18 October 2015

Sheila Rooswitha Putri dan Produktifitas Komikus Perempuan

Beberapa komikus Indonesia akan ikut hadir di gelaran Frankfurt Book Fair 2015, salah satunya ialah Sheila Rooswitha Putri. Ia termasuk komikus yang cukup produktif dalam berkarya. Bersama Tita Larasati—di Frankfurt nanti, Sheila adalah perwakilan komikus perempuan Indonesia yang jumlahnya tidak terlampau banyak.

Lala, begitu ia biasa dipanggil, pada tahun 2009 melahirkan buku “Cerita si Lala”. Karyanya ini adalah graphic diary yang disajikan dengan gambar yang detail dan cerita yang menggelitik. Diangkat dari kisah sehari-hari, karya Lala begitu hidup. Beberapa pembaca menilai “Cerita si Lala” hampir menyerupai film animasi karena gambarnya begitu dinamis.

Trinity—penulis buku best seller “The Naked Traveler” mengatakan, “Graphic diary ‘Cerita si Lala’ cute banget! Paduan cerita yang simpel dan gambar yang sangat detail membuat graphic diary ini menyenangkan untuk dibaca, seperti menikmati album foto sambil diceritakan langsung dari mulut Lala. Kalau tulisan perjalanan saya bisa dituangkan ke dalam gambar, saya tahu yang saya mau. Tulisan saya harus digambar oleh Lala, karena dialah yang terbaik!” Hal ini kemudian terwujud di tahun 2010 ketika Trinity dan Erastiany menulis buku “Duo Hippo Dinamis : Tersesat di Byzantium”. Buku ini berbentuk graphic travelogue, dan gambar-gambarnya digarap oleh Lala.   

Ketika diwawancara oleh Riesma Pawesri, Lala menjelaskan, “Membuat komik adalah semacam terapi untuk saya. Saya bisa mengkespresikan perasaan dalam cerita komik. Itu juga sebabnya mengapa saya fokus membuat komik tentang kehidupan saya dan keluarga sehari-hari atau sering disebut graphic diary. Dengan graphic diary, saya berbagi kepada pembaca suka-duka mengasuh anak-anak, kejadian-kejadian lucu yang berkesan dan yang lebih menarik lagi adalah karena hal-hal tersebut nyambung juga dengan kehidupan pembaca karya saya. Riang, hangat dan kekeluargaan, adalah ciri khas karya saya.”

Beng Rahadian—komikus yang sekaligus Kepala Sekolah Komik di “Akademi samali”, mengatakan bahwa “Cerita si Lala” adalah “bentuk curhat paling ideal bagi seorang komikus, yang tidak hanya menggambar dengan tangan, mata, dan memori, tapi dengan hati yang penuh cinta dan rasa syukur.”

Selain dua buku tersebut, Lala pun telah melahirkan beberapa karya lain. Tahun 2009, ia ikut dalam buku “Antologi Tujuh”, sebuah karya yang terispirasi dari Scott McCloud dengan konsep 24 Hour Comics, yaitu membuat satu halaman serita bergambar dalam satu jam selama 24 jam berutut-turut. Dengan mengadopsi konsep ini, “Antologi Tujuh”--yang Lala ikut terlibat di dalamnya, menyajikan karya dari para kontributor yang membuat satu halaman cerita bergambar dalam satu hari, dan dikerjakan selama tujuh hari berurut-turut.

Sedangkan di tahun 2012, Lala membuat dua volume buku yang berjudul “Komikriuk 1” dan “Komikriuk 2”. Kedua karya ini bercerita tentang hal-hal ringan yang kerap hadir di keseharian, misalnya etika nonton di bioskop dan seputar gosip para artis yang kerap muncul di televisi.  

Pada tahun 2014, bersama Muhammad “Mice” Misrad dan Haryadhi, Lala membuat buku “Mengintip Metropolitan”. Karya ini menceritakan perilaku warga Jakarta lengkap dengan segala keunikan dan kekonyolannya, dilihat dari sudut pandang tiga orang kartunis. “Mengintip Metropolitan” melengkapi karya-karya serupa yang sebelumnya telah dibuat oleh para kartunis yang lain. Dan di tahun 2015, Lala membuat “Urban Sketch Story”. Selain itu, masih di tahun yang sama--bersama Erastiany Asikin yang berposisi selaku penulis, mereka membuat “Laut Milik Semua”, dan Lala sebagai ilustratornya.

Terkait kerja-kerja kreatifnya sebagai seorang komikus dan illustrator, Lala sendiri--pada sebuah wawancara dengan areamagz.com, mengatakan, “Hidup saya adalah menggambar. Sejak kecil, walau dimarahi guru, saya selalu menggambar. Saat kesal, senang, jatuh cinta, saya ungkapkan dengan menggamabar. Bahkan, teman-teman saya menyebut saya ‘Lala si Tukang Gambar’. Kini, saya mengerjakan yang saya sukai,  mendapat apresiasi dari pembaca, dan mendapat bayaran. I am living my dream!”, begitu ungkapnya.

Di Frankfurt Book Fair 2015 yang sebentar lagi akan segera digelar, karya-karya Lala akan dipamerkan bersama karya para komikus Indonesia lainnya. Inilah talenta besar salah seorang komikus perempuan Indonesia, yang karyanya layak untuk dihadirkan dan diapresiasi secara luas di hadapan publik dunia, untuk meneguhkan bahwa potensi Indonesia—khususnya di bidang komik, mampu bersaing di kancah internasional. [irf] 

PS : Tak sempat naik :)

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai