06 March 2016

Ingatan yang Berarak di Pujasera POLBAN


Terakhir menjejakkan kaki di kampus POLBAN yaitu tahun 2015. Mahasiswa sudah tidak ada yang kenal, terang saja toh saya sudah lulus sebelas tahun yang lalu. Tapi seseorang masih tersenyum dan menyapa akrab, ya di satu pojok pujasera yang lumayan kumuh itu masih ada si teteh yang saya tak pernah tahu namanya. Dulu waktu masih kuliah, suaminya masih ada, dan bocah kecil berlari-lari di sekitarnya. Belakangan suaminya telah meninggal, sementara anaknya sudah besar, barangkali sudah duduk di SMP atau SMA.

"Aya di Bandung gening?," tanyanya ramah.

"Muhun teh, biasalah pengangguran. Ngahaja we ka kampus, sono sakalian ngopi."

Waktu itu pukul 10 pagi. Mahasiswa dengan wajah-wajah yang tak saya kenal mulai berdatangan dan duduk di pujasera. Roman muka mereka membingungkan; antara lapar, ceria menikmati masa muda, dan pusing dihajar seabreg tugas. Di kejauhan tampak gedung B, rumah bagi anak-anak berseragam kantor dengan aturan yang khas : "Dilarang merokok di dalam gedung B". Saya memprediksi, di bawah daun jendela kampus Jurusan AN banyak sekali puntung rokok milik para mahasiswa kere yang terburu-buru harus masuk kelas, sementara rokok masih panjang, artinya nanti puntung-puntung itu akan mereka bakar kembali.

Suara radio terdengar nyaring dari sebuah kios di dalam pujasera. Kopi datang dan saya membakar batang pertama. Konon iklan rokok tidak boleh masuk kampus, namun saya perhatikan dari dulu, pujasera ini didominasi warna merah, hitam, dan sedikit emas. Kalau kawan tahu, pasti warna-warna itu akan mengingatkan kita pada sebuah brand rokok terkenal. 

Sambil menikmati kopi dan suara radio, saya teringat Jeko; seorang pedagang cuanki yang entah sudah berapa tahun mencari penghidupan di lingkungan kampus ini. Konon sejak dari tahun 90-an dia sudah mangkal di POLBAN. Perawakannya tidak terlalu besar, rambut agak keriting, dan bermangkok-mangkok senyum yang terus mengembang. Kadang dia ada di sekitar gedung C, namun tak jarang nongkrong di pinggir gedung B, dan sering juga melayani pembeli yang tak jauh dari selasar Pendodo Agung. Jeko orangnya bersahaja berkawan. 

Kopi tinggal setengah gelas waktu seorang satpam masuk ke pujasera. Seragamnya mengingatkan saya pada Om Rudi Acung, Ambon, dan Dida; ya semuanya adalah satpam POLBAN yang dulu saya kenal. Ketika masuk pintu gerbang, mereka semua tak tampak batang hidungnya, barangkali bertugas malam. 

Waktu mulai mendekati dzuhur. Yang lapar semakin banyak. Beberapa dosen terlihat di kejauhan, mungkin mereka masih mengenal saya, atau bahkan sebaliknya. Saya memesan nasi goreng kornet dan segelas Nutrisari dingin. Hp bergetar, sebuah pesan masuk via WA, "Mana tulisan? Cepat kirim ya sebelum tanggal 15. Kalau bisa jangan hanya satu artikel." Pesan beraroma penghidupan. Teks ditukar dengan uang, sebuah transaksi sederhana. 

Menu makan siang kemudian datang. Saya berganti posisi, duduk membelakangi orang-orang dan menghadap ke jendela yang berdebu. Pemandangan masih tembus ke lahan tak terurus, lalu sampai ke benteng pembatas antara kampus dan komplek perumahan mewah. Langit mulai mendung, dan angin basah telah berhembus. 

Selesai makan lalu merokok lagi, entah batang yang ke berapa. Setiapkali duduk di lingkungan kampus, yang mula-mula saya ingat dan saya kenang pasti kisah tentang manusia-manusia di dalamnya. Beberapa kawan telah mendahului; Deki HMM, Jaja, Aziz, Fauza, dan Kang Dudung HMAN, Klara HMKP, dll.

Dua tahun setelah Jaja meninggal, ada sesobek catatan yang pernah saya tulis di 2010, begini isinya :   

"Dua tahun yang lalu di komplek pemakaman Rancacili, Margacinta, ada yang terbenam. Tapi itu bukan matahari, sebab bola api baru beberapa derajat tergelincir dari ubun-ubun. Banyak tangis tertahan di sana, ketika ambulance perlahan datang mendekati. 

Tak menyangka, tentu bisikan seperti itu ada, karena kematian tidak pernah menampakkan jadwal, dia selalu bersembunyi di pojok misteri. Siang menjelang sore itu, Jakarta mengantarkan anak angkatnya untuk pulang ke rumah keabadian, ke rumah terakhir pemberhentian setiap orang. Sahabat berderet-deret mengantarkan dan menaburi pusaranya dengan bunga dan do'a lirih yang hampir tak terdengar. Keluarga telah layu perasaan dan air mukanya, tak menyangka pemuda sehat dan ceria itu akan pergi selamanya di usia yang masih relatif muda. 

Siapa yang bisa menawar waktu? Tidak ada. Semua harus tunduk pada jadwal giliran, tak bisa seorang pun menghindar. Terkadang kita lupa, bahwa bekal belum cukup untuk perjalanan keabadian itu. Dan selalu ada cara untuk mengenang mereka yang telah pergi mendahului kita. Cukuplah kematian menjadi pelajaran bagi mereka yang masih hidup. 

Tak banyak yang bicara waktu itu, semuanya terdiam dan berbincang-bincang dengan bahasa yang hanya dapat dimengerti oleh duka. Lalu sinar matahari semakin redup, bayangan terus bergeser, kami, para sahabatnya akhirnya pulang. Meninggalkan dia sendirian terbenam di bawah tanah yang merah dan basah. Waktu para penggali kubur satu persatu meninggalkan komplek pemakaman, senja pun mulai dijemput malam. Dan tanah sepi itu terlihat temaram. 

Di Sarijadi, di kostan yang sepi, saya buka lagi buku puisi Acep Zamzam Noor, dan mendapati paragraf ini :

Maut bukanlah kabut yang mengendap-ngendap
Tapi salju
Yang berloncatan bagai waktu
Dan menyumbat pernafasanmu

Maut bukanlah kata-kata
Tapi do’a
Yang memancar bagai cahaya surga
Dan membakarmu tiba-tiba".

Hujan telah turun. Sebagian mahasiswa kembali masuk kelas sambil berlari. Satu pesan masuk lagi via WA, "Bung, sudah dapat kerja lagi? Kalau belum kembalilah ke Jakarta. Divisi kita kekurangan orang. Udah banyak yg resigned. Oke bung? Aku tunggu kabarnya ya." Tak saya balas. Saya tak mau menjadi layang-layang di ibukota seperti yang pernah dikatakan Rendra dalam "Sajak Seonggok Jagung". [ ]

5 comments:

Oshin said...

Btw anakny jeko skrg kerja d polban,mirip tp ga kriting ..hehe..

Oshin said...

Hi..ak jg alumni n skrg kerja d Polban. Mungkin kalo ketemu kenal ya. Eh tp mungkin jg engga hehe ( dulu bkn anak gaul siy).Btw anak jeko skrg kerja d polban ( sempet bantu d unit aku ) ..mirip tp ga kriting ..hehe.. Salam

Irfan Teguh said...

Oh kerja di Polban ya? syukurlah :)

Ya, mungkin kenal mungkin juga tidak #samiabdigesanesanakgaul :)

Unknown said...

Aku anak pertama dari 4 bersaudara, dari pasangan Ahyar Sopian (jeko) dan Enas Komala, mangga bilih bade langkung wanoh tiasa ngalangkungan twitter @dimandikan, IG : @dimandikan PIN BB 7DC41FDE atanapi blogna dimandikan@blogspot.com punten promosi hehehehe Hatur nuhun

Irfan Teguh said...

Salam kenal Diman. Wah teu nyangka seratan ieu bakal diaos ku putrana Jeko heheh...

Salam we nyak ka bapa, sing teras sehat, mungkin pami dicarioskeun ka bapa mah hilapeun, tapi ari pendak mah insyaAlloh apal :))

salam

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai