28 June 2017

Sehimpun Kisah Di Balik Invasi Nazi ke Belanda


Pernahkah terselip keinginan pada diri kita, betapapun kecilnya, untuk kembali ke masa lampau, menghidupinya lagi seperti masa kini?

Itu adalah kaki-dashi atau kalimat mula-mula cerpen pertama dari lima cerpen yang terbuhul dalam buku bertajuk Rumah Tusuk Sate di Amsterdam Selatan karangan Joss Wibisono yang diambil dari judul salah satu cerita. Ya, Amsterdam menjadi jantung hampir semua lakon. Peristiwa dan kenangan masa lampau kota ini digali dan ditatah menjadi hamparan kisah.

Joss menulis relasi asmara, budaya, dan sejarah. Hampir sekujur ceritanya dilengkapi dengan keterangan referensi dan catatan kaki. Ia membaca karya Marco Entrop, Loe de Jong, Harry Poeze, Friso Roest, Jos Scheren, Peter Meijwes, dll. Referensi bacaan membuat ceritanya kaya, namun catatan kaki yang menjelaskan banyak istilah dalam bahasa Belanda kadang mengganggu arus deras membaca.

Cerita pertama dibuka oleh Kura-kura Sungai Kamo yang lirih. Kenangan asmara masa lalu tiba-tiba hidup kembali menjelang sebuah pertemuan yang tak bermakna apa-apa, selain menegaskan bahwa hubungan telah berakhir dan tak bisa diulangi lagi. Joss menguncinya dengan sebuah liukan yang berjejak pada fakta bahwa Belanda adalah negara yang melegalkan hubungan sejenis.

Kisah pasangan sejenis, meski latarnya Batavia, kembali muncul pada cerpen Rijsttafel versus entrecote:

Kusambut ajakannya dan kami adalah satu-satunya pasangan dansa sejenis sore itu. Lieven terlihat kaget dan senang, maklum selama ini selalu kutolak ajakan tampil intim di tempat umum. Tapi ah, sepi pengunjung telah mengusir malu yang selama ini membelenggu. Apalagi sore sudah berlalu, malam telah luruh meliputi Batavia. (hal 71)

Dalam Terbalut Songket di Kyoto, Joss mencoba menggali sejarah tentang karya-karya Suwardi Suryaningrat aka Ki Hajar Dewantara dan sebuah kisah di sekitar pendudukan Jepang di Nusantara. Di ujung cerpen tersebut ia menceritakan seorang lelaki Jepang yang jatuh hati kepada lelaki Jawa. Sulur yang digunakan mula-mula tentang pertemuan dua orang mahasiswa di Amsterdam: berkenalan, akrab, dan jatuh hati. Si perempuan orang Indonesia, yang lelaki orang Jepang. Ketika kakek si lelaki meninggal, sebuah songket menutupi kakinya, lalu mengalirlah riwayat sang kakek ketika bertugas di Palembang.

Di sebuah tulisan yang diunggah oleh suarakita.orgportal berita LGBT, bertitimangsa 26 September 2012, Joss menceritakan sejarah disahkannya perkawinan sejenis di Belanda, tepatnya pada 1 April 2001.

Sejarah pembunuhan massal dan diskriminasi yang dilakukan Hitler menjadi latar lahirnya ide perkawinan sejenis di Belanda. Saksi Yehova, Gipsy, dan kelompok homoseksual, adalah korban pembunuhan Nazi selain orang-orang Yahudi. Tragedi itu menjadi batu tapal sejarah perjuangan anti diskriminasi di Belanda, termasuk di dalamnya hak-hak homoseksual.

Salah satu pelopor perkawinan sejenis di Belanda adalah seorang muslim keturunan Ambon yang bernama Umar Santi. Ia adalah anggota Partai Buruh yang merupakan salah satu partai yang tergabung dalam kabinet Ungu: gabungan dari tiga partai yang semuanya tidak termasuk dalam partai berbasis agama.

Invasi Nazi ke Belanda yang kemudian berkelindan dengan munculnya aspirasi anti diskriminasi yang salah satunya melahirkan perkawinan sejenis, dalam cerpen yang lain Joss mengaitkannya dengan pergerakan kaum muda Indonesia dalam perjuangan menentang para pemurni ras Arya tersebut.

Berbeda dengan empat cerpen lainnya yang memakai EYD, pada Rumah Tusuk Sate di Amsterdam Selatan, Joss memakai ejaan Suwandi. Mulanya saya menyangka bahwa hal itu dimaksudkan untuk penyesuaian dengan periode yang menjadi latar kisah, yaitu tahun 1940, ketika Nazi mulai menginvasi Belanda dan Indonesia mulai mendekati gerbang kemerdekaan.

Namun kemudian dugaan saya bergeser. Di laman pribadi Lambertus Hurekeditor berita di harian Radar Surabaya, ada satu tulisan Joss ketika berkorespondensi dengan Hurek, ia menjelaskan ketertarikannya kepada ejaan Suwandi. Menurutnya, ejaan Suwandi adalah sebuah bentuk nasionalisme yang seimbang. Di satu sisi, ejaan tersebut adalah bentuk koreksi terhadap ejaan Van Ophuijsen, yang artinya hendak menjauh dari hal-hal yang berbau Belanda, namun di sisi lain ejaan tersebut tak bisa lepas sepenuhnya dari pengaruh asing.

Inilah nasionalisme jang menarik bagi saya. Bukan nasionalisme jang pitjik, karena anti asing dan mengunggul-unggulkan jang Indonesia, tetapi nasionalisme jang djuga menghargai pentingnja pengaruh asing, tulis Joss.

Selain itu, Joss menambahkan bahwa hadirnya EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) berakibat pada tidak tertariknya generasi muda pada bacaan-bacaan lama yang memakai ejaan Suwandi. Hal ini, menurutnya, menutup gerbang sejarah dari pemilik sejarah itu sendiri.

Terlepas dari dugaan-dugaan saya terkait pemilihan Joss untuk memakai ejaan Suwandi, cerpen ini membawa pembaca untuk mengingat kembali kisah para pemuda Indonesia yang turut aktif menentang pendudukan Nazi di Belanda.

Irawan Soedjono adalah seorang mahasiswa Universitas Leiden yang aktif menerbitkan De Bevrijdingsurat kabar anti fasis. Bersama pasukan bawah tanah Barisan Mahasiswa Indonesia, ia juga ikut angkat senjata melawan Nazi. 13 Januari 1945 Irawan tewas ditembak pasukan Jerman ketika berusaha melarikan diri sambil membawa mesin stensil. Penggalan kisah inilah yang diceritakan ulang oleh Joss dalam Rumah Tusuk Sate di Amsterdam Selatan dan Salam Perkenalan Spesial.

Jika ditarik sebuah simpul, lima cerpen Joss Wibisono di buku ini memperlihatkan perhatiannya kepada tiga hal: sejarah pergerakan mahasiswa di Belanda, isu pasangan sejenis, dan bahasa. Ia yang tinggal di Belanda lebih dari 20 tahun dan sempat bekerja di salah satu radio pemerintah Belanda, seperti hendak membuat kenang-kenangan untuk negeri yang lama ditinggalinya itu. Kumpulan cerpen ini sejenak mengingatkan saya pada laku Budi Darma yang menulis buku Orang-orang Bloomington, dan Umar Kayam dengan Seribu Kunang-kunang di Manhattan.

Joss menghirup udara negeri Kincir Angin, lengkap dengan dinamika sosial dan warna warni sejarahnya. Setelah puluhan tahun di Belanda, lewat buku ini, ia hendak menceritakan beberapa hal yang menjadi perhatiannya. [irf]

22 June 2017

Para Peneduh dan Pembunuh Kota Bandung


Pagi itu kamu sudah berada di komplek Balai Kota Bandung yang ramai. Ratusan ibu-ibu berusia senja tengah senam dipandu instruktur yang gesit, dan sebagian lagi ikut lomba gerak jalan. Kamu tak ikut bergabung dengan mereka, sebab kamu bukan ibu-ibu dan belum berusia senja, juga karena kamu hendak mengikuti sebuah perjalanan pendek yang akan mengubah perspektifmu terhadap tanaman untuk selamanya.
Sambil menyantap bacang, kue clorot, kue kuk, dan kelepon, kamu menunggu peserta lain yang satu persatu mulai berdatangan. Adalah Indischemooi, sebuah tour agency yang belum lama lahir di Kota Bandung, yang mengadakan Biotour—kegiatan yang hendak kamu ikuti itu.
Kegiatan tersebut bertajuk “Bandung Botanical Garden”. Mulanya kamu heran dan bertanya-tanya, “di mana kiranya Kebun Raya Bandung?” Yang kamu tahu kebun raya hanya ada di Bogor yang tersohor itu. Tapi kamu kemudian paham ketika membuka leafletyang penyelenggara berikan. Di pengantarnya tertulis, “Kota Bandung tersusun dari komplek perumahan, gang-gang sempit, komplek perkantoran, permakaman, taman kota, pusat niaga, rumah ibadah, dan ruang publik lainnya—yang semuanya membutuhkan tanaman untuk mendukung kehidupan: ini yang kemudian kami narasikan sebagai Kebun Raya Bandung”.
Lalu di paragraf berikutnya kamu dapati penjelasan lanjutan, “Tanaman tak mesti diisolasi dalam satu wilayah, namun ia harus hadir dalam keseharian, dekat dengan warga, dan dapat diidentifikasi manfaat dan mudaratnya. Dalam konteks pengelolaan kota, hal ini akan memudahkan pemerintah dalam penataan ruang publik, sehingga ke depan tidak ada lagi tanaman—misalnya, yang ditanam di pinggir jalan sehingga membahayakan pengendara karena dahannya rapuh.”
Ketika semua peserta sudah hadir, dan ibu-ibu senja yang tengah senam dan gerak jalan mulai berkeringat, kegiatan pun dimulai. Arifin Surya Dwipa Irsyam namanya. Panggilannya Ipin. Ia menjadi pemandumu dan peserta yang lain dalam kegiatan itu. Dengan gayanya yang penuh gelora, ia mula-mula memaparkan keprihatinannya ihwal perlakuan manusia terhadap tanaman yang tidak semestinya. “Kita kerap memperlakukan tanaman hanya sebagai objek. Padahal mereka juga sama seperti kita: makhluk hidup yang bernapas. Mereka bisa terluka, kesakitan, dan mati,” ujarnya.
Trembesi atau Ki Hujan namanya. Pohon ini tumbuh tak jauh dari kamu dan rombongan berdiri. Ia menjulang dengan kanopi yang amat lebar. Pikiranmu seketika melayang ke sebuah acara tentang binatang di televisi. Pohon ini seperti yang kerap dijadikan markas macan tutul untuk mengamankan dan menyantap hasil buruannya. Lalu Ipin menjelaskan bahwa pohon ini, dengan kanopinya yang lebar dan akarnya yang kokoh, sebaiknya ditanam di tengah lapangan yang luas sebagai peneduh. Trembesi tak cocok ditanam di pinggir jalan raya sebab akarnya akan merusak trotoar. Dengan penjelasan tersebut, tahulah kamu bahwa di beberapa titik di Kota Bandung, penanaman trembesi letaknya kurang tepat.
Kamu dan rombongan kemudian berjalan menuju pohon berikutnya. Bacang, kelepon, dan kue-kue lainnya sudah tandas. Amunisimu yang tersisa hanya sebotol air mineral ukuran sedang.

“Seluruh bagian dari pohon ini mengandung senyawa saponin, yaitu senyawa untuk bahan pembuatan sabun. Dan ketika turun hujan, senyawa tersebut akan keluar melalui akar. Oleh karena itu, pohon ini tidak cocok ditanam di dekat jalan raya, sebab senyawa saponin akan membuat jalan menjadi licin, dan tentunya akan membahayakan pengguna kendaraan bermotor,” ujar Ipin ketika menjelaskan pohon Ki Sabun atau Kiara Payung.
Kemudian di titik berikutnya Ipin menjelaskan pohon kayu manis. “Ciri khas dari kayu manis adalah ketika daunnya kita remas, maka akan menimbulkan bunyi seperti kalau kita meremas perkamen,” terangnya. Pohon ini selain bagus buat peneduh, juga kulit batangnya bisa dimanfaatkan untuk olahan aneka kue dan masakan. Aroma kulit batang dan daun kayu manis yang kamu cium seketika mengingatkanmu pada kue-kue beraroma rempah.
Kamu tertawa ketika Ipin berkata, “Pohon ini mempunyai buah yang panjang, hitam, keras, dan di dalamnya mengandung cairan bening nan kental.” Pohon yang dimaksud adalah Trengguli. Mulanya pohon ini dari India dan Sri Lanka. Disebarkan ke berbagai belahan dunia karena dipercaya berkhasiat untuk menurunkan berat badan. Hal tersebut disebabkan senyawa yang terkandung di dalam buah ini dapat dengan efektif menyerap sari-sari makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Selain itu, buah trengguli juga bisa dijadikan bahan penyamak kulit binatang. Sedangkan akarnya, karena mengandung anti bakteri, dapat mencegah perluasan luka terbuka sehingga mempercepat penyembukan.
“Selanjutnya kita akan melihat pohon yang namanya populer, namun sudah jarang ditemukan di lingkungan perkotaan,” kata Ipin sambil memimpin rombongan menuju pohon tersebut. Lalu kamu mendapati sebuah pohon besar yang cukup rindang dengan beberapa buah menggantung sebesar kepalan anak kecil.
“Adakah yang tahu ini pohon apa?” Semua terdiam, kecuali Ipin yang kemudian menjelaskan. Pohon tersebut adalah kemiri atau muncang dalam bahasa Sunda. Kemiri merupakan salah satu rempah populer selain pala, cengkeh, dan kayu manis. Di Indonesia umumnya dijadikan sebagai salah satu bahan pembuat sambal dan bahan untuk menyuburkan serta menghitamkan rambut. Selain itu, di daerah Papua, minyak kemiri dijadikan sebagai bahan bakar untuk penerangan. Namun demikian, buahnya yang masih muda mengandung racun yang dapat mengakibatkan iritasi kulit. Pohon peneduh ini mulai jarang ditemukan di daerah perkotaan, termasuk di Kota Bandung.
Setelah itu kamu dan rombongan menuju pohon buni. Ini pun adalah salah satu pohon yang buahnya cukup populer namun—setidaknya di daerah perkotaan tanah Sunda, kini sudah jarang ditemukan. Buahnya yang kecil kerap dikonsumsi dengan cara dirujak. Kemiri dan buni membawamu kepada masa lalu. Rasa-rasanya sambal kemiri buatan ibumu yang pedas dan gurih masih tersisa di lidah. Adapun buni, kenangan masa kecil bersama kawan-kawan seolah kembali hadir.
Kamu pernah melihat bunga patrakomala yang terbuat dari perunggu di atas stilasi Bandung Lautan Api. Dan kali ini kamu melihatnya yang asli, berwarna oranye dan kuning. Tahun 1998, bunga ini dipilih sebagai simbol resmi flora Kota Bandung. Meski demikian, bunga ini sejati bukanlah asli Bandung, tapi berasal dari Amerika Selatan. “Karena memiliki warna yang cantik, patrakomala selalu dijadikan sebagai tanaman hias. Namun perlu diketahui, seluruh bagian pohon patrakomala sebenarnya adalah racun!” ujar Ipin.
Dari total 24 tanaman yang dibahas dalam kegiatan itu, favoritmu adalah oleander, bunga cantik berwarna pink yang amat berbahaya. Racun yang terkandung dalam getah oleander bila termakan dalam dosis tinggi bisa menyebabkan kematian. Kamu bergidik ketika menyadari pohon oleander yang kamu dapati ditanam di pinggir jalan raya, dan bersebelahan dengan trotoar. Lalu kelebatan-kelebatan mulai berdatangan. Dalam remang lintasan imajinasi, kamu melihat seorang bocah memetik daun pohon itu, memakannya, dan mulai sempoyongan.
Menjelang dzuhur, kamu sudah tiba kembali di titik awal, di komplek Balai Kota Bandung yang masih menyisakaan ibu-ibu berusia senja yang tengah beristirahat setelah lomba gerak jalan selesai. Kamu dan ibu-ibu senja itu sama-sama berkeringat. Kamu bergerak, mereka bergerak, menghela nafas di kota yang sama: Kota Bandung yang bukan hanya dipadati taman, namun juga ragam tanaman yang mesti ditata kelola dengan baik. [irf]
Tayang pertama kali di minumkopi.com tanggal 13 Juni 2017


"Balas Dendam" Seorang Amerika Pencinta Sepak Bola


“Saya gila bola, meski payah dalam memainkannya,” tulis Franklin Foer, jurnalis politik majalah New Republic asal Amerika Serikat. Di Piala Dunia edisi ke-15 tahun 1994, negeri Paman Sam baru menjadi tuan rumah. Sementara kasta liga tertinggi, Major League Soccer, baru digelar setahun sebelumnya, hampir seusia dengan Liga Indonesia yang konon profesional. Anggap saja kita abaikan fakta-fakta itu, namun seorang Amerika menulis tentang sepak bola tetap akan dianggap sebuah lelucon yang kelewat banal.
Tapi sebagaimana Indonesia yang kerap melahirkan para pandit dan cerdik cendekia penulis sepak bola, kiranya Franklin Foer adalah salah satu pengecualian dari negeri yang lebih menggilai football “sungguhan” (lempar, tendang, bawa lari, pegang erat), dan bola basket, daripada sepak bola.
Sebelum menjelentrehkan hasil liputannya di beberapa negara yang menggilai sepak bola, di bagian prolog ia berkisah tentang betapa menyedihkannya menjadi pencinta sepak bola di negara yang amat muda usia dalam menggeluti si kulit bundar.              
“Karena saya takkan pernah jago dalam bermain bola itu sendiri, saya bisa melakukan hal terbaik berikutnya: memahami sepak bola sedalam-dalamnya laiknya seorang maniak. Dan bagi seorang Amerika hal ini tidaklah mudah,” tulisnya.

Waktu ia kecil, televisi hanya sesekali menayangkan siaran ulang dari Jerman dan Italia pada jam-jam kebaktian di hari Minggu pagi. Selama empat tahun selang Piala Dunia, pemirsa hanya disuguhi cuplikan-cuplikan pertandingan, dan harus puas hanya dengan itu.
Praktis sejak kecil Franklin dihantam dua kondisi sekaligus: suka bola tapi tak becus dalam bermain, dan mau menggilai bola tapi negaranya tak doyan permainan yang digagas orang-orang Inggris tersebut. Ia bisa saja menyerah dan melupakan sepak bola, tapi yang terjadi sebaliknya. Ketika usianya menginjak 27 tahun, Franklin mulai membuat “pembalasan” yang menyenangkan.   
Mulai musim gugur 2001, selama delapan bulan ia cuti dari kantornya dan mulai menggarap buku ini. Franklin mendatangi banyak negara, menonton pertandingan, mencermati sesi latihan, dan mewawancarai para jagoan lapangan hijau, juga orang-orang yang berkelindan di balik olah raga yang paling populer di kolong jagat ini. Ia mendatangi Serbia, Skotlandia, Italia, Brazil, Inggris, Ukraina, dll.
Penelusuran dan ketajaman penanya menghasilkan kajian sepak bola yang menarik tentang irisannya dengan isu sosial, politik, agama, dan budaya. Ia bertemu dengan para begundal Red Star Belgrade, menyigi bagaimana kelompok pendukung sepak bola berjabat erat dengan politik, dan menjadi kombatan sekaligus tukang bantai di Perang Balkan yang memecah belah Yugoslavia.
Sementara di Britania Raya, ia menyaksikan derbi Old Firm yang selalu panas dan mendatangi para pentolannya. “Lutut kami berkubang darah Feni,” teriak para pendukung Glasgow Rangers. Kemudian disusul, “Kalau kau benci bangsat-bangsat Feni tepuk tanganlah!”
Feni yang dimaksud adalah para pendukung Glasgow Celtic. Permusuhan yang dilandasi konflik agama berkepanjangan antara Rangers yang Protestan dan Celtic yang Katolik hidup di sepakbola Skotlandia. Permusuhan ini diwarnai juga oleh kebencian terhadap orang-orang Irlandia yang Katolik, atau sanjungan kepada paramiliter Protestan di Irlandia Utara.
Agama, seperti halnya di palagan politik, adalah juga barang dagangan yang terus dirawat di kancah sepak bola.
Franklin seorang pendukung FC Barcelona. Ia menyukai semangat klub Catalan yang meskipun selalu memosisikan diri sebagai seteru abadi Real Madrid yang secara sejarah menindas, namun menurutnya di kota yang mengoleksi lukisan Salvador Dali dan Joan Miro tersebut, patriotisme dan kosmopolitanisme saling mengisi dengan sempurna. Seperti pada umumnya para pendukung sepak bola di seluruh dunia, Fans Barca juga terjangkiti irasionalitas yang dalam, seperti misalnya mereka-reka konspirasi, membayangkan diri selalu dikorbankan, dll. Namun menurutnya mereka tak pernah memperlakukan pendukung klub lain sebagai bukan manusia.
Ketika Johan Cruyff yang orang Belanda menamai anaknya Jordi, dan Hristo Stocihkov yang Bulgaria kerap mengobarkan semangat Catalan, itulah contoh tentang Barcelona yang kosmopolitan. Jauh sebelum itu, jika menilik sejarah, klub yang mempunyai moto mas que un club atau “lebih dari sekadar klub” tersebut didirikan pada tahun 1899 oleh Joan Gamper, seorang pengusaha Swiss yang bergabung bersama para ekspat Inggris.
Tulisan Franklin yang berjudul Pesona Nasionalisme Borjuis, selain membedah ihwal klub dukungannya, juga diperkaya dengan sejarah rezim Franco dalam “mengelola” Barcelona. Di masa kepemimpinannya, Camp Nou, stadion kebanggaan bangsa Catalan tak pernah dilumatkan. Stadion itu dibiarkan dipenuhi cacian dan makian kepada rezimnya. Hal tersebut bukannya tanpa sebab, Franklin menulis, “Tujuannya cukup jelas: agar rakyat Catalunya bisa menyalurkan energi politik mereka ke dalam acara pengisi waktu luang yang tak membahayakan.”
Di tulisan-tulisan yang lain, dengan amat lugas Franklin merangsek dengan kisah bangsa Yahudi di dunia sepak bola: lengkap dengan sejarah kebencian, tim sepak bola tua yang telah tutup usia, serta asal usul beberapa klub yang diidentikkan dengan Yahudi seperti Tottenham Hotspur dan Ajax Amsterdam. Di Inggris, ia bertemu dengan orang pertama, pendukung Chelsea, yang mula-mula melahirkan aksi-aksi hooligan. Lalu ada cerita tentang bagaimana Eropa Timur memperlakukan para pesepakbola dari Benua Hitam. Isu korupsi para mafia dan bajingan sepak bola, juga represi rezim terhadap penikmat sepak bola, khususnya perempuan tak luput diwedarkan.   
Sepuluh biji tulisan Franklin yang lintas tema, sebagaimana yang ia maksudkan, menyoroti persoalan sosial politik globalisasi di dunia sepakbola.
“Bukan maksud saya untuk mengais-ngais kritik kuno Marxis tentang kapitalisme korporasi. Masalah utama buku ini lebih bersifat kultural ketimbang ekonomi,” tulisnya.
Di bagian epilog, ini juga sayang untuk dilewatkan, Franklin mencoba menelusuri dan mengkaji para jagoan Piala Dunia berdasarkan sistem pemerintahan negaranya. Menurutnya, komunisme, fasis, dan junta militer adalah sistem yang berhasil melahirkan tim sepak bola yang kuat dan disegani. Di luar itu, ia tak menyangkal ada yang namanya hukum besi, seperti Brazil, misalnya. Bagaimanapun realitas politik yang tengah berjalan di negaranya, tim Samba hampir selalu bisa menggondol Piala Jules Rimet.
Untuk para pembaca yang tekun dan kebetulan gila bola, ia tak pelit berbagi referensi bacaan yang mewarnai sekujur tulisannya. Setidaknya ada 28 rujukan yang terdiri dari buku, esai, dan tautan internet seperti tulisan Ivan Colovic tentang pendukung sepak bola Serbia dan Perang Balkan, Bill Murray tentang Old Firm atau perseteruan Rangers dan Celtic, Houchang Chehabi yang menulis dunia sepak bola Iran, John Burzl dan Otto Bahr tentang Hakoah (tim sepak bola Yahudi), dll.
Sepak bola, menurutnya, tidaklah sama dengan musik Bach atau agama Budha, namun kerap membangkitkan penghayatan yang melebihi agama. Di negeri Bobby Moore dan Geoff Hurst, keduanya legenda timnas Inggris dan West Ham United, olahraga yang dilahirkan kelas buruh ini kerap menjadi semacam penawar dari kemurungan kota. 
“Di kota-kota industri Inggris seperti Coventry dan Derby, klub-klub bola turut merekatkan kota-kota kecil tersebut di tengah kesuraman yang mencekam,” tulisnya. [irf]
Tayang pertama kali di pocer.co tanggal 10 Juni 2017


Rosidi: Arjuna Cikawung Penyintas Tragedi 1965


PENGADILAN RAKYAT Internasional atau The International People’s Tribunal digelar pada tahun 2015 di Den Haag, Belanda. Pengadilan itu mengangkat kejahatan negara terhadap orang-orang yang diduga simpatisan dan anggota Partai Komunis Indonesia setelah peristiwa berdarah September 1965.
Catatan tentang angka korban berbeda-beda, tergantung versi siapa yang menginformasikan. Para korban tentu bukan semata data statistik, mereka sepenuhnya manusia, dan pengalaman pahit yang menggedor riwayat hidup mereka adalah kisah tentang kemanusiaan.
Rosidi namanya, biasa dipanggil Mang Idi. Ia salah satu korban itu. Rosidi lahir di Cikawung, Kabupaten Cianjur, tahun 1931. Sewaktu muda, Rosidi terkenal dengan julukan “Arjuna dari Cikawung.” Ia mementingkan gaya, tampan, dan gemar bersolek. Demi penampilan, Rosidi pernah menggunakan minyak stelped (pelumas mesin penggiling teh).
Selama hayat dikandung badan, Rosidi telah menikah sebanyak enam kali. Mula-mula ia menikah dengan Mamah pada tahun 1953, kemudian dengan Yuyum, Titik, Diah, Murtiyah, dan terakhir dengan Oneh pada tahun 1964. Dari enam kali pernikahannya—setidaknya sampai buku ini terbit pertama kali tahun 2016, Rosidi mempunyai 11 anak, 29 cucu, 14 cicit, dan 1 bao (cucunya cucu).
“Saya lelaki, menikah dengan perempuan mana saja yang saya mau. Asal orangnya mau,” ujarnya.
Pada 10 Oktober 1965, ia berkunjung ke rumah pamannya dengan maksud hendak pamitan karena ia mendapat pekerjaan baru di Goalpara, Sukabumi. Ia juga hendak berterimakasih atas kebaikan pamannya selama bekerja di perkebunan teh Cikawung. Tak lama berselang, tentara datang. Pamannya sedang di kamar, mungkin tahu bahaya tengah mengintai. Tak menemukan orang yang dicari, akhirnya Rosidi diangkut sebagai tahanan pengganti, hanya karena ia memiliki kartu SARBUPRI (Sarikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia).
Bersama tahanan lain yang mayoritas tidak tahu soal politik yang tengah membara di Jakarta, Rosidi dibawa ke penjara Banceuy Cianjur. Ia diperiksa dengan sejumlah pertanyaan yang terkait dengan malam jahanam di Halim.  
“Saya belum pernah ke Jakarta. Ke Cianjur juga baru sekarang ini. Saya tidak tahu apapun tentang pembunuhan di Halim,” Jawab Rosidi.
Tentara tak percaya begitu saja, kemudian Rosidi ditekan dengan kepemilikan kartu SARBUPRI, organisasi tersebut ditengarai berafiliasi dengan PKI. Lagi-lagi Rosidi menjawab dengan polos dan apa adanya, “Saya anggota SARBUPRI. Tapi tidak tahu tentang PKI.”
Semua jawaban Rosidi tak banyak menolong. Meskipun ia dan tahanan lain tidak dibunuh seperti para tahanan di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, namun Rosidi dan rekan-rekannya harus menjalani kerja paksa selama 13 tahun. Mengerjakan banyak hal yang bukan untuk dirinya. Ia menebang pohon rasamala, menggali pasir dan mencari batu, membuat jalan sepanjang 14 km, menjadi tukang masak dan pelayan restoran, membuka hutan untuk ditanami palawija, sampai diselundupkan ke dalam bagasi mobil untuk menjalankan tugas demi kepentingan pribadi tentara.
Keringat dan tenaganya diperas habis, namun hasil dari kerjanya masuk kantong tentara, ia—kalau sedang beruntung—mendapat sangat sedikit dari hasil kerjanya.
Oneh, istrinya yang keenam, ikut menemani Rosidi hidup di kamp. Meskipun pada awalnya sempat dilarang oleh mertua, namun Oneh berkeras. Ia tinggalkan pekerjaannya di perkebunan teh Bunga Melur, lalu mencari suaminya yang ditangkap tentara dan tak pernah ada kabar.
“Saya ingin melihat Kang Rosidi. Hidup atau matinya. Sampai di manapun, saya ingin melihat dengan mata kepala sendiri,” ujar Oneh kepada mertuanya.    
Di kamp yang serba darurat, Oneh melahirkan beberapa anaknya. Untuk menghidupi keluarganya, Rosidi menggunakan tenaga, waktu, dan akal sebaik-baiknya. Ketika menjalani kerja paksa menggali pasir dan mencari batu, Rosidi menyisakan sedikit tenaganya untuk menjadi kuli pikul belanjaan orang-orang yang pulang dari pasar. Selain itu, kalau diberi waktu luang oleh komandan kamp, ia akan mencari kodok untuk kemudian dijual ke seorang pengepul.
Ketika kodok susah didapat, Rosidi pernah mencarinya sampai ke daerah Kecamatan Gekbrong, Cilaku, dan Cibeber yang radiusnya 30 km dari Kamp Panembong. Uang dari hasil menjual kodok tersebut biasanya dipotong dulu oleh seorang tahanan kepercayaan tentara. Merasa dirugikan, Rosidi akhirnya bersiasat dengan tidak melaporkan jumlah pendapatan secara keseluruhan. Kalau dapat uang Rp 500 ia bilang hanya dapat Rp 300, supaya yang dibagi dua hanya Rp 300 itu, dan sisanya dapat ia gunakan untuk kebutuhan keluarganya.
“Anak-anak saya yang lahir di Kamp Panembong, dibesarkan dengan kodok dari hasil ngobor (kegiatan mencari kodok),” ujar Rosidi.
Rosidi dan keluarganya, juga para tahanan lain yang akhirnya menetap di Sarongge, kerap dipandang dan mendapat perlakuan buruk oleh masyarakat. Mereka dianggap orang-orang komunis yang harus dijauhi. Karena hal itu juga, akhirnya beberapa anak Rosidi dinikahkan dengan anak-anak para tahanan yang lain. Sarongge, kampung tempat mereka tinggal pun disebut Sarongge Ubruk atau Sarongge buangan.
Hidup Rosidi yang sering kekurangan dan 13 tahun usianya dihabiskan di kamp tak membuat Rosidi melupakan nilai-nilai kemanusiaan. Ia yang pernah enam kali menikah dan mempunyai banyak keturunan, senantiasa menjaga tali silaturahmi. Salah satu anaknya dari Oneh pernah ditolong oleh Mamah (istri pertama Rosidi) ketika melahirkan.
Rosidi menggambarkan kekerabatan itu dalam kiasan Sunda, ‘pondok jodo, panjang baraya’. Perjodohan bisa pendek, tapi kekerabatan, persaudaraan, lebih panjang.

Ketika Oneh sudah meninggal dan ia bertemu dengan adik Oneh, Rosidi berucap, “Sekarang Oneh sudah tidak ada. Tapi jangan buang saudara. Tinggal saya kakakmu. Kalau ada perlu, datanglah ke Sarongge,” kata Rosidi.
Tosca Santoso, penulis buku ini yang mengikuti Rosidi dalam ziarah dan napak tilas ke tempat-tempat yang sempat disinggahinya, termasuk ke beberapa rumah saudara Rosidi, merasakan betul sikap kekerabatan tersebut.
“Rosidi sangat peduli pada kekerabatan. Ia merawatnya, juga dengan cerita-cerita dan hal-hal lucu yang tak mudah mereka lupa,” tulis Tosca.
Cerita Hidup Rosidi yang diterbitkan oleh Kaliandra dan atas dukungan Aliansi Jurnalis Independen, Yayasan Pantau, serta lembaga lainnya, mengingatkan pembaca bahwa korban sapu bersih pasca malam berdarah 1 Oktober 1965 bukan sekadar data statistik, namun kisah tentang anak manusia yang mengalami pelbagai cobaan dan kepahitan hidup. Ia, sebagaimana yang didadarkan di Pengadilan Rakyat Internasional di Den Haag, adalah sejarah yang harus dilihat, dibaca, dan diperlakukan secara adil. [irf]
Tayang pertama kali di pocer.co tanggal 3 Juni 2017


08 June 2017

Kisah Klasik Catatan Perjalanan Bujangga Manik



Salah satu naskah sastra Sunda kuna, bahkan bisa dibilang salah satu naskah yang terpenting, adalah perjalanan Bujangga Manik menyusuri Pulau Jawa dan Bali. Naskah ini ditulis dalam larik-larik delapan suku kata—bentuk terikat dalam puisi cerita Sunda kuno, yang ditulis di atas daun palem yang tersimpan di perpustakaan Bodleian di Oxford (Inggris) sejak 1627 atau 1629.

Bujangga Manik adalah seorang bangsawan Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran) yang memilih menjadi rahib Hindu-Sunda yang berkelana ke beberapa tempat suci untuk mencari tempat untuk masa akhir hidupnya. Dalam naskah (baris 663-667) yang tertuang di buku Tiga Pesona Sunda Kuna karya J. Noorduyn (Direktur KITLV yang pensiun pada 1991) dan A. Teeuw (Profesor Emeritus bidang Bahasa dan Sastera Melayu dan Indonesia di Universitas Leiden) tertulis:

“Nyiar lemah pamasaran/ nyiar tasik panghanyutan/ pigeusaneun aing paéh/ pigeusaneun nunda raga.”

“Mencari tempat untuk pekuburan/ mencari telaga untuk tenggelam/ tempat untuk kematianku/ tempat untuk meninggalkan badan.”

Bujangga Manik melakukan perjalanannya sebanyak dua kali. Yang pertama dari Pakancilan di Pakuan Pajajaran sampai ke Pamalang di Jawa bagian tengah. Ia pulang karena rindu kepada ibunya. Perjalanan kedua dilakukan dari Pakancilan melewati Jawa bagian tengah, Jawa bagian timur, sampai Bali. Lalu kembali ke Jawa bagian barat dan berhenti di Gunung Ratu, tak jauh dari kaki Gunung Patuha, dan tak pernah kembali lagi. Ia wafat di sana.

Dalam Bujangga Manik dan Studi Sunda, A. Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung atau ditulis pada masa Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511.

Kenapa Bujangga Manik memilih menjadi rahib dan meninggalkan kehidupan istana? Dalam Suluk Abdul Jalil Volume 4 diterangkan bahwa kondisi Dayeuh Pakuan Pajajaran waktu itu ibarat surga. Kemakmuran dan kemuliaan tersuguh di ibu kota kerajaan Sunda itu. Namun, hal tersebut hanya dinikmati segelintir kalangan saja yang dekat dengan pusat kekuasaan. Sementara mayoritas masyarakat adalah para kawula dengan status budak belian yang setiap saat bisa diperjualbelikan. Hal itulah yang membuat Bujangga Manik memilih berkelana meninggalkan pusat kekuasaan.

Pada perjalanannya yang kedua, ada satu dorongan tambahan yang membuat Bujangga Manik segera meninggalkan ibunya dan kehidupan di lingkungan istana: dia dilamar seorang perempuan cantik dan ibunya menyarankan untuk menerima lamaran tersebut. Seorang kurir yang bernama Jompong Larang disuruh perempuan yang melamar Bujangga Manik untuk menyampaikan maksudnya, sembari membawa sirih-pinang yang ditata di atas baki, ditutup dengan sapu tangan, dan tersusun begitu rapi, dan rupa-rupa pemberian lainnya. 

Ibunya berkata pada baris 535-545:

“Anaking, haja lancanan/ karunya ku na tohaan/ sugan sia hamo nyaho/ tohaan geulis warangan/ rampés rua rampés ruah/ teher geulis undahagi/ hapitan karawaléa/ buuk ragi hideung teuleum/ ceta hamo diajaran/ na geulis bawa ngajadi/ na éndah sabot ti pangpang/ hanteu papahianana.”   

“Ananda, layanilah dengan serius/ kasihan terhadap puteri/ barangkali ananda tidak tahu/ puteri cantik pantas diperisteri/ cantik rupa baik perilaku/ bahkan berperawakan indah semampai/ gadis pingitan juga setia/ rambut hitam bagai dicelup/ terampil tanpa harus diajari/ cantik bawaan semenjak lahir/ jelita saat masih dikandung/ tiada yang menandingi.”

Mendengar perkataan ibunya, Bujangga Manik bukannya menurut dan menerima lamaran, ia malah menyuruh untuk mengembalikan semua pemberian perempuan yang melamarnya. Ia menganggap bahwa kata-kata ibunya terlalu berlebihan, terlampau memuji, dan hal itu menurutnya adalah perbuatan terlarang. Pada baris 553-562 Bujangga manik berkata:

“Leumpang bawa pulang deui/ leumpang reujeung si Jompong/ ka dalem ka na tohaan/ seupaheun ta bawa deui/ buah reumbeuy bawa deui/ piburateun pihiaseun/ éta bawa pulang deui/ pikaéneun pisabukeun/ kalawan keris maléla/ leumpang bawa pulang deui.”

“Pergi dan bawalah kembali/ sekalian pulangkanlah bersama si Jompong/ ke istana kepada tuan puteri/ sirih-pinang itu bawa kembali/ berbagai persembahan bawa kembali/ bahan obat-obatan dan bahan perhiasan/ itu semua kembalikan lagi/ bahan pakaian dan bahan selendang/ termasuk keris baja/ bawalah pulang kembali.”

Setelah itu Bujangga Manik mengungkapkan isi hatinya kepada sang ibu. Ia mengutarakan bahwa apa yang disarankan ibunya untuk menerima lamaran tersebut adalah jalan yang salah, jalan menuju tempat kematian, jalan ke kuburan, dan menyebarkan kejelekan. Ia merasa tak nyaman, dan ibunya dianggap telah tersesat. Kemudian ia pamit untuk yang penghabisan sebelum kembali melakukan perjalanan. Pada baris 642-650 Bujangga Manik berucap:

“Ambuing karah sumanger/ pawekas pajeueung beungeut/ ambu kita deung awaking/ sapoé ayeuna ini/ pajeueung beungeut deung aing/ mau nyorang picarék deui/ mau ma ti na pangimpian/ pajeueung beungeut di bulan/ patempuh awak di angin.”

“Karena itu, bunda selamat tinggal/ untuk yang terakhir bertatap muka/ kita, bunda bersama denganku/ hanya sehari inilah/ bertatap muka denganku/ tak kan pernah berbincang lagi/ kecuali hanya dalam mimpi/ saling tatap muka di bulan/ bersentuh tubuh di angin.”

Setelah bertahun-tahun menjelajah daerah-daerah di Pulau Jawa dan Bali, Bujangga Manik atau Ameng Layaran kemudian menetapkan tempatnya yang terakhir, tempat untuk berpisahnya raga dan sukma. Pada baris 1396-1407 ia menulis:

“Sadiri aing ti inya/ sacunduk ka Gunung Ratu/ Sanghiang Karang Caréngcang/ éta huluna Cisokan/ landeuhan bukit Patuha/ heuleut-heuleut Lingga Payung/ nu awas ka Kreti Haji/ Momogana teka waya/ neumu lemah kabuyutan/ na lemah ngalingga manik/ teherna dek sri mangliput/ ser manggung ngalingga payung.”

"Sepergiku dari sana/ sampai ke Gunung Ratu/ Sanghiang Karang Carengcang/ itulah hulu sungai Cisokan/ di kaki Gunung Patuha/ batas antara Lingga Payung/ yang bisa memandang jelas ke Kreti Haji/ berharap semoga terbukti menemukan tanah yang suci/ tempat yang menyerupai tiang permata/ lalu akan kutudungi/ mengembang ke atas bagaikan payung bertiang.”

Lalu ia mendeskripsikan kematiannya. Hal ini yang kemudian menimbulkan pelbagai pertanyaan terhadap naskah ini yang dinilai banyak mengandung masalah kepengarangan. Di luar hal tersebut, berikut bunyi tentang kematian itu pada baris 1443-1452:

“Pati aing hanteu gering/ hilang tanpa sangkan lara/ mecat sakéng kamoksahan/ diri na aci wisésa/ mangkat na sarira ageung/ ngaloglog anggeus nu poroc/ atma mecat ti pasambung/ aci mecat ti na atma/ pahi masah kaleumpangan.”

"Kematianku tanpa sakit/ meninggal bukan karena derita/ melesat menuju kebebasan/ kepergian sang sukma/ keluar dari raga kasar/ copot sesudah yang terakhir/ sukma lepas dari ikatan/ ruh lepas dari sukma/ sama-sama lepas dan pergi.”

Yang menonjol dari naskah ini adalah banyaknya nama tempat yang disebutkan selama perjalanan. J. Noorduyn dalam Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: Data Topografis dari Sumber Sunda Kuno terjemahan Iskandar Wassid, menemukan sedikitnya 450 nama tempat, dan sebagian besar bersesuaian dengan topografi Pulau Jawa. Ia pun kemudian membuat peta topografi Pulau Jawa berdasarkan naskah tersebut.

“Pemaparan ini terutama ditekankan pada penyebutan nama-nama tempat, daerah, sungai, dan gunung yang terletak pada rute atau dekat rute yang disusuri,” tulis J. Noorduyn.

Selain itu, Hawe Setiawan dalam Bujangga Manik dan Studi Sunda memaparkan bahwa naskah ini mempersembahkan sebentuk ungkapan estetis berupa puisi prosais atau prosa puitis dari penghayatan dan pengalaman religius seorang asketis.

“Sebagaimana yang diteliti oleh Teeuw, dalam naskah ini kita mendapatkan idiom, metafora, dan pola persajakan yang menawan,” lanjut Hawe.

Namun demikian, naskah ini bukan berarti tanpa kekurangan. Hawe Setiawan mencatat setidaknya ada empat poin kekurangan dari kisah perjalanan Bujangga Manik tersebut: “(1) Masalah kepengarangan: apakah tokoh yang bernama Bujangga Manik alias Ameng Layaran adalah penggubah naskah ini ataukah semata-mata tokoh cerita? (2) Masalah representasi: apakah kisah dan deskripsi yang terdapat dalam naskah ini merupakan representasi pengalaman ataukah semata-mata merupakan hasil imajinasi? (3) Masalah sudut pandang: mengapa dalam naskah ini berkali-kali terjadi semacam pertukaran sudut pandang penceritaan, yakni dari sudut pandang orang pertama ke sudut pandang orang ketiga dan sebaliknya? (4) Masalah fungsi dan pretensi teks: adakah relasi yang signifikan antara deskripsi latar yang secara topografis sedemikian terperinci dan nilai-nilai spiritualitas yang terkandung dalam naskah ini?” tulis Hawe.

Sementara dalam buku Empat Sastrawan Sunda Lama karya Edi S. Ekadjati, dkk., diterangkan bahwa berdasarkan penelusurannya, sebelum abad ke-17 nama pengarang naskah Sunda hanya dikenal seorang, yaitu bernama Buyut Ini Dawit. Ia seorang pengarang perempuan dari kalangan pertapa di pertapaan Ini Teja Puru di Gunung Kumbang. Karangannya berjudul Sewaka Darma yang ditulis dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno dalam bentuk puisi.

“Dalam pada itu, Bujangga Manik menyebut dirinya sebagai penyusun cerita perjalanannya mengelilingi Pulau Jawa dan Pulau Bali dalam bentuk puisi. Dapat diperkirakan dia adalah seorang laki-laki dari kalangan keraton Sunda di Pakuan Pajajaran yang memilih kegiatan agama sebagai jalan hidupnya. Namun masih dipertanyakan, apakah Bujangga Manik itu nama dirinya atau nama julukan semata?” tulisnya.

Terkait beberapa masalah kepengarangan, Hawe Setiawan kemudian memaparkan bahwa masalah-masalah seperti itu perlu dibahas dengan tetap memperhatikan konteks historis dan sosiologis yang melingkupi naskah, setidaknya uraian mengenai masalah-masalah tersebut dapat mendorong pembaca untuk memperhatikan keadaan zaman dan masyarakat yang melahirkan naskah tersebut. (tirto.id - irf/zen)

Tayang pertama kali di tirto.id  

tanggal 27 Mei 2017 

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai