10 September 2017

Kisah Asisten Rumahtangga




Satu keluarga Amerika Serikat melakukan perjalanan panjang ke Iran. Mereka hendak mencari keluarga mantan pembantu rumahtangganya. Sentimen antar kedua negara mewarnai perjalanan, namun berkat rasa rindu yang dalam, akhirnya mereka berhasil bertemu dengan apa yang mereka tuju. Terence Ward, salah satu anak keluarga Amerika tersebut, menuliskan kisah perjalanan itu dalam buku The Hidden Face of Iran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari judulnya aslinya Searching for Hassan: a journey to the heart of Iran.

Pertemuan dua keluarga beda negara yang telah dipisahkan waktu selama lebih dari 29 tahun berlangsung mengharukan. Kemesraan kemanusiaan menyengat dari perjumpaan itu. Dalam satu fragmen, Terence Ward menuliskan percakapannya dengan Hassan, pembantu yang pernah menemaninya tumbuh ketika ia tinggal di Iran.

“Bahkan orang yang bersaudara pun tidak akan melakukan apa yang kalian lakukan. Aku menceritakan ini kepada salah seorang temanku, dan dia merasa terharu. Aku mengatakan kepadanya bahwa tiga puluh tahun yang lalu, aku bekerja untuk ibu dan ayahmu, dan mereka pergi ke tempat yang jauh. Lalu, mereka kembali, melewati lautan dan melintasi gurun. Aku mengatakan padanya bahwa cuaca sangat panas, gurun sangat panas, dan mereka tetap datang. Dia berkata, ‘Oh, aku tak bisa memercayainya,’” ujar Hassan.

Mojezeh, Fatimeh (istri Hassan) mengatakannya kepadaku kemarin,” sambungnya.

“Apa maksudnya?” Tanya Tery (panggilan akrab Tertence Ward)

“Sama seperti ketika seorang pria meninggal dan Isa menghidupkannya kembali, inilah mojezeh.”

“Bangkit dari kematian?”

“Ya.”

“Aku merasakan bulu kudukku meremang. Hassan menatap mata kami,” sambung Tery.
Kemudian Hassan berkata, “Dalem barayeh shoma tang meshavad, aku benar-benar merindukan kalian.”

Pembantu rumahtangga (PRT) atau sekarang sebagian orang menyebutnya asisten rumahtangga (ART), kerap mewarnai perjalanan hidup sebuah keluarga. Profesi yang bersentuhan langsung dengan lingkungan keluarga tersebut tak jarang melampaui sekadar transaksional ekonomi. Dari ijab ini, dalam perjalanannya sering kali ada ikatan emosional yang dalam. ART tak jarang dianggap sebagai keluarga sendiri, seperti yang ditulis Terence Ward di atas.

Karena keunikan hubungan ini, profesi ART sering melahirkan kisah yang tak sederhana. Di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Kota Bandung dan sekitarnya, kisah hubungan ART dan keluarga tempat mereka melakukan kewajibannya—kecuali kekerasan dan tindak kriminal lainnya, jarang diangkat ke permukaan. Untuk mengisi kekosongan itulah kisah ini dituliskan.

Ropiatu Jaliah yang akrab dipanggil Oppi, adalah seorang ibu muda yang bekerja di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Ia tinggal di Rancaekek. Sekali waktu ia kelimpungan karena ART-nya pergi tanpa pesan. Suatu hari, Umi—nama ART-nya, tidak muncul. Yang datang malah ibunya Umi dan mengabarkan bahwa anaknya tidak bisa bekerja seperti biasanya karena kabur ke Tasikmalaya. Umi pergi karena tidak mau dijodohkan dengan teman bapaknya.

Sebagai seorang blogger, Oppi kemudian curhat, menuliskan kejadian tersebut.

“Satu bulan yang lalu adalah termasuk masa-masa kelam aku sekeluarga, karena kita semua tiba-tiba ditinggal Umi pergi. Pergi begitu saja, tanpa alasan tanpa sepatah kata pun. Cuma lewat ibunya yang datang pagi itu memberi kabar kalau Umi kabur dari rumah. Ouch! Kita semua shock,” tulisnya di laman blog opipolla.com yang bertitimangsa 14 September 2016.

Oppi telah dua kali ganti ART. Umi adalah yang kedua, dan telah bekerja selama dua tahun. Umi seperti juga pendahulunya, tinggal tidak jauh dari rumah Oppi. Ia bekerja dari pagi sampai petang, sampai Oppi dan suaminya pulang kerja. Dihubungi via salah satu aplikasi pesan, Oppi mengatakan bahwa ia dan keluarga, dalam keseharian sudah dekat dengan Umi. Rasa rikuh hampir tidak ada. Oppi juga kenal dan dekat dengan orangtua Umi. Maka ketika Umi pergi, Oppi sangat kaget.

You know kan ya mencari dan mengganti nanny itu ga semudah ganti baju. Tinggal lep. Ngga. Apalagi nanny yang sudah ikut kita selama dua tahun lamanya dan mengurus Endo sejak dia usia empat bulan. Umi udah kaya ibu keduanya Endo. Umi sudah masuk ke list orang yang Endo sayangi dan salah satu sumber kebahagiaan Endo. Iya, Endo tanpa Umi sudah kaya ambulance tanpa uwiw uwiw. Sepi,” sambungnya.

Kedekatan Umi dengan Endo (anak Oppi) dikisahkannya dengan liris. Setiap kali bangun dari tidur, Endo mencari Umi. Bocah itu mencarinya ke dapur, kamar setrika, dan berakhir melamun di jendela sambil menangis. Ia menunggu Umi, pengasuhnya yang telah pergi ke Tasikmalaya.     

Awalnya Oppi mau mencoba menyusul Umi ke Tasikmalaya, namun ia dan ibunya Umi tak tahu alamat lengkapnya. “We had no clue,” tulisnya. Ia akhirnya hanya bisa menunggu, siapa tahu Umi akan balik. Namun setelah cukup lama Umi tak juga kembali. Oppi akhirnya memutuskan untuk mencari pengasuh lain.

Tulisan yang diberi tajuk Umi Pergi itu mendapatkan respon dari para pembaca yang hampir semuanya pernah mengalami apa yang menimpa Oppi.

“Saya juga sudah pernah dua kali ditinggal pergi pengasuh anak. Sedih dan BT-nya memang bikin putus asa banget. Semoga si Bami (ART barunya) beneran lebih baik dari Umi ya,” tulis seorang pembaca bernama Tatats.

Sementara pembaca lain yang bernama Eva Sri Gustiya menulis, “Baca tulisan Oppi, aku merasa bersyukur mertua bersedia mengasuh, walaupun kadang dibawa mawa gas, balanja ka langgan, dibawa ka sakola, hahahaha... Racing pisan weh.”

***

Joko Suseno, seorang bankir di salah satu bank swasta nasional punya kisah yang agak berbeda degan Oppi. Ia tinggal di Jalan Haji Gofur, perbatasan Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Istrinya sekantor dengan Oppi. Ia telah berganti ART sebanyak tiga kali. Meski ia dan keluarga kecilnya dekat dengan ART, namun tak ada yang bertahan lama.

“Nya, paling lila dalapan bulanlah,” ujarnya via WhatsApp.

Para ART yang bekerja di rumah Joko semuanya berasal dari salah satu kabupaten di Jawa Barat. Mereka berhenti bekerja dengan alasan yang sama, yaitu hendak menikah lagi. Ya, ART yang bekerja di rumah Joko memang semuanya janda. 

Joko menambahkan bahwa yang paling utama dari kehadiran ART bagi keluarganya adalah membantu pekerjaan rumah. Ia dan istrinya yang seharian bekerja di kantor kerap sudah kelelahan ketika pulang ke rumah.

Sejak ART terakhir keluar, anaknya yang masih kecil dijaga oleh mertuanya. Kini ketika mertuanya sudah meninggal dunia, pekerjaan rumah dan menjaga anak dilakukan oleh adik mertuanya.    

***

“Dari tiga kali ganti, ada yang paling deket sampai kenal dengan keluarganya. Kalau pulang kampung dianterin balik ke Cimahi sama keluarganya dan dibawain oleh-oleh dari kampung yang buanyaakkk banget,” ujar Elisabeth Hennida, warga Kebon Kopi, Cimahi.

Ia biasa dipanggil Ibeth. Menurutnya, para ART yang bekerja di rumahnya berasal dari Purwokerto dan Cianjur. Salah satunya pernah bekerja sampai lima tahun. Namun kini ketiganya sudah keluar dengan alasan mau menikah.

“Mereka memang masih muda-muda,” tambahnya.

Kini Ibeth dan keluarganya mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah.
***
Fina Bhakti Pertiwi kini tinggal di Sukabumi. Sebelumnya ia pernah bermukim di Sarijadi, Bandung. Dalam dua puluh bulan, ia telah berganti ART sebanyak delapan kali.

“Ada yang baru kerja dua minggu tapi sudah keluar,” katanya.

ART yang bekerja di rumahnya berasal dari Ciamis, Banjar, Banjar Sari, Tasikmalaya, dan Bandung.

Ketika ia dan suaminya masih bekerja, pergantian ART ini tentu sangat merepotkan. Anaknya masih kecil, sementara pekerjaan tak bisa berlama-lama ditinggalkan. Setiap kali ART-nya keluar, ia didera stres. Selain itu, pernah sekali dua ia mendapatkan ART yang masih muda. Ia sering mendapati ART-nya lebih sibuk bercakap di telpon dengan pacar dibanding mengerjakan kewajibannya.

Alasan ART-nya keluar cukup beragam: hendak menikah, disuruh pulang oleh suami ART, mau ngurus anak, mau kerja di toko, sakit, sampai ada yang merasa takut karena konon melihat hantu.

Semua ART yang bekerja di rumahnya digaji tak kurang dari satu juta rupiah. Jika mereka hendak pulang kampung, Fina memberinya ongkos pergi-pulang. Selain itu, ia pun membelikan keperluan kosmetik para ART-nya. Namun apa yang diberikannya ternyata tak mampu menahan para ART untuk pamit berhenti bekerja.

***

Setelah ditinggal para ART—kecuali Oppi—Joko, Ibet, dan Fina, meski tak melakukan perjalanan seperti keluarga Terence Ward, semuanya mengaku kadang masih berhubungan via telpon dengan beberapa mantan ART-nya.

“Say hello saja,” ujar Fina.

Kisah beberapa keluarga di Bandung Raya dengan asisten rumahtangganya, setidaknya seperti yang dipaparkan di atas, mencuatkan sebuah kesadaran tentang liku keinginan manusia. ART meski bekerja di sektor informal dan kerap dipandang sebelah mata, tetap seperti orang kebanyakan: ia punya hasrat membangun keluarga, menaikkan derajat hidup, dan punya persoalan pribadi yang rumit.

Secara kebetulan ART dalam bahasa Inggris artinya seni. Dalam konteks ini, kiranya tak berlebihan jika ART dan segala persoalannya adalah seni. Ya, seni memahami dan memperlakukan manusia.

Dalam penutup buku catatan perjalanannya Terence Ward mengutip Rumi:

“Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah, tersebutlah sebentang tanah. Aku akan menemuimu di sana.”

Menemui di mana? Barangkali di tanah yang bernama kemanusiaan. (preanger.id -irf)

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai