29 July 2017

Mereka yang Tak Bisa Nonton Persib di Stadion




Sore itu deru rombongan pengendara motor terdengar mendekat. Tak lama kemudian mereka melintas di Jalan Solontongan sambil membentangkan syal biru bertuliskan Persib. Saya tengah duduk di depan sebuah kedai kopi, Kedai Preanger, menunggu siang cepat berlalu.

“Pukul berapa sekarang?” tanya Iwang sambil mendekat. Karyawan sebuah lembaga bimbingan belajar itu tak sabar menanti jam menyentuh angka 18.30. “Lama betul Magrib datang,” sambungnya.

Saya dan Iwang tak bisa nonton di stadion Gelora Bandung Lautan Api. Tiket terlampau mahal, dan bagi dia pekerjaan tak bisa ditinggalkan.

Sebetulnya hasrat menonton langsung Persib di stadion sudah jarang singgah. Apalagi Persib mainnya sedang butut. Tapi malam ini lawan Persija. Seteru dari ibu kota yang wajib dikalahkan. Tensi tinggi sudah menguar dari kemarin.

Setengah jam jelang kick-off, saat jalanan mulai lengang, seorang kawan datang. Saya memanggilnya Akay. Ia baru selesai mengantarkan kerupuk udang ke warung-warung di penjuru Kota Bandung. Saat singgah di Cigondewah, ia melihat rombongan bobotoh tengah berkumpul di depan sebuah kedai kopi dan hendak menuju ke stadion.

“Dari atas jembatan penyeberang jalan tol, tadi sekitar pukul dua, saya melihat rombongan bobotoh dari luar kota sudah berdatangan. Di perempatan Buahbatu pun tadi pas saya berangkat sudah ramai. Biru. Di mana-mana biru,” ujarnya.

Sima aing sima maung/ Maung aing maung Bandung/ Loyalitas ulah tanggung/ Nu di kota nu di kampung/ urang dukung Persib Bandung!

Tiba-tiba lagu itu diputar oleh Aip dengan begitu keras. Kontributor salah satu portal berita nasional itu meninggalkan laptopnya, berdiri, lalu bernyanyi sambil bergoyang. Barangkali karena mendengar lagu, seorang penjual bakso berhenti meminggirkan gerobaknya dekat kios rokok, lalu mendekati kami.

“Sudah main, ya?” tanyanya dengan logat Jawa yang cukup kental.

“Belum, Mas. Sebentar lagi,” jawab saya.

Usianya mungkin sudah kepala enam. Kami pun tak pernah tahu namanya. Juga entah berasal dari daerah mana. Logat Jawa-nya kerap tiba-tiba terdengar di dekat pintu kedai saat kami nonton Persib lewat televisi 21 inci. Ia tak pernah masuk kedai, hanya berdiri di dekat pintu sambil sesekali mengawasi gerobak baksonya. Kalau Persib kalah, ia pamit menuju gerobaknya sambil menggerutu.

Sepuluh menit jelang wasit meniup peluit pertandingan babak pertama, satu persatu kawan-kawan yang lain mulai berdatangan. Sementara di kios rokok yang jaraknya hanya sepuluh langkah dari kedai; tukang becak, sales roti, dan pegawai laundry telah siap menyaksikan laga panas.

Buru atuh, lila!” (Cepat dong, lama!) Bentak seorang kawan sambil melemparkan botol kosong air mineral kepada komentator yang asyik berceloteh di televisi. Vokalis band punk yang telah kenyang manggung di GOR Saparua itu tak lagi jatmika seperti biasanya. Ia yang mengidap wajah tenang hampir sepanjang hari, mulai meledak-ledak.

Dan peluit tanda pertandingan dimulai pun berbunyi.   

Anteneuna gésérkeun kurang alus!” (Antenanya geserkan gambarnya kurang bagus!) perintah Akay kepada Iwang yang duduk dekat antena.

Sembilan orang di dalam kedai, satu orang di luar dekat pintu. Wajah-wajah tegang dan maras. Teriakan bersahutan. Tiga nama binatang sudah diabsen, plus nama makhluk yang tidak sudi bersujud kepada Adam.

Orang Bandung Menonton Lewat TV

Bandung di hari saat Persib main serupa kaki dibenam lanyau. Orang-orang terburu meninggalkan aktivitasnya. Yang tak bisa datang ke stadion berkerumun di depan televisi: di pangkalan ojek, kios rokok, kedai kopi, ruang tunggu terminal, jongko tukang cukur, dll.

Warga Bandung yang tak tertarik dengan Persib kiranya ada tiga golongan: pendukung klub lain, darahnya kurang biru, dan orang-orang yang menganggap sepakbola sebagai bentuk tribalisme yang harus dihindari. Sementara golongan yang kerap mengutuk Persib jika bermain jelek, dan berulang-ulang berkata malas nonton lagi, tak pernah benar-benar bisa meninggalkan pertandingan.

7 November 2014, saat Persib tampil di final Indonesia Super League melawan Persipura, sedari siang menjelang sore jalanan Kota Bandung mulai terlihat lengang. Nonton bareng digelar di setiap penjuru kota. Kerinduan akan juara yang telah absen 19 tahun dari bumi Pasundan membuat kota seakan lautan dinamit. Kalah atau menang akan membuat kota meledak.

Bersama seorang kawan saya tergesa menuju balai kota. Motor yang kami tunggangi menggilas jalanan yang senyap. Macet yang tiap sore hadir dengan wajah menyebalkan sore itu lenyap. Seisi kota tenggelam dalam ketegangan yang terus memuncak dari detik ke detik. Ketika tendangan Ahmad Jufriyanto mengoyak gawang yang dijaga Dede Sulaiman, Bandung pecah!

Malam tadi, Persib ditahan imbang. Kali ini gol Ahmad Jufriyanto tak berhasil mempertahankan kegembiraan bobotoh. 90 menit plus waktu tambahan yang dipenuhi teriakan, umpat, serapah, dan nyanyian dipungkas oleh murung berjamaah.

Persija bermain dengan kesiapan bertarung yang nyaris sempurna. Macan Kemayoran tak goncang oleh gol cepat Ahmad Jufriyanto, tidak juga oleh teror ribuan bobotoh. Alih-alih membuat mental merosot, lemparan botol dari para bobotoh justru dimanfaatkan oleh para pemain Persija untuk men-delay permainan. Bobotoh semakin kesal. Cukup jelas siapa yang akhirnya keteteran sendiri oleh perang mental itu.

Gagal meunang deui wae, anjir (Gagal menang lagi),” ujar Akay.

"Kumaha rek meunang? Persib maena butut jiga beungeut maneh! (Gimana mau menang? Persib mainnya jelek seperti wajahmu itu)," sambit kawan yang lain.

Kawan-kawan terlihat lesu. Tukang becak, sales roti, dan pegawai binatu membubarkan diri dari kios rokok sambil mengemasi kekecewaan, dengan mulut yang penuh gerutu. Tadi malam, Persija cukup berhasil membuat orang-orang Bandung manyun. (tirto.id – irf/zen)

Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 23 Juli 2017

22 July 2017

Napak Tilas Jalur Sepur Menuju Pangandaran



Sekelompok anak muda hendak berlibur ke Pangandaran. Dari Ciamis, mereka menumpang angkutan umum menuju stasiun Banjar, daerah perbatasan dengan Jawa Tengah dan menjadi pintu gerbang utama jalur lintas selatan. Saat kereta tiba di tujuan, perjalanan berlanjut melewati bentang alam.

Empat terowongan dilewati, beberapa jembatan dilalui, dan Samudera Hindia menyambut kedatangan kereta di Pangandaran. Yaps, mereka menikmati jalur Banjar-Cijulang yang telah lama mati. Ahmad Bakri merekam jalur yang kadang disebut 'BanCi' itu dalam Rajapati di Pananjung, sebuah novel berbahasa Sunda yang mula-mula terbit pada 1985.

Jalur kereta api Banjar-Cijulang terbentang lebih dari 82 kilometer. Staatsspoorwegen, sebuah perusahaan kereta api di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, mula-mula membangun jalur Banjar sampai Kalipucang yang diresmikan pada 15 Desember 1916. Proyek itu berlanjut dengan membuka jalur Kalipucang yang berakhir di Cijulang, dan diresmikan pada 1 Januari 1921, demikian tulis Sudarsono Katam dalam Kereta Api di Priangan Tempo Doeloe (2014),

Ada 6 stasiun—Banjar, Padaherang, Kalipucang, Ciputrapinggan, Pangandaran, Parigi, Cijulang—dan 16 halte yang dilalui oleh jalur ini. Ke-16 halte itu adalah Batulawang, Gunungcupu, Cikotok, Sukajadi, Banjarsari, Banjarsari Pasar, Cangkring, Cicapar, Kedungwuluh, Ciganjeng, Tunggilis, Sumber, Cikembulan, Cikalong, dan Cibenda. Mereka memanjang ke selatan, menuju pantai dan debur ombak Samudera Hindia.

Jalur ini tergolong berat sebab mesti melalui perbukitan dan lembah-lembah yang dalam tetapi menampilkan lanskap menawan. Empat terowongan dari jalur ini—Hendrik (105 meter), Juliana (147 meter), Philip (281 meter), dan Wilhelmina (1.116 meter)—ialah terowongan kereta api terpanjang di Pulau Jawa.

Persaingan moda transportasi darat dan kerugian yang kerap dialami PT Kereta Api Indonesia menjadikan jalur ini menemui ajal. Pada 1 Februari 1982, jalur Banjar-Cijulang resmi ditutup. Pada 1998, ketika rakyat Indonesia terbebas dari rezim Soeharto, banyak rel yang dicuri dan muncul bangunan permukiman warga di atas areal rel kereta api.


Rencana Menghidupkan Jalur Rel Pangandaran

Saya menelusuri sebagian jalur ini, dari Cijulang sampai Banjarsari, pada akhir 2015. Kecuali stasiun Pangandaran yang relatif masih utuh, banyak stasiun dan halte tak bersisa; kalau pun masih ada, tak lebih dari reruntuhan lapuk yang sulit diidentifikasi sebagai bekas stasiun dan halte.

Meski kondisinya memprihatinkan, warga di sekitar stasiun dan halte masih mengingat jejak moda transportasi tersebut. Banyak warga di sekitar jalur rel, yang lahir setelah tahun 1982, mendengar kisah dari para orangtua ihwal jalur Banjar-Cijulang.

Pangandaran telah lama jadi sebuah kabupaten mandiri dan berkembang cukup pesat terutama di sektor pariwisata. Jumlah pengunjung setiap akhir pekan dan libur panjang, seperti Lebaran kemarin, kerap bikin kemacetan sangat panjang.

Oji, juru parkir di sebuah minimarket di Jalan Kidang Pananjung, mengatakan pada puncak kunjungan libur lebaran, antara 27 dan 29 Juni lalu, kemacetan mengular puluhan kilometer.

“Banyak pengunjung yang akhirnya putar balik dan kembali ke kotanya masing-masing,” ujarnya.

Bahkan, menurutnya, dari pintu gerbang utama ke Pantai Barat dan Pantai Timur, para pelintas harus menghabiskan waktu sekitar 2 sampai 3 jam.

“Kasihan, banyak yang enggak jadi main di pantai,” ujar Oji.

Kondisi ini tentu membutuhkan solusi yang cepat demi mendukung laju ekonomi Kabupaten Pangandaran. Transportasi kereta api sangat mungkin bisa memecahkan masalah tersebut.

Pengaktifan kembali jalur kereta api Banjar-Cijulang sebenarnya sudah lama diwacanakan, dan ada rencana akan dimulai pada 2020.

Darma Widjaja, Kepala Bidang Perhubungan Dinas Pekerjaan Umum Perhubungan Komunikasi dan Informatika Pangandaran, mengatakan pihak Kementerian sedang menyusun apa yang disebut Detail Engineering Design dan Feasbility Study, sementara dinas provinsi tengah mengkaji dampak sosial dari proyek tersebut.

“Stasiun kereta api lama, yang dulu pernah dijadikan aktivitas, rencananya akan direnovasi dan difungsikan kembali menjadi angkutan kereta wisata,” ujarnya.

Soal wacana ini, warga yang saya datangi, termasuk yang rumahnya di atas areal bekas rel, menyambut baik rencana tersebut. Ini cukup menarik karena di beberapa jalur mati lain, seperti jalur Bandung-Ciwidey, warga justru khawatir jika jalur ini dihidupkan kembali.

“Di sini bekas Stasiun Ciputrapinggan. Persis yang sekarang menjadi rumah saya,” ujar seorang ibu.

Di areal bekas halte Cikembulan, Cibenda, Tunggilis, dan Ciganjeng, warga berkata hampir seragam. “Pada dasarnya kami tahu yang kami tempati ini tanah milik PJKA. Kalau suatu saat mereka mau pakai, ya kami harus pindah,” ujar seorang bapak setengah baya di Cikembulan.

Warga dari Cijulang sampai Banjarsari bahkan menuntun saya untuk menunjukkan bekas stasiun dan halte kereta api, dan beberapa di antara mereka mengantar saya ke lokasi.

Beberapa lokasi wisata di Kabupaten Pangandaran yang populer—seperti Pantai Barat, Pantai Timur, Cagar Alam Pananjung, Batu Hiu, Batu Karas, Citumang, Santirah, dan Green Canyon—tidak terlalu jauh dari jalur kereta api Banjar-Cijulang. Mengingat moda transportasi udara belum bisa digunakan untuk angkutan massal, dan jalan raya sebagai jalur mobil serta sepeda motor kerap kepayahan menanggung beban tinggi volume kendaraan, menjadi makin relevan bila jalur kereta api Banjar-Cijulang dihidupkan kembali. (tirto.id - irf/fhr)

Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 15 Juli 2017

Mang Koko Mengabadikan Hijrah Siliwangi dan Tragedi DI/TII




Pada suatu pagi di pekarangan rumah, seorang ibu tengah memungut bunga tanjung yang jatuh berserakan. Ibu itu tengah mengandung, lalu tiba-tiba datang kabar bahwa suaminya, yang ikut operasi pagar betis mengepung gerombolan DI/TII, ternyata tewas. Ketika jenazah sang suami datang, ia menangis pilu tak tertahankan. Waktu jenazah hendak dibawa ke kuburan, ia teringat bunga tanjung yang dipungutnya. Lalu rangkaian bunga itu dikalungkan di atas keranda sang suami sebagai tanda kasih penghabisan.

Fragmen kisah tersebut ditulis oleh Mang Koko dalam lagu Kembang Tanjung Panineungan. Lagu itu mengabadikan dengan begitu pilu ceceran kisah dari masa-masa ketika revolusi masih menentukan banyak hal di negeri ini.

Koko Koswara atau lebih dikenal dengan panggilan Mang Koko lahir di Indihiang, Tasikmalaya, pada 10 April 1917. Ia adalah maestro karawitan Sunda. Karya-karyanya terpatri di hati masyarakat Sunda, dinyanyikan di sekolah-sekolah, acara pernikahan, dan peringatan hari kemerdekaan.

Mang Koko juga menulis banyak hal, tiga di antaranya terkait dengan peristiwa sejarah perjalanan bangsa. Ia mengenang para pahlawan kemerdekaan, peristiwa hijrah Divisi Siliwangi, juga pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo yang banyak melibatkan rakyat.

Kisah hijrahnya Divisi Siliwangi memang terpatri secara khusus dalam ingatan kolektif rakyat Jawa Barat. Ketika perjanjian Renville digelar di Teluk Jakarta pada 17 Januari 1948, dan hasilnya mengharuskan pasukan republik mengosongkan kantong-kantong gerilya di daerah pendudukan Belanda, termasuk Jawa Barat, maka dengan berat hati Divisi Siliwangi harus meninggalkan Tatar Sunda.

Hijrah Siliwangi bukan pekerjaan mudah. Ada harga mahal yang harus dibayar. Letjen (Purn) J.C. Princen, kombatan Belanda yang membelot ke republik, seperti ditulis Hendi Jo, melukiskan proses hijrah itu sebagai perjalanan panjang yang menyiksa hati nuraninya sebagai manusia.

“Ratusan Multatuli tak akan dapat menggambarkan penderitaan ribuan Saija dan Adinda dalam perjalanan ini,” ujarnya.

Meski efek yang ditimbulkan dari perjalanan panjang tersebut menguras rasa kemanusiaan, namun di sisi lain dari sudut pandang militer, keluarnya “maung-maung” Siliwangi dari kantong gerilya memberikan kesempatan untuk unjuk kekuatan pasukan republik yang kerap hanya dianggap sebagai rampok pengacau keamanan.

“Orang-orang Belanda itu terlihat kaget setengah mati melihat kami keluar dari hutan-hutan dan gunung-gunung dengan baju rombeng, tanpa sepatu namun dalam disiplin laiknya tentara profesional dari sebuah negara merdeka. Secara tidak langsung, tujuan mereka membasmi rampok dan garong terbantahkan sudah, karena kami adalah tentara profesional laiknya mereka,” kata almarhum Letkol (Purn) Eddie Soekardi kepada Hendi Jo.
Mang Koko mengabadikan peristiwa hijrah Siliwangi dengan metafora. Pasukan yang meninggalkan tanah Sunda itu disebutkannya sebagai layangan yang akan kembali ke tanah tempat ia dilepas dan diterbangkan. Ada upaya menguatkan dan penghiburan bagi yang ditinggalkan, namun tugas adalah tugas, perintah yang harus ditaati sebagai gambaran kedisiplinan para prajurit berpenampilan semenjana itu:

“Bulan téh langlayangan peuting/ nu ditatar dipulut ku tali gaib/ entong salempang mun kuring miang/ ditatar ti Tatar Sunda/ dipulut nya balik deui ka dieu/ ieuh, masing percaya.

"Bedil geus dipéloran/ granat geus disoréndang/ ieu kuring arék miang/ jeung pasukan Siliwangi/ ka Jogja hijrah taat paréntah.”

(Bulan adalah layangan malam / yang dikendalikan dan ditarik oleh tali gaib / jangan khawatir kalau aku pergi / dikendalikan dari Tatar Sunda / kalau ditarik tentu akan kembali ke sini / hai, harus percaya.

Senapan sudah terisi peluru / granat sudah dibawa / ini aku akan pergi / dengan pasukan Siliwangi / ke Jogja hijrah taat pada perintah)

Ketika Divisi Siliwangi harus hijrah sebagai konsekuensi dari perjanjian Renville yaitu ditetapkannya garis Van Mook (batas wilayah Indonesia dengan Belanda), ada beberapa pihak yang kecewa, salah satunya yaitu Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Ia yang merasa ditinggalkan pemerintah karena Divisi Siliwangi ditarik ke Yogyakarta, bersama laskar Sabilillah dan Hizbullah menolak untuk turut mengosongkan Jawa Barat, lalu membentuk Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI/TII).
M.H. Budi Santoso dalam buku Darul Islam: Pemberontakan di Jawa Barat yang diterbitkan Pustaka Jaya, menjelaskan bahwa sejatinya Kartosoewirjo telah memproklamasikan Negara Islam Indonesia pada 14 Agustus 1945. Namun karena tiga hari kemudian Sukarno-Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur, maka ia menarik kembali proklamasinya.

Di awal kemerdekaan ia berkiprah di Masyumi, namun karena konflik internal partai membuatnya kembali ke Malangbong, Garut, dengan status tetap sebagai Sekretaris I serta sekaligus ditunjuk sebagai wakil Masyumi di Jawa Barat. Pada 1947, Kartosoewirjo kemudian mendirikan Dewan Pertahanan Ummat Islam Indonesia untuk menghadapi Belanda pada Agresi Militer yang pertama. Sampai tahun 1947, ia kiranya masih tetap loyal kepada republik, sebelum hasil perjanjian Renville pada 1948 membuatnya bersikap berhadap-hadapan dengan pemerintah.

Konflik antara pasukan pemerintah dengan DI/TII, seperti halnya perang yang berkecamuk di manapun, selalu meminta tumbal rakyat sipil. Cadangan logistik pasukan Kartosoewirjo tak jarang dipenuhi dari hasil menjarah harta benda masyarakat. Orang tua dulu menyebutnya sebagai pasukan gerombolan. Situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh pemerintah untuk memutus alur logistik, juga mengikutsertakan masyarakat dalam operasi militer yang kemudian dikenal dengan operasi Pagar Betis.
Operasi ini perlahan menuai hasil, karena gerak pasukan DI/TII semakin terbatasi dan cadangan logistik mereka semakin menipis.

“Setelah tiga belas tahun bergerilya melawan pemerintah, Kartosoewirjo dan pasukannya memang makin terpojok. Cadangan logistik yang terus menipis membuat mereka terpaksa makan daun-daunan. Mental pasukan makin jatuh ketika dalam pertempuran di Desa Cipaku, Ciparay, sekitar lima kilometer dari Cicalengka, sebulan sebelum penangkapan, kaki sang imam kena tembak,” tulis tim Tempo dalam "Kalau Aku Mati, Ikuti Natsir" yang terdapat di buku Natsir: Politik Santun di antara Dua Rezim.

Di balik keberhasilan operasi Pagar Betis, tentu korban berjatuhan, termasuk rakyat sipil yang ikut serta dalam operasi tersebut. Kisah kepedihan rakyat inilah yang kemudian diabadikan Mang Koko seperti yang saya tulis di awal paragraf. Kesedihan sang ibu yang waktu suaminya meninggal tengah mengandung, berlanjut di waktu-waktu berikutnya ketika ia memungut bunga tanjung bersama anaknya yang telah dilahirkan dan mulai tumbuh.

“Anaking jimat awaking/ lamun ema mulung tanjung reujeung hidep/ kasuat-suat nya pikiran / tapina kedalna ngan ku hariring

Hariring éling ku éling / kana tanjung nu dipulung/ nu nyeungitan pakarangan/ nu nyeungitan haté urang, panineungan.”

(Anakku permata bunda/ kalau ibu memungut tanjung bersamamu/ teringat kembali dalam pikiran / tapi yang keluar hanya senandung

Senandung ingatan/ kepada tanjung yang dipungut/ yang mengharumkan pekarangan/ yang mengharumkan hati kita, tinggal kenangan)

Semasa hidupnya Mang Koko melalui berbagai gejolak zaman dan mengalami rupa-rupa perjalanan bangsa. Lewat jalan kesenian, ia menjadi saksi dan mencatat berbagai peristiwa. Tanah Sunda sebagai tempat lahir, berkiprah, dan menutup mata, telah membuatnya jatuh hati. Masyarakat Sunda yang menjadi korban dalam pusaran revolusi dan konflik sparatis, ia bela dengan lagu-lagu yang liriknya merawankan hati.

4 Oktober 1985, Mang Koko wafat di Bandung di usia 68 tahun. Tak terhitung jasanya di bidang kesenian, khususnya karawitan. Namanya terus hidup di hati masyarakat Sunda sebagai seorang seniman yang penuh seluruh dalam merawat dan mencintai kesenian Sunda. Ia yang juga pernah aktif di berbagai profesi (pegawai tata usaha, pegawai jawatan penerangan, wartawan, guru)  dan organisasi (Taman Murangkalih, Taman Cangkurileung, Kliningan Ganda Mekar, Taman Bincarung, dll) mungkin tak pernah menyangka akan menjadi seorang maestro karawitan Sunda.

Seperti dalam lagu "Karatagan Pahlawan" yang pernah ditulisnya, barangkali begitu pula sikapnya dalam berkesenian:
 “Teu honcéwang sumoréang/ tékadna pahlawan bangsa/ cadu mundur pantrang mulang/ mun maksud tacan laksana/ berjoang keur lemah cai/ lali rabi tur téga pati/ taya basa ménta pamulang tarima/ ihlas rido keur korban merdéka.” 
(Tidak khawatir dan tidak mencemaskan yang ditinggalkan/ tekad bulat pahlawan bangsa/ pantang mundur tabu kembali/ jika maksud belum terlaksana/ berjuang untuk tanah air/ lupa keluarga dan siap mati/ tiada bahasa minta balas jasa/ ikhlas rida berkorban demi kemerdekaan). (tirto.id - irf/zen)
Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 15 Juli 2017

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai