12 February 2016

Kedai Preanger; Menggabungkan Kuliner dan Literasi


Bandung sejak dulu terkenal dengan beragam kuliner. Dari peuyeum sampai borondong, yang bahkan kedua makanan itu diabadikan dalam bait-bait lagu. Hari ini Bandung pun menjadi salah satu kota tujuan wisata kuliner di Nusantara. Restoran, kafe, dan warung makanan tumbuh subur di kota ini, terutama di ruas-ruas jalan utama. Setiap akhir pekan, para wisatawan domestik kerap memenuhi tempat-tempat ini. Ada yang ingin mencicipi lezatnya makanan, namun tak sedikit pula yang hendak nongkrong dan menikmati suasananya.

Kuliner di titik ini bukan hanya sekadar pemenuhun kebutuhan dasar, namun perlahan telah beranjak menjadi gaya hidup. Konsep berjualan makanan dan minuman kemudian berkembang. Para pemilik usaha ini tak lagi hanya menjajakan barang dagangannya, namun dikemas sedemikian rupa agar pengunjung merasa nyaman. Selain itu, para pemilik usaha pun terkadang mengedepankan idealismenya untuk, misalnya—merepresentasikan minat personal, komunitas, dan lain-lain.

Jika dilihat dari kacamata ekonomi dan budaya kota, perkembangan bisnis ini tentu mempunyai kontribusi tersediri untuk mempertegas identitas kota yang hendak dicitrakan. Kota Bandung dalam hal ini beruntung, sebab laju perkembangan bisnis kuliner dibarengi dengan kerja dan konsep kreatif para pelakunya. Usaha mikro, kecil, dan menengah ini mencuatkan satu kesadaran, bahwa kota tak melulu dibangun oleh firma-firma raksasa, namun juga oleh segenap lini modal usaha yang hidup dan bertahan di tengah medan laga ekonomi kreatif.

Salah satu pemain di bisnis ini, tepatnya yang beroperasi di kawasan Bandung selatan adalah Kedai Preanger. Bertempat di Jl. Solontongan No. 20 D, Buah Batu, kedai yang fokus utamanya menjual sajian kopi dan teh, sampai saat ini setidaknya telah menjalankan usaha selama satu tahun. Saat ditemui di kedai tersebut, Ridwan Hutagalung—salah seorang pemilik, penggagas, dan pengelola kedai ini menjelaskan seputar tempat usahanya.   

“Sudah satu tahun ini Kedai Preanger berdiri di sebuah  ruko sewaan di Jl. Solontongan No. 20-D, Buahbatu, Bandung. Ternyata tidak mudah membuka usaha yang awalnya ingin secara khusus menyediakan berbagai jenis kopi dan teh dari penjuru wilayah Indonesia. Untuk mendapatkan beragam kopi teh ini sudah merupakan kesulitan sendiri,“ ungkapnya.

Namun demikian lanjut Ridwan, meskipun berjalan merayap dengan lambat, dengan berbagai macam perubahan menu dan pergantian pegawai, mereka tetap mensyukuri masa hidup yang sudah berjalan satu tahun ini. Durasi waktu yang tidak singkat, mengingat banyak kedai, kafe, resto, atau apapun usaha yang sejenis ini ternyata hanya mampu bertahan 1-2 bulan saja, lalu bubar.

Ide yang kemudian dieksekusi dalam bentuk usaha ini, bagi Ridwan dan kawan-kawan (modal patungan) memang disertai dengan idealisme tersendiri. Mereka melihat hal lain dari kondisi kontemporer penjualan beberapa komunitas barang, khususnya teh dan kopi, serta kecintaan mereka kepada tanah Priangan.

“Kedai Preanger kami dirikan sebagai wadah usaha yang mungkin tidak melulu didorong oleh kebutuhan berdagang, ada hal-hal yang lebih jauh dari itu. Belakangan ini penjualan teh Indonesia sering diberitakan menurun, lalu kami menemukan berita bagaimana teh putih Indonesia ternyata belum terlalu dikenal di dalam negeri, dan fakta yang paling mudah ditemui yaitu bagaimana di negeri berpredikat penghasil kopi terbaik dunia ini ternyata kafe-kafenya masih lebih banyak menyediakan kopi-kopi impor. Satu alasan lain yang tak kalah penting adalah kecintaan kami pada wilayah Priangan yang permai ini,” tutur Ridwan.

Bagi Ridwan Hutagalung dan kawan-kawan, Priangan tercantik yang ada dalam benak mereka adalah Priangan dengan hamparan perkebunan teh yang luas, dengan danau dan kampung yang dikelilingi oleh pergunungan dan hutan lebat. Berjejak dari gambaran tentang Priangan itulah kemudian mereka mengutamakan kopi dan teh.

Pada perjalanannya, karena ditopang oleh jaringan pergaulan yang cukup luas, Kedai Preanger salah satu kerap dikunjungi oleh konsumen yang berlatar hubungan perkawanan yang datang dari banyak tempat, dan hendak mencoba ragam kopi atau teh yang mereka sediakan. Para pengunjung menikmati suasana, bercengkrama sambil berbagi cerita. Terkait hal ini Ridwan menjelaskan, “Mungkin bukan racikan kopi dan teh yang luar biasa—kami pun tak pernah membuat klaim semacam itu, apalagi dengan peralatan yang sangat seadanya saja, namun ada hal lain yang dapat ditemukan di kedai kami ini,” tuturnya.    

Karena Ridwan Hutagalung dan beberapa koleganya adalah pendiri dan pegiat Komunitas Aleut, maka kedai ini pun mengisi hari-harinya dengan basis komunitas. Kecintaan pada Tanah Priangan dan visi Komunitas Aleut yang sejalan menjadi modal tersendiri bagi pengembangan Kedai Preanger.

Seperti yang telah dijelaskan di mula catatan ini, para pelaku yang menjalankan roda bisnis ekonomi kreatif di bidang kuliner mempunyai konsep masing-masing yang unik. Dari sudut pandang ini, Kedai Preanger mempunyai konsep dengan pendekatan komunitas, yang seiring waktu komunitas itu mempunyai minat pada bidang sejarah, sastra, budaya, dan banyak hal.

Salah satu kegiatan yang dilakukan Komunitas Aleut di Kedai Preanger adalah acara Riungan Buku. Di sini setiap pegiat Komunitas Aleut yang hadir meresensi buku secara lisan. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Sabtu. Mereka berdiskusi, bersilang pendapat, kadang berdebat, dan belajar berdialektika. Inilah ikhtiar Kedai Preanger sebagai sebuah usaha ekonomi mikro yang bergerak di bidang kuliner, namun tak abai pada perkembangan dunia literasi.

Meskipun disesaki oleh lembaga pendidikan yang tentu erat kaitannya dengan buku dan membaca, namun bagi dunia literasi Bandung, tak mudah bertarung dengan arus deras konsumerisme. Bandung hari ini, lebih terproyeksikan sebagai kota wisata kuliner dan fashion. Dua hal tadi lebih riuh jika dibandingkan dengan tradisi membaca. Buku tak benar-benar lekat dengan citra yang hendak dibangun dalam keseharian warganya. Namun hal ini tak menjadikan para pegiat literasinya gentar, setidaknya bagi yang masih bertahan, citra dan kondisi Bandung ini merupakan medan “jihad” yang sempurna.

Maka kiranya apa yang ditempuh oleh Ridwan Hutagalung dan kawan-kawan melalui Kedai Preanger yang telah berjalan selama satu tahun ini, adalah sebuah usaha menggabungkan dua hal yang kerap diidentikan tak saling berhubungan, yaitu kuliner dan literasi.

Sebagai warga kota, apa yang dikerjakan oleh para pemilik dan pengelola Kedai Preanger mungkin belum terlalu banyak memberikan kontribusi banyak bagi Kota Bandung, namun setidaknya satu semangat telah digulirkan. [irf]  

PS : Tulisan ini pernah tayang di Majalah Karsa volume 4

03 February 2016

Anggur sebagai Pondasi Hidup Para Pengangguran

Di Dataran Tortilla, di kampung yang kata Steinbeck diisi rumah-rumah kayu dengan halaman tak terurus dan penuh semak, yang terlepas dari nafsu perdagangan serta bebas dari keruwetan tata cara niaga Amerika, tersebutlah beberapa orang pengangguran yang amat mengkhidmati kalimat “carpe diem, quam minimum credula postero” (petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok).

Mula-mula adalah Danny, seorang yang paling kuat minum anggur di kolong langit. Ia bersama kawannya—Pilon, baru selesai menjalankan tugas militer dari negara. Keduanya tak punya uang, tak punya rumah, tak punya istri, menganggur, pendeknya hidup mereka menyedihkan. Pada kawannya Danny berkata, “Di sinilah kita berdua, tak mempunyai rumah. Kita telah menyumbangkan hidup kita pada negara, dan kini tak ada langit-langit untuk berteduh.” Kemudian mereka bergantian minum anggur.

Namun kemudian Danny menerima warisan dua buah rumah peninggalan kakeknya--yang satu ia tempati sendiri, yang satunya lagi ia sewakan kepada Pilon. Karena tak punya uang dan akhirnya bingung untuk membayar uang sewa, Pilon mengajak Pablo untuk menempati rumah tersebut. Hak sewa rumah kemudian berpindah ke Pablo, dan ia juga tak punya uang. Maka terbentuklah sebuah rantai setan yang tak putus.

Meski ketiganya pengangguran, namun bagi mereka anggur adalah kewajiban harian, setiap hari tak boleh dilewatkan. Kerongkongan mereka akan cepat kering tanpa meneguk anggur dari Torelli—penjual anggur di Dataran Tortilla yang sering mereka tipu. Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk anggur yang mereka gilai? Semuanya dikerjakan hanya untuk memenuhi kebutuhan satu hari saja, tak lebih. Ya, mereka benar-benar mengoptimal waktu yang tengah mereka injak, memetik hari dengan kerja-kerja absurd sambil menikmati anggur.

Ketika lapar, mereka mengincar ayam milik tetangganya. Tak punya anggur, mereka bermuslihat dengan menggoda istri orang demi segalon anggur. Jika suami si istri itu marah, mereka bersembunyi di tebing-tebing. Butuh uang cash, mereka bekerja memotong cumi-cumi di perusahaan milik seorang Tionghoa. Sebelum menempati rumah, kalau marah mereka tak segan melempari jendela rumah orang.

Kemudian Jesus Maria Corcoran ikut bergabung. Persekutuan pengangguran itu bertambah anggota. Meski Jesus Maria wataknya baik, namun ia juga tak jauh beda dengan kawan-kawannya. Pada satu waktu, rumah yang disewa dari Danny hangus terbakar, mereka lalu bergabung di rumah Danny yang satu lagi. Sejenak hadir penyesalan, Danny pun marah, namun kemudian mereka insyaf bahwa beban sewa rumah itu hanya merusak kebahagiaan yang timbul dari persahabatan yang murni. Dan petualangan persahabatan itu terus berlanjut dengan anggur sebagai pondasi harian yang tak pernah terlewatkan.   

Meski mereka hidup ugal-ugalan, liar, dan kadang berkelahi antar sesama kawan, namun mereka tetap menyisakan kebersahajaan sosial. Bajak Laut, seorang pencari kayu bakar yang hidup di kandang ayam, mereka ajak untuk tinggal di rumah Danny bersama anjing-anjingnya. Ketika ada satu nyonya muda beranak delapan dan tak punya suami, serta seorang nenek di dalamnya terancam kepalaran, mereka bantu dengan menyediakan berbagai jenis pangan hasil curian, meskipun tetap satu di antara mereka “mencicipi” si nyonya itu sampai mengandung lagi anak yang ke sembilan.

Anggur, makanan, dan cinta, meraka sesap di keseharian dengan riang dan tanpa beban. Setalah mereka menolong nyonya beranak delapan dan tanpa suami itu, mereka tidur nyenyak, sebab seperti kata penulisnya, “bantal terbaik adalah hati nurani yang tentram damai.” Bahkan ketika ada seorang kopral muda yang sakit hati karena istrinya direbut atasannya, mereka membela di kopral itu dan mendengarkan curahan hatinya. Bayi si kopral yang sakit mereka khawatirkan dan ditolong sebisa-bisa, meskipun bayi itu pada akhirnya tetap meninggal.

Ketika Danny, magnet utama di cerita ini meninggal dunia, mereka akhirnya pecah kongsi. Sebelum pergi, mereka membakar rumah Danny yang tinggal satu lagi. Ya, mereka bersiap untuk hidup dan bertualang lagi di bawah kolong langit yang itu-itu juga, sebab dengan atau tanpa rumah, sejatinya tak berbeda, hidup tetap akan berjalan dari satu hari ke hari yang lain, yang mungkin akan tetap mereka petik dengan jiwa bebas dan tanpa beban.     


Kiranya segalon anggur terbaik dari Dataran Tortilla layak diberikan kepada Djokolelono sebagai penerjemah buku ini. Ia begitu aduhai dalam memilih kata-kata padanan. Humor-homor segar dan tak terduga bertebaran di sepanjang cerita. Dari kadar kekocakan, buku ini hampir sama dengan kisah “Prajurit Schweik” karya Jaroslav Hasek yang juga diterjemahkan oleh Djokolelono. Dan Pustaka Jaya sebagai penerbit, juga boleh diguyur anggur terbaik, sebab berhasil memilih naskah-naskah sastra dunia terbaik dan menghadirkannya ke haribaan khalayak pembaca di sini. Pada akhirnya mari kita bersulang! [ ]

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai