23 September 2015

Membela Kemanusiaan Melalui Kesusastraan

Sejak “Entrok”, karya pertama Okky Madasari terbit di tahun 2010, ia kemudian dikenal sebagai seorang penulis perempuan yang menyuarakan kaum minoritas, marginal, dan tertindas. Narasi yang dibangun oleh penulis yang lebih dulu berprofesi sebagai seorang jurnalis ini, adalah tentang orang-orang yang tak berdaya di hadapan kekuasaan; baik kekuasan politik, korupsi, maupun agama.
Dalam sebuh wawancara dengan BBC Indonesia, Okky menjelaskan posisi karyanya, "Saya tentu membuat cerita bukan sekedar untuk senang-senang, bukan sekedar sebagai hiburan, atau justru sebagai pengantar tidur. Sejak awal saya percaya bahwa karya sastra itu seharusnya bisa menyuarakan persoalan-persoalan dalam masyarakat," ungkapnya.
Tahun 2011, penulis yang mengaku dipengaruhi oleh karya-karya Pramoedya Ananta Toer ini menerbitkan novel “86”, sebuah kisah yang menghujam praktek korupsi dan bobroknya sistem hukum serta orang-orang yang berkuasa atas hukum tersebut. Setahun kemudian Okky melahirkan “Maryam”. Karya ini berhasil menerima penghargaan di ajang Anugerah Sastra Khatulistiwa 2012.
“Maryam” menceritakan tentang orang-orang penganut Ahmadiyah di Indonesia yang ditekan dan mengalami pengusiran dari tempat tinggalnya. Diwakili oleh tokoh Maryam yang datang dari keluarga penganut Ahmadiyah, ia pada satu keputusan memilih menikah dengan seorang laki-laki non Ahmadiyah. Sejak semula pernikahan itu tidak direstui oleh orang tua kedua belah pihak. Sampai pada klimaksnya, pernikahan itu tak bisa dipertahankan, mereka bercerai.
Ketika Maryam kembali ke rumah orang tuanya, ternyata mereka dan warga kampung yang lain sudah tidak ada, terusir dari tanah yang selama ini mereka tinggali dan perjuangkan. Ahmadiyah yang menurut kaum mayoritas adalah golongan sesat, tak kuasa membendung “para hakim” dan akhirnya meraka diusir dari tempat tinggalnya sendiri.
Tema yang diusung di novel “Maryam”, praktis membuat Okky menjadi salah satu, atau bahkan satu-satunya yang mengangkat kondisi sosial kontemporer ini. Ia tak sedang memberi solusi, namun menggugah kesadaran para pembaca tentang ketidakadilan yang tengah berlangsung, dan negara selalu tumpul dalam menyelesaikannya.
"Tidak bisa apa yang terjadi di sana kemudian dihentikan. Itu bukan tugas karya sastra," ungkap perempuan kelahiran Magetan ini.
Setahun setelah “Maryam” terbit, Okky kemudian merilis “Pasung Jiwa”. Ini pun lagi-lagi tentang orang-orang yang tak berdaya di hadapan kekuasaan. Kali ini Okky memasukkan isu LGBT dalam kisah yang ia bangun. Sasana, tokoh utama di novel tersebut, setelah kerap melewati kekerasan di sekolahnya, perlahan menjadi laki-laki kemayu. Sisi feminin-nya muncul dan menjadi lebih dominan dari sifat laki-lakinya. Namun di tengah keluarga, Sasana tak bisa bersikap terbuka dan berlaku layaknya lelaki “normal”, ia berbohong kepada dirinya sendiri, ia terpasung oleh kekuasaan anggapan umum. Selain itu, Sasana pun, jika tampil apa adanya di luar keluarga, kerap dirisak oleh sekelompok orang yang membawa panji-panji agama.
Okky yang Oktober nanti, akan tampil juga sebagai salah satu pembicara di sebuah talk show dalam rangkaian Frankfurt Book Fair 2015, menyatakan, "Yang saya lakukan adalah tetap menghadirkan sebuah cerita yang tentu memiliki dampak besar jika para pengambil keputusan itu membacanya," katanya.
Sampai hari ini, karya-karya Okky Madasari telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. “Entrok” menjadi “The Years of The Voiceless”, “Maryam” jadi berjudul “The Outcast”, dan “Pasung Jiwa” menjadi “Bound”. Ia yang waktu dihubungi tengah berada di Australia menjelaskan, bahwa semua karyanya akan dibawa ke Frankfurt.
Kuasa militer, Ahmadiyah, LGBT, dan bobroknya dunia hukum yang hadir dalam kisah-kisah Okky, tak berlebihan jika karyanya paling mewakili kondisi luka Indonesia yang telah lampau dan paling mutakhir.

Okky telah bercerita. Soal kondisi akan berubah atau tidak menjadi tanggungjawab bersama. Tapi setidaknya, mengutip dari Hannah Arendt, “Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma cerita.” [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai