28 June 2017

Sehimpun Kisah Di Balik Invasi Nazi ke Belanda


Pernahkah terselip keinginan pada diri kita, betapapun kecilnya, untuk kembali ke masa lampau, menghidupinya lagi seperti masa kini?

Itu adalah kaki-dashi atau kalimat mula-mula cerpen pertama dari lima cerpen yang terbuhul dalam buku bertajuk Rumah Tusuk Sate di Amsterdam Selatan karangan Joss Wibisono yang diambil dari judul salah satu cerita. Ya, Amsterdam menjadi jantung hampir semua lakon. Peristiwa dan kenangan masa lampau kota ini digali dan ditatah menjadi hamparan kisah.

Joss menulis relasi asmara, budaya, dan sejarah. Hampir sekujur ceritanya dilengkapi dengan keterangan referensi dan catatan kaki. Ia membaca karya Marco Entrop, Loe de Jong, Harry Poeze, Friso Roest, Jos Scheren, Peter Meijwes, dll. Referensi bacaan membuat ceritanya kaya, namun catatan kaki yang menjelaskan banyak istilah dalam bahasa Belanda kadang mengganggu arus deras membaca.

Cerita pertama dibuka oleh Kura-kura Sungai Kamo yang lirih. Kenangan asmara masa lalu tiba-tiba hidup kembali menjelang sebuah pertemuan yang tak bermakna apa-apa, selain menegaskan bahwa hubungan telah berakhir dan tak bisa diulangi lagi. Joss menguncinya dengan sebuah liukan yang berjejak pada fakta bahwa Belanda adalah negara yang melegalkan hubungan sejenis.

Kisah pasangan sejenis, meski latarnya Batavia, kembali muncul pada cerpen Rijsttafel versus entrecote:

Kusambut ajakannya dan kami adalah satu-satunya pasangan dansa sejenis sore itu. Lieven terlihat kaget dan senang, maklum selama ini selalu kutolak ajakan tampil intim di tempat umum. Tapi ah, sepi pengunjung telah mengusir malu yang selama ini membelenggu. Apalagi sore sudah berlalu, malam telah luruh meliputi Batavia. (hal 71)

Dalam Terbalut Songket di Kyoto, Joss mencoba menggali sejarah tentang karya-karya Suwardi Suryaningrat aka Ki Hajar Dewantara dan sebuah kisah di sekitar pendudukan Jepang di Nusantara. Di ujung cerpen tersebut ia menceritakan seorang lelaki Jepang yang jatuh hati kepada lelaki Jawa. Sulur yang digunakan mula-mula tentang pertemuan dua orang mahasiswa di Amsterdam: berkenalan, akrab, dan jatuh hati. Si perempuan orang Indonesia, yang lelaki orang Jepang. Ketika kakek si lelaki meninggal, sebuah songket menutupi kakinya, lalu mengalirlah riwayat sang kakek ketika bertugas di Palembang.

Di sebuah tulisan yang diunggah oleh suarakita.orgportal berita LGBT, bertitimangsa 26 September 2012, Joss menceritakan sejarah disahkannya perkawinan sejenis di Belanda, tepatnya pada 1 April 2001.

Sejarah pembunuhan massal dan diskriminasi yang dilakukan Hitler menjadi latar lahirnya ide perkawinan sejenis di Belanda. Saksi Yehova, Gipsy, dan kelompok homoseksual, adalah korban pembunuhan Nazi selain orang-orang Yahudi. Tragedi itu menjadi batu tapal sejarah perjuangan anti diskriminasi di Belanda, termasuk di dalamnya hak-hak homoseksual.

Salah satu pelopor perkawinan sejenis di Belanda adalah seorang muslim keturunan Ambon yang bernama Umar Santi. Ia adalah anggota Partai Buruh yang merupakan salah satu partai yang tergabung dalam kabinet Ungu: gabungan dari tiga partai yang semuanya tidak termasuk dalam partai berbasis agama.

Invasi Nazi ke Belanda yang kemudian berkelindan dengan munculnya aspirasi anti diskriminasi yang salah satunya melahirkan perkawinan sejenis, dalam cerpen yang lain Joss mengaitkannya dengan pergerakan kaum muda Indonesia dalam perjuangan menentang para pemurni ras Arya tersebut.

Berbeda dengan empat cerpen lainnya yang memakai EYD, pada Rumah Tusuk Sate di Amsterdam Selatan, Joss memakai ejaan Suwandi. Mulanya saya menyangka bahwa hal itu dimaksudkan untuk penyesuaian dengan periode yang menjadi latar kisah, yaitu tahun 1940, ketika Nazi mulai menginvasi Belanda dan Indonesia mulai mendekati gerbang kemerdekaan.

Namun kemudian dugaan saya bergeser. Di laman pribadi Lambertus Hurekeditor berita di harian Radar Surabaya, ada satu tulisan Joss ketika berkorespondensi dengan Hurek, ia menjelaskan ketertarikannya kepada ejaan Suwandi. Menurutnya, ejaan Suwandi adalah sebuah bentuk nasionalisme yang seimbang. Di satu sisi, ejaan tersebut adalah bentuk koreksi terhadap ejaan Van Ophuijsen, yang artinya hendak menjauh dari hal-hal yang berbau Belanda, namun di sisi lain ejaan tersebut tak bisa lepas sepenuhnya dari pengaruh asing.

Inilah nasionalisme jang menarik bagi saya. Bukan nasionalisme jang pitjik, karena anti asing dan mengunggul-unggulkan jang Indonesia, tetapi nasionalisme jang djuga menghargai pentingnja pengaruh asing, tulis Joss.

Selain itu, Joss menambahkan bahwa hadirnya EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) berakibat pada tidak tertariknya generasi muda pada bacaan-bacaan lama yang memakai ejaan Suwandi. Hal ini, menurutnya, menutup gerbang sejarah dari pemilik sejarah itu sendiri.

Terlepas dari dugaan-dugaan saya terkait pemilihan Joss untuk memakai ejaan Suwandi, cerpen ini membawa pembaca untuk mengingat kembali kisah para pemuda Indonesia yang turut aktif menentang pendudukan Nazi di Belanda.

Irawan Soedjono adalah seorang mahasiswa Universitas Leiden yang aktif menerbitkan De Bevrijdingsurat kabar anti fasis. Bersama pasukan bawah tanah Barisan Mahasiswa Indonesia, ia juga ikut angkat senjata melawan Nazi. 13 Januari 1945 Irawan tewas ditembak pasukan Jerman ketika berusaha melarikan diri sambil membawa mesin stensil. Penggalan kisah inilah yang diceritakan ulang oleh Joss dalam Rumah Tusuk Sate di Amsterdam Selatan dan Salam Perkenalan Spesial.

Jika ditarik sebuah simpul, lima cerpen Joss Wibisono di buku ini memperlihatkan perhatiannya kepada tiga hal: sejarah pergerakan mahasiswa di Belanda, isu pasangan sejenis, dan bahasa. Ia yang tinggal di Belanda lebih dari 20 tahun dan sempat bekerja di salah satu radio pemerintah Belanda, seperti hendak membuat kenang-kenangan untuk negeri yang lama ditinggalinya itu. Kumpulan cerpen ini sejenak mengingatkan saya pada laku Budi Darma yang menulis buku Orang-orang Bloomington, dan Umar Kayam dengan Seribu Kunang-kunang di Manhattan.

Joss menghirup udara negeri Kincir Angin, lengkap dengan dinamika sosial dan warna warni sejarahnya. Setelah puluhan tahun di Belanda, lewat buku ini, ia hendak menceritakan beberapa hal yang menjadi perhatiannya. [irf]

1 comment:

Tjenthini said...

Terima kasih atas resensi jang sungguh simpatik ini, mas. Tidak sangka anda begitu awas pada perkembangan kepenulisan saja. Sudahkah batja novel pendek "Nai Kai: sketsa biografis" jang terbit beberapa bulan setelah kumpulan tjerpen ini?

Kang Ajip Sakolébatan…