23 September 2015

Memperkenalkan Tarian Bali yang Berbeda Kepada Dunia

Satu lagi penulis perempuan Indonesia yang karyanya akan ikut dipamerkan di Frankfurt Book Fair adalah Oka Rusmini. Novel yang berjudul “Tarian Bumi” akan diterjemahkan ke dalam Bahasa Italia oleh penerbit Atmosphere Libri dengan judul “La Danza Della Terra”. Beberapa tahun ke belakang novel ini juga pernah diterjemahkan dan diterbitkan dalam versi Jerman oleh pernerbit Horlemann Verlag dengan judul “Erdentanz”.

Buku ini, bagi publik Eropa, bisa memberikan  gambaran  yang lain dari Pulau Dewata yang kemasyhurannya, kadang, melampaui nama Indonesia sendiri. Novel ini adalah "dunia dalam" (manusia dan kebudyaan) Bali yang menghadirkan wajah berbeda bagi para pembaca dunia yang mungkin kadung dipikat oleh eksotisme Bali.

Dalam bukunya, Oka mencoba memotret wajah lain dari kebudayaan Bali yang kerap terlupakan, kabur tertutupi oleh citra eksotisme yang kadung melekat. Kisah  yang dihamparkannya dalam jumlah halaman yang tidak terlalu banyak ini menghujam budaya kasta tepat di jantungnya.

Oka yang terlahir dari keluarga berkasta Brahmana, dalam kisah yang mengkritisi dan mempertanyakan ulang ihwal sistem sosial yang mengatur lapisan-lapisan derajat manusia lengkap dengan tata cara pergaulannya ini, sedang mencoba mendokumentasikan adat dan tradisi leluhurnya.

“Sebetulnya, saya ingin menjadikan tulisan-tulisan saya ini sebagai sebuah dokumentasi, khususnya (dokumentasi) Bali. Saya percaya segala (tradisi) yang pernah terjadi di Bali, kelak akan punah, tergerus zaman”, tuturnya.      

Selain itu, di luar tradisi yang telah melekat, ia pun sedikit menyinggung soal pergaulan perempuan Bali dengan orang lain yang bukan Bali, dalam kasus ini para wisatawan asing, yang pada kenyataannya proses interaksi ini kerap hanya soal siapa memanfaatkan siapa.
“Tarian Bumi” yang disebut-sebut sebagai sebuah karya yang mengusung feminisme, pada kisahnya memang mengorbitkan sosok perempuan yang kukuh, teguh di tengah deraan persoalan kehidupan sosial yang sepertinya tidak bisa dilawan. Dan Oka, sebagai penulisnya, tentu tidak bisa lepas dari sorot duga seperti ini.

Terkait hal tersebut, Oka menambahkan, “Persoalan perempuan di Bali (dan di manapun) adalah persoalan kultur dan agama; dan perempuan itu sendirilah yang paling mengerti dirinya. Oleh karena itu, perempuan pulalah yang mesti menuliskannya.”


Kehadiran buku ini di Frankfurt, dalam semangat memperkenalkan keragaman Indonesia, tentu adalah kesempatan baik untuk mengenalkan ulang tanah Bali yang cenderung sudah lekat dengan hal yang indah-indah saja. Tujuannya bukan untuk melongsorkan citra, namun menyorongkan satu sisi wajah kemanusiaan yang tercabik luka, untuk dibaca dan dibicarakan bersama. [irf]   


Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai