05 October 2015

Kehidupan Warga Kota dalam Karya Muhammad "Mice" Misrad

Setiap hari Minggu, di harian Kompas selalu ada rubrik kartun yang temanya beragam, dari kritik sosial politik sampai parodi kehidupan sehari-hari. Salah satu yang cukup menyita perhatian pembaca yaitu “Mice Cartoon”. Strip komik yang di usung Mice atau Muhammad Misrad adalah tentang kondisi kontemporer kehidupan sehari-hari. Dengan gaya satirenya, Mice memotret bagaimana laku hidup sehari-hari layak bukan hanya untuk ditertawakan, namun juga mencuatkan insight baru yang kerap luput disadari.
Kartunis kelahiran Jakarta 45 tahun lalu itu adalah lulusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Mulanya ia berprofesi sebagai grapic desainer di salah satu biro konsultan desain di Jakarta. Sejak tahun 1997, ia memutuskan untuk menggeluti profesi sebagai kartunis. Ia bersama Benny Rachmadi kemudian membuat strip komik di harian Kompas, yang mulai 4 Juli 2010 “pecah kongsi”. Ruang yang semula diisi oleh karya kolaborasi tersebut kemudian diganti oleh “Mice Cartoon”.
Selain rutin mengisi di media cetak, Benny & Mice pun telah beberapakali melahirkan buku, di antaranya; “Jakarta Luar Dalem”, “Jakarta Atas Bawah”, “Lagak Jakarta”, “Talk About Hape”, “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta”, “Lost in Bali 1”, “Lost in Bali 2”, dan lain-lain. Perpisahan Benny dan Mice sempat disayangkan oleh beberapa kalangan, terutama para pecinta kartun yang kadung menjadi penggemar “duet maut” tersebut. Namun mereka berdua kemudian menjawabnya dengan karya yang tidak meninggalkan ciri khas yang selama ini mereka usung, yaitu satire, nakal, dan kocak. Pasca berjalan sendiri, Mice telah menerbitkan beberapa karya, antara lain; “Little Mice, Game Over!!”, dan “Kamus Istilah Komentator Bola“.
“Kalau saya sih sederhana aja, mungkin udah kelamaan kali kita berdua ya, 20 tahun, bosen juga gitu, bosen dalam tanda kutip ya,” ujar Mice ketika diwawancara oleh “Tukar Posisi”-- sebuah portal yang menyajikan pelbagai informasi dan tips, ihwal perpisahannya dengan Benny.
Sejak masih bersama Benny, karya Mice kerap menampilkan potret keseharian yang tajam. Terkait ini Mice menjelaskan, “Banyak yang bilang karya-karya saya itu hasil observasi atau penelitian yang dalam, padahal engga juga sebenarnya. Karena karya saya lebih dekat keseharian, tentang orang Indonesia dan khususnya orang Jakarta dan kota-kota besar, dan tema-tema itu saya tinggal mencomot aja dari kejadian yang nyata.”
Dalam berkarya, tokoh utama yang dibangun Mice untuk menyampaikan pesan-pesannya sering digali dari orang-orang terdekat. Karakter itu ia pertahankan secara konsisiten. “Dan saya tetap bertahan dengan karakter saya sendiri. Saya menciptakan satu karakter baru yang gendut item yg kumisan itu, mungkin pembaca yang ngikutin karya saya tahu lah ya, itu wujudnya memang ada, namanya Leon. Tapi kadang kalau tanpa ditemenin sama si Leon, atau misalnya sedang bosan sendiri, saya menciptakan tandemnya bisa keluarga saya; bisa anak saya, istri saya, dan akhirnya bisa bermacam-macam tokoh yang bisa mendampingi saya”, ujar Mice menjelaskan.
Dalam dunia yang ia geluti, seperti umumnya di berbagai ladang kehidupan, ada suka dan duka yang menyertai. “Kalau karya saya bisa menghibur oranglain sekaligus bisa menghibur diri sendiri, itu yang sangat saya syukuri. Dukanya kalau besok harus terbit, dan belum ada tema yang diangkat atau ide cerita, itu bisa bikin saya guling-gulingan di kasur tiga jam sendiri,” ujar Mice.
Di Frankfurt Book Fair 2015, Indonesia memberikan kesempatan yang cukup lapang kepada para kartunis untuk memamerkan karya-karyanya. Dunia kartun dan komik, di Indonesia--seperti kata Beng Rahadian, sedang indah-indahnya. Hal ini berdasar pada beberapa hal, yaitu; keragaman gaya, keragaman genre dan tema, mulai menjadi media ekspresi populer anak muda, menjadi buruan penerbit, event yang banyak, tumbuhnya komik di institusi pendidikan formal, kekuatan komunitas, berkontribusi dalam pergaulan internasional, menjadi media darling untuk liputan budaya, sosio urban, dan pendidikan, serta yang terakhir—dan ini modal utama dan pertama, yaitu keras kepala para pelakunya.
Di kondisi seperti inilah karya Mice hadir mewarnai dunia kartun Indonesia. Karyanya akan ikut hadir di Frankfurt. Kehidupan sehari-hari warga kota yang kerap berada dalam kegagapan, atau larut mengikuti arus perkembangan zaman, serta peristiwa sehari-hari yang kadang lebih aneh dari fiksi, berhasil Mice potret dalam gambar dan teks yang menggelitik.

Riwayat panjang perjalanannya dalam mengkhidmati dunia kartun, kiranya akan terus berlanjut. Pada sebuah kesempatan Mice menegaskan, “Walaupun saat ini misalnya ada pilihan lain, saya tetap memilih menjadi kartunis.” [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai