23 September 2015

Yang Populer dari Para Pelancong yang Mencatat

Beberapa tahun terakhir, di Indonesia cukup marak aktifitas jalan-jalan yang kemudian dituliskan ke dalam berbagai catatan perjalanan. Laku pakansi yang semula sederhana, artinya hanya melepaskan kepenatan dari rutinitas, kini mulai bersalin rupa dalam wujudnya yang lebih populer. Para pelancong (traveller) menceritakan ulang perjalanannya di berbagai media sosial yang sangat sibuk dengan lalu lintas komunikasi. Untuk beberapa orang, jalan-jalan hampir dan telah sampai pada titik sebagai gaya hidup.
Perucha Hutagaol, atau lebih dikenal dengan nama Trinity, adalah salah satu pelancong Indonesia yang namanya di dunia literasi sangat populer. Ia, yang akan hadir di Frankfurt itu, buku-buku catatan perjalanannya diserap pasar dengan baik. Para pembacanya memberikan testinomi yang hampir seragam: tentang perjalanan Trinity yang seru dan “tak biasa”.
Mula-mula, seperti umumnya para pekerja di Indonesia, Trinity adalah karyawan kantoran biasa yang kerap berhitung tentang jatah cuti dan libur yang sangat sempit. Dorongan jalan-jalan yang kuat dan keterbatasan waktu ini membuat ia akhirnya membuat keputusan untuk memilih jalan-jalan sebagai “pekerjaannya”, atau ia menyebutnya sebagai full-time traveler and freelance travel writer.
Catatan perjalanannya ke berbagai daerah di Indonesia dan beberapa negara kemudian dia publikasikan di blog. Tulisan-tulisannya yang informatif dan menghibur ternyata menginspirasi banyak orang untuk melakukan perjalanan yang sama. Karena peminat tulisan-tulisannya semakin hari kian bertambah, akhirnya atas saran teman-teman dan penerbit, ia kemudian membukukan catatan-catatannya. Buku yang kemudian diberi judul “The Naked Traveler”, sampai hari ini telah masuk seri ke-4.
Buku seri ke-4 ini, pada tahun 2013, telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit B first (kelompok Bentang Pustaka) dengan judul “The Naked Traveler; Across The Indonesian Archipelago”. Di buku ini Trinity tentang menulis perjalanannya ke Aceh, Jambi, Bangka, Lombok, Flores, Kalimantan, Raja Ampat, Gorontalo, Wakatobi, dan beberapa tempat lain.
Yang menonjol dari catatan-catatan perjalanan Trinity adalah karena ia tak hanya menulis hal yang indah-indah saja, namun juga sisi-sisi buruk dari perjalanan yang ia alami. Jika selama ini tulisan serupa lebih banyak yang bertendensi surga--sebagai pelancong-penulis, Trinity tak hendak menyeret tulisan-tulisannya ke arah sana.
Terkait dengan program penerjemahan buku yang disubsidi pemerintah, Trinity berinisiatif untuk mencari penerjemah sendiri untuk versi Jerman-nya. “Katanya sih dapat hibah, dan aku sudah berinisiatif sendiri mencarikan penerjemahnya, juga sudah menghubungi penerbit terkait hal ini,” ujanya.
Selain menulis serial “The Naked Traveler”, bersama beberapa penulis lain, ia juga menerbitkan dua buku antologi perjalanan, yaitu; “Travelove (Dari Ransel Turun ke Hati)” dan “The Journeys”. Lalu ia pun bersama Erastiany dan Sheila Rooswitha membuat sebuah graphic travelogue berjudul “Tersesat di Byzantium”.
Terkait gelaran Frankfurt Book Fair, Trinity yang ditemui di sesela acara temu penulis dengan Komite Nasional, menjelaskan ihwal posisi buku-bukunya:
“Salah satu buku saya yang dibawa ke sana (Frankfurt), mungkin satu-satunya buku (perjalanan) pop berbahasa Inggris yang berbicara tentang Indonesia, dan ditulis oleh orang Indonesia, karena selama ini buku tentang Indonesia yang menulis orang asing. Jadi menurutku buku ini menjual, karena kita punya selera humor yang berbeda. Dan perjalanan antara orang lokal dengan orang asing tentu berbeda juga. Kepada orang asing kan semua ramah, foto bareng dan segala macem gitu kan. Kalau ke orang lokal berbeda pengalamannya,” terangnya.
Lalu ia juga menyoroti satu sudut pandang tentang kiprahnya selama ini. “Orang Indonesia itu tidak terkenal sebagai yang tukang jalan-jalan. Lalu begini, aku ini kan dari negeri eksotis yang justru pergi ke negara-negara lain, menurutku ini poin yang menarik,” sambungnya.
Di Jerman nanti, kehadiran karya-karya peraih penghargaan Travel & Tourism Awards 2010 sebagai In­donesia’s Leading Travel Writer ini tentu akan menarik. Kiprahnya di dunia jalan-jalan mungkin akan membuka pemahaman baru bagi publik dunia, bahwa Indonesia—negeri dengan ribuan pulau yang mengambang di garis khatulistiwa itu, melalui tulisan-tulisan Trinity, bisa dibaca ulang melalui pengalaman warganya dalam mengunjungi tanah airnya sendiri.
Selain itu, jika selama ini dikenal sebagai penyaji objek wisata yang eksotis, melalui perjalanan Trinity ke berbagai negara, Indonesia juga mesti mulai diperhitungkan sebagai konsumen potensial yang akan menyerap pasar pariwisata internasional.

Dan di Frankfurt, “The Naked Traveler”—sekali lagi, akan menunjukkan “kenekatan dan ketelanjangannya”. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai