03 October 2016

Ngaleut Kampung Dobi

Pertengahan 2015, bertepatan dengan peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-60, di Babakan Siliwangi-Bandung (tak jauh dari sebuah mata air) diadakan acara mimbar terbuka yang tema utamanya adalah menolak segala bentuk privatisasi air. Hadir dalam acara itu, salah satunya adalah perwakilan dari masyarakat Padarincang-Banten yang daerahnya terancam oleh invasi kapital yang akan memprivatisasi sumber air yang selama ini digunakan oleh warga.
Kota Bandung yang hari ini telah berkembang sedemikian rupa hanya menyisakan sedikit sekali mata air yang benar-benar terjaga. Ci Kapundung sebagai urat nadi yang membelah kota telah renta: alirannya kotor dan susut. Meskipun beberapa titik sumber air di Kota Bandung secara resmi tidak dikuasai oleh privat, namun gerak pembangunan telah mengurangi volume dan kejernihannya. Ada beberapa kasus baru di perkampungan kota yang berkisah tentang konflik air antara pemodal yang membangun hotel, apartemen, dll dengan warga yang sekitar yang tiba-tiba sumber airnya berkurang.
Jauh sebelum itu, ada juga beberapa pembangunan yang perlahan membuat sumber air kota menjadi memprihatinkan, kampung Cikendi di Hegarmanah dan Ciguriang di Kebon Kawung sebagai contohnya. Dulu di Cikendi terdapat “pancuran tujuh”, yaitu mata air yang ditampung ke dalam sebuah kolam dengan tujuh pancuran bambu di tepinya. Kini mata air tersebut susut dan pancurannya tidak deras lagi setelah lahan hijau di daerah Ciumbuleuit digusur dijadikan perumahan. Sedangkan Ciguriang mulai kekurangan air sejak bekas pekuburan Belanda di Kebon Jahe dijadikan gelanggang olahraga Pajajaran.
Ketika sumber-sumber air ini masih terjaga, ada kisah-kisah dari masa lalu yang menarik untuk disimak lagi. Menurut catatan Haryoto Kunto (alm), di awal abad XX ketika air Ci Kapundung masih deras dan bersih, mata air Ciguriang di Kebon Kawung menjadi salah satu tempat mencuci pakaian yang banyak dikunjungi warga dari hampir setiap penjuru Kota Bandung. Mereka yang datang umumnya para binatu yang hendak mencuci baju di Ciguriang dari malam hari sampai pagi. Dengan hanya membayar satu sen, para binatu tersebut bisa menggunakan air sepuasnya.
Malam merayap di Kebon Kawung tempo dulu yang masih sunyi, ditingkahi bunyi bertalu-talu dari bantingan cucian para binatu di atas batu, juga nyanyian berbahasa Sunda yang lamat-lamat. Di bawah nyala obor, mereka bekerja sambil bersenandung sampai tiba waktu subuh. Romantik memang, namun setidaknya kisah ini mengabarkan satu hal bahwa sumber air bersih yang dulu setia memenuhi kebutuhan warga kota, perlahan hilang seiiring kisah-kisah masa lalu yang juga ikut terkubur dari ingatan.
Maka Ngaleut Kampung Dobi selain hendak menelusuri kembali jejak mata air dan aliran Ciguriang serta menggali serpihan kisah yang mungkin masih tersisa, sejatinya adalah mencoba menyuburkan kembali kesadaran tentang air—terutama di kota besar seperti Bandung, yang kondisi dan ketersediaannya semakin memprihatinkan. Dan kami percaya, dalam konteks sosial, kesadaran tentu tidak datang begitu saja dari langit, tapi melalui proses pembacaan literatur dan pengalaman langsung datang ke lapangan: berinteraksi dengan warga, merasakan bau menyengat sungai, menyusuri aliran air, mendokumentasikan sumber air yang compang-camping, dll.
Pembangunan kota dan sumber air terus-menerus “konflik”. Masa lalu terus meyakinkan kondisi ideal, masa kini terus menghamparkan kondisi sebaliknya. Dan di antara keduanya kami mencoba hadir. Romantisme masa lalu kami hayati untuk menggali informasi dan menghangatkan jiwa, sedangkan kondisi hari ini kami akrabi untuk menjaga terus api kesadaran. [irf]

Semangat Pramoedya dan Gerakan Literasi

Almanak mewartakan bahwa pekan pertama Oktober ditandai oleh dua tanggal peringatan yang keduanya sedikit banyak beririsan dengan buku, atau lebih khusus lagi dengan seseorang yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya dengan dunia literasi. Penghujung September adalah gempa politik paling hebat pasca revolusi kemerdekaan. Dan lima hari setelahnya, militer sebagai pemenang dari pertikaian tersebut berulangtahun. Kita tahu bahwa hari-hari setelah kejadian itu adalah parade panjang tentang tumpas-kelor, pembersihan, dan pembangunan ketakutan yang berlapis-lapis. Mereka yang kalah, di lapangan kehidupan apapun, terpuruk sampai titik nadir. Dan di ranah literasi kita mengenal nama Pramoedya Ananta Toer.
Karya-karya Pram dibakar dan dilarang oleh militer dan pemerintah. Satu wajah purba tentang bibliosida. Fernando Baez dalam “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” mengoreksi pendapat sebagian kalangan yang menyangka bahwa penghancuran buku terjadi hanya karena ketidaktahuan awam dan kurangnya pendidikan, menurutnya yang terjadi justru sebagian besar dilakukan oleh kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing. Apa yang menimpa Pram adalah bukti sahih pendapat Fernando Baez ini. Militer (revolusi dan pasca kemerdekaan) dan Jaksa Agung membakar dan melarang beberapa naskah dan bukunya. Belum lagi beberapa naskah yang tak jelas nasibnya di tangan para penerbit.
“Di Tepi Kali Bekasi” yang pertama kali terbit tahun 1951 adalah sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada Agresi Militer Belanda I. “Perburuan” yang memenangkan sayembara Balai Pustaka dicekal oleh pemerintah karena dicurigai bermuatan komunisme. “Panggil Aku Kartini Saja” yang bisa kita baca hari ini sejatinya hanyalah bagian I dan II saja dari total naskah, sebab bagian III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965. Angkatan Darat sebagai ujung tombak pembersihan orang-orang yang dianggap komunis rupanya punya andil besar dalam menghanguskan buku-buku Pram. Selain yang telah disebutkan sebelumnya, salah satu matra di tubuh TNI ini juga membakar naskah “Kumpulan Karya Kartini”, “Wanita Sebelum Kartini”, “Sejarah Bahasa Indonesia: Satu Percobaan” dan jilid 2 dan 3 dari cerita bersambung “Gadis Pantai” yang hari ini hanya tersisa jilid satunya saja. “Sepoeloeh Kepala Nica”, “Mari Mengarang”, dan “Lentera” tak jelas rimbanya di tangan berbagai penerbit. Dan yang paling terkenal, Tetralogi Buru, tak bosan dilarang oleh Jaksa Agung.
Tanpa melupakan satu episode ketika Pram—di tengah situasi politik yang condong ke kiri, pernah begitu trengginas menyerang dan menghajar lawan-lawan ideologisnya, namun kiranya dia juga adalah salah satu yang paling kenyang ditindas secara fisik dan politik, juga karya-karyanya diperlakukan sedemikian buruk. Jika kita menilik bobliografinya, akan didapati jejak kerja yang dilakukan terus menerus. Pram tahu karya-karyanya dibakar, dilarang, dan hilang berkali-kali, namun ia seolah tidak kapok untuk terus menulis dan menulis lagi.
Kepada tentara yang datang menggeledah ruang perpustakaannya ia berkata, “Kalau negara mau, ambillah. Suatu saat akan berguna untuk kepentingan bangsa. Tapi tolong jangan dibakar.” Namun aparat yang mengangkut ratusan atau bahkan ribuan naskah dan dokumennya itu malah membakarnya. Sesuatu yang membuat Pram naik pitam setiap kali mengingatnya. “Saya terbakar amarah sendirian,” ucapnya. Ya, Pram memang terkenal juga sebagai seorang dokumentator yang ulet. Dia mengkliping apa saja yang terkait dengan Indonesia. Dapur Tetralogi Buru adalah arsip dan dokumentasinya yang gigantik itu.
Hari-hari ini ketika September hampir habis dan Oktober telah menunggu di muka, kiranya pelbagai titimangsa peristiwa bersejarah mengingatkan kembali kita kepada Pram dan dunia literasinya yang rontok berkali-kali, namun tumbuh lagi dan hidup seolah tak mati-mati. Berpijak dari sini kemudian Kelas Literasi Komunitas Aleut pekan ke-62 hendak mengusung tema. Pram adalah simbol kerja keras dan keras kepala dari seorang kerani partikelir yang amat peduli dengan dokumentasi sejarah bangsanya. Ia juga adalah salah satu pengingat bahwa ancaman pelarangan buku—seperti beberapa bulan ke belakang cukup marak, akan selalu ada dan membuat kita waspada. Di atas segalanya, Pram dan literasi adalah wujud nyata dari kerja. “Semua orang yang bekerja itu adalah mulia, yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan,” begitu kata Ibunda Pram sekali waktu. [irf]

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai