyata bisa selugu Sayuti, sebingung Paman Kikuk, sedangkal kolom di koran kuning, sekritis Bart Simpson, seberani lirik lagu Teknoshit, serugi PT KAI, seuntung bisnis duren Haji Sanusi, selucu cara jalan Mbok Tenong dari Pasar Kranggan, sepintar Eka Anash meniru dandanan The Strokes, dan sesabar padi yang diperkosa belalang tiap hari. para penerbit Jogja membangun identitas sebanyak jumlah kata dalam kamus Echols-Shadily.

Tidak seperti para penerbit buku itu, saya enggan membicarakan perubahan-perubahan dalam peradaban dunia karena saya justru konsisten menikmati isinya. Bahkan saya tidak setiap saat memeluk buku seperti yang dilakukan kawan-kawan saya yang pintar itu. Saya lebih suka membaca majalah Metal Hammer daripada jurnal politik. Saya lebih memilih untuk meyakini Lennonisme daripada Leninisme. Saya juga malas berbincang tentang Syekh Siti Jenar yang namanya rajin sekali muncul dalam diskusi-diskudi di kalangan penerbitan. Tapi saya lantas mahfum karena dengan segala keterbatasannya para penerbit Jogja sebenarnya telah mengambil-alih beberapa peran negara dalam “memberi makan” warga negara melalui bacaan. Saya juga lalu memaklumi kalau mereka amat sibuk memikirkan dunia penerbitan. Setidaknya begitulah yang saya lihat karena saya pun menjadi bagian dari para pekerja buku di Jogja. Sayangnya, mereka punya banyak problem serius yang bisa menghambat kerja-kerja apik penerbitan.

Lalu, apa yang tidak menarik dari sebuah kota yang menyimpan banyak kisah tentang penerbitan buku? Kisah tentang lahirnya sekian banyak penerbit yang tidak terjadi di kota-kota lain. Fakta tentang keberanian mereka mencetak buku-buku yang susah dijual. Bukti kemunculan orang-orang yang menjadi representasi gerakan estetika sampul buku. Kisah sukses buku-buku Kahlil Gibran pasca-Pustaka Jaya. Heboh nasional akibat efek penerbitan Jakarta Undercover. Cerita unik tentang sebuah penerbit yang dipantau hampir sebulan oleh orang-orang dari partai politik tertentu karena dianggap menerbitkan buku dengan sampul yang membunuh karakter tokoh besar panutan mereka. Kota yang memunculkan sederet penulis muda berdaya ledak tinggi. Fenomena Yusuf Agency yang bikin miris para penerbit dan toko buku. Juga cerita-cerita muram perihal “perang” antara penerbit versus distributor, konflik penerbit versus penulis, intrik antar-penerbit, dan sebagainya.

Di dunia kecil bernama Jogja, penerbitan menjadi medan koalisi dan konfrontasi, kesenangan dan pertengkaran, serta banyaknya silang jalan yang memaksa niat apik harus berpamitan pada deretan angka di kalkulator kusam yang menyeringai sambil berkata: “Masih mau jadi pendekar atau ikut saya di jalur financial?” Hingga hari ini saya masih terus bertanya: untuk apa kita membela sesuatu yang sering kali membuat kita senang dan kecewa, sebanyak peristiwa yang membuat kita tetap melakoninya? Saya, mungkin juga beberapa kawan yang hidup dari dan menghidupi penerbitan, sepertinya punya semacam “keimanan” yang berbeda dari orang kebanyakan. Suatu kepercayaan pada pilihan untuk mengerjakan tugas rumit di jagat buku yang tentu saja menarik tapi tidak menjadi pilihan semua orang. Dari zaman sampul buku mirip gombal rombeng hingga era Rieke Dyah Pitaloka kegirangan di Matabaca bahwa “Dunia Penerbitan Itu, Menggiurkan!” Buku adalah pijakan yang bertumpu pada “pilihan” dan bukan “kewajiban”. Dan bagi para penerbit Jogja, eksistensi tidak butuh sejumlah pasukan.

Memori saya ikut terloncat di depan segelas teh hangat dan batangan rokok yang menemani saya di depan komputer ketika mengetik pengantar ini. Serpihan ingatan berkelojotan di muka saya. Tentang sepuluh tahun kreativitas kawan-kawan saya yang tak bosan mendiami kamar belakang sebuah rumah bernama Indonesia, tanpa tahu kapan mereka bisa duduk di ruang depan sambil menikmati makan malam dengan menu berbahan organik bebas wereng coklat yang diambil dari lumbung padi milik sendiri. Saya selalu ingat pada Brent yang menghisap sisha di Jalan Solo sambil berkata: “That’s irony, fella! But you’ve to do your choosen job. There’s no enemy, just irony.” Tiba giliran Sudjud menghisap, lalu berkisah tentang subkultur pasca-Hebdige dan serangan gadget. Widi minum dan menimpali, “Opo sih bedane royalti buku karo kaset, Dhe? Kok royalti album bandku gak jelas yo!” Saya harap para penerbit buku tetap bekerja, pun ketika tak semua orang memahaminya dan negara masih tak mengindahkannya.

Di titik ketika saya memutuskan untuk meneruskan penulisan buku ini, saya merasa ada banyak hal yang bisa dicatatkan tentang mereka. Penulisan buku ini sudah digagas sejak 2005 ketika beberapa penerbit merasa perlu untuk mengevaluasi dan melihat-kedalam segi-segi penerbitan yang mereka kelola. Namun seperti penyakit saya yang lainnya, saya selalu tidak bisa fokus untuk menggarapnya. Waktu itu saya pikir banyak hal lain yang harus dilakukan daripada menulis kisah tentang orang-orang yang setiap hari mengurusi buku di negeri yang warganya lebih betah nonton sinetron dan enggan untuk menemukan pengetahuan. Seberapa menarik sebuah buku yang isinya ihwal buku bagi masyarakat yang tak dekat dengan buku? Buat apa orang-orang mengetahui perkembangan pabrik-pabrik buku di Jogja sementara perut setiap orang di negeri ini belum terisi karena jatah makan mereka dikorupsi?

Saya akhirnya terlecut untuk merampungkan naskah buku ini, tentunya untuk kepentingan pribadi saya juga. Saya kembali membongkar dokumentasi kliping koran dan majalah yang pernah dikumpulkan, melakukan wawancara dengan para pekerja buku, juga mengutak-atik file naskah awal buku ini yang lama teronggok di komputer. Lalu saya mendatangi orang-orang yang memprovokasi itu, meminta nasihatnya yang kuno dan sangat membosankan, serta merayu mereka untuk membantu proof-reading. Saya menderetkan kembali nama orang-orang yang harus menjadi narasumber penulisan. Beberapa di antaranya cukup membuat saya malas mewawancarainya, bukan karena tak punya waktu melainkan karena dari awal saya tahu cara pandang dan pola pikirnya berbeda dengan saya. Tapi harus memakluminya, toh saya juga bagian dari mereka walau saya letih dengan basa-basi dalam segala bentuk penulisan buku yang harus sering berkompromi dengan pihak-pihak yang ada di dalamnya. Termasuk dalam fase ini adalah intensitas saya berkumpul dengan kawan-kawan dalam lokus “Toga mas School” (in humorous personal relation means, not a kind of publishers serious cluster in town!)

Saya lumayan kesulitan untuk menulis buku ini karena banyak seklai hal yang muncul dan penting untuk disebutkan dari keberadaan mereka. Apalagi dalam beberapa hal perlu memasukkan perkembangan terbaru yang terjadi di Jogja. Tentu saja karena kebaruan aspek-aspek perbukuan serta penerbitan secara umum maupun khusus. Itulah kenapa saya berusaha memadatkannya dengan melihat aspek-aspek yang menonjol dalam dinamika penerbit Jogja, sejak awal kemunculan mereka di era 1990-an, pasca-Soeharto, hingga perkembangan mutakhir mereka tahun 2007. Saya tidak cukup punya daya untuk menuliskannya selengkap sebuah kronik sejarah atau kaleidoskop bahkan eksiklopedia nan komprehensif. Buku ini mungkin bukan proyek dokumentasi yang mumpuni melainkan lebih tampak sebgai semacam catatn untuk kepentingan refleksi dan progresi kolektif penerbit buku di Jogja. Tentu saja publik umum bisa ikut menikmatinya sebagai pengetahuan tentang kisah sebuah kawsan perbukuan yang menjadi bagian dariindustri penerbitan di negeri ini.

Nyaris setiap hari saya masih bertemu dengan mereka: para penerbit buku di Jogja yang selalu sibuk dengan ide penerbitan di otaknya, sebanyak jumlah angka dan hitungan uang yang berputar di pikiran mereka. Saya menyaksikan kawan-kawan dengan semangat dan kerja yang luar biasa. Buku-buku baru menggelontor dari kamar-kamar produksi serupa botol-botol C4 yang diimpor untuk adonan bom. Para pemasar bersaing dengan becak-becak es krim Wall’s yang berkeliaran di setiap sudut kota. Para penggagas tema terbitan adalah Dr Faust yang sibuk mengaduk pengetahuan. Sementara penata acara-acara pameran buku bekerja selincah para mekanik Williams Renault. Dunia buku sepertinya tak pernah menemukan ujung di Jogja. Bahkan mungkin kota ini bisa mati jika urat penerbitan tidak lagi berdenyut. Saya menyaksikannya dan mengagumi mereka sepenuh rasa hormat saya. Kalaupun kelak saya akan menulis lagi, saya enggan menulis obituari.

Dengan segala keterbatasannya semoga buku ini bisa bermanfaat untuk siap pun yang merasa perlu tahu tentang jagat buku dan penerbitan di Jogja. Khususnya tentang para penerbit Jogja generasi 1990-an dan pasca-Soeharto. Saya menuliskannya, silakan Anda semua membacanya tanpa pernah merasa diajari oleh saya.

Jogja, Mei 2007

Pengantar Adhe Maruf untuk buku karyanya yang berjudul Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007)

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai