16 July 2016

Dari Republik Bulubabi sampai Roti Pokemon

Selepas kuliah saya berkongsi dengan empat orang kawan: membentuk sebuah negara bernama Republik Bulubabi. Saya diangkat menjadi presiden seumur hidup, satu orang menjadi ketua dewan syuro, seorang menjadi menteri penerangan, dan satu lagi menjadi rakyat. Negara kami dibangun atas dasar kesamaan minat pada membaca dan menulis. Lalu kami membuat grup di facebook untuk mengunggah tulisan-tulisan kami, saya sang presiden seumur hidup ini menjadi editornya. Lama-kelamaan kawan-kawan lain mulai ikut bergabung ke dalam negara kami dan dengan sukarela bersedia menjadi rakyat. Setidaknya sampai kemudian kami pecah kongsi, saya punya sekira 27 rakyat. Pada satu kesempatan kami mengadakan sayembara menulis dengan tema “Memiliki Kehilangan”. Saya masih menyimpan posternya.

Juri untuk perlombaan ini adalah para pejabat negara Republik Bulubabi. Tapi saya sebagai presiden pun tetap ikut menulis, sebagai sikap suri tauladan bagi rakyat yang tak banyak itu. Maka saya pun menulis. Saya menulis tentang bapak dan kebiasaan-kebiasaannya, juga tentang hubungan kami—saya dan bapak, yang tak hangat-hangat amat, tapi bermusuhan pun tidak. Kawan-kawan yang lain pun menulis. Total yang masuk sekira delapan naskah, saya arsipkan semuanya, dan hilang semuanya. Entah kemana. Saya lupa. Maklum presiden, banyak urusannya.

Maka sekali ini saya menulis kembali. Saya ingin mengenang kedua orangtua, salah satunya, dengan tulisan. Sikap ini sebagai bentuk “balas dendam” tentang masa kecil yang miskin dokumentasi. Dalam sekerat hidup yang telah saya lalui, keluarga tak banyak menyimpan arsip foto apalagi teks. Dulu bapak punya tustel bermerek Kodak, kalau apdruk banyak sekali foto yang terbakar. Maka saya kesulitan mencari jejak rupa saya sendiri. Bapak adalah seorang guru, juru khotbah, dan sering kasih sambutan di acara-acara kemasyarakatan, namun hampir semuanya ditatah oleh tradisi lisan. Pernah sekali saya menyimpan naskah khotbah Idul Fitri yang ditulis bapak, tapi itu pun hilang. Maklum presiden, banyak lupanya.

Sepenuturan mama, saya lahir hari Selasa sebelum subuh, dan susah keluar. Pasca melahirkan, mama menderita pendarahan hebat dan sempat tak sadarkan diri. Beberapa sepuh sudah mulai membaca surat Yasin, mereka sangka mama sudah meninggal. Bapak kemudian memberi nama tengah dan belakang “Teguh Pribadi”, yang artinya kurang lebih: keukeuh budak téh hayang diborojolkeun. Sementara nama depan berasal dari bahasa Arab yang artinya bisa dicari di Google.

Bapak berasal dari Cisaat – Sukabumi. Sebuah wilayah yang kalau pagi sedang cerah, dapat dengan jelas melihat Gunung Gede dan Pangrango. Cisaat dekat ke pusat Kota Sukabumi. Sekali waktu, pasca menyelesaikan pendidikan di PGA, bapak diajak koleganya main ke Jampangkulon. “Hayu urang nguseup ka Jampang,” begitu ajak kawannya. Sesampainya di tempat yang dituju, kawannya itu menyerahkan SK (Surat Keputusan) pengangkatan bapak sebagai PNS dan tugaskan untuk mengajar di Jampangkulon. Takdir tak bisa ditolak, nasib tak bisa dihindari: akhirnya bapak terdampar di sebuah kecamatan di selatan Sukabumi tersebut.

Mama adalah murid bapak waktu di MTs. Tamat dari sekolah tersebut kemudian meneruskan ke PGA di Bogor, daerah Batutulis tepatnya. Beliau pernah menyaksikan pohon-pohon besar dan tua di Kebun Raya Bogor rungkad dicabut angin dalam sebuah badai hebat. Selesai PGA pulang kampung, lalu menikah dengan bapak, gurunya itu. 1972 tahun nikahnya, dan baru berhenti melahirkan di tahun 1993 waktu yang bungsu mula-mula menghirup dunia.

Buat saya, mama bukan tipe ibu-ibu yang bisa diajak curhat. Komunikasi dengannya minim, tapi saya selalu merindukan masakan dan dapurnya yang berjelaga. Soal kuliner, mama juara nomor satu. Sejak pertamakali pergi merantau--setiap akan berangkat, mama selalu membekali saya nasi dan ikan tongkol balado kesayangan. “Bawa ini, nanti makannya bareng sama kawan-kawanmu,” begitu ujarnya. Ya, mama memang selalu membuatnya dalam porsi besar yang cukup untuk lima sampai enam orang.

Mama lahir, tumbuh, dan menghabiskan hampir seumur hidupnya di kampung. Waktu rumah akan direnovasi, beberapa anaknya menyarankan agar lebih baik beli rumah baru saja di kota, tapi mama menolaknya. Ia tak mau tercerabut dari lingkungan yang telah membesarkannya. “Cukup kalian saja yang merantau dan mungkin tak kembali lagi, biar mama di sini saja, tempat ini sudah memberikan segalanya buat mama,” terangnya.

Waktu kakek meninggal--sebagai anak paling besar dari sepuluh bersaudara, beban mama semakin besar, karena ia juga mesti merawat adik-adiknya yang masih kecil. Namun tak lama berselang, karena konon kakek seorang kiai, adik-adiknya itu berpencar untuk dirawat oleh saudara dan para tetangga yang ingin merawat seorang anak yatim keturunan kiai.

Saya tak pernah punya punya konflik dengan mama, kecuali ada satu penyesalan yang kadang-kadang terbit. Dulu--selepas MTs, saya hendak dipesantrenkan di Surakarta. Tapi karena saya tidak mau “terpenjara” di balik tembok kokoh lembaga pendidikan agama, maka semua lembar pertanyaan di tes masuk saya isi asal-asalan. Begitu pun dengan wawancara. Saya jawab semua pertanyaan ustadz-ustadz dengan nada yang amat jelas: bahwa saya tak berniat masuk pesantren. Maka ketika pengumuman kelulusan tiba, terang saja nama saya tidak ada. Tahu anaknya gagal, mama mencoba menghibur, “Gapapa, belum rejekinya, masih ada sekolah lain yang tak kalah baik,” katanya. “Iya ma,” jawab saya dengan nada murung. Padahal dalam hati, saya gembira luar biasa tidak jadi masuk “penjara”. Saya akhirnya masuk SMA Negeri di Kota Sukabumi.

Alasan saya purba, karena pernah mendengar sebuah lagu Iwan Fals yang menceritakan kisah percintaan di SMA. Sederhana, namun menancap di lereng ingatan, lalu berkembang dalam imajinasi yang dirawat setiap hari. SMA adalah impian masa muda yang tak bisa kembali, begitu pikir saya. Barangkali dosa ti kolot, di SMA, alih-alih menjadi flamboyan, saya malah terdampar di organisasi remaja masjid dan membentuk sebuah grup nasyid! Coba ngana bayangkan. Tapi karena pada dasarnya darah masih panas mendidih, meski rajin mengikuti pengajian yang diadakan Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin, saya juga mulai belajar merokok dan kerap nonton BF bersama kawan-kawan beda gank. Benar kata orang, iman itu terus-menerus naik dan turun. Pasang surut tak habis-habisnya.

Di luar kasus itu, hubungan saya dengan mama datar-datar saja, seperti aliran sungai Cikaso yang tenang. Sedari kecil, di rumah tak pernah ada perayaan ulangtahun, bahkan mengucapkan selamat ulangtahun tak sekali pun. Maka tak heran jika saya tak tahu tanggal kelahiran mama dan siapapun di dunia ini, kecuali tanggal lahir saya sendiri dan hari proklamasi kemerdekaan RI. Kalau kebetulan tengah pulang kampung, mama tak pernah bertanya ihwal pacar dan prestasi di sekolah. Datar saja. Paling-paling bertanya kabar, apakah sehat atau sebaliknya. Begitu pula ketika saya telah bekerja, mama tak sekali pun menanyakan calon istri seperti laku cerewet ibu-ibu masa kini. Pada satu kesempatan saya sempat tanyakan sikapnya yang tak banyak cingcong itu. “Buat apa? Toh, kamu sudah dewasa. Punya sikap hidup yang tak pernah mama ragukan. Merantau juga punya tanggungjawabnya. Kamu hidup jauh dari mama, dididik membuat pilihan dan mengambil keputusan sendiri,” begitu jawabnya.

Pertengahan 2009 mama meninggal ketika saya kerja di Jakarta. Adik saya yang paling kecil bercerita: selepas sholat ashar mama tidur, dan waktu dibangunkan untuk sholat magrib ia sudah tiada. Di ujung telpon saya menangis.   

Bapak lain lagi riwayatnya. Beliau jarang marah, tapi sekalinya meledak pintu kamar mandi bisa hancur, dan amarah itu reda sepuluh menit kemudian. Murka yang tak pernah bertahan lama. Kalau hari ini saya menginventaris minat, lalu menemukan film dan roti, saya yakin itu turun dari bapak. Ya, bapak adalah seorang yang gandrung nontong film. Di kampung tak ada bioskop, tapi layar kaca hadir sebagai pengganti. Sering kalau saya terbangun tengah malam, bapak tengah asyik nonton film perang atau kungfu, sendirian saja.

Ihwal roti sebetulnya sederhana. Karena seorang PNS dan setiap bulan harus mengambil gaji ke kota, maka bapak kerap membawa oleh-oleh. Dan roti kopyor adalah makanan yang masuk lewat mulut lalu turun ke perut, rasanya yang manis naik ke kepala, mengendap jadi ingatan yang tak hendak lindap. Roti murah meriah itu serupa Pokemon bagi sebagian anak: teman masa kecil yang terlalu menarik untuk dilupakan.

Horor kadang-kadang datang pasca pembagian rapot. Bapak mengecek satu-persatu perkembangan prestasi akademik anak-anaknya. Kalau nilai saja jatuh, ia selalu bertanya dengan nada agak tinggi, “Kenapa nilai ini jelek?” Saya jelaskan penyebabnya, bahwa saya belakangan memang agak malas belajar dan terlampau rajin bermain. “Euh, tong ulin wae atuh!” Saya tujuh bersaudara, dan semuanya pernah mengecap pendidikan di luar kota. Kepercayaan diberikan sebesar-besarnya. Pada peringatan “tong ulin wae atuh” saya menangkap kapercayaan bapak yang sedikit turun, tak sepenuhnya lagi. Horor yang mungkin bagi oranglain tidak menakutkan. Kepercayaan adalah segelas air putih yang kita teguk ketika bangun tidur, tanpa menduga-duga apakah air tersebut dikencingi tikus atau ada pelet nyasar dari dukun hitam antah-berantah.

Kalau anak-anaknya mau berumahtangga, mereka tinggal datang ke bapak beserta calonnya, lalu bilang, “Bapak, saya hendak menikah. Ini pilihan saya.” Lalu bapak akan berkata, “Baiklah. Bapak restui, tapi kamu sendiri yang memikul tanggungjawab pilihanmu.” Maka berlangsunglah pernikahan itu. Saya dan adik yang bungsu tidak akan melalui kebiasaan tersebut: bapak sudah tidak ada. [irf]  

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…