13 July 2016

Hikayat Keluarga

Saya pulang kampung sebab lebaran datang lagi. Di luar itu, saya tak terbiasa tinggal di rumah. Di rantau pun bukan karena punya kesibukan, apalagi pekerjaan, namun semacam ada garis takdir yang membuat saya memilih untuk menjauh dari kampung dan meninggalkan segala kepompongnya, untuk ditengok sesekali pada lebaran tahun berikutnya.

Pada hari kedua Syawal seorang saudara datang dari Depok. Saudara agak jauh sebetulnya, setidaknya beda generasi dengan saya. Ia, saudara itu adalah sepupunya mama. Orangtua mereka kakak beradik, tujuh bersaudara semuanya, kalau saya tidak keliru. Tiap tahun sepupu mama itu pasti datang ke kampung dan rajin berkeliling untuk menemui saudara-saudaranya, meski tak jarang yang ia temui justru generasi yang telah berganti, sebab sebayanya telah pamit duluan ke alam keabadian, seperti mama saya.

Kakek-nenek mama dan sepupunya, artinya buyut saya, tinggal di satu zaman yang jauh, seperti Sabang dan Merauke, atau cinta tak berbalas; pendeknya mewakili sesuatu yang tak dapat saya jangkau. Hanya dari selembar foto usang saya dapat sedikit meraba bentangan waktu yang menganga.

Buyut saya memiliki tujuh orang anak, tiga perempuan dan empat laki-laki. Kakek saya adalah anak yang keenam. Yang namanya orang, meskipun saudara, tetap saja punya budaya keluarga yang berbeda-beda, juga nasib yang berlain-lainan. Kakek saya yang meninggal pada tahun 1974 konon adalah seorang kiai, meskipun sebetulnya secara usia rasa-rasanya belum pantas betul disebut kiai, beliau wafat di usia 40 tahun.

Namun kabar lisan seperti kebenaran yang tak terbantah. Setiap ketemu orang dan kebetulan membicarakan kakek, ceritanya sama; bahwa kakek betul adalah seorang kiai yang meski ilmunya tidak terlampau luas, namun mempunyai akhlak yang baik. “Kakekmu, setiap kali akan pergi ke masjid, dan di jalan melewati preman-preman yang tengah nongkrong, ia selalu membungkukkan badan dan permisi dengan begitu sopan,” ujar seorang tetangga.

Sekali waktu mama pun pernah cerita, bahwa setiap ada pedagang makanan, terutama ibu-ibu yang sudah tua dan payah, sementara makanannya itu sudah dingin dan tidak enak, kakek pasti membeli sambil berucap, "Aduh, Ibu, enak sekali kuenya.” Mama dan anak-anak kakek yang lain kerap melarangnya untuk membeli kue-kue itu, alasannya jelas; sudah dingin dan tidak enak. Namun kakek bergeming dengan kebiasaannya.

Kakek
Ada pula cerita bibi yang mengatakan bahwa kakek tak pernah mencela dan membicarakan keburukan orang, paling-paling beliau menertawakan karikatur dan gambar-gambar komik. Kalau anak-anaknya tengah ngerumpi dan bergosip, kakek selalu berdesis mengingatkan. Desisan itu hanya menyampaikan dua hal; bahwa bergosip itu tak baik dan tak ada faedahnya.

Namun bagi saya, sosok kakek dan semua kisahnya, tak lebih dari sebuah dongeng. Saya tak sezaman dengannya, dan sedetik pun tak pernah bertemu. Persis seperti Fajar Merah dan bapaknya—penyair Wiji Thukul yang hilang di pusaran reformasi 1998. Segala kisah heroik tentang penyair kere itu baginya sebatas dongeng dari masa yang tak tersentuh.

Nenek meninggal tahun 1980 akibat sebuah paku payung menancap di tangannya, entah yang sebelah kanan atau sebaliknya. Tetanus menyebar dengan begitu cepat. Beliau dikebumikan menjelang magrib dan hujan turun amat deras. Itu terjadi dua tahun sebelum saya lahir. Pernah sekali saya lihat foto beliau yang sudah lapuk, dan kesan yang terbit tak lain adalah bahwa beliau waktu masih mudanya pasti adalah seorang yang cantik. Sisa-sisa kecantikan masih membekas di foto usang itu.

Pasangan kakek nenek yang tak pernah saya jumpai ini memiliki sepuluh orang anak, dan mama adalah anaknya pertama. Beliau kemudian menikah dengan bapak, seorang anak bungsu dari pasangan kakek nenek yang lain. Bapak sejak kecil sudah ditinggalkan wafat oleh kedua orangtuanya. Jadi, saya ini tuna moyang sejak dari mama belum merencanakan kehamilannya yang kelima.

Ya, saya anak kelima dari tujuh bersaudara. Sekarang menjadi lelaki satu-satunya setelah bapak dan kakak yang paling besar meninggal dunia. Cikal belum lama berkalang tanah, penyakit paru menggerogoti masa jaya dan karirnya. Dua tahun saya tunggui ia di rumah sakit, dengan kondisi fisik yang terus merosot secara drastis. Nafasnya tersengal-sengal, oksigen tak mau lepas, dan bobot tubuh yang akhirnya hanya tersisa 40 kg. Ia pergi di penghujung 2014, meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yang masih kecil. Dia, kakak yang baik dan mengayomi itu tutup usia di angka 42.

Sekarang rumah di kampung tak ada penghuninya. Enam bersaudara yang tersisa telah menyebar di rantau orang, sebagian telah punya keluarga dan alamat rumah masing-masing. Rumah tempat saya ditadah mula-mula dan menikmati masa kecil, kini tinggal masalalu yang dingin dan beku. Setahun sekali kembali cair oleh lebaran yang mubarak. Seminggu itu riuh oleh jerit dan lari bocah-bocah yang setidaknya dari satu pihak, sudah tidak lagi mempunyai kakek dan nenek.

Buyut
Kalau bertemu dengan mereka—bocah-bocah kecil itu, saya selalu menjadi juru dongeng. Maklum, saya adalah paman satu-satunya bagi mereka. Sembilan orang anak mengerubungi satu juru dongeng yang terus memutar otaknya agar tidak kehabisan cerita. Dari cerita hantu, perang, silat, sampai kisah orang-orang yang diserang penyakit aneh saya gelontorkan di hadapan mereka. Bocah-bocah itu menyimak dengan takjim, tegang, cemas, dan sesekali tertawa.

Adik saya yang paling kecil masih kuliah di Bandung. Ia bungsu “tak direncanakan”. Usianya terpaut delapan tahun dengan adik saya yang satu lagi. Waktu mama dan bapak meninggal, tentu saja ia yang paling terpukul, sebab usianya belum dewasa dan kakak-kakaknya sudah menikah semua, kecuali saya. Tapi apa yang diharapkan dari seorang kakak laki-laki yang menjalani hidup layaknya pengembara? Tak tentu tinggal dan rejekinya. Jodoh apalagi. Ya, saya memang bukan tipe kakak yang baik untuk menyandarkan hidup dan berkeluh kesah.

Lebaran kemarin saya dipanggil bibi. Ia bertanya ihwal istri. Sebuah pertanyaan yang tak pernah sekalipun ditanyakan oleh orangtua saya sendiri. Dulu paling-paling bapak sekali dua pernah bilang, “kamu mesti banyak tabungan, bukankah suatu saat kamu pun mesti menikahi anak orang?” Namun sekali ini bibi bertanya dengan cukup tendensius. Sebuah pertanyaan yang hanya saya jawab dengan senyuman. Bibi bahkan melanjutkan, bahwa tahun depan ketika lebaran tiba, saya harus sudah menggandeng istri kalau pulang kampung. Saya mengerti akan hal itu. Orangtua mana yang menginginkan anaknya terus-menerus hidup membujang? Namun saya punya perhitungan dan prinsip; bahwa sayalah yang paling berhak memaknai hidup dan eksistensi diri saya sendiri. [irf]

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…