24 November 2016

Rajapati di Pananjung: Kasih Tak Sampai, Kegembiraan, dan Kematian

Penulis : Ahmad Bakri
Penerbit : Kiblat Buku Utama
Halaman : 89
Tahun Terbit : April 2010 (Cetakan ke-2)

“Basisir simpé, laut éndah, bulan ngebrak, mamanahan mudal ku deudeuh jeung asih, ninggang di anu bolostrong. Puguh-puguh pangajak sétan, pajarkeun téh cenah haréwos asmara… Mangga manah…”

Rajapati di Pananjung adalah sebuah cerita berbahasa Sunda yang dibuka oleh rencana sekelompok anak muda yang hendak bervakansi ke Pangandaran. Di perjalanan dalam kereta api, anak-anak muda ini bertemu dengan seorang lelaki setengah baya yang menceritakan kehidupannya yang getir. Pertemuan itu terjadi selintas lalu, namun tersusun dalam satu bingkai cerita yang utuh.

Adalah Yoyo, salah seorang dari sekelompok anak muda itu yang pada mulanya enggan turut dalam perjalanan. Ia mempunyai kenangan pahit yang kerap merawankan hatinya. Pantai dan debur ombak selalu membawanya kembali ke masa lampau di mana cintanya bersemi, tumbuh subur, sebelum akhirnya direnggut sang takdir.

Dulu, di bibir pantai itu, di tengah semilir angin dan air yang berebut mencium pasir, Yoyo berbisik kepada kekasihnya, “Lamun engkang bisa hiber, eulis rék dibawa ngapung, diteundeun di méga malang. Mana teuing tibrana haté, taya karisi karingrang eulis nu engkang sorangan, moal rempan jungjunan diiwat batur.” Setelah itu, ia memasukkan sebuah cincin ke jari kekasihnya. Sebuah cincin pusaka, peninggalan ibunya. Ya, tapi itu dulu. Kenangan yang tak hendak ia ungkit kembali.

Sehari setelah ia dan kawan-kawannya tiba di Pangandaran, mereka kemudian pergi ke cagar alam Pananjung, lalu menuju bibir pantai. Ketika kawan-kawannya berlarian, berlomba menikmati panorama dan suasana pesisir yang indah, Yoyo malah ragu-ragu dan tertegun. Bayangan masa lalunya kembali berkelebat, membuka luka lama yang belum lama kering.

Ketika tengah melamun, tiba-tiba dari belakang ada yang memanggilnya. Yoyo terhenyak, ternyata yang memanggilnya itu adalah mantan kekasihnya yang kini telah menjadi istri orang dan tengah mengandung. Dalam rikuh dan perasaan sedih yang mengepung, kekasihnya yang tengah mengandung itu meminta maaf sambil mengembalikan cincin:

“Kang Yoyo, ieu nyanggakeun kagungan téa. Hapunten, teu énggal-énggal diwangsulkeun. Tadina mah badé dianggo jimat, étang-étang wakil, nanging diémut-émut nambihan waé panyakit, unggal karérét unggal kasuat. Mangga ieu nyanggakeun…”

Malamnya harinya, suasana memanas. Suami mantan kekasihnya mendatangi penginapan Yoyo dan kawan-kawan untuk menanyakan cincin. Dari sana kemudian masa lalu yang selama ini ditutup rapat olehnya terbongkar semua. Pertengkaran terjadi. Yoyo dituduh masih menyimpan perasaan, dan hendak merusak rumah tangga orang. Yoyo naik pitam, ia menggebrak meja, lalu berucap: 

“Keur naon dipake nyeri, alam dunya lega, hayam jago megar dibarengan ku bikangna, jelema hirup dituturkeun ku jodona. Lalakon jeung Nining itung-itung impian riwan, méméh srangéngé meleték gé geus poho deui!”     

Setelah suami mantan kekasihnya pergi, Yoyo kemudian pergi ke sebuah pojok halaman penginapan, tak jauh dari bibir pantai. Ia merenung, mencoba melepaskan semua gundah. Ketika malam hampir larut, ia melihat sesosok bayangan berkelebat mendekatinya. Yoyo terkesiap, sementara malam kian gelap, dan debur ombak makin bergemuruh.

Esoknya, terdengar ada yang meminta tolong dari kejauhan. Seorang nelayan menemukan sesosok mayat tergeletak kaku di sebuah perahu dengan bilur biru dan bengkak di bagian leher. Mayat itu adalah suami mantan kekasihnya!

Siapa pelaku pembunuhan tersebut? Bagaimana kelanjutan kisah Yoyo dan kawan-kawannya? Ahmad Bakri dengan gaya berbahasa yang kocak dan trengginas dalam bertutur, membuat cerita ini mengundang penasaran, dan pembaca digiringnya untuk terus melahap sampai ke penghujung. Aroma kasih tak sampai, kegembiraan, dan kematian: menguar dari kisah Rajapati di Pananjung. [irf] 

11 November 2016

Mengenal Blok Tempe Bersama Komunitas Aleut

Minggu (6/11/2016), saya bersama Komunitas Aleut berkesempatan untuk mengunjungi Blok Tempe. Komunitas Aleut adalah sekelompok anak muda yang punya minat terhadap sejarah dan pariwisata, khususnya di Kota Bandung. Komunitas ini berdiri tahun 2006, dan sampai sekarang masih konsisten berkegiatan. Tiap pekannya, minimal mereka punya empat kegitaan rutin, yaitu: nonton film bareng (Selasa), Kamisan yang isinya konsolidasi internal (Kamis), Kelas Literasi (Sabtu), dan Ngaleut (Minggu).

Ngaleut diambil dari kata “aleut”, yaitu sebuah kata dalam bahasa Sunda yang artinya berjalan beriringan, persis seperti kalau kita berjalan di pematang sawah. Mengapa dinamakan demikian? Hal ini karena kegiatannya adalah mengunjungi setiap pojok Kota Bandung dengan cara berjalan kaki. “Karena dengan berjalan kaki, kita bisa melihat lebih banyak tempat yang sering terlewatkan kalau kita memakai kendaraan,” terang Arya Vidya Utama, salah seorang koordinator komunitas tersebut. Maka dengan berjalan kaki pulalah, Minggu itu, kami berkunjung ke Blok Tempe.  

Blok Tempe adalah sebuah kampung kota yang sudah cukup lama menjadi populer setelah Ridwan Kamil (Walikota Bandung sekarang), bersama pemuda setempat melakukan banyak kegiatan posistif yang bersifat sosial. Secara administratif, Blok Tempe berada di Kelurahan Babakan Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler. Kampung kota ini mulanya dikenal sebagai daerah tempat tinggal para mantan narapidana yang dipandang sinis oleh warga sekitar. Sampai sekarang, banyak pemudanya yang bertato: sebuah simbol yang kerap diidentikkan dengan premanisme.

Setelah menyusuri banyak sekali gang, akhirnya kami (saya dan Komunitas Aleut) tiba di sebuah bale di Blok Tempe. Kami diterima oleh kang Miki (ketua pemuda), dan rekan-rekannya. Sambutan mereka begitu ramah dan penuh canda. Kami lalu berkumpul, duduk melingkar di bale tersebut. setelah saling berkenalan, obrolan pun mengalir dengan santai. “Kami mah dulu memang dipandang sebelah mata oleh warga.  Karena terus terang saja, dulu kami ini sekumpulan tukang mabuk, dan kerap tawuran dengan kampung sebelah,” ujar Kang Iwan, salah seorang pemuda setempat.

Ia kemudian melanjutkan, “Masih ingat kasus pembunuhan sopir angkot? Itu pelakunya ya anak sini, sampai sekarang dia masih di LP (Lembaga Pemasyarakatan) Bojongwaru.”

Blok Tempe berangsur menjadi kampung yang “normal” setelah salah satu tokoh pemuda setempat, Regi Munggaran, melakukan pendekatan kepada para pemuda tersebut. “Kang Regi itu, dulu, kalau ngobrol sama kita, ya ikut lebur, ikut minum juga,” kata Kang Miki menjelaskan. Proses pendekatan tersebut pelan-pelan membuat para pemuda yang rata-rata mantan narapidana, mulai mengubah sikapnya ke arah yang lebih baik.

Seperti juga yang dituturkan oleh pemuda yang lainnya, Ketua RT pun kemudian melakukan pendekatan dengan cara yang kesannya tidak menggurui dan menasihati. “Pak RT juga dulu mah malah suka sengaja beli minuman kalau mau ngobrol sama kita,” ujar Kang Iwan. Hal ini dilakukan karena para pemuda tidak suka dengan obrolan-obrolan yang bersifat ceramah. Beberapakali ada tokoh masyarakat yang malah diusir karena cenderung menggurui. Hal inilah yang kemudian menjadi inspirasi Ridwan Kamil untuk ikut terlibat dalam pembenahan Blok Tempe, baik secara mental maupun fisik.     

Hari semakin siang ketika kami akhirnya harus berpamitan. “Jangan kapok ya, lain waktu main-main lagi ke sini,” ujar Kang Miki. Kami pun lalu menuju ke rumah salah seorang penggiat Komunitas Aleut yang berada di daerah Pagarsih. Setiap selesai ngaleut, rekan-rekan Komunitas Aleut mengadakan sharing, yang isinya berbagi pengalaman sepanjang mekalukan kegiatan ngaleut.

“Kita sering mendengar idiom ‘mental tempe’ yang artinya lembek. Tapi justru di Blok Tempe, saya menemui hal sebaliknya,” ujar Alex, salah seorang penggiat Komunitas Aleut. [irf]

03 October 2016

Ngaleut Kampung Dobi

Pertengahan 2015, bertepatan dengan peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-60, di Babakan Siliwangi-Bandung (tak jauh dari sebuah mata air) diadakan acara mimbar terbuka yang tema utamanya adalah menolak segala bentuk privatisasi air. Hadir dalam acara itu, salah satunya adalah perwakilan dari masyarakat Padarincang-Banten yang daerahnya terancam oleh invasi kapital yang akan memprivatisasi sumber air yang selama ini digunakan oleh warga.
Kota Bandung yang hari ini telah berkembang sedemikian rupa hanya menyisakan sedikit sekali mata air yang benar-benar terjaga. Ci Kapundung sebagai urat nadi yang membelah kota telah renta: alirannya kotor dan susut. Meskipun beberapa titik sumber air di Kota Bandung secara resmi tidak dikuasai oleh privat, namun gerak pembangunan telah mengurangi volume dan kejernihannya. Ada beberapa kasus baru di perkampungan kota yang berkisah tentang konflik air antara pemodal yang membangun hotel, apartemen, dll dengan warga yang sekitar yang tiba-tiba sumber airnya berkurang.
Jauh sebelum itu, ada juga beberapa pembangunan yang perlahan membuat sumber air kota menjadi memprihatinkan, kampung Cikendi di Hegarmanah dan Ciguriang di Kebon Kawung sebagai contohnya. Dulu di Cikendi terdapat “pancuran tujuh”, yaitu mata air yang ditampung ke dalam sebuah kolam dengan tujuh pancuran bambu di tepinya. Kini mata air tersebut susut dan pancurannya tidak deras lagi setelah lahan hijau di daerah Ciumbuleuit digusur dijadikan perumahan. Sedangkan Ciguriang mulai kekurangan air sejak bekas pekuburan Belanda di Kebon Jahe dijadikan gelanggang olahraga Pajajaran.
Ketika sumber-sumber air ini masih terjaga, ada kisah-kisah dari masa lalu yang menarik untuk disimak lagi. Menurut catatan Haryoto Kunto (alm), di awal abad XX ketika air Ci Kapundung masih deras dan bersih, mata air Ciguriang di Kebon Kawung menjadi salah satu tempat mencuci pakaian yang banyak dikunjungi warga dari hampir setiap penjuru Kota Bandung. Mereka yang datang umumnya para binatu yang hendak mencuci baju di Ciguriang dari malam hari sampai pagi. Dengan hanya membayar satu sen, para binatu tersebut bisa menggunakan air sepuasnya.
Malam merayap di Kebon Kawung tempo dulu yang masih sunyi, ditingkahi bunyi bertalu-talu dari bantingan cucian para binatu di atas batu, juga nyanyian berbahasa Sunda yang lamat-lamat. Di bawah nyala obor, mereka bekerja sambil bersenandung sampai tiba waktu subuh. Romantik memang, namun setidaknya kisah ini mengabarkan satu hal bahwa sumber air bersih yang dulu setia memenuhi kebutuhan warga kota, perlahan hilang seiiring kisah-kisah masa lalu yang juga ikut terkubur dari ingatan.
Maka Ngaleut Kampung Dobi selain hendak menelusuri kembali jejak mata air dan aliran Ciguriang serta menggali serpihan kisah yang mungkin masih tersisa, sejatinya adalah mencoba menyuburkan kembali kesadaran tentang air—terutama di kota besar seperti Bandung, yang kondisi dan ketersediaannya semakin memprihatinkan. Dan kami percaya, dalam konteks sosial, kesadaran tentu tidak datang begitu saja dari langit, tapi melalui proses pembacaan literatur dan pengalaman langsung datang ke lapangan: berinteraksi dengan warga, merasakan bau menyengat sungai, menyusuri aliran air, mendokumentasikan sumber air yang compang-camping, dll.
Pembangunan kota dan sumber air terus-menerus “konflik”. Masa lalu terus meyakinkan kondisi ideal, masa kini terus menghamparkan kondisi sebaliknya. Dan di antara keduanya kami mencoba hadir. Romantisme masa lalu kami hayati untuk menggali informasi dan menghangatkan jiwa, sedangkan kondisi hari ini kami akrabi untuk menjaga terus api kesadaran. [irf]

Semangat Pramoedya dan Gerakan Literasi

Almanak mewartakan bahwa pekan pertama Oktober ditandai oleh dua tanggal peringatan yang keduanya sedikit banyak beririsan dengan buku, atau lebih khusus lagi dengan seseorang yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya dengan dunia literasi. Penghujung September adalah gempa politik paling hebat pasca revolusi kemerdekaan. Dan lima hari setelahnya, militer sebagai pemenang dari pertikaian tersebut berulangtahun. Kita tahu bahwa hari-hari setelah kejadian itu adalah parade panjang tentang tumpas-kelor, pembersihan, dan pembangunan ketakutan yang berlapis-lapis. Mereka yang kalah, di lapangan kehidupan apapun, terpuruk sampai titik nadir. Dan di ranah literasi kita mengenal nama Pramoedya Ananta Toer.
Karya-karya Pram dibakar dan dilarang oleh militer dan pemerintah. Satu wajah purba tentang bibliosida. Fernando Baez dalam “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” mengoreksi pendapat sebagian kalangan yang menyangka bahwa penghancuran buku terjadi hanya karena ketidaktahuan awam dan kurangnya pendidikan, menurutnya yang terjadi justru sebagian besar dilakukan oleh kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing. Apa yang menimpa Pram adalah bukti sahih pendapat Fernando Baez ini. Militer (revolusi dan pasca kemerdekaan) dan Jaksa Agung membakar dan melarang beberapa naskah dan bukunya. Belum lagi beberapa naskah yang tak jelas nasibnya di tangan para penerbit.
“Di Tepi Kali Bekasi” yang pertama kali terbit tahun 1951 adalah sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada Agresi Militer Belanda I. “Perburuan” yang memenangkan sayembara Balai Pustaka dicekal oleh pemerintah karena dicurigai bermuatan komunisme. “Panggil Aku Kartini Saja” yang bisa kita baca hari ini sejatinya hanyalah bagian I dan II saja dari total naskah, sebab bagian III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965. Angkatan Darat sebagai ujung tombak pembersihan orang-orang yang dianggap komunis rupanya punya andil besar dalam menghanguskan buku-buku Pram. Selain yang telah disebutkan sebelumnya, salah satu matra di tubuh TNI ini juga membakar naskah “Kumpulan Karya Kartini”, “Wanita Sebelum Kartini”, “Sejarah Bahasa Indonesia: Satu Percobaan” dan jilid 2 dan 3 dari cerita bersambung “Gadis Pantai” yang hari ini hanya tersisa jilid satunya saja. “Sepoeloeh Kepala Nica”, “Mari Mengarang”, dan “Lentera” tak jelas rimbanya di tangan berbagai penerbit. Dan yang paling terkenal, Tetralogi Buru, tak bosan dilarang oleh Jaksa Agung.
Tanpa melupakan satu episode ketika Pram—di tengah situasi politik yang condong ke kiri, pernah begitu trengginas menyerang dan menghajar lawan-lawan ideologisnya, namun kiranya dia juga adalah salah satu yang paling kenyang ditindas secara fisik dan politik, juga karya-karyanya diperlakukan sedemikian buruk. Jika kita menilik bobliografinya, akan didapati jejak kerja yang dilakukan terus menerus. Pram tahu karya-karyanya dibakar, dilarang, dan hilang berkali-kali, namun ia seolah tidak kapok untuk terus menulis dan menulis lagi.
Kepada tentara yang datang menggeledah ruang perpustakaannya ia berkata, “Kalau negara mau, ambillah. Suatu saat akan berguna untuk kepentingan bangsa. Tapi tolong jangan dibakar.” Namun aparat yang mengangkut ratusan atau bahkan ribuan naskah dan dokumennya itu malah membakarnya. Sesuatu yang membuat Pram naik pitam setiap kali mengingatnya. “Saya terbakar amarah sendirian,” ucapnya. Ya, Pram memang terkenal juga sebagai seorang dokumentator yang ulet. Dia mengkliping apa saja yang terkait dengan Indonesia. Dapur Tetralogi Buru adalah arsip dan dokumentasinya yang gigantik itu.
Hari-hari ini ketika September hampir habis dan Oktober telah menunggu di muka, kiranya pelbagai titimangsa peristiwa bersejarah mengingatkan kembali kita kepada Pram dan dunia literasinya yang rontok berkali-kali, namun tumbuh lagi dan hidup seolah tak mati-mati. Berpijak dari sini kemudian Kelas Literasi Komunitas Aleut pekan ke-62 hendak mengusung tema. Pram adalah simbol kerja keras dan keras kepala dari seorang kerani partikelir yang amat peduli dengan dokumentasi sejarah bangsanya. Ia juga adalah salah satu pengingat bahwa ancaman pelarangan buku—seperti beberapa bulan ke belakang cukup marak, akan selalu ada dan membuat kita waspada. Di atas segalanya, Pram dan literasi adalah wujud nyata dari kerja. “Semua orang yang bekerja itu adalah mulia, yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan,” begitu kata Ibunda Pram sekali waktu. [irf]

05 September 2016

Mengingat Mimpi, Membangun (lagi) Imajinasi

Masa kecil begitu jauh sekaligus dekat. Jauh dicekik saat yang terus bergerak. Dekat karena jejaknya berarak di lereng ingatan. Masa kecil juga selalu menjadi lonceng yang kerap berdentang: mengingatkan kita bahwa berkurangnya usia berparalel dengan tanggungjawab yang kian menggantang, beban hidup yang mulai terasa, dan orang-orang tercinta yang diambil waktu satu-persatu. 

Dulu, barangkali mimpi serupa kupu-kupu yang beterbangan, selaksa warna, dan mengeram di kepala. Imajinasi berpendaran, berlesatan, tentang pertempuran hebat dengan senapan pelepah pisang, terbang ke bulan dengan pesawat kertas, menjadi putri dengan Barbie di tangan, atau mengangankan seorang pangeran penguasa kastil.

Usia kanak dan  teman masa kecil di dalamnya, kata Milan Kundera, adalah cermin bagi kita, cermin yang memantulkan masa silam kita. Ia dibutuhkan untuk menjaga keutuhan masa silam, untuk memastikan bahwa diri tidak menyusut, tidak mengerut, bahwa diri tetap bertahan pada bentuknya. Mungkin Kundera tak sepenuhnya benar, karena ternyata mimpi dan imajinasi kita di masa kecil perlahan menyusut, mengerut, bahkan hilang: sebuah dunia yang semakin tak tergenggam. 

Tanggal 10-11 September 2016, Komunitas Aleut berencana mengadakan kemping ke Kapulaga-Subang. Sebuah kegiatan yang dirancang--dengan terutama untuk bersenang-senang: merayakan persahabatan, menyesap alam, kontemplasi sederhana (kalau ada), dan bisa juga untuk meretas “jalan pulang”, menengok lagi mimpi dan imajinasi yang terlanjur compang-camping. 

Kelas Literasi sebagai kegiatan rutin komunitas yang sebisa-bisa tak pernah jeda, mencoba memadu-padankan tema. Ada kumpulan naskah cerita masa kecil karya kawan-kawan yang terbuhul dalam buku “Memento”. Para penulis telah bersedia membuka kisah masa lalunya ke khalayak ramai. Tentu tujuannya bukan untuk menenggelamkan diri di masa yang telah lewat, namun belajar mengguratkan kisah dalam jejalin aksara. Selain itu, yang paling penting adalah mengapresiasi sepenggal jenak, bahwa kita hari ini sejatinya adalah sebangun rangkaian gerbong, dan masa kecil mempunyai saham di dalamnya.

Mestikah kita menutup katup jenak itu? Masa lalu-masa kini-masa depan adalah rangkaian kesejarahan yang membentuk pribadi kita. “Belajarlah dari masa lalu, cermati masa kini, dan bangunlah masa depan. Bukan sekadar dilanjutkan, melainkan membuat pilihan dan mengambil prakarsa, itulah hidup,” begitu kata Fuad Hasan. 

Maka Kelas Literasi kali ini mencoba meraba kembali hal tersebut. Atau bila dirasa terlampau normatif, kiranya mari bersenang-senang saja. Sambil bertukar senda di tengah nafas alam, mari mengingat lagi mimpi-mimpi masa kecil, siapa tahu kita masih berhasrat untuk mewujudkannya. Dan imajinasi, selamanya bagi manusia, adalah penanda bahwa kita tak sepenuhnya takluk oleh batas ruang dan waktu. “Orang-orang yang tak memiliki imajinasi adalah orang-orang palsu” demikian sabda TS. Elliot. [irf]⁠⁠⁠⁠

31 August 2016

Memopulerkan Sejarah Bersama Historia


Edisi perdana Historia terbit pada bulan April 2012. Mengusung tagline “Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia”, Historia hadir menyapa para pembaca dengan tulisan-tulisan sejarah yang “tak biasa”. Majalah tersebut menghadirkan fakta-fakta yang kerap luput dari narasi arus utama. Dalam catatan redaksi di nomor 13 tahun 2013, Historia menjelaskan hal tersebut, “Sedari mula kami memang ingin menjadikan Historia sebagai alat penyadaran, versi tandingan dalam bentuknya yang terbaik dari sejarah versi resmi.” Majalah yang dinakhodai oleh Bonnie Triyana—seorang sarjana sejarah dari Universitas Diponegoro, dalam kata-kata David T. Hill, ahli Indonesia dari Murdoch University sebagai “very nice operation.” Ya, operasi bukan publikasi.

Sejak kelahirannya empat tahun silam, Historia—meski banyak menuai pujian, namun dari segi penjualan kiranya belum memperlihatkan angka yang menggembirakan. Hal ini dilihat dari seringnya majalah tersebut memberikan diskon sebesar 50% untuk nomor-nomor lawasnya, yang artinya stok majalah tersebut begitu melimpah sebagai efek langsung dari rendahnya penjualan. Di beberapa toko buku besar pun Historia sering kali sulit dijumpai, hal ini seolah mengabarkan hal lain tentang lemahnya sistem distribusi. Meski disertai juga dengan historia.id (lini daring) sebagai bentuk memperluas jangkauan, namun Historia belum sepenuhnya dikenal oleh masyarakat.

Komunitas Aleut sebagai kelompok belajar yang salah satu minat terbesarnya yaitu sejarah, sejak awal telah membaca dan beririsan dengan Historia. Indra Pratama, salah seorang pegiat Aleut sempat menjadi kontributor majalah tersebut untuk wilayah Bandung. Selain itu, seorang pegiat lain atas pemintaan Historia pernah meliput acara Monolog Tan Malaka yang digelar di IFI Bandung. Meski pada akhirnya—dengan pertimbangan teknis, tulisan liputan tersebut tidak jadi tayang, namun setidaknya komunikasi tetap terjaga. Dan baru-baru, kegiatan #NgoJak atau Ngopi (di) Jakarta sebagai sayap Komunitas Aleut di Jakarta, diliput juga oleh Historia dan tayang di lini daring.

Beberapa hal tersebut di atas kemudian menjadi pertimbangan kami untuk mengusung Historia sebagai tema Kelas Literasi sabtu ini (3 September 2016). Beberapa majalah berbeda edisi telah dan tengah dibaca oleh para pegiat Aleut untuk diresensi dan didiskusikan pada Sabtu mendatang. Aleut yang selama ini berikhtiar mengenalkan sejarah popoler—meski secara konten berbeda, kiranya seturut dengan Historia untuk bersama-sama menghadirkan sejarah dengan wajah yang berbeda kepada masyarakat. Selain itu, mengingat kondisi Historia yang belum sepopuler majalah lain, anggap saja apa yang kami lakukan di Kelas Literasi ini sebagai bentuk apresiasi dan dukungan kami terhadap Historia yang tak surut mengabarkan masa lalu sebagai pelajaran untuk masa kini.

“Jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah,” begitu kata Sukarno. Di titik ini, Historia menurut hemat kami telah dan tengah merawat amanat itu dengan sebaik-baiknya. [irf]      

30 August 2016

Air

Di Cisanti, di hulu Sungai Ci Tarum tersebut air sebenar bening keluar dari sesela bebatuan, ditampung dalam sebuah danau, lalu dialirkan ke sungai yang memanjang sampai Laut Jawa dan kaya akan sejarah kehidupan manusia. Tidak terlalu jauh dari sumbernya, air telah bersalin rupa: berwarna dan bau. Berlaksa limbah pabrik dan rumahtangga memperkosa keasliannya. Jika hujan datang, air tersebut menjadi sumber bencana. Banjir dirayakan dengan sepenuh kutuk dan serapah. “Ulah nyalahkeun Citarum, da ti dieuna mah pan hérang jeung alit ngocorna gé. Salah manusa wé éta mah, bongan saha caina diraruksak (Jangan salahkan Citarum, kan dari sininya bening dan alirannya kecil. Salah manusia sendiri, suruh siapa airnya dirusak),” begitu kata seorang warga yang kami temui di Situ Cisanti.    

Selain nama tempat yang diawali dengan suku kata “Ci” seperti Cisanti dan Ci Tarum, dalam masyarakat Sunda mata air disebut dengan “Séké”. Kata ini kemudian menjadi toponimi di beberapa daerah seperti Sékéloa dan Sékélimus. Hal ini tentu menyuratkan dan menyiratkan satu hal bahwa air memang tak bisa dipisahkan dari hayat.

Di awal pendiriannya di Indonesia, sebuah perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) banyak menuai tawa dan sindiran dari masyarakat, “Orang gila macam apa yang hendak menjual air di negara dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun seperti Indonesia ini?” begitu kira-kira. Puluhan tahun kemudian perusahaan tersebut menuai hasil yang gemilang dan berhasil membungkam ketidakpercayaan masyarakat. Namun hal ini menimbulkan masalah, karena air yang seyogyanya dilindungi oleh undang-undang dasar dan redaksinya tertulis dengan jelas di pasal 33 ayat 3, kemudian banyak dikuasai privat sehingga publik tak lagi leluasa mengaksesnya.

Setahun yang lalu, Watcdoc merilis sebuah film dokumenter berjudul “Belakang Hotel”. Film ini berkisah tentang derita warga di Yogyakarta yang kekurangan air setelah di lingkungannya berdiri sebuah hotel. Warga telah berkali-kali mengajukan protes terhadap pengelola hotel dan mengadukannya ke pemerintah, yang didukung data riset kondisi air pra dan pasca hotel tersebut didirikan. Namun hal tersebut belum memberikan hasil seperti apa yang diharapkan warga. Film yang diproduksi tahun 2014 menjelentrehkan betapa pentingnya air bagi kehidupan.

Perilaku masyarakat, sikap korporasi, dan kebijakan pemerintah berkelindan menciptakan sebuah kondisi yang memosisikan air sebagai sumber daya melimpah di satu sisi, namun kerap menjadi kambing hitam bencana dan akses pemanfaatan yang kiat sempit. Air di bumi yang selamanya 100 persen seolah surut, berkurang, dan sesekali berlebih untuk meluluhlantakkan.

Dalam timbangan kehidupan berbangsa, kita juga menyebut “tanah air” untuk kata lain dari negara. Semua agama dan sistem religi, kami kira punya perhatian yang sama akan pentingnya air. Sekadar contoh, dalam Al Quran sebagai kitab suci orang Islam, ada dua ayat yang mendedahkan hal ini : “Maka hendaklah manusia memerhatikan dari apakah dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang memancar.” (86 : 5-6)

Ya, air adalah hidup itu sendiri. [Irf]

Foto : Tegar Aji Sukma Bestari

23 August 2016

Mencatat Perjalanan

Barangkali bepergian dalam hidup adalah cermin dari hidup itu sendiri: sebuah perjalanan tanpa tiket pulang, persis seperti lakon dalam film “Le Grand Voyage” dan “Into The Wild”. Setidaknya dari dua film ini, perjalanan tak hanya sewujud piknik namun parade meniti ruang dan waktu yang kudus dan sakral. Pergi tanpa (kepastian) kembali adalah sebenar-benar riwayat manusia yang mesti dipersiapkan dan dijalani dengan kesungguhan ikhtiar. Chairil Anwar menulisnya dengan kalimat “sekali berarti sudah itu mati.”

Bila tensinya agak diturunkan, perjalanan tetaplah sebuah rekreasi yang fungsinya untuk (terutama) menyegarkan rohani yang teresidu oleh rutinitas kehidupan yang kerap menumpulkan kesadaran dan memburamkan mata batin. Dari perjalanan Soe Hok Gie ke puncak-puncak gunung sampai darma wisata anak-anak SMP yang ceria menelan hidup usia muda, semuanya tak bisa lepas dari upaya “pembersihan” ruang penat dan bosan yang mungkin hampir berjelaga. Ya, perjalanan memang bukan hal baru, telah terlalu tua malah. Dalam risalah keagamaan pun hal ini begitu jelas ditatah oleh para nabi dan orang-orang suci lainnya.

Di kehidupan hari ini, perjalanan kembali menjadi sebuah laku populer yang banyak dijalani oleh banyak orang. Tua-muda berlomba lari dari rutinitas demi keindahan yang tak-tepermanai. Jika menilik para penulis catatan perjalanan, kita tak bisa menampik bahwa yang kerap ditemui pada tulisan-tulisannya adalah benda mati. Kita jarang menemui manusia dengan kehidupannya yang beragam, porsinya kalah dengan debur ombak, sinar mentari, kilau air laut, semilir angin gunung, gemerlap kota, anggunnya bangunan, dan kata-kata keindahan lainnya. Catatan perjalanan seperti punya tendensi untuk menuliskan surga.

Hal tersebut memang tak salah, toh pada rekreasi seperti itu pun porsi menyegarkan rohani punya haknya. Namun jika ditilik ulang, kehidupan manusia sebetulnya tak kalah menarik jika dibandingkan dengan keindahan alam. Bagaimana misalnya para nelayan yang tak peduli dengan senja, petani kentang yang menghela hidup sedepa demi sedepa, guru SD yang mesti menyeberangi jembatan ringkih demi mencapai sekolah, nenek-nenek pemecah batu, dan masih banyak lagi. Manusia dengan segala dinamika hidupnya terkadang lebih puitis dari pesona alam yang dijejakinya.

Namun demikian, catatan ini tak hendak membuat polarisasi, hanya sekadar menawarkan dua sisi mata hidup dalam perjalanan, yaitu mencoba meraba alam dan manusia yang beraktifitas di atasnya. Kedua hal tersebut selamanya adalah teman sejati bagi setiap pejalan, petualang, pengembara, dan mungkin para pecundang yang tak berani menghunus pedang di medan laga kehidupan.

Komunitas Aleut sebagai sebuah kelompok yang berminat dan berkhidmat pada sejarah kota, alam, dan dinamika manusia, juga adalah sekumpulan orang yang sering melakukan perjalanan. Setidaknya seminggu sekali, dengan metode jalan kaki dalam berbagai penelusuran, sudah banyak mengalami  perjalanan dan menuangkannya dalam catatan. Mencatat, seturut mantra “scripta manent verba volant” bisa jadi bukanlah jalan abadi, namun setidaknya ada proses pewarisan risalah yang bisa dibaca ulang oleh generasi selanjutnya. Dalam catatan ada spasi perenungan yang bisa dihela dan dibaca perlahan.

Dari sini sebuah pertanyaan kemudian menyeruak, catatan perjalanan seperti apa yang kira-kira tak hanya menawarkan pesona, namun juga bisa memberikan petunjuk jalan yang akurat agar bisa dinapaktilasi oleh para pembaca? Hal terpenting tentu saja keterangan rute dan tempat. Sehimpunan data dan informasi selayaknya menjadi pengiring yang setia dari setiap narasi yang hendak dihiperbola, misalnya. Pada semburat langit jingga mesti ada juga keterangan di mana lokasinya, cahaya rembulan keemasan pun memerlukan nama ruang jejaknya, bahkan jika terjebak dalam sebuah wilayah konflik pun tetap harus ada asma siapa saja yang bertikai dan di mana kejadiannya. Mencatat perjalanan tak hanya rentetan deskripsi pesona dan tragedi, namun juga presisi.

Dari rumusan inilah kemudian Kelas Literasi sebagai kegiatan rutin Komunitas Aleut yang Sabtu ini akan masuk pekan ke-57, mencoba mendiskusikan hal-hal tersebut di atas. Dengan beberapa buku catatan perjalanan sebagai bahan pembanding dan inspirasi, kami hendak belajar dan mengevaluasi apa-apa yang telah dan tengah dikerjakan. Jeda untuk mengakrabi teks seperti biasa tidak terlalu leluasa, sebab seminggu dengan bauran kesibukan di dalamnya tentu bukan waktu yang ideal untuk benar-benar memahami ratusan halaman catatan perjalanan. Tapi seperti pekan-pekan sebelumnya, sesempit apapun, kami tetap mencoba melakoninya.   

Muara dari tema yang diusung pekan ini tentu saja pengembangan kemampuan membaca dan menulis. Adapun perjalanan, seperti yang telah diurai pada alinea-alinea sebelumnya, apakah itu sebagai laku suci dan sakral, ritus penyegaran rohani, atau hanya sekadar bersenang-senang tanpa tendensi apapun, selalu menggoda untuk kita jalani lagi dan lagi. Dan di ruang literasi yang kita jalankan bersama, kiranya perjalanan tak berhenti sebagai sesuatu yang hanya dijalani dan selesai, namun juga disimpan dengan sebaik-baiknya dalam bentuk catatan. [irf]   

16 August 2016

Para Penggagas dan Penatah Indonesia

17 Agustus sudah di muka. Inilah titimangsa itu. Pintu gerbang yang dicitakan, sekaligus ada ragu di seselanya, yang lahir dari masa darurat di waktu berat. Jauh sebelumnya, kemerdekaan yang ditandai dengan sesobek esai pendek bertenaga yang bernama proklamasi, adalah jalan terjal dan berliku yang dipanggul oleh beragam wajah, aneka ideologi, jutaan anak revolusi, namun satu semangat yaitu terbebas dari neraka horizontal yang bernama kolonial. Merdeka narasi tunggal di satu sisi, namun penggagas dan penatahnya adalah rupa bhineka yang tak hanya sewujud bintang dan bulan sabit, palu dan arit, atau wajah bumi dan langit.

Jika sejarah pada akhirnya ditulis oleh rezim dengan kekuatan politiknya dan hanya mempolarisasi antara pahlawan dan pembangkang, atau malaikat dan setan, namun riwayat yang tercatat tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Kita—generasi yang lahir dan tumbuh di tengah doktrin rezim, kini punya kesempatan untuk menggeledah dan mengkoreksi narasi itu, meski mungkin tak sepenuhnya. Kita bisa mengunyah kisah Sukarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dan para pahlawan lainnya, sekaligus juga bisa memamah cerita Aidit, Njoto, Daud Beureuh, Sam, Musso, dll yang kadung dicap pemberontak dan pengkhianat republik.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran,” begitu kata Nyai Ontosoroh dalam prosa terkenal Pramoedya Ananta Toer. Kiranya pepatah ini bisa juga ditujukan kepada kita dalam membaca, menilai, dan mengapresiasi manusia-manusia pelopor yang telah berkalang tanah di taman luas sejarah republik yang bernama Indonesia. Di titik ini masalalu, mestinya, tak lagi berwujud sebuah lukisan hitam-putih yang mudah diadili dan divonis mati, namun barangkali bisa menyorongkan juga sikap bijak-bestari dalam memandang risalah kemerdekaan dan ke-Indonesia-an.

Dari pemetaan inilah kemudian Kelas Literasi Komunitas Aleut yang masuk pekan ke-56 mencoba mengusung tema. Beberapa teks telah dipilih, dan kami memutuskan untuk menjadikan TEMPO dengan buku serialnya sebagai media untuk menyelami sejarah itu. Dari perspektif pemilihan sumber bacaan keputusan ini mungkin bukan yang terbaik, sebab TEMPO dengan segala kontroversi yang menyertainya tidak bisa dijadikan rujukan tunggal tentu saja. Namun kami pun telah menimbang beberapa hal: Pertama, TEMPO menulis sejarah dengan mata pisau reportase jurnalisme sastrawi yang kemudian menghadirkan tulisan-tulisan sejarah yang mudah dikunyah. Kedua, TEMPO tidak hanya menghamparkan masalalu, tapi juga masakini yang terpahat dalam penelusurannya terhadap jejak-jejak yang tersisa. Dua hal itulah yang kami rasa sesuai dengan kondisi para pegiat Komunitas Aleut—yang meski terbiasa menyuntuki sejarah, namun tak banyak yang mengakrabi periode di sekitar kemerdekaan.     

Baru-baru tersiar kabar bahwa lukisan karya Galam Zulkifli yang terpasang di Terminal 3 Bandara Sukarno-Hatta diturunkan karena disinyalir menyertakan wajah Aidit. Lukisan berjudul “The Indonesia Idea” itu menghamparkan 600-an wajah anak bangsa yang hadir berparade dalam titian sejarah republik. Zulkifli sepenuh sadar bahwa Indonesia sejatinya adalah proyek coba-coba yang tak hanya diusung oleh para “pahlawan”, namun juga “pemberontak” yang kalah bertaruh dan tersisih dari arus utama. Kasus ini menabalkan satu hal, bahwa tantangan masih menggantang, tentang phobia yang masih menggelapkan mata dan logika. Indonesia dalam banyak benak, seolah digagas dan ditatah oleh para pemenang saja. Doktrin ternyata belum sepenuhnya luruh dan pudar. Kelas Literasi pekan ini kiranya adalah sebuah ikhtiar untuk menyigi “ruang gelap” itu. [irf]

15 August 2016

Surat untuk Alina yang Ditulis dari Ranca Bayawak

Alina sayang…

Ketiadaan alamat membuat semua surat untukmu tak memiliki tempat. Anggaplah kamu telah menjadi semesta, tidakkah siang itu kamu melihatku tengah berdiri di atap masjid itu?

Burung-burung kuntul dan blekok beterbangan dan hinggap di rumpun-rumpun bambu. Kepak mereka begitu menawan, membawa kabar jutaan mil jarak tempuh yang telah dilalui. Siapa bilang jarak begitu bekhianat? Ketiadaanmu melebihi jarak, waktu, dan segala.

Kampung berpenghuni ratusan jiwa manusia ini telah dikepung proyek-proyek raksasa. Batas-batasnya begitu jelas dan menganga. Alat berat berdiri kokoh di kejauhan, dan patok-patok wilayah setegas garis sungai yang mati itu.

Alina bara apiku…

Di sini, di kampung Rawa Bayawak yang jaraknya tak sampai satu jam dari pusat Kota Bandung, warga kini tengah berjuang sekuat yang mereka bisa, untuk menghalau para penawar tanah moyangnya. Ya, tanah yang ini juga dari dulu, tempat kawanan burung itu merasa nyaman untuk singgah dan menetap di rumpun-rumpun bambu.

Pagi kala semburat mentari menerobos pohon-pohon selong, dan rembang petang saat adzan magrib berkumandang, kawanan burung-burung itu pergi dan pulang. Langit berhiaskan ratusan kepak sayap, sebuah pemandangan indah yang ingin aku kerat untukmu, Alinaku.

Alina manisku…

Jika suatu waktu yang entah kapan kamu main ke sini, bercengkramalah dengan warganya. Mereka punya beberapa kuliner khas yang mungkin kamu sukai. Bicaralah dan dengar keluhan serta harapan-harapan mereka, lalu kabarkan kepada orang-orang, bahwa di tengah gelisah pembangunan kota, masih tersisa sekerat harapan warga dan ruang hayat bagi kawanan burung-burung itu. [irf]

11 August 2016

Teror Kampus, Muhidin, dan “Jalan Sesat”

Ruangan student centre penuh dengan asap rokok dan gelas plastik berisi kopi. Saya dan kawan-kawan sedang rapat persiapan menyambut mahasiswa baru angkatan 2003. Siang itu agendanya adalah pemilihan ketua pelaksana OSPEK jurusan. Seperti juga yang lain, saya bolos dari kelas. Mata kuliah Kewirausahaan ditinggalkan. Rapat memutuskan saya sebagai ketua pelaksana. Buat saya, ini adalah keputusan yang kurang nyaman. Selama aktif di organisasi kemahasiswaan saya selalu memosisikan diri di belakang layar: dari Himpunan sampai BEM. Departemen Kajian Strategis selalu menjadi pos pilihan. Sekali ini tantangan hadir di muka, saya mesti menjadi sosok paling depan. Keputusan sudah diambil, dan saya tak boleh mundur.

Selesai rapat, kelas sudah bubar. Seorang kawan datang menghampiri, “Bung, tugas Kewirausahaan sudah bikin?” tanyanya. “Tentu saja,” jawab saya singkat. Dia kemudian melanjutkan bahwa tugas itu sudah dikumpulkan ke dosen yang bersangkutan, dan saya mesti segera menyetorkannya. Saya bergegas menuju ruangan dosen di lantai dua. Di ambang pintu saya berhenti dan mendapati ruangan telah kosong. Dengan tugas di tangan, saya masuki ruangan dosen lalu meletakkannya di di atas tumpukan tugas kawan-kawan yang lain.

Besoknya saya dipanggil dosen Kewirausahaan dan dicecar kemarahan tanpa ampun karena ia mendapati mejanya berantakan. Saya bilang, benar saya kemarin bolos dan terlambat mengumpulkan tugas, tapi saya tak membuat kekacaun. Saya hanya menyimpan beberapa lembar makalah saja. “Kalau kamu yang terakhir masuk ruangan dan tidak mengaku, lalu siapa lagi? Masa sama hantu!” Urusan semakin rumit karena dosen itu kemudian melebar ke sikap saya yang kerap “menyerangnya” selama di kelas.

Satu hal memang benar: selama kuliah saya adalah sosok menyebalkan bagi sebagian orang. Di kelas, jika ada diskusi, saya selalu bertanya dengan maksud menguji sejauh mana pengetahuan kawa-kawan, dan bukan bermaksud ingin tahu jawabannya. Begitu pula ke semua dosen, saya kerap “menyerang” para pengemban risalah pendidikan itu dengan pertanyaan-pertanyaan tajam yang sebetulnya saya sudah tahu jawabannya. Dosen yang satu ini, yang konon mejanya saya acak-acak itu, adalah juga yang kerap saya “serang”.

“Kamu sebenarnya mau apa? Setiap saya di kelas, kamu selalu menyerang saya seperti hendak mempermalukan!” Saya pikir, jawaban apapun tak akan meredakan amarahnya yang tengah muntab. Saya memilih diam. “Kamu mau DO?!” Sambaran yang cukup mengejutkan. Saya pribadi sejujurnya tidak takut DO, tapi apa kabar dengan orangtua di kampung. Tak terbayang reaksi mereka sekiranya tahu anaknya yang ditatah dengan segenap do’a dan biaya malah kalah di gelanggang pendidikan. Saya lemas dan cemas. “Tunggu keputusannya Senin, kamu mesti menghadap Kepala Program Studi dan Kepala Jurusan, sebelum akhinya kamu resmi DO!” Ancaman itu kembali menyambar.

Setelah itu saya menghubungi kawan-kawan dan menyampaikan semuanya. Kepada Ketua Himpunan saya bilang, “Bung, saya teracam DO, sementara saya juga harus memimpin OSPEK jurusan. Saya kira posisi kita tak aman. Segala perizinan yang terkait dengan acara kita pasti akan dipersulit atau bahkan akan digagalkan.” Dia diam sejenak. “Nanti sore kita ketemu di student centre, kita bicarakan dengan kawan-kawan yang lain,” ujarnya. Kemudian saya pergi ke kantin, memesan kopi dan menghabiskan setengah bungkus rokok. Kelas saya lupakan. Sehari itu saya tak berminat kuliah.

Sore harinya keputusan diambil: saya meletakkan jabatan yang baru sehari diemban. Ketua pengganti diputuskan setelah melalui perdebatan yang panjang dan panas. Menjelang pulang, seorang kawan mencoba membesarkan hati saya, “Bung, kalau kasusnya seperti itu, saya kira bung akan selamat, paling-paling hanya pending,” ujarnya.

Saya kuliah di sebuah politeknik negeri. Lembaga pendidikan yang tugasnya mempersiapkan buruh-buruh pabrik nomor wahid. Setiap hari kelas dimulai dari jam tujuh pagi dan selesai jam tiga sore. Dosen memegang absen, setiap hari mereka teriak di kelas menyebut mahasiswanya satu persatu. SKS dipaket, dan tiap semester mahasiswa menyerahkan lehernya di ambang pisau pancung. Jika dalam satu semester terdapat satu nilai E atau tujuh nilai D, maka ia otomatis DO. Tak ada semester pendek, tak ada kesempatan memperbaki bopeng di transkrip nilai. Lama kuliah dibatasi hanya tiga tahun, dan toleransi setahun bagi mereka yang malas dan lemah iman. “Pending” adalah kosakata politeknik untuk toleransi itu.       

Asal tahu saja, baik pending maupun DO, keduanya adalah aib tak terampuni. Tak terhitung banyaknya anak politeknik yang menangis ketika vonis pending dijatuhkan. Alasannya jelas: malu dan biaya yang menggantang sebab mesti memperpanjang kuliah selama setahun ke depan. Maka dengan tak mengurangi rasa hormat kepada kawan yang berusaha membesarkan hati itu, sejatinya saya tetap cemas. Waktu pulang ke kosan, saya berjalan dengan kecemasan yang menggores.

Tiba di kosan, seorang kawan tengah uring-uringan dengan muka pahit, entah apa penyebabnya: yang terbit hanya satu, saya ingin melemparnya dengan sepatu. Sebuah pesan masuk di layar hp, bapak tanya kabar dan prestasi akademik. Deg! Inilah situasi yang saya takutkan itu.

Di kosan kecemasan semakin berparade. Saya tak tahu cara meredakannya. Lalu akhirnya teringat satu hobi yang sudah jarang dirawat: membaca buku. Karena di rak tidak ada stok baru, saya memutuskan pergi ke Gramedia di Jl. Merdeka. Angkot dari Ciwaruga berjalan serupa siput: terseok-seok kepayahan. Uang di kantong tak banyak, tapi saya harus membeli satu buku, ingin mencoba meredakan kondisi yang tengah berada di tubir kekalahan.

Di sudut sebuah rak, saya mendapati satu buku bersampul coklat muda, lusuh, sampul plastiknya sudah terlepas, berjudul “Aku, Buku, dan Sebuah Sajak Cinta” karangan Muhidin M. Dahlan. Sepenggal narasi di sampul belakangnya berbunyi: “Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma cerita”, sebuah kutipan dari Hannah Arendt. “Derita” dan “cerita”, bukahkan dua hal ini yang tengah saya hadapi? “Derita” berwujud kecemasan karena teror kampus yang mengancam, dan “cerita” adalah kondisi ketika saya ingin menuliskan semuanya. Di kasir yang lumayan antri, saya tak sabar, seperti salat isya baru rakaat pertama sementara perut mulas tak tertahankan.

Sesampainya di kosan, saya langsung menyuntuki buku tersebut. Memoar Muhidin ini menggiring saya ke apotek, maksudnya seperti menelan obat penangkal sakit: terlalu banyak kesamaan, sehingga saya merasa ada kawan senasib-sepenanggungan. “Bangke Muhidin ini!” gumam saya dalam hati. Catatannya seperti mengejek sekaligus menyembuhkan: anak rantau, bermasalah dengan kampus, mencintai literasi, dan kisah cinta yang morat-marit. Semuanya ditatah dalam semesta memoar yang menggigilkan.      

Perhatikan kalimatnya ketika ia harus pergi ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah: “Aku meninggalkan kotaku, kampung kelahiranku. Hari itu adalah hari yang begitu mengharukan sekaligus mendebarkan. Mengharukan karena ia adalah perpisahan yang panjang dengan semua sanak, semua keluarga, semua kawan, semua kenangan. Mendebarkan karena aku tengah menuju ke suatu titik yang jauh dari bayanganku.”

Bukan soal meninggalkan kampung, tapi saya membacanya ketika kondisi hampir ditendang kembali ke kampung karena ancaman DO. Perpisahan dengan kampung ternyata ga panjang-panjang amat. Belum lagi perkataan bapaknya ketika ia hendak benar-benar berangkat, “Jangan pulang sebelum kau berhasil.” Asu tenan!

Muhidin kuliah di dua kampus: IKIP dan IAIN, keduanya di Yogyakarta, dan keduanya tidak ia selesaikan. Tapi berbeda dengan saya, ia mengambil keputusan itu karena sadar akan pilihan, hendak lebur dengan dunia literasi yang ia yakini. Berbeda dengan saya yang meskipun secara pribadi tidak takut DO, namun lingkungan sosial masih menjadi ketakutan yang menggenggam. Muhidin seperti menggedor-gedor nurani, bahwa keputusan adalah keputusan, tak peduli respon orangtua sekalipun! Ia menegaskannya dengan mengutip sesobek petuah Romo Mangun:  

“Anggaplah ini pilihan. Dan aku memilih jalan itu walau tergolong pahit—bergelut tanpa kepastian akan nasib hendak diempaskan ke mana. Bersyukur-syukurlah aku masih sanggup memilih. Kesanggupan memilih, sebagaimana petuah novel ‘Burung-burung Manyar’ yang kubaca sejak aku menginjak semester tiga di Kampus IKIP, mengandaikan suatu kemampuan untuk menimbang, untuk memegang kendali nasib, untuk berkreasi. Sebab siapa berkemampuan untuk memilih, dia mengatasi nasib.”

Di titik ini saya tercerahkan. Tantangan Muhidin saya terima. Saya tak hendak mengemis ke kampus agar lolos dari ancaman, juga bersiap menghadapi orangtua dengan segala kekecewaannya. Anggaplah saya tidak lagi kuliah, dan kiriman bulanan dari kampung dihentikan, paling-paling saya menggelandang di Bandung. Kalau sedang mujur, sekali-dua mungkin hidup ditambali oleh honor tulisan yang dimuat di surat kabar. Setidaknya dengan begitu saya telah mengatasi nasib.

Besoknya saya datangi kampus dengan kepala tegak. Saya sampaikan apa adanya kepada para pengampu kebijakan dengan kalimat-kalimat terukur. Dan keputusannya saya hanya dijatuhi SP II dengan menandatangai surat pernyataan di atas materai enam ribu rupiah. Tak jadi DO. Tak jadi dihantam palu godam kekecewaan orangtua. Di akhir semester saya malah dapat nilai A untuk mata kuliah yang diampu oleh dosen yang mengancam itu. Ajaib!

Pasca kuliah saya menjalani hidup seperti orang kebanyakan, bekerja di firma-firma kaum kapital. Hidup dari gaji yang mengalir sebulan sekali. Di permukaan seperti tak ada gejolak, hidup hampir mirip ternak, dan saya bosan. Bosan menekan-mendesak. Lalu saya teringat lagi petuah Romo Mangun yang dikutip Muhidin, saya hendak memilih dan berkreasi. Pertengahan 2014 saya tinggalkan pekerjaan. Inilah saatnya tantangan Muhidin itu benar-benar bisa saya terapkan. Saya hampir menggelandang, kemudian berkomunitas, dan hidup dari menulis.

Keberanian memilih yang didadarkan Muhidin berkelindan dengan dua hal lain, yaitu gandrung literasi dan kisah percintaan yang cukup menyedihkan. Keduanya berjejalin membentuk diri saya yang lain. Sedari kecil saya telah terbiasa membaca koran dan buku cerita, namun hal itu tak pernah dijadikan nafas hidup. Saya tak pernah mencurahkan waktu, dana, dan tenaga kepada teks dan bahan bacaan. Sampai akhirnya Muhidin—di tengah kecemasan yang menggores, datang dan menawarkan “jalan sesat”. Ia menggilai buku. Menguruskan badannya demi buku. Begini siasatnya:         

“Karena kekurangan droping pesangon dari orangtua, maka aku pun bersiasat. Uang makanku kupangkas sekecil-kecilnya. Aku memutuskan untuk jalan kaki dan tidak naik bus yang sewanya waktu itu hanya 300 rupiah untuk mahasiswa/pelajar. Dan aku coba menyisir uang makanku hanya 500-1000 rupiah perhari (makan normalnya 3000). Dan waktu makanku tidak pagi tidak malam, tapi sore. Waktu sore adalah waktu tengah dalam perputaran aktivitas manusia dan waktu tengah ketika energi dikeluarkan dan diistirahatkan. Dari cara yang menguruskan badan ini sedikit demi sedikit aku mendapatkan buku dengan cara membeli. Kalau ada uang mengapa harus meminjam. Aku tidak suka meminjam.”

Untuk menguatkan sikapnya, ia mengutip Desiderius Eramus (1465-1536) yang mengatakan, “Kalau aku punya sedikit uang, aku beli buku. Kalau masih ada lebihnya, barulah aku belanja makanan dan pakaian.”

Dan saya terpengaruhi. Dulu setiap kali gajian, saya pergi ke Bandung dan mendatangi Palasari: menukar ratusan ribu rupiah dengan buku. Pameran buku di Braga, Istora Senayan, dll, pasti menguras kantong karena saya kalap. Niat membeli dua selalu berakhir dengan sepuluh eksemplar. kantong-kantong buku loak, komunitas, dan toko buku besar saya datangi dengan semangat meluap hendak membeli. Duapuluh buku pertama saya hafal di luar kepala, dan akhirnya terpaksa harus dituliskan karena jumlahnya semakin membengkak menjadi ratusan.

Saya membeli karena hendak membaca. Tapi seperti kata orang-orang, “terlalu banyak buku, terlampau sedikit waktu.” Demikianlah pada akhirnya, meski setiap pulang kerja saya sempatkan untuk membaca, namun mata selalu kalah dihajar lelah setelah berjam-jam menyuntuki angka-angka di layar komputer. Tapi di luar hal itu, Muhidin telah membuka kembali setapak jalan bagi minat yang sempat tak terawat. Kegandrungan saya pada literasi, khususnya pada buku—setidaknya sampai hari ini, ibarat kumbang yang terperangkap ke dalam toples dan tak hendak keluar lagi.

Dalam hal menulis pun tak jauh beda. Muhidin menyodorkan satu kasus yang bakal mendorong siapapun meraba ulang ketakutannya untuk menulis. Menurutnya, plagiasi—bagi para pemula, bukanlah jalan asing, ditempuh banyak orang malah. Ia mengambil contoh Sartre:       

“Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialisme sayap Kiri Prancis pernah melakukan plagiasi ketika pertama kali menulis novel. Seturut pengakuannya, novel pertamanya yang berjudul ‘Pour un Papillon’ (Demi Kupu-kupu) merupakan salinan plek dari buku cerita bergambar yang ia punyai yang terbit tiga bulan sebelum novelnya diterbitkan. Semua-muanya sama: tema, tokoh-tokoh, detail petualangannya, dan bahkan judul pun ia pinjam.”

Bukan laku plagiatnya yang hendak Muhidin tekankan, tapi keberanian yang tak boleh tertukar dengan ketakutan yang tak berdasar. Ya, ia mengobarkan pembacanya untuk membaca, membaca, dan menulis. Dua mantra itulah yang akhirnya menyeret saya ke “jalan sesat”.

Hari ini setiap kali saya bertemu beberapa kawan, mereka selalu bertanya tentang kawin. “Beli buku terus, kapan kawinnya?!” Seolah urusan yang satu itu adalah mantra sakti penangkal guna-guna istri muda. Di antara mereka ada juga yang agak bijak-bestari, ceramah dulu tentang sirah nabawiyah, lalu menjejalkan Ar Ruum ayat 21 agar saya membayangkan surat undangan pernikahan, lalu diakhiri dengan ucapan, “kurangi dulu beli bukunya, mending uangnya ditabung buat bikin buku nikah.” Baru-baru seorang saudara juga bilang, “coba cari kerja lagi, menulis doang ga bakal cukup, kan kamu juga suatu saat harus menikah.”

Ya, jalan ini memang “jalan sesat”. Tak banyak orang yang percaya. Dan sejujurnya saya juga tak butuh kepercayaan mereka. Saya yang paling berhak menentukan eksistensi dan makna hidup saya sendiri. Yang ingin saya sampaikan hanya satu: terimakasih banyak-banyak buat Muhidin. Jika suatu hari nanti hidup saya akhirnya berbelok karena harus berkompromi dengan banyak hal, setidaknya saya telah melalui perjalanan ini dengan senang dan pengalaman aduhai yang tak-tepermanai. [irf]           

10 August 2016

Lakon Sepakbola yang Realitas dan Hiperrealitas


Saya bagian subkultur menonton dan memirsa itu.

Penulisan sepakbola hari ini telah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Di banyak kota, kantong-kantong pewedar permainan si kulit bundar—dengan media publikasi terutama daring, subur bermunculan. Generasi penulis sepakbola yang terbaru, pasca Gus Dur, Sindhunata, Sumohadi Marsis, Kadir Jusuf, dll, tak bisa lepas begitu saja dari nama Zen RS. Penulis yang semula dikenal sebagai esais lintas tema: sastra, budaya, sejarah, seni rupa, dan pertunjukkan ini, di titimangsa 2004 mulai ikut mewarnai khazanah penulisan sepakbola, dan—diakui atau tidak, banyak melahirkan “murid” untuk tidak menyebut epigon.

Setelah melahirkan buku kumpulan prosa “Traffic Blues: Saat Hujan Deras dan Jalanan Mulai Tergenang”, dan novel “Jalan Lain ke Tulehu”, kini Zen RS datang lagi dengan sebuah buku yang berisi kumpulan tulisannya tentang si kulit bundar dengan cakupan tema yang begitu luas. Ia mewartakan pengalaman masa kecil ihwal perkenalannya yang mula-mula dengan sepakbola, kegandrungannya terhadap buku, mengupas sejarah, sastra, budaya, dan seni, yang keseluruhannya dibingkai dan—meminjam istilah si penulis, diblejeti dalam kerangka sepakbola.

Kumpulan tulisan ini—karena Zen sejak kecil mengalami langsung sepakbola, tidak lahir hanya dari ruang simulakra atau “representasi atas suatu objek yang menggantikan kedudukan objeknya”, namun juga menghadirkan sesobek catatan pengalaman tak-terpermanai yang ditatah dari fragmen-fragmen yang pernah lewati si penulis dalam dunia si kulit bundar. Seperti kutipan di awal tulisan ini, ia tumbuh dan menulis dari subkultur menonton dan memirsa.

Dalam ruang “menonton” yang penuh-seluruh, ia mendadarkan kisah sepatu baru yang nostalgik, rite de passage atau ritus peralihan yang dibidani oleh sepakbola, perlawanan terhadap tiran pengampu sepakbola nasional, sampai merekam peristiwa sederhana dan sunyi di pinggir lapang ketika kesebelasan favoritnya menorehkan gelar juara. Di titik ini, Zen seolah tak mau melewatkan kelebatan momentum yang berwatak cepat menghilang dan terlupakan, dan ia sebisa-bisa menangkap dan menangkarnya dalam tulisan.

Sedangkan dalam “memirsa” ia begitu piawai mempadu-padankan, memilih sudut pandang, dan menjlentrehkan pengalaman berjarak yang diambil dari media populer dengan kerakusannya dalam membaca. Ia banyak sekali menyebut nama “non-sepakbola”, seperti Orhan pamuk, George Orwell, AB. Lapian, Vladimir Nabokov, Takashi Shiraishi, Multatuli, Amir Hamzah, Jorge Luis Borges, Albert Camus, Jean Baudrillard, dll. Maka tak mengherankan bila ia kemudian—coba-coba, menyusun “Kesebelasan Bapak Bangsa” yang tulang rusuknya diambil sedemikian rupa dari historiografi nasional. Ia juga mencoba menyigi sejarah lahirnya sepakbola nasional dengan bahan yang jauh ke belakang ketika Hindia Belanda dipimpin oleh Gubernur Jenderal Cornelis de Jonge, saat krisis ekonomi melanda dan penyakit sosial meruyak di se-antero Nusantara. Di tulisan yang lain Zen juga mendadarkan tentang begitu cepatnya kosakata asing baru lahir dari dunia sepakbola yang membuat para penyunting-penyelia kedodoran menerjemahkan dan mencari padanannya.

Buku ini sendiri dibelah menjadi empat bagian: Jejak, Dunia Simulasi, Koloni Bola, dan Narasi Kaki-kaki. Bagian pertama—meski tidak terlalu banyak, setidaknya menjelaskan bagian-bagian selanjutnya. Di usia dini Zen telah tumbuh dalam perkawinan antara sepakbola dan pustaka. “Ini hari ketiga ia membacanya. Dan akhir itu sudah makin dekat. Halaman penutup hanya tinggal menghitung detik. Ia membaca dengan keingintahuan yang tak sabar. Sekitar 10 menit kemudian, ketika kawan-kawan main sepakbolanya belum kelar menyelesaikan sesi pemanasan, ia terlebih dulu menamatkan bacaannya.”

Pada “kawan-kawan main sepakbolanya” dan “ia terlebih dulu menamatkan bacaannya” ada irisan dan simpul yang teramat tegas, bahwa Zen—yang di kemudian hari menggeluti dunia penulisan sepakbola, berpijak dari batu tapal yang jelas: hendak berangkat menggeledah sepakbola dengan mata pisau literasi yang diakrabinya terus-menerus. Sepakbola tak lagi menjadi sekerat catatan statistik dan profil pemain, namun juga sehampar permainan yang kaya oleh kisah dan teramat luas untuk dicacah oleh interpretasi dan sudut pandang lintas tema.

“Simulakra Sepabola” oleh karenanya tak hendak (hanya) menyajikan sebuhul catatan “pandangan mata” dari lapangan hijau, namun juga mengajak pembacanya untuk meninggalkan ruang panoptikon stadion yang batasannya rigid, untuk melihat juga permainan populer itu dari sudut-sudut lain yang meskipun lintas tema, namun masih menorehkan jejalin yang jelas dengan sepakbola itu sendiri.

Di 12 tahun masa berkaryanya dalam menggeluti penulisan olahraga yang disebarluaskan orang-orang Inggris ini, kiranya buku ini adalah halte untuk melihat ulang apa-apa yang yang telah dikerjakan. Semacam “turun minum” dari seorang pelakon sekaligus juru lakon. Esai terakhir di buku ini bercerita tentang “Memahami Rumah”, sebuah (mungkin) kesengajaan yang merepresentasikan ihwal “turun minum” itu.  

Di penghujung mukadimah, Zen menulis, “…dalam hidup seseorang yang kini sudah tak lagi remaja.” Kalimat itu seolah memberikan jarak, antara yang telah dilalui dengan kenyataan hari ini. Seperti seseorang yang berdiri di puncak bukit dan melihat ke bawah, ke setapak riwayat yang ditaburi jejak. Setapak tentang lakon sepakbola yang realitas karena pernah mengalami menyepak dan menonton, serta hiperrealitas karena memirsa yang berjejalin dengan kecintaan terhadap pustaka. [irf]     

* Tayang di harian Jawa Pos (edisi 7 Agustus 2016)

08 August 2016

Menggeledah Blog: Menyelami Teks dan Manusia

Dalam ikhtiar membangun tradisi literasi atau keberaksaraan, yang salah satu muaranya adalah mampu membaca, mengurai, dan menyampaikan gagasan (terutama secara tertulis) dengan baik, laku membaca dan menulis adalah sebuah keniscayaan. Dan seperti yang sudah sering disampaikan banyak orang, menulis tanpa membaca adalah jalan majal, untuk tidak menyebutnya sia-sia. Jika bersandar pada mantra Roland Barthes, menurutnya “teks atau tulisan adalah suatu tenunan dari kutipan, berasal dari seribu sumber budaya.” Pada kata “kutipan”—meski bisa juga lahir dari lisan, namun ia juga seringkali terpahat dalam catatan, tulisan, dan untuk mengambilnya mesti melewati jalan membaca. Tak mengherankan kemudian jika Asma Nadia—penulis yang juga salah satu penggagas Forum Lingkar Pena, sempat berkata, “kalau tak ada yang kau baca, lalu apa yang mau kau tulis?”

Membaca dengan mata pisau yang tajam, artinya menyelami teks demi teks dengan kesadaran yang penuh-seluruh, kiranya adalah sebuah proses yang harus dilalui terus-menerus, sebab ini bukanlah pekerjaan mudah. Kelas Literasi yang telah diadakan sebanyak 54 kali—meski telah mencoba untuk tampil optimal, namun belum beranjak dari sebatas mendadarkan ulang cerita yang ada dalam buku. Setiap peserta belum mampu untuk menguliti teks secara lebih mendalam. Tanpa melupakan kemajuan yang telah didapat: minat membaca dan menulis yng mulai tumbuh, kiranya Kelas Literasi ke depan sudah harus beranjak ke tahap berikutnya, yaitu menyelami teks secara lebih “berani”. Selain cerita yang dikisahkan ulang, opini yang dihamparkan juga mesti dibekali dengan pengetahuan lebih, atau setidak-tidaknya dilatari oleh semangat kritis dalam mengapresiasi.

Persoalan kemudian terbit, sebab mayoritas kawan-kawan yang ikut Kelas Literasi tidak mempunyai latar minat yang kuat terhadap literasi itu sendiri. Kebanyakan justru di Komunitas Aleut-lah minat itu mulai tumbuh, artinya terbentuk secara perlahan. Namun demikian, tahapan ini tetap harus dilalui, sebab belajar adalah tentang jalan kemajuan. Menimbang hal tersebut, maka kami kemudian mencoba memulainya dari teks-teks yang dekat dan sederhana, yaitu blog kawan sendiri. Pilihan ini dimaksudkan agar para peserta Kelas Literasi merasa akrab dengan apa yang hendak diselaminya. Dan blog kiranya punya watak yang pas buat pilihan ini.

Blog sebagai media yang tidak terbatasi oleh persoalan karakter huruf, dan cenderung lebih “tersembunyi” jika dibandingkan jejaring sosial yang lain, adalah tempat yang ideal untuk mendedahkan pikiran, pengalaman, kekecewaan, melontarkan kode-kode, mem-bribik gebetan, curhat banal, dll. Para pemiliknya cenderung lebih terbuka dan leluasa dalam menyampaikan hal-hal tersebut. Dalam blog, ada sisi “introvert” yang tersirat—yang meskipun leluasa menulis, namun semacam ada ketenangan karena tidak banyak orang yang akan menyinggahinya. Hal ini tentu saja menarik untuk menjadikannya sebagai bahan menyelami teks dan juga manusia.

Para pemilik blog tersebut, orang-orang yang berani dan sukarela anak rohaninya (tulisan) dilempar ke jalanan, adalah mereka yang dengan itu harus siap berhadapan dengan watak jalanan: dikritik, dicibir, diserang, dihina-dinakan, atau kalau beruntung diapresiasi dengan tempik-sorak dan hujan pujian. Ya, setiap tulisan yang diunggah adalah sikap terbuka dari si penulisnya sendiri, sebab jika tak mau dibaca orang lain, bukahkah lebih baik mendekapnya dalam sangkar kode bilangan biner alias mengendap di komputernya masing-masing? Mengunggah tulisan ke blog---sepersonal apapun kisahnya, adalah sikap dan pilihan terbuka yang lahir dari kurasi masing-masing pribadi.

Di titik ini, menggeledah blog bukan hanya menyelami teksnya, namun juga manusianya. Sesamar apapun, kecenderungan tulisan akan memunculkan gambaran dari si penulisnya. Kode-kode percintaan yang tanpa disertai nama tokoh barangkali mencerminkan penulisnya yang tengah dimabuk amor namun masih malu-malu, misalnya. Atau parade tulisan resensi buku menggambarkan penulisnya yang tengah gandrung bacaan. Atau bisa juga catatan-catatan nostalgia diartikan sebagai laku si penulis yang tak mudah melupakan masalalu. Ya, semuanya akan memberikan—sekali lagi meskipun samar, gambaran ihwal kondisi langit jiwa si penulis.

Dimulai dari blog kawan sendiri, dari teks yang dekat dengan keseharian, diharapkan apreasiasinya relatif lebih mudah dan karib, lebih bisa langsung menghujam ke orangnya. Berpijak dari sinilah kemudian tema Kelas Literasi pekan ke-55 kami usung: muaranya lagi-lagi adalah tumbuh-kembang bersama. [irf]

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai