11 July 2016

Demam

Ada juga terdengar olehnya adiknya kecil Tini itu berseru girang, “Mbak Ati datang.” Dan ada juga suara yang dikaguminya dulu—suara yang selalu membangkitkan birahinya:

“Tini…..sudah besar engkau sekarang, ya?”

Kirno mengarahkan matanya ke arah suara itu. Tapi seperti biasanya tak ada apa-apa yang dapat dilihatnya. Dan sekalipun ia rela, kerelaan itu terbit hanya karena terpaksa. Mata, dua-duanya, terpagas oleh peluru, dan sepasang kakinya pun begitu pula. Siapa mau dengan rela menyerahkan kedua mata dan kakinya untuk jadi cacat selama-lamanya? Dan untuk kesekian kalinya perlahan kepalanya diturunkan, runduk ke bawah dan akhirnya berhenti di atas meja keretanya. Kemudian kepala itu diam saja di situ. Terdengar lagi:

“Engkau turut arak-arakan tadi, Tini?” Suara yang mengagumkan hatinya dulu—tapi kini seperti suara-suara lainnya:

“Tentu, mbak, tentu. Dan menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu hari kemerdekaan. Dan kami sesekolah mendapatkan minuman dan kue,” suara adik kecil.

“Alangkah senang, ya? Mana ibu?”

“Ibu di kabupaten—menerima tamu, Tini menyahuti.”

“Bapak?”

“Di sana juga—menerima tamu”

“Mas? Mana mas Kirno?”

“Di dalam, mbak. Tapi, tapi, tapi, mas No sekarang…..”

Dan Kirno menghembuskan nafas keluh seakan-akan dalam keluhannya itu telah terkandung seluruh penderitaan dunia dan isinya. Tapi suara Tini melengking juga di kuping:

“…..tidak bisa jalan kakinya buntung”

“Buntung?” seru suara gadis itu kaget.

“Ya, mbak, dan selama ini dia duduk di keretanya saja. Kalau mau pergi kemana-mana, Tini yang mendorong-dorong kereta itu.”

“O …..,” suara yang kecewa dan pahit.

“Dan juga mas, mas No sudah jadi buta sekarang.”

“Buta?” desis suara gadis itu.

Perlahan-lahan Kirno mengangkat kepala, menegakkan badan, bersandaran pada sandaran keretanya dan keningnya berkerut. Berbisik ia pada dirinya sendiri:

“Ati!” itu saja.

“Kasihan bukan, mbak?” Tini meneruskan.

Ia tak mendengar Ati menjawab. Dan ia berkata dalam kepalanya.

“Dan aku sekarang….. aku sekarang hidup hanya untuk menerima kasihan orang lain.”

Terbayang dalam kepalanya betapa bebasnya dulu mempergunakan kaki dan matanya, sekalipun dalam jaman jajahan. Ya, sekalipun demokrasi dan kemerdekaan tak diteriakkan orang. Dan dalam negara demokrasi dan merdeka ia kehilangan haknya untuk berjalan dan melihat. Ya, sekalipun demokrasi menjamin kebebasan perseorangan. Sekali lagi ia mengeluh. Sekali lagi. Dan sekali lagi.

Terdengar suara yang dipujanya dulu:

“Bawa aku pada mas No”

Terdengar olehnya langkah kaki berselop, dan langkah anak kecil mendekatinya. Buru-buru Kirno menundukkan kepalanya. Badannya membungkuk. Dan kepalanya terletak di atas mejanya—tak bertenaga. Ada juga ia mendengar seruan Ati di depannya:

“Mas No!”

Ada juga terasa olehnya tangan merangkulnya. Ada juga terdengar olehnya sedan gadis yang dulu dicintainya itu—dulu sebelum Belanda menduduki kotanya dan sebelum ia mengundurkan dirinya dengan pasukannya ke hutan-hutan Mantingan. Ada juga terdengar olehnya nafas yang tertahan-tahan. Kemudian ia mengangkat kepalanya kembali. Berbisik:

“Ati-ku. Engkau datang juga akhirnya.”

Dan suara yang gugup terdengar olehnya:

“Mas No, mengapa engkau jadi begini sekarang?”

Kirno tak menjawab. Hanya hafas besarnya juga terdengar terhembus-hembus. Kemudian perlahan-lahan dan dalam Kirno berkata:

“Ati, kawan-kawanku mati seorang-seorang dan dilupakan orang. Dan aku pun mati dilupakan orang sekarang. Bukankah itu sudah adat dunia sesudah perang selesai, Ati? Perang selesai dan masing-masing yang masih hidup boleh memperoleh kedudukannya masing-masing dalam masyarakat yang dibentuknya sendiri. Bukankah itu sudah adat dunia sesudah perang, Ati?”

Dan tak ada terdengar olehnya Ati menjawab. Ia meneruskan:

“Engkau boleh bebas pergi ke mana-mana, karena engkau masih ada hak untuk itu. Aku sendiri, Ati…..aku sendiri sudah kehilangan hak-hakku sebagai manusia biasa. Ati-ku bisakah engkau merasakan keadaanku ini? Tak punya hak apa-apa dalam negara yang dulu diperjuangkannya? Dapatkah engkau merasakan? Tapi aku tak mengadu padamu dengan ucapan ini. Dan kadang-kadang, Ati…..kadang-kadang dengan tak terasa sudah keluar saja kandungan hatiku, kandungan otakku.”

Ia diam sebentar. Tiba-tiba ia kehilangan kemurungan dalam ucapannya. Meneruskan dengan suara orang yang masih punya semangat hidup. “Engkau masih cantik seperti dulu, Ati?”

Terdengar olehnya Ati menjawab. Jawaban dengan keluh saja:

“Engkau tak mau menjawab, Ati. Ya, engkau tak mau menjawab, aku mengerti juga mengapa. Ya, Ati…. Aku ini tak lagi mengharapkan engkau, dan engkau tak bisa lagi mengharapkan aku, bukan? Bukan?”

Ati-nya menjawab lagi dengan keluh yang lebih dalam.

“Aku dengar engkau mengeluh lagi, Ati? Ya, aku dengar engkau mengeluh.”

“Mas Kirno,” Ati menyelingi, “Aku tak mengerti apa yang harus kupikir waktu melihat engkau ada dalam keadaan seperti ini.”

Kirno tersenyum. Berkata perlahan-lahan:

“Kadang-kadang orang hanya melihat sesuatu hal saja dengan melupakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa timbul, Ati. Dalam hal ini engkau pun salah seperti mereka dan juga seperti aku sendiri. Rupa-rupanya beribu macam kejadian bisa terjadi atas diri satu orang.”
Sejurus mereka tak berkata apa-apa. Kemudian terdengar:

“Ati, maukah engkau menyetelkan radio itu?”

Bunyi radio yang melagukan musik barat terdengar.

“O, lagu itu-itu lagi. Itu-itu lagi. Cobalah carikan pemancar lain.”

Bunyi radio pindah ke pemancar lain. Dan suara pidato yang berkoar terdengar. Pidato itu diselingi oleh suara Kirno:

“Pidato. Adakah orang tak bosan-bosan berpidato tiap hari?”

“Mengapa, mas?” Ati-nya bertanya dengan suara kebingungan.

“Pidato itu…. Hmm, mau rasanya aku membanting radio yang beromongkosong saja itu. carikan gending, Ati!”

Dan Ati mencari pemancar baru. Kini terdengar gending.

“Ya, suara yang lunak itu. Rangkaian suara yang lembut dan menyerah itu musik yang lepas dari waktu yang memburu-buru itu….. aku lebih suka padanya dari pada musik-musik barat.”

“Mengapa engkau sekarang berubah betul, mas?”

“Bukan kemauanku mengapa aku berubah. Bukankan dalam hidupku sekarang ini, Ati, tak ada sesuatu yang dapat kuburu-buru lagi? Bukankah tak ada?”

“Engkau dulu tak pernah berkata-kata seperti sekarang ini, mas Kirno.”

Terdengar Kirno tertawa. Kemudian:

“Ya, dulu. Dulu waktu itu aku boleh merangkul engkau. Waktu itu aku boleh mencium engkau semau hatiku. Waktu itu aku masih merasa berkuasa, bahwa nasib orang terletak pada kemauan dirinya sendiri, Ati. Tapi waktu seperti itu sudah lalu.”

Tini kecil terdengar menyanyi-nyanyi dengan suara lantangnya. Dan suara itu terdengar mendekat oleh Kirno:

“Tini,” ia memanggil.

“Tini di sini, mas…. Apakah yang bisa kuperbuat untukmu?”

“Tini nyanyikan aku lagu kupu-kupu. Matikan dulu radionya.”

Radio mati. Terdengar nyanyian lantang dari Tini. Dan kedua makhluk itu, remaja itu, mendengarkannya dengan kesungguh-sungguhan. Nyanyian mati. Dan Kirno menyusulkan suaranya:

“Aku dulu seperti engkau juga, Tini.”

Dan Tini menangis—meraung.

“Mengapa engkau menangis, Tini?” Ati-nya bertanya.

“Menangis? Mengapa menangis?” Ia bertanya.

“Tidak. Tidak. Aku tidak seperti engkau waktu kecil!” bantah Tini dalam tangisnya yang kekanak-kanakan.

“Dan mengapa pakai menangis segala?” Ia bertanya lunak.

“Karena, karena, karena aku tak mau buntung. Aku tak mau buta,” seru Tini dalam tangisnya.

“Tentu, tentu saja tidak, Tini.” Ia menghibur adiknya. “Engkau tidak boleh bunting dan buta seperti mas. Dan di seluruh dunia ini tak ada orang yang boleh bunting dan buta, Tini. Cuma akulah yang boleh. Cuma akulah. Engkau kelak akan jadi wanita cantik dan berbudi. Dan engkau akan tetap bisa berlonjak-lonjakan, bermain-main dengan kawan-kawanmu.”

Tini berhenti menangis. Tinggal sedusedannya saja mengisi kesunyiannya.

“Engkau mau menyanyi lagi, Tini?” terdengar Ati-nya bertanya.

“Aku tak mau menyanyi lagi,” Tini menyahuti dengan suara patah hati.

“Sekali ini menyanyi untuk mbak Ati, Tini. Maukah engkau?”

Hanya sedusedan Tini terdengar. Ati mengulangi permintaannya:

“Nyanyikan aku lagu gajah-gajah. Engkau sudah belajar lagu itu dari sekolah, bukan?”

“Ya.” Tini menyahuti.

Kemudian terdengar Tini menyanyi lagu kanak-kanak gajah-gajah di antara sedusedannya. Kirno tersenyum-senyum mengagumi suara itu—suaranya sendiri di waktu masih kanak-kanak. Dan Tini itu—juga badan dan dirinya sendiri waktu kanak-kanak. Suara kanak-kanak yang lantang itu menusuk kesunyian yang membentang antara Kirno dan Ati. Dan di antara suara yang bening itu antara sebentar terdengar sedusedan yang tak berdosa.

Lagu itu mati. Dan terdengar olehnya ciuman Ati pada pipi adiknya.

“Alangkah bagus,” Kirno memuji.

“Ya, alangkah bagus,” Ati menambahi.

“Dalam perlombaan nyanyi tadi aku menyanyikan lagu itu juga mbak Ati.”

“O, ya?”

“Dan aku mendapat hadiah grip dan buku tulis dan cium pada pipi kananku dari bu guru.”

“Alangkah baiknya gurumu itu,” Kirno berseru.

“Baik sekali mas,” Tini berseru riang kembali. Tangisnya hilang. Sedusedannya hilang.

Dari luar terdengar kedua orangtua Kirno datang. Orang berdiam diri mendengarkan segala suara dan bunyi yang datang dari luar rumah. Kemudian menyusul suara langkah kaki masuk ke dalam rumah. Dan akhirnya seruan:

“Nak Ati! Sudah lama?”

Terdengar oleh Kirno kedua orangtuanya bercakap-cakap dengan Ati-nya.

“Ya, nak Ati, nasib tak boleh dipinta. Nasib tak bisa dipilih. Begitulah keadaan kakakmu sekarang. Engkau dari mana saja selama ini?”

Dan suara Ati terdengar menjawab:

“Selama ini, ibu, selama ini Ati pergi ke daerah pendudukan.”

“Dan sudah melupakan masmu, engkau tak pernah mengirimkan kabar.”

“Alah-alah, bagaimanakah Ati bisa mengirimkan kabar, ibu?”

“Dan masmu sudah jadi kurban perjuangan sekarang, Ati”

“Ya”

“Dan kurban cinta juga”

“Bukankah engkau tak mau jadi isterinya orang cacat, sekalipun dia cacat oleh perjuangan?”

Tak ada suara. Terasa oleh Kirno, Tini memegangi bajunya. Dan dengan sendirinya saja tangan Kirno menggapai-gapai merangkul adik kecilnya. Kekosongan teras ada di tiap hati. Juga dalam hati Tini kecil. Dan anak kecil itu meraba-raba kuping kakaknya. Dan Kirno tak membantahi rabaan itu. Kemudian terdengar bapaknya bercakap-cakap pada Ati:

“Tidak kurang-kurangnya bapak mendoakan agar engkau danmasmu dilindungi Tuhan selalu dan selamat dalam perjuangannya. Ya, Ati, tiap malam kami selalu berdoa. Dan tak jarang ibumu tak tidur semalam-malaman agar masmu sekalipun tak ada manusia yang berpelindungan di dalam hujan peluru tetap selamat sampai di puncak cintanya.” Kemudian suaranya diarahkan pada isterinya: “Ya, nak Ati, sesungguhnya begitu.”

“Tapi rupa-rupanya Tuhan boleh berkehendak atas makhluknya.”

“Ya,” terdengar suara yang kosong merongga.

Kesunyian menyusul pula. Kemudian terdengar suara yang membantu dan terbata-bata:

“Alah-alah. Apalah gunanya mempercakapkan omong kosong yang tak ada harganya itu? aku sudah buta dan buntung. Dan aku akan tetap buta dan buntung untuk seumur hidup. habis perkara.”

“Nak Ati, aku harap engkau mau memaklumi sifat masmu sekarang. Dia terlampau pemarah sekarang. Ya, dia selalu marah. Hanya bila ia ditemani oleh Tini, baru ia jadi ramah, banyak tertawanya, banyak cakapnya, dan kadang-kadang ia mendongengi adiknya tentang pertempuran-pertempuran yang pernah dialaminya.”

“Ya, bu.” Ati menyahuti suara itu.

“Apa pikirmu tentang masmu itu sekarang?”    

“Apa?” Seru Kirno murka. “Adakah aku ini barang dagangan untuk dipertimbangkan di depan orang banyak?”

Dan oleh seru murka itu tak ada mulut menggetarkan suara. Semua jadi diam sekarang. Dan di kala Tini menyanyi dengan tiada orang yang menyuruh—tiap pendengaran berubah haluan mendengarkan suara lantang Tini kecil yang nyaring dan tak berdosa itu. Kemudian:

“Ati,” Kirno memanggil kekasihnya yang dulu.

“Apa yang bisa kuperbuat untukmu, mas?”

“Sungguh engkau telah mempercakapkan diriku. Engkau sudah tahu keadaanku. Engkau tahu sampai di mana keadaanku di dunia ini sekarang. Ya, sungguh sia-sia engkau mencakapkan diriku. Engkau tinggal di mana sekarang Ati?” katanya kemudian dengan suara kian lama kian lembut.

“Semarang, mas Kirno.”

“Kapan engkau datang?”

“Tadi, tadi jam duabelas.” Ia diam sebentar, kemudian menerangkan, “Aku terpaksa pergi ke daerah pendudukan dahulu, mas. Engkau tahu keadaan keluarga kami, bukan? Dan aku tidak sempat mengucapkan sepatah kata padamu karena waktu itu engkau ada di daerah gerilya.”

“Waktu itu aku sudah menggelepak di rumahnya lurah daerah gerilya. Waktu engkau pergi, aku sudah buta, aku pun sudah tidak bisa berjalan lagi, Ati. Ingin betul aku selalu duduk di sampingmu. Ingin betul aku selalu mendengar suaramu, Ati. Tapi jangan datang padaku hanya dengan suara saja. Ya, hanya suaramu saja yang menunjukkan padaku engkau masih ada. Suara—dan perasaan sedikit. Dan kenang-kenangan sedikit. Pergilah engkau, Ati. Pulanglah engkau. Itu lebih baik untukmu.”

Dan Ati pergi. Ia dnegar juga langkah Ati-nya yang kian menjauh itu. dan ia pun dengar juga Tini mengikuti dari belakang kekasihnya dulu. Akhirnya terdengar percakapan yang tak nyata betul olehnya. Ia mengeluh sekali lagi. Sekali lagi. Ada juga terdengar kedua orangtuanya bercakap-cakap. Kemudian tak terdengar suara apa-apa.

Perlahan-lahan dirundukkan kepalanya ke meja keretanya. As kereta yang bergeseran dengan bos roda kereta menimbulkan bunyi yang meresahkan hatinya. Kemudian kepala itu sampailah di meja kereta—diam, diam saja di situ. Dan keadaan di sekelilingnya masih tetap pekat. Tak ada tertampak seikat cahaya pun.

Kemudian terdengar olehnya beberapa pasang kaki melangkah mendekatinya. Ia tahu betul langkah kaki siapa itu: ibunya, bapaknya, dan Tini. Kemudian:

“Alangkah kasarnya engkau ini sekarang, Kirno,” suara ibunya.

Kirno tak juga mengangkat kepalanya yang terletak di meja keretanya.

“Engkau usir Ati seperti engkau mengusir kucing.”

Tini mendekatinya, merangkul lehernya dan berseru kosong:

“Mas Kirno, mabk Ati menangis waktu mau pergi. Ia kasihan padamu.”

“Bukankah manusia ini punya perasaan yang halus, Kirno?” suara ibunya.

Tubuh Kirno yang membungkuk itu merentak bangun. Berkata kasar:

“Apalah gunanya perasaan halus buatku? Apakah gunanya?”

“Alah-alah,” suara ibunya, “Aku tak menyangka engaku akan jadi sekasar ini sekarang. Tamu yang datang untuk menengok engkau usir, seperti tak ada sesuatu yang engkau butuhkan lagi di dunia ini. Seperti hanya engkau saja yang ada di dunia ini. Bukankah Ati itu masih tetap cinta padamu?”

“Diam!” bentak Kirno garang.

“Apakah gunanya cinta untukku? Aku akan duduk saja di kursi kereta ini. Dengar? Duduk saja untuk sekian tahun atau sekian puluh tahun lamanya, sampai badan ini kejang-kejang dimakan encok dan ambeien—dan menunggu hingga maut datang.”

“Alangkah kasarnya engkau ini sekarang,” suara keluh ibunya.

Kirno mendengus.

“Mas, mbak Ati sudah pergi,” suara Tini kecil yang lunak itu. “Dia menagis. Kasihan padamu, katanya padaku.”

“He-e.”

“Dan dia tanya padaku ‘engkau sudah bisa membaca, Tini?’ Dan aku bilang aku sudah bisa membaca sedikit-sedikit. Dan dia bilang, ‘kalau begitu engkau harus selalu ada di dekat masmu dan membacakan buku untuknya.’ Dan aku bilang, ‘ya.’ Tapi mbak Ati masih menangis juga, mas. Dan dia bilang, ‘Tini harus selalu ada didekat mas Kirno. Kalau mas Kirno butuh apa-apa Tini bisa menolongnya’.”

“He-e.” Kirno mendengar suaranya sendiri.

“Engkau memerlukan apa sekarang, mas?”

“Nyanyimu, Tini.” Kirno tersenyum kekanak-kanakan.

“Engkau bisa menyanyi bagus, Tini. Menyanyilah.”

Terdengar ibunya menyela:

“Tiap hari mau mendengarkan suara adiknya saja, Kirno!” suara itu jadi kasar. “Tak adakah pekerjaan mulia dalam hatimu selain menyiksa diri adikmu dengan kau suruh menyanyi selalu, mengusiri orang yang mendekati engkau karena kasihan dan menggertak-gertak ibu dan bapakmu sendiri?”

“Diam! Dan pergi engkau!” bentak Kirno tak kenal ampun.

“Engkau minta nyanyi apa, mas?” terdengar suara Tini kecil.

“Tujuhbelas Agustus empatpuluh lima.”

Kemudian terdengar suara yang nyaring menembus kesenyapan dunia:

“Tujuhbelas Agustus empatpuluh lima. Itulah hari kemerdekaan kita…..”

Tubuh Kirno kian lama kian membungkuk. Akhirnya kepalanya terletak lunglai di meja kursi keretanya. Dan suara nyaring Tini menembus kesenyapan yang membenam seorang makhluk. Dan nyanyian it uterus menembus-nembus dengan iramanya yang tetap. Kemudian nyanyain itu mati. Terdengar:

“Mengapa engkau diam saja, mas?”

Tini mendengar sedan kecil-kecil tak nyata hampir tak terdengar. [ ]


--Pramoedya Ananta Toer

Mimbar Indonesia 1950

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai