10 September 2015

Mengapa Bukan Saya

Oleh : Bre Redana

Rasanya hal terpenting yang disampaikan oleh Pak Jakob Oetama, pemimpin Kompas Gramedia, ketika menerima gelar Doktor Kehormatan alias Doktor Honoris Causa dari Universitas Sebelas Maret di Jakarta beberapa waktu lalu adalah pertanyaan: mengapa saya?
Itulah yang kemudian dijawab Mendikbud M Nuh. Dengan segar, menteri yang berlatar pendidikan sains ini mencontohkan rumus matematika, untuk sampai ke kesimpulan mengenai bukti kepantasan tersebut.
Masih dengan agak kocak, ia menyebut Pak Jakob sebagai ”guru”. Ia jelaskan pengertian guru secara etimologis. ”Gu itu artinya kegelapan. The darkness of ignorance. Saya tidak mau menggunakan istilah kebodohan. Dalam kegelapan itu ada ru yang berarti light, sebuah cahaya yang memberi penerangan,” begitu kurang lebih ucapan M Nuh.
Ketika menyebut media massa sebagai dunia yang digeluti oleh Pak Jakob, ia juga menafsirkan pengertian massa dalam ranah sains. Di tengah pengertian massa seperti itu, ia sempat menyebut media sebagai semacam endocrine.
Meski seperti main-main, dengan itu sebetulnya telah ditunjukkan pengertian media yang kompleks, berhubungan dengan kesadaran (conscious mind) manusia. Endocrine adalah zat yang berhubungan dengan kegiatan hormonal dalam tubuh manusia. Melalui kegiatan hormonal ini, tubuh (body) dan otak (mind) terlibat secara terus-menerus dalam suatu interaksi yang melahirkan kesadaran.
Studi neuroscience menjelaskan, implementasi otak berupa pikiran bisa menyebabkan situasi emosi yang implementasinya lewat tubuh. Sebaliknya, tubuh pun bisa mengubah lanskap otak, yang artinya juga mengubah substansi pikiran. Keadaan otak, yang berhubungan dengan situasi mental, berpengaruh pada tubuh. Situasi tubuh terpetakan kembali oleh otak, yang lalu menghasilkan situasi mental. Begitu interaksi tubuh dan otak berlangsung secara terus-menerus, seperti tari tango.
Perubahan sedikit saja pada otak bisa memengaruhi tubuh (dalam hal ini bayangkan, lepasnya hormon tertentu karena panah asmara misalnya, menyebabkan jantung berdebar-debar). Atau sebaliknya, perubahan kecil pada tubuh, taruhlah gigi Anda lepas, akan berpengaruh besar pada otak, begitu otak menerima dan memetakannya sebagai rasa sakit luar biasa.
Interaksi antara tubuh dan otak terjadi lewat perantara kelenjar-kelenjar tertentu, seperti endocrine, yang di dalamnya mengandung organisme yang lebih kompleks lagi. Sederhananya, zat-zat perantara itu bisa disebut sebagai media.
Tafsir media semacam ini sungguh tidak main-main. Bahkan di dalam tubuh manusia sendiri, yang oleh sebagian sistem kepercayaan diyakini sebagai bagian dari dunia (istilahnya dunia kecil, mikrokosmos), media itulah yang menentukan segala-galanya. Dari situ, orang yang berkesadaran, eling, merasa selalu perlu untuk menjaga baik pikiran maupun tingkah laku.
Dalam bahasa Pak Jakob yang sangat diakrabi oleh seluruh anak buahnya adalah kesanggupan dan kemampuan untuk berterima kasih dan bersyukur.
”Praci dina,” begitu Pak Jakob mengutip bahasa Jawa, yang artinya tiada hari tanpa syukur dan terima kasih. Ia melanjutkan, dalam hidup kita tidak ada kata kebetulan, tetapi selalu dalam penyelenggaraan Ilahi (Providentia dei).
Menjaga tingkah laku, menjaga kesantunan, atau secara lebih luas kontrol atas tubuh, adalah bagian dari menjaga otak dan pikiran. Selalu ada pergulatan antara kontrol versus pengumbaran nafsu tubuh, seperti disimbolkan dengan sangat bagus dalam jagat pewayangan lewat keberadaan Pandawa versus Kurawa.
Pengumbaran nafsu tubuh ini dalam masyarakat kontemporer memanifestasi dalam bentuk apa saja, dari konsumsi berlebihan, bermewah-mewah kelewat batas, sampai ke hasrat atas kekuasaan yang membabi buta dan tak tahu malu.
Bagi kalangan ini, pertanyaannya bukan mengapa saya, melainkan mengapa bukan saya… [ ]

No comments:

Kang Ajip Sakolébatan…