23 June 2016

Melarung Cerita di Jendela


Beberapa saat sebelum meninggal, Lena berpesan kepada Amiru, anaknya, agar ia dimakamkan dekat Sabari dan di pusaranya minta dituliskan “Purnama kedua belas”. Sabari telah meninggal duluan, dan sepanjang hidupnya ia tak percaya cinta. Cinta baginya adalah kata asing: racun penuh tipu muslihat, serupa burung merpati dalam topi pesulap, tempat yang jauh, sangat jauh, dan urusan konyol orang dewasa. Hal itu kemudian goyah dan berbalik pada sebuah ujian masuk SMA; di detik-detik akhir waktu ujian, seorang anak perempuan merebut lembar jawabannya dan setelahnya memberikan sebatang pensil sebagai ucapan terimakasih. Anak perempuan itu bernama Marlena atau Lena, sedetik setelah itu Sabari kemudian percaya kepada cinta yang ia dekap sampai mati.

Sabari yang malang. Lena tak sedetik pun menaruh hati padanya. Ia malah menyebutnya sebagai lelaki bertelinga wajan dan bergigi tupai, tapi Sabari bergeming. Setelah keduanya lulus dari SMA, Lena hidup dengan berganti-ganti pasangan. Sekali waktu rahimnya tak bisa menolak, ia mengandung, dan lahirlah Amiru. Ketika perutnya berisi dan semakin membesar, tak seorang lelaki pun yang mau bertanggungjawab. Di tengah kondisi seperti itu Sabari menawarkan diri, mereka lalu menikah dan tanpa sekali pun berhubungan badan. Amiru kecil diurus oleh Sabari sepenuh kasih, sementara ibunya menghilang entah kemana.

Orang-orang tak mengerti jalan pikiran Sabari, mereka telah menganggapnya gila. Seorang kawannya bilang, “Ri, sikapmu itu merupakan kombinasi antara gizi buruk dan terlalu banyak membaca novel, berbahaya, bisa berlarut-larut. Untuk menyelesaikannya harus ditempuh satu cara yang ekstrem, yaitu berkenalan dengan perempuan lain.”

Sabari hanya tersenyum dan tak menanggapinya. Ia hanya ingat pesan ayahnya bahwa “Tuhan selalu menghitung, dan suatu ketika, Tuhan akan berhenti menghitung.” Petuah ini kemudian sampai juga kepada Amiru, anak Lena dari lelaki entah itu. “Malaikat-malaikat turun untuk melihat niat yang baik,” begitu Amiru mengingat pesan ayahnya.

Berulang-ulang Sabari dikecewakan, disakiti, dan puncaknya ketika Amiru--yang ia rawat dengan curahan kasih sudah agak besar, Lena merebutnya dengan cara paksa. Ketika kemudian Amiru sudah masuk usia remaja dan ia bisa bertemu lagi dengan Sabari, anak Lena itu sering bertanya kepadanya ihwal mengapa ia tak mencari lagi istri selain ibunya. “Dalam hidup ini semuanya terjadi tiga kali. Pertama aku mencintai ibumu, kedua aku mencintai ibumu, ketiga aku mencintai ibumu,” begitu jawab Sabari.

Sikap Sabari yang luar biasa itu akhirnya membuat Lena luluh, namun justru ketika ajal sudah hampir sampai di tenggorokan dan Sabari sudah tiada. “Purnama kedua belas” adalah panggilan sayang Sabari kepada Lena sebagai metafor atas sorot mata istrinya itu.

Sementara Ikal jatuh cinta kepada Aling melalui kuku jari yang indah. Ia melihatnya ketika disuruh membeli kapur di warung seorang Tionghoa. Mereka kemudian saling berkirim surat, bertemu di acara sembahyang rebut, naik komedi putar, dan berpisah karena berbeda keyakinan dan salah paham. Ketika mereka telah dewasa, Ikal berhasil meyakinkan ayahnya ihwal perbedaan keyakinan dan menjernihkan salah paham lewat verifikasi pengalaman yang mendebarkan. Di tengah lapang waktu mereka bertemu kembali, hujan turun. Ikal menengadah dan berkata kepada langit: “Inilah aku! Putra bapakku! Berikan padaku sesuatu yang besar untuk kutaklukkan! Beri aku mimpi-mimpi yang tak mungkin, karena aku belum menyerah! Tak kan pernah menyerah! Tak kan pernah!”

Arai, saudaranya Ikal, berjuang mendapatkan Zakiah Nurmala dengan ikhtiar yang tidak kalah berani. Ia dicampakkan sedari awal. Namun berkali disiakan, berkali juga Arai memutar otak untuk usaha yang lain. Puncaknya ia mendatangi rumah Zakiah Nurmala, malam-malam, membawa gitar, dan menyanyikan lagu “Fatwa Pujangga” di bawah jendela kamar perempuan itu. Kesudahan kisah mereka tidak terlampu menantang imajinasi, mereka saling lebur.

Saya bukan Ikal, Arai, apalagi Sabari. Bukan, saya bukan tokoh-tokoh komikal yang dicintai pembaca itu. Saya hanya berdiri di depan piagam penghargaan, membawa selembar foto, dijadikan pembatas sesuatu, dan mengembalikannya lagi untuk sebuah alasan. Waktu menyimpan lagi foto itu ke tempat semula—persis seperti Sabari kehilangan Amiru karena direbut Lena: saya merasa semua orang telah pergi naik kapal Nabi Nuh, saya ditinggal sendiri, tak diajak. Yang tertinggal hanya dua, saya dan sepi.        

Absurd? Memang. Tapi konon kata orang, cinta itu memahami bukan menjelaskan.

Saya teringat Amir Hamzah, dia sempat menulis “Bertukar Tangkap dalam Lepas”. Ini malah sudah lepas sebelum tertangkap. Juga teringat Chairil Anwar yang pernah menulis “Tak Sepadan”. Entah kenapa saat itu saya teringat puisi-puisi mereka, apakah karena puisi adalah salah satu temuan manusia yang paling indah? Maka dengan sedikit kurang ajar saya menulis juga:      

Aku kira
begini nanti jadinya
kau berbahagia di kebon teh
atau mungkin pergi ke Belanda
sedang aku bikin pathdaily aja gagal
dan ditertawakan orang-orang

Saya tertawa kekuda-kudaan, alasannya selain karena hidup ini senda gurau belaka, juga pernah dinasehati Pramoedya Ananta Toer. “Kau lelaki dan bukan seorang kriminal. Jangan lari, hadapi dan selesaikan persoalanmu dengan baik!” begitu katanya. Sementara dalam kisah Sabari tadi, ia kerap mendengarkan hujan yang menghantam atap seng. Lambat laun bunyi itu membentuk irama, dan sabari menikmatinya. Ayahnya menyebut laku Sabari itu sebagai seni menyenangi hal-hal yang biasa saja. Masih kata ayahnya, pada titik tertentu, seni ini dapat membuat orang menertawakan kesusahan.

Dalam satu jenak waktu, beberapa hal harus diistirahatkan. Dan meski tak mudah, bara pun terpaksa mesti dipadamkan. Bukan karena bergradasi dan akhirnya pudar, tapi saya kira menjadi orang harus sportif. Harus menghormati keputusan yang telah diambil. Persis seperti Inggit melepas Sukarno dengan kata-kata perpisahan, "Selamat jalan. Semoga selamat sampai tujuan." Doa dilayarkan bersama bahtera yang telah jelas arahnya. Soal akan mengabadi atau tidak, biar waktu yang mengujinya.  

Lalu tiba-tiba, jelang subuh ini, saya mendapati diri tengah duduk di jendela sambil menghabiskan batang terakhir. Di luar hanya atap dan gelap. Saya membayangkan tengah memegang botol dan sebuah pesan di dalamnya, serta gelap itu adalah laut. Saya hendak melarung cerita. Akan sampai ke siapa botol itu, waktu kelak yang akan menjawab. Ketika saya mulai ngantuk dan hampir saja tikusruk, lagi-lagi saya teringat Sabari. Ia pernah berkata bahwa “hidup ini memang dipenuhi orang-orang yang kita inginkan, tetapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya.” Wilujeng. [irf]  


Postscript : 
Semua cuplikan kisah dan beberapa kutipan di atas diambil dari beberapa buku karya Andrea Hirata.


Mengistirahatkan Realitas Semu




/1/
Saya tidak tahu persisnya, sejak kapan literasi sepakbola Bandung begitu pesat. Tiba-tiba saja di suatu sore, di bilangan Jl.Sulanjana -Bandung, saya menyaksikan para penulis sepakbola, muda usia, berbondong mendengarkan ceramah dari para pengemban dakwah penulisan sepakbola: Pange dan Zen. Duet ini barangkali seperti Duo Serigala: memiliki jamaah yg jumlahnya mungkin tidak main-main.

Saya mula-mula membaca tulisan Pange di beritasatu, citarasanya satire, menyindir, dan kerap diganjar dengan komen-komen emosional dari para fans yang merasa klub idolanya dihina-dinakan. Tapi pembacanya tetap banyak. Pange, jika saya tak keliru, punya posisi tersendiri dalam perkembangan penulisan sepakbola di Indonesia, terutama di era generasi pasca senjakala media cetak.

Sementara Zen--setelah nasib menyelundupkannya dari Jakarta ke Cijambe di bawah kaki gunung Manglayang yang banyak kuda, tak perlu waktu lama menjadi junjungan para penulis sepakbola muda Bandung. Ia yang--meminjam dari Muhidin, "gak bisa terikat, dan tak gampang ditundukkan oleh aturan-aturan organisasi", sabar dan keras mengkader para penulis baru.

Ejawantah dari "gak bisa terikat" dan "tak gampang ditundukkan" ini konon adalah Panditfootball. Bukankan dengan membuat padepokan sendiri ia bisa membuat aturan mainnya sendiri?

/2/
Bagi para wisatawan domestik yang berasal dari Jakarta, Bandung di hari Minggu ketika Persib main, apalagi melawan Persija: barangkali horor! Namun untuk para peminat literasi yang rajin menyusuri gorong-gorong daring kiranya Bandung ini surga, terutama untuk penulisan sepakbola.

Laman-laman penyedia berita dan artikel Persib tak pernah kekurangan naskah. Simamaung misalnya, di rubrik "Arena Bobotoh" selalu ada saja tulisan-tulisan khas bobotoh yang berlanggam Sunda: pekat dengan humor namun sekaligus lada. Ada pula Mengbal, yang meskipun sudah lama "tertidur", namun pernah menjadi rujukan para pelatih lawan untuk membaca strategi Persib. Dan yang "mengerikan" adalah Panditfootball tentu saja. Mereka setiap hari (barangkali) memproduksi tak kurang dari delapan artikel non berita!

Dari semua kantong-kantong itu, nama Zen celakanya tak bisa dilepaskan. Ia begitu populer, jurus-jurusnya dengan mudah ditemukan di para penulis sepakbola Bandung, namanya kerap disebut-sebut di obrolan-obrolan sepakbola. Terakhir, ketika kawan-kawan Komunitas Aleut mengadakan acara ngawangkong tentang "Literasi Sepakbola Bandung" diKedaiPreanger, para pembicara yang hadir juga selalu menyebut nama yang satu itu, yang kiranya sudah serupa hantu gentayangan.

Literasi sepakbola Bandung maju di satu sisi dengan melimpahnya para penulis muda, namun mandeg di sisi yang lain karena belum sepenuhnya terlepas dari nama penulis buku "Simulakra Sepakbola" ini. "Geus tong aing wae atuh, nu ngarora weh, aing mah geus apkir anjir, geus kudu pangsiun nulis mengbal mah," begitu ujarnya sekali waktu.

Dengan lahirnya buku ini saya mencium aroma perpisahan itu. Barangkali ia akan gantung pena untuk tulisan-tulisan sepakbola, dan fokus mengkader pendekar-pendekar muda di padepokannya. Atau barangkali akan berlindung dari realitas semu sepakbola dengan rajin nongkrong lagi di tribun dan lapang-lapang sepakbola tradisional yang kini, di Bandung, keberadaannya semakin terdesak. (irf)

22 June 2016

Kehilangan di Solontongan

Sekira jam 01.30 saya dengan seorang kawan masih ngobrol dan tengah menghabiskan batang terakhir. Pintu Kedai Preanger belum ditutup. Di luar tentu sudah sepi, hanya sesekali pemulung lewat mencari remah rezeki. Ketika kantuk akhirnya hinggap, kami naik ke lantai dua untuk menunaikannya. Waktu terlentang saya baru ingat bahwa lampu belum dimatikan, lantas mencari pistol mau meniru Mr. Bean dengan mematikan lampu dengan cara menembak bolanya, tapi pistol tak ada, maka terpaksa bangun dan membunuh cahaya lewat saklar.

AC dikecilkan, maksudnya jendela agak ditutup agar angin malam tak terlampau semena-mena menggerayangi tubuh, lalu jatuh tertidur. Dalam tidur, manusia tak punya kuasa senoktah pun. Paling keren hanya terhibur dengan bunga tidur yang kadang paduan antara harapan-harapan yang kandas dan Tuhan membuatnya seolah nyata. Maka begitulah, kami terlelap sampai pagi. Sampai adzan subuh terdengar di telinga, seolah kami ini menyisakan sisi reliji yang kadung remuk-redam.

Jam 8 pagi saya turun hendak membeli kopi jagung, namun ketika membuka pintu ternyata susah sekali. Saya coba berulang-ulang, dan tetap tak berhasil. Seseorang kemudian datang, saya membacanya dari derap kaki di luar. Pada percobaan kesekian pintu akhirnya berhasil dibuka. “Wah, ini juga sama digembok dari luar nih,” ujar orang itu sambil memperlihatkan gembok besar. Lalu terdengar pembicaraan riuh di hari sepagi itu. Rupanya tadi malam tetangga sebelah digasak maling. Beberapa unit komputer raib.

Saya bukan Detektif Conan, tapi mengira bahwa para bromocorah itu beraksi tak lama setelah kami tumbang dirampok kantuk. Pelakunya barangkali lebih dari dua orang, sekurangnya tiga. Tetangga kami yang jadi korban itu usahanya adalah biro perjalanan umroh, dan belum terlalu lama menggelar semacam syukuran atas dimulainya usaha tersebut: potong tumpeng yang dibaluri oleh banyak sekali potongan ayam dan kentang balado, saya dan beberapa kawan ikut makan. Sekadar menunaikan kewajiban manusia yang mesti menghormati tetangganya, dan tentu saja didorong rasa lapar.

Sebelum pencurian tersebut, setiap malam ruko tetangga itu tak pernah ditinggali, kecuali oleh makhluk non materi barangkali. Pengamanannya hanya berlapis dua; kunci dalam dan gembok besar di luar. Pengamanan yang ternyata dapat dengan mudah dijebol kawanan maling. Sebelum beraksi, mereka mencantelkan dulu gembok-gembok tak terkunci di setiap ruko yang berjajar di sekitar targetnya. Maka demikianlah, esoknya saya dan tetangga-tetangga yang lain terisolasi di tempatnya masing-masing. Tetangga paling pojok pertamakali keluar karena kawannya datang hendak menjemput untuk pergi entah kemana.

Dilihat dari pintu korban yang rapi, saya membayangkan mereka beraksi dengan membawa mobil dan diparkirkan tepat di depan ruko tersebut. Kemudian tugas dibagikan, seorang diam di balik kemudi sekaligus menjadi pengawas situasi, seorang lagi mencantelkan gembok agar tidak ada pertolongan dari tetangga yang lain sekaligus membantu sang eksekutor membobol dan mengangkut barang curian. Durasi aksi kiranya tak terlalu lama, paling lambat berjalan sekitar 30 menit. Lalu meninggalkan kecewa di hati si pemilik.

Esoknya waktu saya bertemu dengan si pemilik, di wajahnya tergurat kemuraman yang lumayan temaram. “Sudah dilaporkan ke polisi, pak?” Beliau hanya menggeleng, mungkin derajat kepercayaannya terhadap penegak hukum itu tidak terlalu kokoh. Dan hari terus berganti.

Beberapa bulan berselang, di suatu pagi yang tidak terlalu awal, saya hendak menyapu halaman kedai. Saya ambil sapu lidi dan mendapatinya telah berganti. Masih tetap sapu lidi, namun kondisinya memprihatinkan: posturnya pendek dan batang-batang lidinya kaku sehingga tak nyaman untuk diayunkan. Ini jelas ada yang menukarnya, namun entah siapa. Saya tak berani menduga-duga.

Jauh sebelum kasus pencurian dan sapu lidi yang ditukar itu, kaca yang menempel di roda nasi goreng pecah berhamburan. Dari keterangan seorang kawan yang masih terjaga: pada satu malam yang mulai larut, waktu dia terduduk di lantai satu dan pintu kedai sudah tertutup rapat, terdengar suara motor mendekat dengan latar suara tawa bocah-bocah ingusan. Deru motor semakin mendekat dan “praang!!” Kaca rerak berhamburan, sementara si pelaku langsung kabur.

“Kemarin juga di ujung jalan ini ada beberapa kaca yang hancur, salah satunya milik tukang batagor,” kata penjual rokok yang esoknya baru mendengar kabar. Kalau kawan melihat ada spanduk merah menempel di roda nasi goreng kedai, itu adalah saksi penghancuran.

Pada kasus pencurian, sapu lidi yang tertukar, dan penghancuran kaca, meski fragmentaris dan tidak mewakili Jalan Solontongan secara utuh, namun dalam benak saya berdasarkan pengalaman-pengalaman itu, tergambar satu watak dari ruang atau tepatnya ruas jalan, bahwa Jalan Solontongan—seperti juga jalan-jalan yang lain, mempunyai sisi rentan yang sama. Ia dapat dengan mudah memiliki kehilangan. [irf]

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai