10 September 2017

Jejak Atheis di Kota Bandung




“Rumah Kartini sekarang sudah jadi tempat berjualan obat perkasa!” ujar seorang kawan sebelum tawanya pecah. Ia bersama seorang kawan yang lain baru pulang menyusuri rumah para tokoh rekaan dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja.

Bandung telah lama menjadi melting pot berbagai suku bangsa, agama, dan pemikiran. Zonasi klasik terkait pemukim dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Orang-orang Belanda dan Eropa mayoritas ditempatkan di sebelah Utara, masyarakat Timur Jauh (Arab, Tionghoa, Pakistan, India) berkumpul di sekitar rel kereta api, dan inlander alias warga pribumi ditempatkan di selatan.

Para tokoh perintis kemerdekaan dan tokoh nasional lainnya banyak yang pernah bermukim di Kota Bandung. Mereka menuntut ilmu, membibit gerakan politik, berdakwah, dan menggodok bakat intelektualnya di sini. Sekadar contoh, ada Tan Malaka, Sukarno, Sosrokartono, Natsir, Sjahrir, Dewi Sartika, Ernest Douwes Dekker, A. Hasan, dll. Kiprah dan jejak mereka terhampar di buku-buku dan menjadi bagian dari semesta sejarah Kota Bandung.      

Memoar ditulis, novel dibikin. Beberapa di antaranya berlatar Kota Bandung, yang menjadikan kota ini semakin kaya dengan tinggalan teks yang menjerat kisah dan peristiwa masa lalu yang berdenyut seiring dinamika kota.

Novel Atheis mula-mula terbit pada tahun 1949. Achdiat K. Mihardja, sastrawan kelahiran Cibatu, Garut, mendedahkan sebuah melting pot pemikiran di kalangan para pemuda Kota Bandung yang menyeret beberapa tokoh utamanya ke dalam tragedi kemanusiaan yang menggiriskan.

Sabtu, 29 Juli 2017, Komunitas Aleut menggelar kegiatan rutin dengan tajuk “Kelas Literasi pekan ke-103: Atheis”. Acara diskusi selo tapi gak selo-selo amat itu mencoba menyigi novel Atheis yang sudah berusia 68 tahun ke hadapan para pembaca muda, generasi millennial yang doyan mewedarkan kehidupannya di IG story. Keesokan harinya, mereka juga Ngaleut (acara menelusuri jejak sejarah yang telah diadakan lebih dari satu dasawarsa) dengan tema yang sama.

Rumah Kartini beralamat di Jl. Lengkong Besar 27, Rusli di Jl. Kebon Manggu 11, dan rumah bibinya Hasan di  Sasakgantung 18. Nama-nama itu adalah tokoh utama dalam novel Atheis. Rute yang dilalui para pegiat Komunitas Aleut dengan berjalan kaki tidak hanya tiga tempat itu saja, namun melintas juga ke Jl. Suniaraja, Jl. Otista, Jl. Dalem Kaum, dll, disesuaikan dengan peristiwa kejadian yag ditulis Achdiat.

Hasan adalah pemuda alim dengan keyakinan puritan. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang taat menjalankan segala perintah dan larangan agama Islam. Setelah lulus dari MULO Bandung dan mulai bekerja di Jawatan Air Kotapraja, ia mendalami ilmu agama dengan belajar tarekat seperti yang dianut oleh kedua orangtuanya.

Sekali waktu ketika ia tengah bekerja, datanglah Rusli dan Kartini yang hendak mengurus pemasangan air ke kantornya. Rupanya Hasan dan Rusli adalah kawan karib ketika kecil, saat mereka sekolah di HIS Tasikmalaya.

Pertemuan Hasan dengan Rusli dan Kartini menjadi awal tragedi. Dalam perjalanan pergaulannya, pemuda puritan itu mengalami gegar pemikiran. Ia yang dibesarkan oleh kedua orangtuanya dengan cara dogmatis, sedikit demi sedikit mulai goyah. Sikap dan pemikiran Rusli, Kartini, beserta kawan-kawannya tentang Tuhan dan zat non materi lainnya, membuat Hasan meraba pedalaman hatinya.

“Kita harus pandai meneropong soal-soal hidup itu dengan akal dan pikiran yang bebas lepas. Pikiran dan penglihatan kita tidak boleh dikaburkan oleh fanatisme atau dogma,” ujar Rusli.

“Tuhan itu tidak ada. Yang ada ialah teknik. Dan itulah Tuhan kita! Sebab tekniklah yang memberi kesempatan hidup kita. Tuhan hanya alat bagi orang-orang yang percaya kepadanya. Alat yang katanya memberi keselamatan dan kesempurnaan kepada hidup manusia. Begitu pula teknik bagi kami. Alat yang memberi kesempurnaan bagi hidup manusia. Dus apa bedanya? Tak ada toh selain yang satu lebih nyata, lebih konkret daripada yang lain,” ujar Bung Parta (kawan Rusli) dalam sebuah pertemuan di rumah Rusli.  

Mulanya Hasan mencoba bertahan dengan apa yang selama ini ia yakini, namun karena pergaulannya cukup intens, maka benteng keimanannya akhirnya jebol. Pada satu kesempatan ketika ia pulang kampung ke Garut, Hasan berdebat dan bertengkar hebat dengan ayahnya terkait agama dan keyakinan. Mereka akhirnya berpisah jalan.

Di akhir kisah, Hasan bangkrut! Hubungan dengan ayahnya tak kunjung membaik sampai ajal menjemput. Kartini, yang telah menjadi istrinya, memilih bercerai akibat badai pertengkaran yang kian menghebat. Hasan sendiri menjadi amat ringkih, TBC merajalela memangsa paru-parunya.

Tema dalam novel ini tentu sangat sensitif, apalagi kiwari hampir segala isu sosial kerap dilekat-lekatkan dengan agama. Masyarakat yang terbelah pasca pemilihan presiden 2014 terus-menerus berkubu, saling serang di media sosial, dan palagan kerap mengintai di setiap Pemilihan Kepala Daerah.

Menanggapi hal ini, Rulfhi Alimudin Pratama, Koordinator Komunitas Aleut menjelaskan, bahwa apa yang dikerjakannya bersama kolega adalah dalam rangka memperkaya perspektif sejarah Kota Bandung. Ia juga mengatakan bahwa sudut pandang Komunitas Aleut bukan hendak menyebarkan atheisme, melainkan memotret dan mengangkat satu peristiwa dalam lintasan zaman, tentang Kota Bandung yang menjadi tempat bauran pemikiran berbagai kalangan.

“Selain ingin mengenalkan ulang karya sastra klasik, diangkatnya buku ini dalam kegiatan Komunitas Aleut adalah agar masyarakat tidak terpaku hanya kepada buku-buku sejarah, karena ternyata dalam karya sastra pun Kota Bandung kerap hadir sebagai latar kisah,” ujarnya menambahkan.

Novel Atheis pernah diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sjumandjaja pada tahun 1974, dan dibintangi oleh Deddy Sutomo, Christine Hakim, Emmy Salim, Farouk Afero, maruli Sitompul, dan pemeran lainnya. Rencananya film ini akan diputar juga oleh Komunitas Aleut pada hari Selasa (1/8/2017), namun ternyata rencana tersebut gagal karena kualitas film tersebut, yang hanya tersedia di youtube, secara gambar dan suara sangat jelek.

Sebagai gantinya, menurut penuturan Ariyono Wahyu Widjajadi, koordinator Bioskop Preanger (divisi film Komunitas Aleut), film Atheis diganti oleh film Offside.

“Ya, karena gambar dan suaranya jelek, akhirnya kami ganti dengan (film) Offside, melanjutkan tema sepak bola seperti minggu-minggu sebelumnya,” ujarnya dengan wajah terlihat murung. Barangkali seperti itulah wajah Hasan ketika ia pulang ke Bandung pasca pertengkaran penghabisan dengan ayahnya. (preanger.id - irf)

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai