05 April 2017

Sebelum Freeport Ada Cikotok

Stasiun lori gantung yang merupakan bekas proses pertambangan di Cikotok, Banten. Foto/tambangemascikotok.blogspot.co.id
Empat tahun setelah Irian Jaya resmi menjadi salah satu provinsi Indonesia, Freeport mulai beroperasi. Perusahaan tambang emas terbesar di dunia tersebut menjadi perusahaan asing pertama di era Orde Baru setelah ditetapkannya undang-undang No 1/1967 tentang penanaman modal asing. Tambang emas di Papua yang dieksplorasi oleh Freeport merupakan salah satu tambang emas terbesar di dunia.

Keberadaan tambang emas di Indonesia sejatinya telah ada sejak zaman pemerintah kolonial Belanda, salah satunya yaitu tambang emas Cikotok, Banten. Tambang emas yang beroperasi sejak 1936 tersebut telah lama berhenti. Namun jejaknya masih bisa ditelusuri lewat beberapa tinggalan, di antaranya bak penampungan air dan lori gantung.

Pasca pemekaran, Cikotok berada di wilayah Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, daerah Banten Selatan. Secara topografi Cibeber berbukit-bukit dan bergelombang, serta sebagian besar wilayahnya termasuk ke dalam daerah kawasan hutan lindung.

Sejak tahun 1839, kawasan Cikotok telah diindikasi mempunyai kandungan emas. Tak kurang dari 77 tahun Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melakukan penelitian umum di daerah Cikotok dan sekitarnya untuk memastikan kadar endapan emas. Beberapa peneliti seperti Junghuhn, Verbeek, Homer Hasaki, Zungler, dan Fenaema vas Es, terlibat dalam proyek tersebut.

Dari tahun 1924 sampai 1930 dilakukan penelitian geologis oleh W.F.F. Oppenoorth. Setelah itu dilanjutkan dengan eksplorasi dan pemetaan hingga tahun 1936. Ketika semuanya dirasa telah siap, maka pembangunan tambang emas mulai dilakukan oleh sebuah perusahaan Belanda yang bernama NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam.

Berbarengan dengan itu, pembangunan fasilitas pendukung pun mulai dibangun seperti perumahan direksi dan karyawan tambang, perkantoran, gudang, rumah sakit, laboratorium, fasilitas pabrik tambang, jalan, PLTA, dan fasilitas air bersih.

Dalam Purbawidya (Jurnal Hasil Penelitian dan Pengembangan Arkeologi), Vol. 4, No. 1, Juni 2015, Effie Latifundia menulis "Fungsi Bak Air Cigarokrok dan Pasirgombong Kaitannya dengan Tambang Emas Cikotok Abad XX" yang menceritakan salah satu tinggalan fasilitas pertambangan tersebut.

“Bangunan dan fasilitas pendukung bagi pertambangan emas Cikotok yang tak kalah penting dan masih terus hidup dan berfungsi sampai sekarang ini adalah bak air Cigarokrok dan bak air Pasirgombong,” tulisnya.

Bak air yang berada di dua tempat berbeda namun masih satu desa ini mempunyai bentuk dan fungsi yang berbeda. Dalam penelitian yang dilakukan Effie Latifundia pada tahun 2007, bak air Cigarokrok dibangun di permukaan tanah. Warga setempat menyebutnya bak blendung karena berbentuk lingkaran dengan atap bulat menyerupai kubah. Di bagian tengah atap terdapat lubang masuk berbentuk persegi dengan ukuran 80 x 100 cm.

Bak air ini, baik ketika tambang emas masih beroperasi maupun telah tutup, berfungsi sebagai penampungan dan pembagi air bersih. Dulu air bersih tersebut dikhususkan untuk warga yang berada di kompleks perumahan dinas perusahaan tambang emas Cikotok, perkantoran, dan masyakarat sekitarnya. Sedangkan saat ini hanya warga sekitar baik air tersebut yang memanfaatkannya untuk kebutuhan air bersih sehari-hari. Air yang ditampung di bak tersebut berasal dari mata air Ci Burial yang disalurkan melalui pipa dengan panjang sekira 1.5 km.

Di kampung Pasirgombong, masih dalam wilayah desa Cikotok, bak air yang satunya lagi terletak di areal Pembangkit Listrik Tenaga Air dan berfungsi untuk menyalurkan air ke rumah pembangkit untuk menggerakkan turbin. Rumah pembangkit merupakan bangunan tempat peralatan berupa mesin turbin, generator, dan peralatan PLTA lainnya.

Air yang digunakan untuk pembangkit listrik ini berasal dari aliran air Ci Madur yang di bagian hulunya dibendung, lalu air bendungan disalurkan ke kolam penyaring agar sampah dari aliran tersebut tidak terbawa. Barulah dari sini air disalurkan ke bak air Pasirgombong sebelum akhirnya dialirkan ke rumah pembangkit.

Kedua bak air ini, meski tambang emas Cikotok sudah tidak beroperasi, tetapi bangunannya masih tersisa dan berfungsi dengan baik.

Bak penampungan air bukan satu-satunya tinggalan yang masih tersisa di bekas tambang emas Cikotok. Iwan Hermawan masih dalam jurnal yang sama namun pada Vol. 3, No. 1, Juni 2014 menulis Lori Gantung: Transportasi Hasil Tambang di Pertambangan Emas Cikotok.

Transportasi lori gantung dibangun karena jarak antara pusat-pusat penambangan dengan pabrik pengolahan letaknya cukup berjauhan. Oleh karena itu sarana pengangkut hasil tambang ini merupakan kebutuhan vital bagi keberadaan tambang emas Cikotok.

“Jarak antara Pasirgombong ke Cikotok adalah 5 km, dan ke Cirotan 19 km. Kenyataan tersebut diperberat dengan kondisi geografis wilayah pertambangan yang merupakan kawasan perbukitan terjal dengan lembah yang sempit,” tulis Iwan.

Pasca tambang ditutup, setidaknya sampai naskah Iwan diterima oleh redaksi jurnal Purbawidya, yaitu 20 Februari 2014, masih tersisa bekas keberadaan lori gantung yang berupa struktur pondasi stasiun lori gantung, struktur pondasi tiang kabel lori gantung, dan tiang-tiang bekas lori gantung yang sekarang dimanfaatkan oleh Perusahaan Listrik Negara sebagai tiang jaringan listrik tegangan tinggi (SUTT/saluran udara tegangan tinggi).

Ketika Jepang masuk dan mengambil alih kekuasaan dari Belanda, pengelolaan tambang emas Cikotok berada di bawah perusahaan Mitsui Kosha Kabushiki Kaisha. Untuk keperluan perang, dalam catatan Nina Lubis dkk dalam buku Sejarah Kabupaten Lebak, Jepang tidak mencari bijih emas melainkan mencari bijih timah hitam atau timbal yang merupakan bahan baku mesiu.

Setelah perang kemerdekaan mulai berakhir, tambang emas Cikotok kemudian dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia di bawah pengawasan Djawatan Pertambangan Pusat Republik Indonesia. Namun tak lama setelah itu, tepatnya pada tahun 1948, tambang emas Cikotok kembali diambila alih oleh Belanda yang kemudian diserahkan kepada perusahaan yang mula-mula mengelolanya, yaitu NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam.

Selang dua tahun kemudian, tambang emas Cikotok dijual kepada NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan dengan saham utamanya dipegang oleh Bank Industri Negara yang bersalin nama menjadi Bank Pembangunan Indonesia. Dan sejak tahun 1974, PT. Aneka Tambang menjadi pengelola dan pengendali pertambangan tersebut.

Dalam riwayat perjalanannya yang cukup panjang, tambang emas Cikotok telah menghasilkan berton-ton bijih emas. Kegiatan eksplorasi dan produksi yang berlangsung terus-menerus menjadikan cadangan bijih emas yang dikandung oleh perut bumi Cikotok semakin menipis. Kondisi ini akhirnya membuat pertambangan resmi ditutup pada 28 September 2005, dan produksi benar-benar berhenti pada tahun 2008. (tirto.id - irf/zen)

Tayang pertamakali di tirto.id
tanggal 12 Maret 2017

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai