10 July 2016

Permenungan dan Pengapungan (1)

Surat ini takkan mungkin bisa dikirimkan. Takkan mungkin sampai ke tanganmu. Lihat, dia tetap kutulis, untukmu—kau, yang sedang berbahagia dalam suasana pengantin baru.

Akan tetap terkenang peristiwa yang satu itu: kau datang bersama calon suamimu dan seorang penghulu, yang begitu terburu-buru kuatir tertinggal kereta rejeki.

Tentu saja kau tahu, tak ada keberatan padaku kau memilih seorang suami untuk dirimu sendiri. Juga aku percaya, kau akan tetap ingat pesanku pada calon suamimu sebelum kau menikah di depanku:

“Anak ini anakku yang pertama, anak yang aku sayangi. Dahulu neneknya berharap ia jadi dokter, ternyata ia akan menjabat jadi istrimu. Jadi, setelah nanti kalian menikah, jangan sekali-kali anakku dilarang atau dihalangi kalau dia mau meneruskan pelajarannya. Kedua, tidak aku ijinkan anakku dipukul atau disakiti. Ketiga, anak ini kau pinta padaku untuk diperistri secara baik-baik, kalau karena sesuatu hal kau tidak menyukainya lagi, kembalikan pula dia secara baik-baik padaku.”

Dan sejak itu kau tak pernah datang menjenguk aku lagi. Maaf, aku tak dapat lagi mengingat tanggal dan bulannya. Malah nama suamimu aku tak dapat mengingat sesuku pun, apa pula pekerjaan dan pendidikannya. Walhasil semua itu terserah padamu, kau sudah memilih, juga memilih tanggungjawab.

1969 kau tinggalkan RTC (Rumah Tahanan Chusus) Salemba, pamit untuk memulai hidup sebagai seorang istri. Beberapa kali kau masih melihat ke belakang sebelum pintu raksasa itu mengantarkan kau lepas ke jalan raya. Orang yang setelah pernikahan itu menjadi suamimu beberapa kali masih membungkuk memberi hormat. Dan waktu pintu raksasa itu kembali tertutup habislah sudah basa-basi itu. Kau memasuki bulan madu. Aku juga pergi. Ke pembuangan.

Bagaimana harus dinilai? Karunia? Atau kutukan? Bila orang tak dapat membebaskan diri dari waktu yang tiga dimensi: lalu, kini, dan depan?

Dulu, di penjara Bukitduri, pernah aku belajar menyanyi lagu yang dibuka dengan kalimat “There’s happy land somewhere”—lambang hari depan untuk semua orang. Dengan pimpinan sang harapan, dengan keringat sebagai lambang jerih payah sendiri, dengan masa kini sebagai titik tolak, dengan masa lalu sebagai pesangon, ia bergerak menuju ke “happy land somewhere”. Orang tak tahu pasti. Maka juga disusul oleh “and it’s just a prayer away…”

Betapa indah kadang lagu-lagu itu, kalau suasana tepat dan syaraf pun tidak disibuki oleh tetek-bengek.

Somewhere, anakku. Dan where to? Kau, negeri bahagia di mana kau sesungguhnya? Orang dididik untuk percaya, negeri tujuan memang kebahagiaan itu. Dan kepercayaan yang diperoleh secara mudah bisa juga hilang dengan mudah.

16 Agustus 1969. Kau berbulan madu di happy land yang sudah jelas. Aku ke happy land somewhere: konon ke Pulau Buru di Maluku, sebuah pulau lebih besar dari Bali. Dan besok kalau tidak dibatalkan oleh entah siapa, 17 Agustus. Kami berangkat bersama lebih delapan ratus orang dengan kapal ADRI XV sebagai hadiah ulangtahun Republik Indonesia.

Untuk dapat naik ke kapal dari tigaribu limaratus ton bobot mati ini kami harus datang ke pelabuhan Sodong di Nusa Kambangan, ditentang pelabuhan Cilacap, Wijayapura.

Tiada kan kututup mata kepalaku, juga tidak mata batinku. Kapal ini akan membawa kami bersama masa depan dalam impian, dalam kepercayaan itu. Pulau Buru bukan happy land  somewhere. Dia hanya stasiun perantara. Juga untuk itu dibutuhkan kepercayaan.

Kapal mulai bersuling, lambat-lambat meninggalkan Sodong dan Wijayapura. Kehidupan hutan dan gunung-gemunung Nusa Kambangan nampak mulai bergerak. Dan pantai putihnya makin lama makin menghilang dari jangkauan mata. Bila pandangan dilepaskan ke selatan, hanya kebiruan Samudera Hindia yang terbentang, tanpa batas, sampai ke kaki langit. Bila ke utara, yang nampak adalah tebing-tebing terjal pantai selatan Jawa. Jangan dengarkan nafas mesin kapal bobrok yang terengah-engah itu.

Kami sedang berlayar, seperti nenek moyang dulu di jaman migrasi untuk menemukan daratan dan kehidupan baru. Kesadaran sajalah yang membikin diri tahu, kami sedang ada di perairan tanah air sediri, negara maritime dengan tigabelas ribu pulau. Kata orang, setiap di antara pulau itu adalah juga milik kami, juga setiap cangkir dari perairan antara dua samudera itu, Hindia dan Pasifik. Itu ajaran klasik di sekolah. Lebih nyata dapat dipegang adalah ucapan Peltu Marzuki di RTC Salemba: “Kalian tak punya hak apa-apa selain bernafas”. (Dan ternyata sudah sekian dari kami hak untuk bernafas pun dirampas).

Ajaran klasik ternyata bisa bermuka dua. Bukan hanya laut, juga seluruh isinya. Seluruh bumi dan isisnya, juga langit, garis lurus sampai akhir tata surya kita. Antara kenyataan dengan janji sudah tak ada status quo. Kapal kami bergoyang dan bergeleng-geleng. Kami berlayar dalam ruang dengan pintu besar dari jeriji besi, dan dikunci, dalam sekapan, dalam tiga ruang besar di bawah dek. Melihat langit pun tak lagi ada hak, jangankan memiliki atau ikut memiliki. Seperti orang-orang Cina yang diculik dalam kapal Kapitan Bontekoe, seperti tawanan-tawanan culikan Cina lain dalam kapal-kapal tokoh Michener yang diangkut ke Hawaii, seperti nasib empat juta penduduk Afrika dalam kapal Inggris dan Amerika, menyeberangi Atlantik dibawa ke benua baru.

Di antara depalan ratus teman sekapan  dalam kapal ini, sebagaimana biasa, aku tetap merasa seorang pribadi. Dan pribadi yang masih dapat bergerak dengan sepenuh kesehatan. Terlalu banyak di antara kami belum pernah beranjak dari desanya, tak pernah melihat laut. Warganegara negara maritim ini! Kau dengar? Warganegara yang di sekolah dasar diberitahu, mereka keturunan bangsa bahari penjelajah lautan. Sebagian besar di antara kami pada menggeletak di ambinnya atau di geladak begitu kapal memasuki laut lepas—muntah dan muntah, terkulai bergelimpangan.

Ingat kau waktu kita berangkat ke Eropa tahun 1953 dulu? Kau masih kecil berumur tiga tahun. Kau pun tak pernah mabok laut dalam pelayaran selama 26 hari itu. Jangan tertawakan mereka yang dalam tubuhnya menanggung h.o (hongeroedeem : penyakit busung lapar). Banyak di antara mereka berasal dari penjara yang selama bertahun hanya memberi jatah makan 3 kali sekaleng semir sepatu. Ada yang dengan tinggi 160 cm, berbobot 29 kg. Betapa mahal memang yang harus dibayar untuk boleh menyebut diri warganegara Indonesia. Teman-teman dari penjara-penjara Jakarta lebih beruntung, intipan mata internasional lebih leluasa. Kau belum pernah melihat bagaimana abnormal tingkah dan pikiran tubuh yang kurang dari lima puluh persen berat badan minim yang seharusnya. Dan matanya kelihatan besar melotot, terlalu terlalu besar tapi tak semua yang dilihatnya napak jelas, kulitnya kering, dan perbukuan-perbukuannya seperti tinju kingkong, menolehnya tidak menentu dan lamban, sedang pandangan matanya tertebar ke mana-mana tanpa tujuan pasti. Pemandangan biasa di masa pendudukan Jepang memang, dan pemandangan biasa dalam kehidupan tapol RI kurun ini. Namun, bergelimang dalam muntahan sendiri, semangat hidup mereka menyala. Tentu bukan karena porsi pertama di atas kapal nasi sepiring penuh dengan sepotong daging atau sepenuh telor: mereka ingin dapat saksikan akhir segala ini! Dan, karena hidup memang indah bagi mereka yang tahu menggunakannya, dan bagi mereka yang punya cita-cita. Ya, biarpun sekarang ini bangun dan tidur pun perlu dapat bantuan teman-teman yang masih sehat atau setengah sehat. Orang-orang semacam kami ini pada setiap tahun belakangan ini menjelang puasa dapat dipastikan diajari oleh ulama yang didatangkan dari dunia bebas, tentang pentingnya berpuasa, menahan lapar, menahan nafsu…

Kau tak pernah menderita kelaparan sejak kecil. Kau anak bangsa merdeka, yang memang tidak patut menderitakan kelaparan hanya karena ketidakbecusan orang lain. Aku sendiri anak bangsa jajahan. Bila dalam hidupku pernah aku alami masa kelaparan yang panjang dan berat, wajarlah itu, biarpun makanku memang tak bisa banyak. Lapar perlu diterima sebagai sahabat yang tidak menyenangkan. Dalam sekapan di RTC Salemba dan Tangerang selama hampir 4 tahun memang aku tak begitu lapar berbanding yang lain-lain. Keluarga tetap berusaha mengirim makanan dua atau tiga kali seminggu. Dan sekalipun yang diterima tidak selamanya utuh, dikurangi untuk makan bersama kelompok makan, dan dikurangi lagi untuk dana umum seluruh penjara. Betapa keluarga-keluarga itu tidak membiarkan kami mati kelaparan! Dan kelaparan itu sendiri apalah bedanya antara pembunuhan sistematis dengan akibat kerakusan para pejabat? Biar yang berkepentingan yang menjawab. Setidak-tidaknya, dengan jatah penjara saja, orang akan tewas. Volume makan kurang gizi? Volume dan gizi juga senjata di tangan pembunuh. Itu di Jakarta. Bukan di Klaten atau Sukoharjo atau Pacitan atau Kebumen yang jauh dari intipan mata internasional!

Sebelum kapal berangkat meninggalkan Nusa Kambangan, kelaparan sudah bermain drama dalam usus besar. Kepala penjara Karang Tengah di pulau Nusa Kambangan pernah memanggil aku, mengajak bicara-bicara. Kesempatan untuk mengajukan perbaikan makan. Ia tidak berdaya. Kebaikannya, yang aku berterimakasih padanya, kutolak dengan modal yang satu-satunya itu: terimakasih. Ia menawarkan: kalau hanya untuk Pak Pram pribadi dan Pak Prapto, saya sanggup membantu dari dapur saya sendiri. Waktu kami dijemur hampir sehari menunggu datangnya kapal di tanah lapang pelabuhan Sodong, sambil menyaksikan teman-teman lain dihantami para petugas karena bertukaran pakaian pembagian—maklum pakaian itu tanpa mengindahkan ukuran badan yang menerima—kelaparan itu sudah sampai pada titik tinggi kegarangannya. Kami yang berjongkok pada sejalur pagar bluntas beramai-ramai merengguti daun bluntas penuh debu jalanan dan menggayangnya mentah-mentah tanpa dicuci lebih dahulu. Kalau iar untuk mencuci pun ada, kami tak akan bisa meninggalkan barisan tanpa kena hajar. Dan jangan kau muntah melihat kami makan tikus kakus yang gemuk lagi besar itu, atau bonggol batang papaya atau bonggol pisang mentah-mentah, atau lintah darat yang ditusuk dengan lidi. Bahkan drs. J. P. bisa menelan cicak hidup-hidup setelah dipotesi telapak kakinya yang empat. Ia ahli menangkap cicak. Dengan ibu jari dan telunjuk ia menjepit tengkuk binatang celaka itu dan hewan perangkak itu pun disorong masuk ke gua tenggorokannya. Keberanian menantang kelaparan adalah kepahlawanan tersendiri.

Kapal kami bukan seperti yang pernah kau tumpangi ke Eropa, Ondenbarneveldt, dengan kecepatan 16 mil/jam itu, bukan seperti Oranje membawamu pulang dari Eropa ke Jakarta. Seperti bumi dengan langit. Kapal-kapalmu dilapisi kayu terpoles mengkilat. Lantainya dibersihkan setiap hari—kapal-kapal Belanda itu. Tak ada seekor kecoak nampak merenung atau mondar-mandir menaksir dunia dengan sungutnya yang terlalu panjang. Kapalku dikuasai kecoak, siang dan malam. Kadang aku tersenyum geli mengingat betapa binatang pelari-penerbnag itu, kadang lincah kadang lamban, sudah begitu berjaya dalam ikut membonceng berkuasa atas diri kami.

Kami berasal dari banyak penjara Pulau Jawa. Bukan dari Jakarta saja. Dan rombongan Jakarta mendapat ruangan di hidung haluan. Ujung terdepan, tertinggi berbanding rombongan-rombongan yang lain. Paling depan sekali adalah ruang besar kamar mandi dan kakus. Betapa pun terhina dan dihina tapol RI ini, umumnya masih tahu dan ingat kebersihan yang pernah diajarkan oleh orangtua dan sekolah dasarnya. Begitu memasuki ruangan yang ditunjuk, ruangan di mancung hidung haluan di bawah dek, kontan balik kanan jalan, hidung disumbat. Ruangan itu penuh bukitan kotoran manusia. Kapal ADRI XV—kapal yang masih dioperasikan! Ai! Anak cucu bangsa bahari! Tanpa diperintah pun langsung rombongan Jakarta mulai membersihkan ruangan keparat itu. Sapu dan tong air disiapkan. Kran-kran air mulai diputar. Genangan air kotoran ternyata menjelma jadi rawa lumpur. Saluran-saluran pembuangan pampat semua. Setan pun mungkin takkan tahu lagi di mana sesungguhnya lubang-lubang pembungan itu. Kok bisa begini? Betong-tong air tak juga mau turun, tak seperti di daerah pasang-surut. Dan bila haluan terangkat ombak, air rawa buatan itu menerjang bendul-bendulnya dan membanjiri ruangan yang ditunjuk untuk kami. Dan hero-hero kotoran manusia tercengang? Terperangah? Tidak! waktu baru memasuki barak yang ditunjuk di penjara Karang Tengah, Nusa Kambangan, onggokan kotoran manusia juga yang ditemui, di seluruh barak, dari balik bendul pintu sampai ke ruangan kakusnya sendiri. Bedanya lantai barak penjara dari tanah, lanpai kapal ini dari besi karatan.

Kapal kami terus terengah-engah, berderak-derak, tigaribu limaratus ton bobot mati. Meluncur cepat, secepat bersepeda santai keliling kota. Kadang mogok, berhenti, jadi permainan ombak di tengah laut—kapal kami, kapal negara kepulauan terbesar di atas muka bumi!

Sekiranya kapal ini tenggelam—kami akan mati bersama, delapan ratus orang ini—dalam sekapan dengan semua pintu terkunci dari luar. Ah ya, apa salahnya mati? Setidak-tidaknya kami masih bisa memberikan sesuatu pada dunia: cerita sensasi dan bagaimana pertanggunganjawab akan kembali jadi bola volley. Berapa saja sudah jumlah dan jenis makhluk telah punah dari muka bumi? Dan tak ada yang meributkan? Berapa saja semut telah mati terinjak-injak setiap detik? Berapa pula serangga lain tumpas kena semprotan insektisida? Siapa meributkan? Juga hati ini tak perlu ribut. Jangan menyesal mengapa punya impian, merasa belum cukup dengan yang sudah ada. Sejak peristiwa 1965 itu aku telah kehilangan semua dan segala. Lebih tepat semua dan segala ilusi. Untukku sendiri sudah kumiliki semua dan segala untuk hidupku sebagai bayi. Dan seperti bayi-bayi selebihnya modal untuk berkomunikasiku hanyalah suaraku: jeritan, raungan, keluhan, rengekan. Dan bila modal komunikasi itu dirampas, ah ya, siapa yang bisa rampas hak untuk berdialog dengan diri sendiri? Dan yang dirampas itu akan berubah jadi energy lain yang akan mengguris abadi dalam kehidupan. Sentimental? Apa boleh buat, hanya batang kayu yang tak punya sentiment, kata penerjemah Rumania itu membantah seorang anggota Parlemen RI yang pernah datang ke negerinya.

Ya, sayang sekali aku tak dapat saksikan perayaan perkawinanmu. Hadiah kawinmu pun hanya catatan semacam ini, dan tak akan sampai ke tanganmu pula. Empat tahun belakangan ini aku hanya mengikuti tudingan telunjuk orang untuk meninggali sel-sel beton atau kayu. Biar begitu tidak benar kalau tidak pernah ingat padamu. Di mana kau tinggal sekarang? Bagaimana kehidupanmu dengan suamimu? Aku tak tahu. Biar tahu pun apalah gunanya bagimu? Tapi empat tahun bukan waktu pendek dalam hidup manusia. Umur kadal pun tak sampai sepanjang itu. Di selku di penjara di Tangerang, lalat yang berhasil kutangkap kukurung dalam plastik. Ia mati tua dalam tiga setengah hari. Empat tahun tanpa tahu duduk perkara sungguh suatu kemewahan berlebihan, seperti lapisan tebal bedak pada muka buruk seorang nenek tua renta.

Entah sudah berapa kali kapal kami dilewati kapal-kapal lain. Mungkin dari kejauhan jadi tontonan yang mengibakan, penderita kusta di tengah-tengah lalu lintas kehidupan yang sehat dan cerah. Setiap saat dalam kesadaranku terdengar nafasnya yang terengah-engah dan persendian-persendianya yang berderak-derak. Dua kali nafasnya tak terdengar dan gigilan mesinnya yang mengeletari kulit bajanya padam. Seribu tahun yang lalu pun nenek moyang telah menjelajahi perairan ini—pasti cerita para guru sekolah itu bukan omong kosong—dengan perahu-perahu buatan tangan sendiri, dan pasti lebih bersih dari ADRI XV. Sekali lagi pasti para guru sekolah itu bukan jual koyo. Perahu-perahu layar Bugis, Makassar, dan Madura sampai saat ini pun lebih tertib, sekalipun, dan justru, tidak dibiayai dengan uang negara.

16 Agustus 1969 kutinggalkan kau berbulan madu di Jawa. Aku menuju ke happy land somewhere. Sepuluh jam sebelum mancal baru kami ketahui, happy land somewhere itu konon Pulau Buru di Maluku. Besok 17 Agustus keberangkatan kami: hadiah ulang tahun kemerdekaan RI. Hadiah untuk mereka yang tak jemu-jemunya meyakinkan diri mereka sendiri—juga kami—bahwa kami adalah pengkhianat, pemutarbalik Pancasila. Dan selalu, tanpa pernah membuktikan tuduhan mereka sudah menyemburkan tabir asap: harus tahu sendiri, merasa sendiri, (karena itu) introspeksilah, mawas diri, beriman, beragama. Bersembahyang. Berdoa!

Ada yang berdoa memang, ada yang mengharap, kapal ini tenggelam dihantam angin timur, dan kami mampus dimakan hiu. Itu dari golongan yang menganggap: yang mati tidak akan bicara lagi. Anggapan jaman batu berpermatakan pesona kriminal. Memang kami sudah setengah atau seperempat hidup tanpa hak sipil dan tanpa makan cukup—tapi kami semua sudah membuktikan lolos berkali-kali dari lubang jarum kematian. Pada punggung masing-masing tergendong kantong, takkan pernah lepas seumur hidup, penuh sesak dengan lambang-lambang pengalaman indrawi dan batini, kristalisasi energy yang tak bakal ikut mampus, lebih abadi dari daging dan tulang bahkan dari gading yang tak kenal retak pun. Lambang-lambang itu akan terus bicara dengan bahasanya sendiri, Levenslang Verbannen dalam dua jilid tebal karangan seorang anonimusitu, “Rumah Mati”-nya Dostoyevski, “Boven Digoel”-nya Dr. Schoonheyt, Pandawa di Kurusetra, Koestler dalam bukunya, apa pula judulnya? “Dark in the Aftermoon”? “Mereka yang Dilumpuhkan”, “From Land Hell to Island Hell”, siapa pula pengarangnya? “Laporan dari Tiang Gantungan” Julius Fucik, “Der Prophet”-nya Anna Seghers, dan…

Biar sedikit mengsol, mari aku ceritai kau sesuatu: Rakyat Spanyollah yang pertama-tama bangkit melawan fasisme, jauh sebelum negara-negara yang menamai diri negara demokrasi turun ke medan perang, yang melahirkan Perang Dunia II. Dan waktu Perang Dunia II usai, fasisme Jerman dan Itali dan Jepang digulung, fasisme Spanyol tetap berdiri, bahkan hidup berdampingan secara damai dengan para pemenang PD II, malah ikut dalam persekutuan militer dalam rangka perang dingin. Memang suatu dagelan persekutuan militer baru itu. Dalam Konperensi Potsdam regime Franco Spanyol oleh Sekutu dijatuhi hukuman duapuluh tahun. Begitu Perang Dunia II selesai tak ada yang mengingat hukuman yang dijatuhkan, malah berangkulan. Pragmatisme Barat itu untuk kesekian kalinya mempertunjukkan jantung dan wajahnya yang demonik. Dan itu akan tetap dipertontonkannya tanpa malu demi kepentingannya. Dan demi alam pikirannya yang pragmatis. Duapuluh tahun setelah benggol-benggol fasis yang tertangkap hidup pada digantung dan ditembak mati, paling tidak duapuluh tahun penjara!

Itu yang nampak dipermukaan. Yang tidak nampak? Adegan-adegan penjara Spanyol dimulai dengan cerita Koestler. Bila malam hari tiba dan giring-giring berbunyi mengunjungi sel, seorang pejuang anti-fasis dengan antaran seorang padre, sampailah dia pada ajal di tangan jagalnya. Sampai berapa lama pejuang-pejuang anti-fasis yang lolos dari lubang maut itu mendekam dalam penjara menunggu jatuhnya regim Franco? Dan dalam penantian itu seorang demi seorang terus dibunuhi, dari tahun 1933 sampai 1965? Dan yang mengirim makan para tahanan itu—pada mulanya istrinya, kemudian anaknya, kemudian lagi cucunya. Mereka berbaris di depan gerbang penjara Burgos itu, tiga puluh dua tahun, dan regime Franco tak juga runtuh. Penganiayaan dan penindasan terhadap para pejuang anti-fasis tetap belum jadi sejarah….. (bersambung)

---Pramoedya Ananta Toer

* Tulisan ini merupakan salinan dari "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu" jilid 1
* Sumber foto : cnnindonesia.com (waktu Pram dibebaskan dari Pulau Buru)

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai