23 September 2015

Membawa Budi Darma ke Frankfurt

Sejak “Orang-orang Bloomington” terbit menyapa para pembaca sastra Indonesia pada 1981, nama Budi Darma langsung menyita perhatian publik. Pengarang kelahiran Rembang 1937 ini hadir dengan kumpulan cerita pendek, yang karakter tokoh-tokohnya begitu menjengkelkan, juga nama-nama yang terdengar agak aneh.
Dua tahun kemudian novelnya yang berjudul “Olenka” terbit. Buku ini lagi-lagi hadir dengan gaya bertutur dan penokohan yang unik. Beberapa kritikus sastra menilai ia sebagai pengarang angkatan 1970-an yang serba bisa. Prof. A. Teeuw, seperti ditulis oleh Imam Muhtarom (kurator Borobudur Writer and Cultural Festival 2012), menilainya sebagai pengarang yang paling berhasil dalam usaha pembaruan dalam hal teknik fiksi dan isinya. Teeuw menganggap Budi Darma sebagai pelopor penggunaan teknik kolase.
Karya-karya Budi Darma, baik yang berbentuk novel, ataupun yang terhimpun di buku-buku cerita pendek, kerap memiliki imajinasi yang sulit ditebak dan trengginas. Menurutnya, imajinasi sangat bergantung kepada tajam atau tumpulnya kepekaan seseorang, dalam hal ini pengarang. Ia menambahkan bahwa imajinasi yang malas lahir dari kepekaan yang tumpul, lalu mengantuk, tidur, dan kemudian mati.
Waktu membaca “Orang-orang Bloomington”, orang-orang banyak yang merasa disergap oleh para tokoh yang culas, pendendam, dan penyakitan. Dan celakanya, tokoh-tokoh itu hidup dalam cerita-cerita tentang ketuaan, penyesalan, dan kesepian. Harry Aveling, penerjemah beberapa karya sastra pengarang Indonesia, sempat berkata bahwa baginya kisah-kisah yang ditulis oleh Budi Darma adalah menakutkan.
Oktober nanti, di ajang Frankfurt Book Fair 2015, beberapa karya Budi Darma akan ikut dipamerkan. Gelaran buku yang melibatkan ribuan pengunjung dari berbagai negara itu tentu membutuhkan kerja-kerja penerjemahan, agar karya-karya para penulis Indonesia bisa dibaca dan dipahami oleh publik luas.
Terkait dengan hal tersebut, Budi Darma yang sempat ditemui pada acara temu penulis, penerbit, dan Komite Nasional, dengan ramah menjelaskan tentang karyanya yang telah berhasil diterjemahkan.
“Karya saya yang diterjemahkan hanya satu, yaitu kumpulan cerita pendek yang judulnya ‘Percakapan’. Kumpulan cerita itu diterjemahkan oleh Andre Moller dan diberi judul ‘The Conversatiaon’. Hanya satu kumpulan cerita pendek itu saja, sebab yang lain-lain terlambat waktunya karena terhambat birokrasi,” terangnya. Buku tersebut nantinya akan diterbitkan oleh Yayasan Lontar.
Terbatasnya karya Budi Darma yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing benar-benar sangat disayangkan. Pengarang yang disebut-sebut nyaris tak mempunyai epigon ini, tentu adalah seorang pengarang yang mempunyai gagasan dan konsep penulisan yang kuat. Dan hal ini adalah poin penting untuk dibicarakan ulang bersama para sastrawan luar, dan pembaca umum buku-buku sastra.
“Olenka”, “Rafillus”, “Ny. Talis”, Orang-orang Bloomington”, “Kritikus Adinan”, “Fofo dan Senggring”, serta “Laki-laki Lain dalam Secarik Surat” adalah sebagian dari karya Budi Darma, yang sekiranya diterjemahkan ke dalam bahasa asing, barangkali akan membuka katup bahasa dan akan mengalirkan diskusi yang menarik.

Namun walau bagaimana pun, sekali-lagi, Budi Darma dan tokoh-tokoh rekaannya yang kerap “menakutkan”, akan tetap menembus Frankfurt. Inilah salah satu pengarang Indonesia yang brilian, dan karyanya layak untuk diperkenalkan secara lebih luas di sana, di kota paling kosmopolitan di Jerman. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai