03 March 2016

Menjadi Tamu Kehormatan di Pameran Buku Tertua di Dunia


Tanggal 14-18 Oktober 2015, Indonesia berkesempatan menjadi Guest of Honor atau Tamu Kehormatan di gelaran Frankfurt Book Fair 2015. Pameran buku tertua di dunia itu menghadirkan lebih dari 700 peserta dari berbagai negara, dan tiap tahunnya menyedot jutaan pengunjung dari beragam lapisan masyarakat, terutama para peminat dan pegiat literasi. Penerbit, penulis, pembaca, dan kolektor buku tumpah-ruah di kota paling metropolitan di Jerman tersebut.

Tiap tahunnya, Frankfurt Book Fair selalu mempunyai satu tamu kehormatan yang diberi ruang yang cukup lapang untuk memamerkan--bukan hanya buku, namun juga budaya dan tradisi kontemporernya ke hadapan khalayak dunia. Tahun lalu, yang menjadi tamu kehormatan adalah Finlandia, dan tahun ini kesempatan itu bergulir ke tangan Indonesia.

Indonesia sebetulnya sudah ditawari menjadi tamu kehormatan sejak beberapa tahun ke belakang, hanya saja Indonesia menolaknya karena belum siap, dan baru menerimanya tahun 2013. Menjadi tamu kehormatan, di satu sisi adalah kesempatan untuk tampil mempromosikan dunia literasi dalam negeri ke publik dunia, namun di sisi lain bukanlah pekerjaan yang mudah, sebab mesti menerjemahkan puluhan dan bahkan ratusan buku berbahasa Indonesia ke dalam—minimal, bahasa Inggris. Namun karena pamerannya berlangsung di Jerman, maka tentu akan lebih baik jika diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jerman.

Maka sejak 2013, panitia yang terhimpun dalam Komite Nasional; terdiri dari pemerintah, yang diwakili oleh Kemendikbud, dan masyarakat yang diwakili oleh beberapa sastrawan serta para profesional di bidang literasi, siang-malam bahu-membahu mempersiapkan diri agar pada pelaksanaanya bisa berjalan lancar, dan Indonesia tampil dengan baik. Persiapan dua tahun memang terhitung sangat sempit. Sebagai bandingan, Finlandia mempersiapkan diri selama enam tahun jelang penampilannya sebagai tamu kehormatan.

Yang dilakukan mula-mula oleh panitia adalah dengan menerjemahkan buku yang banyak beredar di masyarakat. Program yang disubsidi oleh pemerintah ini, tentu pada pelaksanaannya ada proses kurasi untuk menyaring buku apa saja yang layak diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

Kriteria pemilihan buku dan karya untuk Frankfurt Book Fair 2015 antara lain; karya tersebut merupakan karya asli, artinya bukan terjemahan ataupun saduran. Lalu harus ditulis oleh Warga Negara Indonesia, memiliki standar kualitas tinggi, tidak mengandung sentimen anti SARA, dan karya tersebut tidak dalam status persengketaan hak cipta dan hak penerbitan.

Untuk karya fiksi, ada beberapa syarat khusus yang harus dipenuhi, di antaranya; ditulis dalam bahasa Indonesia, pernah terbit di media massa cetak, dan karya yang menarik perhatian internasional.

Sementara untuk karya nonfiksi, karya yang diajukan dapat berupa buku umum, buku anak, dan komik.  Syarat yang harus dipenuhinya adalah; harus memiliki ISBN, buku yang bersangkutan harus merupakan karya intelektual berupa informasi, hasil renungan, atau pemikiran, baik yang bersifat ke-Indonesia-an maupun yang bersifat universal. Selain itu, karya yang bersangkutan harus mengangkat aspek-aspek kekayaan Indonesia di bidang alam/lanskap, arsitektur, kesenian, kuliner, tekstil, dan lain-lain.

Beberapa buku, yang rata-rata bersamaan dengan program penerjemahan yang disubsidi oleh pemerintah, berhasil mencuri perhatian para penerbit asing, terutama Jerman. Tak kurang dari 18 buku sastra yang terjual hak ciptanya ke bahasa asing. 16 di antaranya diterjemahkan ke bahasa Jerman, dan 3 di antaranya ke lebih dari satu bahasa.

Buku-buku sastra yang diterjemahkan ke lebih dari satu bahasa asing, dan hak ciptanya terjual yaitu; “Amba” karya Laksmi Pamuntjak ke dalam bahasa Belanda dan Jerman. “Lelaki Harimau” karangan Eka Kurniawan diterjemahkan ke bahasa Jerman dan Italia, dan “Pulang” karya Leila S. Chudori ke dalam bahasa Jerman, Belanda, dan Italia.

Sementara karya lain yang semuanya hanya diterjemahkan ke satu bahasa asing, yaitu; “Cantik itu Luka” (Eka Kurniawan), “Dan Perang pun Usai” (Ismail Marahimin), “Don Quixote” (Goenawan Mohamad), “Gadis Kretek” (Ratih Kumala), “Jangan Tulis Kami Teroris” (Linda Christanty), “Jazz, Parfum, dan Insiden” (Seno Gumira Ajidarma), “Lumbung Perjumpaan” (Agus R. Sardjono), “Nikah Ilalang” (Dorothea Rosa Herliany), “Pasung Jiwa” (Okky Madasari), “Tarian Bumi” (Oka Rusmini), “Telegram” (Putu Wijaya), “Tuan Tanah Kawin Muda; Hubungan Seni Rupa LEKRA, 1950-1965” (LEKRA), “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai” (Goenawan Mohamad), “Ziarah” (Iwan Simatupang), dan “Sang Pemimpi” (Andrea Hirata).

Frankfurt Book Fair, sekali lagi, adalah pameran buku dan bukan festival penulis. Jadi konsepnya adalah penulis yang mengikuti karya, dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu, jika pada pelaksaaannya ada penulis yang karyanya ikut dipamerkan namun berhalangan hadir, hal tersebut tidak menyebabkan karyanya batal ditampilkan.

Dan tidak seperti pameran buku di Indonesia yang pada umumnya cenderung konsumtif, artinya hanya ajang niaga para penjual buku, di Frankfurt Book Fair kegiatan transaksinya lebih variatif. Antar penerbit beda negara bisa saling beli hak cipta, hak terbit, dan sebagainya. Bahkan pada dua hari pertama perhelatan tersebut, yang hadir khusus para penerbit saja. Barulah pada hari ketiga, para pengunjung umum bisa masuk ke ajang pameran.   

Komite Nasional telah mengumumkan nama-nama penulis dan narasumber yang akan tampil di Frankfurt. Para penulis dan narasumber itu dibagi ke dalam beberapa kategori, yaitu; Buku Sastra & Fiksi, Komik, Buku Anak, Buku Nonfiksi, Digital, Juru Masak & tokoh Kuliner, Aktivis Literasi, serta Narasumber Seminar.

Sekadar menyebut beberapa contoh, berikut daftar nama pengarang, komikus, pegiat literasi, tokoh kuliner, dan narasumber yang hendak berangkat ke Frankfurt tersebut; Ahmad Fuadi, Avianti Armand, Ayu Utami, Budi Darma, Dewi Lestari, Ika Natassa, Intan Paramaditha, Laksmi Pamuntjak, Iksana Banu, Nirwan Dewanto, Beng Rahadian, Is Yuniarto, Muhammad Misrad, Tita Larasati, Benny Rachmadi, Arleen Amidjaja, Renny Yaniar, Agustinus Wibowo, Yoris Sebastian, Noor Huda Ismail, Taufik Assegaf, Bara Pattiradjawane, Budi Lee, Ragil Imam Wibowo, Bondan winarno, William Wongso, Anton Solihin, Muhidin M. Dahlan, Frans Magnis Suseno, Haidar Bagir, Endo Suanda dan lain-lain.

Ketika nama-nama tersebut diumumkan--terutama di kalangan sastrawan, banyak terjadi perdebatan tentang siapa yang lebih layak daripada siapa. Beberapa orang sastrawan melancarkan serangan dengan isu bahwa yang berangkat ke Frankfurt tersebut dipilih atas dasar pertemanan dan bukan karena karyanya bagus. Hal ini tentu dibantah oleh Komite Nasional yang berperan selaku panitia.

Selain itu, perdebatan pun terjadi ketika ada beberapa pihak yang menaruh kecurigaan kepada Komite Nasional, khususnya Komite Buku dan Penerjemahan, terkait buku-buku yang hak ciptanya terjual. Mereka menganggap bahwa Komite Buku dan Penerjemahan telah sengaja memilih buku-buku tertentu untuk dilirik penerbit asing. Dan hal ini pun lagi-lagi dibantah oleh panitia.

Husnie Syawie, selaku Ketua Komite Buku dan Penerjemahan--seperti yang ia jelaskan kepada tim “Pulau Imaji” (akun official Indonesia terkait Frankfurt Book Fair 2015), menjelaskan, “Saya tegaskan, kami selaku Komite Buku dan Penerjemahan tidak mengarahkan buku tertentu kepada para penerbit luar. Proses komunikasi antar penerbit sampai selesainya urusan copyright berjalan sewajarnya,” ujar Husni.

Komite penerjemahan, kata Husni, hanya membantu memfasilitasi program penerjemahannya. Syaratnya, karya tersebut sudah dibeli copyright-nya oleh penerbit luar negeri. Pembelian copyright-nya bisa langsung kepada pengarang dan penerbit Indonesia yang memegang right, atau melalui literary agent.

Karena selama ini karya para pengarang Indonesia kurang begitu terkenal di luar negeri, dan sementara kesempatan untuk menjadi tamu kehormatan telah digenggam, maka untuk membantu memperkenalkan Indonesia di publik dunia, maka pada tanggal 28-30 Agustus 2015, Indonesia tampil sebagai official theme country di acara Museumsuferfest.

Museumsuferfest adalah gelaran seni dan budaya terbesar di Eropa, yang diselenggarakan di tepi sungai Main, Frankfurt. Tahun ini, Indonesia—karena posisinya sebagai official theme country, disediakan secara khusus untuk menggunakan panggung utama yang luasnya mencapai 800 meter dan paling banyak dikunjungi khalayak.

Beberapa penampil yang hadir di sana di antaranya; Dwiki Darmawan, Dira Sugandhi, Mian Tiara, Djaduk ferianto dan Kua Etnika, Hanuraga, Bonita & The Hus Band, JFlow, DJ Cream, Temu Gandrung, Barong Osing, dan lain-lain. Penampilan mereka berhasil menyedot penonton dan dengan sendirinya membantu memperkenalkan Indonesia yang akan menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015.

Selain mengikuti Museumsuferfest, Indonesia juga mengikuti beberapa pameran buku yang lain sebagai pemanasan sebelum Oktober. Pada tanggal 12-15 Maret 2015, Indonesia mengikuti pameran buku kedua terbesar di Jerman, yaitu Leipzig Book Fair. Lalu berpartisipasi juga di Bologna Children Book Fair pada tanggal 30 Maret-2 April 2015. Dan yang terakhir ikut hadir di London Book Fair yang diselenggarakan pada tanggal 14-16 April 2015.   

Ketika Frankfurt Book Fair 2015 berakhir di tanggal 18, sepuluh hari setelahnya, Indonesia akan memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada teks terakhir sumpah bertitimangsa 1928 itu, dengan jelas terpancar semangat : “Kami Putra dan Putri Indonesia / Menjungjung Bahasa Persatuan / Bahasa Indonesia.”

Bahasa Indonesia, dalam riwayat panjang perjalanannya, selain menjadi bahasa persatuan, juga terus berkembang dan digunakan, serta dimaknai lebih luas. Hari-hari ini, di Frankfurt, bahasa Indonesia dengan beberapa terjemahannya, tampil di hadapan publik dunia. Ia tak semata sebagai teks penyampai kisah, namun sebagai satu bahasa yang merekatkan dan mempersatukan seluruh tumpah darah Indonesia. [ ] 

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…