23 September 2015

Melarung "Larung" Hingga ke Jerman

“Larung”, novel kedua Ayu Utami yang mula-mula terbit di tahun 2001, dalam pekan ini akan segera terbit di Jerman. Horlemann Verlag, penerbit yang telah lama banyak menerbitkan karya para penulis Indonesia, kali ini juga yang akan menerbitkan “Larung”. Sebelumnya kisah lanjutan dari novel “Saman” ini telah diterjemahkan ke bahasa Belanda.
Saman, adalah seorang bekas pastor Katolik yang menjadi aktifis pergerakan di masa rezim Orde Baru. Ia berhubungan dengan empat orang perempuan (Yasmin, Cok, Shakuntala, dan Laila) yang bersahabat sejak mereka kecil. Para perempuan itu membantunya melarikan diri ke luar negeri, sebab ia diburu kaki tangan kekuasaan rezim militer.
Novel “Saman” yang terbit tahun 1998, berhasil mendapatkan penghargaan Novel Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998, dan Ayu Utami sendiri mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, yaitu sebuah yayasan yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan, yang bermarkas di Den Haag, Belanda.
Penjualan novel “Saman” juga mengagumkan, buku itu menjadi bestseller nasional, dan telah dicetak ulang lebih dari 32 kali. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Jepang, Inggris, Prancis, Italia, Ceko, Korea, dan Ethiopia.
Tiga tahun setelah lahirnya “Saman”, Ayu melanjutkan kisah pelarian pastor Katolik tersebut. Pada novel “Larung”, Saman telah tinggal di New York dan bekerja di Human Right Watch. Bersama Larung--seorang pemuda misterius, Saman dan Yasmin hendak menyelamatkan tiga orang mahasiswa yang tengah diburu rezim militer. Namun karena karakter Larung yang tak mudah ditebak, maka misi penyelamatan itu cukup membahayakan.
“Larung” tak bisa dilepaskan dari “Saman”, sebab keduanya sebagai sebuah bangunan utuh tentang secuplik kisah orang-orang yang berusaha tetap bersuara di tengah rezim yang mengekang. Selain itu, pada dua kisah ini, Ayu Utami juga menyampaikan hal-hal tabu dalam berbahasa, terutama seks, yang selama ini dianggap sebagai wilayah terlarang.
Pilihan daya ungkap ini tak pelak mengundang pro dan kontra dari masyarakat. Seorang penyair sempat menyebutnya sebagai “Sastra selangkangan” dan “Sastra lendir”. Namun begitulah tabiatnya, sebuah karya yang dipublikasikan ke khalayak ramai, layaknya seorang anak yang dilepas ke jalanan yang keras. Ia berpeluang diserang dan terlibat perkelahian yang sengit.

Hari-hari ini, “Larung” bersiap terbit di Jerman. Dan perjalanan Saman, Yamin, juga Larung belum berhenti. Mereka kembali menjelajah, menyampaikan sepotong kisah tentang Indonesia yang pernah koyak di bawah rezim militer. Anggap saja penerbitan ini awal dari melarung “Larung” ke samudera luas. Barangkali suaranya akan hinggap juga ke pojok-pojok terjauh dunia. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

No comments:

Mudik dan Hal-hal yang Tak Selesai