05 March 2017

Orang Arab dalam Guyonan Orang Sunda


“Islam itu Sunda, Sunda itu Islam”. Jargon ini konon dicetuskan oleh H. Endang Saifuddin Anshari. Kenapa jargon tersebut bisa muncul? Jakob Sumardjo dalam buku Paradoks Cerita-cerita Si Kabayan menerangkan bahwa hal itu dilatari oleh karakter masyarakat Sunda yang berbasis huma atau ladang.

Jika dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan Jawa yang berdasarkan masyarakat sawah yang menetap, maka kebudayaan istana di kerjaan-kerajaan Sunda hanya berkembang di lingkungan terbatas masyarakat negara saja. Masyarakat negara adalah masyarakat Sunda yang berada di wilayah yang benar-benar dikuasai oleh kerajaan secara langsung. Di luar wilayah kekuasan kerajaan, masih terdapat kampung-kampung Sunda yang berpindah-pindah akibat hidup dari berladang.

Hidup yang berpindah-pindah membuat hubungan antara istana dan rakyat di luar wilayah kekuasan amat tipis, maka di zaman penyebaran agama Islam di Jawa Barat, agen-agen perubahan ke arah Islam leluasa keluar masuk kampung-kampung Sunda. Tidak mengherankan apabila di kalangan masyarakat Sunda di pedesaan kenangan terhadap zaman kebudayaan Hindu amat tipis, bahkan tidak mengenal zaman seperti itu. Hal tersebut tercermin dalam mitos-mitos rakyat terhadap penyebar Islam seperti Kian Santang.

“Mereka percaya bahwa agama Islam itu sudah sejak awalnya ada di Sunda. Sunda itu Islam,” tulis Jakob Sumardjo.

Meski Islam tidak identik dengan Arab apalagi negara Arab Saudi, namun karena Islam di Nusantara datang dari Hadramaut, Yaman, wilayah yang penduduknya berbangsa Arab, maka Islam sering dilekatkan dengan bangsa tersebut.

Satu contoh kaitan Sunda dengan Arab dipaparkan oleh Nanang S, spk dalam buku Taneuh Sakeupeul ti Mekah (Tanah Sekepal dari Mekah) yang menceritakan tentang asal mula lahirnya Kampung Mahmud, di Kabupaten Bandung, yang merupakan salah satu kampung tempat penyebaran agama Islam di tatar Sunda.

Kampung ini didirikan oleh Dalem Abdul Manaf, seorang ulama yang masih keturunan Sultan Mataram, yang ketika mudanya pernah pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji dan menuntut ilmu. Sekembalinya dari Mekah, beliau membawa tanah sekepal. Padahal waktu itu hal tersebut sangat dilarang, tapi Dalem Abdul Manaf nekad.

“Taneuh téh dicecebkeun dina ranca, di ieu lembur. Ti wangkid harita ieu tempat téh dingaranan Kampung Mahmud. Kampung nu masarakatna ngagem Islam, nanjeurkeun ajén-inajén Islam,” ceuk Haji Safe’i, kuncén éta kampung.

“Tanah tersebut ditanam di dalam rawa, di kampung ini. Mulai saat itu tempat tersebut dinamai Kampung Mahmud. Kampung yang masyarakatnya memeluk Islam, menegakkan kehormatan Islam,” kata Haji Safe’i, kuncen kampung tersebut.  

Dengan latar kondisi seperti itu, yaitu Sunda yang Islam, dan Islam yang kerap dilekatkan dengan Arab, tak membuat masyarakat Sunda mengurangi rasa humornya. Acep Zamzam Noor malah menulis bahwa sosok si Kabayan yang humoris adalah perwujudan dari seorang mursyid (pembimbing murid di kalangan sufi) yang sudah “teu nanaon ku nanaon” (tidak apa-apa oleh apapun).

“Cerita-cerita si Kabayan sangat kuat unsur humornya, yang secara tidak langsung menunjukkan karakter masyarakat Sunda yang intuitif, santai namun serius. Karakter yang juga banyak dimiliki para sufi,” terang Acep.

Sebagian orang Sunda, tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada Islam yang mereka anut, kerap menjadikan orang Arab (pembawa Islam Ke Nusantara) sebagai bahan guyonan. Beberapa guyonan bahkan kadang kelewat vulgar.

Kang Ibing dan Aom Kusman, dua orang tokoh Sunda yang populer berkat guyonannya dan tergabung dalam grup komedi De Kabayan, dalam sebuah lakon berjudul Ngaronda pernah memasukkan unsur Arab dalam guyonannya.

Dikisahkan suatu hari Kang Unang (Aom Kusman) dan Jang Aceng (Kang Ibing) tengah berdiskusi ihwal Siskamling (sistem keamanan lingkungan). Mereka yang kebetulan satu regu, kebingungan mencari kawan lain yang cocok untuk dimasukkan ke dalam regunya. Beberapa nama disebut, namun belum ada yang pas, termasuk tokoh Abah Wikanta yang terkenal jago bercerita namun ceritanya penuh dengan kebohongan.

Salah satu cerita bohong Abah Wikanta yang dituturkan oleh Jang Aceng yaitu ia mengaku pernah membeli kupat tahu bersama Raja Farouk (ini Raja Mesir sebetulnya) di Mekah. “Di mana di Mekah maké aya kupat tahu sagala nya, kang,” (Di mana di Mekah ada ketupat tahu segala ya, Kang), ujar Jang Aceng menegaskan.

Kang Unang mengiyakan kebohongan cerita tersebut. Lalu Jang Aceng dengan guyonannya yang khas menambahkan, “Enya, paling henteu kasedepna meureun teu sangu konéng mah,” (Iya, paling tidak kesukaannya—Raja Farouk, itu nasi kuning).  

Di lain waktu, ketika Kang Ibing beranjak tua dan mulai diundang untuk berdakwah di banyak tempat, dalam satu ceramahnya beliau bercerita tentang pengalamannya ketika melaksanakan ibadah haji. Ketika jamaah telah memadati Masjidil Haram dan berdesakan, Kang Ibing salat persis di belakang seorang Arab yang berperawakan tinggi besar. Ketika bangkit dari sujud, penglihatan Kang Ibing gelap, rupanya kepala beliau masuk ke dalam jubah orang Arab tersebut.  

“Cengkat tina sujud, poék. Sihoréng hulu abus ka jero jubah. Éta kacipta urang Arab cékérna totojér, ceuk dina haténa téh, ‘Ari sia rék naon susurungkuyan ka dieu,” (Bangkit dari sujud, gelap. Rupanya kepala masuk ke dalam jubah. Terbayang orang Arab itu kakinya menyepak-nyepak, mungkin katanya dalam hati, ‘Kamu mau apa masuk ke dalam jubah’), ujar Kang Ibing yang disambut gelak tawa hadirin.

Selain itu, Kang Ibing juga bercerita tentang pengalamannya pertamakali ke Mekah. Kata orang-orang di Indonesia, di Mekah memegang janggut dan kepala, meskipun itu kepada orangtua, tidak akan dimarahi oleh si empunya. Karena penasaran, Kang Ibing kemudian mencoba memegang janggut seorang Askar (keamanan) sambil berucap, “Assalamualaikum.” Askar tersebut menjawab salam Kang Ibing dan tidak marah.

Merasa belum puas, Kang Ibing mencoba lagi kepada seorang Arab yang berperawakan tinggi besar dan berjanggut panjang serta lebat. “Assalamualaikum,” ucap Kang Ibing sambil memegang jenggot orang Arab tersebut. Namun tak disangka sebelumnya, orang Arab tersebut malah menjawab, “Kang Ibing, abdi mah urang Pasar Baru, Bandung.” Hadirin kembali tergelak.

Dulu, ibu-ibu di kampung penulis, kalau Piala Dunia tiba dan Arab Saudi lolos, mereka selalu tertawa sambil berkomentar, “Tingali urang Arab mah calanana gé koatka sontog, éta téh lantaran panjang teuing ampir teu kawadahan.” “Lihat orang Arab celananya sampai (memakai) sontog, itu karena (alat vitalnya) terlalu panjang sampai hampir tidak muat (di celana biasa).” Saeed Al-Owairan (yang mengobrak-abrik pertahanan Belgia) dkk, menjadi bahan tertawaan.

Dalam keseharian, meski mulanya tidak diketahui dari mana, beredar beberapa cerita lisan vulgar dalam bahasa Sunda yang menjadikan orang Arab sebagai objek guyonan. Seperti misalnya kisah tentang perlombaan penis panjang antar bangsa. Perlombaan diadakan di dalam ruangan, dan peserta dipanggil satu persatu. Peserta dari Amerika Serikat dipanggil dan menunjukkan penisnya yang sepanjang botol air mineral ukuran 600ml. Lalu peserta dari Indonesia yang ukurannya lebih panjang sedikit dari peserta pertama. Negara berikutnya selalu lebih panjang sedikit dari negara sebelumnya. Berpuluh dipanggil bergantian, sampai dipungkas oleh peserta dari Arab Saudi.

Ketika peserta terakhir dipanggil, terdengar pintu ruangan diketuk. Tim juri mempersilakan masuk, namun peserta tak kunjung muncul. Salah seorang juri kemudian membuka pintu, dan tak menemukan orang, ternyata yang tadi mengetuk pintu adalah kepala penis orang Arab. Saking panjangnya: orangnya entah di mana, kepala penisnya sudah sampai duluan. [irf]     

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai