29 March 2016

Iwang



Hari masih pagi dan jalan Solontongan belum terlalu ramai. Iwang tengah duduk di depan tempat bimbingan belajar sambil menikmati segelas kopi sachet. “Ngopi dulu,” katanya sambil mengangkat gelas. Saya hanya mengangkat jempol sambil berlalu menuju kios penjual rokok.

Sehari-hari Iwang tinggal di tempat bimbingan belajar, dia bekerja di sana. Bukan sebagai pengajar, tapi tukang bersih-bersih, sesekali disuruh membeli ini-itu, dan sekaligus menjadi tenaga keamanan. Rumah peninggalan orangtuanya berada di Margacinta, kini dikontrakkan kepada orang lain seharga empat juta rupiah per tahun.     

Ia dua bersaudara. Adiknya sudah menikah dan punya dua anak, kerja di dealer mobil di bilangan Soekarno-Hatta, dan tinggal di daerah Kiaracondong. Sesekali adiknya datang menengok, sekadar memberinya uang jajan. “Ya, namanya juga dengan saudara, meskipun jarang ketemu tapi masih ingatlah,” ujarnya.

Di sebelah utara tempat Iwang tinggal, terhalang satu ruko, ada Kedai Preanger; kedai yang menjual sajian kopi dan teh sebagai menu utamanya. Lantai bawah adalah tempat konsumen duduk menikmati sajian dan membaca buku, sementara lantai dua dipakai untuk menyimpan beberapa buku yang tidak tertampung di bawah, juga sebagai tempat tidur. Di kedai inilah saya tinggal.

Selain menjual beberapa sajian minuman dan camilan, Kedai Preanger adalah juga sekretariat atau basecamp Komunitas Aleut; sebuah komunitas peminat sejarah, khususnya sejarah Kota Bandung, dan saya salah satu anggotanya.

Karena bertetangga, kami setiap hari bertemu. Iwang tak terlalu pandai main catur, namun tak pernah gentar menerima setiap tantangan siapa saja yang hendak mengasah otak. Seingat saya, skor kami 8-2. Namun pertandingan yang tak diingat lebih banyak lagi, dan saya selalu dominan. “Anjir, teuas euy (Anjing, keras euy),” begitu ungkapnya pada satu malam waktu raja dia saya skakmat. “Keras” di sini artinya--bagi dia, saya sulit dikalahkan.

Kalau baru terima gaji, sehari dia bisa minum 4 sampai 5 gelas kopi plus krimer yang ia beli di kios tak jauh dari tempat kerjanya. Minum kopi dan merokok, dan saya sangat jarang melihatnya membeli makan di siang hari.

Pagi ketika saya melihatnya sedang minum kopi di awal hari, barangkali itu adalah gelas yang pertama.  

***

Sudah hampir tiga tahun Iwang bekerja di tempat bimbingan belajar sebagai office boy merangkap satpam. Sebelumnya ia lama menganggur. Pendidikan terakhirnya SMA. Lulus 23 tahun yang lalu. Sempat juga bekerja di perusahaan listrik sebagai semacam tenaga pemasaran. Tugasnya mendatangi rumah-rumah yang belum dialiri listrik agar bisa mendaftar dengan cepat dan pencahayaan rumahnya ditangani perusahaan listrik. Pekerjaan itu dijalaninya selama dua tahun. Ia dikeluarkan karena terbukti menilep uang setoran. “Karena senior-senior saya banyak yang jadi tikus, saya juga lama-lama ikut-ikutan menjadi tikus,” ujarnya.

Sebelum ketahuan kantor, setiap hari minimal ia bisa mendapatkan uang sebesar 300 ribu rupiah yang berasal dari mark-up harga kepada calon pelanggan perusahaan listrik. Dompetnya tebal, berisi uang ratusan ribu. Waktu ibunya membutuhkan dana untuk belanja, sementara Iwang baru terbangun dari tidur siang, ia mempersilahkan ibunya mengambil sendiri uang yang dibutuhkan dari dompetnya. Ibunya kaget melihat uang sebanyak itu. “Duit dari mana ini? Sebanyak ini?!” begitu ia menirukan ucapan ibunya. Ia hanya menjawabnya bahwa itu adalah gaji dari tempatnya bekerja.

Setelah masa itu lewat, Iwang kemudian menganggur lama. Sangat lama. Sekali waktu dalam kondisi menganggur akut, saat ia rajin main ke tempat pamannya di daerah Buah Batu, seseorang bertanya, “Kamu ga kerja?” Kemudian ia ditawari untuk kerja di tempat bimbingan belajar yang ia jalani sampai sekarang.

Iwang lahir 42 tahun yang lalu, dan sampai sekarang belum berumah tangga. Seringkali di penghujung senja kami ngobrol. Membicarakan banyak hal, salah satunya tentang keluarga. Pandangannya kerap menerawang ketika bercerita tentang ibu bapaknya. Keduanya telah meninggal. Adiknya telah menikah dan punya anak. Sementara ia masih merindu kekasih dan keluarga. Pacarnya tinggal di Ciamis, dan sudah sangat jarang bertemu. Terakhir bertatap muka dua tahun lalu waktu pacarnya masih kerja di Bandung. Jarak begitu berkhianat.

Kalau laptop kawan-kawan Komunitas Aleut ada yang nganggur, Iwang kerap meminjamnya untuk sekadar membuka facebook dan membuat banyak puisi untuk kekasihnya. Komunikasi terjadi di dunia maya. “Kapan kita ngaleut ke Ciamis?” tanyanya sekali waktu. “Sekalian ngantar saya...”, lanjutnya. Sampai sekarang pertanyaannya belum terjawab, dan ia masih menunggu sampai waktu entah.

Setiap Sabtu tempat bimbingan belajar hanya buka setengah hari. Sementara di Kedai Preanger kawan-kawan Komunitas Aleut rutin mengadakan resensi buku secara lisan, dan saya yang paling sering menjadi semacam moderatornya. Iwang beberapakali ikut dalam riungan, menyimak apa yang dibicarakan kawan-kawan. Ia juga pernah sekali meresensi buku “Rasiah nu Goreng Patut”, sebuah novel berbahasa Sunda yang dulu pernah dibuat sinetron. Buku itu menceritakan Karnadi, seorang pemuda miskin dan buruk rupa namun punya kecerdasan yang nakal. Dengan kelihaiannya ia berhasil mendapatkan Eulis Awang, seorang gadis cantik dan anak orang kaya.

Dengan agak terbata Iwang memungkas resensinya dengan sebuah kesimpulan, “Jadi tak perlulah ganteng dan kaya untuk mendapatkan perempuan semacam Eulis Awang itu, yang penting pakai akal,” ungkapnya yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan kawan-kawan yang lain.

Hari Minggu libur, dan ia ikut ngaleut. Tugasnya membawa spanduk komunitas untuk disertakan dalam foto bersama di penghujung ngaleut. “Ya, kan hari Minggu mah bimbel tutup, saya ga ada kegiatan, jadi ikut ngaleut aja. Lumayan selain jalan-jalan olah raga, juga dapet pengetahuan dan teman-teman baru,” tuturnya.

Setiap Minggu siang, tepatnya setelah ngaleut selesai, sekira mulai dari pukul dua siang sampai malam, Iwang selalu nongkrong di Kedai Preanger; ngobrol, ngopi, merokok, dan main catur. Kalau pegawai kedai tengah libur, ia rajin membantu kawan-kawan Komunitas Aleut, baik melayani konsumen atau pun sekadar mencuci piring dan gelas kotor. “Sebetulnya saya pengen belajar juga membuat hidangan, seperti membuat kopi dan minuman lain, agar bisa bantu-bantulah. Ya, namanya juga dengan teman, apalagi kita bertetangga. Ga usah dikasih apa-apa, saya mah ikhlas,” ungkapnya dengan nada tulus.

***

Setelah menyelesaikan sekolah di SMA Negeri 1 Buah Batu (sekarang menjadi SMA Negeri 25 Bandung), Iwang aktif berkegiatan di Karang Taruna tingkat RW. “Waktu awal ikut, ada pelatihan dulu di Tanjungsari, Sumedang. Rombongan peserta menggunakan bis sewaan, sementara panitia mah pakai mobil yang lebih kecil. Materinya semacam dididik untuk jadi pemimpin,” ujarnya bercerita. Di Karang Taruna Iwang kerap berposisi di bagian logistik dan humas. Delapan tahun ia aktif berkegiatan dan menghidupkan lingkungan RW-nya.

Cerita Iwang tentang masa aktifnya di organisasi terbukti ketika ia mulai ikut Komunitas Aleut; tak terlihat canggung dalam bergaul dengan orang-orang baru, dan sadar akan tugas dan tanggungjawabnya. Begitu pula di tempat kerja, Iwang amat paham dengan kewajibannya. Meski jarak antara tempat dia kerja dengan Kerja Preanger hanya lima meter, dan misalnya dia tengah santai, namun Iwang selalu menolak jika ada yang mengajaknya bermain catur. “Hampura euy moal waka, keur gawé (Maaf, ga akan main catur dulu, lagi kerja),” ujarnya.

Sekali waktu, saya dan seorang kawan (Kobo) punya ide untuk mengadakan semacam malam puisi di Kedai Preanger. Tapi niat itu kemudian dirintangi oleh kenyataan bahwa mayoritas kawan-kawan Komunitas Aleut sepertinya kurang begitu berminat pada puisi. Saya lalu teringat Iwang dan puisi-puisinya yang sering ia unggah di facebook. “Kita ‘angkat’ mang Iwang aja, Bo, gimana?” Dia tidak menjawab, malah melonjak girang.

Saya membayangkan bagaimana Iwang, seseorang yang berjarak dengan kekasih dan keluarganya, membacakan isi hatinya lewat puisi-puisi. Atau beberapa penyesalan yang tidak pernah diungkapkan, tentang usia remaja atau mungkin dosa-dosa. Saya tak tahu pedalaman hatinya. Namun barangkali dengan begitu, ia bisa sedikit mengungkapkan kerinduannya yang selama ini diperam. 

Ketika hujan turun begitu deras, saya melihat Iwang tengah melamun di depan tempat kerjanya, dengan sebatang rokok dan segelas kopi tentu saja. Hari masih pagi dan jalan Solontongan belum terlalu ramai. [ ]  

25 March 2016

Rusa Berbulu Merah dan Masyarakat Kurang Baca

Sehari pasca pembubaran paksa oleh berbagai ormas seperti FPI, PUI, dan Laskar Fisabililah , akhirnya kemarin (24/3/2016) pentas monolog Tan Malaka berhasil digelar dengan aman. Acara yang diselenggarakan di IFI Bandung itu berlangsung di bawah penjagaan ketat aparat keamanan dan beberapa LSM yang mendukung acara seperti AMS, Jangkar, dan Pekat.

Gelaran yang sejatinya akan dipentaskan dalam dua hari berturut-turut, yaitu tanggal 23-24 Maret 2016, pukul 20.00 wib, akhirnya hanya digelar satu hari, namun tetap mementaskan dua kesempatan, yaitu pukul 16.00 dan 20.00 wib. 

Sedari siang, sekira pukul 14.00 suasana di sekitar IFI cukup tegang. Ratusan aparat keamanan yang berjaga dikagetkan oleh kira-kira 20 rombongan kendaraan bermotor yang melintas di Jl. Purnawarman (depan IFI) sambil menyalakan knalpot bising. Mereka kemudian masuk ke pelataran parkir BEC (Bandung Electronic Centre), dan sesaat berselang keluar lagi menuju jalan Jl. Purnawarman sambil terus menggeber gas yang menimbulkan suara knalpot bising. Polisi yang berjaga akhirnya menangkap dan membawa mereka ke kantor dengan truk. Motor yang mereka pakai dibawa serta oleh para petugas.

Monolog Tan Malaka yang sempat tertunda, semula akan dihadiri oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil sebagai penjamin tidak akan dibubarkan lagi oleh ormas, namun sampai acara dimulai beliau tidak kunjung datang. Selama pementasan situasi di dalam dan di luar panggung relatif kondusif. Menurut Ahda Imran, penulis naskah, Ridwan Kamil memang rencananya mau hadir, namun karena terbentur banyak kesibukan, akhirnya pementasan berjalan tanpa menunggunya.

“Saya Rusa Berbulu Merah” yang menjadi tajuk monolog, sepanjang pementasan tidak menyisakan fragmen yang riskan dan rawan dengan isu bahaya laten komunis yang ditakutkan para penentang acara. Malah dalam satu kesempatan, Tan Malaka yang diperankan oleh aktor Joind Bayuwinanda menyebutkan bahwa dia menentang pendapat para kamerad komunis terkait Pan-Islamisme ketika berpidato pada Kongres Komunis Internasional ke-4 pada tanggal 22 November 1922.

Pan-Islamisme yang oleh para kamerad perlu untuk dilawan, menurut Tan Malaka malah sebaliknya. Tan beranggapan bahwa sebagai sebuah gerakan, Pan-Islamisme juga menentang imprealisme dan kolonialisme, malah dia juga mendadarkan hubungan kerjasama antara Sarekat Islam dan dan partainya di Nusantara.

Di luar itu, alur kisah dalam Monolog Tan Malaka menjelentrehkan riwayat dan nasib anak bangsa yang menjadi korban revolusi yang ia perjuangkan. Sosok Tan yang menghendaki kemerdekaan 100% dan enggan berunding dengan pihak Belanda yang ia anggap sebagai maling, membuatnya tersisih dari konstelasi politik di awal kemerdekaan.

Ketika proklamasi kemerdekan telah dibacakan, Tan sempat bertemu dengan para pemimpin republik yang lain, yang dalam pementasan Tan menyebutnya sebagai “para pesohor”, dan ia menentang rencana para pesohor yang langkah-langkah politiknya membuat republik yang masih bayi itu tidak memiliki kedaulatan ekonomi.     

Tan kalah. Suaranya tak didengar. Ia akhirnya memilih bergabung dengan para pemuda dan rakyat untuk menempuh perang gerilya. Tipu muslihat Belanda yang membonceng pasukan sekutu untuk kembali mengusai Indonesia, ia cium gelagatnya. Bergabungnya Tan dengan laskar dan para gerilyawan kemudian dianggap menggembosi kepemimpinan republik, akhirnya ia dimusuhi oleh kawan seperjuangannya. 

Meski pementasan molonog hanya berhenti di titik ketika Tan Malaka semakin menjauhi lingkaran para pemimpin republik, namun sejatinya Tan Malaka sendiri tewas ditembak oleh tentara dari sebuah republik yang ia citakan dan perjuangkan.

Dilihat dari sana, Monolog Tan Malala “Saya Rusa Berbulu Merah” sesungguhnya tak menyisakan sedikit pun ruang untuk dijadikan bahan kekhawatiran dan penolakan para ormas beratribut Islam. Alih-alih melahirkan kecemasan, pementasan ini malah kontekstual untuk dijadikan bahan perenungan dan evaluasi, tentang sejarah yang tidak bertabiat hitam-putih, juga tentang kedaulatan ekonomi yang hari-hari ini cukup rawan.

Dan di atas segalanya, Monolog Tan Malaka lengkap dengan insiden penolakan, menggambarkan satu kondisi tentang sebagian masyarakat yang kurang membaca dan melek sejarah, juga tentang Bandung sebagai sebuah kota dan Indonesia pada umumnya, yang masih ringkih menghadapi perbedaan dan belum sepenuhnya siap dengan watak demokrasi. [ ]           

06 March 2016

Ingatan yang Berarak di Pujasera POLBAN


Terakhir menjejakkan kaki di kampus POLBAN yaitu tahun 2015. Mahasiswa sudah tidak ada yang kenal, terang saja toh saya sudah lulus sebelas tahun yang lalu. Tapi seseorang masih tersenyum dan menyapa akrab, ya di satu pojok pujasera yang lumayan kumuh itu masih ada si teteh yang saya tak pernah tahu namanya. Dulu waktu masih kuliah, suaminya masih ada, dan bocah kecil berlari-lari di sekitarnya. Belakangan suaminya telah meninggal, sementara anaknya sudah besar, barangkali sudah duduk di SMP atau SMA.

"Aya di Bandung gening?," tanyanya ramah.

"Muhun teh, biasalah pengangguran. Ngahaja we ka kampus, sono sakalian ngopi."

Waktu itu pukul 10 pagi. Mahasiswa dengan wajah-wajah yang tak saya kenal mulai berdatangan dan duduk di pujasera. Roman muka mereka membingungkan; antara lapar, ceria menikmati masa muda, dan pusing dihajar seabreg tugas. Di kejauhan tampak gedung B, rumah bagi anak-anak berseragam kantor dengan aturan yang khas : "Dilarang merokok di dalam gedung B". Saya memprediksi, di bawah daun jendela kampus Jurusan AN banyak sekali puntung rokok milik para mahasiswa kere yang terburu-buru harus masuk kelas, sementara rokok masih panjang, artinya nanti puntung-puntung itu akan mereka bakar kembali.

Suara radio terdengar nyaring dari sebuah kios di dalam pujasera. Kopi datang dan saya membakar batang pertama. Konon iklan rokok tidak boleh masuk kampus, namun saya perhatikan dari dulu, pujasera ini didominasi warna merah, hitam, dan sedikit emas. Kalau kawan tahu, pasti warna-warna itu akan mengingatkan kita pada sebuah brand rokok terkenal. 

Sambil menikmati kopi dan suara radio, saya teringat Jeko; seorang pedagang cuanki yang entah sudah berapa tahun mencari penghidupan di lingkungan kampus ini. Konon sejak dari tahun 90-an dia sudah mangkal di POLBAN. Perawakannya tidak terlalu besar, rambut agak keriting, dan bermangkok-mangkok senyum yang terus mengembang. Kadang dia ada di sekitar gedung C, namun tak jarang nongkrong di pinggir gedung B, dan sering juga melayani pembeli yang tak jauh dari selasar Pendodo Agung. Jeko orangnya bersahaja berkawan. 

Kopi tinggal setengah gelas waktu seorang satpam masuk ke pujasera. Seragamnya mengingatkan saya pada Om Rudi Acung, Ambon, dan Dida; ya semuanya adalah satpam POLBAN yang dulu saya kenal. Ketika masuk pintu gerbang, mereka semua tak tampak batang hidungnya, barangkali bertugas malam. 

Waktu mulai mendekati dzuhur. Yang lapar semakin banyak. Beberapa dosen terlihat di kejauhan, mungkin mereka masih mengenal saya, atau bahkan sebaliknya. Saya memesan nasi goreng kornet dan segelas Nutrisari dingin. Hp bergetar, sebuah pesan masuk via WA, "Mana tulisan? Cepat kirim ya sebelum tanggal 15. Kalau bisa jangan hanya satu artikel." Pesan beraroma penghidupan. Teks ditukar dengan uang, sebuah transaksi sederhana. 

Menu makan siang kemudian datang. Saya berganti posisi, duduk membelakangi orang-orang dan menghadap ke jendela yang berdebu. Pemandangan masih tembus ke lahan tak terurus, lalu sampai ke benteng pembatas antara kampus dan komplek perumahan mewah. Langit mulai mendung, dan angin basah telah berhembus. 

Selesai makan lalu merokok lagi, entah batang yang ke berapa. Setiapkali duduk di lingkungan kampus, yang mula-mula saya ingat dan saya kenang pasti kisah tentang manusia-manusia di dalamnya. Beberapa kawan telah mendahului; Deki HMM, Jaja, Aziz, Fauza, dan Kang Dudung HMAN, Klara HMKP, dll.

Dua tahun setelah Jaja meninggal, ada sesobek catatan yang pernah saya tulis di 2010, begini isinya :   

"Dua tahun yang lalu di komplek pemakaman Rancacili, Margacinta, ada yang terbenam. Tapi itu bukan matahari, sebab bola api baru beberapa derajat tergelincir dari ubun-ubun. Banyak tangis tertahan di sana, ketika ambulance perlahan datang mendekati. 

Tak menyangka, tentu bisikan seperti itu ada, karena kematian tidak pernah menampakkan jadwal, dia selalu bersembunyi di pojok misteri. Siang menjelang sore itu, Jakarta mengantarkan anak angkatnya untuk pulang ke rumah keabadian, ke rumah terakhir pemberhentian setiap orang. Sahabat berderet-deret mengantarkan dan menaburi pusaranya dengan bunga dan do'a lirih yang hampir tak terdengar. Keluarga telah layu perasaan dan air mukanya, tak menyangka pemuda sehat dan ceria itu akan pergi selamanya di usia yang masih relatif muda. 

Siapa yang bisa menawar waktu? Tidak ada. Semua harus tunduk pada jadwal giliran, tak bisa seorang pun menghindar. Terkadang kita lupa, bahwa bekal belum cukup untuk perjalanan keabadian itu. Dan selalu ada cara untuk mengenang mereka yang telah pergi mendahului kita. Cukuplah kematian menjadi pelajaran bagi mereka yang masih hidup. 

Tak banyak yang bicara waktu itu, semuanya terdiam dan berbincang-bincang dengan bahasa yang hanya dapat dimengerti oleh duka. Lalu sinar matahari semakin redup, bayangan terus bergeser, kami, para sahabatnya akhirnya pulang. Meninggalkan dia sendirian terbenam di bawah tanah yang merah dan basah. Waktu para penggali kubur satu persatu meninggalkan komplek pemakaman, senja pun mulai dijemput malam. Dan tanah sepi itu terlihat temaram. 

Di Sarijadi, di kostan yang sepi, saya buka lagi buku puisi Acep Zamzam Noor, dan mendapati paragraf ini :

Maut bukanlah kabut yang mengendap-ngendap
Tapi salju
Yang berloncatan bagai waktu
Dan menyumbat pernafasanmu

Maut bukanlah kata-kata
Tapi do’a
Yang memancar bagai cahaya surga
Dan membakarmu tiba-tiba".

Hujan telah turun. Sebagian mahasiswa kembali masuk kelas sambil berlari. Satu pesan masuk lagi via WA, "Bung, sudah dapat kerja lagi? Kalau belum kembalilah ke Jakarta. Divisi kita kekurangan orang. Udah banyak yg resigned. Oke bung? Aku tunggu kabarnya ya." Tak saya balas. Saya tak mau menjadi layang-layang di ibukota seperti yang pernah dikatakan Rendra dalam "Sajak Seonggok Jagung". [ ]

04 March 2016

Peran Karel Frederik Holle dalam Perkembangan Literasi Sunda


Karel Frederik Holle adalah salah seorang yang ikut dalam rombongan pelayaran warga Belanda yang dipimpin oleh Guillaume Louis Jacques van der Hucth pada tanggal 25 September 1843. Rombongan yang berlayar dari Belanda itu hendak menuju tanah harapan di timur jauh, yaitu sebuah negeri koloni yang bernama Hindia Belanda. Ia yang waktu pelayaran masih berusia 14 tahun, pada perjalanannya menjadi salah seorang pengusaha perkebunan di Priangan atau Preangerplanters yang sukses.

Mula-mula ia menekuni pekerjaan sebagai seorang klerk di Kantor Residen Cianjur, kemudian di Kantor Directie van Middelen en Domeinen di Batavia. Setelah bekerja selama sepuluh tahun, ia rupanya tidak merasa puas. Maka kemudian ia memutuskan untuk berhenti dan meninggalkannya pekerjaannya. KF Holle lalu diangkat menjadi Administratur Perkebunan Teh di Cikajang, Garut. Setelah itu lalu membuka Perkebunan Teh dan Kina Waspada (Bellevue) di kaki Gunung Cikuray.

Dalam menjalankan pekerjaan barunya di bidang perkebunan, KF Holle ternyata tertarik dengan literasi dan kebudayaan Sunda. Dalam keseharian, seperti yang tertulis dalam buku “Kisah Para Preangerplanters” karya Her Suganda, KF Holle selalu berbicara dengan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar dalam pergaulannya sehari-hari dengan masyarakat dan penguasa setempat. Tak hanya itu, ia pun kerap berpakaian menyerupai kaum pribumi, seperti memakai sarung dan kerepus.

Di tempat barunya ia berteman dengan Moehamad Moesa (Hoofd Penghulu Limbangan), juga dengan RA Lasminingrat, salah seorang putri Moehamad Moesa yang kemudian menjadi tokoh pendidikan dan sastrawan wanita Sunda. Berkat dorongan KF Holle, Lasminingrat berhasil mengarang dan menerjemahkan beberapa buku. Selain itu, salah seorang murid KF Holle, yakni Hasan Mustapa (Hoofd Penghulu yang pernah bertugas di Aceh dan Bandung), kemudian menjadi sastrawan Sunda yang berhasil melahirkan banyak karya.

Salah satu langkah penting yang pernah dilakukan KF Holle yaitu mendorong kawan-kawan pribuminya untuk berkarya. Moehamad Moesa, berkat persahabatan dengannya berhasil membuat beberapa karya yang dituangkan dalam buku, di antaranya : “Wawatjan Woelangkrama” (1862), “Wawatjan Dongeng-dongeng Toeladan” (1862), “Woelang Tani” (1862), “Wawatjan Satja Nala” (1863), “Wawatjan Tjarios Ali Moehtar” (1864), “Elmoe Nyawah” (1864), “Wawatjan Woelang Moerid” (1865), “Wawatjan Woelang Goeroe” (1865), “Wawatjan Pandji Woeloeng” (1871), dan “Dongeng-dongeng Pieunteungeun” (1887).

Di bawah pengawasannya, selain karya Moehamad Moesa, ada juga penulis pribumi lain yang berhasil melahirkan karya, di antaranya; Adi Widjaja, patih daerah Limbangan di Priangan, dan Bratawidjaja, mantan patih daerah Galuh di Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya). Produksi buku-buku berbahasa Sunda yang berada dalam pengawasan KF Holle kira-kira berlangsung sampai 1880-an. Buku terakhir yang terbit di bawah pengawasannya adalah “Pagoeneman Soenda djeung Walanda” (Buku Percakapan Sunda Belanda), terbit pada tahun 1883. Dan yang terakhir dieditnya adalah “Mitra noe Tani” (Sahabat Petani) terbit tahun 1896.

Di bidang sejarah, KF Holle pernah menulis karangan tentang Dipati Ukur. Dari beberapa versi cerita tentang Dipati Ukur yang beredar di masyarakat, ia menulis tentang bupati Imbanagara dan Bagus Sutapura yang diceritakan memegang peranan penting dalam penumpasan pemberontakan Dipati Ukur terhadap Kerajaan Mataram dan reorganisasi pemerintahan di wilayah Priangan.

Tahun 1877, ia mentranskripsikan Prasasti Geger Hanjuang di Tasikmalaya yang tertuang dalam tulisannya yang berjudul “Beschreven Steen uit de Afdeeling Tasikmalaja Residentie Preanger”. Tulisan-tulisan lainnya banyak dijumpai dalam majalah Tijchrift van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Indische Gids, dan Tijdschrift van Landbouw en Nijverheid, yakni majalah pertanian dan kerajinan.

Dengan kemampuannya membaca bahasa Sunda Kuna, Holle juga sempat berusaha membaca prasati Batutulis yang ada di Buitenzorg (Bogor). Tahun 1869, hasil penelitiannya ditulis dengan judul “De Batoe Toelis te Buitenzorg”. Dalam tulisannya ia menyimpulkan bahwa Pakuan didirikan oleh Sri Baduga.

Salah satu bukunya yang paling populer, yang ia tulis bersama AW Holle (adiknya) adalah “Tjarita koera-koera djeung monyet”. Cerita fabel ini kemudian menyebar secara luas di kalangan masyarakat Sunda dengan judul “Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet”. Cerita ini kerap didongengkan kepada anak-anak menjelang tidur. Buku tersebut dianggap sebagai pelopor buku pegangan siswa di Jawa Barat yang diterbitkan pada tahun 1851 oleh Lange & Co, sebuah penerbit swasta di Batavia.   

Apa yang dilakukan KF Holle di bidang literasi, menurut Mikihiro Moriyama dalam buku “Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, Dan Kesastraan Sunda Abad ke-19” merupakan salah satu dari gerakan penemuan, pemurnian, dan pendayagunaan bahasa Sunda, setelah dua abad sebelumnya dianggap tidak ada karena pengaruh kekuasan Mataram. Sepanjang abad 17 dan 18, bahasa tulisan yang dipakai dan berkembang di Tatar Sunda adalah bahasa Jawa. Hal ini tak lepas dari dikuasainya tanah Priangan oleh Kerajaan Mataram dari Jawa, dampak “penjajahan” Mataram ini terjadi di berbagai lini kehidupan, salah satunya adalah bahasa. Maka tak mengherankan jika selama hampir dua abad kesastraan Sunda berkembang menurut estetika Jawa. 

Kondisi terpinggirkannya bahasa Sunda akibat pengaruh Jawa tersebut, juga pernah dikeluhkan oleh Moehamad Moesa dalam sebuah tulisan :

“Basa Soenda noe kalipoet / tanda jén kalipoetan / boektina di Soenda sepi / hanteu aja boekoe woengkoel basa Soenda / Réja maké doewa basa / Nja éta salah-sahidji / Malajoe atawa Djawa.” (Moesa 1867: 5)

“Bahasa Sunda yang tersembunyi / tanda bahwa ia tersembunyi / adalah bahasa Sunda dipencilkan / tidak ada buku yang ditulis / hanya dalam bahasa Sunda / kebanyakan ditulis dalam dua bahasa / yaitu salah satu di antara / bahasa Melayu atau Jawa.” 

Bahkan kenyataan ini membuat pemerintah kolonial Belanda pada mulanya menganggap bahwa di Pulau Jawa tidakak ada bahasa etnik lain selain bahasa Jawa. Barulah kemudian pada abad ke-19, para intelektual Belanda yang berstatus pejabat pemerintah kolonial, penginjil, dan partikelir yang hidup pada abad itu, menemukan bahasa Sunda sebagai sebuah bahasa mandiri yang memiliki kosa kata dan struktur tersendiri, yang artinya berbeda dengan bahasa Jawa yang sebelumnya dianggap sebagai bahasa tunggal.

Apa yang di lakukan KF Holle dalam pergaulan sehari-harinya yang banyak tercurahkan terhadap budaya dan literasi Sunda, terutama persahabatannya dengan Moehamad Moesa, juga karena ia sendiri menjabat sebagai penasehat kehormatan pemerintah Hindia Belanda untuk urusan pribumi, kemudian melahirkan prasangaka dan kecurigaan, baik dari kalangan pribumi maupun dari pihak Belanda. Mikihiro Moriyama menyebut hal ini dengan kalimat yang tepat, yaitu “paduan ganjil antara oportunisme, persahabatan, dan keingintahuan.”

Namun bagaimanapun, peran KF Holle dalam perkembangan literasi Sunda kiranya tak dapat diabaikan begitu saja. Ketika ia meninggal dunia pada tahun 1896, anak lelaki Haji Moehamad Moesa yang bernama Kartawinata, menulis satu buku kecil yang ternyata menandakan berakhirnya suatu zaman. Ya, zaman yang ditinggalkan KF Holle dengan segala kecintaan dan peranannya terhadap perkembangan literasi Sunda. [irf]    

03 March 2016

Kabar Kerajinan Rakyat dari Cigugur-Pangandaran


Sebagai sebuah kabupaten baru, Pangandaran kini tengah sibuk membangun daerahnya. Pilkada baru saja dilaksanakan, meskipun pelantikan bupati terpilih masih harus menunggu waktu. Sebagai daerah yang dianugerahi potensi alam, terutama laut dan pantai yang mengagumkan, Pangandaran memang telah mempunyai semacam branding alami, bahwa siapa pun yang berkunjung ke sana, mula-mula pasti akan terpikat oleh panorama lautnya.

Namun demikian, karena telah terbentuk sebagai sebuah kabupaten, Pangandaran kini mempunyai 10 kecamatan, yang terdiri dari; Cimerak, Cijulang, Langkaplancar, Cigugur, Parigi, Sidamulih, Pangandaran, Kalipucang, Padaherang, dan Mangunjaya. Dari sepuluh kecamatan tersebut yang sebagian wilayahnya persis berada sepanjang garis pantai hanyalah Cimerak, Cijulang, Parigi, Pangandaran, Sidamulih, dan Kalipucang. Artinya masih ada beberapa kecamatan yang sama sekali tidak bersentuhan langsung dengan kehidupan dan potensi laut.

Salah satu kecamatan yang seluruh desanya tidak berada di garis pantai adalah Cigugur. Dalam peta Kabupaten Pangandaran, kecamatan ini berada di arah barat laut dan berbatasan langsung dengan kabupaten Tasikmalaya. Jika ditempuh dari Ibu Kota Kabupaten (Parigi), maka akan menghabiskan waktu sekira setengah jam untuk sampai ke pusat kecamatan Cigugur. Infrastruktur jalan menuju ke Cigugur sudah bagus, hanya beberapa ruas saja yang masih terdapat kerusakan.

Kecamatan Cigugur sendiri mempunyai 7 desa, yaitu; Kertajaya, Pagerbumi, Bunisari, Cigugur, Campaka, Harumandala, dan Cimindi. Mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Selain itu, karena banyak terdapat hutan produksi, sebagian kecil penduduk pun ada yang menghidupi dirinya dengan mengandalkan potensi ini. Namun hal ini kadang tidak berjalan mulus, karena di sana pun banyak terdapat lahan Perum Perhutani, beberapakali penduduk sempat terlibat sengketa lahan dengan perusahaan milik negara tersebut.

Secara umum, jika dibandingkan dengan kecamatan lain, Parigi misalnya, kondisi perekonomian di Cigugur relatif masih tertinggal. Secara letak geografis yang berjauhan dengan garis pantai yang memang menjadi andalan perekonomian Kabupaten Pangandaran, Cigugur kiranya harus bersisat. Ya, menyisatinya dengan potensi lain yang bisa dikembangkan oleh masyarakat.

Dalam sebuah kesempatan mengunjungi beberapa desa di kecamatan Cigugur, ternyata potensi itu ada. Warga yang “tak mengenal” kebudayaan laut, memanfaatkan potensi alamnya dengan berproduksi dan menekuni beberapa kerajinan, di antaranya yaitu di bidang kuliner.

Rengginang Singkong

Tak seperti umumnya rengginang yang kita kenal, yaitu terbuat dari beras ketan, di Dusun Tegallega, Desa Campaka, Kecamatan Cigugur, beberapa warga justru membuatnya dari singkong. Rusmi (58), menerangkan cara pembuatannya. Mula-mula singkong dikupas kulitnya, lalu dibersihkan, kemudian dihaluskan dengan mesin giling. Setelah itu kemudian ampasnya disimpan, sementara air perasannya diendapkan agar lengket. Air perasan yang telah lengket digunakan untuk membantu ampas singkong ketika dibentuk. Sebelum dibentuk menurut selera, ampas singkong terlebih daluhu ditumbuk agar semakin halus. Proses terakhir pasca dibentuk, kemudian dijemur di bawah terik matahari selama empat hari.

Jika musim hujan atau matahari tidak bersinar sepanjang hari, maka regginang dikeringkan dengan cara didéangkeun di dekat pembakaran. Ini jelas akan memakan waktu yang lebih lama, dan hasilnya tidak akan optimal.

Warga menjualnya dalam keadaan mentah, artinya nanti konsumen sendiri yang menggorengnya sebelum siap disajikan. Harga rengginang singkong tersebut tak lebih dari 250 rupiah per buah. Dari satu kuintal singkong, biasanya menghasilkan sekitar 2000 buah rengginang. Artinya kalau itu terjual semua, angka yang didapat adalah 500 ribu rupiah. Angka ini belum dikurangi oleh biaya bahan bakar untuk mesin penggiling dan bumbu untuk rengginang tersebut. Keuntungan penjual dengan kerja yang telaten karena proses pembuatannya—terutama pengeringan yang cukup lama, sangat sedikit, belum lagi bahan baku yang tidak selamanya tersedia.        

Dalam kondisi ketika tidak punya bahan baku sendiri, warga biasanya mengolah singkong milik orang lain. Kerjasama ini dinamakan “marokeun”. Hasilnya dibagi dua, pembuat rengginang dan pemilik singkong masing-masing memperoleh setengah dari total rengginag yang dihasilkan.

Dengan bahan baku yang terbatas dan hasil produksi yang bisa dibilang masih alakadarnya, warga pun masih terkendala dalam hal pemasaran. Selama ini yang membeli hanya tetangga di lingkungan dusunnya saja, hal ini membuat penjual rengginang singkong tidak bisa memasang harga yang lebih “layak”, sebab pada praktiknya pun para tetangga ini masih kerap menawarnya dengan harga yang lebih murah.

Usaha yang telah dirintis Rusmi dan beberapa pengrajin lainnya, meskipun sudah berjalan hampir sepuluh tahun, namun tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan, bahkan cenderung jalan di tempat. “Ya, daripada diam tak menghasilkan apa-apa, segini juga udah lumayan, “ demikian tuturnya.  

Gula Aren

Sementara di Dusun Cilutung, Desa Harumandala, masih di Kecamatan Cigugur, ada sekira sembilan orang warga yang menekuni pembuatan gula aren. Zenal (52), telah membuat gula aren kurang lebih lima tahun. Ia bersama istrinya bahu-membahu mempertahankan salah satu jalan pendapatannya. Pohon aren miliknya, yang ia sadap terdapat di hutan-hutan pinggir dusun. Jumlah gula yang dihasilkan tidak menentu, tergantung ketersediaan pohon dan volume aren yang disadap. Paling banyak ia berhasil memproduksi gula tak lebih dari 15 bungkus, yang dijual Rp 20 ribu per bungkusnya. Dalam satu bungkus terdapat 10 gandu/buah gula.

Bila pohon aren miliknya sudah tidak menghasilkan, maka ia kerap memproduksi gula dari pohon aren milik orang lain yang pembagiannya disebut “mentelu”; 2 bagian untuk pembuat, dan 1 bagian untuk pemilik pohon aren.

Pembuatan gula aren sendiri adalah dengan cara dipanaskan dalam api yang stabil selama kurang lebih enam sampai tujuh jam. Setelah itu kemudian dibiarkan sampai gula mengental, kemudian dicetak sesuai keinginan, lalu gula dibiarkan kembali sampai membatu dan akhirnya dibungkus memakai kalari atau daun kelapa yang sudah kering.

Seperti halnya penjualan rengginang singkong, para pembuat gula aren pun menjualnya hanya ke para tetangga. Hal ini bukan berarti mereka tidak ingin menjualnya ke pasar yang berada di ibu kota kecamatan, namun ongkos untuk transportasi yang cukup tinggi membuat mereka urung melakukannya. Keterbatasan ini tentu tak membuat perekonomian warga menjadi sejahtera, mereka hanya bertahan saja. Sekadar melanjutkan apa yang telah mereka kerjalan selama bertahun-tahun.     

Melihat kondisi seperti ini, di tengah giatnya persiapan pembangunan Kabupaten Pangandaran, kiranya bisa menjadi bahan pertimbangan. Bahwa siapa pun yang menjadi pupuhu pemerintahan kabupaten ini, hendaknya mulai menginventaris potensi seluruh warga dan wilayahnya. Fakta menunjukkan bahwa tidak semua kecamatan yang ada di Kabupaten Pangandaran menyandarkan hidupnya pada berkah laut dan pariwisata yang melimpah, namun juga dari bidang lain yang sampai saat ini belum terkelola secara optimal.

Lonjakan investor yang menanamkan modalnya di bidang pariwisata di Kabupaten Pangandaran memang keuntungan tersendiri, namun usaha mikro, kecil, dan menengah yang hidup di urat nadi warganya harus juga mendapatkan perhatian yang besar, sebab ini adalah faktor penting dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi rakyat. [irf] 

Menjadi Tamu Kehormatan di Pameran Buku Tertua di Dunia


Tanggal 14-18 Oktober 2015, Indonesia berkesempatan menjadi Guest of Honor atau Tamu Kehormatan di gelaran Frankfurt Book Fair 2015. Pameran buku tertua di dunia itu menghadirkan lebih dari 700 peserta dari berbagai negara, dan tiap tahunnya menyedot jutaan pengunjung dari beragam lapisan masyarakat, terutama para peminat dan pegiat literasi. Penerbit, penulis, pembaca, dan kolektor buku tumpah-ruah di kota paling metropolitan di Jerman tersebut.

Tiap tahunnya, Frankfurt Book Fair selalu mempunyai satu tamu kehormatan yang diberi ruang yang cukup lapang untuk memamerkan--bukan hanya buku, namun juga budaya dan tradisi kontemporernya ke hadapan khalayak dunia. Tahun lalu, yang menjadi tamu kehormatan adalah Finlandia, dan tahun ini kesempatan itu bergulir ke tangan Indonesia.

Indonesia sebetulnya sudah ditawari menjadi tamu kehormatan sejak beberapa tahun ke belakang, hanya saja Indonesia menolaknya karena belum siap, dan baru menerimanya tahun 2013. Menjadi tamu kehormatan, di satu sisi adalah kesempatan untuk tampil mempromosikan dunia literasi dalam negeri ke publik dunia, namun di sisi lain bukanlah pekerjaan yang mudah, sebab mesti menerjemahkan puluhan dan bahkan ratusan buku berbahasa Indonesia ke dalam—minimal, bahasa Inggris. Namun karena pamerannya berlangsung di Jerman, maka tentu akan lebih baik jika diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jerman.

Maka sejak 2013, panitia yang terhimpun dalam Komite Nasional; terdiri dari pemerintah, yang diwakili oleh Kemendikbud, dan masyarakat yang diwakili oleh beberapa sastrawan serta para profesional di bidang literasi, siang-malam bahu-membahu mempersiapkan diri agar pada pelaksanaanya bisa berjalan lancar, dan Indonesia tampil dengan baik. Persiapan dua tahun memang terhitung sangat sempit. Sebagai bandingan, Finlandia mempersiapkan diri selama enam tahun jelang penampilannya sebagai tamu kehormatan.

Yang dilakukan mula-mula oleh panitia adalah dengan menerjemahkan buku yang banyak beredar di masyarakat. Program yang disubsidi oleh pemerintah ini, tentu pada pelaksanaannya ada proses kurasi untuk menyaring buku apa saja yang layak diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

Kriteria pemilihan buku dan karya untuk Frankfurt Book Fair 2015 antara lain; karya tersebut merupakan karya asli, artinya bukan terjemahan ataupun saduran. Lalu harus ditulis oleh Warga Negara Indonesia, memiliki standar kualitas tinggi, tidak mengandung sentimen anti SARA, dan karya tersebut tidak dalam status persengketaan hak cipta dan hak penerbitan.

Untuk karya fiksi, ada beberapa syarat khusus yang harus dipenuhi, di antaranya; ditulis dalam bahasa Indonesia, pernah terbit di media massa cetak, dan karya yang menarik perhatian internasional.

Sementara untuk karya nonfiksi, karya yang diajukan dapat berupa buku umum, buku anak, dan komik.  Syarat yang harus dipenuhinya adalah; harus memiliki ISBN, buku yang bersangkutan harus merupakan karya intelektual berupa informasi, hasil renungan, atau pemikiran, baik yang bersifat ke-Indonesia-an maupun yang bersifat universal. Selain itu, karya yang bersangkutan harus mengangkat aspek-aspek kekayaan Indonesia di bidang alam/lanskap, arsitektur, kesenian, kuliner, tekstil, dan lain-lain.

Beberapa buku, yang rata-rata bersamaan dengan program penerjemahan yang disubsidi oleh pemerintah, berhasil mencuri perhatian para penerbit asing, terutama Jerman. Tak kurang dari 18 buku sastra yang terjual hak ciptanya ke bahasa asing. 16 di antaranya diterjemahkan ke bahasa Jerman, dan 3 di antaranya ke lebih dari satu bahasa.

Buku-buku sastra yang diterjemahkan ke lebih dari satu bahasa asing, dan hak ciptanya terjual yaitu; “Amba” karya Laksmi Pamuntjak ke dalam bahasa Belanda dan Jerman. “Lelaki Harimau” karangan Eka Kurniawan diterjemahkan ke bahasa Jerman dan Italia, dan “Pulang” karya Leila S. Chudori ke dalam bahasa Jerman, Belanda, dan Italia.

Sementara karya lain yang semuanya hanya diterjemahkan ke satu bahasa asing, yaitu; “Cantik itu Luka” (Eka Kurniawan), “Dan Perang pun Usai” (Ismail Marahimin), “Don Quixote” (Goenawan Mohamad), “Gadis Kretek” (Ratih Kumala), “Jangan Tulis Kami Teroris” (Linda Christanty), “Jazz, Parfum, dan Insiden” (Seno Gumira Ajidarma), “Lumbung Perjumpaan” (Agus R. Sardjono), “Nikah Ilalang” (Dorothea Rosa Herliany), “Pasung Jiwa” (Okky Madasari), “Tarian Bumi” (Oka Rusmini), “Telegram” (Putu Wijaya), “Tuan Tanah Kawin Muda; Hubungan Seni Rupa LEKRA, 1950-1965” (LEKRA), “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai” (Goenawan Mohamad), “Ziarah” (Iwan Simatupang), dan “Sang Pemimpi” (Andrea Hirata).

Frankfurt Book Fair, sekali lagi, adalah pameran buku dan bukan festival penulis. Jadi konsepnya adalah penulis yang mengikuti karya, dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu, jika pada pelaksaaannya ada penulis yang karyanya ikut dipamerkan namun berhalangan hadir, hal tersebut tidak menyebabkan karyanya batal ditampilkan.

Dan tidak seperti pameran buku di Indonesia yang pada umumnya cenderung konsumtif, artinya hanya ajang niaga para penjual buku, di Frankfurt Book Fair kegiatan transaksinya lebih variatif. Antar penerbit beda negara bisa saling beli hak cipta, hak terbit, dan sebagainya. Bahkan pada dua hari pertama perhelatan tersebut, yang hadir khusus para penerbit saja. Barulah pada hari ketiga, para pengunjung umum bisa masuk ke ajang pameran.   

Komite Nasional telah mengumumkan nama-nama penulis dan narasumber yang akan tampil di Frankfurt. Para penulis dan narasumber itu dibagi ke dalam beberapa kategori, yaitu; Buku Sastra & Fiksi, Komik, Buku Anak, Buku Nonfiksi, Digital, Juru Masak & tokoh Kuliner, Aktivis Literasi, serta Narasumber Seminar.

Sekadar menyebut beberapa contoh, berikut daftar nama pengarang, komikus, pegiat literasi, tokoh kuliner, dan narasumber yang hendak berangkat ke Frankfurt tersebut; Ahmad Fuadi, Avianti Armand, Ayu Utami, Budi Darma, Dewi Lestari, Ika Natassa, Intan Paramaditha, Laksmi Pamuntjak, Iksana Banu, Nirwan Dewanto, Beng Rahadian, Is Yuniarto, Muhammad Misrad, Tita Larasati, Benny Rachmadi, Arleen Amidjaja, Renny Yaniar, Agustinus Wibowo, Yoris Sebastian, Noor Huda Ismail, Taufik Assegaf, Bara Pattiradjawane, Budi Lee, Ragil Imam Wibowo, Bondan winarno, William Wongso, Anton Solihin, Muhidin M. Dahlan, Frans Magnis Suseno, Haidar Bagir, Endo Suanda dan lain-lain.

Ketika nama-nama tersebut diumumkan--terutama di kalangan sastrawan, banyak terjadi perdebatan tentang siapa yang lebih layak daripada siapa. Beberapa orang sastrawan melancarkan serangan dengan isu bahwa yang berangkat ke Frankfurt tersebut dipilih atas dasar pertemanan dan bukan karena karyanya bagus. Hal ini tentu dibantah oleh Komite Nasional yang berperan selaku panitia.

Selain itu, perdebatan pun terjadi ketika ada beberapa pihak yang menaruh kecurigaan kepada Komite Nasional, khususnya Komite Buku dan Penerjemahan, terkait buku-buku yang hak ciptanya terjual. Mereka menganggap bahwa Komite Buku dan Penerjemahan telah sengaja memilih buku-buku tertentu untuk dilirik penerbit asing. Dan hal ini pun lagi-lagi dibantah oleh panitia.

Husnie Syawie, selaku Ketua Komite Buku dan Penerjemahan--seperti yang ia jelaskan kepada tim “Pulau Imaji” (akun official Indonesia terkait Frankfurt Book Fair 2015), menjelaskan, “Saya tegaskan, kami selaku Komite Buku dan Penerjemahan tidak mengarahkan buku tertentu kepada para penerbit luar. Proses komunikasi antar penerbit sampai selesainya urusan copyright berjalan sewajarnya,” ujar Husni.

Komite penerjemahan, kata Husni, hanya membantu memfasilitasi program penerjemahannya. Syaratnya, karya tersebut sudah dibeli copyright-nya oleh penerbit luar negeri. Pembelian copyright-nya bisa langsung kepada pengarang dan penerbit Indonesia yang memegang right, atau melalui literary agent.

Karena selama ini karya para pengarang Indonesia kurang begitu terkenal di luar negeri, dan sementara kesempatan untuk menjadi tamu kehormatan telah digenggam, maka untuk membantu memperkenalkan Indonesia di publik dunia, maka pada tanggal 28-30 Agustus 2015, Indonesia tampil sebagai official theme country di acara Museumsuferfest.

Museumsuferfest adalah gelaran seni dan budaya terbesar di Eropa, yang diselenggarakan di tepi sungai Main, Frankfurt. Tahun ini, Indonesia—karena posisinya sebagai official theme country, disediakan secara khusus untuk menggunakan panggung utama yang luasnya mencapai 800 meter dan paling banyak dikunjungi khalayak.

Beberapa penampil yang hadir di sana di antaranya; Dwiki Darmawan, Dira Sugandhi, Mian Tiara, Djaduk ferianto dan Kua Etnika, Hanuraga, Bonita & The Hus Band, JFlow, DJ Cream, Temu Gandrung, Barong Osing, dan lain-lain. Penampilan mereka berhasil menyedot penonton dan dengan sendirinya membantu memperkenalkan Indonesia yang akan menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015.

Selain mengikuti Museumsuferfest, Indonesia juga mengikuti beberapa pameran buku yang lain sebagai pemanasan sebelum Oktober. Pada tanggal 12-15 Maret 2015, Indonesia mengikuti pameran buku kedua terbesar di Jerman, yaitu Leipzig Book Fair. Lalu berpartisipasi juga di Bologna Children Book Fair pada tanggal 30 Maret-2 April 2015. Dan yang terakhir ikut hadir di London Book Fair yang diselenggarakan pada tanggal 14-16 April 2015.   

Ketika Frankfurt Book Fair 2015 berakhir di tanggal 18, sepuluh hari setelahnya, Indonesia akan memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada teks terakhir sumpah bertitimangsa 1928 itu, dengan jelas terpancar semangat : “Kami Putra dan Putri Indonesia / Menjungjung Bahasa Persatuan / Bahasa Indonesia.”

Bahasa Indonesia, dalam riwayat panjang perjalanannya, selain menjadi bahasa persatuan, juga terus berkembang dan digunakan, serta dimaknai lebih luas. Hari-hari ini, di Frankfurt, bahasa Indonesia dengan beberapa terjemahannya, tampil di hadapan publik dunia. Ia tak semata sebagai teks penyampai kisah, namun sebagai satu bahasa yang merekatkan dan mempersatukan seluruh tumpah darah Indonesia. [ ] 

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai