03 March 2016

Kabar Kerajinan Rakyat dari Cigugur-Pangandaran


Sebagai sebuah kabupaten baru, Pangandaran kini tengah sibuk membangun daerahnya. Pilkada baru saja dilaksanakan, meskipun pelantikan bupati terpilih masih harus menunggu waktu. Sebagai daerah yang dianugerahi potensi alam, terutama laut dan pantai yang mengagumkan, Pangandaran memang telah mempunyai semacam branding alami, bahwa siapa pun yang berkunjung ke sana, mula-mula pasti akan terpikat oleh panorama lautnya.

Namun demikian, karena telah terbentuk sebagai sebuah kabupaten, Pangandaran kini mempunyai 10 kecamatan, yang terdiri dari; Cimerak, Cijulang, Langkaplancar, Cigugur, Parigi, Sidamulih, Pangandaran, Kalipucang, Padaherang, dan Mangunjaya. Dari sepuluh kecamatan tersebut yang sebagian wilayahnya persis berada sepanjang garis pantai hanyalah Cimerak, Cijulang, Parigi, Pangandaran, Sidamulih, dan Kalipucang. Artinya masih ada beberapa kecamatan yang sama sekali tidak bersentuhan langsung dengan kehidupan dan potensi laut.

Salah satu kecamatan yang seluruh desanya tidak berada di garis pantai adalah Cigugur. Dalam peta Kabupaten Pangandaran, kecamatan ini berada di arah barat laut dan berbatasan langsung dengan kabupaten Tasikmalaya. Jika ditempuh dari Ibu Kota Kabupaten (Parigi), maka akan menghabiskan waktu sekira setengah jam untuk sampai ke pusat kecamatan Cigugur. Infrastruktur jalan menuju ke Cigugur sudah bagus, hanya beberapa ruas saja yang masih terdapat kerusakan.

Kecamatan Cigugur sendiri mempunyai 7 desa, yaitu; Kertajaya, Pagerbumi, Bunisari, Cigugur, Campaka, Harumandala, dan Cimindi. Mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Selain itu, karena banyak terdapat hutan produksi, sebagian kecil penduduk pun ada yang menghidupi dirinya dengan mengandalkan potensi ini. Namun hal ini kadang tidak berjalan mulus, karena di sana pun banyak terdapat lahan Perum Perhutani, beberapakali penduduk sempat terlibat sengketa lahan dengan perusahaan milik negara tersebut.

Secara umum, jika dibandingkan dengan kecamatan lain, Parigi misalnya, kondisi perekonomian di Cigugur relatif masih tertinggal. Secara letak geografis yang berjauhan dengan garis pantai yang memang menjadi andalan perekonomian Kabupaten Pangandaran, Cigugur kiranya harus bersisat. Ya, menyisatinya dengan potensi lain yang bisa dikembangkan oleh masyarakat.

Dalam sebuah kesempatan mengunjungi beberapa desa di kecamatan Cigugur, ternyata potensi itu ada. Warga yang “tak mengenal” kebudayaan laut, memanfaatkan potensi alamnya dengan berproduksi dan menekuni beberapa kerajinan, di antaranya yaitu di bidang kuliner.

Rengginang Singkong

Tak seperti umumnya rengginang yang kita kenal, yaitu terbuat dari beras ketan, di Dusun Tegallega, Desa Campaka, Kecamatan Cigugur, beberapa warga justru membuatnya dari singkong. Rusmi (58), menerangkan cara pembuatannya. Mula-mula singkong dikupas kulitnya, lalu dibersihkan, kemudian dihaluskan dengan mesin giling. Setelah itu kemudian ampasnya disimpan, sementara air perasannya diendapkan agar lengket. Air perasan yang telah lengket digunakan untuk membantu ampas singkong ketika dibentuk. Sebelum dibentuk menurut selera, ampas singkong terlebih daluhu ditumbuk agar semakin halus. Proses terakhir pasca dibentuk, kemudian dijemur di bawah terik matahari selama empat hari.

Jika musim hujan atau matahari tidak bersinar sepanjang hari, maka regginang dikeringkan dengan cara didéangkeun di dekat pembakaran. Ini jelas akan memakan waktu yang lebih lama, dan hasilnya tidak akan optimal.

Warga menjualnya dalam keadaan mentah, artinya nanti konsumen sendiri yang menggorengnya sebelum siap disajikan. Harga rengginang singkong tersebut tak lebih dari 250 rupiah per buah. Dari satu kuintal singkong, biasanya menghasilkan sekitar 2000 buah rengginang. Artinya kalau itu terjual semua, angka yang didapat adalah 500 ribu rupiah. Angka ini belum dikurangi oleh biaya bahan bakar untuk mesin penggiling dan bumbu untuk rengginang tersebut. Keuntungan penjual dengan kerja yang telaten karena proses pembuatannya—terutama pengeringan yang cukup lama, sangat sedikit, belum lagi bahan baku yang tidak selamanya tersedia.        

Dalam kondisi ketika tidak punya bahan baku sendiri, warga biasanya mengolah singkong milik orang lain. Kerjasama ini dinamakan “marokeun”. Hasilnya dibagi dua, pembuat rengginang dan pemilik singkong masing-masing memperoleh setengah dari total rengginag yang dihasilkan.

Dengan bahan baku yang terbatas dan hasil produksi yang bisa dibilang masih alakadarnya, warga pun masih terkendala dalam hal pemasaran. Selama ini yang membeli hanya tetangga di lingkungan dusunnya saja, hal ini membuat penjual rengginang singkong tidak bisa memasang harga yang lebih “layak”, sebab pada praktiknya pun para tetangga ini masih kerap menawarnya dengan harga yang lebih murah.

Usaha yang telah dirintis Rusmi dan beberapa pengrajin lainnya, meskipun sudah berjalan hampir sepuluh tahun, namun tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan, bahkan cenderung jalan di tempat. “Ya, daripada diam tak menghasilkan apa-apa, segini juga udah lumayan, “ demikian tuturnya.  

Gula Aren

Sementara di Dusun Cilutung, Desa Harumandala, masih di Kecamatan Cigugur, ada sekira sembilan orang warga yang menekuni pembuatan gula aren. Zenal (52), telah membuat gula aren kurang lebih lima tahun. Ia bersama istrinya bahu-membahu mempertahankan salah satu jalan pendapatannya. Pohon aren miliknya, yang ia sadap terdapat di hutan-hutan pinggir dusun. Jumlah gula yang dihasilkan tidak menentu, tergantung ketersediaan pohon dan volume aren yang disadap. Paling banyak ia berhasil memproduksi gula tak lebih dari 15 bungkus, yang dijual Rp 20 ribu per bungkusnya. Dalam satu bungkus terdapat 10 gandu/buah gula.

Bila pohon aren miliknya sudah tidak menghasilkan, maka ia kerap memproduksi gula dari pohon aren milik orang lain yang pembagiannya disebut “mentelu”; 2 bagian untuk pembuat, dan 1 bagian untuk pemilik pohon aren.

Pembuatan gula aren sendiri adalah dengan cara dipanaskan dalam api yang stabil selama kurang lebih enam sampai tujuh jam. Setelah itu kemudian dibiarkan sampai gula mengental, kemudian dicetak sesuai keinginan, lalu gula dibiarkan kembali sampai membatu dan akhirnya dibungkus memakai kalari atau daun kelapa yang sudah kering.

Seperti halnya penjualan rengginang singkong, para pembuat gula aren pun menjualnya hanya ke para tetangga. Hal ini bukan berarti mereka tidak ingin menjualnya ke pasar yang berada di ibu kota kecamatan, namun ongkos untuk transportasi yang cukup tinggi membuat mereka urung melakukannya. Keterbatasan ini tentu tak membuat perekonomian warga menjadi sejahtera, mereka hanya bertahan saja. Sekadar melanjutkan apa yang telah mereka kerjalan selama bertahun-tahun.     

Melihat kondisi seperti ini, di tengah giatnya persiapan pembangunan Kabupaten Pangandaran, kiranya bisa menjadi bahan pertimbangan. Bahwa siapa pun yang menjadi pupuhu pemerintahan kabupaten ini, hendaknya mulai menginventaris potensi seluruh warga dan wilayahnya. Fakta menunjukkan bahwa tidak semua kecamatan yang ada di Kabupaten Pangandaran menyandarkan hidupnya pada berkah laut dan pariwisata yang melimpah, namun juga dari bidang lain yang sampai saat ini belum terkelola secara optimal.

Lonjakan investor yang menanamkan modalnya di bidang pariwisata di Kabupaten Pangandaran memang keuntungan tersendiri, namun usaha mikro, kecil, dan menengah yang hidup di urat nadi warganya harus juga mendapatkan perhatian yang besar, sebab ini adalah faktor penting dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi rakyat. [irf] 

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai