23 September 2015

Menziarahi Kembali "Ziarah"

Dari 18 buku karangan penulis Indonesia yang diterbitkan menjelang gelaran Frankfurt Book Fair 2015, “Ziarah” menjadi buku paling “tua”. Novel karya Iwan Simatupang ini diterjemahkan dalam bahasa Jerman dan akan diterbitkan oleh penerbit Angkor Verlag.
Karya klasik yang sejatinya telah rampung ditulis Iwan tahun 1960 ini baru bisa terbit pada tahun 1969. Novel ini mulanya sempat ditolak penerbit Djambatan. Salah satu alasannya karena dianggap sulit diterima oleh pembaca Indonesia kala itu. Barulah Djambatan bersedia menerbitkannya setelah mendapatkan rekomendasi dari H.B. Jassin.
Sejak terbit, “Ziarah” langsung memicu perdebatan. Seperti dilaporkan oleh Dami N. Toda (Jurnal Susastra, Vol. 2, No. 4, 2006), yang menelusuri diskusi tentang “Ziarah” di berbagai surat kabar, sangat banyak pembaca (termasuk para penulis) yang kesulitan memposisikan novel ini. Bahkan oleh beberapa dosen di Universitas Indonesia, masih merujuk Toda, novel ini ditolak karena tidak diakui sebagai “karya sastra”. Dami N. Toda mengalami bagaimana dosen-dosen menolak penelitiannya mengenai novel “Ziarah”, kecuali H.B. Jassin dan Boen S. Oemarjati.
Kurang satu dekade dari penerbitan pertamanya, “Ziarah” sudah terbit dalam bahasa asing. Pada 1975, Yayasan Lontar menerbitkan edisi Inggris novel ini berdasarkan terjemahan Harry Aveling. Berikutnya, pada 2003, jauh setelah Iwan meninggal, edisi Perancis-nya terbit dengan judul “Pelerinage”. Penerjemahan ke bahasa Perancis ini dilakukan oleh Okke Zaymar dan Jean Maiffredy dan diterbitkan Faustroll, sebuah lembaga nirlaba Perancis yang punya perhatian khusus kepada karya sastra dunia.
Novel yang mengisahkan kehidupan seorang yang di penghujung cerita melamar pekerjaan sebagai opseter pekuburan ini, hingga sekarang, banyak dirujuk sebagai novel dengan kandungan filsafat eksistensialisme. Sebutan sebagai “novel eksistensialisme” ini memang sudah sudah menjadi klise dan juga ditampik oleh beberapa orang. Pada 1970, misalnya, Goenawan Mohamad menampik novel-novel Iwan berpretensi filsafat, namun sebagai “keasiykan akan kata-kata” dan “lanjutan rasa tidak betah dengan kovensi bentuk yang lurus”).
Toh pada akhirnya menjadikan novel ini sebagai salah satu novel dari sedikit novel Indonesia yang mendapatkan “cap” yang kuat. Mungkin seperti “Saman” yang mendapatkan cap sebagai “novel feminis”, atau katrologi Pulau Buru-nya Pramoedya yang di-cap sebagai “novel kiri” atau novel “Ronggeng Dukuh Paruk”. Kita tahu, sebagaimana stereotype, “cap” tidak sepenuhnya bisa diterima namun setidaknya menggambarkan meta-teks perihal bagaimana sebuah naskah dirumuskan oleh “publik”.

Kehadiran kembali novel ini, sebagai novel tertua yang diterjemahkan dan dipamerkan perhelatan pasar buku tertua di dunia, ibarat sebuah ziarah pada karya sastra klasik Indonesia. Di Frankfurt, setiap orang yang hadir di sana, bisa menziarahi lagi “Ziarah”. [irf ]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai